Friday, April 10, 2009

Jangan kecewa ?

Pemilu kali in berbicara tegas. Bahwa sosialisme telah kalah dinegeri ini. Agama dipinggirkan dan tak laku dijual diranah politik. Demokrat tetap unggul diatas kanvas bursa, pasar , serta dunia iklan. Ada yang mengharukan ketika sebagian berbicara tentang masa depan Indonesia yang penuh kekeluargaan dan gotong royong, kita memandang ruang kosong dimana singgah sebuah nostalgia : gema lagu “ padamu negeri, barisan buruh , tani, nelayan yang mengibarkan bendera dan menuntut hak, seperti dalam film documenter “rebut Irian “ , orang yang berkorban dalam komune bela negara. Kini semua itu tak lagi nampak dalam berita sehari hari. Heroisme punah. Solidaritas berkutat pada kekuatan modal dan media massa.

Ada yang ganjil rasanya. Dulu dilukiskan Bung Karno Indoesia kedepan adalah kejayaan nusantara. Hatta berteguh hati masa depan Indonesia adalah kemerdekaan ekonomi yang tidak berbaiat pada sosialis ,apalagi kapitalis. Kecuali namanya Ekonomi Pancasila. Adakah masa depan kini sebuah masa lampau ? Saya tidak tahu. Soekarno meninggal dalam keterasingan dengan ide idenya. Hatta meninggal dalam impiannya yang tak terwujud. Seakan kematian itu mencerminkan padadox pemikirannya. Soeharto ingin melanjutkan impian itu namun tersungkur oleh tesis kebingungan antara social dan kapitalis. Tak ada yang selesai. Semua masa lampau adalah kebingungan , hari kini kita masih tetap bingung.

Sebetulnya yang membingungkan adalah kebencian kita tentang tidak adanya keadilan ekonomi. Biang persoalan itu lebih disebabkan oleh kapitalisme yang tak pernah mati. Kapitalisme mencangkokkan dirinya ketubuh perawan, dan marak di koloni koloni kampus sekuler dan kaum elite partai. Kapital belum mati. Ia masih sibuk menghimpun lebih banyak capital lagi lewat cara cara lain ditengah keterpurukannya akibat ulahnya sendiri. Pemilu kali ini membuktikan bahwa Indonesia bukan Venezuela atau Bolivia. Disini darah revolusi telah habis. Semangat sudah layu. Yang tersisa adalah penyakit lama, berharap uluran tangan asing menyelesaikan masalah APBN. Selebihnya adalah kosong.

Padahal kalau kita diam sebentar dan menutup mata dengan semua tesis diluar. Maka kita akan bertemu dengan “subjectivitas”, pengembangan diri, dan menjadi bagaimana dirimu sendiri”. Dengan ringkas, sesuatu yang punya kemerdekaan buat tumbuh dan menjadi. Kapiltasime meringkus itu dan membuat manusia merasa dirinya hanya hadir diluar kerjanya, dan kerjanya…berada diluar dirinya. Proses aliensi itulah yang menyebabkan kerja dan rakyat lemah kehilangan martabat. Tapi bagi rakyat itu tak lagi dipikirkan. Mereka hanya tahu bahwa pemerintah yang kini berkuasa mampu membagikan uang tunai langsung. Itu lebih mengena daripada janji kedepan, apalagi mengangkat pemikiran masa lalu yang hanya ada dalam konsep tanpa ada bukti sejarah kemakmuran.

Pemilu telah terlaksana. Hasilnya untuk sementara pemerintah yang kini berkuasa menguasai mayoritas suara rakyat. Pemikiran tentang masa lalu terbukti tak laku dijual. Gema revolusi system ketinggalan jaman. Gema agama kehilang ruh. Lagi lagi, rakyat bersikap untuk tak mau lagi berpikir tentang masa depan. Siapapun yang bisa menawarkan sesuatu yang kongkrit masa kini maka dialah pemenang. Rakyat tak peduli bila semua itu didapat dari hutang luar negeri yang menjebak. Sumber daya alam yang tergadaikan kepada asing dengan segala jargon kapitalisme penghisap darah.

Pilihan rakyat adalah cermin realitas kita semua. bahwa tak ada lagi nostalgia , juga tak ada impian masa depan. Itulah harga dari demokrasi yang kita pilih. Jangan kecewa !

Saturday, April 04, 2009

Prabowo ?

Tak salah bila kita melihat kebelakang. Optimistis pernah ada dulu. Ketika era Soekarno, seorang sosialis berdiri tegak untuk lahirnya The new Emerging force. Dunia terkejut, Indonesia berteriak garang. Kekuatan Indonesia menyelimuti seluruh dunia. Setelah itu berbagai proyek berkelas nasional maupun internasional dibangun. Tapi tak ada sesungguhnya pembangunan karena semua itu dibayar melalui hutang luar negeri. Era Soeharto , era pembangunan untuk menuju lepas landas. Semua kekuatan politik dibungkam dan dipaksa untuk masuk dalam barisan sang jenderal. Projek bersala raksasa bertaburan diseluruh pelosok negeri namun lagi lagi semua itu dibayar dari hutang luar negeri. Tak ada sesungguhnya pembangunan kecuali melampiaskan syahwat penguasa un untuk dipuja.

2009 , pesimisme ada. Dimana gerangan harapan itu ? Sepuluh tahun lalu orang remai menangis haru didepan tv ketika mendengar Soeharto membacakan maklumat untuk mundur. Haru , karena sang dictator tua sudah lengser. Tentu ada cahaya terang menyelimuti negeri ini menuju hari esok yang lebih baik. Kita optimis. Ada kebebasan untuk sebuah kebersamaan dalam kesatuan. Melihat kebelakang adalah kebencian tersembunyi. Pancasila kita aminin namun tidak untuk diucapkan maupun dilaksanakan. Semua hal yang dulu dijadikan kekuatan oleh Soeharto adalah keterbelakangan yang tak perlu lagi diingat. Cukup sudah. Kini eranya reformasi. Maka demokrasi adalah keputusan yang benar.

Era reformasi mencatat dengan baik segala dosa masa lalu orde baru. Seminar dan tulisan seakan mengekalkan bahwa Orde Baru adalah order bau. Bau darah dan kekerasan. Kedepan adalah hari esok untuk meniru semua hal yang nampak baik dari Barat /AS. Para lulusan AS/Barat menjadi bintang panggung politik. Kata katanya didengar melebihi pituah sang kyai. Media massa mencatat semua dogma tentang semangat demokrasi karena laku dijual untuk orang ramai yang haus akan kebebasan. Tak jelas lagi apakah berita itu benar atau salah. Yang penting kebebasan adalah milik semua anak bangsa. Semua orang menjadi kolumnis dan analisis politik. Maka kebebasan menjadi penuh sang wasangka dan bertaburah disemua media massa.

Ditengah keasikan mencatat hal hal tentang Orde Bau dan The New Emerging Force, di Era Reformasi kita tersentak ketika pemujaan tentang demokrasi , tentang kebebasan, pada akhinya adalah kebebasan modal dan pasar,. Lambat namun pasti berbagai regulasi dilahir disenayan, dan semua mengarah kepada kebebasan , namun utamanya adalah kebebasan modal dan pasar. Ini resep ampuh untuk menarik dana investor asing masuk uintuk mengurasi harta negeri dan menjadi anak bangsa sebagai kuli dinegeri sendiri. Tak penting siapa memiliki apa , yang penting rakyat dapat bekerja sebagai kuli dan negara mendulang pajak dari itu semua. Maka neoliberal adalah bagian tak terpisahkan dari jargon era reformasi.

Kehebatan Era Reformasi adalah kehebatan media massa. Elite tidak perlu lagi datang menemui petani atau buruh untuk bicara tentang pembangunan. Semua cukup media massa menyampaikannya. Para elite gemar menggunakan data statistic untuk mengukur setiap indek prestasi fiscal dan moneter. Tak jelas apakah data itu benar atau salah. Angkapun bertaburan diberbagai seminar untuk bicara tentang solusi dan prestasi. Tapi rakyat tak juga paham bila pada akhirnya harga semakin mahal , penghasilan menurun dipangkas inflasi, dan..akhirnya tak ada lagi yang murah , apalagi gratis. Layanan public dan perusahaan public milik negara telah berganti baju menjadi perusahaan berbaju wall street. Antara yang membuat aturan, pengawasi dan pelaksana terjalin konspirasi efektif. Maka reformasi juga adalah distribusi kekuasaan secara systematis untuk melahirkan korupsi secara systematis pula tapi ini sudah menjadi pilihan dan hutang luar negeri bertambah dua kali lipat dari jumlah hutang Orde Baru yang berkuasa 32 tahun

Kini orangpun tersentak. Pesimis terjadi dimana mana ketika ditahun 2008 dimusin Panas kebanggan tentang AS/Barat luluh lantak. Wallstreet terjerambab dengan segudang skandal keuangan terbesar sepanjang sejarah. Lembaga keuangan ber Rating tinggi gagal bayar CDS, CDO, CMO. Para elite politik Barat/AS mulai berkata “‘ini semua akibat kebebasan pasar dan modal” . Merekapun mengakui bahwa biang dari persoalan itu semua karena konsep neoliberal yang dipaksakan hingga akibatnya tak ada lagi yang mengawasi. Semua baru menyadari bahwa demokrasi bukan lagi berarti kebebasan tapi adalah kepemimpinan yang tegas untuk menjaga aturan. Maka sosialis mendapatkan angin untuk berkata “ Kami benar “

Di tahun 2009, ditengah pesimisme , orang dikejutkan oleh tampilnya jenderal baret merah mencalonkan diri sebagai president, putra dari seorang sosialis dan berkarir cemerlang dibawah bayang bayang Soeharo, dan akhirnya terlempar ke luar lingkar kekuasaan oleh kasus yang tak selesai. Dia adalah Prabowo Subianto. Dia tak ingin bicara tentang sosialis , juga tak ingin berbaiat dengan kapitalis. Dia hanya berkata tentang “gotong royong dan kekeluargaan “ untuk lahirnya Indonesia yang perkasa bagaikan garuda membelah angkasa. Mungkinkah ini sebuah awal optimisme ditengah pesimisme akibat masa lalu yang selalu salah memilih ?

Wednesday, April 01, 2009

Data dan Demokrasi

Sang dictator berorasi didepan public. Orang mendengar , rasa takut menyelimuti untuk tidak siap mendengar. Walau sebetulnya tak ada yang patut didengar. Karena semua tahu bahwa tak ada kata sang dictator yang dapat dipercaya kecuali keculasannya , arogansinya. Sebab sang diktaror bicara tanpa data yang dapat dipercaya. Data bagi sang dictator tidak diperlukan kecuali kata kata dan ancaman. Kebencian kepada sang dictator lebih kepada keinginan untuk kebebasan. Dari kebebasan ini tentu akan lahir keterbukaan. Sehingga aspirasi kolektive terbangun untuk saling berbagi saran , juga koreksi. Maka lahirlah namanya demokrasi.

Para menteri dan pejabat di era demokrasi kini suka sekali berbicara tentang data dan informasi yang mereka kutip dari berbagai sumber. Kemudian dari data tersebut, mereka bicara tentang indeks pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan ,angka produksi, angka inflasi, dan lain sebagainya. Dari data inipun mereka bicara bahwa mereka berhasil atau kalaupun ada masalah merekapun berkeyakinan dapat mengatasinya karena lagi lagi didasarkan oleh data. Ketika mereka berbicara maka tak ubahnya sang dictator berbicara. Hanya bedanya sang dictator ditakuti karena suka memukul namun politisi democrat dicibirkan karena suka melawak lewat data dagelan.

Demorkasi adalah Keterbukaan ( disclose ) tentang data dan informasi. Tidak ada artinya sebuah keterbukaan bila data dan informasi tidak benar. Bagaimana suatu inisiatip lembaga demokrasi dapat menjawab segala tuntutan rakyat bila data dan informasi yang dipakai untuk mengambil kebijakan tidak akurat ? Diatas banyak symbol tentang berbagai hal yang bernama demokrasi tak lebih hanyalah bentuk lain untuk melegalkan dictator cara lama bila keinginan untuk membangun system data dan informasi tidak diterapkan secara tepat.

Komunitas dari petani, nelayan, pedagang, industriawan dan lain sebagainya bicara tentang demokrasi maka itu adalah keterbukaan segala hal yang berkaitan dengan lingkungan, kesehatan, pendidikan, resource , distribusi, produksi. Pertanahan, kependudukan, perburuhan/ketenaga-kerjaan dan moneter, fiscal, hukum. Semua program demokrasi soal pembangunan komunitas hanya mungkin bila didukung oleh system data center yang qualified and up date. Data dan informasi ini tidak hanya diperlukan untuk lahir berbagai program tapi juga sebagai alat interaksi untuk lahirnya pengendalian langsung antar rakyat dengan rakyat, antar pemerintah dengan rakyat,antar lembaga pemerintah.

Tak akan nampak sebuah idealisme tentang nilai nilai demokrasi bila data dan informasi tidak terbangun dalam sebuah system yang terintegrasi. Tidak akan ada sebuah kebijakan yang bisa dikatakan legitimate sesuai nilai demokrasi bila tidak didukung data dan informasi yang benar. Karena sekecil apapun data dan informasi tentang apa saja, harus menjadi bagian tak terabaikan dan menjadi amanah. Walau itu hanya sekian permil data dan informasi dari total data komunitas nasional. Setiap data adalah pesan yang sacral untuk diperhatikan , dipikirkan , dilaksanakan dengan berbagai kebijakan untuk rakyat.

Sejak awal reformasi , program e goverman sudah dicanangkan. Tujuannya adalah membangun data center nasional ( e-government ) yang terintegrasi dalam UU dan aturan disemua tingkatan pemerintahan ( multi sectoral). Dengan system ini maka siapapun, dimanapun, kapanpun, dapat mengakses data tersebut secara ontime, real time untuk lahirnya perencanaan , pengendalian, pelaksanaan yang accountability, legitimate lahir batin. Tapi sepuluh tahun berlalu , system ini tidak pernah terealisir. Kalaupun ada maka sifatnya tidak terintegrasi dan E governman hanya digunakan sebagai alat memudahkan kerja , bukan sebagai bagian dari sytem pengelolaan untuk lahirnya transparency .

Semua itu kita pahami karena sebuah bukti menjelang pemilu demokrasi bahwa Data Pemilih tidak akurat. Tidak ada satupun pihak yang dapat disalahkan. Lagi lagi itu membuktikan system demokrasi yang kini kita banggakan memang hanya sebuah symbol tanpa ada kemauan untuk lahirnya disclose ( keterbukaan) secara sytematis. Maka jangan pernah berharap akan ada nilai nilai demokrasi yang dapat kita hasilkan dan rasakan dalam pemilu , seperti menerima kalah secara terhormat; Nilai nilai persatuan terancam, kemarahan menanti, kekecewaan terhampar, semuanya karena yang kuat yang menang. Bukan kejujuran dan kebenaran yang menang. Mengerikan dan menyedihkan.

Persahabatan …?

  Sejak  minggu lalu, sejak saya membuat keputusan perubahan susunan Komisaris perusahaan, setiap hari email datang dari Yuni dengan nada pr...