Posts

Showing posts from May, 2016

Cinta ibu..

Image
Seorang ibu yang ketika anaknya lahir, tak di lihat apakah itu laki laki atau perempuan. Si Ibu akan segera mendekap bayinya dengan cinta. Wajahnya berhias senyum kebahagiaan tak terbilang. Sakit mendera selama proses melahirkan terasa hilang begitu saja. Kali pertama manusia mendapatkan dekapan cinta adalah dari seorang Ibu. Kali pertama manusia mendapatkan rezeki di dunia adalah dari ibu lewat ASI. Malaikat tersenyum ketika melihat anak dalam dekapan ibunya, seakan berkata bahwa " Kamu akan baik baik saja karena kamu mendapatkan malaikat terbaik yang di sediakan Tuhan untuk merawatmu dalam kelemahanmu. Ia akan selalu mengkawatirkanmu sepanjang waktu , mendoakanmu sepanjang usia. Dia adalah Ibumu. ".  Benarlah ketika anak di ketahui mempunya kekurangan di bandingkan anak lainnya maka ibu tampil menjadi melaikat terbaik bagi si anak. Tidak meratapi kekurangan apalagi mengeluh atas kekurangan anak tapi tampil meyakinkan si anak bahwa ibu akan selalu ada untuk mu nak.

HIdup bermakna..

Image
Minggu lalu saya datang ke Medan. Saya bertemu dengan bekas mentor bisnis saya.  Sudah lama tidak bertemu. Terakhir saya bersama dengan dia tahun 1996. Kami berpisah karena dia memutuskan untuk mundur sebagai businessman.  Usahanya di serahkan kepada professional dan dia hanya berindak sebagai presiden komisaris. Belakangan putranya berhasil menempati posisi sebagai Presiden direktur. Posisi yang di capai oleh putranya itu tidak dengan mudah.  Karena harus melalui proses berkompetisi dengan professional lainnya. Dia mendidik putranya tidak dibawah  bayang bayang dirinya tapi memang memberikan kebebasan putranya untuk berkembang. Harta tidak membuat keluarganya mabuk tapi menyadarkan keluarganya bahwa harta itu adalah berkah yang harus mereka syukuri dengan menjaganya agar menjadi sarana berbagi untuk ribuan karyawan dan mitra. Saya tidak akan membahas tentang putranya tapi saya ingin membahas tentang dia. Setelah pension sebagai businessman , dia kembali ke daerah dimana dia per

Cinta Aman...

Image
Tidak ada yang istimewa bila aku bercerita tentang suamiku. Dia seperti suami kebanyakan. Menurut yang kurasa selama  pergaulan dengannya bahwa dia adalah suami yang bertanggung jawab, mencintai keluarga, walau kadang terkesan tidak setia.  Soal tanggung jawab maka secara materi aku bisa katakan dia termasuk suami yang segelintir. Maklum saja sebagai pengusaha dia bisa memberikan apa saja kebutuhanku. Pakaian bagus, rumah bagus , liburan keluar negeri, kendaran, perhiasan, dan ATM yang selalu penuh. Namun dalam bentuk lain, suamiku sama dengan suami suami lainnya. Tak ada yang terlalu istimewa kecuali memang dia pekerja keras dan mencintai bisnisnya selain aku dan anak anaknya.  Kadang dengan segala kesibukannya , aku sempat mempertanyakan kesetiaannya namun dia menjawab  “Bahwa sebenarnya kesetiaan itu bukan diukur apakah seseorang berkhianat atau tidak, melainkan apakah ia kembali lagi atau tidak.” Kata-kata itu mungkin menghibur bagi wanita lain tapi tidak bagiku. Ini seperti

JIhad...?

Image
Sebuah ruang sekitar 4 X 6 meter, yang seperti kamar yang kehilangan peminat. Warna-warnanya hambar. Cahaya pudar. Sawang tebal. Debu. Orang tak akan tahu dengan segera bahwa di sinilah nisan Sultan Saladin, pahlawan Islam dalam Perang Salib. Dari ruang makamnya yang kusam, mitos apa yang akan kita teruskan? Saladin adalah juga cerita tentang seorang yang pemberani dalam pertempuran, yang sebenarnya tak ingin menumpahkan darah.  Tahun 1187 Saladin masuk Jarusalem dengan kemenangan. Dengan wajah sedih dia menatap altar gereja yang porak poranda. Saladin memperbaiki patung salip yang terjatuh di lantai untuk ditempatkan kembali di tempatnya. Inilah perang. Tidak seharusnya terjadi. Sebelum masuk gerbang kota jarusalem, Saladin berpesan kepada panglima perangnya agar jangan ada satupun tawanan dan penduduk yang dibunuh. Izinkan bagi penduduk yang ingin pergi meninggalkan jarusalem.Jangan jarah harta mereka. Lindungi mereka seperti kalian melindungi diri kalian sendiri. Kita tidak berpe

Membaca

Image
Di Gua Hira, tiga mil jauhnya dari Mekah untuk berkontemplasi dan berefleksi diri, dalam kesunyian dan kesendirian, beliau bertafakur. Pemuda sholeh yang dikenal Al Amin itu merenung tentang mengapa ada kesenjangan sosial, ketidak adilan, diskriminasi, perang antar suku, dan penyalahgunaan kekuasaan. Saat dalam tafakur itu beliau bertemu dengan Jibril dengan perasaan takut. Ia adalah Muhammad SAW. Ketika itu beliau genap berusia 40 tahun. Itu terjadi pada Senin, 17 Ramadhan tahun ke-41 sejak kelahiran beliau, bertepatan dengan 6 Agustus 610 Masehi.  Jibril berkata “bacalah”, namun ternyata Rasulullah menjawab bahwa Ia tidak tahu caranya membaca. Karena itulah Jibril memeluknya erat sebanyak dua kali dan setelahnya, menyuruh ia membaca ayat yang kemudian menjadi wahyu pertama . Sebuah potongan dari surah Al-Alaq ayat 1-5 yang memiliki arti seperti berikut ini: “Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Membuat manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan tuhanmu ialah yang pali

Keadilan..

Image
12-13  Mey 1998 . Jakarta guncang, tegang, dan suasana menakutkan. Entah dari mana datangnya gerombolan orang membakar gedung dan mall. Api dengan asap hitam membumbung di empat wilayah jakarta. Merusak apa saja yang di miliki etnis china. Nampaknya ini aksi balas dendam, kata sebagian orang. Penyababnya kecemburuan sosial terhadap etnis china. Soeharto sebagai creator dan Golkar  sebagai designer poltik ketidak adilan tetap aman aman aja tanpa seujung rambut di ganggu rumahnya. Gerakan kaum berjuis berperut buncit. Revolusi? Mungkin itulah yang dibayangkan para pelakunya. Entah siapa itu. Tapi, bagi saya, hari itu yang terjadi sebuah aksi tanpa ide. Kreatornya kerusuhan di bulan mey itu nampaknya paham betul metodelogi komunis mencapai tujuan.Ganyang ! Tapi tahukah dia ? memang revolusi Lenin berangkat dari kesenjangan ekonomi dan sosial . Dari situ disusun program menyeluruh. Tujuannya rebut kekuasaan, perubahan di ciptakan. Revolusi Oktober 1917 di Rusia jadi teladan. Tapi sang

Menjadi laki laki

Image
Setiap pagi pedagang bubur ayam melintasi depan rumah saya. Nampak wajah tua yang tak kenal lelah. Walau kadang saya tak sanggup melihatnya setengah terbungkuk dan tertatih tatih mendorong kereta dagangannya. Selalu istri saya sempatkan membeli dagangannya. Dari istri saya tahu bahwa pedagang itu berusia diatas 70 tahun. Ada yang membuat haru tentang Pak tua ini. Dia punya satu orang anak perempuan. Setelah istrinya meninggal dia menumpang tinggal dirumah anak perempuannya yang telah berumah tangga. Namun awalnya menantunya menolakdengan alasan keadaan ekonomi mereka memang tidak bagus. Anaknya berusaha meyakinkan kepada suaminya agar menerima ayahnya tinggal bersama. Akhirnya suaminya setuju dengan syarat ayahnya tidak boleh makan dirumah. " Anak saya tidak bekerja. Diapun menumpang sama suaminya. Saya bersyukur masih diberi tempat tinggal" kata Pak tua itu dengan suara lirih. " Dagangan ini bapak yang buat sendiri ? " Bukan. Anak saya yang buat. Say