Posts

Showing posts from November, 2012

Rakus dan Kejam!

Image
Saya dapat email dari teman yang ketika terjadi konfrontasi antara Israel dan Hamas dia sedang berada di Tel Aviv untuk kunjungan business. Dalam email dia mengatakan betapa mencekam keadaan kota Tel Aviv ketika suara sirene menggema. Kemudian setelah itu terdengar suara ledakan yang menakutkan. Ini tidak hanya terjadi sekali tapi ratusan kali. Dalam perjalanan kehotel , dia memperhatikan keadaan rakyat Israel yang sangat ketakutan berlarian mencari perlindungan.Petugas hotel mengatakan bahwa serangan roket yang sampai ke Tel Aviv tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Rakyat percaya dengan kehebatan pertahanan udara Israel karena begitulah propaganda pemerintah selama ini. Bahwa andaikan perang Tel Aviv tetap akan aman. Tidak akan ada satupun rudal yang bisa menjangkau Tel Aviv dan tidak akan ada korban rakyat. KIni mitos bahwa Israel bebas dari serangan udara ternyata bohong belaka. Rakyat mulai ragu dan tidak lagi mempercayai pemerintah. Kalaulah ditanya secara jujur dengan Rakya

Blusukan...

Image
Ketika ditanya oleh wartawan  mengapa dia menangis, wanita itu tidak bisa berkata banyak kecuali sepotong kata bahwa dia akan mendapatkan apa yang selama ini tak pernah bisa diraih. Wanita itu tidak tahu apakah benar janji yang dia dengar itu akan terjelma tapi wajah sejuk dan penuh kasih dari pemberi janji itu telah membuat  dia punya Hope . Begitulah sekilas yang saya perhatikan dalam tayangan Youtube seputar kunjungan Jokowi blusukan keperkampungan kumuh yang ada di Ibukota. Wanita yang tinggal di perkampungan kumuh itu tak bisa menahan haru akan kehadiran seorang Gubernur  kewilayahnya. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Tidak pernah. Wanita itu hanya bisa menangis sebagai cara dia mengungkapkan perasaan terdalamnya, bahwa pemimpinnya mencintainya. Itu lebih dari cukup. soal janji akan tunai atau tidak, itu tidak lagi penting.  Sebetulnya wanita itu bersikap dengan hatinya. Allah hadir disetiap hati manusia. Ketika dia melihat dan dia merasakan kesejukan, terdengar bisikan “

Gaya hidup ?

Image
Orang yang pandai menjaga kesehatan adalah orang smart. Menjaga kesehatan lebih baik daripada berobat untuk sehat setelah sakit. Sahabat  saya yang berusia 60 tahun nampak sehat. Menurutnya bahwa hampir tidak pernah dia sakit. Tapi bukan berarti kesehatan itu didapatnya dengan mudah. Ini perjuangan yang berat. Dia harus mampu mengendalikan nafsunya dan menjaganya dengan disiplin. Nafsu berhubungan dengan gaya hidup.  Sumber penyakit lebih kepada  gaya hidup itu sendiri. Banyaknya kematian akibat penyakit jantung, diabetes, kolestrol, asam urat, AIDS, Kanker dan lain hanyalah dampak dari gaya hidup yang salah. Kadang dengan keyakinan kemampuan financial yang kita punya , kita memanjakan diri untuk berlaku apa saja yang menyenangkan diri. Kita tidak kawatir penyakit datang karena ada uang atau asuransi untuk membayar biaya berobat. Padahal berobat bukanlah solusi kesehatan tapi hanya menunda saja. Bila sakit datang itu tandanya kita telah merusak system yang ada dalam tubuh dan jiwa

Pahlawan..

Image
Seorang teman yang berprofesi sebagai konsultan SDM bercerita kepada saya bahwa dia sangat terkejut ketika dia mengajukan nama yang pantas mendapatkan penghargaan dari perusahaan tetapi Pemimpin perusahaan menolak nama nama yang dia ajukan. Padahal dalam daftar tersebut adalah nama  para pemimpin perusahaan dan kemudian para manager yang berprestasi dibidang pemasaran dan produksi. Lantas siapa yang pantas mendapatkan penghargaan ? tanya saya. Teman itu tersenyum. Yang berhak adalah cleaning service. Dalam acara gala dinner  pemberian penghargaan, pemimpin perusahaan mengatakan bahwa begitu banyak pretasi yang dicapai perusahaan dari tahun ketahun namun itu hanya prestasi yang dapat naik dan dapat juga turun. Tapi ada nilai nilai perusahaan yang juga nilai kepemimpinan organisasi yang tak pernah turun yaitu menghargai peran kecil orang lain. Dapatkah dibayangkan bila salah satu mitra strategis perusahaan tergelincir di toilet hanya karena cleaning service tidak bekerja dengan benar

Pesan untuk Putraku..

Image
Dua puluh delapan tahun yang lalu saya bersanding dipelaminan dengan istri saya. Ketika itu usia saya 22 tahun dan masih berstatus sebagai mahasiswa. Istri saya nampak tersenyum bahagia. Tak nampak gamang sedikitpun ia bersanding dengan pria miskin seperti saya. Iapun tak menempatkan banyak kriteria untuk pria yang pantas dijadikannya sebagai penghulu kecuali agama.  Hanya berbekal keimanan kepada Allah membuat ia tak ragu saya persunting.   Baginya menikah adalah ibadah yang harus dilaksanakannya. Baginya menikah adalah menuruti nasehat orang tuanya untuk menerima saya sebagai suami. Baginya menikah adalah pengabdian kepada suaminya. Baginya menikah adalah sebagai caranya menerima takdir. Ketika menikah saya sudah bekerja sebagai penata buku diperusahaan swasta dan dari itulah saya menanggung biaya hidup rumah tangga dan biaya kuliah.  Diawali dirumah mungil yang kami sewa bulanan, kami lewati hari hari dengan keceriaan sebagai keluarga muda. Setahun setelah itu putra kami lahir. Ma