Posts

Showing posts from April, 2007

Kekuatan Komunitas?

Image
Dengan dalih globalisasi dan kesataraan , perdamaian dan kemerdekaan yang dikemas oleh bangsa barat untuk mengkampanyekan paham demokrasi telah membawa bangsa kita hanyut dalam jargon tersebut untuk akhirnya mengesampingkan paham ideologi Pancasila. Akar budaya bangsa indonesia adalah gotong royong dan kebersamaan dalam jalian musyawarah untuk mencapai tujuan bersama. Jadi akar budaya bangsa indonesia sebetulnya anti demokrasi dimana mayoritas mengontrol minoritas. Kemudian , dulu juga Indonesia tidak menerima paham sosialis marxis yang memberi hak negara mengontrol masyarakat untuk mengorganisir dirinya sendiri , termasuk hak individu untuk beragama. “ Kita harus menjadi bangsa mandiri. “ itu yang disampaikan oleh teman ketika kami berdiskusi tentang kehidupan berbangsa bernegera. “ tapi “ lanjutnya “ Bagaimana kita mau mandiri ? Politik saja kita masih meniru paham negara lain. Demokrasi bukan produk bangsa kita. Demokrasi adalah hasil eksport bangsa barat kepada kita . Nah kalau da

Mencintai Sahabat

Image
Seorang laki laki berjalan menempuh perjalan kesebuah kampong. Dijalan laki laki itu bertemu dengan seseorang dan terjadilah dialogh. “ Kemanakah tujuanmu, hai sanak ? “ Aku ingin mengunjungi seorang sahabat didesa sana “ jawab laki laki itu “ Bukankah itu perjalan yang jauh, Mengapa anda harus bersusah susah menempuh perjalan jauh demi seorang sahabat? Apakah ada maksud lain dari kunjungan itu?” “ Maksud kamu “ Laki laki itu nampak bingung akan arah pertanyaan itu. “ Maksudku, apakah kamu pernah berhutang jasa kepada sahabat itu sehingga mengharuskan kamu membalas dan menghormatinya. “ “ Tidak. Tidak ada maksud lain kecuali karena saya mencintai sahabat saya itu. Silahturahmi haruslah dibangun tanpa ada maksud lain selain kecintaan kepada sahabat dan beribadah kepada Allah.” Laki laki itu menjawab sambil berhias senyuman. Seseorang itu terperangah dengan jawaban indah itu. Kemudian berkata kepada laki laki itu “ Ketahuilah oleh mu, bahwa aku adalah malaikat yang diutus oleh Allah

Generasi yang salah

Image
Hampir sebagian besar para orang tua yang menyekolahkan anaknya , mengharapkan agar kelak anaknya dapat menjadi pegawai negeri atau swasta. Yang pegawai negeri diharapkan jadi pejabat. Yang pegawai swasta diharapkan kelak jadi manager atau direktur. Seakan dunia bekerja adalah dunia yang menjanjikan masa depan cemerlang. Mungkin karena sebagian besar kelompok menengah di Indonesia yang berhasil menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi berlatar belakang pegawai. Para orang tua hanya mengenal dunia “ Work and Reward “ yang serba pasti. Bayangan kehidupan wiraswata yang serba tidak pasti bukanlah tempat aman dan harus dihindari kecuali kesempatan kerja sudah tidak ada lagi. Ini bawaan yang salah dari generasa yang salah. Para wiraswasta diabad modern ini bukan lagi penyedia kebutuhan pasar tapi mereka pencipta kemakmuran dan perubahan. Sikap mental wiraswasta yang tangguh menghadapi kompetisi, kreatifitas yang tinggi serta kemampuan mengikuti perubahan adalah asset bangsa yang tak

Cermin yang salah

Image
Disuatu sudut jalan , sang anak jalanan meringis bersandar didinding halte bus. Usianya mungkin belum genap 10 tahun tapi sudah merasakan kepedihan yang teramat sangat. Dari kepalanya mengucur darah segar dan menutupi hampir setengah wajahnya. Anak itu tidak menangis. Matanya memancar marah namun tak berdaya. Dia baru saja berkelahi mempertahankan uang disakunya yang akan dirampas oleh preman dewasa. Uang tetap lepas dari tangannya namun dia sudah tampil sebagai petarung gagah berani ditengah rimba ibu kota. Kelak bila dewasa anak ini akan terlatih menghadapi kekerasan dan akan menjadikan itu untuk bertahan hidup. Tidak ada bedanya dengan sekelompok mahasiwa IPDN/STPDN Jawa Barat yang tak berdaya ditangan seniornya. Mereka dipaksa kalah oleh arogansi para senior. Kekalahan yang harus dibayar dengan sepak dan pukulan , yang kadang berakhir dengan kematian. Kelak , para pradja ini akan tampil sebagai pemimpin kota yang akan menularkan sikap keras itu dengan menindas rakyat kecil. Menggus