Posts

Showing posts from May, 2018

Islam dan perbedaan

Image
Entah mengapa semakin bertambah usia dan melihat perkembangan zaman sekarang , rasa kagum kepada pendiri bangsa ini semakin besar. Betapa tidak? Karena ada segelintir tokoh islam yang ikut dalam team pembentukan dasar dan philosopi bangsa ini. Mereka tidak terjebak dalam islam indentitas untuk membuat konsep negara. Pemahaman tauhid yang sangat bijak dan membumi dimana nilai islam itu tertuang dalam pancasilan. Apa itu? Islam tidak dibangun dengan nilai nilai syariat atas dasar takut kepada Allah tetapi nilai islam itu bertumpu kepada Cinta dimana ending nya adalah keadilan sosial bagi semua. Bahwa keadilan itu adalah pakaian cinta Allah, mendekati keadilan adalah mendekati Allah. Pancasila dengan jelas dan diakui oleh semua agama bahwa yang utama atau nomor satu adalah Tuhan Yang Maha Esa, selebihnya bukanlah yang utama dan tidak masuk sumber kekuatan. Tidak ada satupun manusia bisa mengatakan dia paling benar mewakili Tuhan dan tidak bisa dibenarkan ada narasi menyalahkan yang

Passion..

Image
Kalau ada orang pendidikan tinggi. Pernah sekolah di luar negeri. Cerdas dan berwawasan luas. Namun tidak ada lapangan pekerjaan sesuai kapasitas dia. Kalaupun ada , pekerjaan itu hanya membayar karena dia “ngantor dan ngoceh “ selebihnya kosong. Lantas apakah negara gagal menyediakan lapangan pekerjaan untuk dia? apakah dia hanya jadi potensi SDM tanpa jadi potensi real? Jawabnya bukan terletak kepada pendidikan. Pendidikan hanyalah 30% dari potensi orang untuk mempunyai nilai. Ada 2/3 lagi potensi yang harus dilengkapinya. Apa itu ? Potensi intelektual, dan spiritual. Kalau dia punya potensi intelektual maka dia tidak perlu menunggu pekerjaan yang tersedia tetapi dia menciptakan lapangan pekerjaan. Kalau dia punya pontesi spiritual , dia tidak perlu malu bila untuk memulai langkah besarnya dia harus mengambil resiko dengan pendapatan rendah atau serba tidak pasti. Masalahnya di negeri kita sudah terbentuk mindset bahwa pendidikan tinggi punya hak mendapatkan strata sosial lebi

Cinta ?

Image
Saya ingin mengaduk ngaduk logika dan kemapanan emosional anda dalam melihat persoalan sederhana. Tetapi syaratnya jangan baper ya. Begini, ada wanita cantik rupawan yang disukai oleh pria kaya. Wanita itu bangga dan merasa tersanjung karena kecantikannya berbalas pantas dari pria kaya. Apalagi bukan hanya kaya tetapi juga gagah rupawan. Nah mari kita lihat logika sederhana. Ketika wanita bangga terpilih karena kecantikannya maka pada waktu bersamaan juga pria bangga karena kekayaannya mampu menaklukan wanita cantik rupawan. Disini bukanlah cinta yang memicu terjadinya kesepakatan tetapi sebuah transaksional. Ada barang ada harga. Cinta hanya soal retorika namun value didepan menentukan harga. Disini kita tidak bicara harga barang tetapi value seperti terjadi di bursa saham. Bisa naik bisa juga jatuh. Tergantung sentimen. Begitu juga dengan hubungan pria wanita. Awalnya hubungan memang luar biasa Ibarat pasar sedang hot hot nya. Apapun kinerja disikapi dengan sentimen positip. S

Bertahan hidup

Image
Di musim panas, saya berhenti sejenak ketika ada seorang wanita mengayuh kereta berisi barang rongsokan ditengah hiruk pikuk pasar. Udara panas menyengat keras. Wanita itu tetap sabar. Wajahnya nampak keras seakan tak menyisakan ragu dan takut untuk bertahan hidup ditengah lautan manusia lebih dari 1 miliar di China. Teman saya menegur saya “ apakah kamu baik baik saja. “ saya mengangguk. Tetapi teman saya memperhatikan suatu tanya tentang apa yang baru saya lihat. Dia menarik saya masuk ke dalam cafe untuk lepas dari terik matahari. Setelah memesan kopi se gelas untuk dirinya, dia kembali duduk bersama saya. Bagi orang china, kata teman saya. Bertahan hidup adalah fitrah alam. Ini hukum ketetapan Tuhan. Hidup terasa hambar dan tidak ada arti bila tanpa tantangan. Bertahan hidup sangat tertanam dalam diri setiap makhluk hidup. Alam sendiri berjuang setiap hari demi kelangsungan hidupnya. Bertahan hidup menunjukan akar yang baik bagi kelangsungan perkembagan jiwa positip. Setiap

Cara sederhana bahagia

Image
Satu satunya yang tidak saya suka adalah berdebat. Mengapa ? acap kali saya dan lawan bicara saya akan seperti dua pesawat televisi yang disetel berhadap-hadapan. Dia tak mencoba mengerti saya dan saya tak mencoba mengerti dia. Bahasa punya problem. Kata yang kita ucapkan atau kita tulis tidak jatuh persis di sebelah sana dalam makna yang seperti ketika ia keluar dari kepala saya. Lantas apa tujuan sebuah perdebatan? Untuk menunjukkan bahwa saya tak kalah pintar ketimbang lawan itu? ”Kalah pintar” tidak selamanya mudah diputuskan, kalaupun ada juri yang menilai. Atau untuk meyakinkan orang di sebelah sana itu, bahwa pendirian saya benar, dan bisa dia terima? Saya tak yakin. Saya malas berdebat. Kecuali saya hanya ingin menulis secara literal dengan menjawab berbagai issue dalam keseharian, yang siap dibantah orang dan bahkan dicuekin orang. Kalaupun saya membantah, saya tak bermaksud untuk mengalahkan orang, apalagi mempermalukannya. Saya hanya ingin menggugah orang untuk ber