Monday, March 31, 2014

PDIP dan Jokowi...

Dimanapun , bahkan di Amerika, di Eropa, kampanye menjelang PEMILU sangat menentukan menang kalah. Sukses partai tergantung dengan strategy pemenangan pemilu, yang didalamnya ada taktik kampanye. Bersyukurlah Partai seperti Golkar yang salah satu anggota DPP nya adalah Rizal Mallarangeng yang dikenal sebagai orang yang ahli  dibidang kampanye politik dan punya track record mengantarkan SBY menjadi presiden dua periode. Disamping itu sang Ketum mempunyai Media massa sendiri yaitu Tvone sehingga tidak sulit untuk melancarkan program kampanye baik langsung maupun tidak langsung.Begitupula dengan Hanura yang didukung oleh Haritanoe yang menguasai berbagai media TV dibawah bendera MNC group. Juga tak beda dengan Nasdem yang dikomandani oleh Surya Paloh sang pemilik Metro TV. PD lebih mengandalkan kepada pamor seorang SBY dengan dukungan dari infrastruktur kekuasaan sebagai incumbent. Sementara bagi partai lain seperti yang tidak punya media massa harus putar otak untuk bisa bersaing , seperti PKB yang memanfaatkan Rhoma Irama sebagai juru kampanye dan sekaligus capres. PPP dan PBB , PAN lebih mengandalkan kekuatan patron agama untuk meraih suara. PKS dan PDIP mengandalkan kepada kekuatan kader diakar rumput untuk meraih suara terbanyak. Maklum kedua partai ini adalah partai kader dan partai idiologi. Audience mereka adalah juga kader partai mereka sendiri. Tentu pendekatannya kepada calon pemilih berbeda dengan partai lainnya.

Tapi yang menarik dalam Pemilu kali ini adalah tidak nampak perseteruan keras dipermukaan antar partai kecuali semua satu suara bagaimana menjatuhkan pamor Jokowi sebagai Capres. Padahal Jokowi belum resmi sebagai Capres karena memang belum masuk phase Pemilu Presiden. Saat sekarang Jokowi hanya dideklarasikan oleh PDIP sebagai Capres dan penentuannya tergantung dari hasil Pileg  bulan April nanti. Apabila PDIP punya suara diatas ambang batas untuk mencalonkan Presiden maka Jokowi akan resmi sebagai Capres tapi kalau tidak maka akan ada koalisi dengan partai lain dan belum tentu Jokowi akan ditempatkan sebagai Capres. Mungkin karena hasil survey sebelumnya menempatkan Jokowi sebagai candidate presiden tertinggi elektabilitasnya dibandingkan kandidat lainnya maka segala cara dipakai untuk menjatuhkan citra jokowi termasuk juga menjatuhkan citra PDIP. Informasi yang beredar selama ini tentang PDIP adalah 1.Melegalkan outsorucing sebagaimana UU No. 13 tahun 2003. 2.Menggelar operasi militer di Aceh karena Aceh  menuntut ditegakkannya UU syariah. 3.Merilis UU terorisme. 4. Membebaskan obligator BLBI. 5.Mengobral Asset dan BUMN termasuk penjualan tanker pertamina.  Sehubungan dengan Jokowi semua sepakatat mengatakan bahwa Jokowi adalah Capres boneka dari Megawati, Jokowi pembohong karena inkar janji dalam Kampanye Cagub bahwa dia akan bertahan sampai usai masa jabatannya sebagai Gubernur.

Saya tersenyum membaca informasi tersebut. Mungkin orang awam mudah dipengaruhi akan informasi itu tapi bagi orang agak terdidik baik sangat mudah mengetahui berita itu bohong dan sengaja dihembuskan untuk tujuan politik yang tidak mendidik. Ketahuilah bahwa : 1. Outsourcing itu berkaitan dengan Revisi UU No.13/2003 atas adanya Inpres No. 3 Tahun 2006 tentang paket Kebijakan Iklim Investasi. Jadi rezim SBY yang mengadakan system outsourcing, bukan PDIP. 2). Dizaman Megawati UU No 18 tahun 2001 tentang Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan syariat Islam untuk Ace disyahkan, termasuk UU RKK.  Operasi Militer dilakukan bersifat terbatas atas usulan ketua MPR Amin Rais. 3.UU Mengenai Terorisme adalah kelanjutan dari Amandemen UUD 45 yang dirancang oleh DPR/MPR yang ketika itu dikuasai oleh Poros Tengah dan Golkar. 4. Pembebasan Obigator BLBI berkaitan dengan MSA ( master settlement Agreement) dan bagian dari skema penyelesaikan krisis 1998 atas tekanan dari DPR yang dikuasai oleh Poros Tengah dan Golkar. 5. Penjualan BUMN/Asset mengacu kepada UU APBN dimana tidak boleh ada tambahan hutang baru dan karenanya dimungkinkan menjual BUMN yang tingkat PSO nya dibawah 50% dan mengurangi subsidi. Tapi lawannya menjadikan issue pengurangan subsidi dan penjualan asset sebagai cara menjatuhkan citra PDIP sebagai  Partai wong cilik dan nasionalisme. Megawati dan PDIP sadar akan hal itu namun sebagai negarawan dia harus mengambil resiko untuk kepentingan jangka panjang. Terbukti setelah dia , SBY bisa bekerja dengan tenang untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan atas dasar UU RKK, rekonsialiasi Aceh dapat dilaksanakan.

Bagaimana dengan hujatan terhadap Jokowi bahwa dia ingkar janji dengan rakyat Jakarta? Sehingga terkesan kutu loncat dan haus kekuasaan. Untuk dimaklumi bahwa masalah jakarta berbeda dengan daerah lainnya.Jakarta ini sebagian besar kebijakan pembangunannya ada pada Pemerintah Pusat. Sebisanya Jokowi berusaha untuk melobi Pemerintah Pusat untuk memperbaiki hubungan birokrasi antara Pemrov dan Pusat agar Jakarta lebih efektif dan efisien dikelola sesuai program Jakarta baru,  tapi ternyata tidak mudah. Apalagi kekuatan PDIP di DPRD DKI tidak significant, belum lagi egoisme sektoral di Kabinet yang diwarnai oleh kepentingan politik partai dibalik Menteri maka semakin menyulitkan untuk adanya perubahan system. Seorang teman pernah bertanya kepada Jokowi prihal niatnya menjadi Presiden dalam kaitannya dengan janjinya dalam kampanye Pilkada. Menurutnya yang harus diketahui bahwa menepati janji satu hal namun memenuhi janji lain hal. Jokowi bisa saja menepati janji 5 tahun sebagai Gubernur tapi dia pasti tidak bisa memenuhi janjinya sesuai program Jakarta baru karena dijegal oleh hubungan birokrasi dengan Pemerintah Pusat.  Salah satu tekadnya menjadi President adalah dalam rangka memenuhi janjinya untuk menjadikan program Jakarta Baru berhasil sehingga Jakarta bisa menjadi icon bagaimana negara  dikelola dengan cara modern dan manusiawi.

PDIP itu awalnya merupakan fusi tiga partai yaitu Parkindo, Murba dan PNI. Tahun 2004, Parkindo pindah ke Partai Demokrat dan sangat berperan menggembosi suara PDIP dari kalangan umat kristiani. Kekuatan Murba di PDIP sangat sedikit bahkan konon katanya tahun 1996 semua sudah dihabisi oleh Laksus Kodam V Jaya sebagai kelanjutan dari peristiwa 27 Juli. Saya bukan kader PDIP dan juga bukan pemilih PDIP. Saya tetap menjadikan PKS sebagai pilihan saya. Mengapa saya memilih PKS itu tidak perlu dijelaskan. Namun bagaimanapun saya tidak mau kehilangan prinsip untuk mengatakan yang benar itu benar, dan yang salah itu salah.  Karena bagaimanapun di PDIP itu sebagian besar elite nya beragama Islam dan sesama muslim kita bersaudara dan wajib bagi kita untuk membelanya.Yang kini tersisa di PDIP adalah PNI atau Marhaen dengan idiologi pembela rakyat tertindas. Qur’an jelas menerangkan bahwa Allah tidak main-main dalam membela kaum Mustad’afin, karena sebutan pendusta Agama dalam surat Al Ma’un merupakan pernyataan yang keras, bahkan ditambah celakalah orang yang Sholat dan enggan memberikan bantuan orang miskin. Ingat bahwa di Surat Al Ma’un tersebut tidak sebatas pada pelaku individu tetapi juga pada tingkatan negara, karena kebijakan pemerintah yang pada akhirnya lalai terhadap kaum minoritas dan juga masyarakat miskin juga tidak jauh berbeda dengan seorang pendusta agama. Pada akhirnya seseorang yang juga hanya berdiam diri terhadap kebijakan yang tidak pro terhadap rakyat miskin dan cenderung membiarkan adalah termasuk juga sebagai pendusta agama.

Sunday, March 23, 2014

Siapakah Jokowi?

Dulu tahun 80an saya terlibat dalam kelompok diskusi politik. Ini tidak dilakukan di kampus tapi dilakukan diperpustakaan Idayu jalan Kwini, Kwitang, Jakarta Pusat. Diskusi itu diadakan di pojok gedung Stovia secara sembunyi sembunyi tanpa sepengetahuan dari Pengurus Perpustakaan. Mengapa harus sembunyi sembunyi? Karena yang kami diskusikan itu berkaitan dengan paham marhaen dan ini terlarang oleh rezim Soeharto. Pada setiap acara kelompok diskusi , kami mendapatkan pencerahan dari mentor kami tentang Marhaen yang berjuang untuk kaum tertindas. Kami juga diajarkan berdebat secara santun oleh mentor kami. Ditanamkan makna mandiri itu apa. Prinsip mereka bahwa kita tidak bisa membuat rakyat mandiri bila kita sendiri tidak mandiri. Umummya teman teman aktif dalam kelompok diskusi adalah mahasiswa dari berbagai universitas yang berasal dari keluarga miskin. Mereka umunya cerdas. Hampir semua kami fasih berhasa inggeris karena dalam berbagai diskusi kami kadang menggunakan bahasa inggeris. Saya ikut dalam kelompok diskusi bukanlah karena saya pengikut Marhaen atau pencinta ajaran Soekarno. Keikutan saya lebih karena dorongan rasa ingin tahu sebagai anak muda. Hampir dua tahun saya terlibat aktif dalam kelompok diskusi. Hampir semua buku tentang Marxisme telah saya baca. Semua tulisan Soekarno dan Tan Malaka juga saya baca. Akhirnya saya putuskan keluar dari kelompok diskusi dengan membawa kenangan tersendiri tentang teman teman yang sangat bersemangat memperjuangkan Marhaen.

Untuk diketahui bahwa Marhaenisme adalah ajaran Soekarno tentang  Sosio Nasionalisme dan Sosio Demokrasi. Nama Marhaen sendiri diambil dari nama seorang buruh tani miskin di Jawa Barat. Bagaimanapun munculnya marhaenisme ini karena Soekarno terinspirasi dari buku Karl Marx namun tidak sepenuhnya Soekarno setuju dengan teori Karl Marx. Bagi Soekarno yang diperjuangkan bukan hanya kaum proletar atau buruh tapi siapa saja yang tertindas dan miskin ( kaum dhu’afaa). Makanya cakupan  Marhaen lebih luas dibandingkan dengan komunisme. Walau Marhaen, Komunis dan Islam berbeda barisan namun tetap seiring sejalan, sama sama anti kapitalisme, impelialisme, neoliberalisme, neokolonialime. Makanya tidak sulit bagi Soekarno untuk mempersatukan Komunisme dan PNI ( partainya kaum Marhaen) dan islam dalam satu barisan yang dikenal dengan istilah Nasakom. Cara cara berjuang Marhaen untuk mencapai tujuan politiknya indentik dengan yang dilakukan oleh Komunisme yaitu melalui revolusi. Jadi menurut saya  Soekarno tidak menggunakan Mark sebagai dogma tapi menjadikan komunisme Marx sebagai metode mencapai tujuannya. Yang membuat saya keluar dari kelompok diskusi dengan teman teman Marhaen adalah  rasa benci mereka kepada kaum kapitalisme itu sangat luar biasa. Kehebatan para mentor mencuci otak anak anak muda untuk menjadi militan membela cita cita marhaenisme, memang sangat luar biasa.  Berkat didikan agama dan pemahaman Tauhid dari kedua orang tua ,saya bisa menilai bahwa ada satu kekurangan dari marhaenisme yaitu bahwa mereka menanamkan kebencian kepada kaum kapitalis.Itu saya tidak suka.

Partai kaum Marhaen adalah PNI atau Nasionalis. PDIP bukanlah partai kaum Marhaen namun saya tahu PDI digunakan oleh kaum Marhaen ketika Megawati memimpin PDI tahun 1993 untuk melawan rezim status quo Soeharto bersama Golkar. Namun  tahun 1996 tanggal  27 juli terjadi penyerbuan kantor PDI di Jl Diponegoro 58 yang dilakukan oleh massa tidak dikenal. Banyak aktifis Marhaen yang militan mati dalam  penyerbuan itu. Setelah itu terjadi operasi penangkapan oleh intelligent kepada aktifis marhaen. Ada juga  yang diculik oleh Kopassus. Belakangan saya tahu beberapa teman diskusi saya dulu termasuk yang ditangkap dan diculik. Sejak itu kaum pergerakan Marhaen menghilang. Mereka bahkan tidak ikut dalam pergolakan 1998 menjatuhkan rezim Soeharto untuk melahirkan rezim reformasi. Namun setelah reformasi angin kebebasan memungkinkan mereka mendirikan partai. Berdirilah PNI Marhaen namun kalah dalam Pemilu. Ini dikarenakan sebagian besar kekuatan akar rumput Marhaen lebih "nyaman" bersama Megawati ( PDIP) daripada mendukung partainya sendiri. Teman saya yang juga aktifis PDIP mengatakan kepada saya bahwa bagaimanapun PDIP bukalah rumah kaum Marhaen. Mereka ibarat  orang indekos di PDIP. Itu sebabnya tidak banyak orang marhaen yang duduk di DPP PDIP dan karenanya mereka tidak masuk kelompok yang berpengaruh di PDIP. Tapi walaupun mereka bukan elite PDIP namun mereka diterima rakyat untuk memimpin daerah seperti Jokowidodo dan Tri Rismaharini dll. Merekalah anak muda marhaen militan tahun 80an yang kini bisa membuktikan apa itu marhaenisme lewat kepemimpinan mereka yang merakyat

Ketika Jokowi resmi menjadi Capres dari PDIP maka sejak itu pula serangan dari lawan politiknya tiada henti. Jokowi dituduh President Boneka, Jokowi syiah, Jokowi antek Yahudi dan Konglomerat Hitam dan masih banyak lagi. Teman saya mengkawatirkan Jokowi akan tersingkir dan jatuh dengan tekanan yang begitu besar. Saya hanya tersenyum.  Orang lupa bahwa Jokowi itu adalah kader Marhaen, bukan kader PDIP yang pragmatis. Dia tumbuh dari suasana sulit selama 32 tahun dibawah ancaman Soeharto. Dia terbiasa menghadapi ancaman dalam bentuk apapun dan memang dia dilatih untuk siap berkorban kapanpun demi cita cita marhaen. Dengan majunya Jokowi sebagai capres maka hidden group dari kaum Marhaen akan bergerak efektif dan sistematis di akar rumput. Yakinlah bukannya Megawati yang akan mengendalikan Jokowi tapi Jokowi yang akan mengendalikan Megawati dan bila Jokowi terpilih sebagai presiden dan  PDIP unggul di PEMILU maka hanya masalah waktu akan ada restruktur PDIP untuk menempatkan kader Marhaen dalam jajaran elite PDIP. Ketika itu terjadi maka orientasi kekuasaan adalah membela kaum tertindas yang sejak Indonesia merdeka diabaikan. Ditangan kaum marhaen,  membela wong cilik bukan retorika tapi ruh perjuangan. Kalau mereka dekat kepada rakyat miskin, petarung hebat membela hak kaum miskin, rendah hati,  bukanlah pencitraan tapi  dokrin marhaen memang begitu...

Andaikan Jokowi terpilih sebagai Presiden dan menempatkan PDIP sebagai pemenang PEMILU maka benarlah kata pengamat politik bahwa kemenangan itu karena keterlibatan Tuhan didalamnya. Ada invisible hand dari Yang Maha Pengatur. Mengapa ? Allah akan mengangkat kaum dhu’afa sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT dalam surat Al-Qoshash ayat 6, “Dan kami (Allah) akan menolong kaum dhu’afaa di muka bumi dan menjadikan mereka pemimpin dan orang-orang yang akan mewarisi (bumi).” Nabi pun bersabda, “Sesungguhnya kemenanganmu adalah bersama-sama dengan kaum dhu’afaa.”...Wallahualam.

Wednesday, March 19, 2014

Kekuatan Cinta...

Sejak tahun 1949 hingga tahun 1980an, Taiwan dikendalikan oleh pemerintahan yang diktator di bawah satu partai, yakni Partai Nasionalis China atau Partai Nasionalis Kuomintang (KMT) sebagai partai berkuasa. Partai ini dipimpin oleh Chiang Kai-shek hingga meninggal 1975. Ia diganti oleh putranya, Chiang Ching-kuo. Namun disisi lain ada gerakan kaum muda terpelajar untuk menolong rakyat tertindas dari kekuasaan otoriter Partai.  Gerakan ini tidak mendapat resitensi dari Penguasa karena mereka mengkampanyekan program cinta sesuai ajaran Budha. Ya namanya program cinta tentu tidak ada menyalahkan orang lain apalagi menghujat pemerintah. Terkesan mereka mendukung partai penguasa. Mereka mengajarkan rakyat untuk memaafkan penguasa. Mereka mendidik rakyat kecil untuk sekecil mungkin berharap dan tergantung dengan pemerintah.  Caranya , mereka meng advokasi rakyat membuat Garakan Koperasi agar diizinkan pemerintah . Lambat namun pasti gerakan Koperasi tumbuh pesat dan rakyat kecil yang sebagian besar petani dan nelayan mendapatkan kemakmuran dari gerakan ini.

Tahun 1984 Chiang menunjuk Lee Teng-hui sebagai wakil presiden, yang pada akhirnya menjadi pengganti Chiang Ching-kuo sebagai presiden pada 1988. Terbukanya katup kebebasan berpolitik memberi ruang bagi munculnya kekuatan progresif.Pada  1986 gerakan kaum muda dengan program cinta itu mendirikan  Democratic Progressive Party (DPP) dan menjadi partai oposisi pertama di Taiwan yang berhadapan dengan partai berkuasa Kuomintang. Tapi dengan UU Taiwan hampir tidak mungkin  memberikan kesempatan Partai lain bisa ikut Pemilu. Kalaupun ikut Pemilu pasti kalah. Karena aturan mainnya harus memenangkan Partai Penguasa. Bagi kaum muda , diberi legitimasi mendirikan Partai sudah berkah luar biasa. Mereka tidak ingin ribut menuntut hak sama dengan partai penguasa. Sementera itu mereka terus bergerak dengan program cinta membina Rakyat untuk menjadi gerakan Koperasi berkelas dunia.Mungkin Taiwan adalah gerakan  Koperasi yang paling berhasil dan paling kuat didunia. Tahun 1990an Taiwan telah menjelma menjadi Negara Industry yang besar bukan karena konglomerasi tapi UKM yang tangguh melalui gerakan koperasi.

Tahun 2000, ketika Pemilu digelar. Seluruh rakyat Taiwan memilih melakukan liburan massal keluar kota atau keluar negeri. Mereka tidak mengatakan mereka GOLPUT.Tidak.Mereka hanya inginkan waktu libur yang diberikan pemerintah untuk pemilu lebih baik mereka gunakan untuk liburan bersama keluarga. Mereka tetap menyatakan setia kepada partai penguasa walau mereka tidak memilih. Ketika itu Mahkamah Agung PBB di Denhag menegaskan bahwa apabila pemilih tidak lebih 10% maka  Pemilu Taiwan tidak  legitimate. Akibatnya karena budaya malu China yang begitu tinggi akhirnya Partai Kuomintang ( KMT) merubah UU Pemilu yang adil. Sehingga memungkinkan Democratic Progressive Party (DPP) bisa ikut pemilu untuk bertarung secara fair. Dengan itu rakyat menyatakan akan berpartisipasi dalam pemilu.  DPP memenangi Pemilu untuk pertama kali pada 18 Maret 2000, dengan calonnya Chen Shui-bian. Kemenangan ini mencerminkan satu momen berakhirnya dominasi kekuasaan satu partai (KMT) selama 50 tahun. Ini juga bukti kuat keinginan rakyat atas satu perubahan sistem politik yang tidak lagi otoriter di bawah  satu partai saja. Kepercayaan rakyat kepada DPP bukanlah kepercayaan mereka kepada lambang Partai dengan sejuta jargon tapi karena orang orang DPP memang akrab lahir batin dengan rakyat.Mereka selalu hadir ditengah rakyat sebagai mentor untuk kemandirian disegala bidang. Gaya hidup mereka sederhana dan selalu menyebut diri mereka pelayan Tuhan.

Kemenangan ini bukanlah kemenangan mudah. Kemenangan ini didapat sesuai ajaran budha, menang tanpa peperangan. Menghadapi kezoliman dengan cinta.  Karena kekuatan sejati di dunia ini adalah Cinta. Karena Cinta adalah bahasa Tuhan dan produk surga. Yang meragukan kekuatan cinta untuk menang adalah orang yang ragu akan Tuhan. Tapi setelah DPP berkuasa di Taiwan, selama 10 tahun DPP gagal melaksanakan janjinya. Justru para elite partai tergoda dengan kemewahan hidup sebagai penguasa dan melupakan jasa para kadernya yang berjuang militan diakar rumput.Sementara Partai KMT berhasil melakukan konsolidasi dan perbaikan system organisasi Partai secara meyeluruh agar lebih dekat kepada rakyat. Tahun 2008 , KTM berhasil menang dalam PEMILU dengan perolehan suara mayoritas atau  70%. Sampai kini KMT berkuasa dan tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalunya. Program rekrutmenl kader lebih mengutamakan moral dan aklhak dan para kader harus digaris depan membrantas Korupsi dan keteladanan tidak Korup. Ya, disaat semua rakyat telah makmur dan mereka cerdas maka kebohongan politisi tidak laku lagi untuk dijual mendapatkan kekuasaan.

Semoga ini menjadi pelajaran bagi siapa saja bahwa merebut kekuasaan memang tidak mudah namun mempertahankan kekuasaan jauh lebih tidak mudah. Karena cobaanya tidak datang dari lawan tapi dari diri kita sendiri, nafsu kita. Ingar pesan Rasul kepada sahabatnya ketika usai perang Badar , bahwa musuh sebenarnya adalah nafsu kita dan perang melawan nafsu adalah perang akbar sepanjang masa....

Tuesday, March 11, 2014

Perdamaian dan kasih sayang..

Saya punya sahabat di Tiongkok. Menurut saya dia penganut agama Budha yang baik. Saya tanyakan apakah dia mengenal Islam? Dengan tegas dia menjawab bahwa dia mengenal Islam dan mempercayai ajaran yang dibawa oleh Muhammad itu berasal dari Tuhan. Ada juga teman beragama Nasrani. Dia juga pribadi yang baik. Dirumahnya dia menampung beberapa anak yatim piatu yang dia pungut dari jalanan. Saya juga tanyakan apakah dia mengakui keberadaan Muhammad sebagai utusan Allah.Dengan tegas dia mengakui keberadaan Agama  Islam yang berasal dari Allah. Teman saya orang  Yahudi , yang saya kenal sebagai pribadi yang baik, dengan tegas mengakui Islam sebagai Agama yang bersumber dari Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah.Semua mereka percaya kepada Tuhan dan hari akhirat. Tapi mengapa mereka tidak memeluk agama islam? Alasannya mereka merasa nyaman dengan keberadaan agama yang sekarang mereka anut. Mereka memegang ajaran agamanya untuk berbuat karna cinta dan kasih sayang. Dengan rendah hati mereka mengakui bisa saja suatu saat mereka akan memeluk agama islam kalau hidayah Tuhan sampai.Memang ada juga banyak orang  beragama Budha,kristen, Yahudi yang dengan tegas tidak mengakui  islam sebagai agama. Bahkan mereka menuduh islam itu agama rekayasa Muhammad. Begitu juga banyak orang Islam tidak mengakui keberadaan agama seperti Budha, Kristen dan Yahudi. Bagi mereka pemeluk agama non muslim akan masuk neraka karena tidak diridhoi Allah hidupnya.  Walau pemeluk agama non muslim hidup mereka makmur namun mereka tidak dirahmati Allah. Demikian pendapat yang sering kita dengar. Sikap inilah yang membuat dunia renta dari perdamaian.

Allah telah dengan tegas berfirman dalam  surat Albaqoroh ayat 62,yang artinya “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”. Teman saya yang tidak bergama  Islam namun mengakui keberadaan Islam dengan Nabi Muhammad sebagai utusan Allah termasuk orang yang beriman kepada Allah,hari kemudian. Selagi dia melaksanakan amal shaleh maka mereka akan menerima pahala dari Tuhan. Tapi bagi mereka yang tidak beragama Islam namun tidak mengakui keberadaan Nabi Muhammad dan Islam maka dia bukan orang yang termasuk beriman kepada Allah. Bukan orang yang masuk golongan agama samawi seperti yang dimaksud dalam Surat Al Baqarah ayat 62 itu. Mengapa ? Sejatinya agama Yahudi dan Nasrani mempercayai Muhammad lebih dulu sebagai utusan Allah, bahkan sebelum Nabi diangkat sebagai Rasul mereka sudah mengetahui tanda tanda kerasulan Muhammad. Tersebutlah Bahira seorang pendeta atau Rahib yang telah uzur. Dia dikenal luas sebagai rujukan ilmu-ilmu samawi karena ketekunannya mendalami kitab Taurat dan Injil. Ia memilih hidup berdiam diri di sebuah biara di kota Syam. Pada usia Muhammad  12 tahun ,dia sudah melihat tanda tanda kenabian itu pada Muhammad. Itu sesuai informasi yang didapatnya dari kitab injil dan Taurat. Jadi tidak ada alasan bagi orang yahudi atau nasrani menolak berita kehadiran Nabi dan tidak mengakui  kenabian Muhammad. Kalau mereka mengingkari itu artinya mereka mengingkari kitab sucinya sendiri. Maka patut dipertanyakan agama apa yang sedang mereka imani itu. Umat islam wajib mengakui agama yang dibawa oleh Rasul Rasul  yang lain sebagai dasar rukun Iman ( Q.S. Al-Mukmin : 78).

Hamka dalam tafsir Al Azhar mengulas mengenai Firman Allah dalam  surat Albaqarah ayat 62 , bahwa “kesan pertama yang dibawa oleh ayat ini ialah perdamaian dan hidup berdampingan secara damai di antara pemeluk sekalian agama dalam dunia ini. Janganlah hanya semata-mata mengaku Islam, Yahudi atau Nasrani atau Shabi'in, pengakuan yang hanya di lidah dan karena keturunan. Lalu marah kepada orang kalau dituduh kafir, padahal Iman kepada Allah dan Hari Akhirat tidak dipupuk, dan amal shalih yang berfaedah tidak dikerjakan. Kalau pemeluk sekalian agama telah bertindak zahir dan batin di dalam kehidupan menurut syarat-syarat itu tidaklah akan ada silang sengketa di dunia ini tersebab agama. Tidak akan ada fanatik buta, sikap benci dan dendam kepada pemeluk agama yang lain". Ada teladan dari Rasul yang amat baik dalam pergaulan antar agama. Pernah beliau menyembelih binatang ternaknya, lalu disuruhnya lekas-lekas antarkan sebagian daging sembelihannya itu ke rumah tetangganya orang Yahudi. Ada lagi suatu saat datang utusan Najran Nasrani menghadap beliau ke Madinah, Rasul menerima mereka sambil berkata santun "Ya Ahlal Kitab " (Wahai orang-orang yang telah menerima Kitab-kitab Suci).Juga diceritakan Rasul menyuapi makan pengemis buta Yahudi di pasar madinah,sementara pengemis itu selalu menghujat Rasul. Namun tidak menghalangi Rasul untuk beramal-shalih terhadap mereka.

Nabi Ibrahim mengundang lelaki tua makan kerumahnya. Di tengah perjalanan,  Ibrahim as bertanya kepada lelaki tua itu mengenai agama yang dianutnya dan si lelaki tua itupun menjawab bahwa ia seorang yang tidak beragama (atheist). Mendengar hal ini Ibrahim as pun menjadi marah dan membatalkan undangan makannya kepada si lelaki tua. Namun tak lama setelah itu beliau mendengar suara dari atas, ”Wahai Ibrahim, Kami bersabar atasnya selama tujuh puluh tahun meskipun ia tidak beriman (kepada Kami), namun engkau tidak dapat bersabar atasnya meskipun hanya tujuh menit saja?”. Mendengar hal ini Ibrahim as pun sadar, lalu beliau pun segera menyusul lelaki tua itu untuk kembali ke rumahnya untuk makan malam bersamanya. Dalam kehidupan kita sekarang, kadang bila ada orang beragama lain yang begitu baik amalannya kita curigai dengan kefanatikan kita. Yang kadang-kadang saking fanatiknya, maka imannya bertukar dengan cemburu: "Orang yang tidak seagama , yang tidak semahzab ,yang tidak seide dengan kita adalah musuh kita. "Dan ada lagi yang bersikap agresif., menyerang, menghina, dan menyiarkan propaganda bahwa agama /golongan yang lain itu kafir, sesat, bid'ah.Ternyata kita terlalu hebat belajar mengurai dalil dibalik hadith Rasul dan Firman Allah namun kadang kita sangat lupa tentang pribadi Rasul yang lebih mengutamakan perdamaian dan Allah yang maha pengasih lagi penyayang.
Wallahu A'lam Bishawab

Saturday, March 08, 2014

Akhlak, Islam satu...

Didepan saya, terjadi perdebatan sengit antar teman. Awalnya mereka berbicara masalah ringan dan santai namun akhirnya bertengkar. Saya pening  mendengar mereka berdebat dengan dalilnya masing masing dan auranya sudah menampakan kebencian satu sama lain. Saya teringat tulisan wall dari sahabat saya di Dumay mengatakan begini. Pertanyaannya begini, “Sejahat apa sih orang yang kamu benci itu?”, “Sebiadab apa sih orang yang kamu laknati itu?”,”Sekufur apa sih orang yang kamu tuduh sesat itu?”. Apa dia sejahat Abu Lahab yang menyiksa Sahabat Rasulullah? Apa dia sebiadab Abu Jahal yang mengubur anaknya hidup-hidup? atau dia sekufur Firaun yang mengakui dirinya Tuhan? Sebiadab Abu Lahab, Rasulullah masih mendoakan kebaikan untuknya saat beliau berdoa agar Islam dimenangkan dengan salah satu dari dua Umar. Sekufur-kufurnya Firaun, Allah masih menyuruh dua Nabinya yang mulia, Musa dan Harun untuk berbicara pada Firaun dengan lemah lembut. Sekarang, pertanyaannya, “Apa kamu sebaik Nabi Muhammad sehingga dengan mudahnya mencaci orang lain?”, “Apa kamu semulia Nabi Muhammad, sehingga dengan mudahnya melaknat orang lain?”, “Apakah kamu setaat Nabi Muhammad sehingga dengan mudahnya menuduh orang lain sesat?”. Kalau orang yang kamu benci, kamu laknat dan kamu sesatkan tidak selevel dengan Firaun, Abu Lahab atau Abu Jahal, dan kamu sendiri tidak sebaik, setaat dan semulia Nabi Muhammad, maka jagalah perbuatan dan perkataanmu, hargailah orang lain, hargailah perbedaan.  “Karena tidak semua jari itu sama panjang”, begitu kata orang Syria, maka wajar kalau dalam hidup ada perbedaan, perbedaan pasti ada, kalau kita punya 1000 kesamaan, kenapa harus mempermasalahkan 1, atau 10 ataupun 100 perbedaan?

Memang yang sangat mengkawatirkan selama ini adalah sulitnya golongan dalam islam itu bersatu. Masing masing merasa paling benar dan merasa paling pantas berbicara atas nama Islam. Itu sebabnya bendera Partai Islam ada banyak sesuai dengan golongannya masing masing. Namun kemarin ada secercah harapan bahwa islam akan bisa bersatu. Ada wacana yang dilontarkan oleh tokoh Islam untuk mempersatukan Partai Islam.  Apalagi melihat NU dan Muhammadiah tampil bareng dalam acara memperingati kematian Kiyai Sahal,ini suatu tanda baik untuk masa depan islam di Republik ini. Mungkinkah kelak akan berdiri negara Islam di Indonesia? Kalau bicara negara Islam maka akan muncul lagi perdebatan. Mengapa ? masing masing golongan punya pendapat berbeda lagi. Apakah Islam tidak punya manual handbook tentang bagaimana politik itu sendiri harus dijalankan? Menjawab ini , saya teringat dengan  pendapat Buya Syafii Maarif yang mengatakan bahwa disebabkan dua alasan; pertama , Al-Qur’an pada prinsipnya adalah petunjuk etik bagi umat manusia, bukanlah sebuah kitab ilmu politik, kedua, sudah merupakan kenyataan bahwa institusi-institusi sosio politik dan organisasi manusia selalu berubah dari masa ke masa. Dengan demikian, diamnya Al-Qur’an dalam masalah ini dimaksudkan agar tidak terjadi kebekuan hukum-hukum kenegaraan dalam setiap periode sejarah umat manusia. Apa yang dikatakan oleh Buya Safii Maarif adalah sesuatu yang membuat hati dan akal saya bisa berdamai. Bagaimanapun Buya adalah tokoh agama berkelas dunia.Kearifan beliau sebagai pemimpin ulama dan pemimpin Umat tak perlu diragukan.

Sahabat saya dalam Dumay mengatakan bahwa Isi kandungan Al Quran yang berupa hukum, hampir 80% berkaitan dengan individu, tidak ada hubungannya dengan Negara dan pengadilan.Artinya 80% itu dilakukan oleh individu tanpa harus melalui Negara. sisanya 20% yang berhubungan dengan Negara dan pengadilan serta perundang-undangan. Bagaimana kita menuntut Negara untuk membuat undang-undang dan menegakkan 20% isi Quran sedangkan 80% lagi kita sia-siakan! kita ribut memperjuangkan 1 ayat potong tangan, dan melupakan 80 ayat zakat dan sedekah! Itu sebabnya kalau kita ingin membangun peradaban Islam yang dirahmati Allah maka bukannya negara islam yang harus jadi prioritas tapi bagaimana membangun akhlak Islam itu kepada seluruh  umat islam. Ini tugas Dakwah yang menjadi prioritas. Dakwah yang efektif adalah melalui keteladanan para ulama, cerdik pandai,tokoh agama. Bagaimana berdamai dan bijak dengan pluralisme, bagaimana hidup rendah hati berbuat dan bersikap, bagaimana hidup mandiri tanpa mengandalkan hidup dari syiar atau dakwah tapi menghidupi syiar islam dengan keringatnya sendiri. Ya, apabila individu islam baik maka khilafah akan muncul dengan sendirinya sebagai sebuah sunatullah.Tapi selagi umat islam masih kemaruk soal harta, jabatan , pemalas,tidak mandiri maka wacana khilafah akan disikapi dengan sinis , dan bukan tidak mungkin disikapi dengan fitnah , bahwa khilafah hanyalah cara pintar untuk berkuasa dengan memanfaatkan emosi spiritual umat islam.

Bagaimanapun Negara Islam atau Khilafah itu harus ada. Sebagai umat islam kita harus percaya bahwa khilafah adalah cara yang paling diridhoi Allah. Ingat Firman Allah “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika diantara kamu berlainan pendapat tentang sesuatu kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (As-Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu)”. Saya sependapat dengan itu namun yang utama bagaimana memastikan semua pihak yang terlibat dalam suatu urusan atau negara itu bersedia kembali kepada AL Quran dan Hadith bila terjadi perselisihan diantara mereka.  Kembali kepada Allah dan Rasul itu bukanlah kembali kepada dalil AL Quran dan Hadith yang  bisa saja terus diperdebatkan tapi  kembali kepada niat untuk semata mata beribadah kepada Allah. Niat ikhlas karena Allah. Apabila semuanya dikembalikan kepada Allah maka tidak akan ada pertengkaran dan perdebatan salah benar. Yang ada adalah musyawarah untuk mencapai mufakat dengan mengedepankan ruh kasih sayang dan melupakan nafsu untuk superior dihadapan orang lain dan mendapatkan keuntungan materi dari superioritas itu. Ya , kembali kepada Al Quran dan Rasul artinya kembali kepada niat untuk beribadah kepada Allah dan intinya adalah ikhlas. Lupakan harta dan kekuasaan. Bisakah ? inilah yang paling sulit untuk umat akhir zaman.
Wallahualam.

Rakus itu buruk.

  Di Hong Kong, saya bersama teman teman dari Jepang menikmati malam sabtu pada suatu private KTV. Para pramuria nya adalah profesional  ber...