Sunday, July 03, 2005

PEMAAF

Sulit untuk memahami bagaimana mungkin sahabat yang begitu saya percaya akhirnya mengkianati saya. Karenanya saya terjebat dalam masalah besar yang tidak mudah saya atasi. Ditengah masalah itu, yang pertama saya lakukan adalah memaafkan teman itu. Karena kalau saya tidak maafkan maka saya tidak akan punya power cukup untuk menyelesaikan masalah itu. Semakin saya memaafkan teman itu, semakin saya melupakan sebab dan penyeba masalah. Saya lebih focus untuk segera mungkin mengatasi masalah dan kemudian keluar dari masalah. Ketika masalah itu selesai teratasi, saya mendapatkan kepuasan tak terhingga. Apa itu ? Saya bisa menyelesaikan masalah tanpa kehilangan sahabat walau karenanya saya telah menderita. Masalah tidak membuat saya dendam dan benci ,apalagi putusnya persahabatan. Apakah saya salah dengan sikap ini ? Saya tidak tahu. Yang pasti karena itu saya merasa bahagian karena itu.

Suatu hari, Abdullah bin Ubay, bertekad menghancurkan kekuatan umat Nabi Muhammad SAW. Berbagai cara telah dilakukan, di antaranya selalu mencari kesempatan untuk membunuh Rasulullah dan mendalangi penyebarah hadits al-ifk (berita bohong) tentang Siti Aisyah putri Abu Bakar Ash-Shiddiq. Gara-gara terpengaruh peristiwa ini, Abu Bakar bersumpah hendak memutus tali silaturahim dengan sahabat karibnya Masthah. Padahal, Abu Bakar telah lama membantu dan menjamin kebutuhan hidup karibnya itu. Lalu turunlah ayat, "Dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tak ingin Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Penyayang," (Q.S. 24:22). Abu Bakar pun memaafkan karibnya.Sikap khalifah pertama ini bercermin pada perilaku uswah hasanah Rasulullah. Nabi tak pernah dendam, dengki, atau benci, sekalipun hati beliau sering disakiti karena berkali-kali ditimpa hasutan dan fitnah orang kafir dan musyrik Quraisy. Malah, beliau bersikap baik dan memaafkan, termasuk kepada Abdullah tadi.

Dalam hadis lainnya yang dirawikan Ath-Thabrani dari Ubadah bin Shamit, nabi SAW menjelaskan kriteria manusia mulia dan berderajat tinggi di hadapan Allah dan manusiat. Tali persaudaraan dan solidaritas sosial kita akan semakin kokoh, apabila jiwa kita dihiasi sifat pemaaf, pemurah, sabar dan toleran. Suatu saat, Nabi Muhammad SAW berkumpul dengan para sahabat dan bersabda. "Maukah kalian kuinformasikan tentang sesuatu yang dengannya Allah memuliakan (manusia) dan mengangkat derajatnya?" Ya," jawab mereka. Rasulullah melanjutkan, "Kalian bersabar terhadap orang yang tidak mengenalmu. Kalian memaafkan orang yang pernah menganiayamu. Kalian memberi (sesuatu) kepada orang yang tak pernah memberimu. Dan, kalian menyambung (kembali) tali silaaturahim orang yang telah memutuskannya denganmu."

Kita pun dalam hidup ini tentu pernah menghadapi seorang yang berbuat salah atau keliru.Islam mengajarkan agar kita selalu membuka pintu maaf kepada setiap kesalahan. Menurut Dr. Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya Tarbiyah al-Aulad fi al-Islam, memaafkan termasuk perasaan jiwa seseorang untuk bersikap toleran terhadap orang zalim, pendengki, dan pendendam . Ketika kita memaafkan seseorang, berarti kita telah rela menghilangkan hak kita pada orang tersebut, dan kita membebaskan bebannya kepada kita sehingga tidak menimbulkan permusuhan. Bukankah Islam tidak menghendaki kaum muslimin saling bermusuhan? Karena itu, sikap tidak pemaaf merupakan kehinaan dan kerendahan hati kita. Memaafkan berarti menekan atau menahan sifat egois dan emosi kita kepada orang lain. Memaafkan merupakan perbuatan mulia yg dapat meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah.

"Dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah melihat segala apa yang kamu kerjakan," (Q.S. 2:237). Tebarkan kasih sayang kepada sesama dengan mengentalkan sifat pemaaf disetiap saat dan bukan hanya sekedar ritual di Idul Fitri.

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...