Posts

Showing posts from October, 2019

Menteri Agama ?

Image
Saya sebetulnya tidak mau menulis opini sekitar pro kontra menteri agama bukan dari NU tetapi dari Militer. Namun saya terpancing untuk meluruskan saja. Bukan beropini salah atau benar. Karena bila berangkat dari persepsi berbeda, pasti tidak akan ada persesuaian. Ini kalau diteruskan, akan saling menyakiti dan tidak ada yang untung. Malah persaudaraan kita sebagai muslim akan rusak. Sekali lagi saya katakan, ini bukan opini tetapi hanya sekedar meluruskan dan menempatkan secara proporsional. Pihak yang kontra terhadap Menteri Agama bukan berasal dari NU, itu hanya datang dari orang perorang warga NU. Dalam istilah KH MA Sahal Mahfudh (2013) disebut politik tingkat rendah (siyasah safilah). Sedangkan NU sebagai lembaga atau organisasi, steril dari politik semacam itu. NU sebagai lembaga tidak mengejar kekuasaan. Tidak. Kecuali kalau diminta. Kepedulian NU sebagai organisasi terhadap politik diwujudkan dalam peran politik tingkat tinggi ( siyasah ‘aliyah samiyah ) yakni politi

Egaliter

Image
Dulu tahun 80 an. Saya selalu menggunakan baju berdasi dalam aktifitas saya sebagai pengusaha. Pejabat menggunakan baju model safari. Sementara orang kantoran pakai seragam. Orang awam menggunakan baju orang kebanyakan. Dengan model pakaian itu kelas sudah terbentuk dengan sendirinya. Bahkan pengusaha kalau ingin bergaul dengan pejabat atau politisi, harus pula mengenakan pakaian safari. Orang terpelejar, berbicara dengan bahasa indonesia tetapi dibumbui dengan bahasa inggris. Keren. Di era Orla , bahkan di era kolonial, perbedaan itu semakin nampak. Kaum terpelajar dari kelompok saudagar, tokoh masyarakat, pejabat, selalu menggunakan pakaian lengkap ala barat. Baju berdasi dan jas. Mereka kumpul di restoran atau cafe dengan pakaian seperti itu. Yang jelas orang yang tidak mengenakan pakaian seperti itu jelas tidak punya kelas untuk masuk cafe. di era Orba, saya masih bisa merasakan suasana itu, kalau lagi nongkrong di cafe yang ada di Hotel Indonesia, atau Presiden Hotel. Di te

Drama

Image
Semua suka nonton Film. Soal film apa, itu tergantung dari wawasannya. Kalau orang awam lebih suka film yang jalan ceritanya mudah ditebak dan pahlawan selalu menang. Bagi orang yang terdidik, suka film tentang futuristik yang berhubungan dengan sains. Mereka suka juga film misteri yang membutuhkan kecerdasan memahami alur cerita. Namun pada umumnya orang engga begitu tertarik membayar ticket bioskop untuk film yang bertema pendidikan. Tapi kalau temannya percintaan atau action atau agama namun didalamnya terselip pendidikan, itu bisa diterima. Mengapa ? persepsi orang yang nonton film itu sama yaitu butuh hiburan. Ya, kalau ada hiburan yang menawarkan kebohongan dan kepura puraan yang terancang dengan baik, maka itu adalah film tontonan. Film itu dibuat dengan perencanaan yang sangat detail. Dari penulisan skenario, penentuan artis atau aktor berserta piguran, scene pengambilan gambar, penentuan lokasi shooting, penentuan pakaian, tekhnik editing dan design graphis, animasi, da

Reputasi di hadapan Tuhan

Image
Tadi saya amprokan dengan teman lama di kantor BKPM. Saya sempat lupa tapi dia berusaha mengingatkan siapa dia. Saya segera merangkulnya. Dia datang ke BPKM untuk izin perluasan pabrik kelapa sawitnya. Dia bermitra dengan temannya dari KL. Saya kagum dengan dia, bukan hanya setelah melihat dia sukses sekarang tapi pribadinya adalah inspirasi saya sejak dulu ketika kami masih belia. Namanya iwan. Dia pria yang baik. Walau dia sudah yatim sejak usia 10 tahun. Namun dia punya akhlak baik. Sekolahnya hanya tamat SMU. Saya mengenalnya waktu di pelelangan ikan di kota saya. Setiap pagi iwan membantu nelayan mengangkut hasil tangkapan ke pelelangan. Dari itu dia dapat upah. Dia tinggal di masjid, di ruang paviliun. Setiap subuh saya sering mendengar suara azan yang dilantunkan oleh Iwan. Suaranya merdu sekali. Masuk SMU saya tidak lagi bertemu dengan Iwan. Karena dia pindah ke kota lain. Kami bertemu lagi ketika di rantau di Jakarta. Saya bertemu dengan dia di tanah Abang. Dia juala

Strata sosial dan sikap mental

Image
Suatu saat saya berkumpul dengan teman teman lama sewaktu kami muda dulu. Sekarang situasinya berbeda dengan puluhan tahun lalu. Diatara kami berada di strata berbeda. Jadi bisa bayangkan gimana suasana kalau kumpul. Lebih didominasi oleh mereka yang berada di strata umum. Karena mereka paling banyak diantara teman teman saya itu. Sementara kami yang berada di strata menengah dan atas, lebih banyak diam dan tersenyum. Karena apapun argumen kami pasti tidak akan bisa diterima mereka. Tapi bagaimanapun mereka semua adalah sahabat. Kami harus saling bijak menyikapi perbedaan berpikir. Semua tentu tahu kan apa itu piramid. Itu bangunan yang lebar di bagian bawah dan mengerucut sampai keatas. Nah, strata sosial juga seperti itu bentuknya. Bagian bawah paling banyak komunitasnya, semakin keatas semakin sedikit komunitasnya. Saya akan bahas masing masing strata tersebut berdasarkan pengamatan praktis saya. Strata terbawah yang paling banyak komunitasnya adalah komunitas yang menganda

Perbedaan dan Radikal

Image
Politik pecah belah AS. Graham F seorang ex CIA yang kemudian menjadi Analis bidang politik timur tengah mengatakan bahwa ISIS yang menciptakan adalah AS. Tetapi Professor Noam Chomsky punya pendapat lain. Tentu tidak tepat Pemerintah AS berada dibalik terbentuknya ISIS. Tetapi kalau AS di balik pemikiran terbentuknya ISIS itu ada benarnya. Ini bagian dari politik memecah belah umat islam. Itu yang dilakukan oleh direktur rekontrusi IRAK, Paul Bremer paska serangan AS ke Irak tahun 2003. Paul Bremer sangat sadar bahwa kekuatan bangsa Irak adalah persatuan. Tadinya di Irak tidak ada kompik SARA. Semua aman aman saja. Kecuali kelompok separatis etnis Kurdi, yang kebetulan Islam Syiah. Tetapi walau Sadam itu bermahzab Sunni, dia tidak pernah meminggirkan kaum syiah di Irak. Oleh Paul Bremer, kerukunan beragama inilah yang dipecahnya dengan menghapus dialog antar golongan dan memperuncing perbedaan. Tentu dia menggunakan kelompok yang didukungnya untuk membenci kelompok lain. Sehing

Narasi yang tak sudah

Image
Saudaraku... Tahun 2016, umat bersatu dari segala penjuru berdatangan ke Jakarta dengan lantunan Takbir untuk membela fatwa Ulama. Kamu tahu, kan? Suara Imam besar kita meraung ditengah lautan manusia membakar semangat persatuan. Pemimpin kafir itu harus jatuh. Jakarta harus dipimpin oleh orang beriman. Oleh orang yang mendapat restu dari Ulama. Hidden power Islam di aktualkan dalam aksi 411 dan 212. Tapi apa yang terjadi setelah itu? Orang kafir memang kalah di Pilkada DKI. Imam besar hengkang ke luar negeri dengan kasus yang memalukan. Narasi besar yang kita perjuangkan harus berhadapan dengan Pedang Hukum yang sangat tajam. Presiden mengeluarkan PERPPU Ormas karena itu. HTI dibubarkan. Yang lain terancam kalau tidak patuh kepada Pancasila. Kita meradang marah. Tetapi hanya sebatas marah yang harus dipendam dalam sakit tak terungkapkan. Betapa tidak? 10 tahun SBY berkuasa, kita mampu menghadang setiap rencana ingin mengubah Undang Undang Ormas. Tak ada kekuatan politik yang pun

Keseimbangan Kekuasaan, jagalah...

Image
Hal yang saya tidak suka dari Soekarno dan Soeharto adalah mereka berdua cenderung inginkan kekuasaan berlebih. Soekarno dengan demokrasi terpimpinnya. Hasilnya, ekonomi bangkrut. Soeharto dengan ekonomi Pancasila. Hasilnya juga bangkrut ekonomi. Itu bukan mereka tidak didukung rakyat luas, tetapi hukum ekonomi itu dikuasai oleh pemodal. Hal yang tak disukai pemodal adalah apabila kekuasaan itu terlalu besar. Apa ciri khasnya? Apabila presiden tidak lagi menghormati lembaga wakil rakyat atau parlemen. Presiden selalu menggunakan berbagai cara untuk berkuasa diatas institusi lainnya. Itu engga sehat, dan pasti berujung melemahkan kekuasaannya. Sebaliknya saya juga engga suka kalau presiden terlalu lemah. Sehingga mudah di kontrol oleh parlemen. Ya saya suka apabila sistem kekuasaan itu seimbang dan terus berjalan diatas keseimbangan. Saya engga suka presiden menerima begitu saja UU KPK yang baru. Karena pada pasal dewan pengawas, peran DPR masih ada untuk menentukan anggota. Pada