Posts

Showing posts from February, 2019

Perang Badar

Image
Ya Allah Azza wa Jalla , penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla , jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini. [HR. Muslim 3/1384 hadits no 1763]. Demikian Doa Nabi Muhammad ketika akan menghadapi perang Badar. Doa itu tidak bisa diterapkan dalam situasi sekarang, apalagi di Indonesia. Mengapa ? Pertama, ketika perang badar itu, musuh umat islam adalah kaum penyembah berhala yang jelas jelas menghalangi syiar agama islam. Kedua, Nabi tidak dalam posisi menyerang atau ingin menaklukan musuh.Tetapi dalam posisi melindungi diri dari serangan musuh. Nabi adalah rasul yang manusiawi sekali. Ketika Doa itu terucapkan, Al Quran belum turun secara purna. Butuh 10 tahun lebih setelah perisitawa Badar, barulah Al Quran turun secara sempurna. Nah meri kita bahas secara sederhana mengapa dalil doa perang badar itu tidak tepat untuk dikaitkan

Empati ?

Image
Prabowo terlahir dari keluarga bangsawan. Ayahnya, Seomitro adalah Ekonom dan juga politisi sejak era Soekarno. Kakeknya adalah banker, pendiri Bank BNI. Dia pernah hidup di luar negeri karena ayahnya menjadi pelarian politik di Era Soekarno. Entah gimana keluarganya bisa hidup mewah. Mungkin karena ayahnnya musuh politik Soekarno dan Soekarno adalah musuh Amerika. Mungkin kemewahan itu karena dia dianggap sebagai “ asset “ oleh Amerika Serikat. Usia remaja dia pacaran dengan Putri Soeharto penguasa Orde Baru, dan ayahnya jadi menteri di Era Soeharto. Kemudian dia menikah dengan putri Soeharto. Anda bisa bayangkan kemewahan hidupnya. Sedari kecil dia tidak tahu arti sebuah kemiskinan. Karena dia tidak pernah merasakannya. Pernah satu waktu saya ke datangan anak muda. Ini benar benar anak muda. Usianya tidak lebih 30 tahun. Awalnya ketika teman saya mengatur ketemu dengan anak muda ini saya keberatan. Karena saya nilai dia tidak qualified untuk kerjasama. Ya karena faktor usia. N

Elitis?

Image
Saya termasuk orang yang dekat dengan gerakan agama. Hampir semua petinggi aktifis islam dari partai sampai ormas saya kenal. Dulu era SBY saya aktif berdiskusi dengan mereka. Namun dari pergaulan itu saya sampai pada kesimpulan bahwa perjuangan mereka tidak untuk kepentingan islam tetapi untuk kepentingan elite saja. Dokrin yang harus diterima bahwa pimpinan tidak boleh disalahkan. Harus patuh kepada pemimpin. Tafsir para elite itu adalah sama dengan firman Tuhan. Engga boleh di debat. PKS, HTI , dan lainnya sama saja.  Sangking elitis nya, hubungan antara umat dengan tokoh organisasi dipuji seperti setengah dewa. Namun anehnya bila bicara dengan para elite nya, selalu berujung kepada bagaimana dapat duit.  Idea apapun yang mudah mendatangkan uang, mereka akan terima. Selalu dengan alasan untuk umat. Saya percaya bahwa orang seperti saya ini banyak di Indonesia. Terutama generasi setingkat saya dan juga generasi setelah saya yang dewasa di era reformasi sangat paham situasi p

Jokowi musuh bersama mereka...

Image
Dulu di era Soeharto ada rekening shadow namanya. Anda buka rekening di bank asing di Indonesia dimana anda juga punya rekening di bank asing tersebut di luar negeri. Uang anda dalam hitungan menit bisa pindah dari Indonesia ke luar negeri tanpa perlu underlying transaction.  Itu istilah lainnya namanya cross settlement. Menjelang kejatuhan Soeharto tahun 1996 banyak petugas bank asing yang berkantor di hotel bintang lima di kawasan Sudirman dan Thamrin. Mereka melayani pembukaan rekening orang kaya indonesia dan kemudian mengatur pemindahan dana ke luar negeri. Umumnya Singapore dan Swiss. Tahun 1996 itu sudah terjadi eksodus dana besar besaran ke luar negeri. Dua tahun setelah itu Soeharto jatuh. Kalau engga salah data dari Ford Foundation dana yang eksodus itu mencapai ratusan miliar dollar AS. Sementara Devisa negara ketika itu hanya USD 23 miliar.  Anda bisa bayangkan betapa jahatnya mereka.  Ketika pemerintah membentuk BPPN. Mendadak orang yang tadinya kere langsung jadi k

Sikap mental

Image
Saya provokasi cucu saya Aufar agar dia makan yang banyak. Saya katakan “ Aufar kalau makannya banyak, nanti cepat gede. Kalau gede bisa pintar. “ dia perhatikan saya dengan wajah tanya “ Babo, orang makan karena lapar. Orang pintar karena dia belajar.” Katanya polos. Cucu saya ini belajar di Sekolah Alam. Dia diajarkan berpikir praktis dan logika. Kalau bicara selalu menggunakan bahasa indonesia yang baik. Dan cara penyampaiannya terstruktur. Jelas alur berpikirnya. Beda dengan kakaknya yang sekolah di sekolah Agama ( boarding school ). Pernah saya dengar mereka berdebat. Kakaknya bilang, kalau kita meninggal kita akan masuk sorga. Tetapi Aufar menjawab “ orang kalau mati di kubur”. Kakaknya Nazwa diajarkan berpikir konsepsual di sekolah. Sementara Aufar diajarkan berpikir logika. Orang yang cenderung berpikir dengan logika selalu melihat persoalan itu dengan rasional. Dia tidak mungkin berpikir hal yang sepele. Dia selalu memikirkan hal yang besar. Apa yang besar itu ? Ora