Posts

Showing posts from June, 2016

Mengendalikan harga?

Image
Dalam rapat persiapan Lebaran tanggal 26 April 2016 lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta harga-harga pangan jungkir balik turun, berbeda dengan Lebaran tahun-tahun sebelumnya. Ini adalah pemerintah seorang kepala negara kepada semua jajaran pemerintah baik  di pusat maupun di daerah. Tapi kekuasaan presiden tidak bisa menjangkau pasar. Karena sejak reformasi kita menganut ekonomi pasar. Dulu era Soeharto ada BULOG ( badan usaha logistik ) namun di era reformasi di ganti statusnya dari badan menjadi persero atau badan hukum perusahaan yang wajib laba. Lantas mengapa Jokowi sampai meminta agar harga komoditas turun? karena ketika di masih menjabat walikota solo dan gubernur jakarta di berhasil mengendalikan harga pangan termasuk daging. Gimana caranya. ya karena memang sejak tahun 2008, Pemda berada di garis depan mengendalikan inflasi melalui pengendalian harga di pasar, terutama harga sembako.  Caranya ? pemda di beri wewenang untuk membentuk badan usaha yang bertindak sebagai

Menilai keimanan Jokowi?

Image
Ada seseorang facebooker dengan begitu saja memberikan penilaian tentang sosok pribadi Jokowi yang di ragukan ke islaman nya, hanya karena Pemerintah akan mencabut Perda yang berpotensi menghambat  investasi dan tidak mendukung persatuan. Saya terhenyak ketika membaca postingan ini yang di kirim oleh sahabat saya. Usia saya sudah diatas 50 tahun. Saya lahir di era Soekarno dan tumbuh dewasa di era Soeharto sampai kini. Tidak pernah terdengar orang menghujat pribadi Presiden sekeras era Jokowi. Apa salah Jokowi terhadap mereka ?  Secara pribadi dia adalah seorang muslim yang telah menyempurnakan rukun islamnya.  HIdup nya sederhana.   Ayah dari anak anak yang baik. Anak anaknya tumbuh dan berkembang tanpa bayang bayang kekuasaan yang di milikinya. Berlatar belakang sebagai pengusaha tanpa ingin hidup sebagai jongos. Bersikap jelas sebagai presiden, dimana dia harus patuh dengan UUD dan UU. Dia sadar bahwa apapun tindakannya apabila melanggar UUD dan UU adalah pengingkaran terhad

Santai saja..

Image
Di china seiring tumbuhnya ekonomi dan meningkatknya jumlah kelompok menengah , penyakit kanker juga meningkat. Padahal sebelumnya tidak begitu. Apa penyebabnya ? Apakah karena makanan dan lingkungan yang buruk ? Tidak. Sebagian besar penyakit yang bersifat wabah sudah tidak ada lagi di China karena semakin besarnya perhatian pemerintah terhadap lingkungan yang sehat. Ternyata penyebabnya adalah lebih karena gaya hidup.  Gaya hidup yang doyan kerja keras dan menjadikan uang sebagai tujuan utama hidup telah membuat tingkat tekanan hidup semakin tinggi. Faktor berkompetesi ala kapitalis telah membuat jiwa mereka rapuh. Setiap hari mereka merasa terancam akan kegagalan dan kebangkrutan.  Terancam kehilangan pekerjaan . Terancam tidak di hormati oleh keluarga karena pendapatan yang menurun.  Karenanya mereka jarang menggunakan waktu senggang bersantai. Walau mereka kadang berada di lingkungan yang memanjakan namun pikiran mereka tidak pernah santai. Selalu berpikir tentang uang dan ma

Hidup berbagi...

Image
Waktu makan malam dengan mitra yang juga sahabat saya, kami saling pandangan ketika melihat salah satu mitra saya tertidur di depan meja makan seusai makan malam. Sahabat saya yang tertidur itu memang termasuk paling tua diantara kami bertiga. Usianya sudah 68 tahun. Salah satu sahabat saya berkata " lihat dia" katany menunjuk teman yang tertidur " 10 tahun lalu dia hanya tertidur kalau ada tempat tidur. Dia selalu sibuk. Andaikan waktu bisa dia beli dia akan beli karena 24 jam sehari tidak cukup untuk memenuhi ambisinya. Kini dia menua. Dua anaknya tinggal di Canada. Istrinya ikut anaknya di Canada. Di masa tuanya di hidup sendiri di Hongkong dan dilayani oleh pembantu. Sangat menyedihkan". Ada rasa iba melihat sahabat saya seperti itu.  Tapi inilah hidup. Dia telah menentukan pilihannya dan dia merasa bahagia melewatinya. Kalaupun kini dia merasa kesepian, dia akan baik baik saja walau mungkin bukan cara hidup yang menentramkan di masa tuannya. Bagaimana d

Mengelola nafsu

Image
Ada komunitas budha terletak di Lembah Larung Gar dengan ketinggian 4.000 meter, sekitar 15 km dari kota Sêrtar, Prefektur Garze di wilayah Tibet Kham. Desa tersebut berada pada ketinggian 12.500 kaki dari permukaan Laut. Untuk mencapai wilayah ini bukanlah pekerjaan yang mudah, kota besar terdekat adalah Chengdu, yang berjarak 650 kilometer serta memakan waktu 13 sampai 15 jam dengan kendaraan. Namun tidak semua wisatawan bisa masuk ke wilayah ini.  Wilayah ini adalah pusat komunitas budha terbesar di dunia. Kehidupan di wilayah ini sangat sederhana. Tidak ada kehidupan modern.Tidak ada listrik. Tidak ada musik. TIdak ada internet. Tidak ada telp. Tidak ada toilet. Tidak alat pemanas. Tidak ada kendaraan. Jadi kemana pergi di wilayah itu harus jalan kaki yang menyusuri bukit di tinggian 4000 meter. Di tempat inilah berdiri Serthar Buddhist Institute yang di huni 40.000 biarawan dan biarawati. Sebagian besar di huni oleh biarawati. Melihat cara mereka melaksanakan ibadah dan mela

Beragama...

Image
Sedari kecil saya sudah Islam karena lahir dari keluarga yang beragama Islam.Beriman satu hal tapi mendapatkan hidayah itu lain hal. Namun yang tak pernah saya berhenti bersyukur kepada Allah adalah keimanan itu datang bersamaan dengan hidayah datang melalui orang yang saya cintai. Memang  proses mencapai itu panjang.  Didikan agama tidak hanya saya dapat dari kedua orang tua tapi juga dari Nenek dan paman saya. Kebetulan baik ibu saya, Nenek maupun paman saya adalah aktifits keagamaan. Jadi saya di besarkan oleh keluarga yang memang aktifis keagamaan..Tentu cara mereka mendidik saya tidak hanya sebatas bagaimana agama diyakini tapi bagaimana di apply dalam bentuk spiritual sosial. Dari ibu saya di tekankan " jangan pernah meninggalkan sholat. Karena sholat itu sebagai penghubung antara kamu dengan Allah. Dengan sholat, Tuhan ada di hatimu dan Tuhan akan menjagamu siang dan malam. Yakinlah kamu akan selalu baik baik saja selagi Tuhan hadir di hatimu."  Dari ayah saya , s

Markiah...

Image
Seusai bersibuk dengan aktifitas keseharian ,saya pulang mendekati dini hari. Walau malam telah menjemput namun Jakarta masih ramai. Masih ada beberapa tempat yang terhalang macet. Entah apa sebabnya. Ketika lampu merah , mata saya tertuju kepada wanita yang duduk di pinggir jalan. Di sampingnya ada baskom tempat dia menjual sesuatu. Di sampingnya nampak juga anak balita yang tertidur beralaskan kain. Wanita itu menatap saya dan mendekati kendaraan saya. Saya bukan kaca jendela kendaraan. Dengan tersenyum, dia menawarkan dagangannya. Saya membalas senyumnya seraya menanyakan namanya. Dia menyebut dirinya Markiah. Singkat saja nama itu. Ya, Markiah seperti wanita lainnya yang terseret arus kota yang sulit ramah kepada seorang janda miskin. Kemana suaminya? entahlah. Ketika saya beli susu kedelai yang dia tawarkan, dia tampak lelah namun tegar. Tentu. Ketika saya beri uang tanpa membeli daganganya, dia menolak dengan halus. Saya merasa terjatuh berkeping keping. Ya Tuhan maafkan aku