Posts

Showing posts from September, 2013

Jokowi dan ulama?

Image
Minggu lalu saya diskusi dengan ibu saya mengenai pribadi ulama. Saya tahu bahwa ibu saya seorang ulama yang telah mendedikasikan hidupnya untuk syiar islam lebih dari 30 tahun. Selama lebih 10 tahun beliau memberikan siraman rohani untuk penghuni penjara wanita. Juga selalu hadir seminggu sekali di Rumah sakit untuk memberikan siraman rohani kepada pasien rumah sakit. Ibu saya juga selalu hadir bila diundang ke lokalisasi pelacuran untuk memberikan siraman rohani. Mengapa beliau harus mendatangi penghuni penjara, orang sakit dan pelacur? Menurut ibu saya bahwa mereka adalah hamba Allah. Mereka terperosok kelembah nista karena mereka lupa. Allah sangat mencintai makhluk ciptaannya bernama Manusia. Sangat. Itulah sebabnya Al Quran diturunkan dan Rasul dikirim. Semua itu  agar sunattullah berlaku untuk tagaknya akhlak dimuka bumi demi keselamatan manusia. Ulama adalah penerus para Nabi. Tugas ulama adalah mengingatkan mereka yang lupa itu. Ini pangilan tugas. Setiap ulama merasa terpang

Mengoptimal lahan Masjid

Image
Tahun 2002 saya pernah membawa tamu dari London berkunjung ke Bandung. Dia ingin sekali melihat tempat diselenggarakannya konprensi Asia Afrika Dia sahabat muslim saya yang mempunyai kantor konsultan di London. Dalam perjalanan itu kami mampir sholat di Mesjid yang sangat megah,  terletak dijalur puncak. Nampak dia kagum akan kemegahan mesjid itu. Ketika itu dia berkata bahwa betapa banyaknya masjid di Indonesia. Hampir dimana mana terdapat menara masjid. Saya bilang bahwa Indonesia adalah Negara sejuta masjid. Dia tersenyum. Menurutnya alangkah hebatnya bila Masjid yang begitu banyak digunakan juga sebagai sarana untuk menampung kaum miskin , para musafir dan balai kesehatan bagi kaum miskin. Tentu masalah mendasar Indonesia tentang bagaimana mengatasi kemiskinan dapat dengan mudah diselesaikan. Gerakan masjid adalah gerakan berjamaah, bukan hanya sholat tapi juga bertaaruf untuk bergotong royong menyelesaikan masalah umat.Tugas ulama bukan hanya menjelaskan haram dan halal, sorga at

Negara ...?

Image
Pagi itu dia datang kepada saya. Dengan santai dia berkata bahwa seorang neo-liberal adalah orang yang jengkel kepada “Negara”. Mengapa masih harus percaya dengan negara? Sangat lucu demo yang ada di media social atau di bundaran HI, mereka meneriakan tuntutan dari delapan penjuru mata angin: Hapus system out sourcing. Naikan gaji buruh. Habisi egoism. Lawan kapitalisme brengsek.  Singkirkan para bedebah yang buat aturan untuk kepentingan pemodal.  Jadikan agama sebagai satu satunya sumber kebenaran dan telanjangi para ustadz yang bertarif bak selebritis.  Banyak lagi tuntutan itu datang. Negara senang karena diharapkan dan dituntut agar mereka terus bebas memajaki rakyat. Jangan bicara soal pajak, kemana hasil Tambang ? kemana?? Kami butuh konpensasi atas SDA kami tapi subsidi BBM dikurangi. Kalian brengsek. Harus diakui, ada nada simpati terhadap Negara—dan mungkin itu yang membedakannya dengan mereka yang disebut “neo-liberal” atau siapa saja yang dianggap penganut pemikiran ekonom

Profesi Petani...?

Image
Siapa bilang petani itu bodoh dan lemah? Mereka cerdas dan kuat. Cerdas karena mereka tahu berlaku patuh kepada pemimpin yang adil dan masa bodoh dengan pemimpin yang culas. Kuat karena mereka tidak pernah mengeluh walau nasip mereka dipermainkan oleh penguasa yang lalim. Mereka kuat ditengah rupiah yang terpuruk, Mereka kuat ditengah difisit neraca perdagangan. Mereka kuat ditengah para pejabat yang tak henti mengemis bantuan kepada fiund manager dan underwriter obligasi valas.  Mereka kuat ditengah para pejabat bermental bedebah. Ya, mereka  adalah mayoritas populasi negeri. Mereka tinggal  dilereng gungung, dipelosok desa , dilembah. Mereka tak akan pernah mengerti apa itu indicator economic macro yang bicara percentase economic growth, inflasi, neraca pembayaran, kurs rupiah, atau apalah. Mereka tidak peduli dengan korupsi dan gratfikasi. Juga tida peduli dengan para penguasa kaya raya dari hasil korup sementara mereka miksin dan lapar. Mereka juga tidak ada waktu untuk berpikir t

Berbagi...

Image
Albert Hirschman mengatakan dalam esainya, Against Parsimony: Three Easy Ways of Complicating Some Categories of Economic Discourse: ketika kapitalisme bisa meyakinkan setiap orang bahwa ia dapat mengabaikan moralitas dan semangat bermasyarakat, public spirit, dan hanya mengandalkan gairah mengejar kepentingan diri, sistem itu akan menggerogoti vitalitasnya sendiri. Sebab vitalitas itu berangkat dari sikap menghormati norma-norma moral tertentu, sikap yang katanya tak diakui dan dianggap penting oleh ideologi resmi kapitalisme. Kini memang terbukti: Pasar yang hanya mengakui bahwa rakus itu bagus seperti yang dikumandangkan oleh risalah macam The Virtue of Greed dan In Defense of Greed pada akhirnya terguncang oleh skandal Enron, Madoff, Lehman Brothers. Begitupula ketika Century Gate terungkap namun tak bisa tuntas dan akhirnya rupiah terpuruk , inflasi dua digit dengan harga ikut pula melambung memenggal pendapatan para buruh, petani miskin. Kepercayaan runtuh, kita bertanya kep