Wednesday, August 22, 2012

Berjamaah


1 ) Tahukah kamu ( orang ) yang mendustakan agama?( 2) Itulah orang yang menghardik anak yatim, ( 3 ) dan tidak menganjurkan memberi makan fakir miskin. ( 4 ) maka celakalah bagi orang yang sholat ( 5 ) ( yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya, ( 6 ) orang yang berbuat riya, ( 7) dan enggan ( menolong dengan ) barang yang berguna. ( QS AL Ma’un )***

Tahukah anda bahwa ada cara memberikan pinjaman dengan keuntungan yang pasti. Ini sangat pasti. Yang diberi pinjaman tidak mungkin berkelit. Bunga yang didapatpun lebih dahsyat dibandingkan bila anda mendapatkan keuntungan dari investasi derivative pasar uang. Tapi produk derivative pasar uang lebih banyak kalahnya daripada menangnya. Dan ini pasti menang. Kata teman saya. Saya terkejut apa arah pertanyaan dari teman ini. Mungkinkah ada program investasi seperti itu ? Kemudian dia membaca firman Allah “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan (Al-Baqarah [2] ayat 245). Saya terpesona. Ayat itu memberikan dua kemungkinan. Pertama bila memberikan pinjaman kepada Allah maka dijamin pasti untung berganda dan kedua, bila tidak bersedia , maka pasti rugi. Karena Allah lah yang menyempitkan dan melapangkan rezeki kita.  Ketika kita berinvestasi dijalan Allah pada waktu bersamaan kita telah menjadi mujahid untuk menjadi wakil Allah menegakkan keadilan dimuka bimi ini untuk pembebasan mereka yang terantai tangannya akibat kemiskinan.

Wahana untuk berinvestasi dijalan Allah itu , dibentangkan Allah dihadapan kita setiap hari. Ada banyak orang miskin karena berbagai sebab, Ada anak yatim, piatu bertebaran.  Apakah ada cara efektif untuk mengelola investasi dijalan Allah itu menjadi suatu gerakan efektif melahirkan peradaban yang dirahmati Allah. Tanya saya ? ada , jawabnya. Bahwa gerakan itu sudah diajarkan oleh Rasul lewat sholat berjamaah. Ritual Sholat berjamaah ini merupakan ujud kebersamaan dalam seiman untuk mendapatkan ridho Allah. Tak ada yang merasa lebih tinggi dibanding yang lain. Tak ada yang merasa hebat dibandingkan yang lain, Tak penting siapa yang memimpin. Semua ruku dan sujud kepada Allah. Namun ritual sholat ini akan menjadi sia sia dan bahkan Allah mencap orang sholat sebagai orang yang "celaka". Apa pasal ? Karena mereka lalai melalukan spiritual social dalam membantu mereka yang miskin, para yatim, piatu. Dan bagi yang tidak mampu memberi namun tidak mau menganjurkan maka dicap sebagai pendusta agama. Itulah yang dikatakan Allah dalam surat Al Ma’un. Tapi kalau gerakan sholat berjamaah itu dituangkan dalam gerakan berjamaah memberi dan menganjurkan untuk membantu mereka yang miskin , yatim, piatu maka tujuan islam sebagai rahamatan lilalamin tercapai sudah. Itulah nilai islam sesungguhnya.

Sebagaimana sholat memang tidak dilarang sendirian tapi alangkah lebih baiknya dilakukan secara berjamaah, kata teman saya. Begitupula dalam gerakan spiritual social, bagi yang kaya raya tentu tidak salah bila mereka membangun project social atas nama dirinya atau lembaganya  tapi alangkah lebih baiknya bila pembangunan itu dilakukan secara berjamaah. Karena ketika berjamaah, semua yang beriman mendapatkan kesempatan untuk terhindar dari golongan pendusta agama. Tak penting berapa yang bisa mereka berikan untuk kegiatan amal , yang penting adalah nilai kebersamaan, nilai berjamaah berbuat karena Allah , ikhlas karena Allah. Itulah yang penting. Dari kebersamaan ini akan lahir masyarakat yang berempati untuk menjadi kumpulan mujahid dalam menegakkan keadilan kepada mereka yang lemah. Saya teringat dengan pituah ibu saya, bunda mengatakan bahwa gerakan Muhammadiah dan Aisyiah adalah gerakan dakwah untuk mengajak orang dalam satu barisan berjamaah sholat tapi tidak dicap sebagai pendusta Agama oleh Allah.

Makanya berbagai program Muhammadiah dan Aisyiah seperti membangun sekolah untuk orang miskin, panti Asuhan , Klinik dll tak lain adalah wahan investasi dunia akhirat bagi siapa saja yang beriman. Ketika kita mendapaktan proposal dari pengurus pembangun dan  kita ambil bagian dalam pembangunn project social itu  dalam kapasitas kemampuan yang kita berikan, kita sedang menolong diri kita sendiri.  Yakinlah. Majalah America Health edisi Mei 1988 memaparkan hasil penelitian akademis yang menakjubkan tentang adanya hubungan langsung antara memberi dengan kesehatan jiwa maupun raga. Penelitian itu diadakan di Michigan ( AS) yang membuktikan bahwa orang yang tidak pernah beramal jauh lebih banyak penyakit dibandingkan orang yang beramal tanpa mengharapkan imbalan apapun. Artikel ini menguraikan manfaat lain yang didapat dari hasil penelitian itu, bahwa memberi dengan ikhlas meningkatkan sistem kekebalan tubuh, menurunkan kadar kolestrol , memperkuat kerja jantung, mengurangi rasa nyeri didada, dan pasti terhindar dari sifat stress.

Dua tahun lalu ibu saya berniat untuk mendirikan Panti Asuhan khusus untuk putri. Dengan niat karena Allah, lahan investasi bagi orang beriman digelar dengan ditandai menyewa bangunan untuk tempat tinggal panti. Uang sewa dibayar apabila ada dermawan memberikan sadaqah. Sejak itu, kampanye dakwah mengajak orang sholat agar tidak dicap pendusta agama dilakukan lewat proposal, dakwah tatap muka, pendekatan pribadi  dan lain lain. Berjalannya waktu, jumlah anak panti semakin bertambah dan kini , Panti itu bersiap siap untuk keluar dari tempat sewa. Pembangun rumah panti sedang berlangsung setelah tanah wakaf didapat dari hamba Allah. Sehari setelah Lebaran, Bunda mengajak saya untuk melihat pembangun project Panti itu. Dengan wajah berseri dan bersemangat, bunda menceritakan detail pembangun itu. Saya terharu. Dalam usia senja, dalam serba keterbatasan, beliau tetap bersemangat untuk berjuang demi Kalamullah. Tak nampak lelah. Kadang penyakit datang padanya namun lewat begitu saja, tubuhnya tetap tegar dan sehat untuk melangkah, untuk cinta dan kasih sayang, untuk menjadi wakil Allah demi tegaknya keadilan bagi simiskin, yatim lagi piatu.

Akhir kunjungan melihat pembangun itu bunda berkata kepada saya, ketika kita  berbuat dan berkorban dijalan Allah , itu tandanya kita  sedang melaju  dijalan  tanpa hambatan untuk mencapai kesuksesan dunia akhirat. Jangan ragu untuk berbuat karena Allah. Hidup ini hanyalah permainansaja. Harta yang kita genggam tak akan bernilai apapun. Ia akan bernilai bagi pribadi kita bila digunakan untuk mencari ridho Allah. Berbagilah, berkorbanlah dijalan Allah, maka kemudahan dan kelapangan hidup didunia maunpun akhirat akan kita dapatkan. Janji Allah pasti. Bagi anda yang berminat untuk ambil bagian dalam pembangunan Panti Asuhan itu , silahkan salurkan melalui rekening Bank Mandiri KCP Tanjung Karang, Bambu Kuning, Rek 114000482432-5 a/n : Husni Dinar. Bagi yang tidak punya kemampuan maka mari berjamaah menganjurkan sahabat , keluarga yang mampu untuk ikut ambil bagian. Ini multilevel marketing cara Allah kepada semua orang beriman. Yang memberi dan menganjurkan sama nilainya disisi Allah.

Saturday, August 11, 2012

Menulislah...


Saya teringat ketika SMP, saya ikut lomba menulis cerpen yang diselenggarakan oleh  Majalan Kuncung dan Kantor Pos. Ketika niat ikut lomba itu saya sampaikan kepada ibu saya, dengan antusias ibu saya mendukung.  Saya masih ingat betapa sulitnya merangkai kalimat yang sesuai dengan ide saya. Berkali kali saya menulis dan setelah itu saya tidak puas. Kertas yang sudah ditulis dengan tangan itu akhirnya tercabik cabik. Itu saya lakukan berkali kali. Saya putus asa. Kemudian ibu saya membelai kepala saya sambil berkata bahwa pikiranmu adalah kekuatanmu namun ketika menulis jangan sampai pikiranmu mengendalikanmu tapi ikut sertakan hatimu untuk merangkai setiap kalimat itu. Saya teringat ketika SD, guru saya pernah mengajarkan cara menyusun kalimat dengan mudah. Sambil memeluk saya dia berkata  “ apa yang kamu rasakan sekarang “ saya jawab bahwa ibu baik sekali. Kemudian guru saya berkata , tulislah itu seperti apa yang kamu pikirkan dan rasakan itu. Apa yang dikatakan guru SD saya tak ubahnya sepeti apa kata ibu saya. Bahwa tulisan akan bermakna apabila melibatkan pikiran dan jiwa. Dan itu lebih memudahkan untuk merangkai kalimat.

Setelah saya selesai menulis satu halaman. Ibu saya membacanya dengan tersenyum. Tak lupa dia memuji saya bahwa saya telah menggunakan hati dan pikiran saya dalam bentuk tulisan. Apapun hasilnya tak penting. Karena setiap orang yang membacanya akan merasakan getaran hati dari tulisan itu dan kemudian akalnya akan mencerna. Kata kata bisa hilang karena waktu tapi tulisan akan abadi. Ketika kita menulis visi kita terungkapkan dengan jelas dan ketika orang membacanya misi kita tertunaikan. Mungkin kamu tidak mampu berbuat tapi dengan tulisan orang lain melakukannya untuk mu. Demikian nasihat ibu saya yang tak pernah saya lupa hinggi kini. Ya, Menulis sangat penting karena sesuatu yang tak tertulis tak bisa dilaksanakan. Andaikan Al Quran dan hadith tidak pernah tertuliskan maka tidak ada kelanjutan syiar agama. Kehendakan Allah pulalah hingga manusia tergerak untuk merangkai semua firman Allah dalam satu alkitab yang tertulis secara teratur dan karena kehendak Allah pula perilaku agung Rasul tertuliskan dalam bentuk Hadith hingga blue print manusia sempurna dapat kita pelajari.  Para ulama dan cerdik pandai merenungkan setiap kalimat Allah dan lahirlah  berbagai tulisan yang  menginspirasi orang untuk menjadi lebih paham untuk lebih baik berbuat dan bersikap karena Agama.

Saya menyukai tulisan sains namun saya lebih senang membaca biographi yang ditulis oleh pelakunya sendiri atau oleh orang terdekatnya. Buya Hamka   menulis buku “ Ayahku “ namun ketika penerbit ingin meng editnya agar sesuai dengan ejaan Indonesia yang sempurna, beliau protes. Beliau tetap tak ingin dirubah setiap kalimat yang ditulisnya. Karena menurutnya dalam setiap kalimat itu ada kekuatan jiwa dari dia sebagai seorang putra ayahnya. Bila kalimatnya diedit maka kekuatan jiwanya akan berkurang. Maka jadilah buku “ Ayahku “ itu sebagai buah karya sastra yang tinggi nilainya. Andrea Hirata penulis novel “ Laskar Pelangi” awalnya hanyalah ungkapan kisah pribadinya yang tertuangkan dalam tulisan yang tak niat dipublikasikan. Karena ditulis tanpa ada niat apapun.  Kecuali bagaimana dia mengungkapkan kenangan masa kecilnya di desa tetap abadi dalam tulisan. Itu kenangan indah yang tak ingin hilang dalam memori hidupnya. Tentu dengan jiwanya dia menulis. Apa jadinya, tulisan itu bernilai sastra tinggi dan dibaca oleh banyak orang. Menjadi inspirasi bagi orang untuk berbuat karena cinta. Begitupula cerpen saya di majalah kuncung menjadi salah satu juara tingkat nasional dalam lomba yang diadakan oleh Kantor Pos ketika itu.

Apakah semua orang harus menjadi penulis? Tentu tidak harus ditulis dalam buku hingga diterbitkan untuk dibaca banyak orang. Kalau bisa itu tentu lebih baik. Tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita menulis pengalaman hidup keseharian kita dari berinteraksi dengan banyak orang , keadaan dan lingkungan. Cobalah menulis itu dalam buku harian sambil melatih jiwa kita meng explorasi pengalaman keseharian itu. Uraikanlah dalam tulisan apa yang kita pikirkan tentang apa yang dikatakan atau ditulis orang lain. Ungkapkanlah apa yang kita lihat dan perhatikan disekitar kita. Setelah itu, bila ada waktu, cobalah membacanya kembali. Kita akan mendapatkan hikmah dalam menghadapi persoalan hidup keseharian kita. Karena tidak ada yang terlewatkan hilang. Itu akan terjadi pengulangan. Tulisan di buku harian itu adalah pembelajaran kita untuk mengingat yang lewat dan bijak menghadapi realitas dihadapan kita. Itu sebabnya sejak SMP saya punya kegemaran menulis buku harian namun yang tak rahasia. Artinya siapapun boleh membacanya. Namun ketika era internet muncul dan blogger mulai diperkenalkan, putra saya menyarankan saya agar saya menempatkan buku harian saya dalam blog.  Karena menurutnya akan dibaca oleh orang lain untuk menjadi pelajaran bersama.

Lee Iacocca pernah berkata bahwa kebiasan menulis adalah langkah awal meraih prestasi. Banyak businessman hebat didunia ini tapi tidak banyak yang memberirkan hikmah dari kehebatannya kecuali Donald Trump yang sangat produktif menulis buku.Banyak ulama yang pandai berdakawah tapi tak banyak ulama yang mampu mengungkapkan pikiran dan jiwanya dalam bentuk tulisan seperti Al Ghazali. Saya membaca banyak buku tentang ekonomi namun yang membuat jiwa saya tergugah adalah ketika membaca buku tulisan pakar Hisbut Tahrir. Karena penulisnya melibatkan jiwanya lewat berbagai hadith dan Alquran yang membumi dalam kehidupan keseharian yang konpleks. Padahal banyak LSM islam dan Partai  Islam namun tidak seperti HTI yang sangat produktif menulis berbagai  aspek tentang islam dalam perspektif Al Quran dan Hadith. Jadi, siapapun kita, kalau peduli untuk berbuat demi hadith Nabi “ sampaikan walau satu Ayat” maka mulailah menulis dengan pikiran yang bersanding dengan hati. Insya Allah, kita sudah menjadi bagian dari visi perubahan , setidaknya dari diri kita sendiri….

Monday, August 06, 2012

Akhlak Manusia...


Semua tahu bahwa ular itu binatang yang nampak lemah. Mengapa lemah ? karena dia berjalan diatas perutnya. Hampir semua hewan menganggap ular adalah target untuk dimangsa. Namun karena itulah ular dengan mudah mendapatkan mangsanya. Sekali ular melilit mangsanya maka cengkramannya sangat kuat dan mematikan. Bila mangsanya dapat berkelit dari cengkraman lilitannya maka kecepatan patukannya mampu mengeluarkan bisa yang mematikan. Patukannya tidak merobekan kulit seperti harimau mencakar mangsanya tapi sekali mangsanya terkena gigitan , sekecil apapun maka hanya hitungan detik mangsanya akan menemui ajal. Artinya ular menggunakan emosi jahat dari mangsanya untuk dibalasnya dengan kejahatan pula. Hanya ini pakem nya ular. Kejahatan dibalasnya dengan kejahatan. Bila manusia punya sifat membalas kejahatan dengan kejahatan maka dia tak ubahnya dengan ular. Manusia seperti ini  banyak. BIla difitnah dia akan membalas dengan fitnah pula. Bila dirugikan maka dia akan balas untuk merugikan lawannya. Bila dia dizolimi maka dia akan membalas dengan cara yang zolim pula.  Dunia menjadi tidak aman.

Ada juga kelakuan manusia seperti buaya. Semua tahu buaya. Binatang sekelas reptile yang hanya terkesan pendiam dan lamban. Namun sekali bergerak , kecepatan sangat tinggi. Sekali menggigit cengkramannya sangat kuat. Namun ada hal yang unik dari buaya. Bila lapar , mulutnya akan terbuka lebar. Karena aroma mulutnya sangat busuk. Maklum buaya gemar menyimpan potongan mangsanya disela sela giginya dan rahangnya. Tentulah bau. Dari aroma bau ini mengundang lalat untuk datang. Sebetulnya tujuan lalat disediakan Allah untuk kebaikan agar baksil didalam mulutnya dapat bersih. Namun setelah bersih, dengan entengnya buaya menutup cepat mulutnya. Maka semua lalat yang hinggap dimulutnya akan menjadi mangsanya. Apapun yang ada disekitarnya adalah mangsa dan tidak pernah dia pilih pilih. Selagi ada kesempatan untuk memangsa maka akan dimangsanya, termasuk lalat yang kecil dan lemah.Artinya buaya tidak mengenal balas budi. Buaya hanya mementingkan dirinya sendiri. Terkesan jahat dan menakutnya. Itulah sebabnya bila manusia membalas kebaikan dengan kejahatan adalah sama dengan sifat buaya. Pemimpin terpilih karena kerumunan rakyat yang lemah namun setelah terpilih dia melumat rakyat lemah itu lewat aturan dan hukum.

Tapi ada hewan yang bisa membalas kebaikan dengan kebaikan. Ia adalah anjing. Perhatikanlah anjing. Seliar apapun jenis anjing , ia bisa berteman dengan manusia. Selagi manusia merawatnya dengan memberikan makanan cukup, perlindung yang baik maka anjing akan menjadi hewan yang sangat setia, bahkan banyak kita dengar cerita dimana anjing mampu menyelamatkan tuannya dari  mara bahaya. Ada juga anjing yang menghabiskan usianya untuk menanti tuannya yang tak kunjung datang.Begitu tinggi kesetian anjing kepada manusia yang menjadi tuannya, sahabatnya. Itupula sebabnya manusia suka memelihara anjing. Tapi bagaimanapun anjing tetaplah anjing. Apabila kita berniat atau berlaku jahat kepada anjing maka sifat ahlinya sebagai predator akan tampil kepermukaan. Dia predator yang tak kenal takut dan smart melumpuhkan mangsanya. Manusia yang hanya akan berbuat baik apabila menerima kebaikan dari orang lain maka kelakuannya tak ubah dengan anjing. Menjadi penjilat selagi mendapatkan uang dan kesempatan. Tak ada prinsip kecuali menghamba kepada tuanya.

Lantas yang seperti apa sebetulnya manusia berlaku ? apakah seperti ular yang terkesan lemah namun pemangsa yang ditakdir berbuat jahat karena kejahatan pula. Ataukah seperti buaya yang membalas kebaikan dengan kejahatan. Ataukah seperti anjing yang hanya berbuat baik apabila mendapatkan kebaikan. Tentu ketiga sifat ini tidak bisa kita tiru. Ini sifat rendah dan itulah binatang yang memeng makhkluk rendah dbandingkan manusia yang mulia dan tinggi derajatnya, yang dibekali akal dan jiwa yang lembut. Seperti apa karakter yang sepantasnya untuk manusia ? Bacalah firman Allah ini dalam hadith Qudsi Kitab Imam al-Ghazali  

“Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pengajaran daripada Tuhanmu dan penawar bagi hati. Kenapakah kamu memilih untuk berbuat baik hanya kepada mereka yang berbuat baik kepadamu? Kenapakah kamu memilih untuk bersilaturahim hanya kepada mereka yang bersilaturahim denganmu?  Kenapa kamu memilih untuk berbicara hanya kepada mereka yang berbicara denganmu? Kenapa kamu memilih untuk memberi makan hanya kepada mereka yang memberi makan kepadamu? Kenapa kamu memilih untuk memuliakan hanya kepada mereka yg memuliakanmu. Tidak terlebih baik seseorg itu darapada yang lain. Sesungguhnya org yg beriman kepada Allah  dan Rasul, mereka melakukan kebaikan kepada orang yang jahat kepada mereka, bersilaturahim kepada mereka yg memutuskannya. Memaafkan mereka yang tidak memberi kemaafan kepadanya. Mereka amanah kepada mereka yang mengkhianatinya. Berbicara kapada mereka yang enggan berbicara dengannya. Memuliakan mereka yg menghinanya. Sesungguhnya Aku tersangat mengetahui tentang perbuatan kamu.”

Mungkin kita semua berkerut kening dengan Firman Allah ini. Bagaimana mungkin kejahatan dibalas dengan kebaikan. Bila Allah minta seperti itu tentu Allah akan melengkapinya dengan pertolongan. Inilah firman Allah “  Dan, kalau kamu hendak melakukan pembalasan, balaslah seperti yang mereka lakukan kepadamu. Tetapi, kalau kamu bersabar, maka kesabaranmu itu lebih baik bagimu. Dan hendaklah kamu tabahkan hatimu, karena berpegang kepada pertolongan Allah. Janganlah kamu bersedih hati terhadap perbuatan mereka. Jangan pula engkau bersesak dada terhadap apa yang mereka rencanakan." (QS. Al-Nahl: 126-127). Ya, kalau dengan logika ingin meniru ular, buaya, anjing maka tirulah tapi kita bukan hewan, Mengapa kita harus meniru hewan yang jelas derajatnya lebih rendah dari kita. Memang seharusnya kita berlaku seperti manusia agar planet bumi yang hijau ini menjadi tempat indah dan menentramkan.

Thursday, August 02, 2012

Menerima ketika Allah memberi

Dihadapan saya ada seseorang dalam usia senja dan rinkih, Demikian kata teman saya mengawali pembicaraan.  Wajah tua itu nampak lelah namun terpancar keikhlasan untuk suatu tekad berbuat dengan tujuan yang jelas , yaitu untuk berkorban. Orang tua itu dihadapkan pada kenyataan dimana putrinya menjanda setelah ditinggal mati oleh suaminya. Putrinya datang menemuinya dengan membawa dua anak. Setelah itu putrinya pergi tanpa pernah ada kabar lagi. Sementara dia harus menanggung beban dua cucunya yang tertua berumur 9 tahun dan kedua 7 tahun. Pria baya itu mengharapkan teman ini memberikan zakat atau sadakah agar dia dapat modal untuk membuka usaha berdagang kasur kapuk. Kebetulan pria tua ini punya pengalaman dan keahlian mejahit dan membuat kasur. Rencannya dia akan berdagang keliling kampung untuk memasarkan kasur itu. Dia yakin penghasilannya akan cukup untuk menanggung dua cucunya. Yang jadi masalah, kata teman itu, bahwa orang tua ini sakit encok. Jangankan berjalan keliling kampung, melangkah lebih dari 10 meter saja sudah tidak mampu. Teman itu  sadar  bahwa orang tua itu hanya punya semangat tanpa memperhatikan kemampuan phisiknya. Tapi dia tetap memberi dana yang diperlukan untuk modal pria tua ini berdagang kasur. Tak banyak hanya Rp. 2 juta. Dia yakin tak lebih sebulan uang itu akan habis.

Dua tahun kemudian , dia bertemu kembali dengan pria tua itu. Subhanallah, pria itu benar dengan janjinya. Dia berhasil menghidupi kedua cucunya dengan berdagang kasur keliling kampung. Penyakitnya seketika hilang ketika dia mendapatkan modal dari teman itu. Bahkan penyakit batuk dan jantungpun ikut sembuh. Wajah pria itu tak nampak lagi ringkih. Dia nampak bersemangat dengan hidupnya. Apa kata orang tua itu hingga dia bisa berubah ? tanya saya. Pria tua itu bangkit dengan potensi yang tersisa diusia senjanya ketika beban ada dipundaknya. Beban itu bukan hanya harus dipikul tapi juga tahu apa yang akan dicapainya. Tujuannya adalah bagaimana mengantarkan kedua cucunya untuk menamatkan SMU dan mandiri. Apakah dia akan berhasil? Itu tidak dipikirkannya berlebihan. Nyatanya , dua tahun , dengan modal hanya Rp. 2 juta rupiah, dia bisa bertahan , dan bahkan bisa berbuat banyak untuk cucunya tanpa harus meminta minta. Demikian teman itu bercerita. Dia kagum ditengah kebingungan yang tak bisa ditembus dengan akal sehat. Bagaimana orang dengan beban berat dan penyakit dihidap namun “mampu” melewatinya ditengah keterbatasan. Itulah kekuasaan Tuhan.

Dari cerita tersebut diatas kita mendapatkan hikmah. Bahwa ketika beban datang sebetulnya harus diterima dengan rasa syukur. Nabi pernah bersabda "Ketahuilah,  bahwa apa yang menimpamu tidak ada akan luput darimu dan apa yang luput darimu tidak akan menimpamu. Ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesusahan dan dibalik kesulitan pasti ada kemudahan ". Karena bukan tidak mungkin itu cara Allah membangkitkan pontensi kita yang terpendam dan sekaligus menjebol hambatan yang ada pada diri kita. Lihatlah kenyataannya pada orang tua itu. Penyakit yang menghambatnya untuk melangkah seketika dapat sembuh tanpa obat hanya karena kekuatan pontesi yang keluar dari dalam dirinya memancarkan energy yang luar biasa. Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana beban atau masalah yang datang disikapi sebagai cara membangkitkan potensi itu ? Caranya harus diyakini bahwa beban itu adalah takdir yang harus dijemput dan diterima dengan ikhlas. Setelah diterima maka harus tahu pasti tujuannya. Tujuan ini sangat penting. Semakin jelas tujuan itu semakin kuat energy yang keluar dari potensi terpendam kita. Bagi orang tua itu, tujuannya adalah  pertama, melindungi kedua cucunya. Kedua, mengantarkan cucunya untuk mampu mandiri setelah dia tiada. Dua tujuan ini sangat mulia. Itulah kekuatan spiritual yang tak bisa diterjemahkan dengan akal kecuali dengan keimanan kepada Allah.

Karena kalau niatnya tidak karena Allah, maka bisa saja orang tua itu larut dalam berkeluh kesah dan berharap agar orang lain memberikan santunan kepada kedua cucunya untuk bisa bertahan hidup. Bila tak ada orang membantu maka dia akan larut dalam kesedihan panjang. Tentu penyakitnya akan semakin memburuk dan membuat dia semakin rapuh. Diapun akan menjadi bagian dari beban dan masalah itu. Bukannya menjadi penyelesai masalah dan pemikul beban. BIla dia menderita karena itu , karena dia gagal membangkitkan potensi terpendamnya dan menyikap beban sebagai peluang. Padahal ketika masalah dan beban datang kepadanya sebetulnya Allah sedang mengangkat potensinya tapi dia abaikan. Jadi deritanya bukan salah Tuhan tapi karena dia salah meresponse masalah dan beban itu. Tapi nyatanya   dia tak ingin berkeluh kesah dan membiarkan orang lain mengambil alih beban itu. Dia bangkit dengan tekad untuk menerima beban itu dengan ikhlas dan  melangkah kedepan bersama takdirnya. Terbukti dia bisa dan mendapatkan kekuatan untuk melangkah kearah tujuan, untuk cucunya, untuk cinta dan kasih sayang.

Ya bila kita beriman kepada Allah maka kita juga harus beriman kepada sunatullah. Bahwa setiap hari Allah memberikan peluang dan kesempatan untuk kita. Bentuknya tidak selalu dalam bentuk bungkusan yang indah dan gemerlap. Kadang terbungkus rapat yang tak mudah dibuka. Kadang terlempar kewajah kita dengan rasa sakit yang menyengat. Kadang tergeletak tanpa makna apapun.  Tugas kita orang beriman membuka bungkusan itu dengan kerja keras, menangkap lemparan itu dengan sigap walau berkali kali harus terjatuh, memungutnya dari keacuhan dan membosankan. Dari hal itu, process sunatullah kita lewati. Bila sulit, berusahalah. Bila tak paham, belajarlah, bila tak mungkin dilakukan, cobalah. Hanya itu yang bisa kita perbuat untuk membuka tabir takdir kita sebagai manusia yang serba lemah dan hidup dalam keterbatasan akan ruang dan waktu. Jangan pernah berharap doa akan terkabulkan lewat zikir siang malam sementara  pada waktu bersamaan kita tidak mampu membaca berbagai tanda tanda kekuasaan Allah ketika memberi, yang meminta kita bersabar dan ikhlas menerima dan melewatinya.

Tidak bisa bersyukur..

  Ketika masuk cafe saya lihat Yuni, Esther, Wenny duduk di table yang sama. Saya temui mereka. Bicara sebentar. Saya keluar cafe untuk mero...