Friday, April 25, 2008

Indonesia ku

Saudaraku, bisakah kamu melupakan sejenak tentang Indonesia. Begitu katanyanya kepadaku , ditengah kesedihan. Ketika harapan hablur, ketika ketidak pastian selalu menjadi pasti bagi yang lemah. Putus asa adalah pilihan tanpa bisa memilih. Saya tak bisa menghindar dari semua ini, tentang tanah air. Sebuah negeri, sebuah sejarah tentang heroic, sebuah nama. Apa arti semua ini. Adakah makna tentang tanah air ? Diluar negeri , saya berusaha membaca dengan teliti di papan pengumuman kurs mata uang disamping desk receptionist Hotel. Tidak ada kurs yang berlaku untuk Rupiah. Saya sedih karena uang yang melambangkan legitimasi negara tidak diakui dinegeri orang. Ketika saya kembali ke tanah air, yang nampak di Bendara kedatangan adalah berbagai poster iklan tentang VISA, AMEX, CITIbank Semuanya berbau asing dibanggakan dinegeri ini. Ketika maskapai penerbangan asing yang penuh sesak dan maskapai Garuda yang menyedihka, saya malu dan sedih. Negeri yang saya banggakan ,yang selalu meminta pajak penjualan dan pembelian, meminta saya membayar fiscal keluar negeri. Tapi disetiap sudut kehidupan dan kehiruk pikukan tidak tersedia ruang untuk sebuah negeri bernama Indonesia.

Lantas dimanakah Indonesia ? Inilah yang membuat saya lelah berpikir dan terus bertanya tentang tanah air. Mungkin nama ini hanya sekedar mengingatkan kita tentang masa lalu dan sejarah, yang baru disadari keberadaannya ketika kita ingin mendapatkan izin dan mengisi formulir. Itu saja. Selebihnya adalah kosong tanpa makna , apalagi harapan tentang cita cita adil dan makmur. Cobalah kamu bayangkan, negeri ini memang tidak pernah ada secara substansi kecuali symbol vulgar tentang kekuasaan. Maka jangan tanya soal sense of crisis. Jangan kaget bila semua negara Asia yang terkena kiris ekonomi telah pulih kecuali negeri yang bernama Indonesia. Ekonomi berjalan hanya diatas angka angka tanpa makna seperti lukisan tanpa imaginasi dan rasionalitas. President yang selalu meminta sabar kepada rakyat tapi tak cukup punya nyali melawan kekuatan pemain amatir politik di senayan. Partai partai sibuk menjadi penjarah dan pelindung pengrusakan hutan dan alam.

Kebingungan saya tentang Indonesia, tidak jauh berbeda dengan Samad siburuh tani atau si Dul penjaga pintu kereta. Yang tak pernah mempunyai cukup penghasilan tapi tubuhnya tetap kokoh berdiri. Lantas apa yang diharapkan oleh si Samad dan Si Dul. Mengapa mereka masih betah hidup ditengah ketidak pedulian sebuah system dari rumah besar bernama Indonesia ? Ya, Mereka hidup dalam spirit masa lalu tentang cita cita kemerdekaan , mereka menantinya walau hanya mungkin sebuah kepastian tentang kematian yang sia sia. Karena masalalu , mereka hidup untuk hari ini dan hari esok. Tapi memang harapan dinegeri ini terlalu mahal kecuali harga sebuah Togel.

Ketika saya berjumpa dengan TKI di luar negeri. Dengarlah katanya ketika saya tanya tentang tanah air. “ Saya kangen simbok. “ itu saja.Tidak ada kata kata yang keluar “ Saya kangen Indonesia. “ Saya bisa saja mengganti passport dan menjadi warga negara china atau Canada. Tapi akumulasi kenangan yang buruk dan indah dari perjalanan masa lalu saya tidak mudah dilupakan, sama halnya tentang Indonesia. Yang akan selalu menjadi ingatan tentang masalalu yang heroic penuh darah dan kebanggaan. Itulah yang menyakitkan bila kita setiap hari berharap kepada sebuah nama - Indonesia -, tentang keadilan dan kemakmuran sementara setiap hari kekuatan kita terus berkurang untuk bertahan hidup menghadapi harga yang terus naik. Sampaikan kapan , nama ini tetap membuat kita tegar dalam penantian ?

Saya berusaha menjelaskan sendiri makna Indonesia itu kepada TKI. Bahwa Indonesia adalah sebuah proyek kebersamaan kita. Sebuah kemungkinan yang menyingsing. Sebuah cita cita yang digayuh generasi demi generasi. Sebuah perjalanan yang kita jalani dengan kelelahan. Tanah air adalah sebuah ruang masa kini yang kita arungi karena sebuah harapan hari esok yang lebih baik. Percayalah. Tapi TKI itu menjawab “ saya kangen simbok tapi saya butuh uang. Nanti kalau tabungan saya cukup barulah saya pulang. “ Indonesia ada dan passport pun melegitimasi orang untuk jadi jongos di negeri orang. Tentu untuk sebuah harapan …walau terasing dan terlempar jauh dari negeri sendiri.

“ Jangan menangis kawan. Kita boleh marah dan benci kepada mereka yang membuat kita terhina. Justru itu adalah ujud karena rasa cinta itu sendiri kepada sebuah nama yang kita agungkan, Indonesia. Di kejauhan ribuan mill dari tanah zamrud katulistiwa, airmata mengalir ketika mendengar lagu "Indonesia tanah airku, yang dikarang Ibu Sud :

Tanah airku tidak kulupakan,
Kan terkenang selama hidupku,
Biarpun saya pergi jauh,
Tidak kan hilang dari kalbu.
Tanah ku yang kucintai.
Engkau kuhargai.
Walaupun banyak negri kujalani.
Yang masyhur permai dikata orang.
Tetapi kampung dan rumahku.
Di sanalah kurasa senang.
Tanahku tak kulupakan.
Engkau kubanggakan”.

Kesedihan semakin menjadi jai karena lagu ini , kini sudah jarang terdengar ditelivisi dan radio. Dia sudah digantikan oleh lagu dengan ritme melankolis ala rock atau popsong, bahkan dalam acara gema cipta yang dihadiri president yang terdengar adalah lagu “Imaging.” Dimanakah Indonesia ?..jangan jangan kita sudah menerima bulat kata kata dalam lirik lagu imaging “Imagine there's no countries “

Saya tetap bingung dalam kesedihan sambil berusaha tersenyum ketika petugas imigrasi mengecap passport saya dan berkata “ Selamat datang di Tanah Air…” Ya..negeri yang tak kulupakan dan engkau kubanggakan...

Tuesday, April 22, 2008

Tentara

Awalnya istilah strategy yang kini dikenal luas dalam mengelola masa depan organisasi adalah berasal dari “ strategos dan stratos serta agein” Dalam bahasa Yunani srategois dan strator artinya adalah tentara , agein adalah menjalankan. Jadi jelas sekali bahwa istilah strategy itu ada dalam ketentaraan dan agen sebagai pihak yang melaksanakan langkah operasional. Bila ada tentara tentu ada pula tujuan untuk menghadapi musuh dalam konteks peperangan. Tentu pula tujuannya untuk mencapai kemenangan secara total. Makanya kata strategy berkembang pula dalam Ilmu kiat managemenet yaitu berupa POAC ( planning, organizing, Actuating dan controlling).

Namun bagaimanapun hebatnya istilah yang diungkapkan oleh ilmu management, tidak akan mengurangi hakikat awal istilah strategi. Dalam kehidupan modern, dalam kontelasi global dewasa ini, peperangan bukanlah suatu kerja kolektif belaka. Ia melibatkan banyak unsur masyarakat dan beresiko besar, termasuk nyawa manusia. Maka ia harus dipikirkan secara menyeluruh untuk melahirkan keputusan kondisional menetapkan tindakan tindakan yang harus dijalankan guna menghadapi masa depan yang tidak pasti. Artinya, ia berupa rencana “alpha “ untuk menghadapi kerjadian “A” , rencana “beta” untuk menanggulangi rencana “B” dan lain lain.

Sejalan dengan kehidupan di era reformasi sekarang dimana tentara tidak lagi berperan penuh dalam kehidupan social politik, ekonomi maka tidak perlu kita juga apriori dengan keampuhan tentara, khususnya kehebatan ABRI menjaga stabilitas keamanan , politik, ekonomi selama masa orde baru.. Para militer yang berada dalam pusat kekuasaan tempo dulu dengan jumlah militer yang hanya sebanyak 500.000 orang , terbukti mampu meredam segala gejolak social,politik dan ekonomi dengan populasi rakyat sebanyak 160 juta orang. Ini bukanlah pekerjaan mudah dan murah. Tentu diperlukan keahlian luar biasa mengelola segala factor yang cepat sekali berubah ditengah tuntutan emosi, intelektual yang juga berkembang seiring kesadaran masyarakat akan hak haknya.

Karena militer yang berkuasa kala itu dengan dikomandani oleh jenderal yang juga ahli strategy maka segala kekuatan eksponen bangsa ditempatkan sebagai bagian dari “tentara” untuk mencapai cita cita nasional. Berbagai “tentara” dibidang ekonomi , pertanian, industri, perdagangan, yang melibatkan angkatan professional atau sipil dan angkatan yang dipersenjati atau ABRI, diniscayakan untuk menanggapi, menyiapkan serta mengendalikan setiap kegiatan operasional guna membangun ketahanan nasional menuju masyarakat yang adil dan makmur. Berhubung kegiatan operasional ini berinteraksi dengan budaya local dan kepentingan dunia international maka “tentara” yang diterapkan menjadi geostrategi. Artinya terjadi hubungan yang tidak bisa dipisahkan antara geopolitk dan geostrategy.

Maka hubungan antara geostrategi dan geopolitik bagai lepat dengan daun. Sama-sama punya makna substansial sendiri, namun bila digabungkan menghasilkan nilai total yang jauh lebih besar daripada jumlah nilai individual masing-masing. Di samping itu peralihan dari politik ke strategi ( “ tentara” ) merupakan peralihan dari "kata" ke "perbuatan". Politik menyatakan tujuan-tujuan, menggambarkan lawan. Berdasarkan data itu strategi ( “tentara”) memformulasikan sasaran, menetapkan agen- agen demi pencapaiannya dalam ruang dan waktu. Ketahanan Nasional Pemerintah dahulu pernah memiliki "angan-angan strategis". Ia disebut "ketahanan nasional" atau national resilience, bersendikan ide-ide utopis yang mengambang. Di era reformasi sekarang jarang sekali dikumandangkan, ia bisa difungsikan kembali dengan syarat dibuat "membumi".

Memaknai tentara dalam konteks bela negara seharusnya ketahanan nasional merupakan gabungan yang terdiri dari pertama , wilayah , penduduk. Kedua, .System nasional ,yang meliputi tata kerja, dan tata negara yang mencerminkan derajat kemampuan, kematangan dalam berorganisasi. Ketiga, kemapuan ekonomi. Keempat adalah Kemampuan militer. Keempat hal ini haruslah replikasi dari tekad nasional yang bermuara pada ;pertama , sikap mental ( attitude atau akhlak mulia ) dari terbentuknya negara, kedua, kecerdasan masyarakat untuk menguasai Iptek, strategy nasional yang merupakan unsur utama dari pemikiran manusia yang lahir dari kesadaran manusia untuk menciptakan keseimbangan demi memenangkan komplik yang timbul dari ketidak pastian alam.

Sehebat apapun dan sebesar apapun negara yang menguasai wilayah yang luas, system nasional yang tangguh , kemampuan ekonomi raksasa, kemampuan militer yang tangguh, namun selagi salah satu dari muara dan modal tekad nasional seperti attitude, kecerdasan , strategy nasional lemah maka negara itu tetap lemah dan renta dari segala kekuatan luar yang masuk atau ketahanan nasionalnya rapuh. Begitupula sebaliknya. Itulah yang sekarang terjadi di AS ,yang sedang dilanda resesi ekonomi. Satu demi satu perusahaan AS dikuasai oleh China. Sementara konglomerat AS melarikan dananya untuk berinvestasi di China. Terakhir Bank of Amerika diambil alih oleh China Construction Bank. Juga dengan Singapore yang mulai kawatir dengan ketahanan nasionalnya. Dimana semakin banyaknya warga Singapore yang berimigrasi ke Australia dan Canada hanya karena attitude penduduk Singapore yang materialistis dan individualistis serta tidak pernah merasa memiliki semangat kebangsaan.

Reformasi tidak seharusnya merombak yang baik tapi lebih kepada penerapan law enforcement . System demokrasi ala barat tidak sesuai sebagai strategy nasional Indonesia untuk mencapai tujuan nasional.. Seperti kata Napoleon “ Politik dari seatu negara melekat dengan geographi mereka. Juga menurut Bismarck “ yang tidak pernah berubah dalam politik negara negara adalah geographi. Dan lagi apakah demokrasi ala AS adalah pilihan yang tepat ? Filosof politik Prancis, Alexis de Tocqueville, setelah melihat sendiri kedinamikan demokrasi Amerika, berujar "A democratic power is never likely to perish for lack of strength or of its resources, but it may very well fall because of the misdirection of its strength and the abuse of its resources." Dan telaah geostrategis dan geopolitis sangat membantu memahami kebenaran ujaran tersebut. Kekuatan ketahanan nasional kita sangat bergantung dari akar budaya keindonesian kita sendiri yang dirumuskan secara apik dalam Pancasila, bukan dari cara orang lain. Itu pula yang diyakini oleh China hingga mampu menjadi negara besar yang kuat.

Friday, April 04, 2008

Kanibalisme


Tanggal 13 Mei 1968, Revolusi Kebudayaan China, mereka menangkap Zhou dan membunuhnya. Tubuhnya dipotong potong. Jantungnya dimakan mentah mentah. Kaki dan kepalanya digantung didepan pasar kota, Wuxuan. Beribu ribu orang menontonnya. Janda, Zhou pun diseret kesana untuk melihat. Perempuan yang sedang hamil tujuh bulan itu diperintahkan untuk membuka bajunya. Ia menolak. Tapi seorang pemuda revolusioner, memaksa merenggut bajunya dari belakang. ” Terlalu kurus untuk dimakan ” kata pemuda itu setelah melihat tubuh kerempeng wanita itu dalam keadaan telanjang. Dalam ketakutan teramat sangat wanita itu melihat para pemuda revolusioner sedang memakan jantung suaminya dan sebagian ada pula yang sedang memakan kemaluan suaminya. Ini kanibalisme. Budaya binatang. Dengan wajah dan mulut berlumuran darah , para pemuda itu berkata

” Ini suami mu ?

” Ya. ..” jawab wanita itu dengan rasa takut.

‘ Dia corruptor, dia penghisap darah rakyat, dia maling , benarkah ?

‘ Ya, Benar ‘ Suara wanita itu ketakutan, Dia sadar bahwa berkata “ tidak” adalah mengundang kematian.

Itulah gambaran sekilas tentang yang terjadi ketika Revolusi Kebudayaan yang menguncang China di paruh kedua tahun 1960 an sampai dengan tahun 1975 memang ganas. Ini perlawanan kaum proletar yang benci dengan kapitalisme. Marah kepada segala antek dan agent yang mengakibatkan kapitalisme tumbuh subur di china. Yang telah membuat rakyat terpinggirkan dan korupsi meraja lela disegala sektor. Kemarahan yang revolusioner. Kemarahan yang menggiring ribuan para cerdik pandai, dosen, terpelajar, kekamp kerja paksa untuk masuk program brainwashing dan membunuh puluhan juta pejabat korup dan kaum berjuis.

Sulit dipahami oleh semua kita tentang revolusi yang selalu bau amis darah. Namun revolusi adalah suatu pilihan seperti kata Mao “, biarkan saja kehancuran terjadi , kelak pembangunan terjadi dengan sendirinya”. Revolusi Kebudayaan seperti usaha membakar ladang dengan tuntas , dan Deng sebagai suksesor Mao , tinggal menanami ladang yang telah terbakar dan mengantar Tiongkok menuju lompatan raksasa seperti yang pernah direnungkan olen Napoleon.

Mengenang ”Revolusi Kebudayaan ” , bagi china adalah mengenang sisi gelap. Tidak ada satupun warga China yang menginginkan jam berdetak mundur kemasa gelap itu. Kemajuan yang begitu pesat disegala sektor paska revolusi kebudayaan telah membuat mereka gamang dengan segala impikasi buruk seperti masa lalu. Koreksi demi koreksi adalah ujud dari ketakutan masa lalu yang gelap. Dari sinilah mereka belajar dari sejarah untuk hari esok yang lebih baik. Namun tetap saja Partai Komunis China tidak bisa mentolir apapun setiap perbedaan. Suatu cara yang diyakini dari keberadaan ideology, yang memang tidak ada yang sempurna

Apakah kanibalisme dibenarkan ? Tentu tidak ! Ini budaya terendah dari peradaban manusia modern. Kita mengutuk setiap tindakan kanibalisme atau kekerasan yang mengakibatkan orang lain teraniaya secara phisik. Itu pula yang menjadi dasar para budayawan dan pemikir sosiologi abad kini yang menempatkan HAM kekerasan adalah kejatahan laten yang harus diperangi. Tapi , semua lupa, bahwa kebijakan publik yang mengakibat orang tidak mampu lagi membeli kebutuhan pangan dan akhirnya mati kelaparan adalah kanibalisme secara systematic dan lebih dahsyat daripada kanibalisme phisik.

Seharusnya , kita sebagai bangsa yang kaya dengan sejarah gelap, menyadari bahwa revolusi bukanlah hal yang tidak mungkin terjadi. Kita juga sadar bahwa tidak ada satupun pemebenaran logika terjadinya revolusi , yang akan menimbulkan kemarahan untuk tegaknya keadilan. Kita semua sadar bahwa tidak ada keadilan dalam keadaan marah, kecuali kezoliman. Seharusnya kita sadar pula bahwa setiap revolusi selalu diawali oleh pertikaian kelas dan terampasnya rasa keadilan bagi mereka yang tertindas. Anehnya , kita baru menyadari rasa kemanusiaan kita terampas ketika kita diperlakukan seperti Zhou yang menjadi korban kanibalisme rakyat marah. Sebelumnya, kita asyik saja menciptakan anarkis kebijakan ; membuat rakyat tak berdaya membeli kebutuhan hidupnya dan kita menyuburkan sikap hidup egoistis , yang sehigga sebetulnya kita menanam benih munculnya kebrutalan itu sendiri. Sadarlah sebelum terlambat. Itu lebih bijak daripada memukuli massa demontran yang anarkis , yang justru akan menyuburkan darah revolusioner dikalangan mereka yang tertindas.

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...