Monday, May 28, 2018

Islam dan perbedaan

Entah mengapa semakin bertambah usia dan melihat perkembangan zaman sekarang , rasa kagum kepada pendiri bangsa ini semakin besar. Betapa tidak? Karena ada segelintir tokoh islam yang ikut dalam team pembentukan dasar dan philosopi bangsa ini. Mereka tidak terjebak dalam islam indentitas untuk membuat konsep negara. Pemahaman tauhid yang sangat bijak dan membumi dimana nilai islam itu tertuang dalam pancasilan. Apa itu? Islam tidak dibangun dengan nilai nilai syariat atas dasar takut kepada Allah tetapi nilai islam itu bertumpu kepada Cinta dimana ending nya adalah keadilan sosial bagi semua. Bahwa keadilan itu adalah pakaian cinta Allah, mendekati keadilan adalah mendekati Allah.

Pancasila dengan jelas dan diakui oleh semua agama bahwa yang utama atau nomor satu adalah Tuhan Yang Maha Esa, selebihnya bukanlah yang utama dan tidak masuk sumber kekuatan. Tidak ada satupun manusia bisa mengatakan dia paling benar mewakili Tuhan dan tidak bisa dibenarkan ada narasi menyalahkan yang berbeda. Karena sumber kebenaran itu hanya Allah. Itu antara individu dengan Tuhan saja yang tahu. Tauhid menjamin kebebasan manusia dan memuliakan hanya semata kepada-Nya. Pandangan ini memunngkinkan Pancasila menolak segala dominasi atas nama SARA. Tauhid memiliki esensi sebagai gagasan yang bekerja untuk kemanusiaan yang adil dan beradab untuk terjadi persatuan dan kesatuan diantara umat. Pancasila bukan meliat sebuah agama kolektif yang diajarkan oleh fikih dan syariah, tetapi lebih luas dari itu. Yaitu Cinta. Dan ini gurunya adalah Rummi.

Agama masalah private yang manifestasinya dalam bentuk cinta diatas perbedaan yang ada. Jadi kalau islam mengatakan bahwa perbedaan itu adalah rahmat maka benarlah Pancasila mengamalkan apa yang diajarkan Islam. Para pendiri negara kita sangat paham bahwa negeri ini akan besar karena kesadaran diri untuk mau bermusyawarah atas dasar cinta. Agama itu bagaikan elang yang terbang tinggi diatas langit namun membumi bagaikan induk ayam yang menyelesaikan keseharian atas dasar semangat gotong royong, cinta dan kasih sayang. Makanya bermusyawarah untuk mencapai mupakat adalah kata kuncinya. Karena ia menolak pemaksaan kehendak. Demo jalanan. Makar. Aksi Teror. Tanpa dasar kecintaan kepada Tuhan YME rasanya tidak mungkin manusia bisa tercerahkan dan bersedia duduk bersama atas dasar hikmah dan bijaksana. Atas dasar itulah rakyat akan terlibat dalam semangat emansipasi untuk membangun negeri demi tercapainya keadilan sosial bagi semua.

Namun setelah indonesia merdeka, selalu ada usaha untuk membangun nilai agama kolektif atau islam indentitas. Sampai pakaian pun harus berbeda, tatanan budaya didobrak. Ini bukan soal indentitas sebagai sebuah kebenaran tetapi islam sebagai produk politik. Maka jadilah islam sebagai sebuah idiologi. Transaksional terjadi tanpa bisa dihindari. Islam jadi pembenaran pembunuhan tanpa perlu ada perang. Bahkan membenci dengan mereka yang sama sama mengucapkan dua kalimasahadat. Ketika ada yang berkata bahwa ia paling benar dalil agamanya maka ada dua hal yang sedang mereka perjuangkan, pertama adalah agama sebagai alat merebut hegemoni politik untuk meraih kekuasaan, kedua, memperkecil nilai islam itu sendiri agar Islam sebagai rahmatanlilalamin meredub melalui kampanye perbedaan mahzab, golongan, etnis. Keduanya sengaja untuk melepaskan agama sebagai kekuatan individu,yang terikat langsung dengan sang Khalik.

Passion..

Kalau ada orang pendidikan tinggi. Pernah sekolah di luar negeri. Cerdas dan berwawasan luas. Namun tidak ada lapangan pekerjaan sesuai kapasitas dia. Kalaupun ada , pekerjaan itu hanya membayar karena dia “ngantor dan ngoceh “ selebihnya kosong. Lantas apakah negara gagal menyediakan lapangan pekerjaan untuk dia? apakah dia hanya jadi potensi SDM tanpa jadi potensi real? Jawabnya bukan terletak kepada pendidikan. Pendidikan hanyalah 30% dari potensi orang untuk mempunyai nilai. Ada 2/3 lagi potensi yang harus dilengkapinya. Apa itu ? Potensi intelektual, dan spiritual. Kalau dia punya potensi intelektual maka dia tidak perlu menunggu pekerjaan yang tersedia tetapi dia menciptakan lapangan pekerjaan. Kalau dia punya pontesi spiritual , dia tidak perlu malu bila untuk memulai langkah besarnya dia harus mengambil resiko dengan pendapatan rendah atau serba tidak pasti.

Masalahnya di negeri kita sudah terbentuk mindset bahwa pendidikan tinggi punya hak mendapatkan strata sosial lebih tinggi dibandingkan orang tak punya pendidikan cukup. Merasa paling tahu dan berhak bilang orang lain salah. Berhak untuk mendapatkan kesempatan lebih besar. Kalau kesempatan tidak ada maka dia bisa menyalahkan siapapun dengan segudang teori yang dia tahu. Faktanya teori yang dia ketahui tidak bisa menghidupi dirinya sendiri kecuali berharap ada orang lain mau membayarnya. Orang seperti ini banyak. Titel S2 atau S3 tetapi income kalah sama emak emak yang jualan online dari rumah. Mereka ini ada disemua instansi pemerintah dan lapisan masyarakat. Mereka bubble value SDM dengan tingkat yield lebih rendah dari junk bond. Hebatnya mereka sangat piawai merangkai retorika menjadi bubble haters. Karenanya tatanan budaya jadi rusak. Agama jadi dagangan. Dan politik jadi gaduh.

Di China sejak tahun 2008 dikeluarkan kebijakan bahwa tidak boleh ada lagi penerimaan pegawai lebih mengutamakan sarjana atau alamamater tertentu. Bahkan di china, lulusan SMU sampai sarjana tanpa nilai di ijazahnya. Qualifikasi ditentukan dari test dimana 80% berdasarkan studi kasus lapangan dan attitude. Lantas dimana nilainya ? Pendidikan sekolah dan kampus hanyalah 10% bekal untuk qualified mendapatkan peluang di tengah masyarakat. 90% ditentukan oleh semangat kemandirian dan karakter. Apa artinya ? China percaya bahwa SDM manusia itu 90% ditentukan oleh kebudayaan dan akhlak. Agama berkata budaya memakai. Perbuatan manusia adalah manifestasi budaya dalam menerapkan hakikat agama ( = akhlak). Dan hakikat ini tidak diuji dari pengetahuan kampus tetapi dari proses ulat jadi kepompong, dimana mereka harus melewati sakit dan terluka agar mereka tahu arti bersyukur dan paham bagaimana mencintai.

Makanya jangan terkejut bila semakin tinggi pendidikan orang semakin menunduk dia. Apalagi bila seorang pengrajin di desa diumumkan oleh pemerintah berhasil menampung 10 angkatan kerja dan punya omzet miliaran tanpa sedikitpun fasilitas dari negera. Hal ini semakin membuat mereka menunduk dan sampai akhirnya mereka tidak lagi melihat capaian pendidikan yang diraih, tidak lagi melihat apa yang didapatnya tetapi apa yang dia berikan. SDM terbaik untuk peradaban tidak menghitung berapa yang didapat tetapi berapa yang diberikan, dan pasti engga baper.

Sunday, May 27, 2018

Cinta ?

Saya ingin mengaduk ngaduk logika dan kemapanan emosional anda dalam melihat persoalan sederhana. Tetapi syaratnya jangan baper ya. Begini, ada wanita cantik rupawan yang disukai oleh pria kaya. Wanita itu bangga dan merasa tersanjung karena kecantikannya berbalas pantas dari pria kaya. Apalagi bukan hanya kaya tetapi juga gagah rupawan. Nah mari kita lihat logika sederhana. Ketika wanita bangga terpilih karena kecantikannya maka pada waktu bersamaan juga pria bangga karena kekayaannya mampu menaklukan wanita cantik rupawan. Disini bukanlah cinta yang memicu terjadinya kesepakatan tetapi sebuah transaksional. Ada barang ada harga. Cinta hanya soal retorika namun value didepan menentukan harga.

Disini kita tidak bicara harga barang tetapi value seperti terjadi di bursa saham. Bisa naik bisa juga jatuh. Tergantung sentimen. Begitu juga dengan hubungan pria wanita. Awalnya hubungan memang luar biasa Ibarat pasar sedang hot hot nya. Apapun kinerja disikapi dengan sentimen positip. Sang wanita mulai menentukan kondisi disaat pria sedang on trap dalam euforia cinta. Namun karena waktu, pilihan semakin beragam dan berkembang. Bagi pria , ketika wanita terus meminta uang maka otak kalkulasi bisnis pria bekerja baik. Lirik kiri kanan membandingkan portfolio yang ada ditangan dengan yang ada diluar. Keputusan dibuat, awalnya rebalancing dengan mulai menempatkan wanita bukan the first one tetapi the second. Wanita juga ketika requirement nya di pertanyakan maka diapun melakukan rebalancing.

Dari rebalancing antara kedua belah pihak maka selanjutnya terjadilah take position sell and walk out. Pria melepas portfolio nya atas wanita untuk mencari yang lebih excited. Wanita juga berusaha mendapatkan market yang mau take down dia. Kalau bisa dapatkan pria yang lebih tajir.Tetapi masalahnya uang terus bertambah dan value pria terus meningkat tetapi wanita semakin lama value phisiknya semakin menurun karena faktor usia. Lambat laun karena usia tidak bisa dibohongi akibatnya melantai dibursa terpaksa di delisting karena no value. Masuk ke pasar sekunder , nilai kalah dengan harga steak newzealand satu porsi. Kalau sudah begitu , hidup jadi insecure dan dampaknya baper engga jelas. Karena masih merasa ayam merak diantara ayam kampung.

Hubungan transaksional dapat menjebak siapapun. Mengapa ? karena transaksional menggunakan marketing komunikasi yang bisa menggunakan dalil agama ataupun sekularisme. Namun pada akhirnya harus ada yang dikorbankan dan ada yang membayar karena itu. Setelah deal terjadi maka puas dan tidak puas mulai dibicarakan.Bargain terjadi terus menerus, sampai akhirnya satu sama lain disconnect. Masalahnya selesai. Toh tidak ada yang dirugikan. Semua terjadi atas dasar suka sama suka. Tetapi yang jadi masalah kadang banyak orang ketika menentukan pilihan bertransaksi , dia baper. Merasa ingin menguasai orang lain padahal dalam transaksi tidak ada hegemoni kecuali suka sama suka walau sadar bahwa tidak pernah terjadi deal yang sempurna.

Hidup itu sangat renta dari apa yang kita pikirkan bila kita menganggap segala sesuatu ukurannya materi atas dasar transaksional. Mengapa ? selalu ujungnya penyesalan dan keluhan. Hidup itu sangat kuat dan indah bila kita bisa terus berusaha ikhlas. Mencintai orang lain dengan tulus selalu memberikan nilai tanpa batas ; tidak lekang karena panas dan tidak lapuk karena hujan. Selalu indah waktunya.

Bertahan hidup

Di musim panas, saya berhenti sejenak ketika ada seorang wanita mengayuh kereta berisi barang rongsokan ditengah hiruk pikuk pasar. Udara panas menyengat keras. Wanita itu tetap sabar. Wajahnya nampak keras seakan tak menyisakan ragu dan takut untuk bertahan hidup ditengah lautan manusia lebih dari 1 miliar di China. Teman saya menegur saya “ apakah kamu baik baik saja. “ saya mengangguk. Tetapi teman saya memperhatikan suatu tanya tentang apa yang baru saya lihat. Dia menarik saya masuk ke dalam cafe untuk lepas dari terik matahari. Setelah memesan kopi se gelas untuk dirinya, dia kembali duduk bersama saya.

Bagi orang china, kata teman saya. Bertahan hidup adalah fitrah alam. Ini hukum ketetapan Tuhan. Hidup terasa hambar dan tidak ada arti bila tanpa tantangan. Bertahan hidup sangat tertanam dalam diri setiap makhluk hidup. Alam sendiri berjuang setiap hari demi kelangsungan hidupnya. Bertahan hidup menunjukan akar yang baik bagi kelangsungan perkembagan jiwa positip. Setiap upaya bertahan hidup bagaikan biji kecil dari pohon tumbuh terus lebih besar dan lebih tinggi ke arah cahaya. Wanita itu berjuang dan terus melangkah tanpa henti. Kadang menunjukan pemandangan luar biasa. Itu semua buah dari ribuan langkah untuk bertahan hidup.

Kehidupan memaksa orang harus memilih. Apapun pilihan disertai hukum Tuhan, yang kadang kita abaikan, dan itulah kelemahan manusia. Namun cinta, cinta adalah mesin. Mesin ini yang mendorong orang kembali kepada hukum Tuhan. Karena Tuhan mencintai manusia lewat proses hidupnya. Setiap makhluk menyadari ini. Tuhan menawarkan, hidup sesuai dengan aturanNya. Untuk mencapai keseimbangan sempurna. Manusia menerjemahkan cinta Tuhan dalam berbagai cara sementara waktu terus berlalu. Tapi cinta selalu ada di sana. Mungkin berbeda dari satu abad ke abad yang lain. Tapi dia terus mendorong orang untuk bertindak. Mencintai orang lain. Mencintai keluarga. Mencintai negara.

Senja telah datang. Sebentar lagi buka puasa. Saya tidak lagi merasa lapar. Karena apalah arti lapar bila dibandingkan dengan kerasnya bertahan hidup dari wanita itu. Juga samahalnya dengan banyak orang duafa yang bertahan hidup di negeri saya. Mereka kumpulan manusia yang sebetulnya kuat. Karena mereka tidak mengeluh dan tidak berharap dari segala kemudahan. Mereka bertahan hidup berkat cinta Tuhan yang membuat mereka mengabaikan untuk membenci dalam keluhan yang tiada henti. Walau mereka tidak paham apa itu agama sesungguhnya namun Tuhan hadir dalam proses hidupnya. Membuat mereka selalu punya harapan. Tanpa berputus asa akan rahmat Tuhan.

Sebetulnya kemiskinan lahir dari ketidak seimbangan. Karena manusia mengabaikan hukum Tuhan untuk mencapai keseimbangan. Takut miskin dan menghindar dari kelelahan. HIlanglah struggle untuk mencapai keseimbangan itu. Dunia sekular hanya menghitung rasio Gini atas distribusi kekayaan tetapi lupa menghitung distribusi cinta. Makanya yang nampak adalah peradaban paradox, dimana ilmu tidak melahirkan kebijakan dan harta tidak menimbulkan kebahagiaan tetapi justru menangis ditempat sepi dan menumpang tawa ditempat ramai. Selalu punya waktu melihat keluar namun buta melihat kedalam. Selalu punya alasan membenci dan menolak untuk memaafkan apalagi memaklumi.

“ Hidup adalah perjuangan atas sebuah pilihan. Wanita itu tidak memilih untuk meminta dan modus. Tentu pilihannya ada resiko. Mungkin dia bisa saja menolak resiko agar terhindar dari luka dan jatuh. Namun yakinlah dia tidak akan menjadi apa apa dan bukan siapa siapa. Tetapi dengan dia melewati resiko, terluka dan jatuh, dia tahu arti mencintai dan paham bagaimana bersyukur kepada Tuhan. Itulah hakikat dari kehidupan, berjalan dijalan Tuhan dan selalu berprasangka baik kepada Tuhan tanpa prasangka buruk terhadap orang lain” demikian kata teman saya mengakhiri pertemuan hari itu.

Thursday, May 03, 2018

Cara sederhana bahagia


Satu satunya yang tidak saya suka adalah berdebat. Mengapa ? acap kali saya dan lawan bicara saya akan seperti dua pesawat televisi yang disetel berhadap-hadapan. Dia tak mencoba mengerti saya dan saya tak mencoba mengerti dia. Bahasa punya problem. Kata yang kita ucapkan atau kita tulis tidak jatuh persis di sebelah sana dalam makna yang seperti ketika ia keluar dari kepala saya. Lantas apa tujuan sebuah perdebatan? Untuk menunjukkan bahwa saya tak kalah pintar ketimbang lawan itu? ”Kalah pintar” tidak selamanya mudah diputuskan, kalaupun ada juri yang menilai. Atau untuk meyakinkan orang di sebelah sana itu, bahwa pendirian saya benar, dan bisa dia terima? Saya tak yakin.

Saya malas berdebat. Kecuali saya hanya ingin menulis secara literal dengan menjawab berbagai issue dalam keseharian, yang siap dibantah orang dan bahkan dicuekin orang. Kalaupun saya membantah, saya tak bermaksud untuk mengalahkan orang, apalagi mempermalukannya. Saya hanya ingin menggugah orang untuk berpikir, menilik hidup, terutama hidupnya dan menjadi lebih bijaksana sedikit. Mengapa ? Kita tak bisa untuk selalu optimistis, bahwa sebuah diskusi yang ”rasional” akan menghasilkan sebuah konsensus. Bahkan debat di sosmed dan kritis tidak dengan sendirinya akan membuka pintu ke sebuah ruang di mana orang bisa bertemu dan bersepakat. Justru sebaliknya: yang akan terjadi adalah makin beragamnya pendapat dan pendirian.

Orang yang berbeda punya pandangan dunia yang berbeda pula, dan pada saat mereka sadar bahwa intuisi mereka tentang realitas berbeda, mereka akan makin ketat dalam pilihan posisi mereka. Ada yang selamanya tak terungkap, juga bagi diri sendiri, dalam kalimat. Di manakah peran percakapan? Buat apa dialog dilakukan? Mungkin jawabnya lebih sederhana bahwa percakapan di sosial media punya momen persentuhan yang tak selamanya bisa dibahasakan—momen ketika tubuh jadi bagian dari keramahan. Kadang lucu bila kebencian dan kecintaan kepada penulis hadir silih berganti hanya karena persepsi atas tulisan yang berbeda. Mungkin saya pahami tulisan saya dengan baik namun saya tidak jamin orang lain yang membacanya akan menerima baik.

Karenanya saya berusaha dalam setiap postingan menghindari munculnya perdebatan yang bisa memancing emosi. Atau kalau issue yang sensitif dan sulit dipahami saya sampaikan lewat kisah fiksi untuk saya bebas dan mudah dipahami orang lain tanpa ada kesan menggurui. Tentu berbeda dengan sebagian penulis facebook yang sengaja memancing emosi agar lebih banyak like dan komen sehingga viral. Sama halnya dengan acara ILC, yang lebih cenderung mengangkat issue yang mudah menimbulkan perdebatan dan memang itu tujuannya agar bisa menghibur orang banyak. Tidak mengherankan bila televisi dan sosial media mengambil peran besar dalam debat politik. Creator acara hanya menginginkan sesuatu untuk ditonton khalayak seperti orang Roma dulu menyelenggarakan pertandingan gladiator.

Suka atau tidak suka, Politik telah jadi sebuah tempat bertarung yang dibangun oleh media massa, di mana wajah, sosok, artikulasi, dan janji diperlakukan sebagai komoditas yang ditawarkan ke konsumen yang sebanyak-banyaknya. Makin banyak calon pembeli yang dibujuk, makin ditemukan titik pertemuan yang paling dangkal. Dan ketika televisi—dengan kebiasaannya untuk gemebyar, dengan ongkos mahal—jadi makin komersial, pendangkalan itu makin tak terelakkan apalagi ada sosial media yang murah meria sebagai ajang kampanye.

Saya malas berdebat karena menguras emosi apalagi atas dasar kebencian dan ketidak sukaan satu sama lain untuk dipertontonkan dihadapan orang banyak. Apapun itu, namanya ya bertengkar dan itu buruk. lebih baik saya hindari. Mengapa ? Didunia ini tidak ada yang lebih penting kecuali bagaimana hidup bisa bahagia. Menjauhi bertengkar atau debat kosong adalah pilihan smart untuk meraih bahagia dengan cara mudah dan tentu murah. Ini soal pilihan.

Tidak bisa bersyukur..

  Ketika masuk cafe saya lihat Yuni, Esther, Wenny duduk di table yang sama. Saya temui mereka. Bicara sebentar. Saya keluar cafe untuk mero...