Posts

Showing posts from March, 2022

Menumpang tawa di tempat ramai

Image
  Tadi saya sedang di kantor Unit bisnis oil and gas di kawasan TB Simatupang. Saat di ruang rapat saya dapat SMS dari teman. “ Papa di rumah sakit kena stroke tadi pagi. Mohon doanya om” Yang WA anaknya. diperlihatkan photo teman saya. Saya terkejut. Pada hal hari ini saya ada janji dengan dia ketemu di kantor saya. Membahas soal rencana bisnis. Saya perlihatkan kepada Frolerence. Dia terkejut. “ Hidup adalah ketidak sempurnaan. Yang sempurna adalah kematian itu sendiri.” Kata saya. “ Ya. “ Kata Florence. “ Orang kaya, kadang ingin seperti orang miskin yang bisa hidup nyaman tanpa tekanan berkompetisi. Orang miskin kadang ingin seperti pengemis, yang bisa bebas tanpa pusing kerja keras bayar bill. Pengemis kadang ingin hidup dipenjara yang tapa meminta dapat makan tidur gratis. Hanya kematian yang menghentikan keinginan. Karenanya semua mereka tidak ingin sakit.” lanjut Florence. “ Tapi orang kaya kadang melihat orang miskin bersukur karena hidupnya tidak kekurangan. Orang miskin bers

Standar hidup orang berbeda.

Image
  “ Belilah karena kebutuhan. Jangan berlebihan perturutkan keinginan. Apalagi itu hanya sekedar untuk dapatkan pengakuan. itu hanya akan membuat anda hidup dalam kepalsuan.” Demikian standar moral bagi siapa saja. Sama juga dengan ungkapan.” Lakukan sex karena cinta. Jangan lakukan tanpa cinta. Apalagi merasa punya uang dan harta. Merasa mudah dapatkan cinta dimana saja” Saya mampir ke Cafe di UC Pondok Indah. “ Udah lue pelajari proposal  gua. Berapa berani bayarnya? Tanya Shanti. Dia mendirikan perusahaan itu bersama sepupunya 10 tahun lalu. Dan kini dia ingin berhenti. Mau menikmati hidup santai. Berharap utang ke Yuni bisa lunas dan masih ada sisa untuk memanjakan diri. “ Saya katakan. Dari jumlah utang kamu, tidak ada lagi tersisa yang harus saya bayar. Kamu keluar besok. Lawyer saya akan datang. “ Kata saya tersenyum. “ Loh kata investment manager saya, value perusahaan saya diatas perkiraan kamu. Gimana sih” katanya terkejut. “ IM kamu itu hanya jual jasa ilusi. Dan dia dapat f

Peluang..

Image
  Pada tahun 1980, Dengxioping naik ke puncak kekuasaan sebagai orang nomor 1 di China. Yang pertama kali dia sampaikan kepada elite Partai komunis adalah, “ Siapa kita? nothing. Kita tidak punya cukup devisa untuk mendatangkan tekhnologi. Tidak punya SDM hebat karena banyak orang pintar meninggal saat revolusi kebudayaan. Mental rakyat sedang berada pada titip terendah. Infrastruktur ekonomi minim. Tapi kita punya sumber daya raksasa. apa itu? para saudara kita yang ada diperantauan. Mereka yang menikmati alam kebebasan selama kita tidur dan terkekang dalam sistem tertutup. Mereka ada diseluruh dunia. Kita paling tahu siapa mereka, Karena kita adalah mereka juga. Mereka menguasai pasar, dan kita sediakan barang untuk mereka. Mereka second class di negara lain, kita jadikan mereka first class di Tiongkok. Singkatnya sediakan karpet merah untuk mereka datang. Tahun 2003 saya masuk China. Saya kaget. Banyak teman teman yang dulu sales di Jakarta. Mereka sudah punya bisnis di China. Kalau

Focus ke diri sendiri

Image
  Negeri kita adalah negeri demokrasi. Namun diramaikan oleh Politik yang bising. Suka bicara omong kosong. Oposisi yang hipokrit dan kaum intelek yang nyinyir. Soal Label halal saja masuk ke ranah poltik. Dibahas dalam talk show TV. Dibicarakan oleh rakyat lewat sosial media. Seremonial pembangunan IKN yang sederhana, dianggap sirik dan anti aqidah. Bahkan wacana penambahan kekuasaan Presiden 2 tahun disikapi berlebihan. Bahkan dengan ancaman mengerikan. Chaos politik. Padahal demokrasi itu dasarnya adalah konstitusi. Negara demokrasi yang berkuasa adalah Hukum dan UU. Sistem kekuasaan terdistribusi secara sistematis. Setiap kebijakan negara pastilah dasarnaya konstitusi. Kalau memang hak memperpanjang kekuasaan presiden itu ada pada MPR, ya kalau ada wacana, sikapi biasa saja. Toh anda dan saya bukan anggota MPR. Soal Label Halal, itu sudah masuk ranah UU yang memisahkan pemberi fatwa ( MUI) dengan pelaksana pengawasan Fatwa ( pemerintah). Terima saja sebagai sebuah konsesus. Mengapa

Memberi...

Image
  Pernah saya keluar dari Plaza Indonesia jalan kaki ke arah Grand Indonesia. Waktu nyeberang. Ada sepeda yang jual minuman saset tersenggol kendaraan. Sepeda itu huyung dan jatuh. Tidak fatal. Namun kendaraan yang senggol itu tidak berhenti. Saya dekati pedagang itu. “ Engga apa apa nak? tanya saya. Dia menatap saya sebentar. “ Engga apa apa pak. “ Saya bantu dirikan sepedanya. Air dalam termos tumpah. Termos juga rusak. Setelah dagangannya yang jatuh saya bereskan. Saya pinggirkan sepedanya. Dia nampak menangis. “ Ada apa nak? tegur saya menepuk bahunya. “ Saya barus seminggu dagang. Modal beli termos belum balik. Setiap hari saya hanya dapat uang Rp. 20.000. Yang dagang udah rame di sini.” Katanya. Saya menyimak. “ Saya engga tahu lagi gimana dapatkan uang. Rumah kontrakan udah harus bayar hari ini. Anak saya sudah setahun engga sekolah.“ Katanya mengusap air mata. “ Tadi kamu kerja? “ Ya saya kuli bangunan. Tapi sekarang sulit dapat kerjaan.” “ Kenapa engga pulang kampung aja” “ Di

Pria itu

Image
Seribu kali saya jelaskan bahwa persepsi saya tentang wanita tidak seperti anda. Pastilah ditertawakan. Karena persepsi anda itu sudah menjadi persepsi mayoritas. Bahwa bohong kalau pria tidak tergoda kepada wanita yang dalam keadaan pasrah. Boong setia kepada istri. Saya maklum.  Makanya saya  tidak berusaha memaksa anda percaya saya kalau persepsi saya beda. Saya akan mengajak anda mengarungi wahana lain. Masuk dalam sebuah melodrama anak manusia. Semoga anda bisa pahami. Setiap hari anda berhadapan dengan tekanan dari mitra, direksi, kreditur, teman. Mereka membutuhkan solusi dari anda. Walau mereka sumberdaya anda, mereka tetap liabilities bagi anda. Sementara setiap hari anda harus berhadapan dengan kompetisi.  Dikejar komimen. Dikejar target. Semua itu harus anda selesaikan.  Mengapa ? Karena tekanan itu tidak bisa dihadapi dengan alasan. Tidak butuh retorika. Mereka butuh tindakan anda yang menguntungkan mereka. Soal anda rugi atau jadi korban. Mereka tidak peduli. Diatas anda t

Perang dan keadilan

Image
  “ Apapun saya tidak setuju perang. Karena itu mencabik cabik rasa kemanusiaan. Yang menang dan kalah sama sama rusaknya. “ Kata teman. Saya bisa maklum. Lebih maklum lagi hidup ini memang tidak ramah. Tuhan saja ciptakan Setan agar baik dan buruk bersanding. Ini takdir manusia. Perang terus terjadi. Tetapi karena itu peradaban bergerak ke depan. Perubahan terjadi kearah yang lebih baik. Di alam semesta, antar atom saling menghilangkan. Antar planet saling berbenturan dan meledak. Antar hewan juga saling makan. Itu drama kehidupan yang Tuhan bentangkan.Agar kita bijak. “ Kalau kamu inginkan keadilan. Maka pastikan kamu kuat dan mampu menciptakan keadilan pada diri kamu sendiri. Kalau engga, jangan salahkan orang lain perlakukan kamu tidak adil. “ kata mentor saya waktu saya masih muda. Saya kerja keras, belajar keras, dan keras kepada diri sendiri. Lewat proses waktu, saya berkali kali jadi korban predator bisnis. Saya tidak kutuki itu. Tetapi ketika saya kuat,saya berusaha bersikap a

Ilmu pengetahuan.

Image
  Di dunia ini negara besar mengindikasikan mereka pemilik perpustakaan besar. Masuk dalam  urutan kelas dunia. Inggris: British Library ( Urutan 1 terbesar di dunia) AS : Library of Congress (2), New York Public Library (4), Boston Public Library (16) , New York State Library (17) , Harvard Library , Yale Library (18). China :Shanghai Library (3) National Library of China (10) Rusia :Russian State Library (6) National Library of Russia (11). Jepang : National Diet Library (7). Denmark: Royal Library, Denmark.  Perancis : Bibliothèque nationale de France (9). German : German National Library (12) , Berlin State Library (15). Spanyol : Biblioteca Nacional de España (13). Swedia : National Library of Sweden (19). Ukrania : Vernadsky National Library of Ukraine (20). Iran : National Library of Iran (21).  Negara negara tersebut. Dalam sekian dekade mampu mengikuti perubahan dunia dan menjadi unggul berkat ilmu pengetahuan.    Waktu remaja ibu saya provokasi untuk datang keperpustakaan itu