Sunday, February 22, 2009

Umur

Ketika waktu dan ruang masih menjadi bagian kehidupan kita, maka tak pernah kita menganggap kematian itu sesuatu yang pasti. Ketika orang yang kita cintai sedang menghadapi gelombang sakratul maut , kita terus berjuang dengan mengandalkan kekuatan ilmu dan harta untuk menyembuhkan orang yang kita cintai. Pada detik detik menuju kematian itu sebetulnya adalah pelajaran berharga bagi yang masih sehat untuk menarik hikmah bahwa umur pasti berakhir. Hikmah terbesar bagi setiap manusia adalah kematian itu sendiri. Bila semua orang sadar setiap saat maut akan menjemputnya tanpa bisa menolak , tentu kebaikan , kebenaran dan keadilan akan berterbaran dimuka bumi.

Pernah satu peristiwa di tahun 1990. Sahabat saya meminta saya menemaninya untuk membawa orang tuanya berobat ke Singapore. Saya menyanggupi. Apalagi ticket dan hotel disediakannya. Ketika sampai dibandara, sayapun terkejut karena satu pesawat isinya semua anggota keluarga dan sahabat sahabat dekatnya. Orang tuanya ditempatkan di first class dengan didampingi oleh putra putrinya. Sementara para sahabat dan kerabat jauh duduk di ekonomi class.

Selama dalam perjalanan udara itu, Saya mendengar satu sama lain berbicara tentang banyak hal dan tidak ada yang membicarakan tentang orang tua teman ini yang sedang sakit keras. Tak ada yang bercerita tentang kebaikannya. Masing masing terdengar berbicara soal urusan business diatanra mereka. Ada juga yang tergelak,. Tak tahu apa yang digelakan. Padahal dikelas utama pesawat ada sisakit dalam keadaan kritis untuk berharap keajaiban dari rumah sakit terkenal di Singapore.

Sesampai di Bandara Singapore , petugas Rumah Sakit sudah menanti didepan pintu pesawat dan ambulancepun standby dibawah untuk segera membawa pasien ke rumah sakit. Benar benar layanan first class. Itulah yang saya rasakan melihat situasi itu. Kamipun dilayani oleh petugas PR yang ramah dan membawa kami ke hotel berbintang lima. Sehari dirumah sakit, kamipun mendapat kabar bahwa orang tua teman ini telah menemui ajalnya.

Kami melihat dirumah sakit para anggota keluarga sibuk sekali. Wajah duka menyelimuti semua anggota keluarga. Tapi itu tak berlangsung lama. Apalagi beberapa agent terkenal dibidang cargo sudah datang ke Rumah sakit untuk mempersiapkan pengangkutan jenazah ke tanah air. Didalam pesawat , sebagian kami menempati tempat duduk first class dan sementara jenazah orang tua teman ini berada dicabin pesawat sebagai sebuah cargo. Disamping saya teman sempat berbisik “ Tadi ketika berangkat orang tuanya duduk di first class tapi sekarang dia ada di cabin cargo bersama tumpukan bagasi kita “

Sesampai di Jakarta , keluarga sibuk mengbungi agent untuk kremasi dan segala tetek bengek upacara yang diperlukan untuk penghormatan kepada jenazah. Setelah upacara selesai , para keluarga sibuk menghubungi notaries dan pengacara serta beberapa ahli dibidang keuangan untuk mengatur pembagian harta warisan dan penempatan harta direkening bank terkemuka di luar negeri. Begitulah sepenggal pengalaman yang saya lihat. Yang membuat saya bertanya, “ Untuk apakah semua yang kita perjuangkan ? bila kematian itu menempatkan kita sama seperti bagasi yang biasa ditempatkan dicabin. Bahkan dalam islam , mayat hanya dibungkus dengan kain putih. Tak lebih. Begitulah kerendahan jasad kita" hakikat manusia memang bukanlah jasadnya tapi ruh yang bersemayam didalam dirinya. Kematian adalah perpindahan ruh dari alam fana ke alam baqa.

Memahami umur adalah memahami bergeraknya waktu menuju kepada kepastian, kematian. Waktu terus bergerak kedepan. Dari detik menuju menit dan menit sampai ke jam. Dari jam menuju hari dan akhirnya keminggu dan terus kebulan dan tahun terlewati untuk mengulang kembali. Tak terasa usia bertambah. Kebanyakan manusia tak siap ditinggalkan oleh orang yang dicintainya. Samahalnya tak siap untuk menghadap maut. Apalagi merasa perkasa menghadapi maut. Itu disebabkan oleh kecintaan berlebihan kepada dunia dan akibatnya melupakan hakikat kehidupan sebenarnya bahwa manusia tak berhak apapun terhadap kehidupan ini kecuali Allah. Semua adalah milik Allah yang setiap saat berhak memberi dan mengambilnya.

Hanya orang bodoh dan tolol yang tak bisa belajar dari kematian…

Saturday, February 14, 2009

Intervensi Tuhan

Intervensi Tuhan diabad kini dalam derap kehidupan bukanlah hal yang memuaskan untuk dijelaskan dikampus kampus secular. Tapi tidak bagi Jhon Bar Penkaye yang termenung di Biaranya yang jauh terpencil ditepi Sungai Tigris yang mengalis deras, dipegunungan yang kini disebut Turki Tenggara. Samahalnya dengan Jimmy Carter yang termenung ditempat peristirahatannya di Cam David ketika mendengar laporan bahwa operasi Gurun telah gagal total di Iran , bahkan memalukan.

Betapa tidak ? Bagi Jhon ketika ditahun 680 mencoba menulis sejarah tentang zamannya ihwal penaklukan bangsa Arab di Timur Tengah, yang masih tersimpan dalam ingatan. Kala merenungkan berbagai peristiwa dramatis ini, perasaannya dipenuhi oleh teka teki. “ bagaimana bisa, “ ia bertanya, “ Orang orang tanpa senjata lengkap, berkuda tanpa baju baja atau perisai berhasil memenangkan pertempuran..dan meruntuhkan semangat kebanggaan diri orang orang Persia”.

Ia semakin terhenyak, “ hanya dalam periode yang sangat singkat seluruh dunia diambil alih orang orang Arab; mereka menguasai seluruh kota yang dikelilingi benteng, mengambil alih pengawasan dari laut ke laut, dan dari timur ke barat- Mesir , dari Crete ke Cappadocia, dari Yaman ke Gerbang Alan , bangsa Armenia, Syiria, Persia, Byzantium dan Mesir serta seluruh wilayah disekitarnya “ tangan tangan mereka ada dimana mana”.

Jimmy Carter , bangga dengan kehebatan detail operasi dari panglima angkatan bersenjata; dengan pesawat khusus tak terlacak oleh radar serta prajurit terlatih untuk sebuah operasi penyelamatan terhadap penyanderaan pejabatan di kedutaan AS- Teheran di tahun 1979. Bagaimana mungkin , Iran tanpa perlindungan senjata anti pesawat , tanpa dukungan pelacak anti radar , dengan sendirinya membuat jatuh pesawat tempur AS. Tak ada perang yang sesungguhnya kecuali AS harus menanggung malu akibat operasi yang gagal.

Lehman Brother, dan juga para petinggi otoritas Moneter AS tidak pernah membayangkan bila kehebatan analisis keuangan yang didukung lulusan terbaik Harvard, produk derivative keuangan yang didukungan oleh system clearing super canggih, akhirnya dalam hitungan hari rontok. Seluruh system keuangan tak berdaya menghadapi global resesi yang datang bagaikan tornando menyapu semua pemain dan pemanja kapitalisme. Bagaimana mungkin kemakmuran yang digayuh bertahun tahun, kebanggaan yang melekat bertahun tahun akhirnya menjadi ratapan sesal tak bertepi?

Jhon, Jimmy , dan juga Lehman, tentu akhirnya menyadari ini semua karena kehendak Tuhan. Tuhan melakukan intervensinya. Sejarah selalu mencatat keberadaan intervensi Tuhan. Ketika logika menjadi Tuhan, maka Tuhan diatas sana tentu bersikap untuk menunjukan tentang kesejatiannya. Disisi lain memperlihatkan bahwa tidak ada keabadian, kebanggaan, kehebatan, kebesaran selain Allah. Inilah yang ingin dan selalu diingatkan Allah kepada seluruh umat manusia dari masa ke masa.

Akal terlalu lemah untuk mengatur dunia. Akal tak pernah selesai dengan tesisnya untuk kemakmuran dan kebahagiaan. Akal hanyalah perangkai warna dan garis menjadi sebuah fotomorgana didepan kita, hingga berlalunya waktu semua sirna. Lantas, apakah perlu sebuah intervensi dari Tuhan untuk membuktikan semua itu. Padahal Allah telah menunjukan semua kata katanya lewat kitab mulia dan para utusannya. Allahpun telah memberikan contoh dari masa kemasa , dan sejarah mencatatnya dengan rapi. Tapi kita selalu lupa dan lupa, hingga sampai datangnya kita bertanya “ Bagaimana mungkin” ?

Sunattulah selalu berhubungan dengan akal dan sebab akibat. Itulah kehebatan Allah yang mengatur existensi Aku dan Makhluk. Dia sang penguasa yang semaunya merubah ketetapan ( sunatulah ) yang dibuatnya. Walau sesungguhnya kasih sayang Nya terlalu banyak kompromi kepada mahluk ciptaanya. Namun bila batas kompromi terlewati maka Allah bersikap dengan caranya, Impossible is nothing.

Sunday, February 01, 2009

Catatan dari Davos

Islam tumbuh dengan subur menjangkau pulau dan benua di seluruh dunia. Dinasti islam bermunculan, Alquran dan Hadith digali untuk memperluas Ilmu pengetahuan. Masyarakat semakin berkembang dan pahampun beraneka ragam . Manusia semakin percaya kehebatan ilmu pengetahuan yang didapatnya. Isme dari pemikiran ditebar semakin meminggirkan keberadaan Al quran dan Hadith. “ Yaa Nabiyar Rahmah. Inikah fitnah besar itu ? “

Tak ada fitnah yang lebih besar kecuali manusia sudah menganggap dirinya dapat hidup tanpa keberadaan Allah;. Para pemimpin lupa akan amanahnya. Para orang kaya semakin jauh dari orang miskin. Para ulama bangga dengan ilmunya dan minta dibayar bila berbicara dan menulis. Tempat ibadah dibangun megah tapi kumuh jihad sosialnya. Para janda miskin dan anak yatim semakin banyak yang melata lapar dijalanan. Tempat maksiat bertebaran dimana mana. Alquran dan hadith dijadikan silang sengketa soal salah dan benar. Orang pandai menipu orang bodoh. Wanita berlaku sebagai pria , dan pria berlaku seperti wanita. Agamapun dipinggirkan dalam bersyariat dan yang teguh berjihad dituduh teroris untuk diburu sebagai pesakitan.

Ego disembah dan nafsu dibelai, orang lemah ditindas. Kekuasaan telah menjadi dogma baru sepeninggal Nabi untuk diburu dan disembah. Agama hanya dijadikan symbol. Dijadikan alat politik untuk menarik yang jauh dan merekat yang dekat. Hakikat agama semakin jauh dan jauh jalan bergeser ketempat kemaksiatan. Tidakah kita menyadari bahwa Alquran telah menceritakan tentang kaum yang musnah karena inkar kepada Allah. Agar kita sadar untuk kembali kepada hakikat kita diciptakan untuk meninggikan kalimat Allah.

Allah telah menyampaikan betapa pedihnya azabNya kepada kaum sebelum kita karena ingkar. Tapi kita abaikan itu. Padahal tanda tanda kehancuran alam secara structural telah kita ketahui . Global warming. ! Namun kita lebih memikirkan nasip nafsu yang mulai kehilangan tenaga untuk terus bermanja. Kita terus berpikir dan bekerja keras mengembalikan keseimbangan system ekonomi global. Kita masih percaya dengan cara cara kita yang bangga dengan kehebatan pikiran kita sendiri. Senyatanya berkali kali krisis terjadi sebagai akibat pemikiran yang rakus tapi tidak pernah disadari. Bahwa pemikiran akibat mempertuan nafsu pada akhirnya adalah kelelahan yang tak berujung. Tak ada nikmat kecuali kecemasan demi kecemasan.

Kita tak bisa menarik waktu mundur kebelakang. Global Warming akibat ulah kita, telah menjadi bom waktu yang setiap saat dapat menimbulkan bencana secara global. Ingatlah Alquran berkata. Sesuatu yang tadinya dirahmati oleh Allah akhirnya berubah menjadi bencana. Hujan yang tadinya pembawa rahmat (QS al-An'am/6:99), tiba-tiba menjadi sumber malapetaka banjir yang memusnahkan areal kehidupan (QS al-Baqarah/2:59). Gunung-gunung yang tadinya sebagai pasak bumi (QS al-Naba'/78:7), tiba-tiba memuntahkan debu, lahar panas, dan gas beracun (QS al-Mursalat/77:10). Angin yang tadinya mendistribusi awan (QS al-Baqarah/2:164) dan menyebabkan penyerbukan dalam dunia tumbuh-tumbuhan (Q.S. al-Kahfi/18:45), tiba-tiba tampil begitu ganas memorak-porandakan segala sesuatu yang dilalewatinya (QS Fushshilat/41:16).

Laut yang tadinya begitu pasrah melayani mobilitas manusia (QS al-Haj/22:65), tiba-tiba mengamuk dan menggulung apa saja yang dilaluinya (QS al-Takwin/81:6). Kilat dan guntur tadinya menjalankan fungsi positifnya, melakukan proses nitrifikasi (nitrification process) untuk kehidupan makhluk biologis di bumi (QS al-Ra'd/13:12), tiba-tiba menonjolkan fungsi negatifnya, menetaskan larva-larva betina (telur hama) yang kemudian memusnahkan berbagai tanaman para petani (QS al-Ra'd/13:12). Disparitas flora dan fauna tadinya tumbuh seimbang mengikuti hukum-hukum ekosistem (QS al-Ra'd/13:4), tiba-tiba tumbuh dan berkembang menyalahi keseimbangan dan pertumbuhan deret ukur kebutuhan manusia (QS al-A'raf/7:132).

Semua itu hanya masalah waktu. Kelak semua bencana yang pernah datang secara partial dan regional akan terjadi serentak diseluruh wilayah di bumi ini. Inilah akibat dari proses fitnah besar itu yang telah berlangsung berabad abad. Yang telah mengabaikan Alquran dan Hadith sebagai tuntunan kejalan yang lurus Krisis ekonomi akibat dari krisis moral,. Krisis moral mengakibatkan krisis spiritual. Krisis spiritual akan mengakibat bencana Alam secara systematis dan comprehensive.

Dari Davos, di Forum Ekonomi Dunia, kita menyampaikan pesan. Sadarlah sebelum datang masanya. Jadilah orang yang selamat..marilah sholat marilah mencapai kemenangan. Bersama Allah kita bisa!

Persahabatan …?

  Sejak  minggu lalu, sejak saya membuat keputusan perubahan susunan Komisaris perusahaan, setiap hari email datang dari Yuni dengan nada pr...