Tuesday, March 31, 2015

Yang muda...

Mereka menembak mati Monginsidi di Pacinang, Makassar,  tanggal 5 September  1949.Ada yang mencatat bahwa beberapa menit sebelum dieksekusi, pemimpin gerilya yang ditakuti tentara pendudukan Belanda itu memberi maaf kepada regu serdadu yang bertugas menghabisi nyawanya. Mungkin saat itu ia menukil Injil Lukas yang merekam apa yang dikatakan Yesus di saat-saat penyaliban. Tapi mungkin juga ia – yang tak mau meminta grasi kepada pemerintahan kolonial — sudah lama menerima apa yang datang bersama zamannya. Dalam sepucuk surat untuk seorang gadis yang tinggal di Jakarta, Milly Ratulangi — sepucuk surat yang ditulisnya empat hari sebelum hukuman mati itu dijalaninya —  ia menggambarkan, dengan kalimat puitis yang menggetarkan, anak-anak muda zamannya “sebagai bunga yang sedang hendak mekar…digugurkan oleh angin yang keras”. Tentu ia berbicara tentang generasinya. Umur Robert Wolter Monginsidi baru 24 tahun. Seorang bekas gurunya, Sugardo, menuliskan kenangannya tentang Si “Woce” di majalah Mimbar Indonesia 17 September 1949, dan dari sana kita tahu ia terakhir bersekolah di Sekolah Pertama Nasional di Jalan Goa 56 – sekolah yang ditinggalkannya sejak Juli 1946.  Sejak itu ia menghilang. Sejak itu orang tahu, dan berbisik-bisik, ia ikut memimpin pasukan gerilya di daerah Polombangkeng, pusat yang dipilih para pejuang kemerdekaan untuk melawan pendudukan Belanda di Sulawesi Selatan. Pada suatu hari ia luka.  Pada suatu hari ia ditangkap.  Ia melarikan diri. Ketika ia ditangkap lagi, hukuman mati pun dijatuhkan oleh  “Raad van Justitie”. Empat bulan sebelum Kerajaan Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia yang telah dimaklumkan empat tahun sebelumnya, anak muda itu mati untuk Republik yang muda – untuk sebuah harapan yang belum punya kebimbangan. 

Ia memang bagian dari apa yang digambarkan sebagai “Revolusi Pemuda” oleh Benedict Anderson: babakan sejarah Indonesia ketika pemuda mengambil peran utama dan jadi mithos tersendiri. Ia termasuk sepucuk “bunga yang sedang hendak mekar, [yang] digugurkan oleh angin yang keras”.  Tapi “angin yang keras itu” membuat yang dilakukannya dikenang, sebab pahlawan lebih cepat mati ketimbang tindakannya. Sejarah selalu menyimpan sesuatu yang menakjubkan pada laku manusia. Penyair A.E. Housman pernah menulis sebuah sajak lain. Kali ini bukan untuk seorang anak muda yang tewas oleh senjata api,  melainkan untuk seorang atlit yang mati muda:  Dua baris yang selalu saya ingat dari To an Athlete Dying Young  adalah kalimat ini:

Smart lad, to slip betimes away
From fields where glory does not stay...

Sajak ini adalah sebuah tribut bagi sang atlit: ia anak pintar, smart lad, ia mati muda. Ia telah memenangi sebuah pertandingan, ia telah menerima tepuk tangan yang gemuruh, namanya telah jadi harum, dan pada saat itu ia pergi, meluputkan diri “dari medan di mana kejayaan tak bertahan”, from fields where glory does not last..   Seandainya ia hidup terus, akan ada atlit baru yang akan mengalahkannya dan mencopot kehormatannya sebagai sang johan.   Kini dalam kematian ia selamat. Ia tak lagi tergabung ke dalam mereka yang pernah jaya tapi “namanya mati sebelum orangnya”, “the name died before the man”. Tapi Housman tak seluruhnya benar.  Nama tak selamanya mati sebelum yang empunya.. Kejayaan tak selamanya gampang hilang. Harum nama Jesse Owens, pemenang empat medali emas di Olympiade Berlin, tetap tak pudar meskipun Michael Johnson tercatat lebih unggul dalam Olympiade Atlanta di tahun 1996 sebagai orang pertama dalam sejarah yang memenangi  lomba lari 400 dan 200 meter sekaligus.

Memang, seperti tulis Housman dalam sajaknya, silence sounds no worse than cheers diam yang menyertai mereka yang mati, sehabis “bumi menutup kuping”  —  tak lebih buruk ketimbang tempik sorak yang mengelu-elukan seorang juara yang hidup. Tapi itu karena di situ diam tak sendirian. Dalam kematian mereka yang telah melakukan sesuatu yang berarti,  diam adalah sebuah sikap hormat.  Tepuk tangan diberikan kepada sang hero — yang berubah, fana dan berdosa — tapi sikap hormat ditujukan buat  tindakan  yang heroik, dari mana inspirasi lahir dan tumbuh selama-lamanya. Pahlawan adalah sesuatu yang berlebih. Sebuah komunitas tak dikukuhkan orang-orang hebat seperti dia, melainkan oleh tindakan-tindakan hebat. Dengan kata lain: perbuatan baik.  Monginsidi kekal bukan sebagai tokoh luar biasa, tapi sebagai kesediaan untuk berkorban bagi sebuah harapan bersama. “Monginsidi”, dengan kata lain, jadi penanda sesuatu yang mengagumkan. The name does not die with the man. 

Juga Chairil Anwar.  Mungkin kebetulan, mungkin tidak, bahwa dialah yang menuliskan kalimatnya yang terkenal: “sekali berarti, sudah itu mati”. Ia menuliskan kata-kata  itu dalam sajak Diponegoro, tapi tentu ia tak bermaksud merekam sebuah kejadian sejarah. Kita tahu Diponegoro, yang lahir di tahun 1785.  memimpin perang perlawanan ketika ia telah berusia 40 hingga ia dikalahkan Belanda lima tahun kemudian. Kita memang bisa bayangkan maut hadir begitu rapat di sekitar sang pangeran di kancah perang abad ke-19 yang mengguncang kekuasaan Kompeni dan membawa korban 200.000 manusia itu. Namun kata-kata “sekali berarti (se)sudah itu mati”  — kalimat dramatik yang menunjukkan dekatnya jarak antara perbuatan yang berarti dan hidup yang berakhir – agaknya tak berlaku buat riwayat hidup Diponegoro.   Pemimpin perlawanan itu ditangkap dan dibuang ke Sulawesi dan baru wafat 25 tahun setelah itu. Ia sempat merampungkan otobiografinya dalam bentuk tembang. Usianya 70..

Mungkin ”sekali berarti, (se)-sidah itu mati”  lebih tepat buat Chairil Anwar sendiri. Ia meninggal pada usia  27 tahun. Ia tak memimpin gerilya dan ditembak mati regu eksekusi penguasa kolonial seperti Monginsidi. Tapi seperti anak muda yang aktif dalam perjuangan bersenjata di Polobangkeng itu  Chairil menimbulkan pertanyaan yang penting buat zaman ini: kenapa anak semuda itu bisa membuat sesuatu yang begitu berarti dan dikenang terus?  Karena “angin yang keras” tahun 1940-an? Hanya dengan beberapa belas sajak, Chairil telah mengubah seluruh paradigma puisi Indonesia. Sejak karya-karyanya terbit, tak ada  lagi penyair yang menulis seperti para sastrawan Pujanggga Baru di tahun 1930-an menulis.. Bagi saya sumbangannya bagi perombakan pandangan sastra dan dunia jauh lebih mendalam ketimbang sumbangan S. Takdir Alisyahbana, yang pernah mencemooh puisi Chairil sebagai “rujak” belaka: segar tapi tanpa gizi.

Persoalan yang hendak dibawakan pandangan Chairil justru: apa salahnya “segar”? Kenapa sesuatu harus dinilai dari segi ada atau tak ada “gizi”?  Tidakkah dalam “segar” ada sesuatu yang lebih berarti – yakni hasrat untuk membuat hidup tak hanya dibebani Sabda dan Guna?  Tidakkah dunia seharusnya selalu bagai ditemukan buat pertama kalinya, penuh kejutan yang menarik, seperti digambarkan Chairil dalam sajak pendek Malam di Pegunungan: sementara aku berpikir mencari jawab tentang sebab dan akibat, seorang “bocah cilik” menemui hidup dengan “main kejaran dengan bayangan.” Kiranya memang hanya si “bocah” – dan mereka yang masih punya ke-bocah-an dalam dirinya — yang tak takut untuk melakukan hal-hal yang ganjil; “main kejaran dengan bayangan”. Merekalah yang tahu akan sia-sia untuk berkejaran dengan hal-hal yang mustahil dikejar, tapi asyik. Mereka di luar batas.

Tak ada yang baru sebenarnya dalam soal ini – juga kecemasan orang tua dan para pendukung Sabda, Guna, dan Batas.  Kita sering mendengar orang menyebut Sturm und Drang  — yang berasal dari gerakan sastra Jerman abad ke-18, yang mengutamakan cetusan subyektif dan spontan dalam kreatifitas untuk melawan kekuasaan nalar dan pengagungan sikap beradab di masa itu – sebagai sebuah periode remaja.  Dengan kata lain, sesuatu yang sementara dan tak serius. Tapi kepada yang meremehkan yang muda itulah Werther, tokoh karya Goethe yang terkenal, Die Leiden des jungen Werthers (Kesedihan hati Werther Muda), membela diri: ia mengakui gairah dirinya selalu mendekati tarap tanpa nalar dan berlebihan, tapi ia tak malu. Ia percaya banyak prestasi besar dihasilkan mereka yang dianggap mabuk dan edan (Wahnsinnige) oleh dunia. Kreatifitas memang memerlukan gairah dan satu dosis keedanan – itu sebabnya prosesnya bisa tampak tak tetap, melimpah ruah,  penuh Sturm und Drang, deru dan desak,  yang menyebabkan puisi Chairil — yang ditulis di tahun 1940 ketika kekuasaan kolonial runtuh dan tentara pendudukan Jepang berakhir dan Indonesia baru berteriak sebagai bayi baru lahir – adalah bagian yang terkena “angin yang keras”. Ia melampaui tata yang mati, meninggalkan apa yang disebut Rendra sebagai “kebudayaan kasur tua”, mencetuskan imaji-imaji yang tak terkendali oleh adab, dan merupakan elan yang menjulang dan menghempas. Memang hanya yang muda yang tak gentar hidup dalam gelombang.

Yang menarik dalam surat-surat Kartini bukanlah cuma  isinya, melainkan juga gayanya. “Gelombang” adalah kiasan yang tepat untuk gaya itu. Bahasanya tak datar, seperti ombak dengan badai yang terkadang tak segera kelihatan.. Kita mendapatkan ekspresi hiperbolik di pelbagai sudut, terutama ketika ia dengan antusias melukiskan sesuatu atau menyanjung seseorang yang dicintai. Pelbagai kalimat seakan-akan harus berhenti dengan tanda seru. Beberapa tahun setelah ia menuliskan surat-suratnya yang kemudian termashur itu – cerminan rasa gelisah dan protes perempuan yang hidup dalam masyarakat aristokrat Jawa di akhir abad ke-19, observasi dan komentarnya tentang lingkungan kolonial yang timpang dan menekan, cita-cita pribadinya yang tak sampai — Kartini meninggal di tahun 1904. Umurnya baru 25. Ia meninggal sebagai seorang ibu.  Di akhir hidupnya yang pendek ia isteri kedua seorang bupati yang, betapapun terpelajar dan penuh kasih sayang kepadanya, tetap bagian yang jinak dari tata yang tertib. Maka kisah Kartini jadi penting bukan karena heroismenya, melainkan karena kegagalannya: dialah perempuan yang mencoba menunggang gelombang – khas suara generasi muda — tapi terjebak dalam palung ke-tua-an.  Dalam masyarakatnya, panutan adalah ingatan. Yang membentuk adalah pengulangan khasanah yang disusun generasi tua.  Tradisi menentukan hampir segalanya. 

Pandangan bahwa “tua itu baik” itu bahkan berlanjut sampai hari ini. Dalam nyanyian nasional yang memujanya, Kartini dipanggil “Ibu kita”, bukan “sang pelopor”.  Citranya tak lagi sebagai bagian dari sebuah pergerakan progresif, melainkan sebagai pengayom struktur yang konservatif.  Tak mengherankan bila Hari Kartini adalah hari ketika para perempuan berpakaian adat, bukan berpakaian pilot atau atlit angkat besi. Dalam hal itu, nasibnya lebih buruk ketimbang Monginsidi. Pemimpin perjuangan bersenjata itu berakhir dalam mati,  Kartini dalam “tua”. Betapa menyedihkan: ia tak tampak sebagai seorang atlit yang mati muda.  Simone de Beauvoir pernah mengatakan, lawan dari hidup bukanlah kematian, melainkan ketuaan.  Jika kita ingin mengenang Kartini dengan baik, kita harus mengenang tragedinya@

Friday, March 27, 2015

Isa Anshary...

ADA yang menyebutnya ”Napoleon”. Ia memang pendek, bulat, berkibar-kibar dalam tiap konfrontasi, tangkas, dan agresif. Kini tak banyak orang yang masih mengingat sosok dan namanya, tapi pada tahun 1950-an, Kiai Haji Isa Anshary, tokoh Partai Masyumi dari Jawa Barat itu, merupakan tonggak tersendiri di Indonesia: orang mengaguminya atau memandangnya dengan cemas. Terutama waku itu, ketika gagasan untuk mendirikan ”negara Islam” dipergulatkan dalam perdebatan politik dan persaingan yang terbuka. Pada tahun 1955, Indonesia menyelenggarakan pemilihan umum pertama secara nasional. Para sejarawan mencatatnya sebagai ikhtiar besar pertama kita yang berhasil dalam kehidupan demokrasi, sebab tak tercatat kecurangan dan praktis tak terjadi kekerasan selama kompetisi politik itu berlangsung. Dari pemilihan 1955, ia dipilih jadi anggota Konstituante, dewan perwakilan yang bertugas merumuskan konstitusi. Ketika pada November 1956 sampai Juni 1959 perdebatan berlangsung—untuk menentukan manakah yang akan jadi dasar negara, Pancasila atau Islam—pelbagai argumen dikemukakan oleh masing-masing pendukungnya. Banyak yang cemerlang, banyak yang membosankan, tapi sedikit yang segalak pidato Isa Anshary dalam majelis yang bersidang di Bandung itu:

”Kalau saudara-saudara mengaku Islam, sembahyang secara Islam, puasa secara Islam, kawin secara Islam, mau mati secara Islam, saudara-saudara terimalah Islam sebagai Dasar Negara. [Tapi] kalau saudara-saudara menganggap bahwa Pancasila itu lebih baik dari Islam, lebih sempurna dari Islam, lebih universal dari Islam, kalau saudara-saudara berpendapat ajaran dan hukum Islam itu tidak dan tidak patut untuk dijadikan Dasar Negara… orang demikian itu murtadlah dia dari Agama, kembalilah menjadi kafir, haram je-nazahnya dikuburkan secara Islam, tidak halal baginya istri yang sudah dikawininya secara Islam….

Pidato itu, dicatat dalam salah satu dari 17 jilid Risalah Perundingan Tahun 1957, yang diterbitkan Sekretariat Konstituante—dan dikutip dalam buku Adnan Buyung Nasution, Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia—sebenarnya tak menunjukkan perkembangan baru dalam sikap Isa Anshary. Sudah pada tahun 1951, dalam majalah Hikmah, ia menyatakan, ”Hanya orang yang sudah bejat moral, iman dan Islamnya, yang tidak menyetujui berdirinya Negara Islam Indonesia.” Tentu harus dicatat bahwa Isa Anshary, ”Napoleon” itu, tak memilih jalan perjuangan bersenjata untuk itu; ia dan partainya, Masyumi, membedakan diri dari cara Darul Islam yang pada masa itu bergerilya hendak merobohkan Republik dari hutan-hutan Jawa Barat. Namun mungkinkah sikap yang demikian mutlak—yang mengutuk siapa saja yang tak sependirian dengan kata ”murtad”, ”kafir”, atau setidaknya ”bejat moral”—pada akhirnya bisa menghindar dari kehendak menampik dan menyingkirkan secara mutlak pula?  Jarak antara kekerasan dan sikap yang tak mengizinkan perbedaan hanya terbentang beberapa senti—seperti terbukti dalam sejarah ketika dalil yang absolut dipergunakan dalam bertikai. Kita tahu, riwayat agama-agama tak bersih dari darah dan kebengisan. Tentu saja tak hanya agama: yang brutal terjadi tiap kali doktrin tergoda jadi totaliter, ketika ajaran dijejalkan ke segala pojok hidup dan lubuk jiwa, ketika para ahli agama—sebagaimana kaum ideolog—merasa diri jadi penyambung lidah Yang Maha Sempurna. Yang sering diabaikan ialah bahwa tiap godaan totaliter, yang bermula dari bayangan tentang kesempurnaan, selalu berakhir sia-sia. 

Bayangan tentang ”yang sempurna” ini—yang oleh para psikoanalis akan disebut sebagai fantasi—pada hakikatnya lahir dan tumbuh dari rasa risau tentang dunia yang apa boleh buat cacat. Ketika yang cacat tak kunjung dapat dihilangkan, doktrin pun membentuk diri dengan menciptakan apa saja yang harus dikutuk dan akhirnya dibinasakan: si ”bejat moral”, si ”fasik”, si ”murtad”, si ”kontrarevolusioner”, si ”revisionis”, ”si komunis”, ”si teroris”….Tapi kita tahu, daftar itu tak akan habis. Masyarakat yang total tak akan pernah tercapai. ”Negara Islam” telah dicoba dalam sejarah, tapi jawaban selalu hanya sebuah iktikad baik yang mencoba-coba.Sebenarnya Isa Anshary tahu, dunia tak akan bisa dibereskan sekali pukul dan buat selama-lamanya. Ia menganggap ”haram” pandangan Bung Karno yang melihat gotong-royong sebagai hakikat Pancasila. Sebab di sini, menurut dia, ”Tuhan yang Maha Esa” dilebur dalam kata ”gotong-royong”. Dengan kata lain, Tuhan yang Maha Sempurna tak sepatutnya dipertautkan dengan ikhtiar bersama manusia yang masing-masing terbatas dan daif dan cacat. Tapi jika demikian, bagaimana mungkin Tuhan diturunkan dari takhta kegaiban dan kesucian untuk mengurus kehidupan politik yang mau tak mau harus dikerjakan oleh tangan-tangan yang terbatas, terkadang cela?@

Thursday, March 26, 2015

Wahabi di Minang...

PERANG Padri tak dimulai dari titik nol. Sewaktu saya kecil, yang saya baca hanyalah cerita tentang Imam Bonjol yang melawan para pendukung adat yang dibela Belanda. Setelah mulai tua, saya baca kisah tentang Tuanku Nan Rinceh, yang kurus tapi dengan matamenyala bagai api. Ia muncul dalam arena konflik sosial yang melanda Minangkabau sejak awal abad ke 19. Ia muncul dan ia mengagetkan. Di daerahnya di Bukit Kamang yang tinggi, ia memaklumkan jihadnya seperti pedang berkilat. Merasa ia harus memberi contoh bagaimana ajaran agama mesti ditaati tanpa ditawar, konon ia membunuh saudara ibu kandungnya. Wanita itu seorang pengunyah tembakau. Masyarakat yang ingin ditegakkan Tuanku Nan Rinceh memang masyarakat yang ideal: tak ada orang menyabung ayam, minum tuak, atau mengisap candu. Tak ada orang memakan sirih. Pakaian putih-putih haru dikenakan, dan kaum pria haru mengikuti Nabi: membiarkan diri berjanggut. Wanita haru bertutup muka, tak boleh memakai perhiasan. Kain sutera harus dijauhi. Syariat Islam harus dijalankan, dan siapa yang tak taat dihukum.Memang, ada pengaruh gerakan Wahhabi, yang waktu itu sedang naik pasang di sekitar Mekkah, dalam semangat Tuanku Nan Rinceh itu. Lurus, sederhana, menuntut sikap yang serba murni. Tapi zaman tampaknya menghendaki semangat yang lempang dan puritan. Tuanku Nan Rinceh, mungkin “ekstrem”, bukan fenomena yang tersendiri.Tak berarti ada persekongkolan di mana mana. Sejarah umat Islam adalah sejarah tentang perbedaan-perbedaan, dan kita bisa sesat bila tak memandangnya secara demikian. 

Gerakan “pemurnian” di Bukit Kamang itu toh akhirnya bentrok dengan gerakan Islam di tempat lain. Khususnya dengan seruan “kembali ke syariat” yang sejak akhir 1700 dibawakan oleh Tuanku Nan Tua dari Kota Tua di wilayah Agam. Sengketa itu sengit. Setelah gagal mempertemukan pendapat dalam suatu pertemuan, Tuanku Nan Rinceh pun menarik garis Orang alim tua dari surau tarikat Syattariyah itu, Tuanku Nan Tua, yang mengutip pelbagai ayat Quran untuk menunjukkan bahwa Nabi pada dasarnya mengenggani kekerasan, kemudian dicemooh sebagai “Rahib Tua”. Muridnya, Jalaluddin, yang mendirikan dusun Muslim di Kota Lawas, dijuluki “Raja Kafir”. Lalu perang pun pecah selama enam tahun.Apa gerangan penyebabnya? Terbit sebuah hasil penelitian sejarah Sumatera Barat oleh Christine Dobbin, Islamic Revivalism in a Changing Peasant Economy, sebuah studi tentang masa riuh 1784-1847. Seperti tampak dari judulnya, Dobbin mencoba menunjukkan maraknya api keagamaan di Minangkabau itu sebagai jawaban sosial atas perubahan ekonomi yang terjadi, ketika perdagangan kopi untuk ekspor sedang menunggu. Ketika itulah orang-orang Minang, terutama dari daerah pebukitan, tempat kopi tumbuh mudah, menemukan dunia baru. Mereka hidup dari suatu proses jual-beli, yang jaringannya lebih luas ketimbang dusun sendiri – suatu jarimgan yang tentu saja impersonal. Adat setempat yang mengatur hubungan-hubungan lokal karena itu tak lagi memadai. Tak mengherankan bila para penghulu, yang lazim memecahkan sengketa sosial dengan memakai pedoman aturan setempat, jadi repot. Dalam keadaan sedemikian, ketika hukum tak lagi cukup, sementara perkara yang harus dihakimi bertambah rumit dan banyak, surau pun tampil sebagai alternatif. Hukum Islam, yang diturunkan di Mekkah di suatu masyarakat pedagang, memang memungkinkan itu: la tldak asmg dengan kasus-kasus yang muncul setelah kegiatan komersial berkembang cepat.

Tuanku Nan Tua sendiri bahkan ikut aktif dalam kegiatan itu – dan sukses. Suraunyapun giat menyerukan agar orang berpegang hukum Islam dalam menyelesaikan soal-soal perniagaan. Tak ayal, syekh dari surau Syattariyah ini pun dianggap pelindung para pedagang. Tapi dalam keadaan yang lebih makmur itu pula orang berkesempatan berfoya-foya. Hampir di tiap pasar orang mendirikan gelanggang sabung ayam, sementara tuak dan candu dengan leluasa diedarkan. Semua tingkah ini jadi tambah mencolok buruknya bagi orang ramai, ketika semangat pedagang hemat, bersahaja, ulet tengah berblak. Maka, terhadap kemaksiatan inilah surau-surau angkat suara – dan akhirnya angkat senjata.Kaum Padri, juga Tuanku Nan Rinceh, pada dasarnya meneruskan semangat itu. Dan dalam banyak hal mereka berhasil. Desa yang dibangun Haji Miskin pada tahun 1811, misalnya, di Air Terbit, di lereng Gunung Sago, adalah contoh desa yang teratur serta makmur. Bahkan orang Belanda juga mengakui hal itu. Namun, sayang, tak sepenuhnya masyarakat ideal yang dikehendaki bisa bertahan. Kaum Padri sendiri berubah. Di Pandai Sikat orang-orang desa mulai kembali makan sirih dan merokok, pakaian wanita tak jadi setertutup dahulu. Adat setempat tak begitu saja hilang, dan seperti halnya pihak lain, seperti halnya manusia sepanjang sejarah, kaum Padri pun akhirnya menerima kompromi. Kemurnian barangkali memang tak ditakdirkan untuk dunia yang tak kekal, tak tunggal, ini.

Wednesday, March 11, 2015

Jangan pesimis..

Saya menikah usia 22 tahun. Ketika itu saya tidak punya pekerjaan tetap. Kuliah juga belum selesai.Tidak ada tabungan. Tidak ada asuransi. Jadi benar benar saya menghadang resiko. Apa itu? Bila uang untuk sewa rumah saja tidak ada , setelah kawin dimana saya mau tinggal ? Bila asuransi saja tidak ada, kalau anak lahir darimana saya membayar biaya rumah sakit . Kalau terjadi apa apa , apa yang harus saya lakukan bila tabungan saja tidak ada. Bagaimana saya bisa menyelesaikan kuliah saya, dengan beban istri bersama saya …dan terakhir bagaimana bisa meyakinkan secara akal sehat kepada istri bahwa hidup akan aman aman saja walau tidak ada jaminan income. Sementara sebagian besar teman dan kerabat menasehati saya dengan analisa future yang sangat mengerikan.Bahwa rumah tangga saya akan hancur bila tidak ada penghasilan. Masa depan akan hancur bila tidak selesai kuliah.Dan banyak lagi.Tapi saya tidak peduli. Ketika layar terkembang, pantang surut kebelakang.No way return! Apa modal saya ? 1.Restu orang tua.2.Iman.  Berjalannya waktu , semua bayangan menakutkan itu, tidak terjadi. Saya dan istri baik baik saja. Sementara teman yang ahli  merencanakan kapan harus menikah dengan sederet pra kondisi, harus selesai kuliah, harus kerja, harus punya rumah , harus mapan, kini diusia diatas 50 tahun masih mencemaskan putranya yang masih sekolah atau kuliah, masih bingung menyiapkan tabungan masa tua, dan lain sebagainya. Sementara saya diusia setengah abad ini, engga lagi direpotkan dengan itu semua. Alhamdulilah satu putra saya telah menikah dan memberi saya dua cucu hebat. Insha Allah, tahun ini sibungsu akan menyelesaikan kuliah kedokterannya dan menikah. Tenaga saya masih kuat karena belum usia pension, dan berharap menggunakan sisa umur ini untuk kegiatan sosial.

Tahun 1996  kurs Rp.2300/1 USD dan tahun 1998 atau dua tahun kemudian menjadi diatas Rp.10 ribu. Krisis moneter melanda republic ini.  Banyak teman kehilangan pekerjaan dan usahanya bangkrut. Kalau tadinya mereka menjadi middle class berkarir diperbankan atau punya pabrik ,dengan kejadian krismon itu class mereka jatuh. Saya perhatikan , ada teman yang frustrasi dan selalu meratapi keadaan, akhirnnya hidupnya hancur. Ada yang meninggal karena serangan jantung. Ada juga yang terlalu banyak rencana tapi tidak berbuat apapun karena takut uang pesangon atau sisa modal habis.  Akhirnya uang pesangon atau modal habis dimakan dan mereka depresi. Rumah tangga hancur dan mereka kehilangan potensi. Tapi ada yang ketika musibah terjadi, langsung berbuat dengan uang pesangon atau modal yang tersisa. Mereka langsung merubah gaya hidupnya. Mereka  ambil resiko untuk keluar dari masalah.Dengan cara berbuat. Apa yang terjadi kemudian?. Sebagian kini jadi pengusaha sukses dibidang perkebunan, perikanan. Ada yang bisa eksport hampir Rp 1 trilun ikan tuna ke Jepang. Ada yang punya ribuan hektar kebun  Sawit dan tambang batu bara. Dan  ada yang langsung namanya masuk dalam urutan orang terkaya di Indonesia karena kepiawaianya sebagai consultant shadow banking untuk membeli asset yang dikuasai BPPN.  Bahkan ada yang tadinya hanya distributor barang import ,kini punya pabrik di China , Vietnam. Saya bertemu dengan banyak orang Indonesia yang punya usaha di China, sebagian besar meraka adalah alumni korban Krismon 1998. Mereka kaya raya dan sukses.

Mengapa saya ceritakan diatas?  Semua manusia punya kesempatan sama. Allah maha adil akan itu. Lantas mengapa ada yang beda nasipnya. Ada yang  kaya dan ada yang miskin. Ada yang kalah dan  ada yang menang. Ada yang sukses dan ada yang gagal. Selalu bersanding antara nasip baik dan buruk. Mengapa ? ternyata bukan karena kehebatan ilmu, bukan karena harta berlebih, bukan karena kesempurnaan tubuh,bukan karena banyak zikir. Bukan !. Tapi mindset.  Cara berpikir.! Itulah yang membedakan nasip orang satu dengan yang lain. Orang yang pesimis selalu menghitung masalah yang ada  dan membayangkan masalah yang belum ada. Dia selalu jadi pecundang. Apapun yang dia lakukan tetap akan menjadikannya pecundang. Baik dari sisi spiritual maupun dari sisi social. Mengapa ? Karena dia bukan penyelesai masalah tapi bagian dari masalah itu sendiri. Sikap paranoid melekat erat kepada orang yang pesimis.  Optimism is the most important human trait, because it allows us to evolve our ideas, to improve our situation, and to hope for a better tomorrowBanyak orang punya titel berlapis, punya harta berlebih dari warisan keluarga namun akhirnya semua hilang  dan dia meradang seumur hidup menyesali yang telah terjadi dan membayangkan buruk yang akan terjadi. Orang yang bernasip baik adalah orang yang mau menerima nasip buruk dan melewatinya dengan tegar.! Ya..Orang pesimis melihat kesulitan dalam setiap peluang. Orang optimis melihat peluang disetiap ada kesulitan.

Dengar lah nasehat Ali Bin Abi Thalib “ Bukanlah kesulitan yang membuat kita takut, tapi ketakutanlah yang membuat kita sulit. Karena itu, jangan pernah mencoba untuk menyerah, dan jangan pernah menyerah untuk mencoba. Maka jangan katakan kepada Allah bawa kita punya masalah, tapi berkatalah kepada masalah bahwa kita punya Allah SWT. Yang Maha Segalanya” Ya, Ingat ketika awal menikah saya tanya sama istri mengapa dia berani hidup bersama dengan saya. Dia optimis  Allah akan menolongnya sepanjang dia yakin dengan suaminya. Keyakinan atau optimisme inilah yang membuat sesulit apapun keadaan, akan selalu bersama sama mengatasinya, tanpa saling menyalahkan atau mengeluh tak berkesudahan. Baik rumah tangga maupun kehidupan bermasyarakat, bernegara, sikap optimis inilah sebagai modal untuk membuat nothing is impossible. Waktu menikah saya tidak mungkin punya rumah karena tida ada tabungan, setelah menikah Allah beri saya rumah. Saya tidak mungkin bisa punya kendaraan karena saya tidak bisa setir dan engga ada income pasti tapi Allah beri saya kendaran dan supir. Saya tidak mungkin mapan karena tidak pumya pekerjaan tetap, tapi Allah beri saya sumber pekerjaan untuk memberi orang lain pekerjaan. Kehidupan saya mengajarkan dengan pasti bahwa nothing is impossible..tidak ada yang tidak mungkin asalkan anda tidak meliat kesulitan pada setiap kesempatan namun melihat kesempatan pada setiap kesulitan.Yakinlah !

Sunday, March 08, 2015

Dengki dan Rakus

Dalam makaidus  syhaithan, ibnu Abid Dunya menukil sebuah riwayat, dari Salim ibn Abdullah, Iblis pernah membuka rahasianya bagaimana cara membinasakan manusia. Rahasia ini disampaikan kepada Nabi Nuh.  Sebetulnya ada lima rahasia itu namun Nabi Nuh hanya minta dua saja dari lima itu. Apa itu?  Pertama ,sifat iri dengki dan kedua adalah sifat tamak atau rakus. Iblis mengatakan bahwa sifat iri dengki itu awal dari sebab dan penyebab ia dijadikan setan laknat Allah. Mau tau ceritanya? Itu berawal ketika Allah meminta Iblis sujud kepada Adam. Iblis menolak. Iblis ber-analogi ,apakah materi penciptaan-nya berasal dari api  lebih rendah dibandingkan dengan Adam  yang diciptakan dari tanah lempung.?Allah engga peduli dengan analogi Iblis.Karena itu muncullah sifat dengki dan iri. Pada waktu bersamaan timbul prasangka buruk kepada Allah bahwa Allah tidak adil terhadapnya. Karena sifat iri dengki itulah Iblis  diusir dari sorga. Kedua , adalah sifat tamak atau rakus. Allah menempatkan Adam di sorga dengan limpahan kemewahan tak terbilang.Tapi kemewahan itu ada syarat dan syarat itu sangat tidak significant dibandingkan kenikmatan di sorga. Apa syarat itu? Yaitu tidak boleh memakan buah Qalbi. Setan yang telah bersumpah dihadapan Allah akan menghasut Adam beserta anak cucunya, meniupkan sifat rakus itu kepada Adam. Bahwa apalah arti kemewahan hidup bila dibatasi. Menurut Setan, Allah bersikap tidak rasional melarang Adam memakan buah Qalbi sementara Allah menciptakan buah Qalbi itu. Akhirnya Adam ter-hasut dengan analogi iblis. Maklum memang didalam diri Adam ada sifat Allah yaitu Free will. Bebas berbuat sesuka nya,termasuk makan buah Qalbi. Tapi karena itulah Adam terlempar dari sorga.Ya Adam  lupa bahwa freewill nya dibatasi oleh aturan dan ketika dia melewati batas itu maka itulah rakus!

Para pengusaha dan pejabat itu selama Indonesia merdeka menikmati limpahan kemewahan ba' di sorga. Rumah di kawasan mewah di london dan Amerika , liat, sebagian pemiliknya adalah orang Indonesia.Apartemen mewah dikawasan bergengsi di Singapore dan Sydney, Pert, liat, sebagian pemiliknya adalah orang Indonesia. Hotel berkelas diamond setiap liburan kebanjiran tamu dari orang kaya Indonesia. Mereka menikmati kemudahan menjadi kaya karena akses kekuasaan memang memberikan mereka lampu Aladin untuk mendapatkan uang dari impor Migas, impor pangan, distribusi pupuk subsidi, bisnis tambang, bisnis pemalakan hutan, komisi anggaran ( APBN/D), dan lain sebagainya. Hanya satu yang dilarang oleh Negara berdasarkan UU 45 bahwa jangan ganggu Koperasi. Jangan bonsai Koperasi. Jangan zolimi kaum duafa. Tapi belakangan UU koperasi pun dirubah sebagaimana amandemen UUD 45. Ini kesalahan fatal. Mereka sudah sangat kaya tapi karena rakus tetap saja mereka ingin mendapatkan lebih , dan bila perlu menyingkirkan kegiatan ekonomi rakyat yang merupakan mayoritas penduduk negeri ini. Lambat namun pasti, para elite yang tadinya begitu mudah menipu rakyat dengan jargon nasionalis, sosialis, agamis, akhirnya ditinggalkan rakyat begitu saja ketika seorang tukang mebel yang bukan pimpinan partai, yang bukan konglomerat, bukan ulama , tampil mencalonkan diri sebagai Presiden.Walau dia dukung oleh PDIP setengah hati akhirnya dia bisa menang setelah melewati proses yang tak mudah. Setelah itu para mereka yang kaya raya karena rente harus keluar.Seperti Adam yang harus keluar dari sorga setelah makan buah Qalbi. Aturan dibuat dan nafsu free will mereka harus mengikuti sunatullah bahwa mereka harus kerja keras dan meningkatkan value agar bisa menikmati kekayaan Sumberdaya yang Allah limpahkan kepada bumi nusantara.

Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau mulia kan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebaikan. (QS. Ali Imran: 26). Firman Allah itu ditentang habis oleh mereka yang menganggap rakus itu bagus.Yang terlempar dari kemudahan bisnis rente. Para tokoh agama yang ter-provokasi uang dan kedengkian berdalil bahwa terpilih nya Jokowi adalah azab dari Allah yang menjadikan orang zalim sebagai pemimpin. Mereka yang iri dengan kalahnya Capres mereka terus berusaha meyakinkan kepada Allah bahwa keputusan Allah menjadikan Jokowi sebagai Presiden itu salah. Mereka yang membenci Jokowi adalah gabungan dari dua sifat Iri dengki dan rakus. Dua sifat inilah yang membuat iblis menjadi setan laknat Allah dan Adam terusir dari sorga.Dua sifat ini adalah inti dari semua penyebab akhlak buruk. Dua sifat itu ibarat sel kanker ganas yang bisa dengan cepat melakukan pembelahan diri membentuk ribuan sel dan ribuan sel itu bergerak cepat membunuh sel yang baik sehingga tanpa disadari semua sel baik didalam tubuh kita sudah mati.Bertukar dengan sel kanker. Hati kita membatu, dan kebenaran tak lagi diliat, kebaikan tak  lagi bisa dirasakan, keadilan menjadi jauh dan jauh. Setiap hari orang itu menjadi pembenci, paranoid dan keinginannya hanyalah kerusakan dan mematikan harapan bahwa Allah itu maha pengasih penyang dan maha bijaksana.

Perhatikanlah olehmu Nak, karena sifat iri dengki menjadikan malaikat Allah yang bernama Iblis menjadi makhluk buruk rupa dan terhina sehingga disebut syaithan laknat Allah. Mengapa ? karena sifat iri dengki itu membuatmu bersikap yang paling tidak disukai oleh Allah. Apa itu ? orang yang menolak perintah Allah dan berusaha beranalogi bahwa takdir Allah itu salah. Mengapa saya miskin , dan dia kaya?. Mengapa musibah ini harus datang kesaya ,bukan ke-mereka? .Mengapa saya yang harus cacat , bukan mereka?. Mengapa saya kalah, dan dia menang? Dengan itu dia melakukan dua hal, pertama ingkar dan kedua meragukan integritas Allah. Kamu tahu Nak,  bahwa kekuasaan, kemuliaan, kehinaan,kebaikan ada dalam genggaman Allah. Allah berbuat sesuka hatinya.  Semua yang terjadi didunia ini , apakah itu kekuasaan, kemuliaan, kehinaan,kebaikan bukanlah antara kita dengan keadaan  itu tapi antara kita dengan Allah. Untuk menguji sikap kita agar menjadi sempurna.Apa sikap itu? Yaitu sabar dan ikhlas. Sebagai pribadi muslim Jokowi tentu punya agenda sehingga menguatkan tekadnya untuk memimpin Indonesia. Apapun yang dia lakukan , bukanlah antara dia dengan rakyat tapi antara dia dengan Allah.  Berlakulah seperti Malaikat ketika Allah meminta mereka sujud kepada Adam, yang walau diliputi tanda tanya besar namun tidak mengurangi sikap patuh kepada Allah.. Mereka percaya kepada Allah karena Allah lebih tahu apa yang tidak diketahui oleh makhluknya dan semudah Allah memberi kekuasaan tentu  semudah itu pula Allah mencabutnya. Ini disadari oleh Jokowi sehingga memaksa dia harus terus rendah hati dan bekerja keras menuntaskan amanah yang diembankan kepada nya. Mengapa masih juga ragu? Percayalah.!

Persahabatan …?

  Sejak  minggu lalu, sejak saya membuat keputusan perubahan susunan Komisaris perusahaan, setiap hari email datang dari Yuni dengan nada pr...