Posts

Showing posts from February, 2020

Agama pragmatis.

Image
Di beranda fb saya berseliweran kampanye tentang “ Indonesia tanpa pacaran” itu satu paket dengan propaganda Poligami. Tentu ini berkaitan dengan komunitas Islam. Menurut saya, ini bukan dakwah tetapi sudah merupakan bagian dari gerakan politasasi Islam. Tujuannya melepaskan budaya dan mengentalkan politik identitas. Praktek pernikahan yang tanpa pacaran itu diterapkan penuh di wilayah taklukan ISIS di Suriah dan Irak. Wanita tidak boleh menolak ketika dijodohkan dengan pria. Siapapun itu. Tugas wanita adalah memfungsikan vaginanya untuk kepuasan pria dan sekaligus sebagai pintu gerbang lahirya bayi. Ya sebagai inang untuk sperma berbiak. Mungkin yang dibayangkan mereka itu budaya pacaran yang free sex. Padahal budaya free sex itu bukanlah cermin dari budaya pacaran yang ada. Itu hanyalah penyimpangan. Samahalnya orang bercadar dan baju gamis tapi berzina. Apakah cadar dan pakaiannya salah. Kalau alasan adanya penyimpangan atas budaya pacaran, lantas membuat slogan Indonesia t

Belajar dari Tan Malaka

Image
Tan Malaka bukan komunis seperti cara berpikir Mao atau Lenin yang bersandar kepada Marx. Tan Malaka membaca buku dari Friedrich Engels. Dia pelajari sepenuhnya jalan pikiran Marx tentang filsafat alam dan ontologi material. Setelah itu Tan Malaka dengan terpelajar mengkritik Engels dan tentu Marx. Itu pernah disampaikannya dalam forum resmi Komunis sedunia di Moscow semasa dia masih mahasiswa di Belanda. Kalau anda baca buku Madilog karya Tan Malaka, anda akan tahu bahwa Tan tidak setuju dengan pemikiran Marxisme-Leninisme yang senantiasa menuntut ketaatan mutlak terhadap Partai Komunis, alias pimpinannya. Madilog menolak segala bau ideologis, menolak jargon ortodoksi partai yang tahu segala-galanya. Madilog adalah imbauan seorang nasionalis sejati pada bangsanya untuk ke luar dari keterbelakangan dan ketertinggalan. Ketidak setujuan Tan Malaka kepada politisasi Agama juga punya alasan sama dengan ketidak setujuan dia dengan komunisme Marx. Mengapa ? karena adanya ketaatan mu

Anak yang sholeha.

Image
“ Tadi pagi dia masih sehat. Tak kurang apapun. Tapi kini dia telah tiada. “ Kata anggota keluarganya ketika aku datang menjenguk di rumah duka. Memang sangat mengejutkan. Semua Para sesepuh adat, alim ulama, dan karib kerabat yang berdatangan, semua terkejut. Mereka memasang wajah duka. Merekalah tadinya yang ketiban rezeki melimpah ketika Pilkada, dan memenangkan Rahmat dalam Plkada. Itu karena pak Rahmat sangat peduli dengan para tokoh itu. Memberi mereka uang dan hadiah.  “ Kamu udah tahu? kata teman berbisik kepadaku.  “ Apaan ?  “ Pak Rahmat meninggal di hotel. Padahal sejam sebelumnya dia meresmikan peletakan batu pertama proyek pembangunan masjid. Itu sesuai janjinya waktu pilkada. “ “ Ngapain dia di hotel ?  “ Engga tahulah aku. Yang jelas , jasadnya ditemui dalam keadaan mengenaskan. Lidah terjulur hingga dagu dan mata terbelalak serupa orang mati setelah gantung diri. “ “ Kata dokter apa penyebabnya ? “ Tak tahu aku. Mungkin narkoba ya. Overdosis.” “ Ah

Ternyata cinta itu berbalas...

Image
“ Jangan sampai engga datang ya. “ Kata teman SMA ku waktu di kampung. Pesan itu disampaikan via BBM. Ketika itu aku sedang di luar negeri. Sebetulnya aku malas untuk reunian. Semua teman SMA ku melanjutkan pendidikan sampai Universitas. Sementara aku tidak. Pasti mereka akan bertanya” Kuliah di mana ? Sudah S2?  Dimana S2 nya.? Kalau itu ditanya, aku harus bilang apa. Toh dari sejak SMA aku memang bukan anak yang masuk hitungan mereka. Aku dari keluarga miskin dan otak pas pasan. Sudah pasti mereka tahu aku, keadaanku, dan pertanyaan itu seakan hanya ingin mempertegas bahwa aku berbeda dengan mereka. Aku bukan generasi first class.  Tapi entah mengapa aku sempatkan juga datang. Itu karena dalam pesan singkat tertera “ Bunga, datang loh dari Palembang. Dia kangen kamu katanya “ Benarkah? apakah ini hanya dagelan saja. Aku yakin tidak ada yang tahu kalau dulu waktu SMA aku sering mencuri pandang kepada Bunga. Aku menaruh hati dan cukup puas sampai pada perasaan. Tanpa ada keb

Sikap Turki dalam berteman

Image
Sikap Recep Tayyip Erdoğan Mari kita bayangkan sebuah analogi sederhana. Andai terjadi pemberontakan di Indonesia. Indonesia menghadapi dua group. Pertama, grup yang ingin mendirikan negara Islam. Katakanlah ISIS. Kedua, grup oposisi, katakanlah Kadrun.   Grup kedua ini kebetulan didukung oleh AS dan Malaysia. Yang tujuannya menjatuhkan presiden Indonesia yang terpilih secara demokratis lewat pemilu. Kedua group ini melakukan pemberontakan serentak walau diantara mereka berlawanan dan berbeda tujuan. Pemerintah Indonesia diserang dari kiri dan kanan. Kemudian datanglah Rusia dan Iran membantu Indonesia. Tawaran juga datang dari AS dan Malaysia untuk membantu menumpas ISIS. Indonesia welcome saja. Selama operasi penumpasan ISIS itu, Malaysia sempat sempatnya membantu grup kedua   untuk menguasai Riau dan menempatkan pemimpin disana. Tentu dihadapi oleh TNI. Perang terjadi. Akhirnya Rusia minta agar dilakukan gencatan senjata. Semua harus focus mengalahkan ISIS. Akhirnya ISIS