Posts

Showing posts from August, 2018

Jokowi sang risk taker

Image
Ketika Jokowi awal masuk Istana, terjadi pembicaraan santai antara saya dengan teman teman di Hong Kong Financial Club. Maklum karena saya berbicara dengan teman teman analis ekonomi investment banker yang terbiasa membaca data ekonomi, pembicaraan jadinya lebih future analis dari sisi praktisi.  Saya memang terbiasa memancing profesional untuk bersemangat mempertahankan argumentasinya. Apa yang akan dilakukan Jokowi setelah menang pemilu ? tanya saya. Salah satu mereka berkata kepada saya, fundamental ekonomi Indonesia yang diwarisi Jokowi sangat buruk. Porsi manufaktur terhadap PDB drop tinggal 21%. Padahal awal SBY  berkuasa atau tahun 2004, porsi industri 28%. Artinya 10 tahun Indonesia dibawah kekuasaan SBY terjadi de-industrialisasi.  Walau deindustrialisasi terjadi ekonomi tetap tumbuh. Kata saya memancing.  Ya benar. Kata mereka. Memang selama dua periode pemerintahannya pertumbuhan ekonomi rata rata menyentuh 6%. Kondisi ekonomi global yang moncer dan melambungnya

Jokowi sang inspirasional

Image
Ketika Jokowi terpilih sebagai Presiden, seorang teman dari Singapore berkata kepada saya bahwa Jokowi adalah hadiah terindah dari Tuhan kepada rakyat Indonesia. Seakan penantian panjang sejak Indonesia merdeka akhirnya datang juga janji Tuhan untuk menjadikan Kemerdekaan itu adalah Rahmat Tuhan. Betapa tidak ? Jokowi tidak tumbuh dan berkembang dari kekuasaan politik dan patron. Dia juga bukan dari kalangan militer. Juga buka dari pengusaha yang sangat punya akses kepada kekuasaan. Pun bukan dari kalangan ulama yang berpolitik. Jokowi lahir dari tengah tengah masyarakat yang tidak hidup dari orang gajian. Bukan pengusaha yang punya akses kepada proyek APBN atau APBD. Dia adalah pengusaha kreatif yang harus berkompetisi di pasar agar unggul. Yang harus kreatif mendapatkan sumber modal agar bisa berkembang. Yang harus menjaga kepercayaan agar bertumbuh karena waktu.  Dalam proses perjalanan hidup seperti itulah Jokowi hadir ditengah tengah masyarakat kebanyakan. Maklum karena d

Sikap tegas.

Image
Negara sebesar indonesia ini perlu presiden yang tegas agar indonesia kuat dan utuh. Ada yang mengatakan bahwa Jokowi bukan tipe presiden yang tagas karena penampilannya tidak meyakinkan. Apalagi membiarkan Ormas radikal bersuara. Akan berbeda kalau presiden nya dari kalangan Militer. Tentu pasti tegas. Karenanya stikma dibangun bahwa untuk dapatkan presiden yang tegas maka harus dari militer. Benarkah ? saya tidak akan membahas lebih jauh soal pilihan militer atau sipil. Karena di era sekarang, dalam sistem demokrasi dikotomi sipil militer itu sudah tidak ada. Siapapun yang jadi Presiden dia harus tunduk dengan UU , aturan dan Hukum. Orang tegas itu bukan harus dilihat dari cara dia mengambil keputusan, Integritas orang dilihat ketika dia membuat keputusan, bukan dilihat dari proses dia mengambil keputusan. Contoh, Jokowi yang nampak lemah dengan aksi demo, hujatan kebencian, itu bukan karena dia tidak tegas. Tetapi memang tidak ada dasar hukumnya Jokowi menindak orang melaku

Bersikap dalam memilih

Image
Orang tua saya mengajarkan saya “ Alun takilek la takalam.” Belum keliatan sudah terbaca. Artinya kalau kita beradapan dengan orang lain, kita harus punya sense melihat dari apa sikap dan perkataannya. Seorang datang melamar sebagai direktur Pemasaran. Saya sudah punya data tentang dia sebelumnya. Tentu sudah melwati proses rekrutmen yang ketat. Walau begitu hebat data dan rekomendasinya. Tidak otomatis membuat saya bersikap memilihnya. Begitu pula sebaliknya. Walau data tentang orang itu tanpa ada rekomendasi dari tempat asal dia kerja namun saya tidak berprasangka buruk. Ketika bertemu, saya akan coba bersikap santai tanpa ada jarak. Saya yakinkan pada dirinya bawa saya teman bicara yang enak. Bagaimana anda meningkatkan penjualan? Itu pertanyaan awal saya setelah suasana akrab. Kalau dia menjawab lebih banyak retorika dan atas dasar pengalaman dia waktu bekerja ditempat sebelumnya serta menyalahkan kantornya yang lama, serta memuji idenya hebat. Maka saya tahu orang ini sed

Jokowi dan Islam.

Image
Ada teman bilang bahwa dia tidak setuju dengan pilihan Jokowi atas cawapres dari kalangan Ulama. Karena dia konsisten dengan aliran idiologi sekularisme. Bagi saya sejak kita mengakui falsafah negara kita adalah Pancasila maka sekularisme tidak ada tempat di Indonesia. Pancasila itu satu kesatuan dengan urutannya tidak bisa diubah. Bila diubah maka maknan philosopi nya jadi lain. Mengapa sila pertama adalah Ketuhanan Yang Maha Esa? karena semua aktifitas kehidupan ini berawal dari Tuhan. Dasarnya adalah Tuhan. Orientasinya adalah Tuhan. Tanpa kepercayaan kepada Tuhan tidak mungin anda ada sila kedua , ketiga, keempat dan kelima.  Saya memahami Pancasila berakar dari pemahaman agama yang saya imanin. Sebagai warganegara sayapun bersikap atas dasar Pancasila itu. Artinya agama saya dan pancasila tidak bertentangan. Namun tentu tidak bisa dikatakan Pancasila adalah Islam. Pancasila adalah pedoman hidup berbangsa dan bernegara yang pluralis. Yang didalamnya ada seperangkat UUD dan

Ekonomi Umat

Image
Dalam dialogh dengan teman ekonom syariah, paska aksi 212, saya katakan aksi itu adalah puncak gunung es dari kekecewaan Umat islam terhadap ketidak adilan ekonomi. Mungkin para penggerak aksi itu berpolitik tetapi sebagian besar yang ikut demo itu adalah orang yang memang tulus dan berharap keadilan ekonomi. Karena GAP kaya miskin yang ada begitu lebar. Kalau masalah ini tidak diatasi maka ini akan menimbulkan chaos sosial. Jokowi harus gunakan momentum ini dengan baik. Jangan jauhi umat islam tetapi ajak tokoh islam untuk menggunakan potensi islam itu untuk perbaikan ekonomi umat. Gimana caranya ? ya ekonomi syariah. Sayapun menulis di blog soal itu secara terinci. Tiga bulan setelah itu diadakan Kongres Ekonomi Umat yang diprakarsai oleh MUI dan didukung pemerintah. Jokowi- JK hadir membuka kongres itu. Hasil kongres ekonomi umat melahirkan enam konsesus. Pertama, sistem perekonomian yang adil, merata, dan mandiri dalam mengatasi kesenjangan ekonomi. Kedua, mempercepat

Pembaharu

Image
Pertengahan tahun 80an, saya ikut melamar bekerja sebagai business representative untuk perusahaan JV antara Korea dan Jepang. Ketika itu ada 18 pelamar. Hanya saya tamatan SMU,yang lainnya Sarjana. Yang menolong saya lolos sebagai kandidat karena kemampuan komunikasi bahasa inggeris. Test standard yang diterapkan adalah test attitude. Tidak ada test skill. Proses test attitude ada dua yaitu test tertulis, dan satu lagi test simulasi. Test tertulis menyisakan 10 orang yang lolos, termasuk saya. Ketika masuk simulasi , kami yang 10 orang itu masuk ke dalam ruangan. Kemudian, penguji meminta kami masing masing mengajak orang yang ada 40 orang diruang itu untuk mendekat kepada kami. Yang paling banyak mendekat paling tinggi nilainya. Artinya masing masing kami harus melakukan atraksi yang sehingga membuat orang mau mendekat. Atraksi yang dibolehkan hanya terbatas yaitu bicara atau diam. Kebayang engga sulitnya?. Saya perhatikan setiap peserta test kebanyakan gagal membuat orang men

Piramida kehidupan

Image
Anda tahukan Piradmid? Lebar dibawah dan mengerucut keatas. Nah, dalam komunitas manusia didunia ini ada piramida nya yang berkaitan dengan pemahaman tentang uang. Pada lapisan bawah yang merupakan komunitas terbesar adalah komunitas yang menjadikan uang sebagai sumber bertahan hidup. Bagi mereka uang bukan segala galanya tetapi segala galanya perlu uang. Karena itu mereka sangat hati hati menghadapi resiko akan ketidak adaan uang. Selalu insecure. Kalau berlebih mereka pelit tetap merasa miskin. Kalau kurang mereka berusaha menarik empati orang untuk memberinya uang. Walau kadang karena itu harus menelan rasa malu. Apapun mereka lakukan asalkan dapat uang. Termasuk jadi begal atau korup. Layaknya hidup sebagai predator di rimba belantara. Pada lapisan kedua dari bawah adalah yang mengangap uang adalah perlindungan hidup. Umumnya mereka para pekerja profesional atau pedagang. Kalau berlebih mereka akan menabung. Mereka membungkus dirinya dengan atribut agar selalu dianggap orang