Monday, April 20, 2020

Segera akhiri COVID-19

Uang ada.
Indonesia menghadapi dua krisis, yaitu krisis ekonomi dan pandemi COVID-19. Kedua krisis ini saling kait-mengkaitk. Kalau engga ada duit, COVID-19 engga selesai. Covid-19 engga selesai, ekonomi engga jalan. Pandemi COVID-19 telah menghantam sektor riil.  Selama Pandemi dan PSBB, bisnis yang masih bagus adalah farmasi, telekomunikasi hingga e-commerce. Sementara yang lainnya seperti industri makanan kemasan juga tetap tumbuh bagus. Namun yang lainnya seperti industri tourism, transportasi udara dan laut, otomotif, konstruksi dan real estate, manufaktur, serta jasa keuangan jelas suffering. Di samping itu, usaha informal  dan outlet toko jelas tengkurep. Dampaknya sangat luas terhadap perekonomian negara. Pajak jelas drop. Pertumbuhan jangan diharap, bisa bertahan saja sudah bagus. PHK secara terselubung tidak bisa dihindari khususnya tenaga kerja kontrak.

Dengan situasi tersebut diatas, mereka yang kaya pasti berkurang kekayaannya. Yang miskin jadi tambah miskin. Yang tambah miskin teracam kelaparan. Kalau melihat data terbaru angka kemiskinan BPS persentase penduduk miskin pada September 2019 sebesar 9,22% atau sebesar 24,79 juta orang. Dengan adanya pandemi ini bisa saja bertambah menjadi 30 juta orang. Pemerintah harus cepat memberikan bantuan tunai kepada rakyat yang 30 juta itu. Engga bisa terlambat. Kecepatan memberikan bantuan menjadi concern ketika membelakukan PSBB. Pada waktu bersamaan juga Pemerintah harus cepat menyalurkan dana stimulus kepada pengusaha dan sistem keuangan agar gelombang PHK tidak meluas.

Banyak pihak menyarankan agar pemerintah cetak uang. Walau cara cetak uang itu bisa saja dilakukan pemerintah tetapi cara itu sudah jadul. Lebih besar resikonya terhadap ekonomi. Walau memang itu cara mudah.  Yang benar itu tetap kosisten melalui kebijakan fiskal dan moneter yang terukur. Secara fiskal, pemerintah merealokasi APBN sebesar Rp. 255,1 triliun. Dana itu berasal dari K/L Rp 95,7 triliun dan TKDD [Transfer ke Daerah dan Dana Desa] sebesar Rp 94,2 trilun, dan realokasi cadangan sebesar Rp 54,6 triliun. Kemudian pemerintah menambah pembiayaan anggaran sebesar Rp. 150 triliun. Sumber dananya dari utang. Jadi total semua Rp. 405,1 triliun.

Agar program Ekonomi dan pendanaan itu tidak melanggar UU yang ada, maka pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (PERPPU) Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan Untuk Penanganan Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan/atau Dalam Rangka Menghadapi Ancaman Yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan. Dengan PERPPU 01/2020 ini memungkinkan negara bisa suplai uang ke dunia usaha dan sistem keuangan. Dengan demikian goncangan krisis yang terjadi terhadap dunia usaha dan sistem keuangan dapat diatasi.

Dengan asumsi setiap orang mendapat Rp. 1 juta perbulan. Kalau per keluarga miskin anggota keluarga ada 4 oragn maka itu jumlah Rp. 4 juta per bulan. Dan diberikan selama 3 bulan. Maka total dana bantuan tunai mencapai Rp. 90 triliun. Apakah dananya tersedia? Saya perhatikan Jokowi ketika mengeluarkan PP PSBB dan PERPPU 01/2020 sudah menghitung dampak ekonomi dari adanya PSBB. Dari anggaran stimulus Rp 405 triliun terkait penanganan virus Corona. Sebanyak Rp 110 triliun di antaranya akan digunakan untuk program jaring pengaman sosial (social safety net).  Apa artinya ? secara ekonomi dan financial kita sangat aman dan siap menghadapi pandemi COVID-19.

Lantas apa masalahnya ? Pertama, belum ada pengesahaan dari DPR tentang PERPPU 01/2020. Sehingga dana stimulus berupa penambahan APBN dan realokasi APBN yang dianggarkan sebesar Rp. 405 triliun masih belum bisa dicairkan. PEMDA juga masih talik ulur dengan DPRD soal dana realokasi APBD. Kedua, sistem desentralisasi (pemda ) pedinstribusian BLT ini sangat lambat proses sampai ke tangan rakyat. Bahkan cenderung boros. Bahkan seperti Banten, dananya tersandera oleh Bank Banten karena gagal bayar. Sehingga dana Jaring pengaman belum bisa dibagikan. Sementara PSBB sudah berlaku di 20 wilayah. Dampak tersendatnya BLT ini bisa megakibatkan terganggunya stabilitas nasional.

BPS punya data orang miskin. Mendagri dan semua PEMDA punya data orang miskin. Segera sajalah salurkan dana itu.  Di sini kita menguji kelenturan sistem birokrasi dan demokrasi dalam menghadapi keadaan darurat.  Kalau memang sistem tidak mendukung, ya saatnya UU Darurat yang menjadi acuan PP PSBB diterapkan. Engga usah ragu.  Selagi media massa, publik tetap diberi hak bersuara, tidak ada kebocoran yang bisa bebas begitu saja. KPK pasti akan mendapatkan laporan dari masyarakat kalau memang ada penyelewengan oleh aparat. Segera salurkan atau terlambat maka yang terjadi, terjadilah..Karena uang ada! kita engga bangkrut.

Abas Gagal
Saya baca kompas. Ada video orang tidur di trotoar jalan di kawasan Tanah Abang. Mereka tidak punya uang untuk bayar kontrakan dan kos. Jaraknya hanya sejengkal dari Istana dan Balaikota. Abas begitu pedulinya dengan nyawa orang. Itu disampaikan dengan raut wajah sedih dan suara bergetar di hadapan media massa. Orang terharu begitu mulianya gubernur pilihan umat. PSBB diajukan kepada Menteri Kesehatan. Izin didapat. PSBB pun berlaku bagi warga jakarta. Semua kegiatan bisnis berhenti kecuali kegiatan yang dibolehkan oleh aturan PSBB.

Apa yang terjadi? ada ribuan pekerja informal yang di toko, pusat perbelanjaan, pusat pujasera, restoran, cafe, hotel terpaksa di rumahkan. Begitu pula pekerja bangunan terpaksa kehilangan pekerjaan karena proyek semua terhenti. Karena mereka bukan pekerja tetap, maka tidak bekerja tidak ada gaji atau upah. Juga usaha informal seperti pemulung, pedagang kaki lima, supir taksi, bajay , udah bisa dipastikan kehilangan pendapatan. Karena kebijakan staying home. Jumlah mereka jutaan di Jakarta.

Pertanyaannya adalah kapan mereka akan dapat dana bansos. Mereka tidak butuh sembako. DKI tegas mengatakan tidak ada bantuan uang tunai. Padahal mereka butuh uang tunai untuk bayar kontrak rumah atau kos. Untuk makan dan minum. Mereka tidak punya tabungan untuk bertahan hidup lebih dari semingu tanpa penghasilan. Mau pulang kampung saat PSBB ini juga engga mudah. Karena angkutan umum terkena protokol PSBB. Kalaupun ada, tentu ongkosnya mahal karena tidak bisa berdesakan dalam kendaraan.

Memang sudah ada 20 wilayah yang terapkan PSBB. Namun Jakarta adalah episentrum COVID-19, juga adalah ukuran kewibawaan pemerintah menghadapi pandemi. DKI sudah setuju mengeluarkan dana realokasi COVID 19 sebesar lebih dari Rp 10 triliun. Tetapi anggaran tunai untuk mereka yang jadi korban akibat PSBB tidak ada. Padahal DKI punya anggaran belanja pegawai Rp. 25 triliun. Kalau ada kemauan dan niat baik tentu tidak sulit. Karena jumlahnya lebih dari cukup menanggung mereka yang hilang pendapatan selama masa PSBB.

Sudah saatnya Jokowi bersikap tegas kepada DKI. Secara fakta Abas sudah gagal. Apalagi data menunjukan setelah PSBB, jumlah positif COVID-19 DKI bertambah. Jadi sudah saatnya gunakan UU darurat sipil untuk memastikan Abas demosioner dan selanjutnya penanganan COVID-19 di Jakarta dikendalikan langsung oleh pusat. Mengapa ? Kalau terlambat, chaos sosial hanya masalah waktu. Orang lapar dan frustrasi bisa melakukan apa saja dan sangat mudah diprovokasi. Apalagi partai pendukung Abas dan para oposisi selalu menyalahkan pusat. Ini akan terus bergulir menjadi masalah politik yang kalau meledak sulit dipadamkan.***

Mitigasi CORONA
Saya nonton Video jumpa pers yang diadakan di Gedung Putih.   Dalam jumpa pers ini di hadiri oleh Team gugus tugas Coronavirus AS, William N. Bryan, juga wakil menteri untuk sains dan teknologi di Departemen Keamanan Dalam Negeri dan disaksikan oleh   Presiden Trump dan Wakil Presiden Pence. Yang membuat saya tertarik dan akhirnya menjadi referesi bahan tulisan saya di blog tentang cara efektif mitigasi COVID-19 adalah karena Team Gugus Tugas AS itu menyampaikan hasil laporan dari laboratorium biosekuriti Angkatan Darat AS di Fort Detrick, Md. 

William Bryan, menyebut bahwa kombinasi sinar ultraviolet (UV) serta temperatur lebih hangat membuat COVID-19 tidak berdaya. “ Observasi kami sejauh ini yang paling mencolok adalah efek powerful sinar Matahari sepertinya membunuh virus itu, baik di permukaan maupun di udara," cetus Bryan. Hasil temuan ini engga main main. Karena disampaikan di Gedung Putih. Riset dilakukan di Lab milik Angkatan Darat. Jadi tingkat validitasnya tinggi sekali.

Agar tidak misleading  atas pernyataan virus corona mati karena tempratur panas, sehingga diartikan udara panas seperti di Indonesia itu aman dari Corona. Karena di dalam ruangan ber AC tentu suhu dingin dan jauh dari matahari. Penyebaran bisa saja terjadi dari orang ke orang. Maka saya jelaskan secara singkat seperti uraian dari video itu.  Bahwa virus itu tidak efektif tersebar lewat udara, apabila suhu panas UV langsung ada dari matahari. Misal, seribu partikel virus tersebar lewat udara. Dalam 18 jam,  virus turun menjadi 500. Dalam 18 jam setelah itu, turun menjadi 250, dan seterusnya dan seterusnya. Artinya berlalunya waktu, penyebaran virus lewat udara itu akan menurun dan akhirnya hilang.

Atas dasar itu, maka metode mitigasi atas pandemi ini jadi mudah di rancang khususnya di Indonesia, yang tempraturnya diatas 24 derajat celcius. Kita tidak perlu ada lockdown dan tak perlu social distancing terlalu ekstrim. Biarkan saja orang terus beraktifitas secara normal. Kita harus syukuri karena kita berbeda dengan negara yang berada di sub tropik. Kita berada di daerah equatorial yang kaya UV. Tentu berbeda cara mitigasi kita dengan mereka. Nah dengan asumsi semua orang terinfeksi virus corona, maka   cara mitigasi dilakukan sebagai berikut :

Pertama, pastikan semua tempat yang berada di ruangan tertutup menyediakan bahan disfektan. Orang dipaksa untuk disiplin agar sering sering cuci tangan. Mengapa? Cairan dari orang yang terinfeksi virus corona bisa bertahan lama di ruangan tertutup tanpa sinar matahari. Bisa nempel di tombol lift, di pegangan eskalator, di toilet, di sofa cafe, di pegangan jendela atau pintu , tempat duduk angkutan umum dan lain lain. Pemerintah dan pengelola gedung dan fasilitas umum harus menyediakan petugas menjaga dan mengawasi tempat tempat yang berpotensi sebagai penyebaran virus. Mereka harus dilengkapi dengan alat disfektan.

Kedua, Pastikan semua orang menggunakan masker bila berada di ruangan tertutup termasuk dalam kendaraan.  Kalau bisa di setiap tempat atau gedung, di pintu masuk sediakan masker gratis sesuai standa kesehatan. Karena dokter dan paramedis berhadapan langsung dengan pasien terinfeksi, jadi tidak bisa menghindari sebaran virus corona. Pastikan semua dokter dan paramedis punya APD. Yang lebih penting lagi adalah perbanyak ventilator agar proses penyembuhan secara alami dapat berlangsung dan tidak berakibat fatal.

Ketiga, cara pertama dan kedua itu harus disosialisasikan terus menerus kepada publik agar mereka sadar akan kesehatannya. Jangan sampai menakuti nakuti. Berita soal kematian tentang virus corona sebaiknya dikurangi. Yang diperbanyak adalah berita orang sembuh. Ini penting agar orang tetap waspada namun tidak panik. Karena kepanikan justru membuat imune orang berkurang.

Apakah cara mitigasi tersebut diatas salah. Kita bisa liat fakta di China. Setelah masuk musim semi, dan matahari mulai menampakan diri, musim dingin berlalu. Mitigasi COVID-19 tidak ada lagi seperti lockdown yang pernah dilakukan di Wuhan. China kembali beraktifitas seperti normal namun mitigasi corona tetap dilakukan seperti langkah pertama dan kedua itu. Mereka memang melakukan sosial distancing tetapi tidak ekstrim sehingga menghentikan semua fasilitas umum. Kehidupan berjalan normal namun gaya hidup udah berubah.


BLT penting, kerja jauh lebih penting.
Saya nonton video yang ditayangkan lewat sosial media. Seorang wanita bernama Yuli. Warga banten. Dia berkata dengan raut wajah memancarkan putus asa dan air mata berlinang seraya memeluk buah hatinya yang masih balita. Sudah dua hari tidak makan. Suaminya Kholid sebagai pekerja lepas yang menerima upah Rp. 25.000 perhari. Kalau tidak bekerja tentu tidak dapat upah. Sudah dua hari tidak bekerja sejak ada ketentuan social distancing. Seperti Yuli itu bukan hanya satu itu. Tetapi ada banyak Yuli lain yang harus terpaksa sabar menerima kenyataan suaminya di rumah tanpa penghasilan.

Pandemi Covid-19 adalah satu hal tetapi korban kemanusiaan akibat sikap kita menghadapi pandemi ini sangat luar biasa. Pandemi ini sangat mengkawatirkan karena sering dibicarakan oleh mereka kelas menengah  atau mereka yang punya akses kepada informasi sosial media. Yang tentu mereka yang punya tabungan untuk bertahan selama masa staying at home. Saya menonton video aksi demo di Amerika serikat. Ketika ditanya “ When it come to the pandemic. Are you scared at all? Do you think it, do you believe in it.   Mereka berkata “ Kami percaya. Tetapi kami tetap butuh pekerjaan. “

Mereka yang rentan miskin, tak hendak mengemis. Tak hendak BLT. Tak hendak dibagi gratis Masker. Mereka hanya butuh kerja dan karena itu mereka bisa membayar kebutuhannya. Mereka sangat percaya akan resiko virus corona. Tapi apakah cukup meyakinkan mereka akan bahaya Corona lantas membuat mereka takut keluar rumah.  Tidak! Mungkin bagi anda yang belum pernah merasakan betapa susahnya tak punya uang dan hidup tidak secure secara financial, akan sulit memahami bagaimana mereka kelas bawah itu seperti tidak takut mati dan tidak peduli resiko Corona.

Di saat kita sering bicara tentang angka kematian akibat Corona, jauh sebelumnya orang miskin sudah akrab dengan kematian. Bisa karena gizi buruk. Bisa karena lingkungan yang kumuh, yang mudah membuat mereka terkena DBD, malaria. Mati di jalan akibat kecelakaan angkutan umum. Atau bisa apa saja. “ People are gonna die. They die no matter what.” Apakah sebelumnya kita pernah peduli dengan mereka, seperti kepedulian kita sekarang terhadap ancaman corona?

Bantuan tunai atau sembako, tidak akan bisa membayar rasa takut kehilangan pekerjaan dan masa depan. Tidak sebanding dengan ancaman kematian akibat corona. Bagi mereka bekerja itu adalah hope, dan karena itu mereka bisa bertahan hidup dalam kemiskinan dan derita tak bertepi. Yang jelas, akibat kekawatiran kelas menengah yang berlebihan ini, mereka yang miskin jadi korban. Dan memberi amunis politisi untuk menaikan citra, bahwa mereka peduli. Realokasi anggaran didengungkan bombamdis. Namun sulit cair atau hanya menetes tak sampai kepada Yuli. Yang akhirnya Yuli harus mati, karena kelaparan. Tragis!

Saya tak hendak menghakimi siapapun. Saya juga tidak ingin mengabaikan COVID-19. Namun saya berharap pemerintah pusat dan daerah benar benar menjadikan perang terhadap COVID-19 ini  sebagai perang total. Jangan lagi gunakan covid-19 ini sebagai alat politik. Masyarakat juga harus mendukung penuh. Patuhi PSBB. Agar perang bisa segera kita akhiri. Terlambat?  sangat besar resikonya bagi NKRI. Karenanya DPR segeralah pengesahan PERPPU 1/2020. PERPPU itu sangat penting untuk menyelamatkan ekonomi dan pembiayaan pandemmi. Bukan hanya kita yang suffering tetapi semua negara di dunia suffering. Terlambat siap menyediakan payung hukum maka secara politik kita tidak siap menghadapi chaos. Maka yang terjadi , terjadilah...

Mitra saya di China mengatakan kalau ingin dapatkan refund tax secara real time dari pemerintah, maka saatnya beli produk dan jasa UKM. Apapun itu. Pemerintah China menggelontorkan dana stimulus dalam bentuk pemotongan pajak sangat gila gilaan. Pada waktu bersamaan industri dan manufaktur juga mendapatkan dana stimulus dalam bentuk pemotongan bunga bank, dan pelonggaran kredit untuk pengadaan stok barang dan pembelian barang / jasa dari para supply chain UKM. Para distributor juga mendapatkan pelonggaran kredit dari pabrikan. Triliunan Yuan disuplai dari APBN agar ekonomi kembali bergerak.

Mengapa? dampak pandemi COVID-19. Akibat kebijakan lockdown dan social distancing Ekonomi China suffering.  Laporan Biro statistik China, Ekonomi pada kuartal I-2020 terkontraksi alias tumbuh negatif -6,8% year-on-year (YoY). Ini adalah kontraksi pertama sejak China mencatat pertumbuhan ekonomi secara YoY pada 1992. Kalau ini berlanjut sampai kwarta 2 maka diperkirakan ratusan juta orang kehilangan pekerjaan. Makanya, pemerintah China sejak awal maret mulai start work. Dana stimulus digelontorkan. Tidak dalam bentuk BLT tetapi dalam bentuk membanjiri likuiditas sektor produksi.

China pernah mengalami pandemi yang lebih buruk dari COVID-19 namun bencana kelaparan di era revolusi kebudayaan, itulah yang paling menakutkan. 25 juta orang mati begitu saja.” Kami telah melewati proses pilihan kami dalam perang melawan COVID-19, dan kami sudah membayarnya dengan Lockdown selama 3 minggu. Apa hasilnya? tidak menghentikan kematian akibat COVID-19. Tidak menjamin setelah sembuh aman dari corona. Kita tidak bisa melawan kematian, namun kita bisa melewati hal terburuk dalam kehidupan. Kuncinya adalah bergerak. Kerja!

Harus diakui bahwa angin badai resesi sudah sampai disetiap negara. Negara kaya karena minyak, kini suffering. Karena tidak ada yang membeli sebanyak dulu. Hargapun jatuh. Semua negara Timur Tengah ramai ramai gedor IMF minta bantuan hutang. Ramai ramai menggedor pasar uang untuk terbitkan obligasi. Negara sehebat China dalam produksi, kehilangan power untuk tumbuh. Bahkan di AS orang lebih memilih mati karena corona daripada kehilangan pekerjaan. Indonesia jangan terlalu lama panik dengan staying at home.  Jadikan social distancing itu sebagai mindset baru untuk hidup bersih dan menjaga kesehatan. 

Di dunia ini hanya China, india dan Indonesia yang masih tumbuh. Kebangkitan ekonomi tiga negara ini bisa menyelamatkan dunia dari lubang resesi. Kita tidak bisa meniru budaya orang AS dan Eropa yang terlalu sibuk membahas politik karena corona. Kita punya tanggung jawab lebih besar terhadap dunia. Jadi jangan karena corona lantas kita kehilangan human being dan passion hidup sebagai orang modern. “ Katanya melalui email.

Saya mencermati kebijakan ekonomi Jokowi berkaitan dengan pandemi COVID-19. Sangat rasional. 70% dana stimulus diarahkan kepada stabilitas Ekonomi dan moneter. Hanya 30% untuk COVID-19. Apa artinya? masalah serius itu bukan COVID-19 tetapi masalah ekonomi.  Yang dikawatirkan Jokowi adalah resesi ekonomi, wabah kelaparan. Kalau sudah bicara ekonomi, maka kecepatan berproses melewati kendala non ekonomi harus lebih cepat. Itu sebabnya Pemerintah mengeluarkan PERPPU 1/2020. Sehingga penyaluran dana untuk perang terhadap covid-19 dapat segera dilakukan, termasuk membantu mereka yang rentan miskin agar tidak kelaparan.  Agar apa yang dilakukan China setelah melewati focus COVID-19 bisa juga kita lakukan. Yaitu genjot ekonomi secara all out. Agar orang kembali kerja dan ekonomi kembali tumbuh. Semoga MK bisa menolak pembatalan PERPPU dan DPR segera sahkan itu.***

Akhirnya ..
Andaikan ilmuwan dari Johns Hopkins Center for Health Security, tidak membuat simulasi yang menakutka dunia tentang COVID-19. Bahwa dalam enam bulan ke depan hampir setiap negara di dunia akan terkena wabah ini. Dalam 18 bulan, diperkirakan 65 juta orang bisa mati karena virus ini. Mungkin panggung teater lockdown Wuhan tidak akan meriah. Media massa tidak punya referensi kuat untuk membuat orang takut dan kawatir. Padahal sebelumnya ada Wabah Flue di AS, yang membuat 50.000 meninggal, namun tidak ada reaksi apapun. Dianggap biasa saja.

Kalau anda jeli mengamati dan sedikit memahami tentang Pilsafat kehidupan, anda mungkin akan tersenyum sendiri. Mengapa ? Semua respon yang berhubungan dengan ekonomi, sosial, politik, agama dan budaya serta seperangkat nilai dari itu semua, menjadi no meaning dihadapan COVID-19. Hanya respon WHO, dan CDC atau Lembaga Penyakit Menular yang punya otoritas menentukan seperti apa yang harus dilakukan. Semua informasi harus diragukan kecuali dari WHO dan CDC. Semua negara selain komunis harus tunduk kepada WHO. Dia menjadi diktator diatas rasa takut.

Tetapi apakah semua by design? entahlah. Yang pasti karena COVID-19, drama collosal dengan peran tunggal aktor CORONA telah meyingkirkan narasi agama, kebudayaan dan ekonomi. Tanpa disadari kita semua kehilangan nilai sebagai makhluk sosial yang harus menjadi mesin ekonomi dan meninggikan peradaban melalui nilai nilai agama. Planet bumi ini memang tidak aman, terutama bagi yang lemah. Cara dan respon terhadap COVID-19 telah menempatkan kita sebagai makhluk terlemah di planet bumi ini. Padahal Tuhan menyerahkan bumi ini kepada kita, bukan kepada makhluk lain. Kita kehilangan nilai nilai lama, yang terbiasa cerdas living in dangerous place.

Apakah ini semua by design ? entahlah. Yang pasti dengan adanya drama COVID 19 ini, media massa yang terancam bangkrut karena korporat gagal bayar iklan bisa selamat. Mengapa ? korporat akan mendapatkan dana stimulus dari pemerintah. Iklan akan terbayar lagi. Pemerintah punya dana segar berkat stimulus dan bisa menjadi robin hood dihadapan kaum miskin. Para banker yang terancam collapse karena NPL terselamatkan berkat stimulus ekonomi. Para IT provider semakin kaya raya. Karena dengan adanya COVID-19 bisnis berbasis daring melonjak 350%. Dan industri pharmasi semakin tajir dan terus tajir diatas ancaman penyakit. Sementara Agama kehlangan spirit dan narasi.

Semua negara seakan sepakat bahwa panggung drama COVID-19 ditutup bulan juli. Sama dengan Indoensia. Setelah itu ? Orang akan kembali membuat jalanan macet. Kembali melakukan senggama dan berbiak. Kembali meramaikan pasar. Semua normal dan yang kaya semakin kaya dan simiskin punya harapan. Yang hidup pasti mati. Yang sakit akan terobati, kalau tidak, modar. Namun tidak akan ada berita heboh soal kematian dan sakit, bahkan kelaparan. Lantas apa arti semua ini ? selalu pesta ada akhirnya. Yang tersisa hanyalah sejarah, bahwa kita pernah terlalu lemah dan bego diatas status orang modern…Rendah hatilah selalu, ya sayang.

Saturday, April 18, 2020

Uang digital Yuan, China.



Sebagian orang menyikapi atas peluncuran uang digital China terkesan seakan mata uang Yuan berpatokan dengan emas. Mereka beranggapan bahwa mata uang digital China sama dengan cryptocurrency yang bisa digunakan untuk alat spekulasi. Itu semua tidak tepat.  Mata uang digital China atau DCEP ( Digital Currency Electronic Payment ) bukanlah cryptocurrency yang terdaftar di bursa cryptocurrency. Mata uang digital itu hanyalah mengubah metodelogi cara bertransaksi dengan uang phisik menjadi digital atau electronic. Sistem mata uang sendiri tidak berubah. 

Secure 
Secara teknologi sistem uang digital ini sangat secure. Mengapa ? karena dia menerapkan tekhnologi blockchain yang terpusat. Apa itu blockchain ? semua orang sudah terhubung dengan jaringan internet dan apa saja data tercatat dalam pusat data di dalam internet ( cloud ). Dari kumpulan dan jaringan data inilah lahirnya tekhnologi Blockchain. Dengan tekhnologi ini maka pusat data tidak lagi di atur oleh lembaga clearing yang bertugas melakukan verifikasi terhadap setiap pertukaran informasi dan transaski, tetapi verifikasi oleh mesin blockchain yang memuat data masing masing pihak yang berinteraksi. Dengan tekhnologi ini masing masing terhubung secara tertutup (peer to peer ) tanpa ada pihak lain bisa yang terlibat. Akurasi dan keamananya sangat tinggi karena terlindungi oleh data digital di semua jejak yang ada di internet.

Contoh anda bertukar informasi atau bertransaksi dengan saya maka mesin blockchain anda akan menjelajah kesemua jejak digital data saya yang ada di internet. Sehingga bisa dipastikan tidak mungkin anda berhubungan dengan selain saya. Para hacker gigit jari. Dengan demikian transaksi keuangan dapat langsung ( real time ) settle tanpa harus menunggu confirmasi dari lembaga clearing. Akurasinya terjamin selama lamanya tanpa kawatir akan dibajak orang. Makanya sistem blockchain lebih secure dibandingkan dengan teknologi SWIFT atau TT, yang masih membutuhkan pusat clearing untuk melakukan verifikasi dan otentikasi. Sampai disini paham ya.

Terpusat.
Karena sistem blockchain di create oleh negara, maka pemerintah China satu satunya yang mengontrol sistem ini. Artinya terpusat. Hak control itu bukan intervensi atas data yang ada di cloud tetapi untuk memastikan uang digital itu benar benar digunakan sebagai alat pembayaran, dan tidak disalahgunakan untuk spekulasi atau alat pembayaran untuk transaksi fraud. Kalau terbukti sistem mata uang digital itu dimanfaakan untuk spekulasi maka pemerintah pusat China bisa menghancurkan transaksi ini dan menyita uang itu. 

Berlaku bagi siapa saja.
Karena uang digital ini sebagai alat pembayaran negara maka dia berlaku bagi semua orang China dan siapa saja. Walau dia bersifat digital namun hebatnya, sistemnya tidak mengharuskan setiap orang terhubung dengan internet untuk bisa melakukan transaksi. Misal orang di desa tidak punya akses internet tetapi dia punya hape. Dia bisa membeli uang digital itu melalui bank yang ditunjuk. Bank akan meinput data uang digital ke hape dia. Nah di  saat belanja, dia cukup perlihat QR code dan mesin DCEP pada marchant akan memindai QR code nya. Dalam hitungan detik, saldonya berkurang. Transaksi selesai.

Distribusi uang
Dalam phase berikutnya uang digital ini akan didistribusikan melalui provider payment digital seperti WeChat Pay dan AliPay. Jadi walau orang tidak punya rekening bank mereka tetap bisa mengakses uang digital itu melalui aplikasi WeChat Pay dan AliPay. Dengan sistem adanya keterlibatan provider seperti WeChat Pay dan AliPay pertukaran antar individu juga bisa terjadi. Contoh saya mau beri uang ke pengemis jalanan, selagi dia punya hape, saya bisa transfer ke pengemis itu lewat aplikasi weChat. Dengan demikian peran bank sebagi lalulintas uang sudah berkurang. Selanjutnya bank focus kepada core business nya untuk membantu dunia usaha mendapatkan solusi pembiayaan. Tenaga kerja bank bisa berkurang di font office. 

Transaksi Global
Menurut studi yang dilakukan oleh lembaga konsultan manajemen globalMcKinsey yang menganalisis 186 negara, China menjadi destinasi ekspor terbesar 33 negara dan sumber impor terbesar bagi 65 negara. Dalam periode 2015-2017, China telah menjadi sumber investasi terbesar kedua di dunia, terutama sejak adanya proyek OBOR. Dan menjadi penerima aliran investasi terbesar kedua di dunia. Raksasa-raksasa teknologi China telah berperan dalam mengubah kehidupan umat manusia. Contoh nyatanya adalah produk ponsel pintar sepertu Xiaomi, Huawei, OPPO dan Vivo hingga perusahaan e-commerce Alibaba. 

Walau perang dagang di canangkan AS terhadap China, namun upaya AS untuk menahan China tidak akan berhasil. China kian menjaga langkah untuk menggapai tujuan menggandakan pendapatan dan Produk Domestik Bruto (PDB) dalam satu dekade. Negara ini ingin menjadi kekuatan ekonomi global. Tak bisa dipungkiri, China sekarang sedang berada di jalur untuk menjadi pemain nomor 1 dunia. China terus menguntit Amerika Serikat (AS) di posisi 2 dunia, dengan PDB sebesar USD 13,1 triliun. Apalagi jika China mengoperasikan ekonomi pasar yang terintegrasi dengan rantai nilai global tetapi tidak bergantung pada AS.

Dengan hal tersebut diatas maka wajar saja China punya ambisi ingin menjadikan Yuan sebagai mata uang international. Apalagi IMF sudah menjadikan mata uang Yuan sebagai cadangan international, dengan fasilitas Special Drawing Right (SDR). Upaya menjadikan Yuan sebagia mata uang dunia sudah dilakukan sejak tahun 2009. Ketika itu China meluncurkan skema perdagangan dengan menggunakan mata uang RMB khusunya dengan ASEAN yang kemudian diperluas. Pada 2010, hanya 1% dari perdagangan luar negeri China dalam mata uang RMB. Tahun 2014 melonjak menjadi 27,8%. Namun, pelonjakan ini terjadi karena peran Hong Kong sebagai hub financial dunia. Berdasarkan hasil riset SWIFT menunjukkan pangsa pembayaran internasional RMB hanya 1,88% pada April 2019.

Pada 2015, bank sentral China membuat sistem pembayaran internasional sendiri, atau CIPS. Tetapi keanggotaannya terbatas pada 900 saja. Walau anggota langsung hanya 31, tetapi itu mencakup nama-nama besar seperti JP MorganChase, Citibank, HSBC, BNP Paribas dan Deutsche Bank. Selain sebagai alat pembayaran perdagangan, CIPS mendukung penyelesaian instan untuk transaksi keuangan seperti payment versus payment (PVP),  Delivery versus Peyment (DVP). Sementara SWIFT yang merupakan alat pembayaran multiple currency memiliki 10.000 anggota dengan fitur yang luas.

Dalam hal mata uang digita, sebetulnya sejak tahun 2014 China sudah menerapkan uang digital yang sifatnya masih terbatas. Namun sejak Libra Facebook memperkenalkan mata uang digital, bagi China ini masalah serius. Mereka harus bergerak cepat. Sejak itu china mulai membangun uang digital berbasis blockchain yang secure. Karena bagaimanapun ketergantungan dengan mata uang dollar sebagai alat pembayaran jelas tidak sehat. Saat sekarang China sudah secara resmi merilis uang digitalnya

Dalam jangka panjang uang digital Yuan ini bisa menjadi alat pembayaran global antar perusahaan maupun antar personal. Contoh wisatawan China datang ke Bali. Mereka tidak perlu bawa uang kontan. Selagi tersedia marchant DCEP di Indonesia, mereka bisa bertransaksi secara digital. Apalagi Alipay / paypall sudah terhubung  dengan Gerbang Pembayaran Nasional ( GPN), tentu hampir semua marchan bisnis pariwisata bisa menerima uang digital china ini. Kalau anda bertransaksi lewat ALIBABA, juga bisa menggunakan sistem uang digital china selagi anda punya akun PayPall. 

Walaupun begitu untuk menggantikan US dollar sabagai alat pembayaran global jelas tidak mudah. Akan panjang sekali waktu yang diperlukan. Namun setidaknya kepada negara yang tergabung dalam proyek OBOR, dan negara yang mendapatkan pinjaman dari China, penggunaan mata uang Yuan akan mendominasi sebagai alat pembayaran. Yang jadi masalah adalah menurut data Institute of International Finance (IIF) utang korporasi, rumah tangga, dan pemerintah China meningkat menjadi 303 persen dari PDB pada kuartal I 2019. Angka ini lebih tinggi dibandingkan 297 persen pada periode yang sama tahun 2018. Pengadaan uang digital akan sangat memungkinkan China menambah uang beredar, dan semakin besar utang.

Bagaimanapun, sebagaimana mata uang dollar AS,  legitimasi hegemoni dalam bentuk pengakuan sebagai mata uang dunia, sangat ditentukan oleh pasar. Pasar menilai berdasarkan kecepatan, keamanan dan reputasi trust. Selagi China bisa menjaga dan meningkatkan kepuasaan pasar terhadap mata uang digital Yuan, kemungkinan mata uang Yuan sebagai alat pembayaran global sangat mungkin terjadi. China menjadi penguasa dunia dalam sistem mata uang tinggal sejengkal lagi.

Manfaat ekonomi dari adanya uang digital Yuan.
Sebagaimana dari awal saya jelaskan, uang digital Yuan ini hanya mengganti uang kertas atau coin Yuan ke mata uang digital. Konversinya tetap 1:1 dengan uang konvensional. Engga ada kaitannya dengan jaminan emas. Ya uang digital uang dalam pengertian konvensional. Namun secara nasional, manfaatnya bukan hanya bisa menekan ongkos pendisitribusian uang kertas, tetapi juga menciptakan keamanan terdistribusian dari tindak pemalsuan. Yang lebih penting lagi, tujuan uang tercapai. Hanya alat transaksi, bukan alat spekulasi. Di samping itu, setiap orang China secara sistem pergerakan transaksinya diawasi negara. Korupsi dan fraud sudah pasti sulit dilakukan.

Saturday, April 11, 2020

Ancaman itu bukan corona tetapi oposisi.


Uni Eropa memang sebuah gagasan yang usang. Kata teman saya kemarin ketika kami diskusi via WA. Mereka membuat aliansi karena alasan ekonomi, bukan karena alasan solidaritas dan kebangsaan. Sangat transaksional sekali. Makanya jangan kaget bila Italia menghamba bantuan alat kesehatan, tidak ada semangat solidaritas negara negara Eropa untuk membantu. Ironis, Uni Eropa, yang diwakili Jerman dan Perancis, enggan memberikan bantuan berarti kepada Italia, bahkan untuk beli alat medis saja dengan tetangganya, itupun dibatasi. Saat krisis, persatuan karena ekonomi itu menunjukan jatidirinya, bahwa persatuan Eropa hanya utopia. 

Justru yang datang membantu adalah China. Walau China juga suffering akibat wabah COVID-19 namun Cina setuju untuk mengirimkan 1.000 ventilator, 2 juta masker, 20.000 pakaian pelindung untuk petugas medis, dan 50.000 swab corona. Ini soal kemanusiaan. Orang Italia kini baru menyadari betapa tetangga jauh yang datang menolong. Italia dan juga Yunani, Portugal, Spanyol dirudung krisis Ekonomi, yang pada waktu bersamaan kena waba COVID-19, mereka memohon kepada saudaranya yang kaya seperti Jerman, Finlandia, dan Austria, tetapi disikapi dengan sinis. “ Mengapa kami harus berbagi menanggung hutang kalian? Demikian gerutu mereka. Padahal Italia, Spanyol , Portugal itu termasuk saudara tua dan kekuatan ekonomi di Eropa tadinya.

Semua negara sekarang sedang dilanda crisis gabungan, yaitu Pandemi COVID-19 dan Ekonomi. Itu datang saling tindih dan menggelinding jadi bola salju. Ketika Wabah COVID-19 melanda China, OECD meramalkan bahwa pertumbuhan ekonomi global tahun 2020 akan turun menjadi 2,4%, dibandingkan dengan yang sudah lemah 2,9% pada tahun 2019. Kemudian diperkirakan akan naik menjadi 3,3% pada tahun 2021. Namun ketika Wabah COVID-19 menyebar keluar dari China, OECD kembali mengkoreksi ramalannya dengan memangkas pertumbuhan global  hingga ke 1,5%. 

Pada awal tahun 1930-an, suasana di Jerman diliputi kesuraman. Depresi ekonomi global memukul ekonomi jerman, dan jutaan orang kehilangan pekerjaan. TampiL-lah Hitler. Kehadiran Hitler adalah buah dari HOAX, yang berhasil menarik barisan kaum buruh dan sosialis dalam front nasional menumbangkan rezim yang ada. Hasilnya bukan hanya Jerman yang porak poranda tetapi dunia juga porak ponda akibat ulah Hitler, yang menyeret negara negara di dunia terlibat dalam perang dunia kedua dengan korban puluhan juta orang. Korban terbesar di dunia sepanjang sejarah adalah wabah perang.

Saat sekarang, tidak ada satupun negara yang bebas dari krisis.  Kalau ada pengamat atau ekonom mengatakan hanya indonesia yang krisis, itu jelas Hoax. Hanya saja daya tahan masing masing negara berbeda dalam menghadapi krisisis. Yang masih mencatat pertumbuhan positif adalah China, India dan Indonesia. Yang lainnya jatuh semua, mendekati nol bahkan merah alias negatif. Apa artinya? ancaman kemiskinan akibat menyusutnya PDB dan melonjaknya PHK tidak bisa dihindari. Pada titik ini yang menentukan selamat bukan lagi ekonomi tetapi karakter bangsa dan kepemimpinan yang kuat.

Dalam situasi depresi, dalam situasi rakyat gamang dengan masa depannya, wabah baru yang lebih menakutkan adalah lahirnya monster dari politisi populis. Yang menciptakan hoax dan mimpi disiang hari bolong kepada rakyat yang malas berpikir. Saya suka dengan cara China yang langsung kandangi pengusaha dan rakyat yang mengeluh di tengah waba corona. Arab yang memborgol semua elite kerajaan yang oposisi. Udah 52 orang ditangkap polisi karena Hoax Corona. Itu bagus. Mengapa? Kalau Pemerintah tidak tegas terhadap sikap oposisi di tengah krisis gabungan, ancaman bukan  corona tetapi lahirnya politisi populis di tengah krisis. Lebih buruk dari Hitler. Rasis dan psikopat !

Wednesday, April 08, 2020

Hegemoni Amerika, hegemoni mata uang



Anda mungkin tahu istilah slow motion. Itu adegan lambat yang sebetulnya kita sudah tahu endingnya. Namun dengan adanya slow motion itu kita jadi tahu detail peristiwa. Nah apa yang terjadi pada Dollar AS, itu sama dengan slow motion. Endingnya kita sudah tahu bahwa kekuatan AS itu adalah mata uang. Makanya disebut sebagai super power. Apa yang terjadi sekarang terhadap hegemoni mata uang dollar AS, itu sudah diketahui oleh semua ekonom sejak AS memenangkan perang dunia kedua.

Mari kita perhatikan. By process dollar AS sudah jadi alat pembayaran global. Anda mau transaksi dengan negara manapun, orang lebih percaya kepada Dollar, bukan mata uang lokal. Semua negara di dunia terpaksa menyimpan dollar sebagai cadangan agar bisa aman untuk belanja impor.  Setelah semua negara bergantung kepada dollar, maka AS mulai mengatur supplai uang ke pasar. Jadi uang bukan lagi sebagai alat pembayaran tetapi alat politik kekuasaan global. 

Gimana caranya? AS melalui the Fed memberikan pinjaman kepada Bank dan lembaga keuangan yang menjadi members dari the fed system. Kemudian bank dan lembaga keuangan ini menyalurkan kepada perusahaan dalam bentuk pinjaman. Ada juga membeli surat utang dari perusahaan termasuk surat utang negara di pasar sekunder. Akibatnya likuiditas jadi longgar, dan perusahaan maupun pemerintah negara lain bisa ekspansi untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Dollar AS hasil pinjaman itu sudah berubah ujud dalam bentuk property, infrastruktur, industri dan lain lain. Lambat laun, negara lain bukan hanya tergantung kepada Dolar untuk alat pembayaran tetapi juga alat untuk ekspansi dan pembiayaan APBN.

Nah yang jadi masalah adalah AS menyediakan uang Dollar itu bukan karena fundamental ekonominya atau sesuai dengan jaminan atas uang yang beredar. Tetapi memang di create begitu saja untuk memenuhi permintaan pasar. Sementara permintaan akan dollar semakin lama semakin besar. Ya AS harus terus produksi dollar. Maka jadilah dollar AS sebagai komoditas yang di create seperti layaknya mesin industri. Ada sistem distribusi dan clearing. Ada agent. Ada distributor nya dan juga ada salesmannya. Lengkap sekali.

Nah apa yang terjadi apabila dolar yang ada di pasar sudah lebih banyak daripada produksi real? Ya semua surat utang swasta bermata uang AS jadi sampah. Harga saham jatuh. Itulah yang terjadi pada kasus 2008. Lehman Brother collaps yang membuat wallstreet terjerembab dan dunia masuk ke krisis global. Tetapi yang korban bukan pemerintah AS sebagai produsen dollar. Tetapi konsumen yang percaya dengan instrument bermata uang dollar. Tak terbilang  investor bangkrut dan kebanyakan yang bangkrut adalah investor retail. Sementara agent, distributor, salesman dollar, tetap kaya raya. Mengapa? setiap transaksi mereka dapat fee. Kerugian investor menjadi laba bagi mereka.

Setelah investor bankrut, likuditas jadi kering. Sementara negara di dunia ini sudah tergantung dengan dollar sebagai alat pembayaran dan investasi. Ya AS produksi lagi. Caranya? yang cetak uang lagi lewat QE. Dollar  kembali mengalir ke pasar terutama kepada negara emerging market. Karena suku bunganya rendah, dan syarat longgar sehingga menjadi sumber likuiditas oleh banyak negara dan perusahaan. Pendapatan bunga dari dollar yang di cetak itu dipakai AS untuk mengongkosi resiko akibat krisis wallstreet. Caranya? memberikan jaminan sosial bagi yang kena PHK dan memberikan subsidi kepada sektor usaha di AS agar bisa bangkit lagi. Memang ekonomi AS mulai membaik.

Tahun 2018 , AS menarik kembali uangnya di pasar. Gimana caranya ? Ya gampang. AS naikan suku bunga. Uangpun berterbangan masuk kembali ke AS. Pada waktu bersamaan AS mencanangkan perang dagang dengan China. Dampaknya sangat sistimik. Maklum 15% PDB Dunia di kuasai China. China juga menguasai supply chain industri di banyak negara. Jadi walau mata uang AS menguat tetap punya daya saing akibat adanya kenaikan tarif. Negara negara di dunia mulai mengurangi ketergantungan dengan Dollar AS. Caranya? mereka melakukan perjanjian bilateral dengan negara yang jadi mitra dagangnya untuk menggunakan mata uang lokal dalam transaksi ekport dan impor atau istilahnya Billateral SWAP.

Banyak negara besar melakukan perjanjia billateral SWAP, seperti Indonesia dengan Singapore, korea dan Jepang. Di situasi itu, China juga menawarkan alat pembayaran Yuan yang bisa di conversi dengan emas di bursa Shanghai. Tujuannya agar orang lebih percaya Yuan daripada Dollar  AS. Hanya masalah waktu hegemoni US dolar akan berakhir. Tetapi malang tak bisa dielak. Tahun 2019, bulan desember China kena wabah COVID-19. Bursa berjatuhan. Investor yang pegang instrument Yuan dan Yen dan mata uang utama lainnya, rame reme pindah ke Dolar AS. Mereka panik. Permintaan dollar AS meningkat. Sementara  banyak surat utang perusahaan multinasional dan lokal kesulitan mendapatkan dollar untuk bayar utang yang jatuh tempo. Dolar AS menguat dan semua mata uang utama berjatuhan. Kembali dolar unjuk perkasa tanpa tandingan. Sementara AS masih santai saja menghadapi pandemi COVID-19. Bahkan mengejek China.

Masuk awal maret, negara negara lain mulai kelimpungan memenuhi permintaan dollar. Kalau terus dilayani maka cadangan dollar mereka akan habis dan mata uang mereka jatuh. Sementara pertumbuhan ekonomi dunia turun menuju resesi. Pada waktu bersamaan COVID-19 juga melanda AS dengan korban ribuan. Tanggal 31 Maret AS mengeluarkan stimulus USD 2 triliun. Uang sebanyak itu bukan hanya dipakai untuk kepentingan domestik dalam perang terhadap COVID-19 tetapi sebagian besar dipakai untuk mengamankan likuiditas global dalam mata uang dolar. Ini kesempatan bagi AS dagang dollar sekaligus mengamankan hegemoninya dalam bidang mata uang global.

Gimana caranya? AS menawarkan produk yang bernama REPO LINE. REpo Line ini adalah repurchase agreement atas surat berharga AS yang dimiliki oleh Bank central asing dan pemegang rekening international. Tujuannya adalah menjaga kelancaran pasokan kredit ke pasar dan mengamankan pasar surat berharga AS ( US T Bill). Tentu tidak semua negara mendapatkan fasilitas Repo Line ini. Yang dapat fasilitas hanyalah bank central dan lembaga keuangan international yang qualified. Tawaran kerjasama REPO line kepada BI, dasarnya adalah vote of confidence. Artinya benar benar atas dasar kriteria yang ketat secara financial, bukan karena pertimbangan politik. Ini menunjukan walau krisis kini lebih buruk dari tahun 1998 namun daya tahan ekonomi kita jauh lebih baik dari  tahun 1998. Kita engga butuh uang lendir dari IMF untuk penyelamatan ekonomi. Pasar secara sistem bertanggung jawab merecovery ekonomi Indonesia. 


“ Anda engga perlu jual cadangan dollarnya. Itu pakai saja untuk mengamankan mata uang anda. Nah kalau anda perlu uang, kami punya produk namanya REPO LINE. Cadangan devisa anda berupa surat berharga bermata uang dolar jual kepada kami tetapi anda wajib beli kembali sesuai waktu yang disepakati. Nah anda akan dapat uang tunai dolar dari kami, sementara devisa anda tetap aman. Karena REPO itu selagi kontraknya tidak default maka selama itu surat berharga atau asset itu masih berada di neraca anda. Tentu ada fee atau premium yang harus dibayar oleh anda yang membeli produk REPO LINE.” kira kira itu yang ditawarkan The FED kepada BI.

Bagi BI, produk REPO LINE ini bisa jadi senjata ampuh untuk gertak  spekulan hedge fund yang mau goreng rupiah. “ Silahkan anda hajar mata uang rupiah, kami tetap punya dollar dan engga akan beli dari pasar untuk memenuhi likuiditas dunia usaha. Karena kami punya deal langsung dengan pabrik dollar, the Fed. “ Kira kira itu kata BI. Apa artinya? engga akan ada yang berani fight di pasar lawan BI. Sehingga Kurs rupiah dapat dikendalikan dan rupiah bisa stabil, tidak lagi sepenuhnya dikendalikan oleh pasar. Nah, tinggal BI berhitung berapa kurs yang layak untuk mengerakan pasar dan investasi. Jadi kalau rupiah sudah bisa dikendalikan sesuai pasar normal , ya BI tidak perlu gunakan fasilitas REPO LINE itu. Ya hanya sebagai jaga jaga saja. 

Apa yang terjadi kemudian dengan REPO LINE terhadap moneter AS? Pertama, AS terhindar dari rush T-bill oleh bank central yang butuh uang tunai dollar AS untuk memenuhi likuditasnya. Bayangkan, kalau semua bank central di dunia ini menjual T-Bill yang mereka pegang, ekonomi AS pasti jatuh. Orang engga percaya lagi dengan dollar. Kedua, AS bisa menambah uang beredar lewat REPO LINE, dan ini membuat negara di dunia ini semakin tergantung kepada Dollar AS. Sementara moneter AS semakin longgar untuk membiayai ekonomi recovery domestik dan termasuk penanggulangan COVID-19.

Ya andaikan tidak ada COVID-19 mungkin AS akan masuk ke jurang resesi dan mata uang dollar tinggal masa lalu yang suram. Tetapi berkat COVID-19 menjadi pandemi global, hegemoni dolar AS semakin tajam cengkramananya ke dalam sistem keuangan global. AS tetap raksasa yang rapuh,  serapuh peradaban dunia yang bergantung kepada uang. Negara lain kerja keras dapatkan dollar sementara AS hanya menambahkan jumlah uang di rekening the Fed, dollar pun tercipta. 

Wednesday, April 01, 2020

Peluang di balik masalah.


Kemanusiaan vs Ekonomi.
Kata WHO, setiap detik empat orang mati di dunia akibat wabah kelaparan. Tidak menjadi kepanikan. Karena tidak dibicarakan. Orang percaya itu sudah kehendak Tuhan. Di dunia itu manusia akrab dengan kematian. Setiap orang pasti merasakan. Besok atau lusa, ajal pasti menjemput. Suka tidak suka itu sudah tugas malaikat maut. Namun kebanyakan orang lupa akan ajalnya. Seakan hidup akan selamanya. Ingin menguasai dunia. Seperti apa yang maunya. Kerakusan menjadi pakaian. Kesombongan dipertontonkan. Kesenjangan ekonomi tak terelakan.

Orang kaya acuh dengan si miskin kaum papa. Ketika wabah datang melanda. Kepanikan terurai oleh Berita media massa. Semua karena corona. Setiap hari berita diperbarui. Setiap hari wabah menghantui. Setiap hari orang bicara angka kematian. Setiap hari orang ketakutan. Ekonomi tidak lagi bergerak. Fondasi ekonomi negara berderak. Semua karena keharusan menjaga jarak. Orang laparpun banyak berteriak. Negara harus hadir melindungi rakyat. Tapi uang tidak cukup membayar semua. Karenanya perlu paket ekonomi penyelamat. 

Di tengah badai krisis ekonomi. Pada waktu bersaman dunia menghadapi pandami. Tak ada lagi rasionalitas Ekonomi. Semua harus dimaklumi. Skema uang dari langit tercipta. Menghasilkan jumlah uang rakasa. Menjadikan negara sangat berkuasa. Di atas wabah penuh derita. Diatas hitungan angka dan prasangka. Uangpun tercipta begitu saja. Begitulah kapitalisme dalam realita. Akan selalu ada kesempatan di tengah prahara. Agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. Dan orang kaya terhindar dari kebangkrutan. Mendapat insentif dalam program penyelamatan. Dari itu, orang kaya bisa berproduksi. PHK tidak terjadi. Pajak bisa ditarik lagi. Perbankan tidak rugi.

Bagaimana dengan simiskin? akan ada dana stimulus untuk berbagi. Bukan semua uang yang habis dibagi. Sebagian kecil dana stimulus untuk belanja simiskin berkosumsi. Agar mereka tidak frustasi. Perang melawan wabah akan dimenangkan. Kelaparan memang tidak akan bisa dihilangkan. Namun yang pasti memberikan banyak harapan. Roda ekonomi kembali berjalan. Kekuatan ekonomi negara akan kembali kuat. Pertumbuhan ekonomi kembali terangkat. Berkat Corono resesi ekonomi terselamatkan.

Hidup memang tidak ada keadilan. Lewat Corona, Tuhan mengingatkan kematian. Kalau tak bisa menanggulangi kelaparan, berhentilah hidup dalam kerakusan. Kalau tak bisa membantu perdamaian, janganlah membuat kekacauan. Kalau tak bisa berbuat banyak, janganlah menebarkan kepanikan. 

Peluang keluar dari ancaman resesi.
Pada APBN 2020,  Defisit diperkirakan dikisaran 2,2% sampai 2,5 %. Tapi nyatanya APBN mencatatkan defisit sebesar Rp 62,8 triliun hingga akhir Februari 2020. Angka tersebut setara dengan 0,37 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kalau year to year, itu diatas 3%. Apa pasal ? disebabkan penerimaan pajak yang mengalami tekanan ketika di sisi lain belanja negara bertumbuh. Sudah bisa ditebak, artinya badai krisis dunia sudah melanda Indonesia. Menghantam sektor real dan moneter. Kita bukan hanya defisit neraca perdagangan tetapi juga sudah defisit APBN.

Pada bulan Februari, saya ngobrol dengan teman konsultan keuangan. Dia katakan bahwa makro ekonomi tidak akan kuat menahan defisit APBN yang terus melebar. Cara menutupi defisit lewat berutang di pasar uang pasti tidak mudah. Apalagi investor punya banyak pilihan. Semua negara G20 rame rame keluarkan bond untuk menutupi defisit akibat krisis ekonomi dan pandemi Corona. Kalaupun pasar bisa menerima, tentu harga akan sangat tinggi, dan ini tentu tidak efisien.

Disamping itu, kalau defisit APBN terus melebar, sehingga berpotensi nabrak pagu rasio batas aman sebesar 3%, seperti yang ditetapkan dalam Undang-Undang (UU) 17/2003 tentang Keuangan Negara. Maka APBN harus ada perubahan. Akan  ada pemangkasan APBN. Ini akan berdampak terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi. Pasar akan bersikap negatif terhadap kinerja ekonomi Indonesia. Harga CDS pasti akan melambung dan likuditas surat utang indonesia pasti seret, dan bukan tidak mungkin rating akan jatuh. Memang posisi yang sangat berat dan sulit.

Saya membayangkan betapa berat beban Jokowi. Ini bukan hal yang datang mendadak. Tetapi sudah diprediksi sejak dua tahun lalu. Awal tahun 2020 indikator dunia semakin mengarah kepada badai tornado krisis struktural. Apalagi the Fed akan memangkas suku bunga dan terbukti bulan maret rencana pemangkasan suku bunga terjadi. Bahkan AS berencana akan mengeluarkan seri QE lagi. Rupiah jatuh tak bisa dibendung. Apalagi adanya Pandemi C19 di China semakin membuat situasi pasar memburuk. Bursapun berjatuhan, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di bursa utama seperti NY, London dan Shanghai, Hong Kong, Jepang , Singapore.

Bagaimana agar di tengah defisit , pertumbuhan ekonomi tetap terjaga?. Artinya tidak ada pemangkasan anggaran. Itu juga tidak mudah. Karena Jokowi terganjal dengan Undang-Undang (UU) 17/2003 yang melarang APBN defisit diatas 3%. Kalau itu terjadi maka DPR berhak melakukan shutdown pemerintahan. Badai krisis politk tak bisa dihindari. Sementara oposisi terus mendesak Jokowi mengumumkan ada wabah virus. Akhirnya itu diakui juga oleh Jokowi. Sentimen pasar semakin buruk terhadap rupiah. Oposisi memanksa Jokowi melakukan lockdown. Apa tujuannya agar pemerintah memangkas APBN dan ekonomi terjun bebas. Saat itulah oposisi bergerak menjatuhkan Jokowi seperi yang terjadi Italia.

Tetapi selama sebulan Maret, Jokowi menahan situasi dengan sangat berat. Situasi semakin memanas. Oposisi percaya , Jokowi tersudut. Tidak akan ada jalan keluar lagi. Akhir maret 2020, Jokowi mengeluarkan PP dan Kepres tentang PSBB. Setelah itu Jokowi keluarkan PERPPU atas Undang-Undang (UU) 17/2003) sehingga Jokowi bisa tabrak rasio Defisit diatas 3%. Darimana duitnya?  Jokowi keluarkan PERPPU untuk  Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang BI. Sehingga Jokowi bisa keluarkan Obligasi atau surat utang dimana pembelinya adalah BI sendiri. Dengan skema ini, pemerintah tidak perlu pusing negosiasi dengan investor. Pemerintah tinggal terbitkan surat utang dan BI beri uang. Simple. Sehingga, APBN walau melebar defisit namun tidak ada pengurangan APBN, sehingga pertumbuhan ekonomi terjaga.

Inilah yang tidak pernah terbayangkan dan masuk kalkulasi para pengamat politik maupun ekonomi. Andaikan tidak ada kepanikan C-19 sehingga wacana lockdown tidak ada, tentu sangat sulit bagi Jokowi secara politik untuk keluarkan PERPPU mengamankan APBN dari resiko defisit semakin melebar. Tentu sangat sulit bagi Jokowi keluarkan PERPPU untuk mendapatkan sumber pembiayaan atas penerbitan Pandemi Bond. Namun dari kepanikan C19, Jokowi bisa menyelamatkan ekonomi dari jurang resesi dan krisis politik sekaligus.

Majalah economist intelligence membuat analisa berdasarkan data komprehensif. Ternyata diantara negara G20, negara yang tidak termasuk krisis hanya tiga, yaitu China, Indonesia dan India. Selebihnya nyungsep. Anda mungin berkerut kening. Mengapa Indonesia tidak termasuk resesi. Bukankah mata uang Indonesia terburuk di Asia. Bukankah Indonesia mengalami defisit neraca berjalan. Defisit primer.  Penerimaan pajak turun. Mengapa ? saya akan jawab secara sederhana.

Pertama, kurs rupiah melemah, membantu mengurangi defisit APBN. Apa pasal?. Karena volume impor BBM sudah berkurang sejak tiga tahun lalu,  sejak ada kebijakan Biodisel. Apalagi tertolong dengan jatuhnya harga minyak dunia. Porsi SBN atau surat utang negara terhadap mata uang asing sudah dibawah 50% atau tepatnya 42%.  Jadi tekanan penurunan rupiah tidak ada dampak significant. Apalagi sebagian besar SUN Valas itu bersifat unsecure yang bisa di recycle secara ARO.

Kedua, akibat fostur APBN seperti itu, maka pemerintah punya ruang untuk melakukan stimulus Ekonomi sektor real yang sangat penting menyelamatkan ekonomi dari akibat adanya goncangan. Sementara negara G20 lainnya, ruang stimulus sudah sangat sulit. Kecuali hanya untuk sektor moneter, yang tentu tidak berdampak luas terhadap sektor real. Indonesia segera meluncurkan paket stimulus sebesar Rp, 405,1 triliun. Andaikan tidak ada corona, mungkin Jokowi tidak akan punya kekuatan politik keluarkan stimulus sebesar itu, apalagi sampai harus mengeluarkan PERPPU agar tidak melanggar UU pagu defisit maximum 3%.

Ketiga, inflasi yang rendah dan suku bunga terus dipangkas oleh BI, semakin memberikan sentimen positip terhadap dampak dari adanya Stimulus. Dengan adanya PERPPU, perubahan pagu defisit, dan tingkat inflasi yang masih di bawah 5%, itu memberikan peluang besar bagi pemerintah untuk terus meluncurkan stimulus sampai tiga tahun kedepan. Jadi walau pajak menurun, pendapatan menurun, ekonomi tetap stabil, dan chaos ekonomi seperti italia, spanyol , venezuela dan lainnya  tidak akan terjadi.

Semua kendala dan goncangan ekonomi, justru memberi peluang  politik bagi jokowi merestruktur ekonomi agar lebih besar porsinya bagi UKM, dan pemberdayaan kepada ekonomi lemah agar pasar domestik berkembang, yang tentu menjadi daya tarik bagi investasi. Itu bukan karena Jokowi hebat tetapi karena Tuhan sayang dia dan rakyat Indonesia. Percayalah…itu blessing in disguise.

Saran Oposisi
Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri menuturkan tidak ada pilihan lain bagi Indonesia untuk mengendalikan pandemi Covid-19 selain dengan melakukan lockdown. Fadli Zon mengkritisi rantai komando penanggulangan Pandemi sangat lemah, makanya perlu lockdown. Ekonom senior Rizal Ramli mengusulkan Presiden Jokowi untuk mengalihkan anggaran proyek infrastruktur yang nilainya mencapai Rp430 triliun masuk ke dalam pembiayaan penanganan pandemik Covid-19 atau corona. Langkah itu mendesak karena wabah Covid-19 yang kian meluas di Tanah Air, dan itu dengan target Lockdown. Semua oposisi menyuarakan sama: Lockdown.

Kalau mengacu kepada UU Karantina, kebijakan Lockdown itu akan menempatkan negara jadi full undertaker. Di samping harus menanggung semua biaya hidup orang tanpa melihat status sosial, juga memastikan terselenggarannya pengobatan dan kesehatan. Kalau saran Rizal Ramli diikuti untuk ongkos lockdown, uang habis hanya untuk ngongkosi orang makan tanpa kerja. Corona hlang, kita kehilangan trigger untuk recovery Ekonomi, bahkan bisa langsung terjun bebas. Bencana kelaparan menanti seperti Venezuela. Itulah yang mungkin diinginkan oposisi. Ekonomi nyungsep, Jokowi juga nyungsep.

Jokowi tidak paranoid dengan usulan Lockdown itu. Dia terima sebagai masukan dari anak bangsa. Tapi apakah mereka sadar bahwa kalau Lockdown dilakukan maka itu artinya presiden tidak hanya melaksanakan UU karantina tetapi juga menjamin tertip hukum atas UU Karantina itu, dengan menggunakan UU darurat sipil. Itu artinya sama saja mengembalikan sistem otoriterian kepada Jokowi. Gimana dengan Sistem Otonomi Daerah? apakah sistem Otda dan UU Bencana Alam gagal melaksanakan misi menghadapi pandemi. Ini yang tidak disadari oleh oposisi.

Lantas dengan memperhatikan masukan dari semua pihak, maka Jokowi membuat keputusan, PSBB. Sudah sama dengan Lockdown karena pelanggaran social distancing jadi ranah pidana. Bukan lagi sekedar himbauan. Saran indef dan lainnya diterima. Saran Rizal Ramli sebesar Rp430 untuk menghadapi C-19 disetujui. Uangnya tidak berasal dari mengalihkan dana infrastruktur tetapi dengan menaikan APBN lewat Perppu. Defisit melebar sebesar 5%. Engga ada masalah. Karena uangnya tidak habis dimakan. Tetapi sebagian besar untuk produksi terutama sebagai jaring pengaman sosial bagi masyarakat lapisan bawah. Sebagai stimulus ekonomi bagi UKM dan dunia usaha yang terkena dampak dari adanya Pandemi C-19. Realokasi APBD tetap dilakukan untuk focus penanggulangan wabah. Saran Zon diterima, dengan menerapkan UU darurat sipil agar rantai komando jelas dan keras terutama kepada pemda yang ngeyel.

Terimakasih Oposisi. Berkat anda, Jokowi semakin kuat dan punya pengaruh politik besar untuk keluarkan stimulus Rp 405,1 triliun dan sekaligus membungkam PEMDA yang ingin berpolitik lewat Pandemi C-19. Anda baik sekali, dan itulah gunanya oposisi.

Rakus itu buruk.

  Di Hong Kong, saya bersama teman teman dari Jepang menikmati malam sabtu pada suatu private KTV. Para pramuria nya adalah profesional  ber...