Posts

Showing posts from January, 2019

Tentang seorang Yusril

Image
Yusril lahir di  Lalang, Manggar, Belitung Timur ,  5 Februari   1956 . Ayahnya bernama Idris Haji Zainal Abidin. Ibunya  bernama Nursiha Sandon. Keluarga dari pihak ayahnya berasal dari  Johor ,  Malaysia . Kakek buyutnya, Haji Thaib, merupakan seorang bangsawan  Kesultanan Johor . Sedangkan ibunya berasal dari  Aie Tabik ,  Payakumbuh ,  Sumatera Barat . YIM menyelesaikan pendidikan sarjananya di  Fakultas Hukum Universitas Indonesia  dan juga menekuni ilmu filsafat di  Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia . Kemudian ia mengambil gelar Master di University of the Punjab,  Pakistan  (1985) dan gelar Doktor Ilmu Politik di  Universitas Sains Malaysia  (1993). Yusril juga sempat belajar singkat selama setahun di Akademi Teater di Taman Ismail Marzuki. Mungkin darah seni dari ayahnya turun ke dia. Menjelang hari hari kejatuhan Soeharto, YIM adalah orang yang selalu ada disebelah Soeharto. YIM menjadi penasehat politik dan hukum pak Harto dalam menghadapi pro

Memimpin dengan kearifan lokal.

Image
Waktu makan malam kemarin dengan global pertners saya dari London, ada yang menarik. Dia mengatakan bahwa kemarin waktu pelepasan global Bond yang di sponsori oleh Inalum terlihat pasar cepat sekali bereaksi positip. Padahal banyak global Bond punya Perusahaan Eropa engga dilirik oleh investor. Penyebabnya Eropa memang sedang mengalami perlambatan ekonomi. Masalah sudah menjadi rumit. Bukan hanya soal moneter tetapi sudah sampai ke struktural. Akan butuh waktu lama mengembalikan zona Eropa seperti era tahun 90an. Kini dan kedepan adalah era Asia. China, India, Korea, dan Indonesia akan memimpin perubahan zaman. Katanya. Tetapi yang menarik adalah fenomena pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Secara struktural ekonomi Indonesia tidak banyak berubah sejak 10 tahun lalu. Masih bertumpu kepada komoditas tradsional. Tetapi mengapa Indonesia bisa tetap tumbuh diatas 5%? Padahal zona Asia semua menurun. Menurutnya adalah Jokowi effect. Sejak tampilnya Jokowi ke panggung politik nasion

Uang ?

Image
Seorang teman aktifis islam mengatakan bahwa rezim Riba tidak akan pernah diberkati Allah. Pasti akan hancur. Liatlah sekarang dunia sedang krisis. Itu karena rezim Riba. Saya hanya tersenyum. Saya katakan bahwa kalau persepsi kamu uang era sekarang sama dengan emas, tentu akan rancu menterjemahkan Riba. Mengapa? Kalau kamu pinjamkan uang Rp. 1 juta ke orang dengan janji akan dia kembalikan setahun kemudian Rp, 1 juta juga. Kamu beralasan tampa bunga. Agar terhindar dari Riba. Tetapi untuk kamu ketahui bahwa saat akad dibuat, kamu memang tidak makan bunga. Tetapi orang yang pinjam itu mendapatkan bunga secara terselubung. Kok bisa?. Ya uang yang ada sekarang itu kan nilainya turun karena waktu. Itu karena faktor inflasi. Keliatannya dia mengembalikan sama jumlah uangnya. Namun sesungguhnya dia mengembalikan kurang dari nilai nominal yang ada. Mengapa di era Nabi Riba dilarang. Karena ukurannya adalah barang atau emas. Waktu itu belum ada sistem mata uang fiat dimana nilai u

Damai itu adalah berkah.

Image
Tahun 1984 tragedi Tanjung Priok saya berada ditengah tengah konplik antara penguasa dan rakyat. Siapalah saya. Anak muda usia 21 tahun yang sedang berjuang di rantau mencari jati diri. Hanya karana saya aktif dalam pengajian tarikat dan tepat pada saat pengerebekan oleh aparat saya kebetulan sedang berada di lokasi. Saya merasakan siksaan demi siksaan dengan tuduhan yang merendahkan harkat dan martabat saya sebagai umat Islam. Setelah sekian hari, sayapun dilepas. Namun itu memberikan pelajaran mahal bagi hidup saya selanjutnya. Bahwa jangan pernah melawan penguasa. Jangan!. Selagi mereka di pilih karena konsesus orang banyak, patuh lah. Walaupun sistem sangat menindas para pembangkang. Setalah itu sayapun focus kepada hidup saya pribadi. Bagaimana saya bisa mandiri tanpa perlu bergantung kepada manusia apalagi kepada penguasa. Cukuplah Tuhan tempat saya bergantung. Namun dalam bisnis berkali kali saya jatuh karena kebijakan rezim Soeharto yang cenderung monopoli dan penuh

Mengalah, bukan kalah.

Image
Mungkin ada sebagian anda yang sebagai anak tertua harus berkorban demi adik adik agar mereka jadi sarjana dan anda harus cari uang membantu orang tua membiayai adik adik. Mungkin ada pengusaha harus jual harta pribadinya untuk membayar gaji karyawan agar perusahan tetap jalan. Mungkin ada juga yang harus rela berpisah dengan kekasihnya demi kebaikan masa depan kekasihnya. Mungkin juga mengorbankan kebebasan pribadinya setelah dia menjadi ibu rumah tangga dimana harus focus mengurus suami dan anak-anak. Artinya pengorbanan bukanlah sesuatu yang langka. Dapat terjadi kepada siapa saja asalkan dihati orang masih ada bahasa cinta. Dalam kehidupan yang lebih luas dalam hal apapun , dimanapun, akan selalu ada orang harus mengalah dengan cara mengorbankan dirinya. Soal bagaimana dan seberapa berat pengorbanan itu tergantung persepsi masing masing. Yang jelas ketika orang harus berkorban maka itu terjadilah. Itu kehendak Tuhan sebagai bentuk kecintaan Tuhan kepada dirinya. Ahok dar

Menolong kaum duafa.

Image
Tahun 2011, saya ada janji dengan teman banker untuk meeting di sebuah Hotel. Dengan menggunakan taksi saya menuju tempat meeting itu. Saya merasakan kendaraan berjalan dengan lambat dan tidak stabil.  “ Bapak engga apa apa ?  “ Eh ya pak. Engga apa apa.” Kata supir dengan terkejut.  “ Kenapa jalannya lambat.? “ Ya pak. Maaf saya sempat bengong tadi. Baik pak. “ katanya kendaraan kembali melaju dengan agak cepat.  “ Bengong kenapa ? “ Hmmm “ Terdengar seperti ragu untuk mengatakannya. Saya diamkan saja.  “ Saya bingung dengan anak saya. " katanya kemudian. " Sudah saya bilang engga usah lanjutin ke universitas. Tetapi dia tetap ngotot juga. Seminggu lalu dia diterima di universitas negeri. Saya engga punya uang untuk bayar.” Katanya. Saya diam saja. Bayangan saya ada seorang anak yang sedang bertarung dengan nasipnya. Untuk masa depannya. Tanpa sedikitpun mengkawatirkan akan keadaan ayahnya yang tidak ada uang. Tekadnya untuk sekolah lebih karena ingin peru