Wednesday, July 20, 2005

PENJARA

Mungkin sudah banyak tau bahwa Tommi ( Hutomo Mandala Putra – Putra ex Mantan President Soeharto ) ada di LAPAS Nusakambangan. Ini adalah LAPAS terangker di Indonesia dan hanya diperuntukan bagi terpidana berat saja. Terisolasi tidak hanya berada dalam Kamp Tahanan tapi juga dari kehidupan ramai. Tapi taukah anda. Dalam kondisi terpenjara pidana ,senyatanya Tommi tidak pernah terpenjara secara perdata. Kehidupan businessnya terus berjalan. Dia nampak bahagia karena penjara telah membuat hatinya tidak lagi terpenjara. Kekawatiran tentang masa depan sudah bukan lagi yang diperhitungkannya. Melalui beberapa sahabat yang masih setia , dia mulai membenahi usahanya. Bahkan bertambah lancar dan tajam sepak terjang business nya. Dalam kurungan , dia telah berhasil melakukan restruktur perusahaannya secara menyeluruh. Didalam situasi menjadi pesakitan Tommi jadi mengetahui siapa teman siapa lawan. Penjara pisik tidak pernah menghentikan orang untuk berkreasi apabila dia mempunyai kebebasan dalam berpikir tanpa ada rasa kawatir akan masa depannya. Percaya Allah telah menentukan semua yang ada didepan kita. Percaya Allah maha pengampun, pengasih dan penyayang kepada hambanya yang ikhlas. Dalam hal Tommi apakah dia dapat mengambil hikmah dari situasinya kini ¿ wallahu a’lam.

Ada seorang sahabat yang selalu berkeluh kesah dan tertekan. Karena dia selalu memikirkan masa depan anaknya yang masih berusia 5 tahun. Tantangan yang ada didepan mata selalu disikapi berlebihan. Kawatir karirnya akan hancur dan tentu akan berpengaruh terhadap masadepan anaknya. Ketika bunga bank turun diapun semakin tidak nyaman karena kawatir tabungannya tidak bisa bertambah cepat untuk mendukung masa depannya. Rasa cinta yang berlebihan terhadap masa depan keluarga telah membuat dia semakin kikir terhadap orang lain. Juga kikir terhadap dirinya sendiri. “ tidak akan ada orang akan peduli pada anak saya bila saya tidak punya cukup bekal untuk masa depannya. “ begitu keluhnya dalam kekawatiran yang tak pernah hilang. Rasa kawatir telah memenjara kreatifitasnya dan takut mengambil resiko apa saja yang akan mengurangi hartanya.

Jadi tidak mengejutkan bila banyak orang yang ada didalam mobil mewah , di rumah mewah dan kamar kerja mewah merasa terpenjara. Penjara yang menghalanginya untuk melangkah bebas. Yang selalu merasa diawasi. Tidak ada yang membuatnya merasa terpenjara kecuali perasaannya sendiri. Perasaan akan kekawatiran masa depan. Perasaan takut kehilangan harga diri. Perasaan takut kalah. Kekayaan harta menimbulkan perasaan takut kehilangan. Kekawatiran ini membuat dia semakin tamak dan semakin curiga dengan siapapun yang akan mengurangi hartanya. Sehingga langkah dan tindak tanduknya semakin eksklusif. Jauh dari orang kebanyakan. Dia bentengi rumahnya dengan pagar tinggi. Dia bentengi uangnya di bank bank yang menawarkan layanan pribadi ( Private Banking ) yang sulit dilacak orang. Secara teratur dia selalu general check up di luar negeri untuk memastikan tubuhnya sehat. Kawatir kematian menjemputnya. Kawatir dan kawatir itulah yang terus membuatnya tidak pernah bahagia. Sebetulnya mereka ada karena kemiskinan jiwa dan kekerdilan bersikap. Harta diburu dengan cara tanpa perasaan kasih sayang. Kecuali sikap tamak dan tidak peduli dengan orang lain. Lebih mengutamakan harta daripada “ cara” mendapatkan harta.

Pernah suatu ketika di Mekkah, tepatnya di Masjid Al Haram, di saat buka shaum ada beberapa orang pengemis membawa kain yang tampaknya penuh dan isinya terlihat berat. Mereka meminta-minta sampai kain bawaannya semakin banyak. Hingga sulit dibawa dengan tangannya. Ternyata, dia melakukan itu karena merasa bahwa belum tentu besok hari akan mendapatkan kesempatan yang sama. Orang yang miskin jiwa seperti itu terus tumbuh. Orang-orang yang licik, koruptor, yang mengambil harta orang lain tanpa hak, sebetulnya mereka adalah orang-orang miskin. Walaupun jabatannya tinggi, kedudukan dan hartanya berlimpah, tetapi jiwanya tetap miskin. Dia akan terus mengambil apa saja yang ada di hadapannya, meski itu bukan miliknya. Saat pembagian beras untuk orang miskin (Raskin), mereka menjadi orang pertama yang mengambil beras itu. Sebelum sampai kepada yang berhak sudah dimakan lebih dulu oleh oknum-oknum yang miskin jiwa tersebut. Atau kalau tidak, beras itu mereka timbun untuk kemudian dijual.

Orang yang miskin jiwa, bila naik jabatan akan sibuk mencari rampasan. Akibatnya, kewajibannya menjadi terbengkalai. Miskin jiwa, meski kaya harta; dia akan merusak. Oleh karena itu, jangan mencari pasangan yang kaya secara lahiriah. Carilah manusia yang kaya batin dengan penuh kemuliaan. Kekayaan lahir itu hanyalah topeng. Orang yang hanya mempertontonkan topeng adalah kekanak-kanakan. Harta yang didapat dengan tidak halal tidak akan membuat bahagia. Bahkan akan jadi racun untuk keluarga. Yang akan membelenggu kehidupannya. Memenjarakan dirinya sendiri.

Perasaan kawatir itu lebih banyak timbul karena refleksi akal yang menyesatkan. Akal selalu salah menyikapi masadepan dan cenderung membuat pikiran kita terbelenggu. Pikiran kita ada dalam perhitungan untung rugi semu. Perhitungan akal inilah yang mendikte hati dan perasaan kita menjadi merasa selalu terpenjara. Padahal masa depan bukanlah milik kita. Kita hanya memiliki masa lalu dan masa kini. “Maka nikmat apa saja yang ada pada kalian, maka itu semua dari Allah (S. 2: 165)” Setiap yang bersumber dari Allah tentu Allah akan menyediakan pertolongannya bagi kita. Setiap yang bersumber dari Allah tidak akan membuat kita teraniaya. Karenanya bersihkanlah hati dan jernihkan akal tanpa topeng yang menyesatkan. Apabila kita berjalan kearah yang benar maka kita akan sampai pada tujuan yang sebenarnya. Bila kita mengejar dunia maka kita akan kehilangan akhirat. Bila kita mengejar akhirat maka kita akan mendapatkan kedua duanya.

Jadi perkuatlah pegangan bandul kehidupan anda dengan banyak berbuat tanpa rasa kawatir apakah bandul itu akan kekanan atau kekiri. Caranya lepaskan belenggu dari perasaan ingin dihormati , ingin diperhatikan , ingin menguasai , ingin aman. Selanjutnya melangkahlah dengan bebas bagai burung camar. Ikhlas berbuat karena Allah ,melintasi hari hari dengan banyak “memberi.” Semakin banyak anda “memberi” maka semakin jauh belenggu ‘keinginan” dari kehidupan. “Memberi “ adalah kata kerja yang didasarkan oleh cinta dan Kasih Sayang bagi sesama dan karenanya itulah kebebasan yang hakiki bagi jiwa dan pikiran kita.

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...