Posts

Showing posts from September, 2011

Akses informasi

Image
Tadi pada waktu dipesawat saya bertemu dengan anak muda. Dia bercerita baru kembali dari Guangzou setelah perjalanan ke Timur Tengah. Ada sedikit geramnya karena melihat salah satu penumpang yang membawa barang belanjaan cukup banyak. Dia bilang, orang Indonesia memang gemar belanja. Kalau punya , jadi maniak belanja. Saya hanya tersenyum. Ketika saya tanyakan kerjaannya. Dia mengaku sebagai pengusaha tanpa kantor namun omzet puluhan juta dollar setahun. Saya sempat berkerut kening. Apakah anak muda ini pialang saham ? Kalaupun benar, dalam kondisi sekarang tak bisa berharap banyak untung besar. Dalam keadaan tanda tanya itu, dia menjelaskan bidang usaha yang sedang digeluti. Dia memanfaatkan pasar Electronic audio system di Afrika dan Timur Tengah serta Amerika Latin. Jadi dia Exportir. Wah hebat. Tapi bagaimana tanpa kantor? Apalagi pasti engga ada pabrik dan gudang. Dia menjelaskan seluk beluk bisnisnya. Dia membuka virtual office di Paris ,Francis. Tujuannya mendapatkan

Cinta dan hakikat

Image
Jam 4 sore usai bersibuk diri dengan urusan yang melelahkan. Badan terasa lemah. Teman saya mengatakan bahwa tubuh saya tidak punya masalah hanya mungkin otak saya overload . Makanya tubuh bereaksi untuk minta istirahat.Ini proses recovery , katanya. Ya dia minta saya untuk refresh system tubuh saya. Caranya ya istirahat sebelum memulai aktifitas kembali. Saya butuh istirahat, tidur barang sejenak. Tapi tidak mungkin karena setelah sholat ashar saya juga harus sholat Maghrib. Kalau tidur setelah ashar,bisa bablas sholat maghrib. Saya memilih untuk sauna yang memang disediakan fasilitanya oleh pengelola apartement. Ketika usai sauna saya bersantai diruang istirahat sambil nonton TV yang menayangkan Discovery Channel . ketika itu parhatian saya teralihkan kepada sepasang suami istri lanjut usia. Mereka sambil duduk bersebelahan dikorsi santai nonton TV dan tangan mereka tetap saling menggenggam. Kadang kadang nampak sang suami melirik istrinya dengan wajah tersenyum. Begitupula

Peduli

Image
Sampai di stasiun Luohu ( Shenzhen) jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Perut mulai terasa perih untuk mita diisi. Saya melangkah keluar stasiun dan kemudian menyeberang jalan kearah Shangrila Hotel. Terus menyusuri jalan. Disisi trotoar jalan nampak berjejer restoran cepat saji. Saya memilih KFC yang mudah dan cepat untuk segera menuju hotel. Walau sudah mendekati tengah malam namun antrian didepan kasir masih cukup panjang. Dengan sabar saya ikut antrian sambil menerima telp dari teman. Ketika itu dibelakang saya nampak seorang pria dengan pakaian kumal. Aromanya cukup menusuk hidup. Namun saya tetap menahan tanpa mendekap hidung saya. Pria itu tersenyum kearah saya. Saya mengangguk dengan ramah. Di belakang pria itu sudah ada pula antrian tiga orang. Namun sekonyong konyong nampak menejer restoran itu mendekati pria itu. Dengan ramah manager itu menuntun pria itu mendekati kasir. Dengan ramah pula manager itu memohon pengertian para pelanggan agar mengutamakan pria itu. Semua me

Goncangan hidup

Image
Kemarin ketemu teman dalam kesempatan makan malam di South Pacific Hotel, Hong Kong. Kebetulan dia ada disana bersama relasinya. Lama kami tidak bertemu. Saya senang melihat dia sehat dalam usia mendekati setengah abad. Kami satu usia. Juga sangat akrab sebelumnya. Jadi saya mengenal dia dan juga keluarganya dengan baik. Usai dengan acara masing bersama relasi, kami ngobrol santai di Top Floor Executive Lounge . Dia bercerita tentang pengalaman hidupnya yang tidak saya ketahui setelah lebih 10 tahun tidak bertemu. Pabriknya di Tangerang terpaksa ditutup dan dilelang oleh BPPN. Setelah itu istrinya minta cerai. Anaknya yang tertua sekolah di Amerika dan memilih untuk tidak ingin pulang ke Indonesia setelah mengetahui orang tuanya bercerai. Anaknya yang nomor dua ikut sama istrinya. Mitra bisnisnya menghilang begitu saja ketika mengetahui dia jatuh miskin. Ada niat untuk pulang kampung tapi tidak tahu mau ngapain. Saya terharu mendengar ceritanya itu. Tapi dia nampak tegar dan seakan s

Bersegeralah.....

Image
Tiga bulan lalu ibu saya pernah meminta uang untuk sewa rumah. Saya sempat terkejut ketika beliau bicara sewa rumah. Untuk apa rumah ? Belum sempat saya bertanya, ibu saya langsung menjelaskan rencananya untuk menyediakan rumah panti bagi anak yatim dan fakir miskin. Saya empat tertegun. Apakah ibu saya serius dengan tekadnya. ? Karena usianya sudah 70 tahun. Membangun panti bukanlah soal mudah. Karena siapa yang akan menjamin makan anak panti itu? Bagaimana biaya pendidikan mereka ? bagaimana kesehatan mereka. Tentu itu semua harus dijawab dengan biaya yang tidak sedikit. Nah, darimana uangnya. Wong rumah untuk tempat bernaung anak panti saja sewa. Belum sempat saya bertanya prihal ini, ibu saya menyambung penjelasannya bahwa dia akan menyewa rumah di daerah pemukiman padat penduduk. Ketika itu saya hanya diam. Saya yakin ibu saya hanya bermimpi. Saya hanya tersenyum. Kemarin ketika idul fitri saya pulang ke kota tempat tinggal ibu saya. Ibu bercerita tentang rumah panti Asuhan