Monday, March 28, 2011

Sebuah pelajaran

Anda sebagai kepala keluarga. Ketika anda bertengkar dengan anggota keluarga anda, kemudian datang orang luar melempari batu kerumah anda. Dan lebih hebatnya lagi orang luar itu meminta anda keluar karena anda berusaha tegas kepada anggota keluarga anda. Anda juga dinilai tidak sependapat dengan orang luar itu dalam menerapkan cara mengelola rumah tangga. Setiap hari anda diberitakan buruk oleh orang luar itu. Semua berita itu membuat kredibilitas anda hancur dihadapan tetangga dan tentu juga dihadapan keluarga sendiri. Marahkah anda ? Tentu semua akan marah. Adilkah sikap orang luar itu terhadap anda ? tentu tidak adil. Bagaimana mungkin orang luar menentukan salah benar sikap anda dengan kacamatanya sendiri. Yang paling tahu masalah keluarga anda adalah anda sendiri. Kira kira begitulah analogi yang terjadi kini terhadap Libyia dengan tekanan militer dari Barat dan AS.

Minggu lalu waktu saya makan malam di Shenzhen dengan pejabat China, dia sempat agak emosi berkata ” Bayangkanlah bila apa yang kini menimpa Libia juga terjadi dinegara kamu? Apakah kamu rela negeri kamu dibombardir oleh orang luar hanya karena ingin menjatuh rezim yang berkuasa. Ini tontonan arogansi AS dan Barat dengan atas nama PBB untuk memaksakan kehendaknya. Anehnya umat islam sebagian besar ikut mendukung upaya AS/Barat menjatuhkan Muamar Qadaphi lewat militer itu. Kami tegas menolak. Didewan keamanan PBB kami tidak mendukung serangan militer terhadap Libia. Kami percaya bahwa masalah Libia adalah masalah dalam negeri Libia. Hanya rakyat Libia yang berhak memutuskan apa yang terbaik untuk Libia.” Sikap China tidak beda dengan Bolivia dan Rusia, German.

Pejabat china itu melanjutkan ” Kalau Obama mengikuti sistem demokrasi di AS, seharusnya serangan itu mendapatkan persetujuan dari DPR. Tapi ini tidak.! Obama bergaya diktator hanya karena tak mampu melawan tekanan operator minyak seperti BP dan Cevron. Dasar negara loyalis kepada pemodal. Munafik. ” saya hanya tersenyum mendengar letupan emosi pejabat itu terhadap sikap AS. Terlepas soal itu adalah kebijakan politik China terhadap krisis di :Libia namun satu hal yang saya harus hormati bahwa mereka bisa melihat secara jelas ada apa dibalik serangan itu? Kalaulah memang niatnya baik demi tegaknya demokrasi itu tidak masalah. Tapi ini soal kepentingan kelangsungan kontrak minyak yang terancam diputus oleh Khadapi terhadap ”sister company ” yang juga adalah pemodal kampanye Obama sebagai president.

Nasip Libia mungkin akan sama dengan Irak. Nasip Khadapi akan sama dengan Sadam Husen. Nasip rakyat Libia akan sama dengan rakyat Irak. Bila Khadapi tumbang dengan mengenaskan seperti kejatuhan Sadam Husain ditengah euforia kemenangan bagi rakyat Irak, maka setelah itu nasip Rakyat Libia akan sama dengan nasip rakyat Irak yang harus menerima menjadi bangsa terjajah secara sistematis , dimana demokrasi akan dibangun untuk melegitimasi penguasaan resource minyak bagi kepentingan ”sister company ” yang menjadi pemodal rezim AS berkuasa. Berkali kali kita menyaksikan arogansi AS di negara Islam. Masalah Afganistan belum tuntas, dan masih berdarah darah. Ini pelajaran termahal bagi kita umat Islam.Jangan lagi terpancing dengan provokasi hingga umat terbuka untuk di intervensi oleh asing.

Sadam dan Khadapi , Husni Mubarak , awalnya begitu yakin dengan konspirasi bersama Barat/AS akan membuat mereka bisa terus berkuasa. Mereka yakin berkonspirasi dengan orang kafir ( yahudi ) akan abadi untuk melahirkan kebaikan. Nyatanya terus membuat mereka menjadi pecundang. Ketika kesadaran akan kebaikan datang, merekapun menjadi musuh untuk di remove. Saatnya bagi pemimpin Islam dimanapun berada untuk keluar dari konspirasi dengan AS/Barat demi langgengnya kekuasaan. Saatnya berkonspirasi dengan Allah agar kebaikan tersebar dan kekuasaan menjadi rahmat bagi semua. Rasul telah menteladankan bagaimana bersikaf dengan orang kafir dan bagaimana bersikap dengan orang seiman, ,yaitu melalui akhlak yang baik...

Tuesday, March 22, 2011

Ketika di uji ?

Kakek saya pernah becerita dulu ketika perang mempertahankan kemerdekaan. Dia bersama para pemuda dikumpulkan oleh guru mengaji untuk ikut berjihad mempertahankan kemerdekaan. Regu dibentuk dan masing masing regu dipimpin oleh kepala regu. Kepala regu ini dipilih dari murid mengaji yang paling pintar dan paling paham soal Al-Quran dan Hadith. Cerita berikutnya, ketika dalam perang gerilya mereka dikejar oleh tentara Belanda. Sampailah mereka didepan sungai Batanghari. Sementara dibelakang Tentara Belanda terus mengejar sambil melepaskan tembakan. Bila mereka tidak menyeberangi sungai maka mereka harus menghadapi tentara belanda yang bersenjata lengkap. Sementara dipinggir sungai itu terdapat buaya yang sedang berjejer. Bila menyeberang maka resiko dimakan buaya.Tidak menyembrang sungai maka akan dihantam senjata Belanda. Mereka dalam situasi kritis,terpojok. Mereka bingung.

Kemudian kakek saya melanjutkan, Kalau mundur, taktik grilya masih bisa diterapkan untuk menghancurkan belanda, Tapi kalau maju, kandaslah. Karena harus menghadapi senjata mesin belanda sementara mereka hanya bersenjatakan ala kadarnya. Tapi bila menyebrangi sungai , ada buaya. Ketika itulah ketua regu berkata kepada mereka. “Seberangi sungai dan bacalah salawat Nabi”. Dengan patuh mereka membaca salawat Nabi, dan terus menyeberangi sungai. Kakek saya menggambarkan betapa buaya itu sempat menghindar ketika mereka masuk kedalam sungai. Ada juga buaya yang berada agak ditengah sungai, memenjamkan matanya ketika berlintasan dengan mereka. Satu demi satu mereka berhasil menyeberang sungai. Dan... ketua regu tetap ditempatnya. Dia tidak punya nyali. Padahal dia yang meyakinkan kepada kami “ baca salawat Nabi maka pertolongan Allah akan datang.” Akhirnya ketua regu itu tertangkap oleh Belanda.

Dalam operasi grilya berikutnya, mereka berhasil membebaskan ketua regunya dari tahanan Belanda namun dalam kondisi lumpuh dan buta akibat disiksa oleh tentara Belanda. Cerita ini selalu diulang oleh kakek saya. Saya tahu kakek saya ingin menegaskan bahwa bukan banyak ilmu agama yang perlu kamu kejar tapi keyakinan yang harus kamu kejar. Sedikit ilmu tapi diyakini dengan seyakinnya maka itu lebih baik daripada banyak ilmu tapi membuat kamu bingung. Ada teman ditengah perjalanan , dia tetap sholat sesuai waktu walau banyak dalil menyebutkan boleh di jamak atau di qada. Sementara teman yang paham ilmu agama, dengan tenang berkata “Allah sudah kasih dispensasi ya kita manfaatkan. Tapi tema yang tak luas ilmu agamanya itu berkata “ saya sholat karena saya rindu Allah. Lewat ilmu kita bisa masuk kedalam sistem dan perbaikinnya.Itu kata orang berilmu kebanyakan. Tapi bagi orang awam ilmu berkata kita harus merubahnya tanpa harus masuk kedalamnya.

Kalau ingin tahu tingkat keimanan orang , maka lihatlah ketika dia diuji. Orang banyak sabar ketika diuji dalam kesulitan dan penderitaan tapi tak banyak orang tahan ketika mendapatkan limpahan harta dan kekuasaan. Keimanan itu tidak akan bernilai dihadapan Allah sebelum di uji. Ilmu agama boleh tinggi. Tapi soal keyakinan harus dipahami dengan hati. Menjauhkan akal kecuali menyelaminya dengan hati. Lewat hati kehadiran Allah dirasakan dan aqidah tertanam kedalam qalbu untuk berbuat karena Allah. Tak penting apakah dia dalam keadaan lapang maupun sempit, longgar maupun kepepet, bebas maupun terpojok, dia akan tetap mengutamakan Allah diatas segala galanya. Baginya sebagaimana sabda Rasul “ Sungguh sangat menakjubkan urusan seorang mukmin, karena segala urusannya adalah berupa kebaikan. Dan tidaklah didapatkan keadaan yang seperti ini kecuali pada diri seorang mukmin saja. Ketika dia mendapatkan kebahagiaan, dia segera bersyukur. Maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan ketika dia mendapatkan kesusahan dia bersabar. Maka itu menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim dari shahabat Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu)

Ya, siapapun kita akan mendapatkan ujian dari Allah. Apapun bentuknya tak lain sebagai bentuk menghilangkan “aku “ kecuali Allah. Pada momen dimana kita harus melepaskan sesuatu yang pada waktu bersamaan kita sangat menginginkannya. Mengambil sesuatu yang pada waktu bersamaan kita sangat tidak menyukainya. Pada momen inilah tak banyak orang siap untuk disebut beriman. Karena terjebak dengan akal nafsunya dan kadang iblis mencoba mencerahkan dengan berbagai dalil AL Quran dan Hadith yang dipaksakan, yang sehingga lupa hakikat tentang kecintaan kepada Allah bukanlah hal yang mudah dan murah(QS,Al Anbiya: 35)

Saturday, March 12, 2011

Komunitas Islam

Ambisi Napoleon hancur ketika tekadnya menyerbu Rusia mengalami kegagalan sebelum terjadi pertempuran. Napoleon bersama pasukannya dikalahkan oleh cuaca dan pernjalanan panjang yang melelahkan. Alexander yang berambisi sebagai penakluk dunia akhirnya harus menerima kenyataan kalah oleh konspirasi pasukannya untuk membunuhnya. Dalam usia muda , Alexander meningga karena diracun oleh orangnya sendiri. Hitler , akhirnya menerima kalah dari kekuatan sekutu walau tentaranya dibekali oleh tekhnologi militer yang hebat. Hitler harus menerima pil pahit sebagai pecundang hanya karena terjadi instrik dikalangan jenderalnya.Sejarah mencatat kehebatan organisasi menerapkan strategi untuk unggul ternyata tidak bisa menjamin keberhasilan sepenuhnya. Karena didalam organisasi itu terdapat manusia. Manusia bukanlah mesin yang mudah di olah dan diatur dengan standar operating procedure. Manusia adalah makhluk yang dinamis yang mempunyai ego suka dan tidak suka,serta cepat berubah.

Dulu berawal dari kota kecil , Madinah, generasi pertama Islam melakukan operasi penaklukan dengan cakupan yang sangat luas, yang terbentang dari Timur ke Barat ( Mesir, dari Crete ke Cappadocia) dari Yaman ke Gerbang Alan (dipegunungan kaukasus ). Mereka menaklukan bangsa Armenia, Syiria, Persia, Byzantium dan Mesir serta seluruh wilayah disekitarnya. Mereka menghadapi tantangan berat , mendobrak kota yang dikelilingi oleh benteng benteng, melintasi wilayah yang dibatasi oleh gurun pasir dan laut luas. Tentu ini bukanlah mudah. Mereka tentu menghadapi tantangan kekerasan alam , cuaca dan jarak tempuh yang memakan waktu berbulan bulan bahkan tahun. Hanya dalam waktu 10 tahun seluruh jazirah Arab telah dikuasai oleh generasi pertama Islam. Jumlah pasukan islam tentu pula tidak sedikit. Nah, pertanyaannya bagaimana para panglima Islam ketika itu mengorganisir pasukannya ditengah keterbatasan logistik dan medan tempuh yang berat ?

Para ahli sejarah memang mencatat operasi penaklukan itu dengan rapi. Mereka juga mencatat siapa panglimanya. Tapi tidak banyak sajarawan membicarakan bagaimana kehebatan organisasi pasukan Islam ketika itu. Apa kekuatan mereka hingga mampu melewati berbagai hambat phisik maupun psikis itu. Pendeta John Bar Penkaye didalam tulisannya ditahun 680an Masehi, yang kini tersinpan di British Library , menyebutkan bahwa itu semua berkat kekuatan spiritual yang diajarkan oleh Muhammad kepada setiap individu. Para pasukan itu bergerak seperti kumpulan Lebah. Sangat teratur. Setiap mereka punya keahlian masing masing. Masing masing pula bergerak sesuai keahliannya tanpa perlu diminta atau dikomandokan.

Dalam perjalanan jarak jauh , mereka tidak membawa bekal melimpah. Namun disetiap persinggahan di kota kecil mereka bergabung dengan masyarakat., Ada yang jadi petani, merajut pakaian untuk dijual, membantu gembala ternak, Ahli besi membuat alat pertanian,senjata dan lain lain., Dari kegiatan itu mereka mendapatkan upah dan bekal. Apabila bekal sudah cukup maka merekapun kembali melanjutkan perjalanan. Yang lebih penting lagi , setiap persinggahan itu mereka menebarkan akhlak kasih sayang dan pengetahuan untuk hidup damai. Tentu memberikan kesan bagi penduduk kota yang disinggahi, ada yang masuk islam dan bergabung menambah jumlah pasukan Islam menuju wilayah penaklukan. Para pasukan Islam tidak memiliki seragam layaknya tentara Romawi. Mereka menggunakan baju ala kadarnya dan kalaupun ada baju besi namun itu hanya ada pada panglima digaris depan.

Ketika berhadapan dengan pasukan musuh dimedan laga. Mereka berbaris dengan tertip sesuai dengan formasi pertahanan ( Ashaff ) . Diantara mereka adalah bersaudara. Satu sama lain memahami kelebihan dan kekurangan saudaranya. Makanya siapa yang digaris depan, siapa yang ditengah dan dibelakang, tidak diperlukan komando berjenjang. Mereka menyusun dirinya secara otomatis. Bila pertempuran berlangsung, terjadi saling tutup dengan cepat untuk mempertahankan formasi agar tetap kokoh mendesak musuh. Peran Panglima hanya sebagai penujuk arah kemana pasukan harus begerak dan kapan harus berhenti. Itulah sebabnya ketika datang perintah dari Khalifah Umar Bin Khatap agar Khalid bin Walid di gantikan posisinya sebagai panglima perang oleh Abu Ubaidah, ditengan pertempuan sengit itu, Khalid bin Walid tetap bertempur tanpa terpengaruh apapun. Begitupula pasukannya.

Bila panglima gugur ditangan musuh, maka yang merasa kualitasnya setara panglima itu akan langsung tampil sebagai pengganti. Hebatnya proses ini tidak pernah dipersoalkan oleh pasukan. Tidak ada intrik. Mengapa ? siapapun mereka yang berjihad itu , tidak bertempur karena khalifah, tidak bertempur karena harta rampasan, tidak bertempur karena pangkat, tidak. Mereka berjihad karena Allah. ! Dan dengarlah ketika mereka berhasil mencapai kemenangan dan merebut wilayah, mereka tidak memaksa pengduduk taklukkan untuk memeluk agama Islam. Mereka hanya ingin memimpin dan menegakakan keadilan menurut syariah Islam. Walau penaklukan banyak wilayah itu berlangsung cepat namun dibutuhkan proses 300 tahun untuk terjadinya konversi dari agama leluhur penduduk ke agama Islam. Jadi jelaslah bahwa Islam berkembang bukan dengan pedang.Tapi dengan transformasi akhlak cinta dan kasih sayang yang diteladankan oleh komunitas Islam ketika itu. BIla Islam diterima itu disebabkan karena diyakini sebagai rahmat bagi semua.

Apa yang bisa ditarik dari sejarah generasi Islam pertama itu ? Kekuatan organisasi tentara islam bukan didasarkan oleh kehebatan SOP buatan manager dan kehebatan Panglima. Organisasi tentara islam itu menjadi solid karena semua individu itu menjadikan AL Quran sebagai perekat diantara mereka. Dalam tataran Makro mereka adalah komunitas yang terbangun sesuai kehendak dan tuntunan dari Allah( AL quran dan Hadith) . Dalam tataran mikro mereka saling menjaga atas dasar cinta dan kasih sayang. Maka, jadilah mereka bagaikan kumpulan lebah yang bergerak teratur /tertip ( ashaff) dan ikhlas dengan takdirnya masing masing. Itulah yang tidak dimiliki oleh tentara Modern di Era Napoleon, Hitler, juga AS dalam perang Vietnam. Tidak dimiliki oleh organisasi sekular. Tentu bila organisasi Islam ( ashaff ) tampil dalam mengurus negara maka dapat dibayangkan bagaimana kehebatan komunitas Islam itu ...

Thursday, March 03, 2011

Makna harga

Apa yang membuat diterimanya sistem kapitalis oleh banyak negara, termasuk negara sosialis dan komunis ? itulah pertanyaan yang diajukan oleh teman saya. Walau , katanya, kapitalis telah mengakibatkan derita dan nestapa akibat krisis demi krisis, namun tetap saja penduduk planet bumi tidak bisa lepas dari kapitalisme. Teman ini menjawab sendiri pertanyaannya , bahwa ini berkaitan dengan ”harga ”. Dalam sistem kepitalis harga diserahkan kepada pembeli penjual. Tidak boleh pihak diluar itu berhak mengatur atau menentukan harga. Termasuk negara tidak boleh menintervensi terbentuknya harga di pasar. Dalam islam juga menegaskan seperti itu sebagaimana sabda rasul ” “Sesungguhnya Allahlah yang menetapkan harga, dan menurunkannya, melapangkan dan meluaskan rezki. Janganlah seseorang di antara kalian menuntut saya untuk berlaku zalim dalam soal harta maupun nyawa” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban).

Dari keberadaan ”harga”yang berada di ” free zone ” ini terjadilah derivative yang sangat luas. Maklum saja bahwa dunia kapitalis bukan hanya dunia jual beli barang, tapi juga dunia industri, jasa ( financial and Banking ). Dari free zone soal harga ini, terbentuklah apa yang disebut dengan value added. Harga tidak lagi mencerminkan real perolehan barang ditambah laba tapi didalamnya terdapat pula unsur image dan tekhnologi yang melekat pada barang itu. Begitupula berbagai linked product yang lahir dari keberadaan riset yang digunakan oleh seperti industri obat obatan, otomative, electronic, high technology , pestisida, pupuk dan lain sebagainya ikut berperan menentukan harga dipasar. Baju dan Jas bermerek Armany harganya 100 kali lipat dari harga baju buat pasar Tanah Abang atau 10 kali lipat dari jas buatan Pasar Pagi. Harga secangkir kopi di starbuck sama dengan 10 cangkit kopi di warteg. Padahal baju tetaplah baju dan kopi tetaplah kopi. Perbedaannya hanya terletak pada image dan tekhnologi. Starbuck dan Armany membangun image soal produknya lewat kampanye dan mengembangkan produk dan design lewat riset tekhnologi.

Sebelum terbentuk WTO , diawali dengan Putaran Uruguai. Ini proses yang panjang sampai terbentuknya WTO yang mengatur kesepakatan international soal perdagangan, investasi, pariwisata ( belakangan berkembang sampai ke IT , Telekomunikasi dan Financial ). Dalam putaran uruguai dan sampai terbentuk WTO , masalah harga ini selalu menjadi silang sengketa. Karena kalau harga barada di free zone tanpa ada intervensi negara maka harus ada kesepakatan tentang perlunya keterbukaan mengenai unsur pembentukan harga itu sendiri. Namun ini tidak sepakati dengan alasan competisi. Maklum, berbagai produk yang lahir lewat riset dan dikampanyekan dengan luas, tidak diketahui dengan pasti berapa harga pokok standard perolehannya , dan perlu rahasia harga pokok demi unggul dalam bersaing. Tentu ini bagi negara ketiga yang mayoritas sebagai konsumen akan dirugikan. Itulah sebabnya China termasuk yang terakhir meratifikasi WTO walau dengan ”catatan”. Semua mereka berdalih bahwa riset dan promosi adalah halal dan manusia berhak menimba laba dari upaya itu.

Berapa harga terbentuk, itu tergantung pasar ( penjual dan pembeli.) selagi tidak ada unsur penipuan dan kedua belak pihak senang. Kenapa dipermasalahkan? Bahkan, Nabi sendiri ketika diminta oleh sahabatnya untuk mematok harga di pasar, Nabi menolak dengan keras dengan dasar hanya Allah yang berhak. Demikian pendapat teman saya. Namun, pendapat saya, itu tidak seratus persen benar untuk menjastifikasi sabda nabi itu berlaku holistik. Karena dulu belum ada industrialisasi dengan konsep value added. Belum ada marketing concept. Nabi hanya bicara dalam konteks perdagangan. Sementara kapitalisme dalam bentuk yang lebih luas berhubungan dengan negara, financial , industri memerlukan kearifan para Ulama bersama ekonom Islam untuk mempelajarinya dengan hati hati. Agar kapitalisme perdagangan yang dijadikan dalil penetapan harga jual beli dapat melahirkan keadilan.

Mungkin dapat dilihat contoh bagaimana negara sosialis dan komunis menetapkan kebijakan soal harga ini. Negara tidak melakukan intervensi dalam harga. Tapi negara membuat kebijakan dalam sistem akuntasi perpajakan,dimana amortisasi biaya riset setiap produk paling cepat 10 tahun. Dan menetapkan batasan biaya promosi dan kelebihannya dianggap sebagai pendapatan pajak. Dengan aturan ini akan membuat komponen pembentukan harga akan terkendali dibawah aturan ketat pemerintah. Disamping itu, cara ini ternyata efektif mengendalikan inflasi. Dan lihat hasilnya, china mampu unggul dalam persaingan global kususnya berhadapan dengan negara kapitalis murni. Masyarakat dunia diuntungkan karena mendapatkan harga yang murah dan rasional itu. Inilah dampak bagaimana negara harus bertanggung jawab mengawal ”free zone ” harga ditengah masyarakat demi tegaknya keadilan.

Karena yang paling buruk dalam kapitalisme dari akibat kebebasan menentukan harga adalah terbentuknya ”mental kapitalisme”,yang dikenal dengan konsep ” berkorban sekecilnya mendapatkan laba sebesarnya”. Hanya negara yang bisa mengendalikan ini.! Makanya perlu negara dibawah khilafah Islam demi tegaknya syariat islam untuk keadilan dan kesejahteraan bagi semua.

Tidak bisa bersyukur..

  Ketika masuk cafe saya lihat Yuni, Esther, Wenny duduk di table yang sama. Saya temui mereka. Bicara sebentar. Saya keluar cafe untuk mero...