Saturday, December 28, 2013

Tengelamnya kapal Van Der Wijk

Dengan wajah yang berlinang air mata , Aku dan dirimu berjanji di tepian danau. Kemanapun aku pergi kau akan menanti diriku selamanya. Akan menjadi pedamping hidupku”,Demikian penggalan dialogh antara Hayati dan Zainuddin dalam filem Tengelamnya kapal Van Der Wijk. Film ini memang memancing emosi bagi siapa saja yang menonton. Tak bisa menahan,  air mata akan jatuh beriinang. Saya dapat merasakan gemuruh perasaan  hati para penonton itu.  Itu manusiawi. Betapa tidak. Semua orang selalu ingin rencananya yang berlaku. Padahal dalam kehidupan ini sehebat apapun rencana manusia pada akhirnya Allah lah yang menentukan. Film diangkat dari Novel buah karya Hamka. Saya membaca novel ini usia 14 tahun waktu SMP. Hamka berhasil mengangkat  hakikat kehidupan itu dalam Novel Romance bernilai sastra tinggi. Dia bagaikan Khalil Gibran yang mengungkapkan rahasia Allah lewat karya sastra. Hamka begitu apiknya menyampaikan pesan agama dalam bentuk metapora kisah percintaan antara Zainuddin dan Hayati.  Bahwa manusia terlalu lemah ketika dia berharap cintanya kepada manusia. Bagaimanapun cinta manusia selalu subjective. Sehebat apapun cinta manusia akan selalu tidak siap bila harus berkorban karena cinta itu. Banyak yang tegar berkata cinta namun tak banyak yang siap bila cinta harus berbagi atau pergi ketempat lain.

Perkawinan dan persahabatan dua hal yang bernilai dihadapan Allah walau konteks berbeda. Dua duanya dibangun karena cinta. Namun hakikatnya adalah bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah. Sebelum akad nikah terucapkan maka hubungan hanyalah sebatas persahabatan. Persahabatan pun bukanlah sesuatu yang tak bernilai. Dihadapan Allah, persahabatan punya nilai sangat tinggi. "Dimanakah mereka yang saling mengasihi karena Aku? Pada hari ini tdk ada naungan kecuali naunganKu. Aku akan melindungi mereka dalam naunganKu.” (HR. Muslim dari Anas ibn Malik ra). Persahabatan karena Allah selalu menunjukan kebaikan bukan menyalahkan. Selalu bersabar dengan kekurangan kita namun juga pelindung kita dalam kebodohan. Selalu berprasangka baik dan mendoakan untuk kebaikan. Seorang sahabat tidak akan menyembunyikan kesalahan untuk menghindari perselisihan, justru karena kasihnya ia memberanikan diri menegur apa adanya. Sementara hubungan suami istri terpaut karena perintah Agama. Suami setia kepada istri atau istri setia kepada suami maka itu hanya mungkin tercipta bila keduanya berikrar setia kepada Allah. Bahwa tidak ada yang mereka cintai selain Allah. Kalaupun suami mencintai istri dan setia karena dia mencintai Allah begitupula sebaliknya. Bila perkawinan, persahabatan terjadi bukan karena Allah maka yang ada hanyalah teman ketika tertawa dan pergi ketika kita menangis.  Istri yang berkata sayang ketika abang ada uang dan pergi ketika abang  jatuh miskin. Seperti itulah hakikat cerita yang ingin Hamka ungkapkan kepada pembaca novelnya dan kini kepada penonton film

Zainuddin sebagaimana manusia pada umumnya tidak siap bila cinta tidak berujung kepada perkawinan. Dia meradang kesedihan ketika mengetahui Hayati telah bersama pria lain. “Kau bertemu laki-laki lain yang lebih segala-galanya dariku. Kau pergi begitu saja di saat aku berharap besar ingin bersamamu. Pertemuanmu dengan laki-laki lain membuat dirimu harus terpikat dengannya. Apapun alasannya, permintaan orang di sekitarmu untuk memilih dirinya. Sehingga dirimu memilih untuk mengingkari janji antara diriku, dengan dirimu yang akan menjadi pasangan kelak di kemudian hari.” Dua bulan Zainuddin jatuh sakit karena itu dan baru dapat sadar setelah mendapat nasehat dari seorang sahabatnya yang bukan ahli agama. Bahwa cinta bukanlah melemahkan. Tapi menguatkan agar bisa belajar dari kisah pilu masa lalu. Zainuddin harus menerima kenyataan harapanya tidak bersua dengan kenyataan.Dia harus mengubur masa lalunya dan pergi menjauh dari Hayati. Dengan itu dia bisa membuka lembaran baru. Namun kenangan tentang Hayati tidak pernah surut.Kekuatan cintanyalah yang membuat dia mampu menulis kisah roman sehingga mengantarkannya sebagai penulis terkenal. Dia telah menjadi pria sukses karena kisah masalalunya yang terusir dari ranah minang. KIsah pilu yang menyayat hati karena wanita pujaanya yang pergi melupakan janji setia.  Hidupnya berubah seiring semakin terkenal namanya. Dia tidak lagi pemuda miskin yang dicampakan wanita karena kemiskinannya. 

Namun kembali Hamka memperlihatkan kehebatannya membangun kisah hikmah. Ketika Hayati dan Zainuddin bertemu kembali di Surabaya. Kisah lama besemi kembali dalam nilai nilai persahabatan diantara mereka. Zainuddin berela hati menolong Hayati dan suaminya yang ditimpa kesulitan.  Hayati berutang budi kepada Zainuddin. Ketika suami Hayati meninggal dunia maka Zainuddin sangat menentukan keadaan untuk menjadikan Hayati sebagai istri. Tapi entah kenapa dia tak bisa melupakan masalalunya yang terluka karena pengkianatan cinta Hayati. Dengan berat, dia minta Hayati untuk menjauh dari hidupnya. Hayati harus pulang kampung. Bagi zainuddin masalalu biarlah berlalu. Namun ketika Hayati telah pergi dari hadapannya, Zainuddin menyesal. Kalau dia bisa melupakan masalalu ,mengapa dia tidak berdamai untuk  hari ini? Setidaknya memaafkan Hayati dan membiarkan Hayati dekat dengannya sebagai seorang sahabat. Bukankah cinta seorang sahabat juga bernilai dihadapan Allah.  Namun ketika kesadaran itu datang, semua telah terlambat. Hayati kembali kepada pemilik cinta yang sebenarnya yaitu Allah. Kematian Hayati menjadi sesal bagi Zainuddin namuan mendatangkan hikmah.  Kalau dia mencintai  Hayati maka diapun harus mencintai Allah. Rumah megah yang dimilikinya diwakafkan kepada Panti Asuhan, yang bernama  HAYATI. Menikah adalah takdir. Mencintai adalah pilihan. Andaikan cinta tidak bersua takdir maka janganlah cinta berubah jadi benci. Jadikan ia sebagai sahabat untuk saling berbagi dan melindungi karena Allah..

Sunday, December 22, 2013

Atut, Patron- Klen

Pada dasarnya masyarakat Indonesia itu direkat oleh hubungan Patron –Klen. Istilah ‘patron’ berasal dari ungkapan bahasa Spanyol yang secara etimologis berarti ‘seseorang yang memiliki kekuasaan (power), status, wewenang dan pengaruh.  Sedangkan klien berarti ‘bawahan’ atau orang yang diperintah dan yang disuruh. Selanjutnya, pola hubungan patron-klien merupakan aliansi dari dua kelompok komunitas atau individu yang tidak sederajat, baik dari segi status, kekuasaan, maupun penghasilan, sehingga menempatkan klien dalam kedudukan yang lebih rendah (inferior), dan patron dalam kedudukan yang lebih tinggi (superior). Atau, dapat pula diartikan bahwa patron adalah orang yang berada dalam posisi untuk membantu klien-kliennya. Pola relasi seperti ini di Indonesia lazim disebut sebagai hubungan bapak-anak buah, di mana bapak mengumpulkan kekuasaan dan pengaruhnya dengan cara membangun sebuah keluarga besar atau extended family. Setelah itu, bapak harus siap menyebar luaskan tanggung jawabnya dan menjalin hubungan dengan anak buahnya tersebut secara personal, tidak ideologis dan pada dasarnya juga tidak politis. Pada tahap selanjutnya, klien membalas dengan menawarkan dukungan umum dan bantuan kepada patron. Para Patron ini adalah mereka ketua Adat, pemuka Agama, tokoh masyarakat atau orang yang dituakan, para cerdik pandai, bangsawan,ketua LSM.  Mereka bukanlah pejabat formal namun secara defakto kekuasaan mereka real. Mereka dihormati dan disegani oleh komunitasnya.

Kalaulah Patron – Klen itu tumbuh secara alamiah maka itu bagus.Karena dia diuji oleh waktu dan tentu penghargaan dari klen atas dasar pengabdian tulus Patron. Namun rusaknya  Patron Klein ini adalah ketika era kolonial. Pemerintah Belanda sengaja ikut campur dalam terbentuknya Partron ditengah masyarakat. Seseorang yang dikenal dekat dan loyal dengan  Belanda saja yang diakui sebagai patron. Karena rakyat tidak bisa lari dari ketergantungan dengan pemerintah maka mereka tidak  bisa menolak ketika patron yang harus mereka ikuti tidak sepenuhnya yang mereka inginkan.  Menempatkan Soekarno sebagai Boneka di zaman Jepang juga adalah satu bentuk mengendalikan klen untuk setia kepada kepentingan pemerintah (jepang). Terpilihnya Soekarno sebagai Presiden karena faktor Patron dimana orang jawa sangat mengagumi Soekarno. Para pendiri negara sadar betul akan kepatronan  Soekarno dihadapan penduduk yang hampir 100 juta ketika itu. Ketika PEMILU diadakan tahun 1955 , sudah dapat ditebak bahwa para Patron yang ada ditengah masyarakat Indonesia , yang tadinya patuh dibawah Soekarno, terpecah belah sesuai dengan bendera Partai. Soekarno melihat ini sebagai suatu realitas yang bisa menjadi ancaman bila tidak dikelola. Itu sebabnya Soekarno menerapkan demokrasi terpimpin untuk menarik kelompok nasionalis, agama, komunis dalam satu barisan.  Karena hanya mereka inilah para patron yang real ditengah masyarakat.

Jatuhnya Soekarno karena kehebatan operasi inteligent yang menarik keluar barisan agama dari kekuatan Soekarno. Issue yang ditebarkan ketengah rakyat adalah bahwa Komunis anti Tuhan. PKI akan membunuh semua orang beragama utamanya umat islam. Black Campaign ini berhasil membangkitkan pembrontakan dikalangan patron islam untuk bersama sama dengan Tentara mengganyang PKI dan sekaligus menjatuhkan Soekarno. Ketika Soeharto tampil , cara cara menggunakan patron sebagai penghubung antara pemerintah dengan rakyat tetap digunakan. Karenanya Soeharto bersama TNI ikut aktif mengawasi terbentuknya Patron ditengah masyarakat. Hanya mereka yang dikenal loyal saja yang bisa diakui sebagai Patron. Golkar sebagai mesin politik  Soeharto tahu betul bagaimana menggalang kekuatan dari para patron ini. Makanya Golkar selalu menjadi pemenang dalam setiap pemilu. Namun bagaimanapun keberadaan patron yang tidak tumbuh secara alamiah dan lebih karena rekayasa kekuasaan atau dipaksakan dicangkokan ditengah klen sebetulnya adalah kekuatan mengambang. Terbukti ketika era Reformasi dan diberlakukannya demokrasi langsung, patron karena faktor agama , budaya, sosial , kalah oleh Partai  Demokrat yang tidak mengusung patron yang sudah exist tapi mendekati patron real yang selama era Soeharto diabaikan. Mereka inilah yang jadi kekuatan untuk mempengaruhi rakyat untuk tidak patuh kepada tokoh agama , tokoh masyarakat dan lainnya karena kemaruk soal harta dan mengabaikan tujuan kemakmuran. Partai Demokrat unggul karena sebagian besar memang rakyat ( klen ) sudah muak dengan patron yang exist tersebut.

Walau berbagai daerah existensi patron bentukan Golkar rezim Soeharto sebagian besar tereliminasi oleh angin kencang reformasi namun tidak bagi Banten, yang setelah reformasi termasuk daerah yang tetap dipagar oleh patron bentukan Golkar.  Hal ini karena ada satu tokoh masyarakat bernama Chasan Sochib. Katanya dia bergelar Tubagus karena merupakan keturunan Sultan Banten. Ketokohannya sangat berpengaruh di Banten. Dia pula yang menggalang para patron yang ada di Banten untuk meminta DPR mengesahkan pemisahan Banten dari Jawa Barat. Dengan Banten sebagai provinsi maka Golkar dapat lebih leluasa melokalisir kekuatan politiknya diwilayah ini dan menjadi penyumbang suara terbesar dalam PEMILU dibandingkan wilayah lainnya. Namun karena keberadaan  patron itu bukan karena niat untuk pengabdian atas dasar agama, budaya tapi karena kepentingan pribadi maka instrik diantara patron tidak bisa dihindarkan. Mereka tidak peduli dengan klen ( rakyat). Mereka hanya peduli pada diri mereka sendiri. Diantara mereka punya prinsip “berbeda pendapat kalau pendapatan berbeda. Artinya selagi “bagi bagi”kue tidak adil maka mereka akan saling bunuh diantara mereka. Itu sebabnya Djoko Munandar kader Golkar yang jadi Gubernur Banten  tersingkir karena kasus korupsi,dan digantikan oleh Atut.  Menurut cerita ia tersingkir karena konplik Patron dari Ayah Atut ( Chasan Sochib ). Kini  apa yang menimpa Atut percis sama seperti kejatuhan Djoko Munandar,namun penggantinya adalah Rano Karno yang konon katanya PDIP berhasil meng eliminate sebagian besar patron bentukan golkar di Banten melalui politik “wong cilik”.Ya untuk banten yang sebagian besar rakyatnya masih sangat miskin, jargon Wong Cilik “ itu sangat ampuh untuk menarik rakyat keluar dari status quo.

Kalaulah hubungan Patron klen itu atas dasar untuk kebaikan demi kebenaran dan tegaknya keadilan  maka  kemakmuran dan kesejahteraan akan terjadi ditengah masyarakat. Pengikat Patron dengan klen yang sangat kokoh adalah cinta dan kasih sayang atas dasar agama dan budaya. Tanpa dasar cinta dan kasih sayang maka hubungan patron klen hanyalah hubungan kapitalis yang dapat luntur oleh waktu dan kondisi, dan Atut sudah merasakannya kini. Tugas Rano Karno bersama kader PDIP di Banten untuk mengembalikan patron klen tumbuh secara alamiah dan menjadi kekuatan real ditengah masyarakat dalam membangun Banten menjadi lebih baik , lebih makmur dari sebelumnya.

Sunday, December 15, 2013

Kekuatan Cinta...

Ketika tahu ada rencana membuat film Soekarno, saya berpesan kepada putri saya untuk mengingatkan saya bila film itu tayang di bioskop. Benarlah, kemarin sabtu ,putri saya mengajak saya nonton film Soekarno Indonesia merdeka di Lippo Karawaci Mall. Usai nonton film itu ada dua pertanyaan yang diajukan putri saya. Pertama ,mengapa Soekarno begitu sangat tersohor padahal ketika itu belum ada media TV atau media sosial yang bisa mempublikasikan apa saja dengan real time. Kedua, mengapa Inggit begitu setia mendampingi Soekarno yang boleh dikatakan tidak punya pekerjaan kecuali hanya punya mimpi untuk kebahagiaan orang lain ( rakyat Indonesia). Saya menjelaskan kepada putri saya bahwa pendiri bangsa ini adalah orang orang yang tulus. Mereka bicara tentang masa depan bangsa yang bernama Indonesia. Mereka berbicara tentang nasif orang lain yang tertindas akibat penjajahan. Mereka bicara bukan untuk satu kelompok saja tapi untuk semua, untuk bangsa.  Mereka tak banyak. Hanya segelintir orang saja ketika itu. Namun karena mereka zaman terbentuk untuk lahirnya semangat kebersamaan mengusir penjajahan. Pemuda di Zaman dulu seperti Soekarno , M. Hatta, Syahrir,dan lainnya punya modal besar untuk membuat impian menjadi kenyataan. Apa modal mereka? mereka punya cinta. Ternyata energy magnit yang keluar dari setiap kata kata mereka adalah berasal dari kekuatan cinta. Kekuatan cinta itulah yang menjadi energi raksasa menarik jutaan rakyat untuk masuk dalam satu barisan yang teratur dan siap berkorban untuk itu.

Bagaimana mungkin? Apakah dapat dijelaskan secara science soal ini?Tanya putri saya. Menurut ilmu pengetahuan bahwa semakin kecil suatu materi semakin besar energinya. Manusia termasuk materi yang terkecil dibandingkan kehidupan alam semesta. Magnit jantung manusia adalah 5 kali magnit bumi. Walau kita masih lebih besar dibanding makhluk bakteri atau virus namun pada diri kita terdapat potensi yang mampu menggerakan energi itu menjadi kekuatan. Hanya saja magnit itu tetap tersimpan sebagai potensi. Keluarnya magnit manusia itu ternyata ada proses di alam mikrokosmos kita ,dimana GEN kita berperan untuk menyalakannya. Misteri GEN ternyata berhasil mengungkapkan hubungan “perasaan” dengan hubungan proses nyala / padam Gen itu sendiri. Artinya ada “ sesuatu”yang maha dahsyat ikut berperan mempengaruhi GEN kita bergerak.! Kekuatan cinta yang tulus tanpa syarat itulah yang mampu menggerakan Gen positip kita untuk melahirkan magnit berantai hingga memukau semua orang yang ada disekitar kita. Cinta yang unconditional ini mengalirkan energi listrik yang raksasa , hingga dapat mempengaruhi perasaan takut menjadi berani, perasaan lelah menjadi tegar, perasaan kawatir menjadi percaya diri, perasaan lemah menjadi kuat. Nabi Muhammad dalam perang badar membuktikan itu. 300 pasukan muslim dengan senjata ala kadarnya mampu mengalahkan 1000 lebih pasukan kafir. Sjahrir dan Hatta, Mohammad Roem mampu memukau politisi Belanda dan AS ketika dimeja perundingan tentang kemerdekaan. Nabi, para pendiri negara kita , adalah mereka yang dilahirkan oleh zaman dimana cinta itu segala galanya.

Kecintaan kepada sesuatu dialam semesta ini sebagai repliksi dari kecintaan kepada Allah yang maha pemberi cinta , telah mampu membangkitkan Gen positip mereka untuk menjadi magnit lahirnya kebersamaan melawan ketidak adilan dimuka bumi. Islam yang dikomandoi Nabi dari kota kecil “ Madinah” telah menjalar kekuatan magnitnya sampai keseluruh jazirah Arab. Setelah beliau wafat, Islam terus berkembang sampai keseluruh dunia. Soekarno ,ketika berhasil menjadi presiden terpilih Indonesia, juga mampu mengalirkan magnit cinta itu keseluruh dunia. Kemerdekaan di Afrika dan Asia dari jajahan asing karena sebuah inspirasi tentang kegigihan Soekarno, tentang magnit yang dipancarkan oleh para pria /wanita Indonesia yang tampil gagah berani melawan segala bentuk penjajahan dimuka bumi. Kala itu kita dibanggakan oleh sepertiga penduduk planet bumi. Dikenal sebagai pembaharu dan digaris depan menuju peradaban yang lebih baik. Lantas mengapa kita sebagai bangsa kini tidak lagi mampu membangkitkan potensi magnit itu dari dalam diri kita seperti halnya para pendiri negara kita dulu ? Kenapa mayoritas muslim di Indonesia tidak mampu seperti generasi awal kebangkitan Islam ? Kita menjadi komunitas bangsa yang resah, takut, pecundang dihadapan asing dan paranoid ? Mengapa ? tanya putri saya beruntun. Saya tersenyum.

Penyebabnya adalah karena kekuatan cinta sudah sirna pada diri kita. Cinta tak lagi tulus. Ketika cinta sudah bersyarat maka cahaya kebebasanpun kabur. Kita terisolasi dengan berbagai kondisi untuk bisa bergerak. Gen positip kita semakin sulit untuk menyala. Magnit pada diri kita terserap karena kecintaan kepada uang. Kita kemaruk soal harta, jabatan dan kesenangan dunia. Kita sibuk setiap hari berpikir dan bertindak untuk mendapatkan harta ,jabatan. Pada waktu bersamaan Gen negatif kita malah yang muncul. Rasa kawatir menjelma menjadi penyakit jantung. Rasa takut menjelma menjadi penyakit paranoid ( sakit jiwa ). Rasa lemah menjelma menjadi pecundang. Dan akhirnya lahirlah budaya brengsek yang semakin membuat kita hidup dalam paradox. Semoga kita bisa menyadari ini semua untuk kembali kepada hakikat kita dilahirkan untuk cinta hanya kepada Allah agar pantas disebut sebagai rahmat bagi alam semesta. Putri saya tersenyum dan nampak dia puas dengan penjelasan  saya, sambil berkata “ Dan Soekarno  mendapatkan kekuatan cinta tanpa syarat, mendapatkan trigger Gen positif nya bangkit karena  cinta seorang Inggit,seorang wanita, seorang ibu...Demikian putri saya menjawab pertanyaannya sendiri tentang Inggit. Ya dibalik pria hebat selalu ada wanita hebat ...

Saturday, December 07, 2013

Gotong royong

Dalam suasana krisis ekonomi  banyak  perusahaan jatuh bangkrut,yang tentu banyak menimbulkan PHK. Para karyawan dan pemegang saham tidak bisa berbuat banyak karena krisis ini terjadi bukan karena ulah mereka tapi ulah kebijakan negara yang membuat  pemerintah terpintar tersungkur dililit hutang  yang menelan anggara nasional.  Tidak ada solusi lain kecuali membiarkan keadaan  ini berlangsung sebagai bagian dari adjustment untuk memastikan hanya yang qualfied dapat unggul dalam putaran waktu. Memang menyakitkan tapi  itulah yang terjadi di AS dan Eropa. Adakah hikmah yang bisa diambil dari peristiwa ini ? Minggu lalu saya bertemu dengan teman dari Eropa. Ketika perusahaannya bangkrut , dia tidak tahu bagaimana kelanjutan masa depan keluarganya. Namun dia tidak ingin terus meratap. Karena itu tidak akan menyelesaikan masalah. Bersama sama teman yang terkena korban PHK  dia mengajukan usulan kepada pemerintah agar diberi hak untuk mengelola perusahaan yang bangkrut itu. Mereka bersedia untuk tidak di gaji kecuali  mendapatkan bagian dari keuntungan apabila pabrik itu bisa menghasilkan laba. Proposal itu disetujui dan pemerintah membail out hutang perusahaan itu dibank dan menyerahkan pengelolaannya kepada karyawaan.Untuk itu karyawan harus membentuk koperasi sebagai badan hukum pengelola perusahaan.  Jadi mereka bertindak sebagai management provider atas asset negara.

Bersama sama temannya yang tergabung dalam team Marketing, produksi dan SDM mereka duduk bersama untuk mengatur strategi  operasional perusahaan karena pemerintah tidak memberikan modal kerja untuk mereka. Disamping itu mereka juga harus membayar sewa pabrik kepada pemerintah. Bagaimana strateginya ? tanya saya penasaran. Saya ingin sekali tahu karena umumnya para orang bermental karyawan akan segera surut langkahnya bila terbentur soal modal, apalagi dihadapkan akan biaya tetap. Mereka cepat sekali panik. Caranya, katanya adalah dengan mendekati distributor dan pengecer. Mereka menggandeng distributor dan network retail untuk bergabung dengan mereka sebagai mitra pabrik.Dan untuk itu para distributor dan reail network memberi mereka uang muka sebesar biaya produksi untuk memenuhi pasokan kepasar. Apakah distributor tertarik? Tanya saya karena mengingat distributor merasa nyaman import barang dari china yang harganya lebih murah. Para distributor itu dapat diyakinkan karena dengan management yang baru struktur biaya produksi menjadi sangat rendah.  Pabrik tidak lagi dibebani biaya tetap berupa bunga bank,tidak perlu menanggung biaya fasilitas direksi dan gaji tinggi. Tidak perlu lagi menanggung upah buruh beserta fasilitas asuransi pensiun.Tidak perlu lagi menanggung biaya promosi karena semua stake holder menjadi bagian dari pabrik yang tentu bersama sama menjadi agent promosi. Dari itu semua mereka hanya menyisakan net margin sebesar 5%. Dari margin 5% itulah mereka berharap bisa membayar biaya hidup mereka. Memang tidak mewah namun lebih terhormat karena itu hasil  real kerja keras mereka di perusahaan milik mereka sendiri.

Kemudian , dia menjelaskan kepada saya bahwa walau harga jual masih relative lebih tinggi dari made in china namun konsep kebersamaan itu membuat semua pihak sadar untuk mengutamakan produksi dalam negeri.  Benarlah, sejak tahun 2009 mereka memulai program ini, tahun 2013 mereka sudah bisa mengambil alih pabrik itu dari pemerintah. Artinya hanya butuh empat tahun setelah gelombang krisis menghantam yang membuat mereka kehilangan harapan, kini dengan kekuatan dan keyakinan untuk berbuat atas dasar kebersamaan semangat gotong royong , mereka bisa menjadi tuan atas diri mereka sendiri. Mereka punya hope karena tangan mereka, bukan tergantung orang lain. Ya,  they are deserve and  say “ I am the master of my fate and I am the captain of my  soul.  Banyak para pemimpin dunia tidak pernah mau belajar dari China yang tumbuh karena kebersamaan atas dasar gotong royong, katanya. Mereka mengabaikan fakta bahwa sistem indovidualisme lah yang membuat kapitalisme tumbuh subur yang sehingga para direksi dan pemegang saham sibuk memanjakan diri dengan gaya hidup konsumerisme dan berhutang. Mereka mengabaikan fakta bahwa tumbuh suburnya korupsi karena konsep materialisme kekuasaan yang butuh ongkos untuk terpilih sebagai pemimpin.Faktanya itulah semua penyebab krisis dari waktu kewaktu. Mereka mengabaikan fakta bahwa hanya gotong royonglah yang membuat pertumbuhan ekonomi menjadi seimbang dan tidak menimbulkan paradox. Money cannot create success but freedom and peace can build your future a better. 

Saya terpesona dengan cerita teman ini.  Memang benarlah dia kini tampil beda. Kalau lima tahun lalu saya bertemu di hotel bintang lima karena perjalanan dinasnya ditanggung oleh perusahaan yang dikelola dengan cara kapitalisme , tapi kini dia saya temui di hotel bintang tiga dengan pakaian sederhana.Tidak nampak jas Armani dengan jam tangan Rolex sebagai standard  executive top dari business world class. Dia humble namun penuh percaya diri untuk unggul melewati putaran waktu.  Dari cerita teman ini saya teringat sabda Rasul  ”Barangsiapa yang membebaskan satu kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, maka Allah akan melepaskannya dari satu kesusahan di antara kesusahan-kesusahan akhirat. Barangsiapa memberikan kemudahan kepada orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkan dia di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Dan Allah akan selalu menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya” (HR. Muslim).... Akankah pemerintah menyadari ini untuk kembali kepada Al Quran dan hadith yang sebagaimana tertuang dalam Pasal 33 UUD 45 sebelum diamandemen bahwa sistem perekonomian itu harus di design atas dasar kekeluargaan ...gotong royong. Akankah ?

Sunday, December 01, 2013

Cinta Jokowi

Apa yang menarik tentang JOKOWI? Kata teman saya.Saya sebetulnya sungkan membicarakan tentang  Jokowi karena alasan pertama  dia tidak suka dipuja,  kedua, dia memang bukan orang pantas dibicarakan kecuali didoakan. Itu sebabnya saya hanya diam saja sambil tersenyum. Teman ini warga negara Malaysia yang mengelola business consultant  dibidang pemasaran. Menurutnya mengapa JOKOWI menjadi fenomena saat sekarang karena dia telah melaksanakan pesan Al Quran dalam Surat Al-Ashr. Saya mulai tertarik dengan kata kata teman ini, apalagi dia menyebut soal pesan dalam Alquran. Tahukah kamu bahwa surat Al Ashar ini sama dengan 1/3 isi Al quran,  yang padahal 1/3 isi al quran itu adalah jalan terang tentang segala aspek kehidupan.  Imam Thabrany menyebutkan dari Ubaidillah bin Hafsh , ia berkata : “Dua orang sahabat Rasulullah jika bertemu mereka tidak akan berpisah kecuali setelah salah satu dari mereka membacakan kepada yang lain surat Al Ashar, kemudian memberi salam” Begitulah keagungan surat ini. Bahkan Imam Syafi’i berkata : “ Andai Allah Ta’ala tidak menurunkan pada hamba-Nya kecuali surat ini sudah cukup bagi mereka”. Jadi , walau Jokowi bukan tokoh Islam yang di partai,bukan ulama selebritis yang sering tampil di TV dan dipanggung, bukan kyai pengelola Ponpes namun Jokowi adalah repliksi dari seorang muslim yang melaksanakan pesan dari Suat Al Ashar dan karena itu dia lebih besinar dibandingkan yang lain.

Mengapa sampai begitu hebat Surat Al Ashar  itu ? tanya saya. “ Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS. al-Ashr [103]: 1-3. Pada  Firman Allah itu ada tiga hal yang sangat prinsip yaitu Pertama beriman.Kedua, berbuat ( amal sholeh).  Ketiga, penasehat yang bijak.  Orang yang beriman adalah orang yang menjadikan akalnya sebagai raja namun hatinya sebagai hakim agung untuk menjadikan nafsu sebagai laskar hanya untuk kebaikan.  Nafsunya perkasa melewati segala rintangan untuk menjadikan hidup ini sebagai caranya beribadah kepada Allah. Hari hari disinya dengan kerja keras untuk melewati sunatullah. Dia tidak berpangku tangan dalam doa dan zikir. Dia tidak hidup dalam retorika yang miskin berbuat. Dia tidak mengajak dengan kata kata tapi lewat keteladanan.  Dia tidak merasa paling benar dan paling baik ,paling berkuasa sehingga semua kehendaknya harus dituruti. Dia hanyalah service provider sebagai nice advisor bagi orang lain untuk patuh kepada kebenaran ilahiah dan meyakinkan orang untuk mengerti  bahwa hidup tidak mudah, dan bersabar adalah mutlak.  Bayangkahlah, kata teman itu bahwa Allah bersumpah semua manusia merugi kecuali yang bisa menerapkan ketiga hal tersebut.Jokowi, menurutnya,telah melaksanakan ketiga hal tersebut. Dia termasuk yang beruntung dibandingkan orang lain yang menclaim dirinya ustadz, ulama, politisi, humanis.

Dengan bekal pemahaman Surat Al Ashar itulah Jokowi melewati putaran waktu mengelola dinamika politik,  birokrasi pemda dan berinteraksi dengan rakyat. Tak terdengar Jokowi menghujat pihak lain dan tak terdengar Jokowi berkeluh kesah tentang beban tanggung jawabnya.Dia melewati itu atas dasar keimanan kepada Allah bahwa nilai setiap pengabdian adalah niat. Niat yang baik haruslah didasarkan kepada mencari ridho Allah dan karenanya cukuplah Allah sebagai penilai.  Dia tidak butuh citra dengan retorika magic word.  Tidak butuh citra dengan wajah cerah di billboard tengah kota.Tidak butuh iklan  sosial tentang program kerjanya yang memang pro rakyat miskin. Namun bila karena itu orang semakin ramai mengidolakannya, sebetulnya orang bukan hanya merindukan Jokowi tapi merindukan pemimpin yang bisa seperti Jokowi,yang mengamini dan mengamalkan surat Al Ashar agar menjadi orang yang beruntung.Bila pemimpin itu termasuk bukan manusia yang merugi maka dia adalah sempurna sebagai bayang bayang Allah maka hanya kebaikan,kebenaran, dan keadilan yang akan dirasakan oleh orang banyak.Memang hanya tiga kondisi untuk menjadi sempurna sebagai firman Allah dalam Al Ashar itu namun ketiga hal itu adalah yang tersulit dalam hidup. Beriman mudah namun  melaksanakan dengan konsisten adalah tidak mudah. Menasehati orang mudah namun menasehati tentang kebenaran dan meminta orang bersabar itu tidak mudah.

Ya. Demi masa sesungguhnya semua manusia baik presiden, menteri, gubernur, bupati, ulama, ustadz, siapapun tak kecuali  adalah merugi kecuali yang lebih mengutamakan berbuat amal sholeh ketimbang kata kata,  saling menasehati supaya mentaati kebenaran, saling menasehati untuk menetapi kesabaran. Orang yang mengamalkan Surat Al Ashr adalah orang yang peka dengan hati nuraninya yang senantiasa menyuarakan  cinta kasih yang tulus tanpa pamrih, Selalu ingin yang terbaik untuk orang lain, berlandaskan nilai-nilai kebenaran ilahiah,  jujur, tulus, dan apa adanya walau kadang terasa pahit, ia menghargai orang lain , penuh kelembutan dan ketenangan namun sangat kuat, penuh pengertian dan toleransi, memberikan perspektif atau pemahaman baru terhadap suatu kejadian atau peristiwa sehingga meningkatkan level kesadaran orang lain. Itulah mengapa JOKOWI berbeda dengan  calon pemimpin lain. Dia tidak mengatakan siapa dia tapi perbuatannya menjelaskan siapa dia dan orang mencintainya dengan tulus setulus cintanya kepada orang lain. Ya, Cinta selalu untuk cinta...tak penting apakah cinta itu akan berbalas..


Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...