Sunday, July 24, 2005

JALAN MENUJU PUNCAK

TIdak ada yang gratis dalam hidup ini. Semua harus diperjuangkan. Ongkos setiap perjuangan tergantung kondisi yang anda inginkan. Orang Minang punya pepatah “ Indak ado gunung nan ndak ba lurah. Samakin tenggi gunung samakin dalam lurahnyo. “ Tidak ada gunung yang tak berngarai ( jurang ). Semakin tinggi gunung maka semakin dalam pulalah jurangnya. Orang Minang yang hidup dengan philosopi alam “ Adat bersandi sara , sara bersandi kitabullah” sangat meyakini hukum alam ini. Untuk mencapai puncak gunung anda harus melalui empat kondisi jalan ( istilah minang Jalan Mampe’k) Apabila anda tidak bisa melalui empat kondisi jalan ini maka jangan harap anda akan sampai dipuncak gunung dengan kedamaian dan rasa syukur.

Pertama„ Jalan Mendatar „ Sebelum anda mendaki maka anda akan melewati jalan mendatar ditengah hutan belantara. Anda bisa memilih jalan yang sudah dilalui orang lain dimana semua sudah terdapat jejaknya dan tentu saja aman. Atau anda dapat memilih jalur lain namun anda harus siap menerima resiko kehilangan arah atau dimangsa binatang buas. Didalam hutan banyak sekali jebakan yang bisa membuat anda jatuh. Semua tergantung pilihan anda. Yang pasti sukses anda adalah kualitas anda. Apakah ingin hidup sebagai follower atau sebagai inovator dan creator.

Kedua “ Jalan Mendaki “. Untuk mencapai puncak maka anda harus menguatkan otot dan bahu untuk mendaki. Anda tidak bisa berlari karena itu akan menguras energi anda sendiri. Sementara anda sendiri tidak tau bila akan sampai dipuncak. Artinya anda harus mempunyai emosi yang terkendali dalam melihat puncak gunung. Dalam mendakipun anda harus rela untuk berhenti barang sejenak bila memang lelah. Bila anda kehilangan arah maka cobalah berhenti barang sejenak. Pandanglah langkah yang sudah terlewati, tataplah puncak gunung itu. Kemudian pikirkan dan analisa langkah yang telah anda lalui. Ada banyak gunung semua memiliki tinggi yang berbeda. Sesuaikan kadar kemampuan diri dan tentukan mana puncak yang akan anda raih maka itu adalah bijaksana.

Cerita kaum sufi menyebutkan tentang seekor bakicot merayap mendaki pohon murbay yang sangat tinggi. Sang burung mentertawakan Bakicot sambil berteriak “ Hii Bakicot apa yang engkau lakukan. Pohon murbay ini tidak sedang tidak berbuah dan berdaun karena musim gugur. Dan lagi sampai kapan anda akan tiba dipuncak pohon ini. “ Bakicot dengan tenang terus merayap pohon itu dan menjawab “ Saya tau pohon ini sedang tidak berbuah dan berdaun tapi setidaknya ketika musim semi datang , saya sudah sampai dipuncak pohon untuk memakan daun murbai.” Untuk mencapai puncak tidak hanya dibutuhkan kekuatan phisik dan fasilitas yang tersedia tapi lebih dari pada itu adalah kemampuan melihat dari tabir kegegelapan. Melihat dengan kekuatan hati. Itu semua bersumber dari satu sikap “ SABAR dan ikhlas. “

Ketiga “ Jalan melereng “. Ketika mendaki , maka kondisi yang tidak bisa anda hindari adalah jalan melereng ( jalan melingkar) mengitari tebing gunung. Disekitar anda terdapat jurang yang sangat dalam. Semakin tinggi puncak gunung yang hendak anda capai maka semakin dalam jurang yang ada disamping jalan anda. Dilereng gunung ini , selalu jalannya lincin. Anda akan mudah sekali tergelincir . jalan mencapai puncak memang mengharuskan anda menempuh jalan berliku. Memang sangat menyakitkan bila anda harus terjatuh namu anda harus bangkit untuk mencoba lagi dan mencoba lagi. Yang pasti kesuksesan itu adalah reward terindah dari perjuangan tanpa lelah. Sikap hati hati dan bijaksana mengendalikan emosi meredam ego adalah sangat penting bila anda ingin selamat sampai dipuncak.

Keempat “ Jalan menurun “ Ketika anda telah berhasil sampai dipuncak maka tidak ada yang dapat anda rasakan kecuali puas. Bahwa anda telah menjadi bagian dari sejumlah orang yang berhasil mencapai puncak dengan melewati berbagai tantangan. Banyak pula yang gagal mencapai puncak. Berhenti sebatas lereng gunung. Tetapi lambat atau cepat andapun harus ikhlas untuk turun. Jalan menurunpun tidaklah mudah. Ia membutuhkan kekuatan emosi dan kesabaran mengitari lereng gunung dan menghadapi dalamnya jurang kehidupan.

**
Banyak orang hanya melihat dan berhasrat meraih keindahan puncak gunung tapi tidak siap melewati pendakian dan menyusuri lereng gunung. Yang mereka lakukan adalah melakukan jalan pintas. Menyogok untuk menjadi pemenang. Menjilat agar mendapat jabatan. Berjudi agar cepat kaya. Merampok , korupsi agar cepat sukses. Bila mereka sampai dipuncak dengan cara ini maka tentupula mereka tidak siap bila harus turun. Karena mereka tidak pernah tau cara untuk turun. Mereka tidak pernah dapat menarik hikmah kemanusiaan dari keberadaannya dipuncak karena mereka melangkah diluar hukum alam. Naik cepat dan turunpun cepat dan biasanya bukan turun secara alami tapi terjun bebas!. Hitler mati di bunker bawah tanah setelah dihujani Bom oleh pihak sekutu. JF. Kennedy mati ditembak. Mahatma Gandi mati ditembak. Jhon Lenon juga mati ditembak. Napoleon mati di pulau Elba karena diracuni. Alexander mati karena diracuni. Mereka semua tercatat dalam sejarah sebagai orang hebat tapi berakhir jatuh dengan sangat menyedihkan.

Tapi berlainan dengan Rasullullah Muhammad SAW , turun menuju keabadian sang pencipta Allah SWT dengan penuh kedamaian setelah mencapai puncak kemenangan gilang gemilang.. Kematian adalah jalan turun dari puncak kehidupan dan disambutnya dengan senyum.Anehnya diakhir hayatnya Nabi menolak fasilitas kemudahan tanpa rasa sakit dari malaikat untuk melepaskan ruhnya . Lagi lagi dia tidak ingin menolak sunnatullah. Takdir.

Kehidupan yang sedang kita lalui ini adalah tidak lebih sama. Semua kita melalui process mencapai puncak walau puncaknya berbeda beda kadar ketinggiannya pada masing masing orang. Semakin tinggi puncak yang hendak kita capai maka semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi. Jalan mendatar , mendaki , melereng dan akhirnya harus turun dari puncak. Kita tidak bisa menghindari hukum alam ini. Sunnatullah. Penolakan hukum alam akan menimbulkan pradox , kehancuran bagi diri kita sendiri juga bagi kehidupan umat manusia di planet bumi ini.

Kakek saya mengingatkan “ alam takambang jadi guru ( alam terbentang menjadi guru ) dan Alhamdulillah itu selalu saya ingat dalam mengarungi kehidupan ini“ Merantaulah buyung dahulu , dikampung berguna belum. Makna dari ungkapan ini adalah raihlah keberhasilan dengan banyak membaca , melihat dan mendengar karena beban untuk mu sudah menanti „ menjadi rahmat bagi alam semesta. „-

No comments:

Menerima kenyataan.

  Saya naik Ojol. Supirnya sarjana. Alih profesi karena situasi dan kondisi. Kena PHK akibat COVID. Setahun setelah itu rumah tangga bubar. ...