Friday, July 29, 2005

Kematian?

Bayangkanlah ! kata penceramah Sholat Jumat. Anda berada dalam suatu tempat antah berantah. Disekeliling anda yang ada hanya ular besar dengan lidahnya mendesis desis kearah anda. Disamping itu ada makhluk berwajah menakutkan membawa palu godam raksasa yang siap diarahkan kepada anda. Anda ingin berlari dari situasi yang menakutkan itu. Tapi kemana mau lari. Itu ruangan sempit sekali. Tak ada satupun celah bagi anda untuk lari. Tentu anda akan terlolong lolong memohon bantuan dari orang lain. Tapi suara anda berbalik kembali kepada diri anda. Tak ada celah yang bisa membawa suara lolongan anda keluar. Sementara wajah menakutkan dan ular berbisa semakin mendekat kepada anda. Dalam situasi itu, jantung anda berdetak kencang seiring rasa takut tak terperikan. Bayangkanlah !

Tunggu sebentar. Cerita diatas bukan kehidupan yang sebenarnya. Tapi terjadi didunia mimpi. Anda terjaga dari mimpi buruk. Tapi ingatan tentang mimpi itu hanya membuat anda bersyukur bahwa itu “hanya mimpi” dan anda terbangun untuk menikmati kehidupan dimana semua masih terkendali. Tapi tahukah anda ? kehidupan setelah kematian, dialam kubur, tak lebih sama seperti itu. Bila amal ibadah kita bertumpuk atau lebih banyak dibandingkan dosa maka selama dialam barzak kita menikmati mimpi indah sampai hari kebangkitan. Tapi bila amal ibadah minus dan dosa surplus maka kita akan merasakan mimpi buruk sampai hari dibangkitkan. Siksa alam berzak adalah siksa jiwa. Kenikmatan alam barzakh adalah kenikmatan jiwa. Pertanyaan apakah kita siap dengan mimpi buruk ataukah kita berharap mimpi indah setelah kematian ? Atau anda tidak percaya ada kehidupan setelah kematian? Lantas bagaimana dengan dunia mimpi yang acap anda rasakan ?

Bagaimana kehidupan Alam kubur itu, Nabi bersabda “"...Ingatlah kematian, demi Dzat yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, kalau kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kamu akan tertawa sedikit dan banyak menangis." (Shahih Muslim). Begitulah dahsyatnya alam kubur. Sampai Nabi pun berkata “ akan tertawa sedikit dan banyak menangis” bila mengingat dosa yang dilakukan. Setiap orang tak bisa menghindari mati. Semua pasti akan menemui takdirnya. Bila saatnya datang, siap tidak siap harus menemui ajalnya (QS al-A'raf [7]: 34). Ini urusan yang pasti. Setiap ada berita kematian teman atau keluarga, pada waktu itulah Allah berdialogh kepada kita tentang sesuatu yang pasti dan menanti. Bahkan setiap waktu, maut memanggil manggil kita untuk pulang. Hanya orang bebal yang tak bisa belajar dari kematian sahabat, keluarga, dan orang lain. Tapi kita tidak sadar.

Apa yang kita banggakan tentang kehidupan ini. Bila saatnya datang untuk pergi tak ada satupun yang kita bawa kecuali amalan kita sendiri. Harta berlebih yang dibela dengan all at cost, ketika mati ,maka yang menikmati adalah ahli waris. Istri cantik yang dipuja siang malam, ketika mati , dia akan kawin lagi dengan pria lain. Jabatan yang dibela dengan segala cara ketika mati orang lain akan bersegera menggantikan. Semua seperti firman Allah "Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (QS Al Ankabut: 64). Sungguh tolol bila kita memperjuangkan yang sedikit sementara yang banyak kita lupakan. Yang banyak itu adalah akhirat. Itulah tempat keabadian dimana semua akan diperhitungkan sebaik baiknya oleh Allah.

Mencintai dunia adalah kebodohan yang pasti. Menjadikan dunia sebagai tempat pesinggahan menuju tempat akhir adalah cerdas. Yang namanya tempat persinggahan maka bukanlah tempat untuk menetap. Ini tempat untuk mempersiapkan diri menempuh perjalanan panjang. Maka bekal selama ditempat persinggahan itu harus disiapkan dengan sebaik baiknya. Perbanyaklah ibadah, tegakkan sholat, perbanyaklah berbagi dalam bentuk apapun dan yang penting dari itu semua, lakukan segala amalan hanya untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas se ikhlasnya. Insya Allah, kelak dialam kubur kita tidur dalam mimpi terindah. Atau bila kita lalai dan memanjakan diri didunia lupa alam kubur, maka terimalah mimpi terburuk dari yang buruk. Semua tergantung kita...

Monday, July 25, 2005

Pancasila

Sila Pertama menetapkan Ketuhanan yang Maha Esa. Ini merupakan pengakuan sejarah bahwa bangsa indonesia adalah bangsa religius. Agama diyakini sebagai jalan hidup untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat. Para pendiri negara menyadari bahwa perlu pemahaman ketuhanan sebagai tiang utama negara agar rakyat rela bela negara , ikhlas bergotong royong dan cinta akan tanah air. Bukankah seluruh agama sepakat tentang itu ¿ Jadi Ketuhanan sebagai spirit emotion untuk menciptakan Kemanusiaan yang adil dan Beradad. Agama sangat mempunyai perhatian tentang perlunya menegakkan unsur unsur kemanusiaan kepada siapa saja dalam bentuk cinta dan kasih sayang. Lebih daripada itu kemanusiaan yang menjujung tinggi perlakuan berkeadilan.

Dari sikap inilah akan muncul masyarakat yang beradab. Satu contoh anda memberi pekerjaan kepada orang lain. Itu artinya didalam diri anda telah terbentuk kemanusiaan karena mau membuka lapangan pekerjaan. Tapi anda juga harus menegakkan keadilan dengan memberikan upah yang pantas serta lingkungan kerja yang nyaman. Maka dengan demikian anda telah menjadi orang yang berlaku secara beradab. Negara menguras seluruh hasil alam dengan maksud untuk menciptakan keadilan bagi rakyat. Agar negara menjadi negara yang beradab. Lantas bagaimana bila hutan gundul , minyak makin berkurang depositnya dan lingkungan rusak sementara rakyat tetap samakin miskin dan bahkan harus menanggung hutang koleftif yang maha besar. ¿ Ini artinya negara yang tidak beradab.

Bila kemanusiaan yang adil dan beradab itu sudah menjadi nafas kehidupan berbangsa dan bernegara maka sudah pasti akan tercipta Persatuan Indonesia , kesatuan dalam masyarakat. Karena tidak ada perasaan dikecilkan atau dipinggirkan. Semua masyarakat merasa satu jiwa untuk bahu membahu bela negara dan ikhlas berbuat untuk saling melindungi. Bila ada daerah yang tidak ingin mengakui Republik ini atau golongan yang menolak negara kesatuan RI maka itu semua akibat tidak adanya rasa keadilan. Semua upaya mempersatukan negara dengan kekuatan apapun tidak akan mampu kecuali rasa keadilan.

Rasa keadilan akan mempersatukan masyarakat dari berbagai suku, agama dan daerah. Dari keadilan inilah kepemimpinan nasional dibentuk yang berlandaskan kepada Kerakyatan yang dipimpinan oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan. Artinya kepemimpinan nasional merupakan ruh dari keyakinan kepada tuhan yang harus menegakkan kasih sayang kepada sesama dengan sikap yang berkeadilan dan beradab. Tentu saja tidak ada nuansa diktator, totaliter. Tidak ada menang atau kalah dalam berpolitik. Semua masalah dan kepentingan golongan di selesaikan dengan cara musyawarah dengan bahasa hati bukan bahasa egoistis. Lihatlah bila dasar beragama dipermainkan maka agama menjadi komoditi dan keadilanpun dipermainkan maka kesatuan dihadapi dengan tangan besi. Kepemimpinanpun dilakukan dengan manifulasi politik dengan mempermainkan amanah rakyat. Sidang DPR pun menjadi ajang caci maki satu sama lain. Sikap santun yang diajarkan oleh agama sudah kabur dalam berpolitk. Karena politik sudah menjadi dewa untuk meraih kekuasaan dalam bentuk kesombongan dan ketamakan.

Bila kepemimpinan terbentuk dengan didasarkan kepada keyakinan ketuhanan yang maha esa maka kepemimpinan itu bukan lagi sebagai rezeki tapi sudah menjadi amanah yang harus dipertanggung jawabkan dihadapan Allah kelak.. Amanah untuk menegakkan keadilan ditengah masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Keikhlasan untuk menegakkan amanah dengan rendah hati akan menimbulkan simpati rakyat untuk bersatu dan mengakui kepemimpinan nasional sebagai bagian dari kepercayaannya kepada Allah SWT. Akhirnya apapun yang disampaikan/diperintahkan oleh kepemimpinan itu akan didukung oleh rakyat karena bahasa pemimpin itu adalah bahasa hati yang bersumber dari Allah untuk tegaknya keadilan sosial.

Sejarah telah mencatat jutaan rakyat relat mati untuk mempertahankan kemerdekaan negeri ini. Mereka adalah para suhada yang ikhlas mati demi mengikuti perintah pemimpinnya “ Merdeka atau mati “.Tidak akan ada keadilan sosial ditangah pemimpin yang lemah dalam beragama. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia hanya akan menjadi impian tak berujung bila kepemimpinan hanya berorientasi pada kepentingan pribadi dan golongannya saja. Dan yang menyedihkan Pancasila yang awalnya di create dengan mukadimah "kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya ditiadakan dalam draft final pembukaan UUD 45. Sejak itulah umat Islam tidak lagi melekat dengan Pancasila. Sejak itu Pancasila hanyalah jargon tanpa perekat apapun untuk menggiring mayoritas Islam dalam barisan rahmatan lillamin. Dan ketika reformasi , Pancasila terkubur oleh eurforia demokrasi sekular. Selesailah sudah. Bagaimana nasip bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam ? Biarlah sejarah kelak yang akan mencatat.

Sunday, July 24, 2005

JALAN MENUJU PUNCAK

TIdak ada yang gratis dalam hidup ini. Semua harus diperjuangkan. Ongkos setiap perjuangan tergantung kondisi yang anda inginkan. Orang Minang punya pepatah “ Indak ado gunung nan ndak ba lurah. Samakin tenggi gunung samakin dalam lurahnyo. “ Tidak ada gunung yang tak berngarai ( jurang ). Semakin tinggi gunung maka semakin dalam pulalah jurangnya. Orang Minang yang hidup dengan philosopi alam “ Adat bersandi sara , sara bersandi kitabullah” sangat meyakini hukum alam ini. Untuk mencapai puncak gunung anda harus melalui empat kondisi jalan ( istilah minang Jalan Mampe’k) Apabila anda tidak bisa melalui empat kondisi jalan ini maka jangan harap anda akan sampai dipuncak gunung dengan kedamaian dan rasa syukur.

Pertama„ Jalan Mendatar „ Sebelum anda mendaki maka anda akan melewati jalan mendatar ditengah hutan belantara. Anda bisa memilih jalan yang sudah dilalui orang lain dimana semua sudah terdapat jejaknya dan tentu saja aman. Atau anda dapat memilih jalur lain namun anda harus siap menerima resiko kehilangan arah atau dimangsa binatang buas. Didalam hutan banyak sekali jebakan yang bisa membuat anda jatuh. Semua tergantung pilihan anda. Yang pasti sukses anda adalah kualitas anda. Apakah ingin hidup sebagai follower atau sebagai inovator dan creator.

Kedua “ Jalan Mendaki “. Untuk mencapai puncak maka anda harus menguatkan otot dan bahu untuk mendaki. Anda tidak bisa berlari karena itu akan menguras energi anda sendiri. Sementara anda sendiri tidak tau bila akan sampai dipuncak. Artinya anda harus mempunyai emosi yang terkendali dalam melihat puncak gunung. Dalam mendakipun anda harus rela untuk berhenti barang sejenak bila memang lelah. Bila anda kehilangan arah maka cobalah berhenti barang sejenak. Pandanglah langkah yang sudah terlewati, tataplah puncak gunung itu. Kemudian pikirkan dan analisa langkah yang telah anda lalui. Ada banyak gunung semua memiliki tinggi yang berbeda. Sesuaikan kadar kemampuan diri dan tentukan mana puncak yang akan anda raih maka itu adalah bijaksana.

Cerita kaum sufi menyebutkan tentang seekor bakicot merayap mendaki pohon murbay yang sangat tinggi. Sang burung mentertawakan Bakicot sambil berteriak “ Hii Bakicot apa yang engkau lakukan. Pohon murbay ini tidak sedang tidak berbuah dan berdaun karena musim gugur. Dan lagi sampai kapan anda akan tiba dipuncak pohon ini. “ Bakicot dengan tenang terus merayap pohon itu dan menjawab “ Saya tau pohon ini sedang tidak berbuah dan berdaun tapi setidaknya ketika musim semi datang , saya sudah sampai dipuncak pohon untuk memakan daun murbai.” Untuk mencapai puncak tidak hanya dibutuhkan kekuatan phisik dan fasilitas yang tersedia tapi lebih dari pada itu adalah kemampuan melihat dari tabir kegegelapan. Melihat dengan kekuatan hati. Itu semua bersumber dari satu sikap “ SABAR dan ikhlas. “

Ketiga “ Jalan melereng “. Ketika mendaki , maka kondisi yang tidak bisa anda hindari adalah jalan melereng ( jalan melingkar) mengitari tebing gunung. Disekitar anda terdapat jurang yang sangat dalam. Semakin tinggi puncak gunung yang hendak anda capai maka semakin dalam jurang yang ada disamping jalan anda. Dilereng gunung ini , selalu jalannya lincin. Anda akan mudah sekali tergelincir . jalan mencapai puncak memang mengharuskan anda menempuh jalan berliku. Memang sangat menyakitkan bila anda harus terjatuh namu anda harus bangkit untuk mencoba lagi dan mencoba lagi. Yang pasti kesuksesan itu adalah reward terindah dari perjuangan tanpa lelah. Sikap hati hati dan bijaksana mengendalikan emosi meredam ego adalah sangat penting bila anda ingin selamat sampai dipuncak.

Keempat “ Jalan menurun “ Ketika anda telah berhasil sampai dipuncak maka tidak ada yang dapat anda rasakan kecuali puas. Bahwa anda telah menjadi bagian dari sejumlah orang yang berhasil mencapai puncak dengan melewati berbagai tantangan. Banyak pula yang gagal mencapai puncak. Berhenti sebatas lereng gunung. Tetapi lambat atau cepat andapun harus ikhlas untuk turun. Jalan menurunpun tidaklah mudah. Ia membutuhkan kekuatan emosi dan kesabaran mengitari lereng gunung dan menghadapi dalamnya jurang kehidupan.

**
Banyak orang hanya melihat dan berhasrat meraih keindahan puncak gunung tapi tidak siap melewati pendakian dan menyusuri lereng gunung. Yang mereka lakukan adalah melakukan jalan pintas. Menyogok untuk menjadi pemenang. Menjilat agar mendapat jabatan. Berjudi agar cepat kaya. Merampok , korupsi agar cepat sukses. Bila mereka sampai dipuncak dengan cara ini maka tentupula mereka tidak siap bila harus turun. Karena mereka tidak pernah tau cara untuk turun. Mereka tidak pernah dapat menarik hikmah kemanusiaan dari keberadaannya dipuncak karena mereka melangkah diluar hukum alam. Naik cepat dan turunpun cepat dan biasanya bukan turun secara alami tapi terjun bebas!. Hitler mati di bunker bawah tanah setelah dihujani Bom oleh pihak sekutu. JF. Kennedy mati ditembak. Mahatma Gandi mati ditembak. Jhon Lenon juga mati ditembak. Napoleon mati di pulau Elba karena diracuni. Alexander mati karena diracuni. Mereka semua tercatat dalam sejarah sebagai orang hebat tapi berakhir jatuh dengan sangat menyedihkan.

Tapi berlainan dengan Rasullullah Muhammad SAW , turun menuju keabadian sang pencipta Allah SWT dengan penuh kedamaian setelah mencapai puncak kemenangan gilang gemilang.. Kematian adalah jalan turun dari puncak kehidupan dan disambutnya dengan senyum.Anehnya diakhir hayatnya Nabi menolak fasilitas kemudahan tanpa rasa sakit dari malaikat untuk melepaskan ruhnya . Lagi lagi dia tidak ingin menolak sunnatullah. Takdir.

Kehidupan yang sedang kita lalui ini adalah tidak lebih sama. Semua kita melalui process mencapai puncak walau puncaknya berbeda beda kadar ketinggiannya pada masing masing orang. Semakin tinggi puncak yang hendak kita capai maka semakin besar pula tantangan yang harus dihadapi. Jalan mendatar , mendaki , melereng dan akhirnya harus turun dari puncak. Kita tidak bisa menghindari hukum alam ini. Sunnatullah. Penolakan hukum alam akan menimbulkan pradox , kehancuran bagi diri kita sendiri juga bagi kehidupan umat manusia di planet bumi ini.

Kakek saya mengingatkan “ alam takambang jadi guru ( alam terbentang menjadi guru ) dan Alhamdulillah itu selalu saya ingat dalam mengarungi kehidupan ini“ Merantaulah buyung dahulu , dikampung berguna belum. Makna dari ungkapan ini adalah raihlah keberhasilan dengan banyak membaca , melihat dan mendengar karena beban untuk mu sudah menanti „ menjadi rahmat bagi alam semesta. „-

Saturday, July 23, 2005

LIMA JARI

Lima. Itu adalah bilangan yang selalu dekat dengan kita sehari hari.. Dimulai dengan Lima Indra ( Panca Indra ) yang terdiri dari mata, telinga, hidung, mulut dan kulit. Kemudian ada Pancasila. Palsafah negara kita yang sekarang sudah mulai dilupakan. Padahal didalam Pancasila ada Ketuhanan dan ruh yang menekankan perlunya kemanusiaan, keadilan. Tapi dalam kesempatan ini saya tidak akan membahas itu. Saya hanya akan memberikan makna menurut versi saya tentang Lima jari. Jari yang ada pada tangan kita. Tentu kita semua memiliki itu bila kita tidak cacat.

Jari Jempol ( ibu jari )
Dalam keseharian Jempol menjadi simbol tentang kesempurnaan, kehebatan. Pendek kata setiap kita melihat sesuatu yang sangat sempurna maka kita akan memberikan “acungan Jempol “ . Jarang sekali orang memberikan “acungan Jempol “ kepada lawannya. Walau sikap itu tentu sangatlah terpuji karena menghargai kelebihan lawan juga akan mengangkat nilai kita.

Dalam versi kepribadian maka jempol yang ada pada tangan anda itu seharusnya mengingatkan anda untuk selalu berbuat yang terbaik bagi orang banyak. Atau setidaknya berbuat baik untuk keluarga , teman dan lingkungan terdekat. Menjalani hidup dengan satu tekad “ berbuat baik “ tentu akan menjadikan anda pribadi yang Jempol dihadapan orang lain dan pasti akan jempol pula dihadapan Tuhan. Bila hubungan dengan manusia mendapat acungan jempol maka kehidupan itu akan menjadi indah bagi kita. Berbuat baik tidak membutuhkan biaya mahal. Dengan senyumanpun anda sudah melakukan kebaikan. Atau mulailah dari yang terkecil / sederhana. Misal memberi makan kepada kucing, tidak membuang sampah sembarangan, mendatangi sahabat atau keluarga yang terkena musibah, menjaga ketertiban berlalu lintas dan mengikuti aturan “dilarang merokok “ditempat umum , sabar dalam antrian. Dari yang sikap yang sederhana itu , bila anda dapat lakukan dengan konsisten maka setidaknya akan menumbuhkan rasa peduli kepada sesama dan menghargai aturan komunitas anda. Dari yang sederhana ini akan menyuburkan rasa kasih sayang didalam hati anda dan akirnya akan berbuah cinta kepada sesama. Maka anda memang pantas mendapat acungan jempol.

Jari Telunjuk.
Mungkin tidak pernah kita lihat bila kita menunjuk sesuatu menggunakan jari jempol. Memang ada sebagian budaya jawa yang mengharuskan hamba sahaya menunjuk dengan jari jempol. Alasanya tentu menjaga kesopanan. Karena menurut versi feodal hamba sahaya tidak berhak memberikan petunjuk. Dia adalah pribadi pelengkap penderita yang harus selalu ditunjukin. Tapi umumnya semua orang menunjuk dengan jari telunjuk. Karena itu adalah manusiawi dan seolah menjadi konsesus dibumi ini. Termasuk saya.

Dalam hal jari telunjuk ini , tentu kita haruslah mendapat pelajaran tentang perlunya kita mempunyai sifat memberi ‘petunjuk ‘kepada siapapun yang membutuhkan. Memberi petunjuk adalah kebaikan yang sangat mudah namun berdampak luas bagi orang yang anda beri petunjuk ( arahan ). Bila ada kesalahan nyata terjadi didepan anda maka seharusnya anda berani menyampaikan kebenaran dalam konsep memberi petunjuk. Tidak dalam arti menggurui dengan paksaan. Banyak kita lihat sekarang betapa masyarakat individualist sangat mahal memberi pentunjuk bahkan menjadikan petunjuk sebagai satu komiditi ( lahan business ) Kehidupan yang penuh kompetisi telah membuat orang menjadikan petunjuk sebagai satuhal yang sangat mahal. Semakin mahal tarif “ petunjuk” maka semakin dipercaya pemberi petunjuk itu. Ulama yang tidak minta bayaran akan sulit mendapatkan komunitas bergengsi untuk diberi pencerahan.

Apabila Allah memberi kita nikmat yang tak ternilai maka itu adalah Ilmu. Namun bila Allah menempatkan kita sebagai makhluk terendah maka itu juga karena kita tidak menggunakan Ilmu untuk memberikan pentunjuk kepada orang lain. “ “sampaikanlah kebenaran itu walau hanya satu ayat “ sabda Nabi. Disorga , derajat orang berilmu yang mengamalkan ilmunya untuk kepentingan orang banyak disejajarkan dengan para Nabi. Nilai yang sangat tinggi dalam dimensi keabadian.

Jari Tengah
Dalam susunan lima jari maka “jari tengah “ selalu yang tertinggi /panjang dibanding yang lain. Mugkin ada juga sebagian orang yang mempunyai jari tengah lebih pendek tapi itu termasuk langka. Pengecualian.

Tengah bermakna “keadilan “. Tengah adalah pusat bertumpunya timbangan. Permainan sepak bola selalu diawali dengan lapangan tengah. Artinya ‘tengah “ mencerminkan keadilan. Mengapa jari tengah selalu lebih tinggi diantara lima jari ?. Karena semua perbuatan baik yang kita lakukan tidak akan bernilai bila kita tidak dapat bersikap adil. Anda selalu berbuat baik hingga mengorbankan diri anda sendiri maka anda telah berlaku tidak adil pada diri anda sendiri. Juga anda telah membantu orang lain dengan memberikan pekerjaan tapi anda menghargai jerih payahnya terlalu rendah dibawah UMR. Itu samasaja anda memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi tanpa rasa keadilan. Itu sama saja anda telah mempermainkan kebaikan dengan tidak memberikan keadilan terhadap orang lain. Kebaikan yang lebih jahat daripada perbuatan jahat yang sebenarnya.

Panca indra yang ada pada diri kita tidak akan berfungsi dengan baik bila kita tidak dapat mengendalikannya dengan kekuatan jiwa dan pikiran yang seimbang dan adil.. Ibarat anda mengendarai kereta dengan lima kuda. Kelima indra itu adalah kuda. Sementara Kereta adalah kehidupan anda. Maka kelima kuda itu dapat bergerak seirama menuju jalan yang anda inginkan bila anda dapat mengarahkan mereka dalam barisan yang teratur sesuai dengan kehendak jiwa dan pikiran anda. Namun dapat pula kelima kuda itu berlari kearah yang berlainan atau salah satu diam tak bergerak maka tentu bukannya kereta itu akan bergerak malah anda akan jatuh tersungkur oleh kelima kuda itu. Mengarahkan kelima indra membutuhkan keadilan /keharmonian /keseimbangan agar kehidupan anda sampai pada tujuan yang sebenarnya.

Pada kehidupan bangsa kita kini, keadilan telah menjadi komoditi. Keadilan tidak lagi berdasarkan kata nurani tapi lebih pada petimbangan untung rugi. Sehingga keadilan hanyalah bermakna “adil “ tanpa ruh “keadilan hakiki “.Masyarakat yang sudah melupakan hakekat keadilan sangat bulit berbicara tentang “Cinta dan Kasih Sayang. “Sebetulnya bersikap adil tidaklah sulit bila kita mau menjadikan nurani sebagai penentu dalam bersikap.

Jari Manis.
Jari “manis “ ini terletak setelah jari tengah. Sudah menjadi budaya cincin kawin diletakkan pada jari ini. Jari manis menjadi simbol cinta. Simbol keikhlasan jiwa untuk memberi dan bertaut dalam suka maupun duka.

Memaknai Jari Manis ini adalah agar kita diingatkan untuk bertutur kata, berbuat dan melakukan apa saja dengan sikap manis. Sikap yang jauh dari prasangka buruk. Sikap yang mengutamakan kasih sayang dan kejujuran. Senyuman akan selalu terpancar dari sikap manis. Sikaf manis adalah sumber kedamaian yang selalu menerangi jiwa dan pikiran kita. Membuat hidup selalu indah. Sikap ini haruslah menjadi budaya dalam keseharian. Perhatikanlah bila kita berjalan di Mall , orang orang berjalan dengan wajah tanpa kedamaian. Penuh curiga dengan mangapit dompet kuat kuat. Karena takut dicopet.Jangan berharap anda akan mendapatkan respon baik bila hendak bertanya kecuali jawaban singkat “ tanya aja sampai Information desk “ tanpa senyuman. Orang kota mencari kedamaian kedesa katanya untuk menikmati udara pegunungan atau pantai. Kalau mau jujur bukan gungung atau pantai membuat orang damai kecuali nuasa yang berselimut tutur sapa dan sikap manis masyarakat desa itulah penyebabnya.. Justru disinilah kedamaian itu ada. Kemanisan sikap adalah ruh kasih sayang dan membuat semua orang rindu. Tapi anehnya disekitar kita sendiri , dikota yang penuh kemewahan telah membuat kita menjauh dari ruh itu.

Jari kelingking
Jari Kelingking adalah jari tekecil/rendah diatara susunan lima jari. Atau disebut juga anak jari. Tapi kehadirannya membuat kelima jari menjadi sempurna dan anggun. Jari kelingking adalah satu perlambang tentang “Rendah Hati “ Kata kecil/rendah namun tak akan pernah mengecilkan kita. Bahkan dapat membuat kita besar. Tokoh besar dalam sejarah mempunyai sifat redah hati ini. Seperti Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Isa RA, Mahatma Gandhi , Ibu Theresa dan banyak lagi. Mereka besar dan abadi dalam sejarah karena mereka memberi teladan tentang kebaikan , ketulusan dengan sikap “rendah hati “

Bila sifat rendah hati tidak ada maka rumah mewah berlebih kamar tidaklah cukup bagi anda. Makan secukupnya tidak akan mengenyangkan anda. Baju tanpa merek terkenal tidak akan membuat anda nyaman. Anda tidak akan nyaman memiliki kendaraan bila tidak bermerek terkenal dan mahal. Anda tidak akan puas bila putra anda hanya tamatan universitas dalam negeri. Rendah hati akan menjauhkan kita dari kehidupan penuh topeng untuk mendapatkan kehormatan. Sifat sombong membanggakan kelebihan diri sendiri tak mau mendengar saran orang lain, tidak suka memberi maaf dan meminta maaf, Takabur dengan keyakinan dan kemampuan yang ada adalah sifat yang bertolak belakang dengan sifat rendah hati. Sifat yang akan merusak jiwa dan pikiran .Yang pada akhirnya kita terdampar dalam keresahan yang tak bertepi. Menuai derita ditempat keceriaan. Bagai ikan mati karena haus. Rendah hati adalah lambang kekuatan sejati, Kekuatan yang tampil dari kejujuran , ketulusan dan kepatutan.

**
Genggamlah kelima jari itu dan tekad kan dalam diri anda untuk menjadikan kelima jari itu sebagai hikmah untuk menuntun anda menuju kebahagiaan , kedamaian didunia dan akhirat.

Wednesday, July 20, 2005

PENJARA

Mungkin sudah banyak tau bahwa Tommi ( Hutomo Mandala Putra – Putra ex Mantan President Soeharto ) ada di LAPAS Nusakambangan. Ini adalah LAPAS terangker di Indonesia dan hanya diperuntukan bagi terpidana berat saja. Terisolasi tidak hanya berada dalam Kamp Tahanan tapi juga dari kehidupan ramai. Tapi taukah anda. Dalam kondisi terpenjara pidana ,senyatanya Tommi tidak pernah terpenjara secara perdata. Kehidupan businessnya terus berjalan. Dia nampak bahagia karena penjara telah membuat hatinya tidak lagi terpenjara. Kekawatiran tentang masa depan sudah bukan lagi yang diperhitungkannya. Melalui beberapa sahabat yang masih setia , dia mulai membenahi usahanya. Bahkan bertambah lancar dan tajam sepak terjang business nya. Dalam kurungan , dia telah berhasil melakukan restruktur perusahaannya secara menyeluruh. Didalam situasi menjadi pesakitan Tommi jadi mengetahui siapa teman siapa lawan. Penjara pisik tidak pernah menghentikan orang untuk berkreasi apabila dia mempunyai kebebasan dalam berpikir tanpa ada rasa kawatir akan masa depannya. Percaya Allah telah menentukan semua yang ada didepan kita. Percaya Allah maha pengampun, pengasih dan penyayang kepada hambanya yang ikhlas. Dalam hal Tommi apakah dia dapat mengambil hikmah dari situasinya kini ¿ wallahu a’lam.

Ada seorang sahabat yang selalu berkeluh kesah dan tertekan. Karena dia selalu memikirkan masa depan anaknya yang masih berusia 5 tahun. Tantangan yang ada didepan mata selalu disikapi berlebihan. Kawatir karirnya akan hancur dan tentu akan berpengaruh terhadap masadepan anaknya. Ketika bunga bank turun diapun semakin tidak nyaman karena kawatir tabungannya tidak bisa bertambah cepat untuk mendukung masa depannya. Rasa cinta yang berlebihan terhadap masa depan keluarga telah membuat dia semakin kikir terhadap orang lain. Juga kikir terhadap dirinya sendiri. “ tidak akan ada orang akan peduli pada anak saya bila saya tidak punya cukup bekal untuk masa depannya. “ begitu keluhnya dalam kekawatiran yang tak pernah hilang. Rasa kawatir telah memenjara kreatifitasnya dan takut mengambil resiko apa saja yang akan mengurangi hartanya.

Jadi tidak mengejutkan bila banyak orang yang ada didalam mobil mewah , di rumah mewah dan kamar kerja mewah merasa terpenjara. Penjara yang menghalanginya untuk melangkah bebas. Yang selalu merasa diawasi. Tidak ada yang membuatnya merasa terpenjara kecuali perasaannya sendiri. Perasaan akan kekawatiran masa depan. Perasaan takut kehilangan harga diri. Perasaan takut kalah. Kekayaan harta menimbulkan perasaan takut kehilangan. Kekawatiran ini membuat dia semakin tamak dan semakin curiga dengan siapapun yang akan mengurangi hartanya. Sehingga langkah dan tindak tanduknya semakin eksklusif. Jauh dari orang kebanyakan. Dia bentengi rumahnya dengan pagar tinggi. Dia bentengi uangnya di bank bank yang menawarkan layanan pribadi ( Private Banking ) yang sulit dilacak orang. Secara teratur dia selalu general check up di luar negeri untuk memastikan tubuhnya sehat. Kawatir kematian menjemputnya. Kawatir dan kawatir itulah yang terus membuatnya tidak pernah bahagia. Sebetulnya mereka ada karena kemiskinan jiwa dan kekerdilan bersikap. Harta diburu dengan cara tanpa perasaan kasih sayang. Kecuali sikap tamak dan tidak peduli dengan orang lain. Lebih mengutamakan harta daripada “ cara” mendapatkan harta.

Pernah suatu ketika di Mekkah, tepatnya di Masjid Al Haram, di saat buka shaum ada beberapa orang pengemis membawa kain yang tampaknya penuh dan isinya terlihat berat. Mereka meminta-minta sampai kain bawaannya semakin banyak. Hingga sulit dibawa dengan tangannya. Ternyata, dia melakukan itu karena merasa bahwa belum tentu besok hari akan mendapatkan kesempatan yang sama. Orang yang miskin jiwa seperti itu terus tumbuh. Orang-orang yang licik, koruptor, yang mengambil harta orang lain tanpa hak, sebetulnya mereka adalah orang-orang miskin. Walaupun jabatannya tinggi, kedudukan dan hartanya berlimpah, tetapi jiwanya tetap miskin. Dia akan terus mengambil apa saja yang ada di hadapannya, meski itu bukan miliknya. Saat pembagian beras untuk orang miskin (Raskin), mereka menjadi orang pertama yang mengambil beras itu. Sebelum sampai kepada yang berhak sudah dimakan lebih dulu oleh oknum-oknum yang miskin jiwa tersebut. Atau kalau tidak, beras itu mereka timbun untuk kemudian dijual.

Orang yang miskin jiwa, bila naik jabatan akan sibuk mencari rampasan. Akibatnya, kewajibannya menjadi terbengkalai. Miskin jiwa, meski kaya harta; dia akan merusak. Oleh karena itu, jangan mencari pasangan yang kaya secara lahiriah. Carilah manusia yang kaya batin dengan penuh kemuliaan. Kekayaan lahir itu hanyalah topeng. Orang yang hanya mempertontonkan topeng adalah kekanak-kanakan. Harta yang didapat dengan tidak halal tidak akan membuat bahagia. Bahkan akan jadi racun untuk keluarga. Yang akan membelenggu kehidupannya. Memenjarakan dirinya sendiri.

Perasaan kawatir itu lebih banyak timbul karena refleksi akal yang menyesatkan. Akal selalu salah menyikapi masadepan dan cenderung membuat pikiran kita terbelenggu. Pikiran kita ada dalam perhitungan untung rugi semu. Perhitungan akal inilah yang mendikte hati dan perasaan kita menjadi merasa selalu terpenjara. Padahal masa depan bukanlah milik kita. Kita hanya memiliki masa lalu dan masa kini. “Maka nikmat apa saja yang ada pada kalian, maka itu semua dari Allah (S. 2: 165)” Setiap yang bersumber dari Allah tentu Allah akan menyediakan pertolongannya bagi kita. Setiap yang bersumber dari Allah tidak akan membuat kita teraniaya. Karenanya bersihkanlah hati dan jernihkan akal tanpa topeng yang menyesatkan. Apabila kita berjalan kearah yang benar maka kita akan sampai pada tujuan yang sebenarnya. Bila kita mengejar dunia maka kita akan kehilangan akhirat. Bila kita mengejar akhirat maka kita akan mendapatkan kedua duanya.

Jadi perkuatlah pegangan bandul kehidupan anda dengan banyak berbuat tanpa rasa kawatir apakah bandul itu akan kekanan atau kekiri. Caranya lepaskan belenggu dari perasaan ingin dihormati , ingin diperhatikan , ingin menguasai , ingin aman. Selanjutnya melangkahlah dengan bebas bagai burung camar. Ikhlas berbuat karena Allah ,melintasi hari hari dengan banyak “memberi.” Semakin banyak anda “memberi” maka semakin jauh belenggu ‘keinginan” dari kehidupan. “Memberi “ adalah kata kerja yang didasarkan oleh cinta dan Kasih Sayang bagi sesama dan karenanya itulah kebebasan yang hakiki bagi jiwa dan pikiran kita.

Tuesday, July 19, 2005

BERSYUKUR

‘ Saya seperti keledai atau lebih tepat kuda penerjang bukit. Hidup saya selalu ditekan oleh tuntutan yang tidak bisa saya hindari. Saya harus menghidupi ribuan karyawan. Bayar bunga bank , angsuran hutang Bank dan belum lagi harus ngemong pejabat. Setiap saya bangun pagi , terasa begitu berat beban yang menghimpit sehingga saya tidak pernah tau lagi keindahan mentari pagi. “ Demikian teman saya bertutur. Dulu puluhan tahun lalu, dia juga pernah mengeluh betapa sulitnya hidup serba diatur dan terjebak dengan rutinitas sebagai karyawan. Dia putuskan untuk berhenti kerja. Ingin mandiri. Kini dia tidak lagi merasa hidup serba teratur. Karena tidak ada yang mengatur. Dia tidak lagi menghadapi rutinitas yang membosankan karena dia sebagai creator dan leader. Tapi dia sekarang menghadapi “tuntutan yang tidak bisa dihindari. Artinya dalam rentang waktu hidupnya , dia telah melakukan kesalahan. Hidup sebagai karyawan, itu salah. Juga hidup sebagai pengusaha juga salah. Lantas mana yang benar. Mungkin dia dulu menyalahkan tuhan ketika menjadi karyawan. Dan kini tentu dia akan menyesali mengapa tuhan menjadikannya sebagai pengusaha. 'Dan sedikit sekali daripada hamba-Ku yang tahu berterima kasih (bersyukur)." (QS. Sabda': 13)

Teman saya yang lain juga pernah bertutur bahwa dia sangat kecewa karena gagal mendaki gunung himalaya setelah berhasil menaklukan Gunung Jaya Wijaya. Tapi jauh sebelumnya dia pernah mengeluhkan karena belum berkesempatan mendaki gunung Jaya Wijaya. Saya tidak tau apa yang akan dikeluhkan bila dia telah berhasil menaklukkan Gunung Himalaya. Mengejar puncak ego adalah sifat manusia pada umumnya dan sebagaimana firman Allah
"Sesungguhnya Allah sentiasa melimpahkan kurnia-Nya kepada manusia (seluruhnya), tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur." (QS. al-Baqarah: 243)

Manusia acap kali terjebak dalam egonya. Karena dia selalu melihat dari sisi negatif atas takdir yang menimpanya. Dia tidak mampu menerima apa yang disebut sisi “ kelebihan dan kekurangan, Kebaikan dan keburukan “. Dua kata yang selalu bersanding. Keseimbangan yang mengharuskan kita untuk terus bergerak. Layaknya ayunan bandul jam. Ayunan kekiri dan kekayan yang selalu sama. Tapi ayunan itu akan tetap bergerak apabila tempat bertumpu ayunan itu kuat. Keterhentian ayunan itu akan membuat proses terhenti. Kekiri atau Kekanan. Dua duanya selalu tidak nyaman karena tidak ada keseimbangan. Tidak ada warna. Hidup akan menjadi hampa. Kita harus mempunya kekuatan untuk mempertahankan bandul kehidupan dalam situasi dan kondisi apapun. Karena itu pasti akan terjadi seiring waktu berlalu.
“ Sesungguhnya Kami (Allah) menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya agar Kami menguji mereka siapakah antara mereka yang terbaik perbuatannya."(QS. al-Kahfi:7)

Tidak berlebihan bila orang bijak berkata “ Aku membutuhkan kesulitan agar aku dapat mengerti makna kemudahan. Aku membutuhkan penderitaan agar aku dapat memahami kebahagiaan. Aku memahami kebencian orang lain bila mengharuskan aku untuk belajar mencintai orang lain. “ Seharusnya hidup bukanlah untuk dianalisa apalagi dikeluhkan tapi dilalui sambil melihat langkah dibelakang dan mensyukuri setiap apapun yang kita terima.
" Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl:78)

Begitupula kita selalu inginkan segala sesuatu dapat berjalan sesuai apa yang kita mau.. Kita tidak menyadari bahwa setiap hasil adalah suatu reward dari kesabaran , ketekunan dan kerja keras. Proses ini bergulir tanpa bisa kita hindari. Kualitas dan kuantitas reward sangat tergantung kualitas kita melewati proses waktu itu. Setiap manusia mempunya kualitas sendiri sendiri dan sehingga mempunyai reward sendiri2 sesuai takarannya. Itu sebabnya takdir manusia menjadi berbeda. Ada karyawan , ada pengusaha dan penguasa , ada kaya , ada miskin. Menyadari ini akan membuat kita disadarkan bahwa hidup terlalu singkat bila kita hanya sibuk menilai reward. Reward materi tidak memberikan apaapa kecuali kehampaan. Sementara menanamkan kepuasan , rasa syukur terhadap diri sendiri karena mampu memuaskan orang lain dan menghidarkan diri dari segala perbuatan maksiat adalah buah yang tak ternilai. Apapun buahnya , kita telah menentukan pilihan kita secara benar. 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'." (Q.s. Ibrahim: 7

Tuesday, July 12, 2005

Rindu dan Cinta

Cinta adalah fitrah bagi setiap manusia. Perasaan ini ada karena kehendak Allah. Cinta memberikan rasa rindu yang tiada terperi. Bila cinta telah bersemayam didalam sanubari maka rindupun akan terus bergayut terhadap orang yang dicintai. Kadang kerinduan itu memberikan bekas duka nestapa bila tak kunjung bersua. Kadang bila rindu datang , air matapun tak mampu dibendung. Bahkan kerindungan pada sang kekasih yang pergi entah kemana, kadang membuat semua menjadi hampa hingga akhirnya bunuh diri. Naudzubillah. Kerinduan adalah kesengsaraan. Kerinduan adalah kelemahan manusia menahan dorongan nafsu. Bagaimankah kiranya membendung rasa rindu ...

Pandangan yang berulang-ulang adalah pemantik terbesar yang menyalakan api hingga terbakarlah hati dengan kerinduan. Orang yang memandang dengan sepintas saja jarang yang mendapatkan rasa kasmaran. Namun pandangan yang berulang-ulanglah yang merupakan biang kehancuran. Ibnul Qayyim menyatakan, "Orang yang berakal jangan sampai terlalu mudah tergelincir jatuh hati dan rindu agar tidak tertimpa berbagai kerusakan yang ditimbulkannya, baik sedikit maupun banyak. Barangsiapa yang menerjunkan diri kedalamnya maka ia termasuk orang yang menzalimi diri sendiri yang tertipu dan binasa. Andai saja bukan karena pandangan yang berkali-kali terhadap orang yang dikagumi dan usahanya untuk dapat merajut benang-benang asmara, pastilah asmara tidak akan kokoh mencengkeram jiwanya."

Ibnu Taimiyah berkata, " Allah menjadikan menjaga pandangan dan kemaluan sebagai sebab terkuat untuk mensucikan jiwa. Dan konsekuensi dari menjaga jiwa adalah dengan menghilangkan segala bentuk kejahatan, perbuatan keji, kezaliman, syirik, dusta, dan sebagainya.

Dalam situasi kosong kegiatan, biasanya seseorang lebih mudah untuk berangan angan memikirkan orang yang dia cintai. Dalam keadaan sibuk luar biasa berbagai pikiran tersebut mudah untuk lenyap begitu saja. Oleh karena itu, untuk memangkas kerinduan seseorang hendaknya menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat baik untuk dunia maupun untuk akhirat. Hakikat dari rasa rindu adalah kesibukan hati yang kosong. Di kala sepi sendiri, tanpa aktifitas muncullah bayangan sang kekasih, wajah, gerak-gerik, dan segala yang berkaitan dengannya. Seluruhnya hanya sekadar bayangan dan khayalan yang berakhir dengan kesedihan diri. Tiada manfaatnya sedikitpun bagi kehidupan kita..

Nyanyian dan film-film percintaan memiliki andil besar untuk mengobarkan kerinduan pada orang yang dicintai. Apalagi jika, nyanyian tersebut dikemas dengan mengharu-biru, mendayu-dayu tentu akan menggetarkan hati orang yang sedang ditimpa kerinduan. Akibatnya rasa rindu kepadanya semakin memuncak, berbagai angan-angan yang menyimpang pun terbetik dalam hati dan pikiran. Bila demikian, sudah layak jika nyanyian dan tontonan seperti ini dan secara umum ditinggalkan. Demi keselamatan dan kejernihan hatimu sendiri. Sehingga sempat diungkapkap oleh para ulama, "Nyanyian adalah tarian perzinahan."

Ingatlah selalu, bahwa orang yang kau cinta bukanlah sosok pribadi yang sempurna. Ia sangat memiliki banyak kekurangan, sehingga tidak layak untuk dipuja, disanjung, atau senantiasa diangan. Orang yang kau cintai tidaklah seperti yang kau khayalkan di setiap lamunan. Ibnul Jauzi mengatakan," Sesungguhnya manusia itu penuh dengan najis dan kekotoran. Sementara orang yang dimabuk cinta senantiasa melihat kekasihnya dalam keadaan sempurna. Disebabkan cinta ia tidak lagi melihat adanya aib.".Kita bisa menghukumi sesuatu kecuali dengan timbangan keadilan, sementara orang yang sedang kasmaran tengah dikuasai oleh nafsunya sehingga tidak dapat bersikap dengan adil. Kecintaannya menutupi seluruh aib yang dimiliki pasangannya. Para ahli hikmah berkata, "mata yang diliputi hawa nafsu akan menjadi buta."

Ikhlas adalah obat termanjur penyakit rindu. Jika ikhlas kepada Allah, maka Allah akan menolongmu dari penyakit kerinduan dengan cara yang tak pernah terbetik di hati kita sebelumnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, "Sungguh jika hati telah merasakan manisnya ibadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya ia tidak akan menjumpai hal lain yang lebih manis, lebih indah, lebih nikmat dan lebih baik daripada Allah. Manusia tidak akan meninggalkan sesuatu yang dicintainya, melainkan setelah memperoleh kekasih lain yang lebih dicintainya. Atau karena adanya sesuatu yang ditakutkannya. Cinta yang buruk akan bisa dihilangkan dengan cinta yang baik. Atau takut sesuatu yang membahayakannya"

Ketika seseorang ikhlas kepada Allah, maka Allah akan memilihnya, menghidupkan hatinya. Di saat itulah segala kekejian akan berpaling darinya dan dia sangat takut untuk mencari pengganti selain Allah. Keadaannya berbeda dengan hati yang tak ikhlas. Hati tersebut akan selalu diombang-ambingkan nafsu, keinginan, tuntutan serta cinta yang memabukkan. Keadaannya tidak berbeda dengan sepotong ranting yang meliuk kesana kemari mengikuti arah angin.

Do'a mengandung sikap kefakiran serta kerendah dirian seseorang di hadapan Allah. Oleh karena itu, doa merupakan salah satu bentuk ibadah yang agung. Ketika seseorang berada dalam kesempitan dan dia bersungguh-sungguh dalam berdoa, merasakan kebutuhannya kepada Allah niscaya Allah akan mengabulkan doanya. Termasuk diantaranya dia memohon untuk dilepaskan dari kesulitan penyakit rindu dan kasmaran yang terasa mengkoyak-koyak hatinya. Penyakit yang menyebabkan dirinya gundah gulana, sedih dan sengsara.

Bagaimanapun menikah merupakan obat bagi kerinduan hati. Meski pernikahan tersebut dilangsungkan tidak dengan orang yang dicintai dan diidamkan diawal. Kenapa bisa demikian? Tidak lain, karena pernikahan telah mencukupkan segala kebutuhan jiwa disamping ia penuh berkah. Pernikahan memadamkan berbagai gejolak cinta. Namun jika memungkinkan menikah dengan orang yang diidamkan maka menikahlah dengannya tanpa harus menunggu.
Wallahu ‚alam

Monday, July 11, 2005

Pribadi humble

Ketika saya sedang hendak pergi kekamar mandi untuk berwudhu, telp sellur bergetar disamping tempat tidur saya. Ternyata ada SMS yang mengingatkan untuk sholat Tahajud. Saya tersenyum. Bayangan saya kepada sahabat saya yang tak pernah bosan mengirimi saya SMS menjelang dini hari. Teman ini sangat rajin sholat tahajud. Ini sudah menjadi kebiasaanya sejak muda. Dia, menurut saya termasuk orang yang disiplin dalam beribadah. Walau sesibuk apapun dia dalam urusan bisnis,bila datang waktu sholat , dia akan bersegera untuk sholat. Dia tinggalkan semua urusan. Dalam usia muda dia sudah pergi haji. Diapun termasuk orang yang ringan berzakat ,bersadakah. Bahkan pelesiran gayanya adalah mengunjungi Panti Asuhan diluar kota hanya untuk makan bersama dengan para anak yatim. Dengan hartanya dia ingin membagi kenikmatan itu bersama anak yatim.

Tapi penah satu kali saya bertemu dengan dia ketika menghadiri perkawinan putra dari teman kami. Dia nampak bermuka sedih. Apa pasal ? Karena tadi dijalan menuju tempat acara resepsi perkawinan, ketika lampu merah kendaraannya dihampiri oleh anak kecil yang mengemis.. Dia tidak begitu memperhatikan karena sibuk menerima telp dengan relasi bisnisnya. Dia sempat memelototi anak itu karena terus mengetuk ngetuk jendeal mobil hingga menggangu konsentrasinya berbicara. Dia baru menyadari sikapnya itu setelah lampu hijau dan kendaraan menjauh dari anak itu. Dia katakan, dia terasa masuk dalam lobang sesal tak bertepi. Dia membayangkan neraka begitu dekat dengan dirinya. Mengapa ? tahukah kamu ? dalam surat Al Mauun Allah berkata ” Tahukah kamu ciri ciri orang yang mendustakan agama,itulah orang yang menghardik anak yatim...( QS. 107:2).

Saya tidak bisa menggambarkan betapa menyesalnya dia. Padahal belum tentu anak yang mengemis itu adalah anak yatim. Tapi ’ apa jadinya bila benar itu anak yatim” katanya dengan suara berat menyiratkan sesalnya yang tak bertepi. Saya tak mau berkomentar lagi. Saya yakin teman saya itu bisa berdamai dengan perasaannya melalui sholatnya , melalui taubah nya. Mengingat tentang teman ini , mengingatkan saya tentang firman Allah (Al-Mu'minĂ»n [23]: 57-61) “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan mereka. Orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu apapun). Serta orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera dan berlomba-lomba berbuat berbagai kebaikan "

Apa yang dirasakan teman itu adalah buah keimanan. Orang yang beriman memang selalu was was dengan segala amalanya. Ada rasa takut sedikit saja dia berbuat salah. Hingga dia selalu hati hati berbuat dan bersikap. Andaikan melakukan kesalahan , maka cepat sekali dia tahu. Segera rasa sesal datang menghantui. Ketika itulah sebetulnya ampunan Allah datang karena cinta Allah. Rasa takut ini , juga implikasi keyainannya akan janji Allah untuk memberikan imbalan segala amal sholehnya. Dia percaya Allah akan memperlakukannya sebagaimana dia memperlakukan Allah. Dengan itu dia terkurung oleh keimanannya untuk senantiasa berhati hati agar tidak berbuat salah sekecil apapun. Dia memang menjelma menjadi pribadi yang humble dalam beribadah.

Rasa takut seperti inilah yang membuat kaum sufi tak berharap apapun dari Allah kecuali dekat kepada Allah dengan senantiasa mensucikan dirinya. Mereka sadar bahwa hanya lewat pensucian dirilah cahaya Allah itu akan sampai. Dengan mensucikan diri lahir batin itulah rahmat Allah akan sampai. Maka mereka tak pernah berjalan dimuka bumi dengan mendongak keatas menyombongkan diri atas amalanya. Berusaha menghindari fitnah dunia dengan hemat berbicara ,banyak bekerja dan berbagi, banyak berzikir dan tentu taat beribadah karena Allah. Dari teman itu, saya mendapat pembelajaran, bahwa keikhlasan berbibadah hanya akan melahirkan sifat rendah hati dihadapan Allah dan yang lebih penting selalu merasa tidak pantas masuk sorga namun tak sanggup merasakan siksa neraka. Maka rahmat Allah adalah tujuan akhirnya dari penghambaan kepada Allah...

Sunday, July 10, 2005

AMANAH

Yang membedakan antara manusia dan binatang adalah binatang hidup tanpa misi ( amanah) dan manusia mengemban misi ( amanah ). Orang yang tidak peduli dengan misi maka dia tidak dapat disebut sebagai manusia. Alam semesta ini di Amanahkan Allah kepada manusia karena setelah tidak ada satupun materi dialam ini mampu mengemban amanah itu. Dan Adam menjawabnya “sanggup “. ( QS 33:72)

Orang yang beriman adalah mutlak untuk meyakini amanah yang diembannya. Dan dalam hadits Rasulullah saw: "tidak ada iman bagi orang yang tidak ada amanah baginya."..Hingga tak berlebihan bila orang yang beriman mampu mengemban amanah dengan tulus maka dia akan mendapat predikat mu'minin muttaqin , posisi derajat tertinggi dalam beragama. Tapi bagi yang ingkar dengan amanah maka dia akan dihinakan didunia maupun diakhir dan menjadapat julukan asfalassafiliin.

Amanah yang paling dekat dengan diri kita adalah diri kita sendiri. Tubuh kita adalah amanah allah yang harus kita jaga. Allah mengharamkan manusia yang zolim terhadap dirinya. Makanya perbuatan minuman keras atau Narkoba diharamkan karena akan merusak organ tubuh. Berjudi diharamkan karena akan merusak etos kerja ( cara berpikir ) seseorang, yang sehingga akan membuat dia malas , tamak dan mudah marah. Memakan babi atau binatang yang bertaring diharamkan karena didalam tubuh binatang itu ada bakteri /virus yang tidak bisa mati walau sudah dimasak dagingnya. Virus atau bakteri itu akan mengotori peredaran darah manusia yang sehingga akan mengganggu kesehatan seluruh organ dalam tubuh manusia. Kita disunnahkan oleh rasul agar makanlah ketika lapar dan berhentilah sebelum kenyang. Ini adalah cara efektif untuk menjaga metabolisme didalam tubuh kita. Dimana terjadi keseimbangan antara air, udara dan makanan didalam perut. Keseimbangan ini akan menciptakan kelancaran semua proses metabolisme dan akan membuat tubuh kita sehat. Terlebih lebih tindakan bunuh diri adalah sangat dimurkai oleh allah dan itu sama dengan sirik. Tidak akan pernah mendapatkan sorga. Tak ada ampun dan safaat dari Allah.

Pengusaha mengemban amanah untuk memberikan kontribusi kepada kepentingan masyarakat melalui taat membayar pajak. Tidak mengakali pembukuan untuk meringankan pajak. Dia juga harus meningkatkan martabat dan kesejahteraan para karyawannya. Kepada mitra usaha , dia juga harus menegakkan keadilan dalam keharmonian yang lebih bersifat sinergi. Hingga tidak ada kesan satu sama lain saling menindas. Produk atau jasa yang dihasilkannya haruslah memberikan manfaat lebih ( best quality ) kepada pembeli dengan harga yang pantas ( Best price ) tanpa ada niat memanfaatkan kelemahan akan minat konsumen Bila pengusaha mempunyai sifat amanah maka tidak saja menjamin kelanggengan usahanya karena didukung oleh seluruh pihak tapi juga akan mendapatkan rahmat dari Allah dengan memudahkan setiap urusannya dan diberikan jalan rezeki tanpa diduga. Itulah mengapa kaum entrepreneur disebut sebagai kesatria tempur negara diabad modern ini. Merekalah yang berada dibarisan terdepan untuk menciptakan kemakmuran bagi banyak orang. Ditangan mereka pula fenomena zaman dibentuk. Tapi apa jadinya bila kaum entrepreneur tidak amanah. Maka yang terjadi adalah pengkianat bangsa , yang merusakan sendi sendi berbangsa dari segala aspek kehidupan.

Bagi para professional seperti Guru/dosen , para medis , penulis , pengacara , juru dakwah, pengola donation /charity , Manager perusahaan dan lainnya harus menjadikan amanah sebagai suatu attitude. Sipat amanah akan melahirkan sipat Integritas , dedikasi serta lebih daripada itu mengemban tugas diatas kepentingan moral. Inilah yang disebut dengan akhlak mulia dari orang yang beriman dalam mengemban amanah. Guru akan menggunakan waktu luang untuk senantiasa memperbanyak ilmunya dengan banyak membaca untuk dapat memberikan perluasan wawasan kepada murid/mahasiswanya. Bukannya ngobyek cari tambahan. Pengacara akan menegakan keadilan dan meluruskan keadilan.. Bukannya menjadi calo perkara atau makelar keadilan. Dokter akan lebih meningkatkan kualitasnya kemampuannya tanpa harus mengejar materi semata. Tapi lebih daripada tugas kemanusiaan. Membantu orang yang membutuhkan pertolongan. Petugas donasi charity haruslah menjaga dan mengelola setiap sen sumbangan dari masyarakat untuk disalurkan sesuai dengan programnya dan mempertanggung jawabkanya dengan jujur. Manager Perusahaan haruslah menjaga amanah jabatan dengan bekerja keras untuk kepentingan perusahaan dengan mengutamakan efisiensi dan efektifitas.

Siapapun dia dengan segala profesinya , maka dia baru pantas disebut professional bila di mempunyai dasar moral yang mulia. Disinilah letak makna professional. Karena kaum professional sangat memahami betul profesinya. Semua profesi yang terbentuk di dunia ini karena tuntutan sosial masyarakat untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Kehidupan yang berorientasi kepada kesetaraan dan perdamaian dan kesejahteraan. Jadi bila ada orang yang mengaku professional tapi mengindahkan moral maka dia adalah amatir atau lebih rendah dari orang yang tidak professional atau bahkan lebih rendah dari binatang.

Didalam rumah tangga. Suami mengemban amanah dari wali wanita dan dari Allah untuk melindungi dan memperlakukan wanita istrinya dengan sebaik baiknya. Artinya suami haruslah menjadi pemimpin bagi keluarganya dengan nafas amanah dari masyarakat ( keluarga wanita) dan dari Allah. Pemimpin yang amanah adalah yang mampu memberikan rasa aman bagi yang dipimpinnya serta mampu menciptakan kebahagiaan bagi seluruh anggota keluarga. Dilain pihak para istripun menyadari bahwa dirinya dan beserta seluruh yang ada didalam rumah tangga adalah amanah dari suaminya. Dia harus menjaga amanah itu dari fitnah dunia maupun akhirat. Dia harus menjaga harta ( uang belanja ) dengan sebaik mungkin tanpa boros. Dia harus menjaga anak anak serta harta suami bila suami tidak ada dirumah. Dan yang lebih penting dari itu semua adalah istri harus menjaga kehormatan dirinya dihadapan umum. Bila dalam satu keluarga menyadari peran masing masing dengan amanah yang diembannya maka kehidupan rumah tangga akan terbentuk mawaddah wa rahman, Namun bila tidak ada amanah diatara anggota keluarga maka rumah tangga itu akan menjadi neraka didunia.

Adapun Amanah yang besar yaitu Penguasa Negara ( Executive, Legislative, Yudicative ) . Setiap orang ,yang memegang jabatan ini akan ditanya. Maka menyebarkan agama, berdakwah dan mengajarkan orang lain kebaikan termasuk tanggung jawab penguasaha yang paling penting, serta merupakan kewajiban dan kefardhuan yang paling utama. Karena sesungguhnya padanya ada kemampuan dan kekuasaan yang lebih banyak dari semua orang Dakwah yang paling efektif adalah memberikan teladan akhlak yang baik kepada rakyat. Dakwah seperti inlah yang dilakukan oleh para pemimpin dizalam khalifah Nabi. Ini adalah tanggung jawab yang paling penting dan yang paling besar atas seeorang penguasa muslim. Amanah yang ada dipundaknya akan ditanya tentang hal itu pada hari qiyamah. Tidak banyak yang dituntut dari penguasa kecuali teladan akhlak mulia yang menanamkan rasa kasih sayang dengan sikap rendah hati. Ikhlas melayani tanpa pamrih. Tidak banyak retorika kecuali selalu ada tindakan ‘memberi “ rasa aman , rasa keadilan dan tentram bagi rakyat yang dipimpinnya.

Allah swt berfirman, yang artinya: "Hai orang-orang beriman, janganlah kamu,mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." (QS. 8:27). Kita semua mengetahui bahwa kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa lari dari amanah: menjadi rahmat bagi alam semesta.

wallahu'alam


SEBAB-SEBAB KEFAKIRAN

Penyakit lemah dan malas terkadang menjadi salah satu sebab dari kefakiran bagi seorang muslim. Karena Allah subhanahu wata'ala menciptakan manusia dalam keadan memiliki potensi untuk berusaha dan bekerja di muka bumi, serta diberi kemampuan untuk berjuang mencari rizki. Oleh karenanya Dia berfirman, artinya, "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah." (QS. 90:4). Susah payah mengharuskan seseorang untuk berusaha, bekerja keras dan berjuang untuk memperoleh rezeki dan keberkahan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam banyak-banyak berlindung dari sikap malas dan lemah, beliau bersabda, "Ya Allah aku berlindung kepadamu dari kegelisahan dan kesedihan, dari sifat lemah dan malas, dari sikap pengecut dan kikir, dari belitan hutang dan tekanan orang." (HR. al-Bukhari)

Kefakiran dan kemelaratan merupakan bagian dari musibah, yang terkadang disebabkan karena kemaksiatan sebagaimana musibah yang lain pada umumnya. Allah subhanahu wata'ala berfirman, artinya, "Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. 42:30). Ibu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata, "Sesungguh nya kebaikan itu sinar di wajah, cahaya di dalam hati, kekuatan di badan, keluasan dalam rezeki, kecintaan di dalam hati setiap orang. Sedangkan keburukan adalah kemuraman di wajah, kegelapan di hati, kelemahan di badan, mengurangi rezeki, dan penyebab kebencian di hati orang."

Maka cukuplah kemaksiatan itu akan menghilangkan keberkahan, sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Sesungguhnya seorang hamba terhalang dari rizki dengan sebab dosa yang dia kerjakan." (HR. Ahmad & Ibnu Majah)

Terhalangnya seseorang dari rezeki mungkin dengan lenyapnya rezeki tersebut, atau berkurang jumlahnya, atau tidak memberinya manfaat sehingga meskipun harta yang dimiliki sangat banyak, namun justru menjadi bencana baginya. Oleh karena itu selayaknya masing-masing kita melihat seberapa banyak telah melakukan dosa, menyia-nyiakan shalat, kurang takut kepada Allah subhanahu wata'ala, tidak mau bersilaturrahim dengan kerabat, buruk pergaulan dengan sesama muslim dan lain-lain. Kalau kita menyadari, maka sungguh tidak ada seorang pun di antara kita yang lepas dari berbuat dosa, sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Seluruh bani Adam banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat." (HR. at-Tirmidzi)

Allah subhanahu wata'ala itu Maha Tahu, boleh jadi jika seorang hamba diberi kekayaan, justru akan menjadikannya celaka di dunia dan di akhirat, atau akan menjadi kan dia sombong dan besar kepala yang berakibat pada turunnya siksa dan bencana. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala menjaga hamba-Nya yang beriman dari dunia ini, padahal Dia mencintainya. Sebagaimana kalian semua berhati-hati (menjaga) orang sakit dalam memberi makan dan minum, karena khawatir terhadapnya." (HR. Ahmad, terdapat di Shahih al-Jami no. 181)

Termasuk besarnya kemuliaan dan kemurahan Allah subhanahu wata'ala adalah Dia memuliakan hamba-Nya sebelum hamba itu melakukan suatu prestasi, dan Dia telah menulis untuk seorang hamba satu kedudukan yang tidak mungkin hamba tersebut mencapainya hanya dengan amal perbuatannya. Sehingga dia memberikan kebaikan dengan cara mengujinya, baik itu dalam harta, anak, atau badannya. Nabi shallallahu 'alaihi wasallambersabda, "Sesungguhnya jika seorang hamba telah ditulis baginya satu kedudukan yang tidak mampu dia capai dengan amalnya, maka Allah mengujinya di dalam harta atau badan atau anaknya." (HR. Abu Dawud)

Dan kedudukan yang tinggi hanya dicapai oleh seorang mukmin. Maka ketika ada seseorang datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata, "Sungguh aku mencintaimu." Maka Nabi menjawab, "Siapkan dirimu menjadi orang fakir." Wallahu a'lam.

Saturday, July 09, 2005

Meminta selain kepada Allah.

Satu saat, temanku yang juga pengusaha. Menceritakan bagaimana dia berhasil ikut tender dalam jumlah besar dan untung besar. Juga dia tambahkan bahwa sejak dia rajin berdoa disisi kuburan para Wali dan meminta berkah dengan para kiyai sefuh maka kehidupan businessnya semakin lancar. Keuntungan business selalu berpihak padanya. Setiap tahun dia pergi haji. Sholat lima waktu tak pernah dia tinggalkan. Seluruh amalan sholeh menjadi penghias hidupnya. “ You kan ada masalah terus, ada baiknya ikut saya ke kemakam makam para wali yang ada di jawa, kita berdoa di Makam para Wali dan sekalian minta berkah sama Kiyai Sefuh. Yakinlah , masalah hidupmu akan terselesaikan dengan baik. Hidupmu akan tentram. “ Demikian ajakannya kepadaku. “ Maaf, Aku engga pernah merasa masalah membebani hidupku. Bagiku masalah adalah seni dalam kehidupan. Setidaknya kala aku mendapatkan masalah itu sebagai pertanda agar aku sadar untuk senantiasa mendekat diri kepada Allah dengan rasa takut, rindu dan ikhlas.” Kataku menolak ajakannya sambil tersenyum.

Mengapa aku menolak keras setiap upaya mendewakan sesuatu selain Allah karena semuanya bermuara kepada syirik. Allah bersabda “ Mintalah kepada ku ( tanpa perantara ) , maka akan kuberi “ Upaya meminta berkah kepada selain Allah adalah upaya meragukan integritas Allah, Sang Pencipta, Sang Penentu. Jauh sebelumnya fenomena tentang memohon kepada kuburan , tempat keramat dan lain sebagainya sudah diperingatkan oleh Rasullullah, sebagaimana diriwayatkan dalam shoheh [Bukhori dan Muslim], dari Aisyah ra. bahwa Ummu Salamah ra. bercerita kepada Rasulullah tentang gereja yang ia lihat di negeri Habasyah ( Ethiopia ), yang didalamnya terdapat rupaka-rupaka (gambar-gambar), maka Rasulullah bersabda :”Mereka itu, apabila ada orang yang sholeh atau hamba yang sholeh meninggal, mereka membangun diatas kuburannya sebuah tempat ibadah, dan mereka membuat di dalamnya rupaka-rupaka, dan mereka sejelek-jelek makhluk disisi Allah”.

Mereka dihukumi beliau sebagai sejelek-jelek makhluk karena mereka melakukan dua fitnah sekaligus; yaitu fitnah memuja kuburan dengan membangun tempat ibadah diatasnya dan fitnah membuat rupaka rupaka ( patung-patung ).Dalam riwayat Imam Bukhori dan Muslim, Aisyah juga berkata : ketika Rasulullah akan diambil nyawanya, beliaupun segera menutup mukanya dengan kain, dan ketika nafasnya terasa sesak maka dibukanya kembali kain itu. Ketika beliau dalam keadaan demikian itulah beliau bersabda :“Laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yahudi dan Nasrani, yang telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat peribadatan”. Beliau mengingatkan umatnya agar menjauhi perbuatan mereka, dan jika bukan karena hal itu, Maka pasti kuburan beliau akan ditampakkan, hanya saja beliau hawatir kalau kuburannya nanti dijadikan tempat beribadah.

Imam Muslim meriwayatkan dari Jundub bin Abdullah, dimana ia pernah berkata : “Aku pernah mendengar Rasulullah r bersabda lima hari sebelum beliau meninggal dunia : ku menyatakan setia kepada Allah dengan menolak bahwa aku mempunyai seorang khalil ( kekasih mulia ) dari antara kalian, karena sesungguhnya Allah I telah menjadikan aku sebagai kekasihNya, sebagaimana Ia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasihNya; seandainya aku menjadikan seorang kekasih dari umatku, maka aku akan jadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai tempat ibadah, dan ingatlah, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai tempat beribadah, karena aku benar-benar melarang kalian dari perbuatan itu”.

Rasulullah di akhir hayatnya - sebagaimana dalam hadits Jundub - telah melarang umatnya untuk tidak menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah. Kemudian ketika dalam keadaan hendak diambil nyawanya – sebagaimana dalam hadits Aisyah - beliau melaknat orang yang malakukan perbuatan itu. dan sholat di sisinya termasuk pula dalam pengertian menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, walaupun tidak dijadikan bangunan masjid; dan inilah maksud dari kata-kata Aisyah ra.:“… dihawatirkan akan dijadikan sebagai tempat ibadah.” Dan para sahabat pun belum pernah membangun masjid (tempat ibadah) disekitar kuburan beliau, karena setiap tempat yang digunakan untuk sholat berarti telah dijadikan sebagai masjid, bahkan setiap tempat yang dipergunakan untuk sholat disebut masjid, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasul :“Telah dijadikan bumi ini untukku sebagai masjid dan suci”.

Dan Imam Ahmad meriwayatkan hadits marfu’ dengan sanad yang jayyid, dari Ibnu Mas’ud t, bahwa Nabi Muhammad r bersabda :Sesungguhnya, termasuk sejelek-jelek manusia adalah orang yang masih hidup saat hari kiamat tiba, dan orang yang menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah (masjid)” ( HR. Abu Hatim dalam kitab shohehnya ).Jadi soal temanku yang katanya sukses setelah mendapat berkah dan berdoa di kuburan para wali adalah sebetulnya berkah dari Iblis untuk menyesatkannya dari selain Allah. Ketika doanya terkabulkan disisi kuburan maka pada waktu bersamaan diapun tersingkir dari sisi Allah. Aqidah telah tergadaikan . Diapun sirik maka seluruh amalannya menjadi sia sia. Nauzubillah!
Wallahu 'alam

Dunia

Ketika di Hongkong International Airport, saya bertemu dengan teman lama. Kami bertemu di ruang boarding menuju Beijing. Wajahnya nampak pucat dan lemah. Ketika itu dia didampingi oleh istrinya. Dari dia saya tahu bahwa tujuannya ke Beijing adalah untuk berobat levernya. Sudah hampir 3 bulan dia menderita penyakit lever itu dan berencana ke Beijing untuk transplasi Lever. Dia juga kena penyakit jantung koroner. Sambil menunggu keberangkatan, dia bercerita kepada saya bahwa dia baru merasakan waktu berjalan lambat ketika dia terkena penyakit. Sebelumnya dia selalu merasa waktu berjalan cepat. Dia menceritakan, sedari usia remaja dia sudah terjun dalam dunia bisnis. Kemudian terus berkembang sampai kini ketika usianya mendekati 50 tahun. Kenapa waktu terasa cepat , tanya saya. karena menurutnya , kalau sehat dia sangat sibuk dan sibuk. Rasanya 24 jam sehari tidak cukup baginya. Saya hanya terdiam mendengar alasannya itu. Bagi saya , setidaknya dia tahu betapa tingginya nilai sehat itu.

Dia juga menceritakan betapa ketika sakit, segala yang nikmat menjadi tidak ada artinya. Segala hal dipantang. Sedikit saja dia melanggar pantangan, maka rasa akit tak terperikan menjalar keseluruh tubuhnya. Harta dan segala yang dia punya menjadi tidak ada arti. ” Benarlah, ternyata hidup ini hanya menipu kita. ” simpulnya dengan suara lirih dan tatapan kosong. Saya perhatikan istrinya dengan sabar mengusap keningnya karena selalu berkeringat. Apa yang saya tahu dari teman ini bahwa dia pemilik usaha yang cukup banyak.Dia punya usaha dibidang pemboran minyak di Vietnam, Travel Biro, Hotel, Mall. Perusahaannya tersebar di Singapore, Perth, Vietnam, Kamboja, Ukraina, Beijing, Yunani, Italia, Toronto dan banya lagi. Itu semua didapatnya dengan kerja keras dan tentu menyiksa dirinya. Hampir setiap hari , menurutnya yang saya tahu, dia hanya tidur 3 jam sehari. Kadang dalam tidurpun dia masih bermimpi dengan urusan bisnisnya. Hampir tidak ada waktu baginya barang sekejab untuk merasakan betapa nikmatnya naik mobil mewah, apartement mewah dan segala layanan first class.

Saya teringat dengan Firman Allah ” Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan... Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Q.S. Al-Hadiid [57]:20). Ya hidup itu hanyalah permainan Allah.Alias bukanlah sesuatu yang harus diseriusi berlebihan. Bayangkanlah, harta kita kejar untuk memuaskan kita namun ketika sakit , tak bisa lagi makan yang enak. Sementara kenikmatan yang diburu dengan al at cost,, ternyata kalau makan hanya sebatas lidah. Kalau bersenggama hanya sebatas orgasme. Selebihnya melelahkan. Semahal apapun makanan maka pasti berujung kepada tempat yang kotor ( toilet). Semewah apapun rumah ,hanya sekedar kenikmatan untuk dipandang. Kalau sudah tidur maka lupalah semuanya. Anak yang dibela dengan segala kecintaan namun setelah menikah ,dia akan lebih memikirkan keluarganya. Istri yang dibela dengan limpahan kemewahan layanan salon, spa , baju buatan swiss, tas dari Itali namun bila kita tidak ada , dia akan lebih memikirkan dirinya sendiri. Lantas apa dunia harus dibela sampai mati ?

Maka, teramat bodohlah manusia yang cinta dunia,. Cinta kepada sesuatu yang tak abadi. Yang serba terbatas. Bagi Allah , orang yang cinta dunia adalah neraka tempatnya. Inilah firman Allah “Adapun orang yang melampaui batas, Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya”. (An-Nazi’at: 37-41). Mengapa sampai begitu keras Allah memberikan peringatan tentang cinta dunia ini? Karena sumber segala kebejatan moral berasal dari kecintaan akan dunia. Karena kecintaan akan dunia membuat orang lupa mati. Lupa fakir miskin, Lupa sahabat. Lupa amanah. Lupa kebenaran. Lupa bersyukur kepada Allah. Baginya dunia adalah tempat dia memuaskan segala nafsu duniawinya. Padahal ketika dia mabuk dengan dunia, pada saat itu terjadi proses penghancuran dirinya secara lambat tapi pasti. Tekanan nafsu yang begitu hebat telah membuat kerja jantungnya terganggu. Kerja keras tanpa waktu, telah membuat beban ginjal dan levernya semakin berat dan akhirnya meradang sakit. Belum lagi, akibat memanjakan diri dengan minuman dan free sex telah membuat dirinya tercemar penyakit. Dia benar benar merusak dirinya dan menganiaya dirinya sendiri. Benar benar tolol.

Tapi bagi orang yang menjadikan dunia sebagai persinggahan untuk menguji keimanannya dihadapan Allah maka dunia adalah jembatan emas menuju sorga. Dia berjihad mencari rezeki Allah namun tidak memperkaya dirinya saja tapi juga menebarkan harta itu kepada orang lain dan membantu perjuangan syiar agama. Dia makan tapi tidak pernah kenyang. Dia beristri tapi tidak memanjakan istrinya. Dia punya anak tapi tidak memanjakan anaknya. Semua yang dia punya hanyalah titipan Allah yang harus disyukuri dengan kerendahan hati tanpa menupuk dada dan mempeturutkan nafsu tololnya.

Friday, July 08, 2005

KIKIR DAN IRI

Allah memberitahukan kita dalam ayat berikut ini bahwa jiwa manusia dikuasai oleh sifat kikir. "... manusia itu menurut tabiatnya kikir dan jika kamu menggauli istrimu dengan baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh) maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (an-Nisaa` [4]: 128)

Jadi, sama halnya dengan sifat jahat lainnya, kita semua menurut tabiatnya selalu bergelut dengan perasaan-perasaan kecemburuan dan kekikiran yang berasal dari dalam diri kita sendiri. Orang akan berjuang menyucikan dirinya dari perasaan tersebut. Namun sebaliknya, ia tidak akan pernah mampu mengamalkan nilai ajaran moral yang ada di dalam Al-Qur`an dengan sepenuhnya dan tidak akan pernah mampu sepenuhnya meraih ridha Allah. Demikian pula halnya pada ayat Al-Qur`an lainnya, yang menyatakan bahwa manusia berselisih antara satu sama lainnya dan tersesat dari jalan yang lurus hanya kerena rasa iri. Mereka merasa bertentangan satu sama lainnya, meskipun mereka telah menerima Kitab yang membimbing mereka ke jalan yang lurus.

"Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan) maka Allah mengutus para nabi sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberikan keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus." (al-Baqarah [2]: 213).

Perumpamaan yang digambarkan dalam Al-Qur`an ini memiliki pengaruh yang besar dalam membantu manusia untuk memahami betapa besarnya bahaya yang disebabkan oleh iri hati. Walaupun sadar dan melihat dari jalan yang benar, seseorang dapat saja mengambil keputusan yang salah, hanya karena iri hati. Iri hati dan kikir mencegah seseorang untuk berpikir rasional dan mengevaluasi setiap peristiwa dengan benar. Ketika dihadapkan pada situasi tertentu, seseorang yang tengah mengatasi rasa tersebut, mungkin tidak bisa bersikap sesuai dengan nilai-nilai ajaran Al-Qur`an. Ia tidak dapat berbicara tentang apa yang diperkenankan Allah atau berlaku ikhlas dan tulus. Dalam keadaan seperti itu, ia tidak akan bisa diatur oleh pikiran dan hati nuraninya, tetapi diatur oleh hawa nafsunya, mendengarkan bujukan dan rayuan setan. Hawa nafsu mengarahkan dirinya kepada tingkah laku setan.

Agar tersucikan dari kekotoran ini, seseorang seharusnya lebih dulu dan lebih utama untuk dapat memahami bahwa iri hati dan kikir itu bertentangan dengan agama. Ia harus menyadari bahwa perasaan ini muncul dari nilai-nilai duniawi. Manusia menjadi iri hati atas harta dan kebaikan akhlaq orang lain, yang kemudian menjadikannya bersaing melawannya. Padahal, seorang mukmin sejati adalah mereka yang mampu menahan diri dari keterikatan pada harta benda duniawi yang terlalu berlebihan. Pada intinya, mereka hanya menginginkan akhirat.

Seorang mukmin sejati mengetahui pasti bahwa kenikmatan duniawi itu adalah titipan dari Allah dan akan diambil kembali oleh-Nya ketika saatnya tiba. Walaupun ia dapat memperoleh kesenangan tersebut dengan cara yang diridhai Allah, ia tidak bernafsu mencurahkan seluruh tenaga untuk mendapatkannya dan tidak menjadi orang yang terlalu berambisi. Ia bersyukur kepada Allah atas segala yang telah dianugerahkan kepada dirinya dan dia mengetahui cara menjadi bagian dari apa yang telah ia miliki.

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat berikut, apabila Allah menganugerahkan lebih banyak berkah-Nya atas orang lain, ia tahu bahwa ini memiliki maksud. "Kepunyaan-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi; Dia melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyempitkan(nya). Sesungguhnya, Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (asy-Syuura [42]: 12).

Setiap orang sedang diuji melalui karunia dari Allah berupa kecukupan dan kebaikan untuknya. Dengan demikian, dapat terlihat perbedaan antara mereka yang berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan penuh syukur dan kerendahan hati dan mereka yang tidak memiliki rasa terima kasih dengan meninggalkan ajaran moral Al-Qur`an. Karena itu, seseorang tampaknya tidak mungkin menjadi kikir atau iri hati atas keberkahan dunia yang dimiliki orang lain jika ia memahami bahwa kehidupan duniawi hanyalah tempat sementara yang semata-mata diciptakan Allah untuk menguji manusia. Misalnya, iri hati terhadap orang lain hanya karena kekayaan, ketampanan, atau dikaruniai kekuasaan. Sifat ini bertentangan dengan akhlaq yang terkandung dalam Al-Qur`an.

Seseorang yang hidup dalam tingkatan akhlaq Al-Qur`an yang tinggi akan mengetahui dengan jelas bahwa Allah akan menganugerahkan keberkahan atas dirinya di akhirat kelak. Jadi, ia hidup dengan ketenangan pikiran dari kesadaran atas kebenaran yang dibawa Al-Qur`an. Akan tetapi, mereka yang gagal memahami takdir, kenyataan alamiah dari kehidupan dunia ini, kenyataan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan memerintahkan mereka agar beriman kepada-Nya, terbawa oleh sifat iri hati dan kikir. Mukmin mana pun yang sadar akan kebenaran itu, menahan dirinya untuk melakukan perbuatan yang salah.

Walaupun ini adalah sifat yang mencerminkan kemuliaan akhlaq Al-Qur`an, orang yang beriman akan berhati-hati dalam menjauhkan diri dari rasa iri hati. Sebagai gantinya, ia ingin bisa mencontoh kebaikan akhlaq dari saudara muslimnya. Harapannya untuk selalu "terpelihara" tidak membawanya kepada kekikiran. Dalam kaitannya dengan ayat Al-Qur`an yang menyatakan "Berlomba-lombalah satu sama lainnya menuju kebaikan", ia berjuang dengan ikhlas untuk menjadi salah satu di antara hamba-hamba yang dicintai oleh Allah, serta melaksanakan kebaikan yang terkandung dalam Al-Qur`an dengan sikap yang sangat ideal.

Sekalipun demikian, perlombaan ini tidak dilandaskan atas perasaan iri hati atau persaingan. Perlombaan ini ditujukan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah daripada mendekatkan diri kepada manusia. Sama halnya seperti seseorang yang juga berdo'a demi mukmin yang lain agar menjadi salah satu di antara hamba-hamba yang paling dicintai oleh Allah, dan ia pun berdo'a untuk dirinya sendiri. Ia tidak hanya berdo'a dengan ikhlas, namun juga berjuang untuk mendapatkan apa yang dimintanya itu.

Orang-orang mukmin sadar akan hal itu, sebagaimana semua makhluk lainnya, mereka lemah. Mereka takut kepada Allah dan mengakui kelemahan-kelemahan diri ketika berhadapan dengan Tuhannya. Pada salah satu ayat Al-Qur`an dijelaskan tentang kebenaran ini,"Katakanlah, 'Aku tidak kuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." (al-A'raaf [7]: 188).

Seseorang yang lebih mengutamakan kepentingan akhirat daripada hal-hal yang bersifat duniawi, tidak pernah mengambil contoh akhlaq yang berdasarkan pendapat orang lain. Ia hanya berusaha mencapai ridha Allah. Jadi, ia tidak pernah mencoba agar menjadi lebih baik daripada orang lain (dalam hal keduniawian), mencari penghargaan atau untuk mengamankan posisi mereka, serta menginginkan pengaruh penting dalam pergaulan. Sebagaimana dipahami dari masalah yang telah disebutkan di atas pada bagian ini, jika seseorang mengetahui kecenderungan dan penurunan yang ada pada dirinya, ia seharusnya sadar bahwa ia sedang melakukan perbuatan moral yang pada akhirnya akan membahayakan keikhlasannya dan mencegahnya untuk mendapatkan ridha Allah.

Rasulullah juga telah mengungkapkan bahwa umat Islam seharusnya mampu saling melengkapi kekurangan yang mereka miliki dan menutupi kekeliruan yang pernah mereka lakukan, sebagaimana haditsnya, "Jika seseorang berusaha menutupi aib (dosa) saudaranya di dunia, Allah akan menutupi aib (dosa)nya di akhirat kelak." Namun jika yang terjadi sebaliknya, kesatuan dan persatuan di antara mereka akan sirna dan kekuatan mereka akan menjadi lemah. Ketika kekuatan umat muslim melemah, kekuatan orang yang kafir kepada Allah akan menjadi kuat. Tak ada seorang muslim pun bersedia bertanggung jawab terhadap hal tersebut, hanya karena ia memenuhi keinginan hawa nafsunya.

Sesungguhnya, umat Islam diharapkan mampu mengamalkan kebenaran yang terkandung di dalam Al-Qur`an dengan segala kemampuan terbaik yang mereka miliki. Ia harus menjadi contoh bagi umat muslim lainnya dan mendorong semangat agar mereka hidup sesuai dengan tuntunan Islam. Ini membuktikan bahwa seseorang yang belum berhasil mengatasi kecemburuan dan persaingan yang ada pada dirinya, ia tidak akan mampu memenuhi tanggung jawab ini dengan sebenar-benarnya. Karena itu, ia berbuat sesuatu yang melemahkan kekuatan orang-orang beriman dan menguatkan orang yang ingkar kepada Allah. Sebagai akibatnya, orang seperti ini tidak hanya menjadi contoh buruk bagi teman dan keluarganya, tetapi ia juga memikul kesalahan dan dosa besar.

Karena itu, ia seharusnya dengan segera berhenti melakukan kebiasaan seperti itu dan mencontoh akhlaq yang lebih mulia. Hanya dengan begitu, ia mampu mendapatkan keikhlasan dan mencapai tingkatan akhlaq yang diridhai Allah. Sebagaimana yang diungkapkan Badiuzzaman, apa yang pantas bagi seorang muslim adalah "membangun kesatuan yang murni dengan sesama muslim" sesuai dengan ayat yang menyatakan, "Tolong-menolonglah satu sama lainnya dalam kebaikan dan amal saleh," dan memelihara semangat keikhlasan agar tetap hidup.

Thursday, July 07, 2005

The battle of life

Adakah pelajaran berharga dari Rasul tentang kekalahan yang menyakitkan ? Adakah pelajaran berharga dari Rasul , rasa senang atas kemenangan berakhir kepada kekalahan yang mempermalukan ? demikian pertanyaan yang diajukan oleh teman ketika kami berbicara tentang menyikapi kegagalan. Teman ini melanjutkan, bahwa dulu ketika Perang Uhud, pasukan Nabi yang penuh percaya diri setelah mencapai kemenangan dalam perang Badar tampil gagah berani menjemput sahid. Nabipun mengatur strategi dengan begitu rapinya. Diminta semua pasukan mentaati taktik dan strategi itu dengan sebaik baiknya. Ketika perang berlangung dengan posisi diatas angin atas musuh kafir ( pasukan Abu sofian ), terjadi kekacauan barisan pertahanan. Pasukan pemanah yang diminta untuk tetap diposisinya diatas bukit, terjun kebawah untuk ikut memperebutkan harta rampasan. Pada saat itulah kaveleri musuh dibawah pimpinan Khalid Bin Walid melakukan pukulan balik.

Tanpa terduga , serangan dari balik bukit pasukan kavelery musuh itu membuat kacau pertahanan pasukan muslim. Keadaan menjadi terbalik. Kalau tadinya Pasukan Islam sudah hampir mencapai kemenangan, kini tersudut. Akhirnya mengalami kekalahan. Dalam perang Uhud itu, banyak sahabat Rasul yang gugur termasuk pamanya Hamzah. Nabipun mengalami luka luka dalam perang itu. Bahkan sholatpun Nabi harus sambil duduk karena banyak luka ditubuhnya. Inilah kisahnya. Kata teman saya. Ini sebuah pembelajaran yang sangat mahal bagi kaum muslim ketika itu. Bahwa disiplin dalam perjuangan , disiplin mengikuti perintah panglima adalah sangat penting. Ya, dalam kehidupan sekarang ini, dalam situasi pribadi maupun organisasi maka kedisiplinan sangat penting. Dunia ini adalah the battle of life. Hanya mereka yang cerdik, disiplin dan pandai mengorganisir dengan baiklah yang akan tampil sebagai pemenang.

Seorang teman lainnya, hanyalah tamat SMU. Dia tak pernah masuk perguruan Tinggi. Tapi kemampuannya dalam mengorganisir diri telah mampu membuatnya lebih baik dibandingkan orang yang tamatan perguruan tinggi. Ketika orang lain sibuk memanjakan diri dalam pergaulan kampus, teman itu sibuk membaca buku, ikut kursu, seminar , belajar sendiri. Ketika orang lain sibuk membaca buktu diktat ekonomi dari dosen agar dapat nilai tinggi, teman ini telah membedah habis buku karangan Peter Drucker dan lain lain, Dia mendapat lebih tentang bagaimana mengembangkan pasar, menghadapi kompetisi, kemampuan berkomunikasi. Ketika orang sibuk mencapai index prestasi dikampus, teman itu sibuk merintis usaha. Ketika orang lain sibuk mencari pekerjaan setelah tamat kuliah, teman itu sudah menjadi pengusaha yang tergolong sukses. Siapakah yang menjadi pemenang ? tentu teman itu. Walau dia hanya tamatatan SMU. Hanya karena dia disiplin dan mampu mengorganisir dirinya sendiri.

Kebanyakan dari kita, merasa selalu diatas angin dengan potensi yang ada. Merasa kekayaan alam negeri hanya bisa digali lewat berdoa siang malam. Tapi lupa mengorganisir diri untuk menghadapi the battle of life. Sementara orang lain , mungkin juga orang kafir bekerja keras siang malam mengais rezeki di bumi Allah ini. China dengan komunitas diatas 1 miliar orang , dengan sumber daya alam yang terbatas, cuaca yang ekstrim, menjadi komunitas yang ulet untuk menjadi pemenang dalam perdagangan International. Ketika negara lain ,rakyatnya sibuk bagaimana memilih pemimpin yang tepat , memilih para elite, merubah strukture UU, rakyat china lebih memfocuskan diri melakukan transformasi dari masyarakat yang lemah menjadi masyarakat yang kuat lewat kerja keras dan berhemat. Ketika negara lain sibuk berkosumsi, china menjual dengan laba rendah. Akhirnya mereka memenangkan the battle of life.

Berbagai kegagalan yang datang pada diri kita. Berbagai kekecewaan yang menyakitkan akibat kalah, bahkan kita menyebutnya semua itu adalah bencana. Kita terpuruk dalam rintihan doa mengharapkan pertolongan dari Allah. Padahal ketika kakalahan itu datang, ketika kegagalan itu mendera, itulah pertolongan Allah sesungguhnya kepada kita. Ingatlah Firman Allah “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui" (QS Al Baqarah 216). Lewat peristiwa yang menyakitkan itu, Allah berdialogh dengan kita tentang sabar dan ikhlas melewati sunattullah. Bahwa masih ada proses yang terlupakan pada diri kita untuk kita lengkapi, perbaiki. Agar kita sempurna mencapai kemenangan yang sesungguhnya.

Maka tariklah hikmah dengan berpikir positip terhadap segala peristiwa yang datang dalam hidup kita. Agar kita menjadi komunitas yang kuat dan pandai mengorganisir diri dalam menghadapi the battle of life.

Tidak bisa bersyukur..

  Ketika masuk cafe saya lihat Yuni, Esther, Wenny duduk di table yang sama. Saya temui mereka. Bicara sebentar. Saya keluar cafe untuk mero...