Tuesday, December 13, 2016

Masuk dalam lingkaran Hizbulllah



"Memanglah surga itu bukan tempat yang mudah dicapai tanpa melalui cobaan.Tidak bisa dikatakan seseorang beriman sebelum diuji."

***
Januari menyimpan kesan tersendiri bagiku, terutama bangku yang terletak di Central Park. Tentang seseorang yang tak mudah kulupakan. Aku memang merindukan kehadirannya. Semua tentangnya terlalu berarti untuk dilupakan. Ketika aku melangkah masuk ke taman itu, bayangan tentang setahun yang lalu kembali membayang dengan jelas. Wajah kemerahan dari sosok wanita blasteran Asia Amerika berjalan menghampiriku sembari senyum. Tubuhnya berbalut long coat peredam embusan angin dingin di bulan Januari.
“Saya senang akhirnya kita dipertemukan dalam satu tim, apalagi kamu adalah saudara muslimku,” katanya. 
Aku terkejut. Muslimkah dia?
“Aku memang wanita muslim, tepatnya mualaf. Temanku yang dulu sama-sama kuliah di Harvard telah mengantarkan keimanan Islam ke dalam hidupku,” sambungnya seakan membaca keingintahuanku tentangnya.
Data tentangnya yang aku terima dari markas ICF menyebutkan bahwa wanita ini berotak cemerlang. Penyandang gelar Ph.D di bidang financial and banking. Pernah menjabat sebagai chief dealer di salah satu lembaga keuangan terkemuka. Namun, ia meninggalkan gemerlap kehidupan kariernya untuk bergabung dalam misi kemanusiaan.
Keyakinannya dalam Islamlah yang membuat dia memilih menggunakan kepintarannya demi tegaknya syiar islam. Untuk hal ini dia punya alasan sendiri. “Betapa kecil, betapa rendah, dan betapa hinanya aku di depan kemahaagungan Allah. Betapa pemurahnya Allah yang telah memberikan segala nikmat-Nya untukku, yang terbaik buatku. Padahal, kalau Dia berkehendak, setiap saat semua itu bisa dicabut-Nya. Aku tidak mau mendustakan nikmat yang telah Allah berikan. Aku harus bersyukur terhadap segala pemberiaan-Nya. Akan kupertebal kesabaranku hanya dan hanya untuk mencintai Allah. Untuk itulah kuabdikan diriku untuk program kemanusiaan ini.”
Dia memang pejuang sejati yang tak kenal menyerah. Kadang aku malu dengan keteguhannya menghadapi berbagai masalah. Satu ketika dalam email dia menulis catatan yang berisi kerinduannya untuk menjadikan Islam sebagai jalan hidup yang lurus. “Sudahkah kita bercinta dengan Allah? Hanya dengan Allah? Dengan selalu pasrah, patuh, dan tunduk pada undang-undang-Nya? Berucap dengan jiwa dan raga bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu salah? Sudahkah itu kita lakukan? Sudahkah kita berbuat yang terbaik untuk Allah? Untuk kemuliaan risalah-Nya? Apa?”
Kami bertemu kembali ketika briefing di markas ICF. Dia begitu bersemangat ketika memaparkan rencananya atas misi yang harus dilaksanakannya. Matanya berbinar ketika aku berdecak kagum melihat ketelitiannya membuat perencanaan. “Allah minta kita menggunakan akal kita untuk membuat rencana dengan baik dan selanjutnya kita ikhlas untuk tawakal terhadap apa pun hasil yang akan dicapai. Namun, rencana yang baik tentu harus didasarkan pada niat yang baik pula. Dengan begitu, pertolongan Allah akan menyertai setiap langkah kita.” 
Selanjutnya, dalam setiap langkah dia melakukan manuver yang kadang berisiko. Namun, kami dalam tim telah saling mengenal. Kesetiaan yang didasarkan pada kehormatan untuk menegakkan keadilan telah memperkuat kebersamaan kami. Pergulatan perjuangan yang ada telah menyeret kami semua dalam situasi yang sulit. Satu demi satu anggota tim tersingkir dalam setiap putaran. Mereka memilih mencari selamat atau menghindar untuk melupakan misi. Keadaan ini membuat kami harus menata ulang strategi dan taktik. Namun, dia menolak dengan keras.
“Bukan strategi yang harus diperbaiki tapi semangat kitalah yang harus dipertebal. Ingatlah, semakin tinggi tekad kita maka semakin tinggi pula tantangan yang harus kita hadapi. Allah hanya akan memberikan kemenangan jika kita berjuang tanpa lelah dan pantang menyerah. Ini hanya masalah keyakinan dan kesabaran serta berserah diri kepada kekuasaan Tuhan,” katanya. 
Aku diam namun mulai merasa khawatir ketika dia memaksa kami untuk memotong jalur lalu lintas dana komisi haram dari beberapa rekening. Aku tegaskan bahwa itu bertentangan dengan sunatullah yang mengajarkan untuk berjuang dengan cara yang benar. Yang hak dan batil tidak boleh dicampur aduk. Namun, dia tetap dengan pendiriannya.
“Apa kamu tidak tahu keadaan yang sebenarnya? Lihatlah sekeliling kamu. Adakah keadilan? Mereka yang berkuasa dan mempunyai akses permodalan dengan enaknya menumpuk uang dari hasil haram di lembaga-lembaga keuangan yang ada di financial center. Mereka telah membuat kondisi ekonomi global menjadi tidak sehat. Pasar uang di-create untuk akhirnya mendorong suplai uang ke sektor moneter. Mereka adalah segelintir manusia yang sangat berkuasa dan memegang kontrol yang begitu besar atas lembaga keuangan kelas dunia. Sementara itu, sektor produksi yang memberikan efek multiflier bagi masyarakat luas diabaikan. Kita harus berbuat sesuatu. Tidak ada yang bisa diharapkan dari mereka yang dengan ikhlas untuk membantu kita ! Lawan!” katanya dengan berapi api.
Kami semua hanya dapat menghela napas panjang. Dia tetap melangkah dengan caranya dan kami mengawasinya dengan cemas. Aku sendiri lebih memilih cara konvensional walau sangat sulit. Tak banyak yang dapat kuraih dari semua caraku. Keadaan ini membuat aku merasa kecil di hadapannya, apalagi aku mengetahui dia berhasil masuk ke lingkaran konspirasi para pengelola dana offshore. Dia melenggang dengan lincah dan berhasil mengalirkan beberapa persen dana komisi haram itu untuk mendukung pembangunan proyek kemanusiaan di beberapa negara miskin.
Namun, belakangan upayanya tercium oleh otoritas keuangan internasional walau tidak mampu mendeteksi langkahnya, apalagi mendapatkan bukti dari operasinya. Pihak otoritas memperketat pengawasan melalui berbagai jalur. Langkahnya untuk menyalurkan dana hasil operasinya semakin sulit. Dia kehilangan cara pintarnya. Semua pintu tertutup rapat.
“Negara maju memang telah menciptakan hukum ganda. Mereka memperketat operasi keuangan offshore untuk private tapi membiarkan grup lembaga keuangan tertentu berpesta pora dengan hidden fund yang ada di pasar gelap. Mereka terus menangguk kemudahan akses permodalan berbiaya murah, kemudian menyalurkan dana tersebut bagi negara-negara miskin dengan syarat yang menyulitkan tetapi menguntungkan mereka secara ekonomi dan politik,” katanya dalam keputusasaan.
Aku sangat terkejut ketika tim kami yang ada di Madrid mengabarkan bahwa dia masuk ke daftar target grup tertentu untuk “dihabisi”. Hal ini karena dia mengadakan kontak dengan beberapa agen Hisbullah di Turki untuk memberikan dukungan dana perjuangan melawan agresi Israel. Keadaan ini memaksa ICF menugaskanku untuk menariknya dari Istanbul Connection. Masalahnya, dia belum berpengalaman dalam bidang penyaluran dana untuk politik, apalagi ini berkaitan dengan pertikaian yang melibatkan negara super power dengan Israel sebagai proxy. Keadaan ini tentu akan membahayakan operasi tim secara keseluruhan. Beberapa anggota tim yang ada di Madrid dan Dubai juga ditugaskan oleh ICF untuk menarik dia keluar. Namun, mereka tidak pernah berhasil menemukannya. Aku sendiri kehilangan kontak dengannya.
Sebulan sebelum ulang tahunku, aku mendapat telepon dari dia. Aku sangat terkejut bercampur senang.
“Aku tahu langkahku sangat ditentang oleh tim tapi aku tidak punya pilihan. Aku harus melangkah menurut kata hatiku. Mungkin pengetahuan agamaku belum begitu dalam namun aku mengetahui dengan pasti bahwa aku harus berbuat untuk sesuatu yang kuyakini dan… kemudian mati.” Terdengar suaranya tertahan tangis.
“Aku tahu kamu melakukan itu semua hanya karena ingin mencari rida Allah. Tapi harus dicatat bahwa keberadaanmu sangat diperlukan oleh tim. Perjuangan kita masih panjang. Kamu sangat berharga bagi kami. Berjuang itu harus dengan kesabaran. Bukankah itu pula yang menjadi keyakinanmu?” kataku dengan lembut, berharap dia dapat mengerti sikapku. Setidaknya dia dapat memercayaiku sebagai sahabat. “Tolong beritahu di mana kamu sekarang,” sambungku.
Dia tidak menjawab, malah menutup telepon.
Seminggu setelah itu, aku mendapat kabar dari tim yang ada di Istanbul bahwa mereka telah menemukannya. Dia ada di rumah sakit dalam keadaan menyedihkan. Dari Hong Kong aku langsung terbang ke Istanbul. Dari aparat kepolisian kuketahui bahwa sekelompok orang menerobos masuk ke apartemennya. Dia diperkosa berkali-kali, diperkirakan oleh beberapa orang. Di sekujur tubuhnya ada bekas terbakar karena api rokok. Kutatap tubuhnya yang terbujur dalam penderitaan sangat. Selama lima hari aku tidak jauh dari tempat tidurnya sampai dia siuman. 
“Aku di mana?” dia betanya ketika matanya terbuka, wajahnya tetap berhias senyum. Tidak tampak dia menderita, seakan dia berusaha membuat aku tenang.
“Kamu di rumah sakit,” aku menggenggam jemarinya.
Air mata mengambang di tubir matanya. “Jangan lemah, Saudaraku. Ini tidak seberapa dibandingkan derita kelak di akhirat bila lalai terhadap kalamullah. Aku tidak menyesali ini terjadi. Ini bagian dari risiko yang harus kuhadapi ketika aku melangkah dengan keyakinanku.” Dia seakan meyakinkanku bahwa dia baik-baik saja dan sadar akan risiko yang harus diterimanya.
“Ya, aku maklum tekadmu. Tapi masuk ke wilayah politik bukan dunia kita. Tidak akan kita dapatkan objektivitas jika perjuangan kita masuk ke wilayah politik. Ini wilayah abu-abu. Tidak akan cukup kemampuan kita untuk mengubahnya. Hanya Tuhan yang bisa. Tugas kita hanya berada di belakang mereka yang menjadi korban akibat politik kekuasaan di mana saja berada. Sebisa mungkin yang lapar kita beri makan, yang sakit kita obati, yang tidak ada rumah kita beri rumah, yang tidak ada pakaian kita beri pakaian. Hanya itu. Yakinlah bila ini terus kita lakukan, by the time, akan ada perubahan. Bukankah Tuhan tak menginginkan perubahan sekali jalan beres tapi ingin perubahan terjadi terus-menerus secara sunatullah agar semua menjadi pembelajaran bagi orang yang beriman. Ya, kan?”
Setelah 45 hari di rumah sakit, dia diizinkan keluar dari rumah sakit. ICF menugaskannya berada di belakang meja. Dia tidak lagi berada di lapangan. Aku sendiri mengantarnya ke Dubai, tempatnya yang baru. Dia tampak murung. Dia tidak senang dengan sikap ICF namun pasrah. Semua akses yang menggunakan ICF dicabut. Lemahkan dia setelah itu? Tidak.
Sebulan berada di markas ICF di Dubai, dia menyatakan mengundurkan diri. Alasannya karena kesehatan. Kami semua maklum. Enam bulan setelah dia keluar dari ICF, aku mendapatkan kabar dia tewas bersimbah darah dengan delapan peluru bersarang di tubuhnya. Dia ditemukan di dalam kamar sebuah hotel murahan di pinggiran kota Damaskus. Di dalam kamarnya hanya ditemukan komputer yang tidak dapat diakses karena dilindungi dengan multi-password. Polisi mengindikasikan dia dibunuh dengan pistol dari jarak dekat. Pembunuhnya tentu sangat profesional.
Dalam kesedihan atas kehilangannya, aku berusaha membaca kembali pesan-pesannya lewat surat elektronik. Sekadar mengingat semua yang pernah disampaikannya. Sebulan sebelum dia menghubungiku untuk terakhir kalinya, tepatnya bulan September, ada pesan seseorang yang tidak kumengerti. Seperti undangan untuk ikut dalam grup chatting. Aku malas menerima undangan itu. Tapi kematiannya memaksaku untuk mengetahui semua informasi yang sampai kepadaku, termasuk email yang memintaku bergabung dalam grup chatting itu. Ketika akses online untuk ikut dalam grup itu kubuka, yang tampak dalam layar monitor adalah kalimat sebagai berikut:
“Ketahuilah, Allah akan selalu cinta dan sayang kepada kita, asalkan kita juga cinta dan sayang kepada-Nya melebihi segalanya. Sungguh, Allah akan selalu memberikan yang terbaik buat kita, asalkan kita pun mau memberikan yang terbaik buat Dia. Ingatlah, Saudaraku. Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya yang juga mau menolong sesama. Yakinlah dengan segenap keyakinan kita, bukan dengan akal kita yang amat terbatas ini. Rahasia kemuliaan Allah selalu menanti hamba-Nya yang tiada bosan-bosannya menebarkan kebaikan dan berjuang untuk mereka yang papa. Percayalah, rahasia keadilan Allah hanya dapat kita nikmati dengan jiwa yang tenang, jiwa yang ikhlas, tunduk, pasrah, dan patuh. Marilah kita bersama membersihkan hati, menyucikan pikiran, menjernihkan perasaan, melembutkan perkataan, menyopankan pandangan, dan menyantunkan pendengaran. Mari kita membenarkan langkah, membenahi setiap gerak. Kita songsong cahaya Allah dengan cahaya iman kita.”
Setelah membaca email itu aku baru menyadari dia sudah mengetahui bahwa lambat atau cepat pihak yang ingin menghabisinya akan menemukankannya. Dia tidak mau melibatkan kami dalam masalah ini, makanya dia memilih untuk menjauhkan kami dari perang yang dia ciptakan sendiri. Akhirnya, dia memang berhasil menjemput cahaya Tuhan dengan cahaya imannya dalam usia 36 tahun.
Tak terasa senja telah menjemput. Lampu taman telah menyala. Aku masih termangu. Semua tentangnya sangat sulit dilupakan, terutama bila melihat kehidupan kini yang selalu menyajikan kepongahan dan ketidakpedulian kepada mereka yang tidak beruntung. Dari sosoknya, aku dan kami semua dalam tim disadarkan bahwa mengakui Islam sebagai agama adalah mudah, namun menjadikannya sebagai jalan hidup adalah soal lain. Memang surga itu bukan tempat yang mudah dicapai tanpa melalui cobaan. Kutinggalkan taman itu namun aku tidak akan pernah meninggalkan kenangan tentangnya.
Sumber : Buku , Cinta Yang Kuberi, Volume 2

Friday, December 02, 2016

Ampuni kami Ya Allah..


Memaafkan satu hal tapi untuk kembali mempercayainya lain hal. Demikian kata teman saya ketika kami berdiskusi tetang sesuatu. Benarkah sikap teman ini ?Saya teringat ketika masih remaja saya merasa marah dengan teman saya. Mungkin karena saya tidak mampu melawannya maka marah berubah menjadi dendam.Bahkan dalam doa saya memohon kepada Tuhan agar orang yang membuat saya kecewa itu dikutuk.Tapi kenyataannya orang yang saya doakan buruk itu nampak biasa biasa saja. Atas masalah ini saya bicara kepada iibu saya. 

Dengan tersenyum ibu saya berkata bahwa ketika orang membuatmu marah dan kecewa sebetulnya Tuhan sedang mengujimu agar kamu sempurna. Mengapa ? Orang yang membuat dirimu kecewa itu berhadapan dengan Tuhan atas sikapnya dan Kamu juga berhadapan dengan Tuhan atas sikapmu.Jadi keduanya berhadapan dengan Tuhan dalam konteks berbeda. Bagi yang mengecewakanmu dia diuji dengan kelebihannya agar dapat bijak sehingga tidak membuat orang lain kecewa dan marah. Sementara bagi kamu yang lemah diuji agar bersabar atas sikap orang lain yang lebih kuat darimu. Keduanya diujji oleh Tuhan. Siapakah yang terbaik? ya dia yang bisa mengambil hikmah dari peristiwa itu.

Saya katakan kepada ibu saya bahwa teman saya itu sudah datang meminta maaf dan saya maafkan. Tapi tetap saya tidak mau lagi berteman dekat dengan dia.Karena saya tidak percaya dengan dia.Ibu saya menjawab bahwa teman saya mendapatkan hikmah dari kesalahannya dan kamu tidak mendapatkan apa apa walau kamu sudah memaafkannya. Maafkanlah dan lupakan.Artinya buka lembaran baru hubunganmu dengan temanmu. Selagi kamu bersikap keadaan tidak sama lagi seperti sebelumnya maka kamu tidak pernah memaafkan.Karena kamu tidak bisa melupakan kesalahan itu.Kamu akan sakit dan hatimu akan mengeras.

Mengapa ? Dalam hidup ini banyak hal yang sulit dimengerti , bahkan terkesan paradox. Tahukah kamu nak, banyak orang yang "gila" alias irasional tapi kamu tidak boleh membencinya.Tetaplah mencintainya. Kadang kamu berbuat baik tapi orang lain menuduhmu pencitraan.Tetaplah berbuat baik. JIka kamu sukses akan banyak teman palsu dan musuh sejati disekitarmu. Jangan takut.Tetap capai kesuksesan. Seberapa besar kamu memberi bantu kepada seseorang, dia akan dengan mudah melupakannya karena beberapa sebab. Tetaplah memberi bantu. Kejujuran itu pahit dan kadang mebuat orang lain terluka.Jangan takut untuk bersikap jujur.

Apa artinya nak? apapun yang terjadi itu bukanlah antra dirimu dengan orang lain tapi antara kamu dengan Tuhan. Kamu tidak boleh merubah jalan kebenaran yang ditetapkan oleh Tuhan hanya karena sikap orang lain.Kalau salah maafkan dan jangan ragu untuk memulai lagi agar kamu dan dia berubah menjadi lebih baik. Kalau kamu menghindarinya karena alasan tidak mempercayainya itu artinya kamu tidak berjalan dijalan Tuhan tapi dijalan kamu sendiri. Dijalan egomu. Selamanya kamu menilai dirimu sendiri dan lupa orang lain juga menilaimu,dan Tuhan maha tahu bahwa kamu terlalu mencintai diimu sendiri dan lupa bahwa sesungguhnya tugasmu harus mencintai orang lain,apapun kondisinya.

Mengapa ? kamu harus mejadi agent perubahan terhadap lingkungan khususnya lingkungan terdekat kamu.Bagaimana kamu bisa merubahnya menjadi lebih baik bila kamu tidak bisa merebut cintanya hanya karena kamu tidak lagi bisa mempercayainya. Banyak orang berkata "dia jahat, tetapi engkau dapat menghindarinya. Islam berkata kepada pengikutinya " dia jahat, tetapi engkau dapat mengubahnya". caranya ? jangan berjarak tapi bersedekatlah, maafkan dan lupakan,perbaruilah..Mari menjadi agent perubahan untuk rahmat bagi alam semesta.

***

Teman saya cerita pernah suatu waktu dia melihat relasi bisnisnya memaki maki seorang wanita yang bertugas sebagai pemandu lagu Karaoke. Penyebabnya wanita itu tidak bisa menyenangkan salah satu tamu. Dia melihat wanita itu nampak berlinang air mata dan berusaha menundukkan kepala sebagai tanda menyesal dan mengaku salah. Tapi relasi bisnisnya terus saja marah dengan makian yang akhirnya Manager Karaoke meminta wanita itu keluar.

Usai kareokean teman saya diantar ke hotel oleh relasinya. Besok janjian akan bertemu lagi di waktu sarapan pagi. Namun keesokan paginya dia dapat kabar bahwa relasinya sudah meninggal karena kecelakaan yang mengenaskan. Supirnya tidak bisa menghindari tabrakan karena kabut musim dingin.

Teman saya itu ingat bahwa relasinya pernah terucapkan kata yang sangat pedih kepada wanita penghibur itu ketika wanita itu menyebut nama Tuhan. " jangan bawa bawa Tuhan. Kamu pelacur. Kamu sampah. Jangankan sama Tuhan, sama manusia aja kamu engga ada harga. " Kejadian itu sangat menginspirasi nya untuk tidak mudah berprasangka buruk terhadap siapapun.

Perbuatan melacur adalah perbuatan maksiat yang merusak dirinya sendiri dan melanggar larangan Allah. Tapi itu urusan dia dengan Tuhan. Tidak ada urusannya menzalimi orang lain. Sementara memaki dan menghina itu perbuatan antara manusia. Kalau Anda menzalimi orang lain , Tuhan tidak akan memaafkan kalau orang lain itu tidak memaafkan. Apalagi sampai orang itu menangis dan menyebut nama Tuhan. Itu artinya, dia sadar bahwa dia pendosa tapi dia tahu bahwa Tuhan tempat kembali ketika dia terhina dan Tuhan maha mendengar doa orang terzalimi.

Nabi Ibrahim as mengundang lelaki tua makan ke rumahnya. Di tengah perjalanan, Ibrahim as bertanya kepada lelaki tua itu mengenai agama yang dianutnya dan si lelaki tua itupun menjawab bahwa ia seorang yang tidak beragama (atheis). Mendengar hal ini Ibrahim as pun menjadi marah dan membatalkan undangan makannya kepada si lelaki tua.

Namun tak lama setelah itu beliau mendengar suara dari atas, ”Wahai Ibrahim, Kami bersabar atasnya selama tujuh puluh tahun meskipun ia tidak beriman (kepada Kami), namun engkau tidak dapat bersabar atasnya meskipun hanya tujuh menit saja?” Mendengar hal ini Ibrahim as pun sadar, lalu beliau pun segera menyusul lelaki tua itu untuk kembali ke rumahnya untuk makan malam bersamanya. Artinya kepada atheis sekalipun kita tidak berhak menghakimi apalagi membenci.

Dalam kehidupan kita sekarang, kadang bila ada orang berbuat maksiat, kita dengan enaknya menghakiminya dengan kata menghina. Bahkan orang yang beragama lain yang begitu baik amalannya, kita mencurigai dia dengan kefanatikan kita. Orang yang tidak seagama , yang tidak semazhab, yang tidak seide dengan kita adalah musuh kita. Padahal siapapun itu adalah ciptaan Allah. Tidak ada hak kita menghujat atau menghakimi kecuali mengimbau dengan bahasa hikmah dan memperlakukan dengan sikap cinta. Karena kebaikan seyogyanya di sampaikan dengan cara baik.

Anak ku..jangan kau hina orang karena keyakinannya dan jangan kau hina orang dengan sikapnya. Tidak perlu kau berkata agamamu lebih baik tapi tunjukkan kepada orang lain bahwa pribadimu memang membuat orang jatuh cinta dan paham bahwa itu karena agama mendidik mu dengan cinta untuk rahmat bagi alam semesta. Paham kan sayang …

***

Saya tutup tulisan ini dengan doa 

“ Ampunkan kami ya Allah. Dihadapan kami ada orang yang di zolimi namun kami tak berdaya menolongnya. Orang miskin dan lapar  terbentang di hadapan kami yang setiap hari memohon bantuan namun kadang kami tidak menghiraukannya. Ada orang yang berbuat baik kepada kami namun kami lupa berterimakasih. Ada orang meminta maaf kepada kami namun kami tak memaafkannya. Bila kami mengetahui aif orang lain, kami tidak menyembunyikannya. Ampuni kami Ya Allah, dari semua keburukan sifat itu. Tuntunlah kami untuk bertobat dan berubah agar kami menjadi rahmat bagi alam semesta.”

Monday, November 14, 2016

Kemungkinan besar Ahok bebas ..?


“Bapak ibu ga bisa pilih saya, karena di bohongin pake surat almaidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya. Jadi kalau bapak ibu perasaan ga bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, di bodohin gitu ya, gapapa. Karena ini kan hak pribadi bapak ibu. Program ini jalan saja. Jadi bapak ibu ga usah merasa ga enak. Dalam nuraninya ga bisa pilih Ahok”. Itulah kata kata Ahok yang menjadikan terlapor sebagai pihak yang telah menistakan agama. Pasal yang bisa menjadikan Ahok terpidana adalah KUHAP 156a. Harus di ketahui bahwa pasal 156a adalah delik aduan. Jadi dasarnya adalah adanya laporan dari anggota masyarakat terhadap perbuatan Ahok. Pihak Polisi wajib melayani laporan ini sesuai dengan bukti awal yang ada. Polisi juga wajib melakukan penyelidikan untuk memastikan laporan itu benar, bukan hanya sekedar fitnah. Makanya harus ada dua alat bukti yang cukup, yaitu keterangan saksi, bukti rekaman video dan keterangan Ahli.

Saksi yang berkaitan dengan kasus Ahok bukanlah orang yang mendengar video Ahok yang telah di edit dan menjadi viral di sosmed tapi orang yang hadir pada acara di mana Ahok berbicara. Dalam hal ini adalah warga kepulauan Seribu, termasuk pejabat pemda, DPRD, wartawan yang hadir. Mereka akan di tanya apakah mereka merasakan seperti yang tertuang dalam pasal 156 A. Apakah mereka mendengar dan merasakan  yang di katakan Ahok bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap agama Islam; Dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama Islam. Apabila saksi tidak mendengar dan merasakan kata kata Ahok seperti yang tertuang dalam KUHAP 156a maka kasus tidak bisa di tingkatkan ke penyidikan. Tapi bisa saja di tingkatkan ke penyidikan agar publik dapat tenang dengan menetapkan Ahok sebagai tersangka. Namun pada akhirnya Polisi akan keluarkan SP3  atau kalau di teruskan ke pengadilan, Ahok akan menang mudah. Apalagi video yang beredar sebagai bukti  pelapor tidak sama dengan aslinya, di laporkan setelah lebih 7 hari Ahok bicara di tempat kejadian dan bukan oleh mereka yang  hadir tapi oleh pihak yang mendengar video yang tidak sama dengan aslinya.. 

Bagaimana dengan pendapat Saksi Palapor bahwa apa yang telah di katakan Ahok termasuk dalam penistaan agama, khususnya yang berkaitan dengan surat Al Maidah itu? Untuk itu Polisi akan mengundang Ahli ahli yang tidak ada kaitannya dengan Ahok ataupun Pelapor. Ini saksi indepedent. Saksi Ahli ini tidak seorang saja tapi beberapa yang meliputi ahli agama dan Bahasa. Saksi ahli agama bersaksi untuk mentafsirkan surat Al Maidah sebagai pembuktian apa yang di laporkan/ di tuduhkan oleh palapor adalah benar sesuai dengan kaidah dan khasanah agama Islam. Apabila terjadi perbedaan pandangan dari saksi ahli yang ada maka tuduhan kepada Ahok batal dengan sendirinya. Mengapa ? Karena hukum tidak boleh menghukum seseorang apabila ada sedikit saja keraguan. Lebih baik membebaskan 1000 orang bersalah daripada menghukum 1 orang tidak bersalah. Ini belum termasuk saksi ahli Bahasa. Apabila saksi ahli bahasa mempunyai pandangan berbeda maka gugatan terhadap Ahok juga batal. Kemungkinan besar Ahok bebas. Karena surat Al Maidah itu sendiri multi tafsir. Tentu saksi ahli akan terbelah pendapatnya.

Benarkah ? Karena surat Almaidah itu sendiri di kalangan ulama memang tidak ada yang sependapat bahwa itu berkaitan dengan kewajiban memilih pemimpin muslim. MUI tidak pernah mengeluarkan fatwa mengenai hal ini. Itu adalah Pendapat dan Sikap Keagamaan dan bukanlah Fatwa. Mengapa ? Salah satu syarat menetapkan fatwa adalah harus memenuhi  metodologi (manhaj) dalam berfatwa, karena menetapkan fatwa tanpa mengindahkan manhaj termasuk yang di larang oleh agama. Oleh karena itu, implementasi metode (manhaj) dalam setiap proses penetapan fatwa merupakan suatu keniscayaan. Ada pun metode yang dipergunakan oleh MUI dalam proses penetapan fatwa di lakukan melalui tiga pendekatan, yaitu Pendekatan Nash Qath'i, Pendekatan Qauli dan Pendekatan Manhaji. Pendekatan Nash Qoth'i di lakukan dengan berpegang kepada nash Al-Qur'an atau Hadis untuk sesuatu masalah apabila masalah yang di tetapkan terdapat dalam nash Al-Qur'an ataupun Hadis secara jelas. Sedangkan apabila tidak terdapat dalam nash Al-Qur'an maupun Hadis maka penjawaban di lakukan dengan pendekatan Qauli dan Manhaji. 

Jika kita lihat,  Pendapat dan Sikap Keagamaan MUI tidak ada penjelasan mengenai pendekatan yang di pakai untuk alasan dari keputusan tersebut. Makanya Partai yang berbasis Islam, yang juga punya Dewan Syuro yang berwewenang menilai dan menentukan kebijakan partai sesuai atau tidak dengan syariah Islam mendukung calon kepala daerah yang non muslim. Contoh, Tahun 2012, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengusung dan sukses memenangkan pasangan cagub-cawagub Cornelis (petahana) dan Christiandy Sandjaya, keduanya Nasrani, di Pilgub Kalimantan Barat yang mayoritas penduduknya (59%) beragama Islam. 2) Tahun 2015, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengusung dan memenangkan seorang PENDETA Nasrani-Tionghoa, Thes Hendrata, di pilbup Kabupaten Kepulauan Sula yang mayoritas penduduknya (96.94%) beragama Islam. Dua pasang kandidat lawannya seluruhnya beragama Islam. 3) Tahun 2015, PKB mengusung dan memenangkan Danny Missy (Nasrani) di pilbup Halmahera Barat (Nasrani 59.15%, Islam 40.73%). Sumber 4) Tahun ini, PKS, PAN dan PBB mengusung Paulus Kastanya (Nasrani) di pemilihan walikota Ambon (Nasrani 48%, Islam 34%).

Bagaimana fatwa MUI mengenai Ahok? Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Maruf Amin, mengatakan sika MUI yang menyatakan Ahok  di kategorikan melakukan penistaan agama, tidak dalam konteks membahas tafsir, bukan Fatwa. Karena MUI sadar bahwa surat Almaidah MUI multi tafsir. Jadi sikap Pimpinan MUI bukanlah fatwa yang harus di patuhi oleh umat islam. Dan lagi tidak ada Ahok mengatakan ulama membohongi “pake" surat Al Maidah. Baiklah, kata kata Ahok itu salah karena menuduh orang membohongi  pake surat Al Maidah. Benarkah ? ada ketua Ormas Islam dalam videonya di Youtube mengatakan dengan tegas “ Dia (ulama bejat) nipu umat pakai Ayat Quran. Dia nipu umat pakai Hadis Nabi”  Perhatikan ada kaliman “…. bohong/nipu pakai ayat/Quran/Hadits…”. Artinya orang menipu menggunakan Ayat Al Quran dan Hadith itu biasa dan banyak. Nabi sendiri memperingatkan hal tersebut. Dan lagi apa yang di katakan Ahok itu berkaitan dengan saran atau mengingatkan rakyatnya tentang bagaimana seharusnya bersikap dalam menentukan hak politiknya. Agar mereka objectif, bukan di pengaruhi oleh faktor yang tidak ada kaitannya dengan program kerja yang di tawarkan oleh cagub.

Tapi ada yang berdalih bahwa karena Ahok non muslim, dia tidak berhak membawa firman Allah yang tertuang dalam AL Quran, apalagi sampai berani menafsirkan. Benarkah ? ini juga masih di perdebatkan. Di dalam Al-Quran ada 2 ayat yang menjelaskan bahwa perintah haji diserukan kepada seluruh umat manusia bukan kepada orang yang beriman saja. Yang pertama, Surat Al Hajj  ayat 27, Yang kedua , dalam Surat Ali Imran: 97. Banyak lagi ayat dalam Al Quran dimana Allah menyeru kepada manusia. Artinya Al Quran itu siapapun berhak mengetahuinya dan tentu mempelajarinya. Ahok sebagai non muslim, diapun adalah politisi. Tentu dia wajib mempelajari  islam, baik melalui buku maupun melalui mentor yang qualified. Tujuannya agar dia bisa memahami bagaimana menghadapi umat islam yang merupakan mayoritas di Indonesia. Pandangannya tentang islam, khususnya surat Al Maidah juga di tulis dalam buku biographinya yang berjudul ‘ Merubah Indonesia.”di terbitkan LP3S.

Saya merasa sedih karena sebagian orang menggunakan Lembaga Fatwa MUI untuk menyudutkan Ahok, memaksa aparat hukum untuk menjadikan Ahok terpidana dengan alasan membela fatwa MUI.  Padahal tidak ada fatwa MUI. Kalaupun ada seruan dari Pimpinan MUI, itu bukan lembaga Fatwa yang harus di patuhi oleh Umat islam. Keadaan ini bukan hanya membuat keadaan jadi gaduh tapi mempermalukan Ulama yang duduk di Dewan Fatwa, yang mungkin nampak bingung kenapa fatwa di bawa bawa dalam ranah politik untuk menjatuhkan Ahok dalam proses Pilkada. Semoga semua kita sadar bahwa kalau inginkan keadilan maka bukan hanya dalam sikap tapi juga dalam pikiran juga harus adil. Semoga di lembaga peradilan Ahok bisa bebas. Bagaimanapun keadilan harus di menangkan.!

Monday, November 07, 2016

Ahok...


Saya dapat inbox dari seseorang yang kesannya menuduh saya membela orang kafir dan membiarkan orang kafir menistakan Al Quran. Tentu yang di maksud kafir ini adalah Ahok. Tentu juga kesimpulannya atas tulisan saya berdasarkan mind block dan tidak membuat dia open mind. Saya tidak pernah bertemu tatap muka dengan orang ini dan seperti biasa dalam postingan saya banyak comment dengan nada tendesius terhadap saya dari orang orang semacam ini. Ya mereka menilai saya dari tulisan saya. Itu saya maklum. Saya sudah siap mendengar tuduhan yang bermacam-ragam, termasuk ”anti-Islam”, “islam liberal” karena pandangan saya bahwa  Islam itu adalah rahmat bagi semua. Menegakan kebaikan tentulah dengan cara yang baik. Sebisa mungkin menghindari pemaksaan dan kekerasan. Karena tidak ada keimanan dengan pemaksaan. Karena Allah telah menegaskan bahwa pemaksaan adalah anti Al Aquran.

Tanpa harus berdebat atas tuduhan terhadap saya , dengan tegas saya katan bahwa saya bukan anti islam. Karena saya bukan warga DKI,  mustahil saya memilih Ahok atau menjadi propagandisnya. Sebagai pengusaha saya berusaha menjauhi dunia politik karena kekuasaan itu bisa berubah kapan saja dan bisnis tidak boleh behenti karena perubahan rezim. Makanya saya menghindari bisnis yang bersinggungan dengan proyek APBN/D. Mungkin saya lambat untuk sukses tapi itulah pilihan saya dalam bisnis. 

Tapi dari keberadaan Ahok, teman saya punya sudut pandang tersendiri. Bahwa Islam di Indonesia punya problem yang tiap kali seperti di daur ulang dari masa kemasa , yaitu ada kecurigaan kepada orang yang mengemukakan pendapat lain tentang Islam. Dengan itu selalu di gunakan sebagai senjata mempengaruhi massa oleh mereka yang punya syahwat politik merebut kekuasaan. Permusuhan bagi segelintir ormas Islam terhadap Ahok sudah ada sejak Ahok di angkat sebagai Gubernur menggantikan Jokowi yang jadi RI-1. Patutkan Ahok di musuhi? TIDAK. Karena Ahok tidak pernah membenci Islam dan umat islam. Ahok tidak punya musuh soal itu. 

Sikap Ahok lebih banyak islaminya terutama sebagai pejabat Negara. Dia berani menegakan kebenaran , kejujuran yang di yakininya. Banyak program umat islam dalam syiar agama mendapat dukungan dari Ahok, bahkan lebih baik dari Gubernur sebelumnya. Ada program perbaikan sekolah madrasah dan memberikan KJP kepada murid madrasah yang tidak mampu, memberangkatkan Marbot ke tanah Suci, membangun masjid megah di balaikota, menutup lokalisasi PSK di Kalijodo, dan lain lain yang oleh Gubernur sebelumnya yang muslim tidak di lakukan, karena tidak terpikirkan. 

Teman itu menyimpulkan ia ”merasa wajib berterima kasih” kepada se-orang Ahok yang semoga ini menjadi inspirasi bagi pemimpin yang beragama muslim agar bisa mengaktualkan islam seperti yang Ahok lakukan dalam memimpin DKI. Ya, karena fitnah dan kebencian orang, Ahok bisa saja kalah, terpidana dalam kasus penistaan agama, dan di penjaran. Atau mungkin saja dia terbunuh. Keluarganya sangat siap untuk itu. Namun dia telah membangkitkan harapan kepada rakyat bahwa akan selalu ada pemimpin yang baik untuk mereka.” harapan adalah seperti jalan di daerah pedalaman, pada awalnya tidak ada jalan setapak, semacam itu, namun banyak orang berjalan diatasnya, jalan itu tercipta.

Di kaitkan dengan penistaan agama, bagaimana ? Tanya saya.
Teman saya mengatakan bahwa Ahok seorang politisi yang sadar bahwa pemilihnya adalah mayoritas beragama Islam. Dia tahu bahwa lawan politiknya menggunakan surat Almaidah-51 untuk memprovokasi orang tidak memilihnya. Tentu ini harus di sikapinya. Bertanyalah dia kepada ahli agama tentang tafsir dari surat Almaidah-51 itu. Dalam hal ini dia bertanya kepada Gus Dur. Ahok memilih sikap seorang Gus Dur terhadap Islam dalam berpolitik dan berjuang untuk orang banyak. Artinya Ahok mendapatkan inspirasi islam dari tokoh Islam cucu pendiri NU, arsitek NKRI, yang juga pernah memimpin NU. Dengan pengetahuan itulah dia bersikap terhadap lawan politiknya khususnya yang menggunakan surat Alamaidah -51. Bahwa Surat Almaidah-51 itu sendiri masih multitafsir di kalangan ulama. Khususnya terjemahan dari  Kementrian Agama, kata Awliya itu berarti teman setia, bukan pemimpin. Dalam hal kontek yang di katakan Ahok, Safie Maarief mantan Ketua Umum Muhammadiah, punya pendapat sendiri, sebagai berikut :

Dari berbagai sumber yang dapat di telusuri via internet, keterangan lengkap Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016 adalah sebagai berikut: "Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin pakai surat al-Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya…" Perhatikan dengan seksama kutipan ini, apakah memang terdapat penghinaan terhadap al-Quran? Hanya otak sakit sajalah yang berkesimpulan demikian. Apalagi jika sampai menista Langit., jauh dari itu. Perkara di kesankan menghina ulama, saya tidak perlu bicarakan di sini, karena memang dalam sejarah Muslim sering bermunculan ulama jahat, penjilat penguasa dengan fatwa-fatwa murahannya. Pokok masalah di sini adalah pernyataan Ahok di depan publik di sana agar "jangan percaya sama orang… karena di bohongin pakai surat surat al-Maidah 51." Ahok sama sekali tidak mengatakan bahwa surat al-Maidah 51 itu bohong. Yang di kritik Ahok adalah mereka yang menggunakan ayat itu untuk membohongi masyarakat agar tidak memilih dirinya.

***
Ahok memang telah jadi kontroversial. Di masa ini seperti tampak dari tulisan saya di blog dan facebook, saya mencoba berperan kecil untuk menjadikan islam itu indah dan rahmat bagi semua. Sudah saatnya Islam tidak lagi di aktualkan dengan gerakan kolosal di jalanan tapi di tuangkan dalam bentuk kesalehan sosial untuk merebut hati orang yang berbeda dan merebut cinta orang yang seiman. Perjuangan utopia yang di tiupkan oleh sebagian orang tentang islam, seharusnya di buktikan dalam karya nyata dengan gerakan gotong royong mengangkat perekonomian rakyat kecil keluar dari lingkaran kemiskinan. Mengadvokasi dan memberikan teladan kepada rakyat kecil, bagaimana menciptakan lingkungan bersih sebagai ujud keimanan kepada Allah. 

Sebagai umat islam, saya berpendapat sebaiknya islam yang mayoritas di negeri ini di pimpin oleh orang islam, terutama Jakarta.  Pertanyaannya bisakah umat islam bersatu memilih pemimpin yang di sukainya? Mengapa suara umat islam terpecah ? Saya melihat tidak ada persatuan karena memang apa boleh buat sudah cacat. Mengapa ?  Karena paham sektarisme, hanya paham sendiri yang di anggap benar; gagasan lain di musuhi. Padahal, dengan ”membuka semua pintu budi akal kita bagi semua pikiran,” akan lahir Islam yang tidak puritan, yang bukan arabisme tapi AL Quran. Yang tak mudah di provokasi oleh petualang politik yang menggunakan agama untuk menang dalam pemilu demokrasi dan setelah itu seperti biasa , setelah berkuasa, lupa dengan umat islam, lupa dengan orang miskin. Dengan kesatuan tanpa terpecah belah kecuali AL Quran, akan lahir Islam yang ”cinta kemajuan dan kecerdasan”. Cinta damai yang menjauhi kekerasan dalam bentuk apapun, serta di garis depan memimpin kemajuan di bidang sosial dan ekonomi.

Dan di samping sektarisme yang membuat islam tidak bisa bersatu, pemimpin yang sesuai dengan teladan Rasul juga langka, bahkan tidak ada yang muncul kepermukaan untuk mempersatukan umat. Karenanya pilihan kepada Ahok sebagai Gubernur yang non muslim, adalah pilihan situasional yang tak utopis namun tidak melanggar hakikat beragama. Bila Ahok menang dalam Pilgub, maka itulah pesan cinta dari Allah kepada kita umat umat islam agar perkuat barisan, dan hentikan perbedaan. Cintai NKRI ini dengan karya nyata seperti Muhammad Yunus di Bangladesh yang sukses mengembangkan konsep bantuan dana usaha skala kecil untuk usahawan miskin yang tidak mampu meminjam dari bank umum , Madam Theresa yang menjadi ibu bagi kaum miskin dan jelata di kota Bombai. Atau masih banyak lagi contoh yang di lakukan oleh kiyai NU yang mampu membangun basis ekonomi rakyat lewat BMI. Itu saja di perluas dan di perkuat, kelak hanya masalah waktu , akan muncul sendiri pemimpin islam yang menjadi cahaya bukan hanya bagi rakyat Indonesia tapi juga dunia...

***
Saya sudahi tulisan ini sambil mengutip kata teman saya yang juga warga DKI ”… pada awalnyanya saya tidak setuju Ahok jadi Gubernur menggantikan Jokowi. Tapi berjalannya waktu, saya lebih banyak setujunya daripada tidak setuju dengan Ahok : Dia punya rationalisme, nasionalisme, dia punya kelebaran penglihatan (broadmindedness), dia punya modernisme, dia punya hati terhadap orang miskin dan punya semangat bagaimana mengangkat orang miskin masuk dalam lingkungan modern jakarta tanpa harus terjebak dengan kehidupan tradisional yang kumuh dan kotor. Dia punya keberanian bersikap terhadap siapa saja yang merugikan Pemrof DKI tanpa takut kehilangan jabatan dan cintra,  dan dia seorang suami yang setia terhadap istrinya dan suami yang pekerja keras. Pribadinya memang islami.."


Wednesday, October 19, 2016

Iman?


Surti, hampir menangis ketika pria dengan wajah teduh datang membawa beras 5 liter. Pria itu berpesan agar besok besok kalau dia tidak ada beras untuk di tanak , datang ke tempatnya. Sambil  memberi tahu alamat. Betapa haru dia, karena sudah dua hari suaminya menanti upah mingguan yang belum di bayar oleh juragan kebun. Alasannya perusahaan lagi sulit dan pembayaran upah biasa tertunda. Selama upah belum di bayar Surti bersama anaknya makan umbian yang di tanam di belakang rumah. Namun setelah pulang, beras 5 liter itu di buang semua oleh suaminya. Hanya karena yang memberi beras itu seorang misionaris yang tidak seiman.  Surti  tidak mengemis. Dia manusia biasa yang di datangi orang dengan cinta, untuk memberi. Saya bisa memaklumi sikap tegas dari suami Surti yang melarang istrinya menerima bantuan orang yang tak seiman. Kawatir aqidah tergadaikan hanya karena perut lapar. Masalahnya bagaimana menjelaskan kepada seorang ibu yang dapurnya tidak ngebul sementara anak menangis lapar?   Berharap kepada mandor kebun yang seiman, malah selalu membentak bila di tanya kapan upah di bayar. Bagaimana. ? Surti tidak ada niat untuk pindah agama. Dan si pemberipun tidak hendak mempengaruhi Surti untuk memeluk agamanya. Ia hanya terpanggil akan seruan Tuhan untuk memberi mereka yang lapar. Dan Surti adalah makluk ciptaan Tuhan, yang sadar bahwa Tuhan maha adil, dan keadilan Tuhan itu melalui orang yang pemberi tanpa harap kembali. 

Ada juga Murni, wanita usia mendekati usia 40 tahun. Menjanda karena suaminya pergi tanpa alasan yang jelas dengan meninggalkan beban dua anak. Ia bekerja sebagai buruh memecah batu alam untuk aksesoris taman dengan sehari Rp. 1200. Di bayar seminggu sekali yang nilainya lebih rendah dari harga segelas kopi di starbuck. Sore menjelang malam menjemput. Dia berhias dengan gincu murahan yang di belinya di warung kampung. Sepatu usang dan baju terbaik satu satunya yang dia miliki di kenakannya untuk pekerjaan lainnya. Setiap hari baju itu di cuci untuk di pakainya kembali. Sambil menitipkan anak Balitanya kepada anak gadisnya untuk di jaga, dia melangkah menembus malam.  Yang kemudian nampak adalah Murni yang lain, sang kapitalis penjual tubuhnya. Suatu saat Murni , menemukan pelanggan yang tak ingin membeli tubuhnya. Pelanggan itu memberinya uang untuk dia segera pulang, sambil berbicara dengan lembut " Pulanglah. Jangan lagi berbuat dosa. Tuhan mengasihimu. Datanglah ketempat saya, dimana orang berkumpul untuk menerima kasih Allah." Murni terharu. Namun ke esokannya ketika orang kampung tahu dia datang ketempat yang di haramkan, orang kampung mengecapnya murtad, kafir. Dia di asingkan oleh pergaulan. 

Murni, tidak hendak pindah agama. Tidak hendak berbuat dosa. Hanya karena tidak ada lagi yang bisa dia perbuat untuk bertahan hidup. Sementara di sekitarnya , orang kampung yang setiap hari menyembah Tuhan, pergi haji berkali kali, naik motor kemana  pergi, abai kepada nasipnya. Dia tidak hendak mengemis menuntut haknya yang di titipkan Tuhan kepada orang berlebih. Dia hanya menjual apa yang bisa dia jual untuk sekedar meyakinkan dia tidak kalah dan putus asa dengan hidupnya sehingga harus mencuri atau korup. Namun ketika ada yang menyeru menjauh dari hidup melacur, sambil memberi uang sebagai solusi. Diapun berbalik arah untuk menemukan tempat dimana orang peduli dan tidak menghujatnya, tidak memburunya dengan pentungan, kecuali memberi solusi , memberi hati bahwa bersama kita bisa. 

Tidak semua orang punya kesabaran tinggi. Tidak semua orang punya tingkat keimanan tinggi. Tidak semua paham ilmu agama. Namun semua orang paham satu hal " Bahwa cinta bisa merubah yang keras menjadi lembut. Merubah putus asa menjadi harapan. Merubah lelah menjadi kuat. Merubah kalah menjadi pemenang.  Dan itulah sebabnya banyak orang punya kekuatan kata kata yang di lantunkan dalam dakwah, predikat orang suci yang tak  bisa di salahkan, kalah sama orang yang tak menyebutkan firman Tuhan namun ia memberi dengan tulus, tanpa mengadili. Dia merebut hati orang dengan cinta tanpa mengucapkan  dalil tentang sorga bagi orang bertawwa dan neraka bagi pendosa. Dan buah agama itu hanya satu yaitu CINTA. Ketika cinta mengabur maka kata kata tinggal lah kata kata, ia akan terbang di bawa angin , jatuh kebumi dengan suara kepongahan, menciptakan permusuhan, melahirkan kebencian, dan amarah yang tak sudah. Entah pesan Tuhan apa yang di perjuangkan bila yang dekat menjauh, yang jauh semakin jauh. Marilah kita semua kembali kepada nilai Islam, yang rahmat bagi alam semesta. Agama cinta yang tak lain pesan kecuali menebarkan cinta dan kasih sayang bagi semua.

Nasionalisme?


Pria belia, usia 20 tahun. Menghadap penghulu untuk menikahi seorang gadis usia 16 tahun. Pria muda itu, berdandan dengan pakaian jas, pentalon dan dasi. Sang penghulu ketika melihat pria itu, dengan lembut menasehati 
“ Anak muda” Katanya. ”dasi adalah pakaian orang yang beragama Kristen… tidak sesuai dengan kebiasaan kita dalam agama Islam.”
”Sudah di perbaharui”. Pria itu membela diri. 
“Pembaharuan itu hanya terbatas pada pantalon , dan jas buka” kata penghulu dengan nada membentak.
‘ Tak sudi “ Kata pria itu dengan tegas menyikapi suara keras dari penghulu“Biar Nabi sendiri sekalipun tak kan sanggup menyuruhku untuk menanggalkan dasi”. Sambungnya. Maka ia bangkit dari kursi dan mengancam membatalkan akad nikah, jika ia harus mencopot dasi. Ketika penghulu tak mau mundur, mempelai itu berkata: ”Persetan, tuan-tuan semua. Saya pemberontak dan saya akan selalu memberontak. Saya tak mau di dikte orang di hari perkawinan saya.”

Suasana tegang. 

Ada si Alim yang berada di tengah acara ijab kabul itu yang berdiri untuk mengambil alih tugas penghulu dalam prosesi pernikahan itu. Akhirnya akad nikah dilakukan sesuai kehendak Pria muda itu, bukan oleh si penghulu, melainkan oleh seorang alim yang ada di antara tamu. Pria muda itu, suatu kelak menjadi tokoh pergerakan nasional yang berhasil mendobrak kepongahan kolonialis Belanda. Ia adalah Soekarno. Apakah sikap Soekarno itu mencerminkan dia tidak paham agama? Justru Soekarno sangat paham agama. Melebihi penghulu yang bersorban itu.  Itu berkat didikan dari H.O.S. Tjokroaminoto, pemimpin Sarekat Islam, pengusaha yang ulama, ulama yang tidak hidup dari dakwahnya tapi berkorban demi dakwah, yang juga adalah ayah mertuanya sendiri. Soekarno adalah kader pergerakan syarikat islam. Karena itulah seorang ayah tokoh pergerakan islam, ikhlas menyerahkan anak gadisnya kepada Soekarno.

Syahdan, pada 1939 ada sebuah berita tentang Bung Karno: ia meninggalkan sebuah rapat Muhammadiyah sebagai protes. Bung Karno tak setuju karena ada tabir yang dipasang di sana untuk membatasi tempat perempuan dengan tempat laki-laki. Maka koresponden Antara pun mewawancarainya. Bung Karno menegaskan: tabir tampaknya soal kecil, soal kain yang remeh. Tapi sebenarnya soal maha besar dan maha penting, sebab menyangkut posisi sosial perempuan. ”Saya ulangi: tabir adalah simbol dari perbudakan kaum perempuan!” Bagi Bung Karno, tabir adalah aturan agama yang lahir dalam sejarah sosial. Seperti halnya kolonialisme, ”perbudakan” seperti itu bukan hasil dari sabda yang kekal. Ia akan berubah. Ia bisa diubah. Juga Hatta, Tan Malaka, dan sebelumnya Tjipto Mangunkusumo dan Soewardi Soerjaningrat. Pergerakan menentang kolonialisme Belanda telah melahirkan sebuah nasionalisme yang lain: melihat ke depan. Nasionalisme itu berkait dengan agenda modernitas, dan islam harus di garis depan dalam hal modernitas ini. Nilai islam sebagai obor pembaharuan yang di canangkan Rasul harus benar benar menjadi rahmat bagi semesta. Perjuangan islam juga adalah perjuangan kaum terpelajar, adalah bagaimana membebaskan indonesia dari penjajahan sistem tapi juga pembebasan dari tradisi kolot, penuh mistik, taklik buta.

Penjajahan dalam konsep pemikiran dengan dalil agama, idiologi, yang membuat manusia malas berpikir bebas, adalah sumber kemunduran. Karena Keistimewaan manusia ada pada kebebasan bersikap dan berpikir. Tuhan menciptakan manusia dengan akal yang di beri kebebasan menentukan pilihan. Sangking bebasnya, sorga dan neraka pun di ciptakan. Silahkan pilih. Karena kalaulah Tuhan ingin semua seperti Tuhan mau, tentu akan mudah sekali dengan KeMaha KekuasaanNYA. Tapi adakah keimanan yang sejati dengan pemaksaan?. Adakah kehidupan dengan pemaksaan?. Dengan taklik?. Karenanya hanya orang bego yang mau di atur oleh pemikiran orang lain, dan hidup mendera dalam kebahagian semu di bawah status pengekor. Dia hanyalah kunang kunang, bukan lebah. Soekarno sadar , sebetulnya sebelum Belanda atau asing menjajah bangsa Indonesia, bangsanya sudah terjajah lebih dulu oleh tradisi agama dan budaya yang memenjarakan akal. Kekuatan pikiran terabaikan sudah.

Memahami kekuatan pikiran ini memang tak jauh dari hal pertama, bahwa kita menciptakan kejadian di alam semesta ini bersama Tuhan. Kedua, kita bekerja sama dengan Tuhan untuk menciptakan berbagai peristiwa yang kita kehendaki. Artinya Allah itu sangat dekat dengan kita. Bahkan kalangan ahli tasawuf mengajarkan manusia harus memikirkan diri sebagai manifestasi Tuhan. God as me. Tuhan sebagaimana saya. Sebagaimana paham wahdatul wujud, bahwa kehendak seseorang bersatu dengan kehendak Tuhan. Pada tingkat tertentu, menurut pandangan itu, dalam pengalaman ruhani yang sangat tinggi, yakni paling ujung dari seluruh perjalanan sufi, manusia tidak lagi bisa membedakan mana dirinya dan mana Tuhan. Pada tahap ini kemampuan akal tak lagi berfungsi untuk membedakan antara khalik dan makhluk, antara Tuhan dan saya. Karena berbagai peristiwa di alam ini tak lepas dari hasil yang dibentuk oleh pemikiran kita, maka kita harus bertanggungjawab atas berbagai peristiwa di sekitar kita. Think twice before you speak, because your words and influence will plant the seed of either success or failure in the mind of another. 

Baik dan buruk hasilnya adalah pilihan cara kita berpikir. Andai ada orang lain berpikir negatif, pesimis, maka hindarilah karena kalau buruk yang terjadi maka kitapun ikut bertanggungjawab. Nampaknya , di era reformasi kini, tradisi lama itu ingin di hidupkan lagi oleh sebagian orang di mana nasionalisme Indonesia mengandung pesimisme. Sadarlah. Zaman terus bergerak ke depan. Tak ada yang bisa membendung waktu bergerak. Dan kemuliaan manusia semakin mendapat tempat bukan karena dokrin atau dalil atau tafsir tapi karena manusia semakin punya kemampuan akal untuk mencerna dan memahami Firman Tuhan, bahwa Islam itu adalah rahmat bagi alam semesta, bukan teror pemikiran atau senjata yang memaksa semua orang punya persepsi yang sama, dan akhirnya kekuatan pikiran melemah. Bukan.

Thursday, October 13, 2016

Kebersamaan..



Saya akui takdir saya tidak di lahirkan sendirian di bumi ini. TIdak di lahirkan secara ekslusif. Apa yang ada pada saya juga ada pada orang lain. Karena itu Tuhan menjamin rezeki saya untuk memakmurkan bumi dengan cinta. itulah keadilan Tuhan yang saya imani tanpa pernah saya ragukan sedikitpun.Yang harus saya akui itu sebagai fitrah saya sebagai manusia. Mindset ini di tanamkan oleh kedua orang tua saya selama mendidik saya. Itu sebabnya dari 7 orang anaknya hanya dua yang menikah dengan orang satu suku padang, lainya menikah dengan suku jawa, banten. Kedua anak saya , yang putra menikah dengan wanita keturunan India dan Jawa Solo. Ayahnya asal India, dan ibunya asal Solo. Putri saya menikah dengan pria keturunan Arab-Solo. Ayahnya keturunan Arab dan ibunya keturuan dari keluarga Solo. Saya terima dengan suka cita sebagai bagian dari keluarga saya, dan bagian dari keyakinan akan fitrah manusia yang terlahir walau bersuku suku namun tidak membuat perbedaan itu berjarak. Kebersamaan untuk saling mengenal dan mendapatkan hikmah, betapa kebersamaan itu indah.

Kalau sampai kedua putra putri saya memilih pasanganya seiman , itu bukan berarti mereka memilih teman hanya orang yang seiman saja. Bukan. Saya didik mereka untuk berteman dengan siapapun. Utamakan ketulusan bersahabat karena Tuhan. Sebisa mungkin berbagi dan jangan berharap kembali. Kalau baik yang di dapat ya syukuri ,kalau tidak baik ya bersabar. Jangan salahkan agama, kalau manusia jahat. Jangan membeci manusia kalau dia jahat tapi bencilah dengan sifatnya. Apapun yang di alami dari interaksi dengan sesama manusia, itu bukanlah antara kita dengn orang lain tapi antara kita dengan Tuhan, sebagai proses melatih diri menjadi sempurna. Karena sebaik apapun kamu berteman, teman falsu akan selalu ada. Seberapa ikhlas kamu memberi, teman yang tak berterimakasih akan selalu ada. Seberapa kuat kamu menjalin kedekatan, teman yang menjauh akan selalu ada. Jadi tak usah di masukan hati dan kecewa sehingga membuat kamu ragu mencari teman, ragu memberi, ragu berbuat baik. Teruslah lakukan hanya karena Tuhan dengan tetap berprasangka baik kepada siapapun.

Dalam bisnis yang saya gelutin , saya bermitra dengan warga intas benua dan di dalam negeri saya bermitra dengan hampir semua etnis yang ada di Indonesia. Walau kami berbeda suku, agama dan wara kulit. Tidak pernah dalam kemitraan itu kami bersinggung rasa hanya kami berbeda karena agama atau entis atau bangsa. Bahkan dalam  dialogh ringan, kalau sudah masuk ke wilayah agama atau wilayah private, kami berusaha satu sama lain untuk mengerti dan memahami. Karena apapun agama kita, orang tidak akan bertanya terlalu jauh selagi akhlak kita baik, dengan menjaga commitment, punya emphati, dan mudah berdamai dalam perbedaan tanpa ada niat untuk membuat orang tersinggung dengan ke imanan kita. Agama itu kalau di analogikan sama dengan sebuah pohon, dimana bersendikan tiga hal yaitu pertama, Tauhid yang merupakan akar dari agama. Kedua, adalah syariat yang merupakan dahan, ranting dan cabangnya. Ketiga, akhlak yang merupakan buah. Pohon hanya bermanfaat apabila berbuah. Walau pohon itu kokoh berakar kuat, berdahan rindang , namun tanpa buah , ia bukan apa apa. Hanya simbol bisu diatas tanah subur. Itu aja.

Anak ku, Mari  berusaha memberikan buah agama kepada orang banyak dan orang merasakan kehadiran agama, kehadiran Tuhan di bawah Pohon itu, duduk bersama mensyukuri kehidupan. Tak terdengar debat dan hujat merasa paling benar soal Tauhid dan syariat. Karena di senja yang temaram, mereka saling berbagi. Malam menjemput dengan rasa syukur karena besok mentari pagi akan hadir kembali membawa harapan. Kehidupan memang indah dan kehadiran Tuhan di rasakan di setiap detak jantung dan tarikan nafas..., Anakku kita terlahir karena kasih Tuhan. Kalau kita berbeda kulit, nasif, jenis kelamin ,agama, itu bukan karena kasih Tuhan berbeda. TIdak anakku. Kasih Tuhan itu kepada siapapun nak, selalu sama. KasihNya melimpah tak terbilang. Jangan karena perbedaan membuat kamu membenci dan antipati. Kalaupun ada perbedaan disisi Tuhan setelah manusia mennggal, itu hanya karena akhlak. Sebaik baiknya manusia di sisi Tuhan karena Akhlaknya baik. Alhamdulilah kedua putra putri saya ketika menentukan pilihan pasangan hidupnya ya akhlak sebagai pertimbangan utama, bukan suku, titel, harta, kancantikan atau kegagahan. .

Monday, October 10, 2016

Memenangkan hati


Dia bukan orang kaya. Dia hanyalah seorang dosen teknik di sebuah universitas. Hidupnya sederhana karena penghasilannya pun sederhana. Beda dengan Erdogan yang sebelum terpilih jadi gubernur dia seorang pengusaha. Dengan kesederhanaannya itu dia selalu hadir di setiap sholat subuh di masjid. Kegiatan rutinnya bukan berdakwah dari masjid ke masjid tapi menjadi Makmum sama seperti rakyat kebanyakan.Karena semua orang tahu dia seorang pahlawan revolusi menjatuhkan raja yang tiran , maka diapun menjadi tempat berkeluh kesah rakyat atas keadaan pemerintahan setelah revolusi . Rakyat mengeluhkan kurangnya rasa keadilan dan semakin jauhnya kemamkmuran karena sistem politik yang baru berdasarkan demokrasi membuat proses politik semakin lambat dan brengsek. Dia mendengar dengan seksama namun tak pernah sekalipun dia hanyut dalam diskusi menghujat para pemimpin.

Dengan rendah hati, dia mengajak orang ramai untuk bersabar dan memberikan kesempatan pemimpin menyelesaikan janjinya. Semua sedang berproses sampai sistem pemerintahan Iran yang menggunakan jalan demokrasi memilih pemimpin dapat mencapai kesempurnaan. Lambat laun orang pun minta dia berbicara di mimbar seusai sholat. Namun dalam dakwahnya dia lebih menekankan akhlak cinta untuk menjadi perekat kesatuan dan persatuan di antara rakyat Iran. Pemimpin hanya alat kekuasaan yang di create oleh rakyat dan rakyat yang baik akan menghasilkan pemimpin yang baik. Tanpa janji pembawa kotak pandora untuk lahirnya kemakmuran tanpa kerja keras. Tanpa menyitir firman Allah agar berkiblat kepada dia. Tanpa uang yang di bagikan agar dia terpilih. Tanpa poster dan slogan disetiap spanduk di tengah kota. Tanpa merubah gaya hidupnya yang tinggal di rumah sederhana kendaraan tua. Tanpa kata penuh agitasi terhadap lawan politiknya. Dia terus menemui rakyat dari satu masjid ke masjid lainnya tanpa bicara politik apalagi menghujat lawan. 

Diapun akhirnya terpilih sebagai Walikota Teheran dalam pemilu langsung dan kemudian dengan suksesnya sebagai walikota, mengantarkannya sebagai Presiden Iran dalam dua periode. Di masanya Iran menghadapi embargo ekonomi dunia barat dan AS namun di tengah embargo itu dia berhasil membangun semangat kemandirian rakyat Iran. Sehingga Iran tetap bisa membangun , bahkan lebih hebat dari sebelum di embargo. Ya, politik dalam sistem demokrasi adalah seni memenangkan hati pemilih. Orang jatuh cinta karena akhlak. Akhlak itu adalah bukan hanya mencintai pemilih tapi juga yang tidak memilihnya. Mencintai bukan hanya kepada teman tapi juga kepada lawan...Orang yang berharap terpilih karena patron agama sebetulnya orang yang tidak punya stok cinta melimpah di dalam dirinya dan dia kehilangan cara untuk merebut hati pemilih kecuali menggunakan firman Allah , dan yang mempercayainya hanyalah orang yang juga miskin cinta namun hidup dalam imajinasi bahwa Firman bisa memakmurkan tanpa perlu kerja keras…

Ada teman non muslim bertanya kepada saya mengapa umat Islam sulit sekali bersatu dalam beragama ? Saya terdiam. Mengapa ? Menurut saya memang tidak seharusnya orang di luar Islam tahu bahwa umat Islam sulit di persatukan. Tapi karena adanya medsos , dan banyak orang Islam yang coba membahas masalah agama kontemporer secara terbuka , debat pun bisa di ketahui secara terbuka. Bahkan debat ini sampai terkesan merasa paling benar dan sempat sempatnya saling menghujat.Dan ketika pemahaman agama masuk dalam wilayah politik maka keadaan semakin memalukan. Sesama umat Islam saling menyalahkan dan mulailah perang dalil. Bahkan apabila lawan politik merasa di sudutkan karena dalil agama, diapun bebas menggunakan dalilnya menyerang balik. Dan orang lain dengan tersenyum seakan berkata," Bagaimana bisa meyakinkan orang lain agama, sesama Anda saja tidak bisa saling meyakinkan. Agama apa yang sedang Anda perjuangan kan kalau hanya karena pandangan saja kalian saling berebut kavling sorga. Pantas aja lawan si A yang bukan ahli agama, kalah. Dan bukan engga mungkin lawan yang beda agama, bakal kalah lagi.”

Memang tidak seharusnya Islam di bahas di depan publik bila hanya sepotong potong saja. Contoh memandang Islam secara Ilmu Hukum dan Fiqih saja, menyebabkan terjebak pada pertentangan pendapat antar mazhab, dan terjadi perpecahan di tubuh ummat, timbul perselisihan dan cekcok. Karena yang dikaji mana yang halal dan haram, mana yang sunnah dan yang bid'ah, yang dilarang dalam Islam. Sehingga dari mulutnya yang keluar adalah kata-kata haram, dan bid'ah saja, ketika harus dihadapkan pada problematika masyarakat. Islam pertama kali di dakwahkan Rasulullah adalah "Laa ilaaha illallah "Tiada tuhan selain Allah. Berarti masalah Aqidah yang diutamakan dan yang pertama sekali ditanamkan pada ummat Islam. Bukan fiqih. Seandainya Fiqih duluan, tentu yang pertama sekali diajarkannya adalah Sholat dan perangkat-perangkatnya seperti bersuci dan berwudhu'. Tetapi Rasul tidak mengajarkan sholat duluan. Karena begitu banyaknya lapangan kehidupan, tidak semuanya dijelaskan secara detail dalam Islam, cukup hal-hal pokok, seperti Sholat, zakat, haji, warisan dan sebagainya. Sedangkan hal-hal yang bersifat teknis keduniaan, rasul menyerahkan pada keahlian masing-masing.

Sebaiknya gunakan medsos hanya berkaitan dengan bagaimana memperkenalkan Islam sebagai rahmatan lilalamin, kekayaaan akhlak Islam yang menetramkan dan mendamaikan , itulah syiar yang menyejukkan. Kalau internal kita damai maka keluar menjadi teladan dan mengharumkan agama itu sendiri. Siapapun pemimpin Islam, dia akan di ikuti bukan karena dia bicara politik tapi karena kehidupan kesehariannya adalah pribadi yang agung, menentramkan siapapun, mendekatkan yang jauh, dan merapatkan yang dekat. Apabila siapapun kita, selagi menggunakan akhlak untuk berhubungan dengan sesama manusia, maka merebut hati siapapun juga tidak perlu ongkos mahal, ia akan datang dengan sendirinya. CInta akan menemukan jalannya sendiri walau di hujat, dan terasing dari kejauhan..

Al Quran dan Sains soal terciptanya semesta.

  “ Aku kehilangan paham.  Mengapa orang bersusah payah untuk mengimani Allah. Tinggal percaya saja, selesai. Masuk sorga. “ Kata Sukri wakt...