Friday, April 19, 2019

Jokowi menang, dear

Dear…
Ada haru kemarin ketika rehat seminar. Saya mendengar sekelompok orang berbicara tentang pemilu di Indonesia. Mereka mengatakan bahwa  Hasil Quick Count Jokowi menang, beselisih hanya 9% dari rivalnya. Namun yang hebatnya, Jokowi bisa membuat partisipasi Pemilu diatas 80%. Selisih kemenangan tidak penting. Yang penting itu adalah memberikan kesadaran kepada rakyat akan hak pilihnya sebagai warga negara. Kamu tahu dear, Indonesia yang pluralis dengan luas terbentang sama seperti jarak London Siberia itu, tidaklah mudah melaksankan pemilu secara demokratis. Ini benar benar people power. Dunia terkejut. Betapa tidak. Indonesia yang baru 15 tahun melaksanakan demokrasi langsung, mampu melahirkan kesadara demokrasi yang begitu tinggi.

Kamu tidak bisa membandingkan demokrasi seperti Era  Orba, atau seperti Pemilu Anggota Komite rakyat China,  Pemilu ala Korea Utara, atau pemilu di Singapore dimana orang dipaksa untuk datang ke bilik suara. Ada ancaman serius bagi yang tidak ikut Pemilu. Di  indonesia, orang hanya dilarang mengkampanyekan golput. Namun kebebasan memilih dilindungi haknya sama dengan yang tidak memilih. Faktanya lebih banyak yang menentukan hak pilihnya daripada yang tidak. Itulah nilai demokrasi yang luar biasa, yang tidak mungkin bisa dicapai oleh AS sebagai penyokong utama sistem demokrasi. Tidak juga di Eropa yang mengenalkan paham sekular dalam politik.

Dear, Populasi indonesia diatas 200 juta. Penduduk terbesar keempat di dunia. Mendidik demokrasi untuk populasi lebih dari 200 juta tanpa riak berarti, adalah tidak mudah dear. Namun seni pengelola kebebasan dilakukan dengan begitu indah oleh Jokowi. Saya katakan indah, karena hanya orang yang berjiwa besar dan hati bersih penuh keimanan yang bisa memberikan kebebasan orang untuk bersuara. Bahkan sepanjang kekuasaanya tidak pernah sepi dari hujatan dan fitnah. Jokowi menikmati perbedaan itu walau kadang menyakitkan bagi sebagian orang yang mencintainya. Massa menyemut berdatangan ke Jakarta. Mereka menentangnya. Didepan istana mereka berteriak lantang. Jokowi tidak menghadapinya dengan moncong senjata TNI. Aksi itu dihadapi dengan cinta. Semua selesai begitu saja.

Begitu banyak yang percaya bahwa Jokowi harus diganti. Apalagi melihat lautan massa berdatangan menentangnya. Bukan hanya di Jakarta tetapi hampir disemua kota besar bergema aksi ganti presiden. Ini semakin meyakinkan para elite Politik bahwa Jokowi tidak disukai rakyat. Banyak orang yang tadinya dekat dengan Jokowi akhirnya memilih oposisi.  Namun dear, dibalik aksi dan gemuruh kebencian datang bertalu talu itu, ada kelompok diam yang terus berdoa untuk seorang Jokowi. Mereka tidak menampakkan diri dengan aksi berjilid jilid. Mereka tidak bersuara dengan taburan amarah kepada mereka yang membenci Jokowi. Mereka terus bekerja dalam diam dan  berdoa tentunya. 

Kemarin, ketika Pemilu mereka yang diam itu datang ke bilik suara untuk menentukan pilihan politiknya. Ternyata mereka bukan sedikit, tetapi merekalah silent majority di Indonesia. Hukum demokrasi berlaku. JOkowi sebagai pemenang dalam hitungan cepat. Dan Prabowo bersama kelompoknya harus menyadari bahwa sistem demokrasi tidak menghitung kerumunan orang. Tidak melihat siapa yang peling kencang bicaranya. Tidak melihat siapa yang paling banyak titelnya. Tidak melihat orang berbicara dengan lantunan firman Tuhan dan janji negeri utopia. Demokrasi ditentukan oleh rakyat yang menggunakan hak pilihnya. Prabowo kalah bukan karena dia tidak hebat tapi begitulah demokrasi. Kemenangan Jokowi adalah kemenangan demokrasi.  Kemenangan akal sehat. Itulah people power sesungguhnya. Tidak ada yang bisa menentangnya. 

Dear,
Kalau orang mengatakan bahwa Jokowi meminggirkan islam, itu juga tidak tepat. liatlah fakta hitungan cepat. PKS  yang merupakan satu satunya partai idiologi islam, yang terpuruk di Pemilu sebelumnya, justru di era Jokowi mendapatkan suara terbaiknya. Bahkan mengalahkan partai islam nasionalis lainnya. Mengalahkan Partai Demokrat. Apa artinya itu? itu fakta bahwa narasi idiologi islam punya tempat terhormat diera kekuasaan Jokowi. Itu hanya mungkin karena pemahaman Pancasila yang bersumber dari Tauhid , yang memang tidak seharusnya melarang orang berpolitik menggunakan agama. Tentu sepanjang ia tetap patuh kepada palsafah Pancasila, UUD 45, Bhineka Tunggal Eka dan NKRI. Umat islam harus bersyukur dengan munculnya Jokowi sebagai presiden. Kemenangan Jokowi adalah kemenangan akhlak, yang menghormati pluralisme atas dasar cinta bagi semua. 

Dari kebebasan yang dikelola Jokowi dengan baik, tingginya partispasi Pemilu, sunattulah terpilihnya pemimpin sesuai kehendak Allah terjadi di Indonesia. Takdir berlaku menjadi hikmah bagi semua. Semoga om Wowok bisa mengerti. Menjadi pemenang itu penting tetapi jauh lebih penting menerima kekalahan dengan ikhlas. Bukankah kekuasan itu bersumber dari Tuhan. Dan kepada Tuhanlah semua itu kembali, ya kan dear..


Salam

Thursday, April 18, 2019

Fiksi VS Fakta.

Mungkin sebagian anda sering mendengar istilah fiksi. Dalam benak anda bahwa fiksi itu lawan dari fakta. Sebenarnya bukan begitu. Fiksi itu adalah sebuah Prosa naratif yang bersifat imajiner. Meskipun imajiner sebuah fiksi tetaplah masuk akal dan mengandung kebenaran yang dapat mendramatisasikan hubungan-hubungan antar manusia. Kebenaran dalam sebuah dunia fiksi adalah keyakinan yang sesuai dengan pandangan pengarang terhadap masalah hidup dan kehidupan. Dari definis fiksi tersebut maka dapat saya singkat bahwa fiksi itu bukan realita, namun dia bisa juga fakta yang ada dalam keseharian kehidupan kita.

Kalau kita analogikan maka Jokowi itu adalah fakta. Sementara lawannya adalah fiksi. Lawanya sengaja membangun narasi imajiner tentang negeri makmur dan sejahtera dibawah lindungan syariat islam. Sangking makmurnya semua murah dan bahkan gratis. Pajak rendah dan pendapatan negara dari SDA terkonsentrasi untuk seluas luasnya bagi rakyat banyak. Saya katakan itu fiksi karena tidak akan bersua dengan realitas. Itu sama dengan dongeng negeri utopia. Namun bukan berarti tidak sesuai dengan fakta yang ada. Karena bisa saja terjadi walau tidak sesempurna yang digambarkan dalam narasi fiksi.

kIsah fiksi negeri yang digambarkan oleh pengusung syariat islam itu ternyata faktanya sebagian bersua dalam kepemiminan Jokowi. Pembangunan terjadi merata lewat penyediaan infrastruktur ekonomi dan distribusi modal lewat dana desa dan kredit mikro. Keadilan sosial tersentuh lewat program jaminan sosial, kesehatan dan pendidikan. Kehidupan beragama tegak. Bahkan alokasi APBN untuk Kementrian agama masuk yang terbesar anggarannya. Hukum tegak dengan semakin banyaknya pejabat yang kejaring OTT KPK. Kejujuran teraplikasikan lewat transfaransi APBN dan sistem pemerintahan. Jokowi sendiri tidak terkontaminasi kehidupan elite yang korup, kolutif, nepotisme. Dari itu semua, walau negara lain mengalami penurunan ekonominya, Indonesia tetap tumbuh dan percaya diri.

Namun fakta yang dikerjakan oleh Jokowi itu tenggelam dengan narasi fiksi negeri utopia yang digambarkan oleh Prabowo- sandi dalam setiap kampanye. Walau Prabosan tidak pernah bicara dalil agama, namun dalam bisik bisik semua narasi Prabosan itu diterjemahkan oleh mereka para pendukungnya sebagai narasi syariah islam yang tegak. Di akar rumput diskusi tentang fiksi negeri utopia itu sangat inten. Sehingga melahirkan militansi perjuangan ganti system, ganti presiden. Itulah lawan Jokowi sebenarnya. Lawannya adalah mereka yang mengusung fiksi negeri utopia dibawah panji islam.

Namun gerakan syariat islam dalam bingkai fiksi negeri utopia itu, oleh sebagian besar rakyat Indonesia dianggap tidak masuk akal. Semakin kencang gerakan fiksi utopia semakin kencang pula gerakan rasional, yangmana iconya adalah Jokowi. Jadi pemilu ini bukan pertarungan antara idiologi Pancasila vs Khilafah atau syariat islam. Bukan pertarungan partai nasonalis dengan partai identitas. Tetapi antara seorang Jokowi dan kaum utopian. Seandainya semua Parpol koalisi PDIP bergabung dengan Gerindra mendukung Prabowo-Sandi, tetap hasilnya tidak akan berbeda. Jokowi yang akan menang. Seandainya Jokowi tidak kampanye. Diam saja. Hasilnya tetap akan sama. Jokowi pemenang.

Sebaliknya, seandainya bukan Prabowo lawan Jokowi, hasilnya engga akan jauh berbeda. Jokowi menang tipis. Apa kesimpulannya ? ini bukanlah pertarungan kekuatan mesin partai. Tetapi antara fakta dan fiksi. Bagi kaum utopian, fiksi itu adalah realitas itu sendiri. Makanya mereka tidak mengakui kekalahan. Mereka memang hidup dalam fiksi. Dan kemenangan Jokowi adalah kemenangan akal sehat. Keputusan KPU kelak tidak akan diakui mereka. Selanjutnya mereka akan terus bergerak lewat narasi fiksi, sampai hari kiamat. Dan ini adalah cobaan bagi kita yang waras. Karena kesempurnaan tidak akan pernah ada, namun tanpa tangtangan orang tidak akan lebih baik. Biarkan aja mereka nyinyir tanpa bisa move on. Kita nikmati saja hidup sebagai orang waras.

Persahabatan dan persatuan.

Ketika saya lahir, Papa saya memberi nama saya Muhammad Yamin. Karena dia terinspirasi dengan tokoh Muhammad Yamin. Namun nenek dari ibu saya menolak. Karena nenek saya pendukung Masyumi. Sementara Muhammad Yamin berseteru dengan Masyumi. Tapi nenek saya terinspirasi dengan Kakek dari papa saya. Dia pedagang besar yang sukses namun rendah hati dan senang berbagi dengan hartanya. Kakek sya saya juga donatur gerakan Muhamamadiah yang berafiliasi dengan Masyumi. Nama saya diubah jadi Soleh seperti nama kakek saya. Ketika saya masuk sekolah TK, nenek saya mendaftarkan saya bernama Erizeli. Apa artinya? engga tahu. Yang jelas kelahiran saya menimbulkan harapan dari semua orang yang mencintai saya. Persepsi mereka berbeda terhadap bagaimana seharusnya masa depan saya.

Penduduk Sumatera Barat itu tidak banyak. Populasinya mungkin hanya sebanyak Kabupaten di Jawa. Namun sejarah mencatat bahwa dari komunitas kecil itulah lahir beberapa orang yang disebut bapak pendiri bangsa. Siapa saja itu. Muhammad Hatta, Sjahrir, Agus Salim, Muhammad Yamin, Muhamamd Natsir, Hamka, Tan Malaka. Mereka semua adalah sahabat Soekarno semasa perjuangan merebut kemerdekaan dan paska kemerdekaan. Mungkin anda menganggap mereka semua satu aliran? tidak. Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, walau mereka sama-sama belajar Marxisme dan mendapat pendidikan Belanda namun mereka berbeda pandangan soal politik.

Secara adat Tan mendapat kedudukan terhormat tapi miskin, sedangkan Hatta-Sjahrir dalam strata ekonomi adalah kelas menengah. Masa kanak Tan lebih banyak di desa belajar agama. Sedangkan Hatta dan Sjahrir besar di kota dan hidup di lingkungan keluarga pedagang kaya. Tan mendapat kesempatan belajar ke Belanda karena beasiswa, sementara Hatta dan Sjahrir atas biaya sendiri karena keluarga mereka mampu. Latar belakang itulah yang membuat mereka berbeda. Agus Salim juga sama dengan Tan. Lahir dari keluarga miskin. Dia tida seberuntung Hatta, Sjarir dan Tan Malaka. Dia tidak sekolah ke Belanda. Agus Salim belajar secara otodidak dan lebih banyak memahami Politik dari komunitas Syarikat Islam.

Hatta sangat menentang komunisme. Hatta menganjurkan koperasi dalam menegakkan ekonomi Indonesia. Sebaliknya, Tan tidak menolak komunisme tapi menolak kerangka berpikir komunisme. Komunisme hanyalah metodelogi menjalankan revolusi. Makanya Tan percaya, jika digabung, Islamisme dan Komunisme Indonesia akan digdaya. Namun baik Hatta maupun Tan Malaka punya pandangan sama soal bagaimana Indonesia merdeka. yaitu melalui revolusi Rakyat. Sjahrir ? Dia tidak sejalan dengan Hatta dan Tan soal itu. Sjahrir percaya kemenangan hanya bisa dicapai lewat diplomasi. Dan itu perjuangan kaum terpelajar.

Tetapi Soekarno percaya kepada Sjahrir. Perselisihan makin meruncing ketika Sjahrir menjadi perdana menteri dan mengubah sistem politik dari presidensial menjadi parlementer. Praktis ia dan Amir Syarifuddin yang berkuasa. Karana itu Soedirman bergabung dengan Tan Malaka menentang kebijakan Sjahrir. Hatta menarik massa Islam Masyumi untuk mendongkel Sjahrir. Diantara konplik ini, Soekarno tetap berada ditengah. Walau karana itu Soedirman sempat kesal dengan Soekarno yang bersedia ditahan Belanda ketika class kedua dengan Belanda. Soekarno lebih mendengar saran Sjahrir daripada ikut Soedirman masuk hutan untuk bergerilya.

Dalam silang-sengkarut itu muncul putra Minang lain yaitu Muhammad Yamin. Yamin adalah diplomat ulung sebagaimana Sjahrir. Namun dia tidak begitu suka dengan Masyiumi. Hatta walau dekat dengan Masyumi, bisa setuju dengan Yamin gencar mengkritik secara terbuka politik diplomasi Sjahrir. Sikap frontal Yamin ini kian memanaskan situasi yang berakhir dengan mundurnya Sjahrir dari kursi perdana menteri pada 28 Februari 1946. Pada akhir medio 1950, muncul tiga dwitunggal yang punya jalan masing-masing menghadapi politik pecah belah Belanda: Soekarno-Hatta, Sjahrir-Amir, dan Soedirman-Tan Malaka. Ketiga Dwi tunggal ini semuanya ada putra minang.

Apakah selesai masalah ? Tidak. Karena Soekarno tetap percaya kepada Sjahrir dengan memberinya mandat melanjutkan diplomasi. Keputusan ini membuat kubu Soedirman-Tan kembali meradang. Saking marahnya, tentara sempat menembaki mobil Menteri Pertahanan Amir Syarifuddin yang akan masuk Istana Negara. Bahkan saling tangkap pun terjadi. Amir memerintahkan tentara menangkap Tan dan tokoh Persatuan lain. Soedirman membalasnya dengan memerintahkan pasukan Peta menangkap Sjahrir. Kedua kubu sama-sama membebaskan sandera ketika Soekarno turun tangan. Itulah kehebatan Seokarno. Yang tidak berpihak kepada konplik dan mengutamakan persatuan.

Sejarah indonesia mencatat bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia mencapai puncak legitimasi international berkat perjuangan diplomasi. Itu ide Sjarir. Namun itu tercapai berkat perlawanan rakyat semesta. Itu ide Tan Malaka, Hatta, dan Agoes Salim. Artinya perbedaan sikap itulah yang membuat mereka kuat mencapai tujuan. Mengapa ? Dalam sejarah walau Hatta, Tan, Sjahrir , Yamin berseteru karena perbedaan namun secara pribadi persahabatan mereka sangat hangat. Demi kepentingan nasional , mereka dengan mudah melepaskan sekat pribadi dan identitas, dan tak penting siapa berkorban atau dikorbankan. Mereka ikhlas.

Walau perbedaan terjadi diantara mereka. Namun mereka bisa berdamai dengan Pancasila. Sama halnya walau Papa saya inginkan saya menjadi nasionalis seperti Muhammad Yamin dan Nenek saya inginkan saya jadi Masyumi, namun akhirnya ketika saya masuk TK, justru nama saya Erizeli yang tidak ada identitas agama maupun nasionalis. Saya adalah produk masa depan. Sebuah kompromi yang indah. Walau akhirnya nama Erizeli itu hanya dikenal di komunitas masa remaja saja. Dalam dunia bisnis nama saya juga berbeda. Perubahan terjadi namun saya tetaplah putra yang lahir dari rahim ibu saya, yang percaya kepada Pancasila untuk membuat perbedaan itu indah..

Wednesday, April 03, 2019

Mencuri dirumah sendiri



Kemarin malam di Cafe bilangan Sudirman, saya amprokan dengan teman lama. Tadinya saya kanal dia di Hong Kong tahun 2008. Itu waktu dia melakukan fundraising untuk proyek tambangnya. Waktu itu mitranya adalah wanita selebritis. Menurutnya wanita seleb itu hanya proxy dari pejabat yang membantunya mendapatkan izin tambang. Sekarang dia memindahkan semua portfolio bisnis nya ke Singapore. Dia mengakuisisi perusahaan cangkang holding company yang sudah listed dipasar sekunder Singapore. Ada 4 unit bisnis yang dia kelola sekarang dengan melibatkan mitra globalnya dari China, Singapore, Hong Kong dan Amerika. 

Ada yang menarik dalam pembicaraan santai dengan dia. Dia mengajukan satu pertanyaan yang membuat saya bingung menjawabnya. Pertanyaanya adalah dimanakah tempat teraman untuk mencuri ? Maksudnya adalah kita bebas mencuri tanpa ada satupun pihak mencurigai kita akan mencuri ditempat itu. Demikian dia menegaskan pertanyaan itu. Saya menggelengkan kepala. Karena memang saya tak pernah terpikirkan untuk mencuri jadi tidak paham menjawabnya. Dengan mimik menahan  tawa, dia menjawab “adalah mencuri milik kita sendiri”. Saya mengerutkan kening.  

Anda tahu, ada perusahaan investasi. Pemegang saham dan executive nya melakukan perampokan secara diam diam tanpa terlacak. Perampokan itu bukan kepada pihak luar tetapi kedalam perusahaan dia sendiri. Caranya ? Dia mengakusisi perusahaan tambang batu bara. Uangnya dari investor. Namun biaya konsultan sebesar USD 48 juta untuk proses akuisisi itu dibayar kepada perusahaan cangkang. Belakangan diketahui perusahaan cangkang itu milik dia sendiri. Tetapi karena semua kontrak legal maka tidak bisa dianggap perampokan. Ya gimana engga gampang atur legalitasnya?, Direktur perusaan investasi itu dengan direktur perusahaan yang jadi target akuisisi adalah orang yang sama. Smart!

Bukan hanya itu. Perusahaan tambang itu juga diperas oleh rekanan perusahaan yang sebetulnya para direksi rekanan perusahaan itu terhubung dengan dia sebagai pemegang saham. Perusahaan rekanan itu bertindak sebagai outsourcing. Dari hauling road, pelabuhan, tugboat, truk angkut  adalah unit business yang berdiri sendiri Tentu harga jasa yang ditetapkan dapat diatur sesukanya dan volume pekerjaan dapat diatur sedemikian rupa karena pemiliknya sama walau entity nya berbeda. Apa yang terjadi ? Perusahaan tambang itu jatuh rugi. Terjadi gagal bayar utang. Investor jadi korban. Yang disalahkan pasar karena harga jatuh. Yang disalahkan pemerintah karena menetapkan DMO terlalu tinggi.

Makanya dampak dari cara culas pengusaha seperti itu, para banker dan investor institusi telah menempatkan pengusaha indonesia dalam catatan hitam. Mereka menjauh dari para pengusaha yang menciptakan ponzy bisnis dari pengusahaan SDA. Pengusaha itu jago menciptakan bisnis ponzy yang bisa menyenangkan investor dalam jangka pendek namun dalam jangka panjang membuat investor dan banker terjebak dalam kerugian besar. Yang menyedihkan sekali adalah salah satu pengusaha yang masuk blacklist itu kini adalah politisi yang sedang bertarung dalam Pilpres. 

Entah apa yang terjadi bila mereka menang? Tentu mereka akan jadikan APBN dalam skema ponzy untuk memperkaya diri dan kelompoknya. Rakyat sebagai investor akan jadi korban. Tetapi saya yakin, kalau sampai mereka menang dalam Pilpres, rating surat utang kita pasti akan jatuh. Investor bukan engga percaya dengan indonesia tetapi kawatir dengan track record executive nya yang blacklist. Mengapa ? Mereka rakus. There is a sufficiency in the world for man's need but not for man's greed. Greed is so destructive. It destroys everything.


Tidak bisa bersyukur..

  Ketika masuk cafe saya lihat Yuni, Esther, Wenny duduk di table yang sama. Saya temui mereka. Bicara sebentar. Saya keluar cafe untuk mero...