Posts

Showing posts from July, 2019

Humble

Image
Sambil menanti waktu boarding saya minum kopi sambil merokok di ruang priority Pass Premier Lounge CX Bandara Soeta, didepan saya ada Polisi berseragam gagah. Di pundaknya ada bintang. Duduk di kiri kanannya ada ajudannya. Tak berapa lama ada bule mendekati sang Jenderal minta agar menggeser duduknya karena butuh colokan listrik untuk recharge smartphonen nya. Sang jenderal dengan ramah berdiri. Bukan hanya berdiri tapi membantu bule itu mencolokan kabel ke listrik. Saya takjub, diruang berkelas, masih ada kesederhanaan dan kerendahan hati. Walau ada bintang di pundak, ajudan dikiri kanan, tak menghalangi orang untuk mengnolkan dirinya dan berbagi. Saya takjub. Ketika keluar ruangan untuk boarding, saya menganggukan kepala dan tersenyum kepada Jenderal itu. Apalah saya dibandingkna jenderal itu, yang mungkin pernah menyabung nyawa untuk tugasnya, atau bisa saja harus meninggalkan keluarganya untuk tugas yang tak pernah dia tanya mengapa. Bintang di pundaknya adalah repliksi pen

Feodalisme

Image
Tahun lalu saya ketemu dengan teman lama dari Beijing. Dia usai mengikuti konvensi IMF di Bali. Di usia kepala empat dia nampak lebih muda dari usianya. Dia datang ke Jakarta khusus untuk bertemu saya.“ Kamu kan janji akan undang saya dinner. Kemana kita pergi ? Katanya ketika bertemu di loby hotel. Saya ajak dia ke kawasan Pecenongan makan seafood di restoran kaki lima. Dia menikmati suasana tempat kami nongkrong. Orang orang tidak tahu wanita yang sedang bersama saya itu adalah otoritas China. “ Hampir semua Sino Indo ya. “ Katanya. “ Ya ini kawasan China town di Jakarta. “ “ Oh Ya. “ Seorang pengamen datang membawakan lagu. Saya minta pengamen itu membawakan lagu “ You Liang Dai “ dari Teresa Tang. Kebetulan pengamen bisa membawakan dengan baik. Usai menyanyi itu, saya beri tip. Dia tersenyum. " Teresa Tang itu kelahiran Medan ya. " " Oh ya. " Saya terkejut. " Ya. Ada cerita. Dulu Deng mengharamkan mendengar lagu Teresa. Karana dia warga Taiwan.

Agenda

Image
Seharusnya setiap orang yang ingin jadi pengusaha, profesional, politisi, kepala daerah, harus punya agenda. Agenda ini berhubungan dengan visi dan obsesi—mengapa orang harus berjuang mencapai tujuan agendanya—. Dengan Visi dan obsesi itu, membuat orang punya passion menghadapi segala tantangan. Punya kekuatan pikiran untuk melakukan kreatifitas menghadapi kendala dan mengubahnya menjadi peluang. Saya perhatikan, Jokowi ketika jadi Gubernur DKI. Dia focus kepada tiga hal saja yaitu Infrastruktur dan perumahan rakyat dan revitalisasi pasar. Ketiga hal itu sudah diprakteknya di Solo dan berhasil. Jokowi eksekusi MRT, Revitalisasi Pasar dan bangun Rusun dimana mana, yang kemudian dilanjutkan oleh Ahok. Dengan adanya agenda, maka kita bisa menentukan skala prioritas. Mengapa ? Karena kita tidak mungkin mengerjakan semua hal dalam satu kali ayunan. Proses hidup adalah proses berkesinambungan dari semua orang dengan fungsinya masing masing. Anda bukan superman yang bisa mengerjakan semu

Cinta ?

Image
  “ Ceritakan kepadaku tentang Madam Mao. “ kataku kepada Wenny ketika dalam perjalan dari Beijing Ke Hong kong. “Ada apa kamu begitu ingin tahu? “ Aku banyak membaca buku tentang Madam Mao. Tetapi dari perspektif yang mengarah kebencian kepada dia. Mungkin kamu bisa ceritakan apa yang kamu tahu. Dari perspektif kamu sebagai wanita. “ Kataku. Wenny terdiam sebentar. “ Baiklah aku ceritakan. Dia lahir di Shandong. Ibunya seorang selir Bangawan. Waktu kecil dia tidak pernah duduk minum teh bersama dengan ayahnya. Dia hanya tahu, ayahnya datang untuk meniduri ibunya. Setelah itu pergi. Pergi tidak jauh. Hanya beberapa langkah saja. Ayahnya berada di rumah induk bersama istri pertama dan anak anaknya. Dia bersama ibunya dan para selir lainnya tinggal di sebuah bangunan bersama dengan Babi Babi. Berada di pekarangan belakang rumah besar itu. Dari kecil sampai ABG, dia dipangil dengan nama Yunhe. Artinya ayam merak diantara ayam kampung. Dari kecil sudah keliatan jiwa memperontaknya. Ia deng

Lepaskan...

Image
Tiga tahu lalu mitra saya di Hong Kong mengabarkan bahawa dia terkena kanker usus. Dia perlihatkan hasil test lab dari Rumah sakit. Diapun harus mengikuti program pengobatan yang ditetapkan dokter. Saya perhatikan wajahnya sangat kawatir akan penyakitnya itu. Saya berpikir, kalau saya hibur dia agar bersabar, itu tidak akan menolong apapun. Kalau saya yakinkan dia akan baik baik saja itu juga tidak akan membantu apapun. Karena dokter bilang hidupnya tidak akan lama lagi. Paling lama 5 tahun, itupun kalau dia rajin berobat mengikuti saran dokter. Saya pandang dia dengan seksama. Memang dia takut sekali. Saya tahu teman saya ini sangat rasional. Ya saya akan sampaikan secara rasional agar dia bisa bertahan. Saya katakan ke dia “ Bro, apa yang harus kamu lakukan sekarang terima penyakit itu sebagai hal yang biasa saja. Jangan berpikir berlebihan. Yang penting sekarang bagaimana kamu bisa have fun selama menanti kematian datang menjemput. Usia kamu sudah 60 tahun. Itu sudah leb