Posts

Showing posts from October, 2021

Berbagi Cinta.

Image
  bersama anak panti 10  tahun lalu  waktu lebaran saya berkunjung ke rumah ibu saya. “Amak mau mendirikan panti asuhan untuk putri.” Kata ibu saya. “ Amak engga muda lagi. Istirahat ajalah. “ Kata saya. Itu diaminkan oleh semua adik adik saya.  “ Amak udah sewa rumah untuk panti. Nanti kalau berkembang barulah cari tanah untuk bangun sendiri.” “ Darimana amak dapatkan uang” Kata saya. Itu sekedar alasan agar menahan rencannya dan kami tidak akan mendukung secara financial. “ Dari Tuhan. “ Katanya tegas. Saya tidak bisa lagi berdebat.  Setahunn setelah itu saya datang lagi ke lampung untuk berlebaran. Ibu saya ajak saya pergi ke suatu tempat “ Apa ini mak?Kata saya ketika sampai di lokasi. “Amak dapat kepercayaan dari aisyiah untuk gunakan tanah wakaf dibelakang TK. Inilah yang akan dijadikan lahan untuk panti” Kata ibu saya bersemangat. “ Kalau bangun ini selesai, anak panti engga lagi sewa rumah.” “ Sewa? “ Ya. Amak sewa rumah untuk mereka.” Kemudian ibu saya ajak saya ke rumah  yang

Propaganda lewat Film.

Image
  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. Mungkin sudah lebih 20 tahun saya tidak nonton Drama TV.  Jadi apa yang menyebabkan saya tertarik. ? Tentu beralasan. Saya pernah berbisnis dibidang film dan rumah produksi (PH). Jadi saya tahu bagaimana tekhnis sinema dan proses produksi, yang melibatkan ahli pembuat skenario, pengatur lampu, peran, musik dan sutradara. Karena itu saya kagum dengan tampilan drama TV di China.  Teman saya seorang wanita penulis skenario di Wuhan cerita kepada saya. Dia sedang menggarap cerita dengan tema cinta kepada keluarga. Selama 1 tahun dia riset secara langsung. Tinggal bersama mereka dari kelas bawah maupun atas, menyelami fenomena yang sedang terjadi pada keluarga akibat adanya perubahan zaman. Memahami mindset yang berkembang di masyarakat. Setelah itu dia harus belajar tentang kebudayaan dalam keluarga di China, AS dan Eropa. Dari sana lahirlah film drama

Meyakinkan Investor

Image
  Saya sedang nongkrong di Starbuck Plaza Indonesia. Sedang asyik ada yang tegur saya dari luar. Ternyata teman saya.  Kami ngobrol sebentar. Saya tawarin minum kopi dia engga bisa. Karena ada janji ketemu relasi di Grand Hyatt. Setelah teman saya pergi. Datang dua anak muda, Pria dan wanita mendekati saya. “ Maaf pak. Saya kenal dengan teman bapak tadi. Dia kan boss distributor besar di Indonesia dan punya jaringan retail juga. “ Katanya. Saya senyum saja.  “ Pak, serunya. “ Boleh saya bertanya soal bisnis. ?   “ Kenapa ? “ Pasti bapak pengusaha. Saya boleh tanya? “ Tanya aja” “ Saya sudah dua kali buat proposal bisnis.  Udah banyak investor saya temui. Tetapi selalu gagal.  Bagaimana meyakinkan investor agar mereka mau keluar uang?  Saya tersenyum. Saya pandang lama dia. “ OK.” kata saya menarik napas. “  Ini cangkir starbuck. Benar ?“ Kata saya menunjukan cangkir ke depan dia.  “ Benar. “ “ Kamu tahu terbuat daripada apa cangkir starbuck ini ? “ Engga tahu. “ “ Ini terbuat dari Iimb

Persahabatan …?

Image
  Sejak  minggu lalu, sejak saya membuat keputusan perubahan susunan Komisaris perusahaan, setiap hari email datang dari Yuni dengan nada protes dan marah. Saya diamkan saja surat itu. Saya tahu suasana batinya sedang tidak nyaman.  Apapun alasan saya tidak akan dia bisa terima sebelum keinginanya depak Florence tercapai. Saya percaya dia sahabat saya, yang tentu dia sangat paham sifat saya. Sayapun sebaliknya juga harus memahami suasana hatinya.  Perasaan tidak aman, kadang membuat orang berpikir diluar dirinya. Itu biasa saja.  Saya sudah membuat keputusan menempatkan Florence sebagai Preskom dan itu jelas pertimbangan profesional, bukan emosional. Saya bisa membedakan di mana Florence berdiri dan dimana  Yuni. Tentu tidak elok saya menentukan mana yang baik dan mana yang tidak. Yang jelas masing masing punya alasan bagi saya untuk bersikap.  Florence mengenal saya disaat saya sebagai pemula dalam bisnis. Berbeda denga Yuni ketika bertemu saya, saya di puncak usia emas saya. Florence

Mental Kaya.

Image
  Kemiskinan itu bukan karena pendidikan, atau keturunan. Tetapi karena mindset. Atau sikap mental. Ciri orang yang bisa bebas dari kemiskinan adalah sebagai berikut: Punya rasa hormat. Bekerja atau bisnis bukan sekedar mencari uang tetapi berjuang untuk mendapatkan rasa hormat. Artinya apa yang kita lakukan ada muatan moral dan harga diri. Sehingga kita tidak perlu merasa kecil hati kalau sarjana pada awal bekerja  hanya kebagian kerja yang remeh remah. Tidak perlu merasa rendah kalau harus mengawali bisnis berdagang kaki lima, atau jadi salesman panci. Tidak merasa rendah bila harus merendahkan diri untuk melayani konsumen atau boss..Punya kesabaran dan passion melewati setiap hal, walau kecil sekalipun. Percaya bahwa semua tidak mudah dan murah . Uang atau harta yang kita dapat adalah reward dari proses yang tidak mudah. Kalau ada yang menawarkan too good to be true, anda mudah sekali menerima, maka itu sudah mental miskin. Tapi kalau anda tidak meresponse nya maka anda sudah menep