Monday, July 11, 2005

Pribadi humble

Ketika saya sedang hendak pergi kekamar mandi untuk berwudhu, telp sellur bergetar disamping tempat tidur saya. Ternyata ada SMS yang mengingatkan untuk sholat Tahajud. Saya tersenyum. Bayangan saya kepada sahabat saya yang tak pernah bosan mengirimi saya SMS menjelang dini hari. Teman ini sangat rajin sholat tahajud. Ini sudah menjadi kebiasaanya sejak muda. Dia, menurut saya termasuk orang yang disiplin dalam beribadah. Walau sesibuk apapun dia dalam urusan bisnis,bila datang waktu sholat , dia akan bersegera untuk sholat. Dia tinggalkan semua urusan. Dalam usia muda dia sudah pergi haji. Diapun termasuk orang yang ringan berzakat ,bersadakah. Bahkan pelesiran gayanya adalah mengunjungi Panti Asuhan diluar kota hanya untuk makan bersama dengan para anak yatim. Dengan hartanya dia ingin membagi kenikmatan itu bersama anak yatim.

Tapi penah satu kali saya bertemu dengan dia ketika menghadiri perkawinan putra dari teman kami. Dia nampak bermuka sedih. Apa pasal ? Karena tadi dijalan menuju tempat acara resepsi perkawinan, ketika lampu merah kendaraannya dihampiri oleh anak kecil yang mengemis.. Dia tidak begitu memperhatikan karena sibuk menerima telp dengan relasi bisnisnya. Dia sempat memelototi anak itu karena terus mengetuk ngetuk jendeal mobil hingga menggangu konsentrasinya berbicara. Dia baru menyadari sikapnya itu setelah lampu hijau dan kendaraan menjauh dari anak itu. Dia katakan, dia terasa masuk dalam lobang sesal tak bertepi. Dia membayangkan neraka begitu dekat dengan dirinya. Mengapa ? tahukah kamu ? dalam surat Al Mauun Allah berkata ” Tahukah kamu ciri ciri orang yang mendustakan agama,itulah orang yang menghardik anak yatim...( QS. 107:2).

Saya tidak bisa menggambarkan betapa menyesalnya dia. Padahal belum tentu anak yang mengemis itu adalah anak yatim. Tapi ’ apa jadinya bila benar itu anak yatim” katanya dengan suara berat menyiratkan sesalnya yang tak bertepi. Saya tak mau berkomentar lagi. Saya yakin teman saya itu bisa berdamai dengan perasaannya melalui sholatnya , melalui taubah nya. Mengingat tentang teman ini , mengingatkan saya tentang firman Allah (Al-Mu'minĂ»n [23]: 57-61) “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun). Serta orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera dan berlomba-lomba berbuat berbagai kebaikan "

Apa yang dirasakan teman itu adalah buah keimanan. Orang yang beriman memang selalu was was dengan segala amalanya. Ada rasa takut sedikit saja dia berbuat salah. Hingga dia selalu hati hati berbuat dan bersikap. Andaikan melakukan kesalahan , maka cepat sekali dia tahu. Segera rasa sesal datang menghantui. Ketika itulah sebetulnya ampunan Allah datang karena cinta Allah. Rasa takut ini , juga implikasi keyainannya akan janji Allah untuk memberikan imbalan segala amal sholehnya. Dia percaya Allah akan memperlakukannya sebagaimana dia memperlakukan Allah. Dengan itu dia terkurung oleh keimanannya untuk senantiasa berhati hati agar tidak berbuat salah sekecil apapun. Dia memang menjelma menjadi pribadi yang humble dalam beribadah.

Rasa takut seperti inilah yang membuat kaum sufi tak berharap apapun dari Allah kecuali dekat kepada Allah dengan senantiasa mensucikan dirinya. Mereka sadar bahwa hanya lewat pensucian dirilah cahaya Allah itu akan sampai. Dengan mensucikan diri lahir batin itulah rahmat Allah akan sampai. Maka mereka tak pernah berjalan dimuka bumi dengan mendongak keatas menyombongkan diri atas amalanya. Berusaha menghindari fitnah dunia dengan hemat berbicara ,banyak bekerja dan berbagi, banyak berzikir dan tentu taat beribadah karena Allah. Dari teman itu, saya mendapat pembelajaran, bahwa keikhlasan berbibadah hanya akan melahirkan sifat rendah hati dihadapan Allah dan yang lebih penting selalu merasa tidak pantas masuk sorga namun tak sanggup merasakan siksa neraka. Maka rahmat Allah adalah tujuan akhirnya dari penghambaan kepada Allah...

No comments:

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...