Wednesday, September 25, 2013

Jokowi dan ulama?

Minggu lalu saya diskusi dengan ibu saya mengenai pribadi ulama. Saya tahu bahwa ibu saya seorang ulama yang telah mendedikasikan hidupnya untuk syiar islam lebih dari 30 tahun. Selama lebih 10 tahun beliau memberikan siraman rohani untuk penghuni penjara wanita. Juga selalu hadir seminggu sekali di Rumah sakit untuk memberikan siraman rohani kepada pasien rumah sakit. Ibu saya juga selalu hadir bila diundang ke lokalisasi pelacuran untuk memberikan siraman rohani. Mengapa beliau harus mendatangi penghuni penjara, orang sakit dan pelacur? Menurut ibu saya bahwa mereka adalah hamba Allah. Mereka terperosok kelembah nista karena mereka lupa. Allah sangat mencintai makhluk ciptaannya bernama Manusia. Sangat. Itulah sebabnya Al Quran diturunkan dan Rasul dikirim. Semua itu  agar sunattullah berlaku untuk tagaknya akhlak dimuka bumi demi keselamatan manusia. Ulama adalah penerus para Nabi. Tugas ulama adalah mengingatkan mereka yang lupa itu. Ini pangilan tugas. Setiap ulama merasa terpanggil untuk itu karena kecintaan mereka kepada Allah dan berkorban untuk Allah agar manusia semakin banyak yang dekat kepada Allah.  Lantas apa jadinya bila ulama atau ustadz atau ustadzah hanya akan datang kalau dibayar dengan tariff tertentu? Tanya saya. Ibu saya hanya menggelengkan kepala.

Saya tahu bahwa dari kegiatan itu semua, ibu saya tidak pernah mendapatkan honor. Bahkan untuk dapat akses kepenjara dan lokalisasi Pelacuran, ibu saya harus menembus birokrasi pemerintah agar mendapat izin ceramah agama. Diluar kegiatan itu, ibu saya juga punya kegiatan rutin sebagai ustadzah di majelis taklim. Karena ibu saya pengurus Panti Asuhan maka setiap kegiatan dakwahnya di majelis taklim maka tak lupa beliau mengimbau pada jamaah untuk ikut ambil bagian dalam kegiatan amal panti asuhan.  Honor yang dia terima dari jamaah disumbangkan semua untuk panti. Bukan itu saja, ibu saya berhasil menulis buku dan diterbitkan. Honor dan royalty dari buku itu disumbangkan semua untuk panti asuhan. Itulah yang saya ketahui tentang ibu saya.  Menurut ibu saya, apa yang diperjuangkan ulama sekarang tidaklah seberat perjuangan ulama ketika era paska Khalifah. Dulu belum ada alat transfortasi pesawat namun ulama datang ke Indonesia melewati samudera luas dan didera badai laut siang malam. Islampun diperkenalkan dan kita mendapatkan berkah islam karena itu. Ulama harus melewati gurun pasir terluas dengan keganasan alam yang gersang dan panas. Karena mereka agama tersebar keseluruh dunia. Jadi, sangatlah tidak bisa diterima bila ulama kini beralasan mereka perlu makan dan karenanya mereka perlu mendapatkan honor dari dakwahnya.

Karena itulah saya ingin tahu prinsip dari sifat ulama itu apa ? ibu saya mengatakan bahwa ulama itu harus 1. Hemat bicara. 2. Tidak menilai orang lain. Apa itu hemat bicara ? berbicara yang seperlunya. Setiap kata yang keluar harus bernilai dakwah dan sarat dengan ilmu. Kurangi bahasa tumbuh dan analogi. Karena ini bisa menimbulkan nafsu dan menjauhkan umat dari hakikat ilmu itu sendiri. Tapi bukankah bahasa tubuh dan analogi penting untuk membuat orang mengerti. Kata saya. Tugas ulama adalah menyampaikan dengan benar setiap firman Allah dan sunnah rasul.  Apakah umat akan paham atau tidak , itu bukan urusan Ulama. Pemahaman agama itu karena hidayah Allah, dan ini urusan Allah, bukan tanggung jawab ulama. Dalam ceramah, berusaha untuk tidak menilai orang lain. Siapapun dia , jangan dinilai. Andaikan memang pemerintah itu brengsek, tapi jangan nilia personnya. NIlailah systemnya dan sampaikan apa system yang terbaik menurut Al Quran dan hadith. Itu saja. Mengapa ? setiap tindakan orang pasti ada alasan. Setiap kebijakan orang pasti ada agendanya. Yang paling tahu alasan dibalik tindakan dan agenda itu , kan hanya Allah. Kita hanya menduga duga. Sekali kita menilai orang lain maka kita sedang menyampaikan suara iblis. Ujungnya hanyalah kebencian dan perpecahan.

Ustadz atau ustadzah atau ulama atau pemuka agama harus tampil digaris depan dengan sikap para sufi yang selalu jauh dari kemewahan dunia namun tangguh dalam berdakwah tanpa inferior complex dihadapan intellectual secular. Mereka ahli berdebat secara bijak tanpa membuat orang berbeda merasa disalahkan atau dilecehkan. Mereka ahli berwacana dan bersikap tanpa membuat orang lain digurui dan direndahkan. Walau hidup mereka sederhana namun mereka kaya spiritual sosialnya. Sangat kaya. Mengapa ? ya, Berkat mereka kegiatan amal membangun masajid, panti asuhan, dan program kepedulian social bagi kaum duapa dapat terlaksana. Orang termotivasi berkorban karena kerendahan hati mereka. Sikap rendah hati itulah yang selalu menimbulkan inspirasi bagi orang banyak untuk berjamaah dalam program cinta dan kasih sayang. Keadaan kini , kata saya , tidak banyak lagi ulama atau ustadzah atau ustadz, pemuka agama yang bisa bersikap rendah hati. Mereka kemaruk harta dan popularitas. Bahkan cenderung mengejar kekuasaan. Padahal kekuasaan adalah sesuatu yang sangat ditakuti oleh para ulama. Karena begitu besarnya cobaan yang diemban. Hanya orang sombong yang berharap kekuasaan , kecuali kekuasaan itu datang karena takdir maka ulama akan berserah diri kepada Allah.

Sikap rendah hati hanya lahir dari orang yang ikhlas. Apa kelebihan dari Jokowi. Sehingga hasil survey bisa mengalahkan semua capres. Jokowi tidak sepintar Anis Baswedan. Bukan lulusan Harvard seperti Gita. Bukan professor seperti Mahfud Md, bukan pula jenderal seperti Wiranto dan Prabowo. Bukan konglomerat seperti Hari Tanoe. Jadi apanya yang hebat? Rendah hati berbuat dan bersikap. Inilah kelebihan Jokowi. Inilah yang paling sulit didunia dan tidak ada ilmunya karena dasarnya harus IKHLAS. Ikhlas itu sangat berat ...sangat. Jokowi bukan kaliber ulama hebat tapi dia mewarisi sifat ulama sejati yaitu ikhlas dengan pribadi yang rendah hati dalam bersikap maupun berbuat. Tidak terdengar dia bicara banyak , apalagi menilai orang lain dengan prasangka buruk. Tidak nampak dia memperkaya diri dengan jabatannya. Sebagian  gajinya disedekahkan untuk orang tidak mampu. Karena itu rakyat mencintainya.

Thursday, September 19, 2013

Mengoptimal lahan Masjid

Tahun 2002 saya pernah membawa tamu dari London berkunjung ke Bandung. Dia ingin sekali melihat tempat diselenggarakannya konprensi Asia Afrika Dia sahabat muslim saya yang mempunyai kantor konsultan di London. Dalam perjalanan itu kami mampir sholat di Mesjid yang sangat megah,  terletak dijalur puncak. Nampak dia kagum akan kemegahan mesjid itu. Ketika itu dia berkata bahwa betapa banyaknya masjid di Indonesia. Hampir dimana mana terdapat menara masjid. Saya bilang bahwa Indonesia adalah Negara sejuta masjid. Dia tersenyum. Menurutnya alangkah hebatnya bila Masjid yang begitu banyak digunakan juga sebagai sarana untuk menampung kaum miskin , para musafir dan balai kesehatan bagi kaum miskin. Tentu masalah mendasar Indonesia tentang bagaimana mengatasi kemiskinan dapat dengan mudah diselesaikan. Gerakan masjid adalah gerakan berjamaah, bukan hanya sholat tapi juga bertaaruf untuk bergotong royong menyelesaikan masalah umat.Tugas ulama bukan hanya menjelaskan haram dan halal, sorga atau neraka tapi bagaimana membangkitkan motivasi bagi umat untuk membantu kaum duafa.  Ya dari umat untuk umat demi meninggikan kalimat Allah. Bukankah begitu kata Allah dalam Surat Al Maun. Demikian katanya yang tak pernah saya lupa.

Idenya itu pernah saya bicarakan kepada Ibu saya yang memang aktifis Aisiyah. Menurut ibu saya memang Muhammadiah dan Aisyiah punya program membangun masjid dan itu selalu dilengkapi dengan Balai Kesehatan dan Pendidikan namun memang tidak menyediakan tempat tinggal untuk orang miskin. Tapi kalau pemerintah punya ide mengoptimalkan fungsi lahan disamping masjid juga tempat tinggal kaum miskin maka ibu saya yakin pengurus Muhammdiah akan mendukung program itu. Sangat mendukung. Karena ini perintah Allah yang tertuang dalam Al Quran Surat Al Maun. Islam harus peduli kepada kaum miskin dan tempat tinggal adalah kebutuhan mendasar bagi setiap manusia. Tahun 2013 ide teman saya itu diaktualkan oleh Ahok. PEMDA DKI berencana untuk membongkar  Masjid Baitul Arif yang terletak di Jalan Jatinegara Barat, Jakarta Timur,  untuk keperluan pembangunan rumah susun (Rusun). Masjid tidak dihilangkan tapi dipugar dengan menambahkan fungsi lahan itu untuk membangun RUSUN bagi kaum miksin. Diatas lahan itu juga akan disediakan PUSKESMAS dan Tempat pendidikan untuk kaum miskin perkotaan. Design nya bisa saja Masjid berada dilantai dasar atau dilantai atas. Namun ide ini hanya untuk Masjid yang  berada di atas tanah Negara. Secara hukum PEMDA DKI berhak untuk mengoptimalkan lahan negara dan itu adalah amanah UU dimana setiap pemimpin harus melaksanakannya. Umat islam harus menyikapi kebijakan ini dengan bijak tanpa terpancing provokasi.

Memang saat sekarang Jokowi Ahok sedang berjuang untuk memenuhi target membangun RUSUN bagi kaum miskin perkotaan. Namun untuk mendapatkan lahan di tengah kota Jakarta yang kosong tidaklah mudah, apalagi untuk RUSUN yang tidak ada nilai komersialnya. Alangkah baiknya bila ide ini disikapi positip oleh Dewan Masjid Indonesia yang diketuai oleh JK agar Pemda juga mengoptimalkan lahan masjid milik umat bagi pembangunan RUSUN serta program social lainnya dari PEMDA. Nah,bayangkanlah , andai optimalisasi lahan majid disetujui oleh umat islam maka pengadaan RUSUN untuk rakyat miskin perkotaan akan lebih cepat terlaksana. Hitunglah berapa masjid besar yang ada di DKI dan hitunglah berapa RUSUN yang bisa dibangun diatas lahan masjid itu. Ini bukan jumlah sedikit. Ini merupakan solusi sosial yang menempatkan agama sebagai dasar untuk bersikap, yaitu menjadikan rumah Allah tempat yang aman bagi kaum duafa. Bagaimana tata kelola dari RUSUN yang berada diatas lahan Masjid ini maka PEMDA DKI dapat melibatkan ormas Islam dengan dukungan ulama untuk berperan serta bagaimana membina para penghuni RUSUN untuk  menjadikan spririt agama sebagai cara melawan kemiskinan yang bersandarkan kepada akhlak Al Quran. Mereka dilatih untuk gigih mencari rezeki dalam kejujuran serta hidup bersih dalam keharmonisan tetangga yang saling menyapa dan menjaga. 

Menurut saya ide mengoptimalkan fungsi lahan Masjid untuk pengadaan rumah bagi kaum miskin tidak akan bertentanngan dengan Al Quran. Mengapa ? karena sebetulnya didalam Al Quran amalan yang paling sering disebut adalah memberikan makan orang miskin. Pembangunan masjid malah tidak ada dalam Al Quran. Bahkan ada pembangunan masjid yang dikecam dalam Al Quran yaitu pembangunan Masjid Dhirar ( QS. Taubah (9) Ayat 107.). KH Ahmad Dahlan lebih takut dengan Surat Al Maun ketimbang seruan jihad membangun masjid. Karena itu ia mendirikan Muhammadiah untuk membantu kaum miskin mendapatkan akses pendidikan, kesehatan dan Rumah tinggal untuk anak yatim piatu.  Esensi masjid bukanlah dari keindahan masjid. Bukan. Tapi ramainya orang datang berjamaah dengan khusu serta dijalin oleh rasa persaudaraan yang tinggi. Sholat berjamah dan masjid adalah ujud social culture umat dalam memahami syariat Agama. Bahwa kebersamaan itu adalah segala galanya,. Alangkah eloknya bila lahan masjid yang luas dengan lampu taman yang mahal dirubah fungsinya untuk tempat tinggal bagi kaum miskin sehingga mereka tidak harus tidur dipinggir jalan, distasiun atau di pasar. Para ulama harus sebagai mentor untuk memeriahkan masjid dalam nafas perjuangan itu. Sehingga tak lagi nampak Masjid harus dijaga oleh Satpam, Tak harus masjid terkunci rapat ketika tidak dipergunakan untuk sholat berjamaah. Masjid 24 jam terbuka bagi siapa saja yang butuh perlindungan dari dunia luar yang kadang tak lagi ramah.

Monday, September 16, 2013

Negara ...?

Pagi itu dia datang kepada saya. Dengan santai dia berkata bahwa seorang neo-liberal adalah orang yang jengkel kepada “Negara”. Mengapa masih harus percaya dengan negara? Sangat lucu demo yang ada di media social atau di bundaran HI, mereka meneriakan tuntutan dari delapan penjuru mata angin: Hapus system out sourcing. Naikan gaji buruh. Habisi egoism. Lawan kapitalisme brengsek.  Singkirkan para bedebah yang buat aturan untuk kepentingan pemodal.  Jadikan agama sebagai satu satunya sumber kebenaran dan telanjangi para ustadz yang bertarif bak selebritis.  Banyak lagi tuntutan itu datang. Negara senang karena diharapkan dan dituntut agar mereka terus bebas memajaki rakyat. Jangan bicara soal pajak, kemana hasil Tambang ? kemana?? Kami butuh konpensasi atas SDA kami tapi subsidi BBM dikurangi. Kalian brengsek. Harus diakui, ada nada simpati terhadap Negara—dan mungkin itu yang membedakannya dengan mereka yang disebut “neo-liberal” atau siapa saja yang dianggap penganut pemikiran ekonomi Milton Friedman. Jangan berharap negara jadi malaikat atau Tuhan yang bisa memenuhi semua tapi jadikan negara sebagai perantara untuk menguras semua yang ada dan memakmurkan kita , bukan para buruh, tani, nelayan. Beri negara sedikit, kuasai banyak. Beri buruh gaji untuk makan namun jangan buat mereka kaya sehingga menjadi pemodal.

Negara adalah “sosok yang misterius, dan yang pasti sosok yang paling banyak menerima permintaan, yang paling tersiksa, paling sibuk, paling dinasihati, paling disalahkan, paling dituntut, dan paling diprovokasi di seluruh dunia”. Mengapa “Negara” diperlukan. Manusia, adalah makhluk yang menampik kepedihan dan penderitaan. Tapi manusia juga dihukum akan menderita kekurangan jika ia tak bekerja buat hidup. Maka ia menemukan cara: menikmati hasil kerja orang lain. Perbudakan bermula dari sifat itu. Tapi juga perang, perampasan, penipuan, dan hal-hal lain yang mengerikan tapi cocok dengan akal manusia untuk mengatasi dilemanya. Dengan kata lain: tak aneh. “Kita harus membenci dan melawan penindas, tapi kita tak bisa mengatakan mereka absurd, edan, dan tak masuk akal.”. Apalagi dalam perkembangannya, si penindas tak lagi berhubungan langsung dengan si tertindas. Dewasa ini antara penindas dan korbannya ada “perantara”, yaitu Negara. Dari sini definisinya yang orisinal: “Negara adalah satu entitas imajiner yang dipakai tiap orang untuk hidup dengan ongkos (dépens) orang lain.”. Definisi ini menohok tajam. Umumnya orang tak ingin mengakui secara terbuka bahwa, ia hidup dengan memanfaatkan kerja orang lain. Orang lebih suka menunjuk ke Negara dan menyuruh, “Hai kamu, yang bisa mengambil dengan adil dan terhormat, ambillah dari masyarakat dan bagikan kepada kami!”.

Mengaitkan Negara dengan hubungan eksploitatif—yang tak selamanya tampak—adalah juga yang tersirat dalam pikiran Marx. Saya tak yakin bapak sosialisme modern itu terilhami oleh Frédéric Bastiat, (1801-1850), yang meninggal hampir dua dasawarsa sebelum terbit Das Kapital. Tapi Marx juga melihat Negara bukan sebagai sebuah bangunan suci, melainkan sebagai instrumen represi dari satu kelas terhadap kelas lain. Hanya Bastiat sedikit lebih jeli: ia tak melihat Negara sebagai “sistem” atau “instrumen” semata-mata. Negara, dalam prakteknya, terdiri atas “para menteri kabinet, birokrat, orang-orang yang, pendek kata, seperti umumnya orang, menyimpan dalam hati mereka hasrat untuk memperbesar kekayaan dan pengaruh, dan dengan bersemangat menangkap kesempatan untuk itu”. Yang menarik tentulah pandangan yang sejajar tentang Negara itu: di satu sisi Marx, di sisi lain Bastiat yang punya gema dalam pemikiran kubu sebelah “kanan”: Hayek dan Friedman. Tak mengherankan: baik Marx maupun Bastiat bertolak dari pengalaman dalam ruang dan waktu. Marx menampik Hegel yang memandang Negara sebagai penubuhan dari ide; ia merumuskan Negara dari apa yang berlangsung dalam sejarah. Bastiat demikian pula: ia seorang pencatat, bukan teoretikus, bukan filosof. Schumpeter menganggapnya “wartawan ekonomi yang paling cemerlang yang pernah hidup”. Maka ia menemui fakta dan mencemooh “ilusi ganjil” tentang Negara.

Di atas saya kutip ia menyebut Negara sebagai “entitas imajiner”. Saya kira Bastiat melihat Negara sebagai proses politik, bukan satu bangunan yang mandek di atas pergulatan politik di mana ia berdiri. Sebab itu ia punya keterbatasannya sendiri: Negara tak terbentuk untuk bisa memuaskan semua orang di semua sudut sekaligus. Tiap politik punya utopia dan punya kalkulasi—dan di antara itulah hadir Negara.  Bastiat memang seorang “liberal” dalam pengertian politik Eropa—dan ia berbicara dengan nada yang ringan. Ia masih mengakui Negara sebagai “kekuatan polisi bersama” dengan cukup optimisme: baginya, kekuatan itu bisa dipakai bukan untuk merampok dan menindas, melainkan untuk “menjamin tiap orang haknya sendiri dan membuat keadilan dan keamanan menang”. Memang hanya seorang yang dogmatis yang bisa melihat Negara tanpa ambiguitas.

Tuesday, September 10, 2013

Profesi Petani...?

Siapa bilang petani itu bodoh dan lemah? Mereka cerdas dan kuat. Cerdas karena mereka tahu berlaku patuh kepada pemimpin yang adil dan masa bodoh dengan pemimpin yang culas. Kuat karena mereka tidak pernah mengeluh walau nasip mereka dipermainkan oleh penguasa yang lalim. Mereka kuat ditengah rupiah yang terpuruk, Mereka kuat ditengah difisit neraca perdagangan. Mereka kuat ditengah para pejabat yang tak henti mengemis bantuan kepada fiund manager dan underwriter obligasi valas.  Mereka kuat ditengah para pejabat bermental bedebah. Ya, mereka  adalah mayoritas populasi negeri. Mereka tinggal  dilereng gungung, dipelosok desa , dilembah. Mereka tak akan pernah mengerti apa itu indicator economic macro yang bicara percentase economic growth, inflasi, neraca pembayaran, kurs rupiah, atau apalah. Mereka tidak peduli dengan korupsi dan gratfikasi. Juga tida peduli dengan para penguasa kaya raya dari hasil korup sementara mereka miksin dan lapar. Mereka juga tidak ada waktu untuk berpikir tentang masa depan karena hari hari mereka hanya berkutat makan dan tidur, serta berdoa kepada Tuhan.

Mereka tidak pandai mendebat kebijakan Penguasa. Mereka sangat menghormati orang lain. Mereka mudah dimobilisasi untuk keperluan apa saja dan mudah pula dilupakan. Mereka ada dan perlu untuk melegitimasi kekuasaan bernama negara untuk menempatkan  sederet jenderal , insinyur, ekonom sebagai pemimpin. Teman di china  berkata kepada saya bahwa  China pernah memobilisasi para petani dalam satu barisan untuk meningkatkan produksi.  Apa yang terjadi setelah itu? tidak ada produktifitas. Kelaparan terjadi dimana mana. Rakyat patuh apa yang diperintahkan tapi bukan berarti mereka melaksanakan perintah itu. Walau disiksa dengan cambuk, ancaman maut, mereka tetap tidak akan bergerak seperti yang anda mau. Itulah bedanya manusia dengan hewan. Anda bisa melakukan apa saja terhadap raga manusia namun belum tentu anda bisa menguasai jiwanya, apalagi keimanannya.  Ketika reformasi Deng, ini disadari sebetulnya bahwa Idiologi Partai adalah perut dan kepetingan petani dan buruh atau rakyat banyak. Rakya tidak peduli dengan istilah idiologi yang diusung seperti komunis,sosialis,agamais atau apalah. Selagi kepentingan mereka dijaga, keadilan tegak, kebenaran dibela, kebaikan diutamakan maka rakyat akan patuh lahir batin kepada penguasa.

Dinegeri ini Petani selalu dipuja dan dimanjakan hanya ketika Pemilu datang dan orang ingin menjadi penguasa. Setelah itu  petani cukup cerdas untuk masa bodoh dengan penguasa yang lalai dengan janjinya dan membiarkan lahannya dibeli oleh pemodal kebun sawit atau real estate, dan selanjutnya bermigrasi ke Kota , atau kemana sajalah asalkan tidak jadi petani yang by design terjajah oleh pemerintah. Lihatlah faktanya, jumlah petani pada 2003 lalu masih mencapai 31,17 juta orang. Namun hingga pertengahan tahun 2013 ini, jumlahnya sudah menurun menjadi 26,13 juta orang. Ini berarti dalam sepuluh tahun terakhir ada penurunan jumlah petani sebesar 5,04 juta orang atau ada penurunan 1,75 persen per tahun. Bagaimana dengan generasi muda? Penduduk berusia 15 tahun ke atas yang bekerja di sektor pertanian mengalami penurunan dari 40,61 juta orang di tahun 2004 menjadi 39,96 juta orang pada 2013. Sementara itu, persentasenya menurun dari 43,33 persen di 2004 menjadi 35,05 persen di 2013. Ini menunjukkan bahwa penurunan jumlah profesi petani karena profesi lain lebih terhormat dan memberikan penghasilan lebih baik.

Diakui atau tidak, bahwa lahan bumi pertiwi yang subur ini memang di design oleh pemerintah untuk meminggirkan petani miskin agar orang kaya dapat menguasai tanah untuk industri, real estate, perkebunan dan tambang...dan sebagian besar yang kaya itu adalah orang asing yang menjadikan orang terdidik indonesia sebagai kacung  dan agent untuk menguras SDA. Itulah sebabnya kerabat saya di kampung banyak yang pergi merantau ke jakarta atau kota besar lainnya karena bagi mereka penghasilan sebagai petani tidak lagi bisa memberikan kehidupan untuk mereka. No hope as farmer here.  Apa pasal ? Harga  jual hasil produksi mereka hampir 90% habis untuk menutupi ongkos.  Tidak harus jadi Sarjana hebat untuk mengetahui bahwa menjadi kuli kebun sawit di tanah Jiran jauh lebih baik penghasilannya dibandingkan bertani dengan tanah sendiri. Mereka tahu bahwa pemerintah zolim kepada mereka. Sangat zolim. Mereka  tak mampu melawan namun mereka mampu menghindar dengan cara sederhana,yaitu hijrah.Hijrah tempat tinggal atau hijrah profesi. Mereka bergerak atas kehendak sunatullah karena Allah membentangkan bumi begitu luas dan kesempatan juga terbuka lebar.

Proses hijrah profesi dan hijrah  tempat tinggal ini berlanjut dari tahun ketahun.Tahun 2013 ini  Data statistik Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah rumah tangga petani dari tahun ke tahun terus menurun. Hal ini disebabkan penduduk mulai berpindah pekerjaan dengan pendapatan lebih baik. Ketika difisit perdagangan terjadi mengakibatkan  rupiah terjun bebas, Bursa keok, pemerintah baru menyadari bahwa negeri yang dikenal sebagai zamrut katulistiwa seharusnya menjadi lumbung pangan dunia ini  malah menjadi pengimpor pangan...ternyata yang bodoh itu bukan petani tapi penguasa. Mengapa bodoh? berkuasa di negeri yang diberkati SDA kaya namun rakyatnya miskin demi memakmurkan negara lain. Ternyata yang lemah itu bukanlah petani tapi pemerintah. Karena kekuasaan didapat hanya untuk berlaku seperti pecundang yang tak henti memelas hutang kepada kreditur,dan memohon kepada negara maju agar membantu Indonesia keluar dari krisis.

Monday, September 02, 2013

Berbagi...

Albert Hirschman mengatakan dalam esainya, Against Parsimony: Three Easy Ways of Complicating Some Categories of Economic Discourse: ketika kapitalisme bisa meyakinkan setiap orang bahwa ia dapat mengabaikan moralitas dan semangat bermasyarakat, public spirit, dan hanya mengandalkan gairah mengejar kepentingan diri, sistem itu akan menggerogoti vitalitasnya sendiri. Sebab vitalitas itu berangkat dari sikap menghormati norma-norma moral tertentu, sikap yang katanya tak diakui dan dianggap penting oleh ideologi resmi kapitalisme. Kini memang terbukti: Pasar yang hanya mengakui bahwa rakus itu bagus seperti yang dikumandangkan oleh risalah macam The Virtue of Greed dan In Defense of Greed pada akhirnya terguncang oleh skandal Enron, Madoff, Lehman Brothers. Begitupula ketika Century Gate terungkap namun tak bisa tuntas dan akhirnya rupiah terpuruk , inflasi dua digit dengan harga ikut pula melambung memenggal pendapatan para buruh, petani miskin. Kepercayaan runtuh, kita bertanya kepada pemerintah , apakah belum cukup bukti bahwa kapitalisme sudah salah jalan. Idiologi ini memberikan ruang kebebasan namun kebanyakan kita melupakan esensi moral yang harus diemban.

Biarkan semua terjadi karena begitulah pasar bekerja.  Saya tidak yakin itu. Karena  ditiap pasar selalu ada yang bukan-pasar dan itu dibutuhkan.  Milton Friedman ,penerus  Adam Smith, pemikir yang sering disebut sebagai bapak paham kapitalisme itu, telah keliru bukan karena sang bapak salah. Ia keliru karena Smith, dalam bukunya yang pertama, The Theory of Moral Sentiment, bukan orang yang menganggap kehidupan bersama adalah sesuatu yang hanya dibentuk oleh Pasar, oleh kepentingan diri dan motif mencari untung. Smith,  juga berbicara tentang perlunya perikemanusiaan, keadilan, kedermawanan, dan semangat kebersamaan. Dan itu adalah sifat-sifat yang tak menentang Pasar. Mereka justru diperlukan Pasar agar berjalan beres. Sebagaimana dicatat oleh sejarah,  kapitalisme tak muncul sebelum ada sistem hukum dan praktek ekonomi yang menjaga hak milik dan memungkinkan berjalannya perekonomian yang berdasarkan kepemilikan.  Adalah salah besar menempatkan hokum kapitalis semata untuk memastikan “bujuk orang kaya dengan bunga tinggi dan biarkan orang miskin bekerja keras dengan upah rendah agar mereka terus tergantung dengan modal. Ini salah.

Siapapun berada didalam system kapitalisme dan mampu bermain cantik dalam system itu , maka dia sebetulnya tidak pernah kehilangan esensi moral didalam hatinya. Orang sukses karena kerja keras dan moral selalu berujung kepada tanggung jawab moral kepada orang banyak. Itulah sebabnya  pada 9 Desember 2010, atau dua tahu setelah Lehman Brothers tumbang dan wallstreet  terjerembab, Gates, Warren Buffett, dan Mark Zuckerberg (CEO Facebook) menandatangani janji yang mereka sebut "Gates-Buffet Giving Pledge". Isinya adalah mereka berjanji untuk menyumbangkan setengah kekayaan mereka untuk amal secara bertahap. Mereka tumbuh dan mendulang sukses akibat kapitalisme seperti yang smith ajarkan tentang  perlunya perikemanusiaan, keadilan, kedermawanan, dan semangat kebersamaan.  Dengan sikap mereka itu , mereka bukan hanya memaknai bahwa sukses  harus diraih dengan kerja keras tapi bagaimana mempertanggung jawabkan kesuksesan itu untuk sesuatu yang lebih bernilai, dan ini hanya mungkin dengan konsep memberi. Seperti ungkapan Curchil “We make a living by what we get. We make a life by what we give.”

Ada 1500 Triliun dana orang kaya Indonesia ditempatkan di Singapore. Ini belum termasuk jumlah dana yang ditempatkan di Hong Kong, Swiss, Dubai. Menurut data Merilyn jumlah dana 12000 orang kaya Indonesia yang ditempatkan diluar negeri mencapai Rp. 3500 Triliun atau setara dengan GNP kita atau 3,5 kali APBN kita. Begitu dahyatnya kekayaan segelintir orang Indonesia itu. Mereka lebih kaya dibandingkan Bill Gates, Warren Buffett, dan Mark Zuckerberg. Dan lebih hebatnya lagi mereka kaya tidak perlu menghadang resiko seperti Warren Buffet, tidak perlu berlelah siang dan malam seperti Bill Gates dan Mark. Malangnya Indonesia , segelintir orang kaya itu ketika rupiah terpuruk , mereka lebih dulu memaksa pemerintah menaikan suku bunga. Tidak terdengar mereka berkata kepada pemerintah atau kepada rakyat " setengah harta saya diserahkan untuk rakyat , untuk kemanusiaan" tidak terdengar seperti yang dilakukan oleh Gates, Warren Buffett, dan Mark Zuckerberg. Itulah bedanya kekayaan yang didapat dari kerja keras ala smith dengan kekayaan yang didapat dengan cara culas dan menjual agama dan bangsa demi kepentingan pribadi. Padahal apapun yang dilakukan manusia didunia bukanlah bertujuan untuk mengejar kekayaan tapi menjalani proses bekerja sebagai bagian dari misi spiritualnya untuk kemakmuran semua ((Q.S. al-An’am/6: 175; Hud/11: 61) dan ini semua diyakini sebagai tanggung jawab dihadapan ALlah ( (Q.S. al-Qiyamah/75: 36).

Kegiatan didunia ini tak lain  dimanefestasikan dalam ujud kesediaan berbagi atas segala karunia Allah (potensi alam ) dan menggunakannya untuk kepentingan orang banyak tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan ( Q.S. al-Syu’ara/26: 183). Ini semua tidak lepas dari misi manusia terlahir kedunia untuk dan hanya karena beribadah kepada Allah (Q.S. al-Kahfi/18: 110), dan karenanya hanya akan melahirkan kebaikan, kebenaran  untuk tegaknya keadilan social bagi siapa saja…

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...