Posts

Showing posts from March, 2015

Yang muda...

Mereka menembak mati Monginsidi di Pacinang, Makassar,  tanggal 5 September  1949.Ada yang mencatat bahwa beberapa menit sebelum dieksekusi, pemimpin gerilya yang ditakuti tentara pendudukan Belanda itu memberi maaf kepada regu serdadu yang bertugas menghabisi nyawanya. Mungkin saat itu ia menukil Injil Lukas yang merekam apa yang dikatakan Yesus di saat-saat penyaliban. Tapi mungkin juga ia – yang tak mau meminta grasi kepada pemerintahan kolonial — sudah lama menerima apa yang datang bersama zamannya. Dalam sepucuk surat untuk seorang gadis yang tinggal di Jakarta, Milly Ratulangi — sepucuk surat yang ditulisnya empat hari sebelum hukuman mati itu dijalaninya —  ia menggambarkan, dengan kalimat puitis yang menggetarkan, anak-anak muda zamannya “sebagai bunga yang sedang hendak mekar…digugurkan oleh angin yang keras”. Tentu ia berbicara tentang generasinya. Umur Robert Wolter Monginsidi baru 24 tahun. Seorang bekas gurunya, Sugardo, menuliskan kenangannya tentang Si “Woce” di majalah

Isa Anshary...

Image
ADA yang menyebutnya ”Napoleon”. Ia memang pendek, bulat, berkibar-kibar dalam tiap konfrontasi, tangkas, dan agresif. Kini tak banyak orang yang masih mengingat sosok dan namanya, tapi pada tahun 1950-an, Kiai Haji Isa Anshary, tokoh Partai Masyumi dari Jawa Barat itu, merupakan tonggak tersendiri di Indonesia: orang mengaguminya atau memandangnya dengan cemas. Terutama waku itu, ketika gagasan untuk mendirikan ”negara Islam” dipergulatkan dalam perdebatan politik dan persaingan yang terbuka. Pada tahun 1955, Indonesia menyelenggarakan pemilihan umum pertama secara nasional. Para sejarawan mencatatnya sebagai ikhtiar besar pertama kita yang berhasil dalam kehidupan demokrasi, sebab tak tercatat kecurangan dan praktis tak terjadi kekerasan selama kompetisi politik itu berlangsung. Dari pemilihan 1955, ia dipilih jadi anggota Konstituante, dewan perwakilan yang bertugas merumuskan konstitusi. Ketika pada November 1956 sampai Juni 1959 perdebatan berlangsung—untuk menentukan manakah y

Wahabi di Minang...

Image
PERANG Padri tak dimulai dari titik nol. Sewaktu saya kecil, yang saya baca hanyalah cerita tentang Imam Bonjol yang melawan para pendukung adat yang dibela Belanda. Setelah mulai tua, saya baca kisah tentang Tuanku Nan Rinceh, yang kurus tapi dengan matamenyala bagai api.  Ia muncul dalam arena konflik sosial yang melanda Minangkabau sejak awal abad ke 19. Ia muncul dan ia mengagetkan.  Di daerahnya di Bukit Kamang yang tinggi, ia memaklumkan jihadnya seperti pedang berkilat. Merasa ia harus memberi contoh bagaimana ajaran agama mesti ditaati tanpa ditawar, konon ia membunuh saudara ibu kandungnya. Wanita itu seorang pengunyah tembakau.  Masyarakat yang ingin ditegakkan Tuanku Nan Rinceh memang masyarakat yang ideal: tak ada orang menyabung ayam, minum tuak, atau mengisap candu. Tak ada orang memakan sirih. Pakaian putih-putih haru dikenakan, dan kaum pria haru mengikuti Nabi: membiarkan diri berjanggut. Wanita haru bertutup muka, tak boleh memakai perhiasan. Kain sutera harus dijauh

Jangan pesimis..

Image
Saya menikah usia 22 tahun. Ketika itu saya tidak punya pekerjaan tetap. Kuliah juga belum selesai.Tidak ada tabungan. Tidak ada asuransi. Jadi benar benar saya menghadang resiko. Apa itu? Bila u ang untuk sewa rumah saja tidak ada , s etelah kawin dimana saya mau tinggal ? Bila  asuransi saja tidak ada, k alau anak lahir darimana saya membayar biaya rumah sakit . Kalau terjadi apa apa , apa yang harus saya lakukan bila tabungan saja tidak ada. Bagaimana saya bisa menyelesaikan kuliah saya, dengan beban istri bersama saya …dan terakhir bagaimana bisa meyakinkan secara akal sehat kepada istri bahwa hidup akan aman aman saja walau tidak ada jaminan income. Sementara sebagian besar teman dan kerabat menasehati saya dengan analisa future yang sangat mengerikan.Bahwa rumah tangga saya akan hancur bila tidak ada penghasilan. Masa depan akan hancur bila tidak selesai kuliah.Dan banyak lagi.Tapi saya tidak peduli. Ketika layar terkembang, pantang surut kebelakang.No way return! Apa modal saya

Dengki dan Rakus

Image
Dalam makaidus  syhaithan, i bnu Abid Dunya menukil sebuah riwayat, dari Salim ibn Abdullah , Iblis pernah membuka rahasianya bagaimana cara membinasakan manusia. Rahasia ini disampaikan kepada Nabi Nuh.  Sebetulnya ada lima rahasia itu namun Nabi Nuh hanya minta dua saja dari lima itu. Apa itu?  Pertama ,sifat iri dengki dan kedua adalah sifat tamak atau rakus. Iblis mengatakan bahwa sifat iri dengki itu awal dari sebab dan penyebab ia dijadikan setan laknat Allah. Mau tau ceritanya? Itu berawal ketika Allah meminta Iblis sujud kepada Adam. Iblis menolak. Iblis ber-analogi ,apakah materi penciptaan-nya berasal dari api  lebih rendah dibandingkan dengan Adam  yang diciptakan dari tanah lempung.?Allah engga peduli dengan analogi Iblis.Karena itu muncullah sifat dengki dan iri. Pada waktu bersamaan timbul prasangka buruk kepada Allah bahwa Allah tidak adil terhadapnya. Karena sifat iri dengki itulah Iblis  diusir dari sorga. Kedua , adalah sifat tamak atau rakus . Allah menempatkan