Thursday, May 27, 2010

Teater

“Apakah kamu kecewa dengan sebuah pentas “ demikian teman saya berkata ketika usai menonton sebuah teater. Kisah tentang kebenaran yang selalu menang. Saya senang ceritanya walau ini hanya sebuah teater. Ilusi belaka. Karena apa ? Sesuatu yang tak mungkin kudapatkan didunia kalkulasi , ada di teater. Kalau orang butuh keadilan , pasti akan kecewa dengan demokrasi. Kalau orang butuh kebenaran, pasti akan kecewa dengan Hukum di Indonesia. Kita semua tahu dan paham betul dua conclusion ini. Itulah realitas yang setiap hari kita tonton, sebuah teater yang menyesakkan dada.

Lebih dari ribuan tahun kekuasaan dibangun diatas kepatuhan mutlak. Kemudian tumbang ketika kepala Claude Lefort jatuh kebumi sebagai tanda dimulainya sebuah revolusi di Francis. Sejak itu, tak ada kepala yang menggiring orang kepada satu kiblat. Tokoh dibangun dari creativitas media massa untuk dijual dengan cara cara kapitalis. Dari situlah kekuasaan tak lagi punya dasar sakral. Dari situlah konstitusi di create sesuai kehendak pasar. Dari situlah kreatifitas propaganda berkembang pesat untuk melahirkan rakyat yang malas berpikir tentang kebenaran sedang diselewengkan

Kreatifitas ini diagungkan sejak terjadinya revolusi di Francis , kemudian Revolusi Industri di Inggeris. Ada harapan tentang keadilan akan dibangun diatas kehendak orang banyak. Diatas keyakinan demi lahirnya Freedom, Peace , Equality. Tak aneh bila beberapa decade demokrasi telah melahirkan creativitas nilai. Demokrasi demi sosialime, Demokrasi demi kapitalisme. Ini dapat terjadi begitu mudahnya dan tak ada yang perlu diperdebatkan untuk dipahami orang banyak. Kemana nilai demokrasi itu ? Tergantung kapitalisme atau sosialisme. Mengapa ini sampai terjadi. Karena demokrasi adalah sebuah system yang didasarkan atas tak adanya sebuah “dasar”. Setelah idiologi, agama, terpenggal dari tubuh politik maka kepala bisa dalam bentuk apa saja. Tak ada lagi yang mutlak kecuali kehendak pasar.

Itulah mungkin yang membuat para pendiri negara resah ketika harus mendirikan republic ini. Resah karena tak mungkin sebuah negara dibangun tanpa landasan filosofi yang kuat. Apakah agama sebagai landasan ? Budaya ? Ada keraguan untuk berkiblat pada satu titik. Pemikiran kemerdekaan berangkat dari sejarah kekecewaan dengan sistem otokrat keagamaan. Kecewa dengan sosialisme dan komunisme yang feodalis. Kecewa dengan demokrasi barat yang arogan. Tapi itu pasti bukan negara agama , tapi juga bukan negara sekterian. Radjiman Widiodiningrat, yang terpengaruh filsafat Kent dan Hegel, mendesak agar konstitusi di create dari sebuah nilai nilai universal dan semangat gotong royong. Maka Pancasila dirumuskan tapi dasar negara adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pancasila sebuah inspirasi multi dimensi. Pancasila penghapus keresahan ketika dipersimpangan jalan mencari perekat kesatuan visi. Mungkin juga sebuah kompromi final yang tak selesai. Karena didalamnya mengakomodasi nilai nilai spiritual, dan keagungan sosialisme. sebuah mimpi tentang keadilan social bagi siapa saja. Mimpi spiritual socialisme memang tak aman dari serangan kaum bermodal yang rakus--sebagai kelanjutan dari sisten colonialisme berupa Neo colonialisme--. Apa arti kekuasaan tanpa tiran, demikian kata mereka maka Lahirlah demokrasi liberal , demokrasi kaum bermodal. Yang pada akhirnya Pancasila hanya menjadi jargo ketika upacara naiknya berdera merah putih. Ia tinggal romantisme diatas kehebatan propaganda pasar untuk meyakinkan agar kapitalisme punya ruang menganeksasi rakyat. Inilah kehebatan demokrasi, sebuah grey area

Rich Dad’s , Conspiracy of the rich , dari Robert T. Kiyosaki menyebutkan ada empat hal yang membuat demokrasi harus dipertahankan oleh kapitalisme yaitu perlunya uang sebagai kekuataan dan karenanya perlu inflasi untuk memeras rakyat, perlu hutang untuk menggadaikan resource dan perlunya konsumsi untuk membuat orang tergantung terhadap pasar. Sebuah sistem nilai yang hebat tentang konspirasi orang kaya dan penguasa untuk menjajah yang lemah. Dari waktu kewaktu krisis ekonomi terjadi karena sistem ini, dengan korban kemanusiaan yang massive.

Demokrasi beranak cucu menjadi neoliberal, sebuah sistem yang melahirkan budaya cinta bersyarat tanpa bandrol. Sebagai cara sistematis membuat kelas terbentuk tanpa bisa digugat. Sebuah realitas yang membuat china tersenyum bersama komunisme sebagai "dasar"...yang membuat Iran unggul bersama islam sebagai "dasar". Keliatannya benarlah bahwa kapitalisme hanya bisa dijinakan oleh sebuah idiologi ( "dasar ") dan menjadi monster ganas ketika dia bebas ( demokrasi liberal dan neoliberal). Itulah yang kita lupa dalam membangun sebuah bangsa. Lupa bahwa Pancasila bukanlah produk konpromi politik tapi sebuah baiat kepada Allah. Melawan itu, adalah kehancuran.

Wednesday, May 19, 2010

SOP dalam Islam


Seorang teman sempat nyeletuk ketika saya menyinggung soal SOP ( Standard operating procedure ). “ ya SOP itu sama dengan rukun Islam kita” . Saya sempat terdiam sebentar. Kata katanya sederhana. Tentu kita semua tahu tentang Rukun Islam tapi memahami Rukun Islam sebagai sebuah SOP kehidupan ini jadi lain. SOP itu biasanya didesign oleh orang yang membuat program kerja atau mesin yang membutuhkan keteraturan, keselarasan dari program atau mesin. Apabila SOP dilabrak maka mesin akan rusak. Organisasi akan kacau balau. Computer akan hang. Begitupula tubuh manusia, didesign oleh Allah dan tentu Allah tahu précis bagaimana memastikan tubuh kita ini dapat berjalan sempurna sebagai khalifah dimuka bumi. Makanya Allah membuat SOP dalam bentuk rukun Islam.

Tubuh kita terdiri dari tiga unsur. Yaitu ruh, Jiwa dan Raga. Ketiga hal ini menyatu dalam tubuh kita dan saling berinteraksi. Ketiga hal ini harus terjadi keteraturan dan keseimbangan. Ruh, adalah sesuatu yang gaip tapi ada. Jiwa dapat dirasakan namun tak tahu dimana dia berada. Raga , nampak dengan jelas namun dunia tercengang ketika mengetahui susunan DNA manusia dalam proses “nyala/padam” dipengaruhi oleh jiwa dan energi suci ( ruh ). Ternyata ketiganya benarlah merupakan satu kesatuan yang harmonis. Tak ada ilmu pengetahuan dunia sekarang yang mampu menjelaskan keseimbangan ketiga hal ini. Terbukti begitu banyak penyakit yang tak ada obatnya. Begitu banyak orang masuk rumah sakit jiwa., Begitu banyak stress. Ini membuktikan relasi antara raga , jiwa, ruh merupakan sebuah system.

Rukun Islam sebuah SOP.. Islam adalah agama syariat yang membutuhkan SOP untuk terlaksananya fungsi manusia sebagai rahmat bagi alam semesta. Berbeda dengan agama tauhid lainnya yang tak dilengkapi oleh SOP dengan ketat dan selalu berharap miracle dari Allah. Manusia akhir zaman adalah manusia yang paling sempurna eskistensinya. Didalamnya ada SOP dan comnpliance yang menyatu. Kehebatan manusia sebagai mahluk terbaik dibanding makhluk ciptaan Allah lainnya adalah terletak dari SOP itu sendiri. Sedikit saja melanggar SOP itu maka system kesempurnaan tidak akan berjalan.

Membaca dua kali masyahadat adalah sebagai bentuk applikasi masuk dalam system SOP. Atau dalam dunia computer ini adalah password. Maklum saja , SOP itu tidak bisa berjalan tanpa memastikan orang yang terlibat adalah orang yang qualified. Syarat untuk qualified adalah dia mengakui Rukun Iman ( In deep trust ). Kemudian, Baca sahadat ! , access terbuka untuk mengikuti SOP kehidupan. Apabila Access terbuka maka didalamnya ada protocol yang harus dilalui. Tak banyak protocol itu , hanya sholat, puasa, zakat dan pergi haji bila mampu. Ini susunan yang harus dilaksanakan secara teratur sesuai urutannya. Tidaka ada gunanya pergi haji kalau puasa malas dan sholat jarang. Tidak ada gunanya berzakat kalau sholat malas. Tidak ada gunanya puasa kalau zakat malas. Ini SOP kita dalam beragama. Harus comply dan tak boleh cacat sedikitpun.

Dalam ritual sholat terdapat gerakan yang menstimulate seluruh organ tubuh kita bergerak secara harmonis. Ini SOP untuk raga kita. Untuk memastikan seluruh organ tubuh kita didalam maunpun diluar bergerak mengikuti irama aliran darah. Tapi agar irama aliran darah itu seirama dengan detak jantung maka kita diwajibkan untuk membaca doa dalam setiap gerakan itu. Doa ( bacaan ) yang khusu akan menimbulkan getaran pada sel saraf otak sebelah kanan dan memadamkan otak sebelah kiri kita. Kita jadi relax dan tentram. Bila dalam sehari lima kali kita melakukan sholat maka secara otomatis dalam sehari tubuh kita di protection untuk tetap stabil ditengah kesibukan otak kiri yang menyesakan untuk melaksanakan syariat mendapatkan rezeki Allah.

Untuk menjaga organ dalam tubuh kita maka SOP berikutnya adalah puasa. Lagi lagi ini berkaitan dengan raga kita. Puasa secara medis kini terbukti untuk menjaga pencernaan kita tetap stabil dan sekaligus beperan membuang racun d ( Toxin ) dalam tubuh. Namun karena raga berhubungan dengan jiwa maka puasapun berinteraksi dengan jiwa kita. Jiwa kita jadi terlatih menahan ambisi untuk tidak rakus, terlatih menjadi sabar menahan selera lahir maupun batin. Ini merupakan system keseimnbangan yang sangat hebat dan menjaga keteraturan berlangsung terus ditengah interaksi yang hebat antara raga dan jiwa. Bila raga dan jiwa stabil maka Ruh akan memperkokoh kedua hal itu. Aura kita bercahaya dan tubuh kita sehat , hngga kita menjadi tangguh untuk menjadi kalifah dimuka bumi untuk menjaga bumi.

Bila jiwa dan raga kita kokoh maka kini saatnya kita memberikan makan kepada Ruh kita. Sesuatu yang gaip namun perlu untuk menjaga energi ruh semakin kuat didalam diri kita. Santapan ruh adalah Zakat. Ini rukun Islam ke empat. Tubuh yang sehat , jiwa yang kuat tentu orang yang hebat. Tentu berharta, berilmu dan kuat. Ini nikmat Allah sebagai konsekwensi mereka menerapkan SOP dengan benar. Tentu secara otomatis manusia akan terdorong untuk membelanjakan hartanya untuk cinta dan kasih sayang. Membelanjakan ilmunya untuk kasih sayang. Membelanjakan jabatannya untuk cinta dan kasih sayang. Ruh hanya berbicara satu hal yaitu Cinta dan kasih sayang dan nutrisinya adalah zakat.

Terakhir adalah pergi Haji, Tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat dan ruh yang bercahaya tentu rindu untuk datang ke baitullah. Ini puncak dari proses SOP ketika orang sampai pada titik kepuasan untuk tak pernah berhenti bersyukur kepada Allah. Puncak dari SOP itu memang berujung kepada rasa sukur kepada Allah. Dari rasa sukur inilah akan lahir manusia yang ikhlas berbagi dan berkorban untuk rahmat bagi alam semesta.

Jadi bila kita melaksanakan Rukun Islam sebagai sebuah SOP maka itu tak lebih adalah nikmat yang Allah berikan kepada kita sebagai manusia. Tidak ada imbalan sorga bila kita hanya melaksanakan SOP sebagai sebuah ritual saja, kecuali bila SOP itu membuat kita tangguh untuk tampil dimuka bumi sebagai penyebar kebaikan, kebenaran, keadilan dalam situasi dan posisi apapun. Bila umat islam masih doyan korup, masih doyan marah, masih doyan zina, masih doyan menumpuk harta malas berbagi , masih doyan zolim, fitnah , malas kerja, malas cari ilmu maka tentu kita tidak menjalankan SOP dengan benar. Kita gagal memenuhi compliance dari eksitensi kita sebagai manusia yang di design oleh Allah dengan sempurna. Kita termasuk orang yang merugi dan tak lebih sama dengan binatang, yang hidup untuk dikorbankan dan mati tanpa makna.

wallahualam

Wednesday, May 12, 2010

al-kautsar

Ketika awal Nabi Muhammad menyiarkan agama islam, tak banyak orang mau mendengarkan seruannya. Umumnya yang tertarik adalah kaum duapha dan hamba sehaya ( budak).. Para pedagang kaya raya dan terhormat di Kota Makkah mengejeknya dan kadang menyakitinya. Nabi tetap teguh dalam menyampaikan risalahNya. Tentu dalam proses perjuangan menegakan kalamulah dapat kita bayangkan tentang sesuatu yang tidak mudah. Nabi , dituntun Allah untuk terus melangkah melewati berbagai rintangan. Bahkan ketika Nabi sampai pada titik terendah semangat perjuangannya, Allah memerintahkan Jibril untuk membawa rasul menuju Mi’raj untuk menghadap singgasana Allah. Ini sebagai cara Allah meyakinkan Rasul untuk jangan lemah dan teruslah bergerak.

Setelah sepuluh tahun di Madinah , setelah sepuluh tahun hijrah dari kota kelahirannya Makkah, Nabi kembali ke kota Makkah dengan 10,000 bala tantara muslim yang siap bertempur bila kaum kafir makkah mengingkari perjanjian Hudaibiyah dan tentu tujuan utama adalah menciptakan perdamaian. Kedatangan Nabi , disambut dengan suka cita oleh penduduk Makkah karena kelompok Kafir dibawah pimpinan Abu Sofian melarikan diri. Nabi dan pasukannya tidak memburu kelompok kafir dan bahkan menghormatinya. Tidak nampak sama sekali sikap Nabi layaknya pemenang perang. Dua puluh tahun perjuangan masa ke Nabiannya yang lebih banyak dukanya berhadapan dengan kaum kafir , tak menyiratkan dendam apapun. Pada saat itulah Allah berfirman Innâ a‘thainâ ka al-kautsar fashalli lirabbika wanhar inna syâni’aka huwa al-abtar “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu Al-Kautsar. Maka salatlah kamu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya pembenci-mu itulah yang akan binasa. (QS Al-Kautsar, 108:1-3).

Ketika sampai pada puncak kemenangan, Janji Allah terpenuhi sudah kepada Rasul “sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata (Q.S. Al-Fath)., namun pada waktu bersamaan Allah memerintahkan Rasul untuk “Sholatlah ( tegakan sholat ) dan berkorbanlah. Allah memberi Alkautsar kepada Rasul. Ini adalah nikmat yang berlebih. Apakah nikmat itu ? yaitu nikmat untuk berbuat kebaikan; dorongan untuk menegakkan kebenaran ( menegakan sholat ), dan ikhlas dalam melakukan apapun karena Allah. TIdak ada perintah Allah untuk menumpuk harta dan kekuasaan setelah mencapai kemenangan. . TIdak ada. Secara universal dapat ditegaskan bahwa perintah kepada orang yang mendapatkan kekuasaan dan harta , ilmu adalah perintah untuk semakin dekat kepada orang miskin, semakin berani menegakkan kebenaran, semakin ikhlas melakukan itu semua.

Orang kaya, berilmu, berkuasa adalah tiga kelompok yang paling bertanggun jawab untuk melaksanakan kebaikan sebanyak mungkin dimuka bumi ini. Karena mereka telah diberi nikmat berlebih oleh Allah dibandingkan orang lain. Ditangan tiga kelompok inilah perubahan dapat terjadi. Semuanya sangat mudah berubah bila dilakukan oleh salah satu dari tiga kelompok ini apalagi bila dilakukan secara berjamaah. Dapat dibayangkan bila orang berilmu, kaya, dan berkuasa berkolaborasi untuk menindas kaum lemah ( duafa ) maka kerusakan secara sistematis dengan korban massive dapat terjadi dengan mudah. Namun bila mereka berkolaborasi untuk kebaikan maka kesejahteraan bagi orang banyak dapat terjadi dengan mudah. Inilah makna dari alkautsar. Diminta kepada orang kaya, berilmu dan berkuasa untuk ikhlas menegakan sholat ( kebenaran) dan berkorban.

Yang menyedihkan diakhir zaman ini adalah orang kaya, berilmu, berkuasa semakin besar kemaruk soal harta. Sangat sulit menemukan orang kaya yang ikhlas berkorban harta untuk orang miskin. Sangat sedikit orang berilmu yang mengajari orang dengan gratis atau tidak mengutamakan bayaran. Sangat sedikit penguasa yang ikhlas mengorbankan kepentingan politiknya demi kebenaran dan keadilan bagi rakyatnya. Mereka ini telah gagal melaksanakan perintah Allah karena kesuksesan mereka tidak dalam berkah Allah dan mereka tentu tidak pantas disebut sebagai Al Kautsar (orang yang banyak memberi untuk jalan meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat).

wallahualam bissawab

Sunday, May 09, 2010

Pertemuan

Tahun 2003 saya pergi menunaikan ibadah Haji. Ketika itu usia saya genap 40 tahun. Saya bersyukur karena dalam usia tergolong muda saya mendapatkan kesempatan melaksanakan ritual rukun islam kelima yang memang membutuhkan phisik yang kuat. Walau keluarga dan teman teman menyarankan agar saya pergi dengan ONH plus tapi saya lebih memilih Haji Generic alias Haji Mandiri. Memang betul betul mandiri. Mengurus diri sendiri tanpa ada guide. Kami mengorganisir diri kami dengan membentuk rombongan. Tentu rombongan itu ada ketuanya. Kami menyebutnya “Karo”. Dari rombongan ini dibentuk lagi regu , yang juga ada ketuanya , disebut Karu. Anda bisa bayangkan qualifikasi anggota rombongan haji mandiri ini. Mereka bukanlah orang kaya berlebih harta. Mereka orang sederhana namun berniat besar untuk pergi haji. Diantara mereka ada yang pekerjaan sehari hari tukang sate di Tanah Abang, yang PNS bukanlah kelas pejabat tapi pegawai rendahan. Umumnya usia mereka tidak lagi muda. Rata rata diatas 40 tahun. Bahkan ada yang sudah diatas 50 tahun. Mungkin saya termuda diantara rombongan Haji dari Tanah Abang – Jakarta Pusat.

Keakraban ketika melaksanakan ibadah haji sangat terasa. Kami selalu bersama sama. Bila ada yang sakit , kamipun bersama sama menolong, Bila ada yang kekurangan uang, kamipun tergerak untuk saling berbagi. Saya menduga kebersamaan itu hanya sebatas melaksanakan ibadah haji. Tapi setelah kembali ketanah air ,kamipun sepakat untuk berhubungan terus sebagai sebuah ikatan keluarga besar ex Rombongan haji tahun 2003.. Acara arisan dan pengajian dijadikan perekat diantara kami. Tak terasa lebih enam tahun berlangsung. Selama kurun waktu itupula kami selalu berkumpul. Bukan hanya diacara rutin, tapi bila ada anggota yang sakit atau menikahkan anaknya , seluruh anggota datang berkumpul. Tak terasa diantara mereka kebanyakan sudah pension dan rumah mereka tidak lagi berada di Jakarta Pusat. Ada yang sudah pindah ke Bandung, Serang, Cikampek, Depok. Tapi walaupun begitu , kami tetap saling berkunjung dalam setiap acara rutin.

Ada yang unik dalam setiap pertemuan itu kami tidak pernah mengundang ustadz untuk memberikan ceramah. Kami membuat kesepakatan diantara kami untuk masing masing harus mampu menjadi penceramah. Tuan rumah yang mendapat giliran acara pertemuan rutin itu akan bertindak sebagai penceramah. Setelah ceramah agama usai, kamipun melakukan diskusi agama. Siapapun bebas untuk bercerita apa saja yang berhubungan dengan akidah dan muamalah. Ketika ada yang cerita, yang lainnya mendengar. Kadang berbagai problem keluarga dan keseharian dikantor, ditempat usaha , dibicarakan., Kami selalu setia menjadi pendengar bila ada yang merasa gundah. Mungkin tak banyak yang bisa kami perbuat namun kebersamaan itu telah memberikan dorongan moral, bahwa kami peduli dan akan salalu saling mendoakan.

Ada teman yang juga pergi haji tiga tahun lalu nampak terkejut ketika mengetahui acara pertemuan rombongan haji saya terus berlangsung. Karena menurut dia , paling lama acara itu dipertahankan selama setahun. Setelah itu saling melupakan. Mungkin karena kesibukan atau memang tidak ada urusan untuk bertemu lagi. Bukankah di era sekarang orang ingin bertemu karena ada kepentingan pribadi yang diukur dari laba dan rugi. Alhamdulillah , bagi kami pertemuan itu bertahan bukan karena kepentingan materi tapi karena kami memang saling merindukan. Bertemu karena Allah dan rindu karena Allah.

Saya tidak tahu apakah kami termasuk haji yang mabrur atau tidak. Yang pasti hal yang sangat sulit dalam hidup diakhir zaman ini adalah mempertahankan silahturahmi tanpa ada kepentingan apapun kecuali karena dorongan cinta Allah. Kerinduan untuk saling menjaga, peduli dan tentu saling mendoakan. Inilah yang sulit. Dan kami telah diuji selama lebih enam tahun untuk semakin dekat dalam ikatan silahruhmi tanpa ada maksuh lain kecuali kecintaan kepada sahabat dengan tulus. Bukankah Silaturahmi adalah kunci terbukanya rahmat dan pertolongan Allah SWT. .

Tuesday, May 04, 2010

Trustee

Suatu saat anda terkejut bila seseorang yang bukan “siapa siapa “ lantas menjadi “siapa” dan dibicarakan oleh orang ramai. Dia tampil di media massa , layaknya selebritis. Masuk dalam deretan orang terkaya. Dia kaya raya dengan berderet perusahaan yang terdaftar di bursa. Anda bisa saja bingung. Pemahaman tradisional bersusah susah dahulu, senang kemudian tak terdengar lagi. Mereka tampil dalam prinsip, bersenang senang dahulu dan , senang selamanya kemudian. Kalau orang berlayar harus berakit tapi dia tak butuh berlayar karena dia ada jet first class yang dapat melintasi samudera luas.

Siapakah mereka itu dan mengapa mereka tampil begitu cepat? Sebetulnya keberadaan mereka tak lebih karena sebuah fenomena management. Dulu sebelum IT system melilit dunia jadi satu, konglomerasi diperlukan untuk menjaring orang dan mengontrol orang secara phisik. Holding company diperlukan untuk membuat orang berbaris lurus kearah kiblat yang sama. Tapi sejak IT system dengan database online terhubung secara virtual maka konglomerasi menjadi cyber. Holding company hanyalah berupa paper company ( nama tanpa phisik ). Para pemodal yang disebut “ Private Investor/equity “ dapat terus mengembangkan usahanya berskala global tanpa diketahui keberadaannya. Jauh dari kejaran media massa , apalagi populeritas

Para private investor itu berlindung dibalik global financial system. Mereka memilik financial resource berskala raksasa dan tersembunyi di undisclosed account Financial Center. Mereka bergerak lincah menggunakan tangan tangan fund manager, lawyer, auditor,financial analysis untuk mengambil alih project , membangun project, menciptakan aliansi /sinergi /kolaborasi. Jaringan tebaran modal tidak lagi masuk kewilayah kertas saham atau obligasi tapi masuk ke jaringan kaum muda yang ambisius dan terdidik. Para kaum muda yang dijadikan target sebagai “trustee “ adalah mereka yang matang karena didikan kampus terbaik atau diperusahaan terbaik. Value kaum muda inilah yang diangkat untuk menjadi “Trustee” sebagai komandan digaris depan; berhadapan dengan karywan, public, mitra, pemerintah untuk memuaskan private investor.

Para trustee itu mendapatkan wewenang yang begitu besar untuk mengembangkan nilai uang dan para private investor menikmati pertumbuhan uangnnya tampa harus berlelah lelah memimpin rapat, menilai laporan keuangan dan sibuk loby sana loby sini. Kehidupan social mereka berbeda dengan trustee itu sendiri. Mereka hidup tak dikenal oleh orang banyak. Mereka tetap hidup sederhana dan bebas menikmati hubungan sosialnya dengan siapapun tanpa terkungkung protocol. Mereka jauh dari media massa. Mereka jauh dari rutinitas management yang menyesakan. Mereka memiliki dirinya sendiri dan tentu mampu mengontrol "sang trustee" lewat IT system yang terhubung dimanapun mereka berada.

Lantas bagaimana fenomena ini terus berkembang dan bahkan menjadi pilihan utama oleh para private equity untuk mengembangkan uangnnya. ? Apakah mereka tidak kawatir akan penyalah gunaan dana atas wewenang yang begitu besar kepada seseorang yang ditempatkan sebagai trustee itu ? Kekawatiran itu sangat kecil sekali. Karena alasan sederhana bahwa business adalah manusia itu sendiri. Mengelola business adalah mengelola manusia dengan menempatkan manusia pada nilai rasa hormat. Dengan prisip inilah potensi seseorang yang tadinya tenggelam menjadi muncul. Kekurangannya menjadi tidak relevan. Itulah yang membuat sesorang yang biasa biasa saja namun ketika ditunjuk sebagai trustee , dia menjadi berkilau.

Itu semua karena menempatkan hubungan yang harmonis antara professional dan pemodal. Sebuah hubungan rasa hormat. Inilah yang kadang terlupakan oleh pemikir kapitalis yang telah membuat konglomerasi hancur dan menjadi beban Negara dan public dengan hutang tak terbilang. Dan fenomena ini sebetulnya kembali kepada fitrah manusia untuk ikhlas berbagi dan saling menghormati…

Berbagi

  Sore jam 5 saya pulang ke rumah. Perut keroncongan.  “ Maaf. Kamu sudah makan ? Tanya saya ke supir taksi. “ Tadi siang sudah pak.” “ Bisa...