Posts

Showing posts from April, 2009

Jangan kecewa ?

Image
Pemilu kali in berbicara tegas. Bahwa sosialisme telah kalah dinegeri ini. Agama dipinggirkan dan tak laku dijual diranah politik. Demokrat tetap unggul diatas kanvas bursa, pasar , serta dunia iklan. Ada yang mengharukan ketika sebagian berbicara tentang masa depan Indonesia yang penuh kekeluargaan dan gotong royong, kita memandang ruang kosong dimana singgah sebuah nostalgia : gema lagu “ padamu negeri, barisan buruh , tani, nelayan yang mengibarkan bendera dan menuntut hak, seperti dalam film documenter “rebut Irian “ , orang yang berkorban dalam komune bela negara. Kini semua itu tak lagi nampak dalam berita sehari hari. Heroisme punah. Solidaritas berkutat pada kekuatan modal dan media massa. Ada yang ganjil rasanya. Dulu dilukiskan Bung Karno Indoesia kedepan adalah kejayaan nusantara. Hatta berteguh hati masa depan Indonesia adalah kemerdekaan ekonomi yang tidak berbaiat pada sosialis ,apalagi kapitalis. Kecuali namanya Ekonomi Pancasila. Adakah masa depan kini sebuah masa lamp

Prabowo ?

Image
Tak salah bila kita melihat kebelakang. Optimistis pernah ada dulu. Ketika era Soekarno, seorang sosialis berdiri tegak untuk lahirnya The new Emerging force. Dunia terkejut, Indonesia berteriak garang. Kekuatan Indonesia menyelimuti seluruh dunia. Setelah itu berbagai proyek berkelas nasional maupun internasional dibangun. Tapi tak ada sesungguhnya pembangunan karena semua itu dibayar melalui hutang luar negeri. Era Soeharto , era pembangunan untuk menuju lepas landas. Semua kekuatan politik dibungkam dan dipaksa untuk masuk dalam barisan sang jenderal. Projek bersala raksasa bertaburan diseluruh pelosok negeri namun lagi lagi semua itu dibayar dari hutang luar negeri. Tak ada sesungguhnya pembangunan kecuali melampiaskan syahwat penguasa un untuk dipuja. 2009 , pesimisme ada. Dimana gerangan harapan itu ? Sepuluh tahun lalu orang remai menangis haru didepan tv ketika mendengar Soeharto membacakan maklumat untuk mundur. Haru , karena sang dictator tua sudah lengser. Tentu ada cahaya

Data dan Demokrasi

Image
Sang dictator berorasi didepan public. Orang mendengar , rasa takut menyelimuti untuk tidak siap mendengar. Walau sebetulnya tak ada yang patut didengar. Karena semua tahu bahwa tak ada kata sang dictator yang dapat dipercaya kecuali keculasannya , arogansinya. Sebab sang diktaror bicara tanpa data yang dapat dipercaya. Data bagi sang dictator tidak diperlukan kecuali kata kata dan ancaman. Kebencian kepada sang dictator lebih kepada keinginan untuk kebebasan. Dari kebebasan ini tentu akan lahir keterbukaan. Sehingga aspirasi kolektive terbangun untuk saling berbagi saran , juga koreksi. Maka lahirlah namanya demokrasi. Para menteri dan pejabat di era demokrasi kini suka sekali berbicara tentang data dan informasi yang mereka kutip dari berbagai sumber. Kemudian dari data tersebut, mereka bicara tentang indeks pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan ,angka produksi, angka inflasi, dan lain sebagainya. Dari data inipun mereka bicara bahwa mereka berhasil atau kalaupun ada masalah merekap