Tuesday, October 24, 2023

Ganjar sang Marhaen




Tahun 2010 saya berkunjung ke Changsa. Saat itu saya diundang makan malam oleh Perwira Tinggi China makan malam. Menu yang terhidang adalah tahu asam. Tahu yang dipermentasi sehingga bisa bertahan berbulan bulan selama musim dingin. Kebayang dah. Aromanya seperti comberan. Bagaimana mau makannya?.Tapi Perwira tinggi itu bisa makan dengan lahap. 


“ Tahu ini menu makanan orang miskin di China. “ Kata Perwita tinggi itu.”  Ini makanan favorit bapak Mao. Sampai jadi orang nomor 1 di China, menu ini tetap menjadi pavoritnya. Selalu mengingatkan kepada bawahannya bahwa kalau kamu ingin dekat kepada rakyat, jangan pernah lupa menu yang setiap hari mereka makan karena kita masih belum sukses memakmurkan mereka. “ Lanjutnya. 


Ganjar lahir dari keluarga bintara Polisi. Kelas bawah dari kalangan aparatur negara. Setidaknya sama dengan keluarga kelas bawah di Indonesia. Dia tidak seperti Megawati yang lahir dari ayah sang proklamator dan ibu yang pahlawan Nasional. Tidak seperti Prabowo yang lahir dari keluarga bangsawan dan kakeknya sebagai pahlawan nasional anggota BPUPKI. Tidak seperti Anies Baswedan yang kakeknya juga pahlawan nasional, juga founding parent bangsa ini. Tidak seperti SBY yang punya mertua sebagai pahlawan nasional. Tidak seperti Gus Dur yang ayah dan kakek nya pahlawan nasional. 


Pilihan Ganjar ada pada Marhaen. Gerakan kaum tertindas yang lahir dari pemikiran Soekarno. Membuat dia tidak ragu terlibat dalam barisan Marhaen sejak masih mahasiwa. Walau ayahnya aparatur negara, dia tidak hidup dalam bayang bayang ayahnya yang setia kepada Soeharto. Dia menghormati kedua orang tuanya namun pilihan politik nya menolak ketika ditawari sebagai PNS. Dia berjuang di bawah tanah disaat Soeharto mengganyang kaum marhaen. Sampai akhirnya Soeharto jatuh dan rumah besar kaum Marhaen di PDIP menjadi pemenang pemilu tahun 1999. Apakah Ganjar euforia ? tidak, Dia tidak berambisi jadi elite di PDIP. Dia kembali ke rakyat. Berwira usaha. Sampai akhirnya dia bergabung ke PDIP untuk jadi Caleg. Itupun karena permintaan dari Taufik Kiemas, mentornya di GMNI. Terpilih sebagai anggota parlemen. Dia militan memperjuangkan nilai nilai marhaen.


Makanya saya tidak percaya ketika Ganjar dirumor kan terlibat korupsi berjamaah eKTP di era SBY.  Itu tidak masuk akal secara politik. Karena saat itu PDIP adalah oposisi. Mana mungkin partai oposisi punya bargain terhadap anggaran dan agenda pemerintah.  Pihak lawannya secara sistematis menjadikan dirinya sebagai target untuk dihabisi karir politiknya. Ganjar berpolitk sejak dari kampus dan dijalanan. Dia terlatih menghadapi resiko politik dan tentu cerdas menghadapinya. Pengalaman yang panjang itu membuatnya tidak gentar dan tetap tenang menghadapi badai.  Sampai akhirnya memang itu hanya rumor. Membuktikan berpolitk bukan motif nya mengejar kekayaan.


Kalau akhirnya dia terpilih sebagai Gubernur Jateng. Itupun karena permintaan dari Mentornya di GMNI Pak Taudik Kiemas. Di era Ganjar statistik kemiskinan Jateng dibuka selebar lebarnya di depan publik. Padahal sebelumnya data itu dirahasiakan dan dipoles. Dia tidak merasa data itu merendahkannya. Justru memaksanya untuk keras kepada dirinya sendiri dan keras kepada bawahannya untuk melakukan perbaikan tata kelola anggaran dan pemerintahan. Itu kerja besar yang sangat sulit karena budaya PNS yang masih korup. Tetapi berjalannya waktu, walau Ganjar belum sukses mengangkat semua mereka dari kubangan kemiskinan. Namun dua periode jabatanya sebagai gubernur, Jateng menjadi provinsi tersukses di Indonesia menurunkan angka kemiskinan. Jawa Tengah sukses menurunkan angka stunting. Bahkan, risiko angka kematian ibu menurun hingga 52 persen sejak 2016.


Ketika para relawan Jokowi memaksa Ganjar jadi capres pada pemilu 2024. Ganjar tidak terpengaruh. Dia tetap focus kerja sebagai Gubernur dan menanti keputusan ketua umum PDIP. Saat itu orang  banyak memprovokasinya berseteru dengan Puan Maharani. Menggiringnya keluar dari PDIP. Saya tersenyum saja melihat fenomena itu. Karena walau saya tidak kenal Ganjar secara personal namun saya mengenal betul Marhaen. Sedari muda saya aktif di Marhaen. Tentu sangat paham manifesto Marhaen, yaitu patuh kepada pimpin puncak selagi pemimpin masih berjalan di idiologi. PDIP itu rumah besar kaum marhaen. Partai idiologi sama seperti PKS. Tidak akan hancur karena digembosi oleh pihak luar atau pengkhiatan. Itu sudah teruji oleh waktu.  Apalagi hancur karena provokasi kaum oportunis dan pragmatis. PDIP kini dan besok akan tetap kokoh dan terus membesar selagi dia tetap pada garis idiologi Marhaen.


Ganjar bukan darah biru dalam politk nasional, ya sama dengan Jokowi. Mungkin faktor emosional sama sama dari keluarga miskin makanya saya lebih punya kedekatan chemistry dengan Ganjar. Sama seperti dulu saya memilih Jokowi , yang lahir dari keluarga miskin. Membela wong cilik adalah perjuangan soal keadilan dan empati. Itu hanya lebih dirasakan oleh mereka yang juga terlahir miskin. Yang berjuang dalam kelelahan dan derita panjang sampai akhirnya dia bisa memimpin dirinya sendiri, untuk pantas memimpin orang lain. Itulah Ganjar. Saya bukan supporter Ganjar tapi voter. Jadi saya akan berada digaris depan mengkritik Ganjar kalau dia terlena dengan kekuasaan dan melupakan rakyat miskin.

Monday, October 09, 2023

Sikap personal pemilih..

 





Pernah saya naik ojol. Di jalan dia cerita bahwa dia korban dari bisnis investasi bodong, yaitu pada perusahaan asuransi dan Koperasi Simpan Pinjam (KSP). Tadinya dia dapat tawaran dari temannya. Dijanjikan akan untung besar. Usianya tidak muda lagi. Malang sekal nasibnya. Padahal uang itu untuk persiapan masa tuanya. “ Melihat proses kasusnya di pengadilan, saya kecewa dengan rezim Jokowi." Katanya dengan raut sedih.


Deretan investasi bermasalah, baik yang berlisensi maupun yang tidak. Diantaranya adalah PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha ada 29000 nasabah. KSP Indosurya ada 23.000 nasabah. OSO Sekuritas, 7.500 nasabah. Minna Padi mencapai 4.000 orang nasabah. Jiwasraya ada 7 juta orang dan Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1913 ada 12 juta orang. Total korban ada sebanyak 19.063.500. Masih ada lagi yang lain. Penyelesaian hukum atas kasus itu baik lewat pengadilan pidana mapun perdata, yang jadi korban adalah nasabah.


Secara hukum pemerintah tidak salah. Apalagi Jokowi. Karena Jokowi mana mikir soal investasi bodong itu. Dia sibuk. Toh semua sudah ada aturannya. Tapi secara politik itu jelas ada. Kebencian kepada rezim, akan diaminin oleh mereka semua. Wajar sikap ini. Karena  proses hukum membuat mereka kecewa. 5 dari orang yang saya temui korban investasi, 5 nya marah kepada pemerintahan Jokowi. Andaikan jumlah korban dari semua investasi itu sebanyak 19.063.500. Turunannya bisa 4 kali lipat atau 76 juta. Itulah yang ikut menderita dan merasakan empati.


Saya kehilangan reputasi untuk meyakinkan bahwa itu bukan salah pemerintah. Empati saya tidak akan tega mengatakan bahwa itu salah mereka. Karena pembiaran terjadi tanpa ada pengawasan dari aparat pemerintah. Setelah meluas dan jatuh korban , barulah OJK dan polisi bergerak. Dan itupun penegakan hukum gagal berpihak kepada korban. Dana yang dikelola menjadi tidak jelas dan blackhole. Hanya menyisakan derita yang tidak bertepi.


Saya juga bertemu dengan Driver Ojol yang tadinya pedagang di pasar Tanah abang. Usahanya bangkrut. Karena dagangan sepi. Biasanya pedagang dari daerah belanja tapi kini sudah jarang. Rasanya kecewanya dengan Jokowi sangat besar. Padahal dia dulu mengidolakan Jokowi. Saya juga kehilangan reputasi untuk meyakinkan bahwa itu bukan salah Jokowi. Tetapi karena daya beli turun dan pengaruh impor. Ada jutaan pedagang yang mungkin senasip dengan driver ojol itu. Itu belum termasuk anak dan istrinya. Belum lagi para buruh yang kecewa karena UU Ciptakerja. Sudah banyak yang korban PHK tanpa perlindungan cukup.


Mereka yang korban itu tidak lagi bersuara. Tidak lagi gunakan sosmed untuk membaca dan mendengar prestasi pemerintah yang katanya approval rating mencapai 90%. Kalaulah relawan capres dan Partai dari koalisi pemerintah, lebih focus peduli kepada mereka tentu akan membantu memperbaiki citra mereka dihadapan korban.


“ Tapi ini malah yang ada sikap menyalahkan kami sebagai korban dan kata kata yang menyakitkan seakan kami ini bodoh. Ya memang kami bodoh terlalu percaya dengan pemimpin yang kami pilih, sehingga percaya begitu saja dengan perusahaan yang dapat izin dari penguasa yang menjual janji tapi hampa.” kata driver Ojol yang korban investasi pada perusahaan asuransi.

Semakin pemerintah menepuk dada semakin memprovokasi mereka jadi lonewolf. Dan ini berpotensi menjadi silent power menjatuhkan partai penguasa dan capres yang diusung oleh koalisi pemerintah pada Pemilu 2024

Sunday, October 08, 2023

Teruslah berbuat baik.

 




Tamat SMA saya pergi mentau ke jakarta. “ Jangan beratkan langkahmu untuk melangkah. Bangunlah lebih dulu sebelum ayam berkokok. Sapalah Tuhan sebelum fajar datang. Rukuk dan sujudlah kepada Tuhan saat fajar datang. Itu artinya kau sadar hidupmu tergantung kepada Tuhan. Kemudian jangan beratkan tanganmu menjinjing. Kalau berat dirasa, keringat bercucuran, itu tandanya  kau sedang berzikir kepada Tuhan untuk datangnya rezeki. Jangan melihat kebelakang teruslah meliat ke depan. Kalau lelah bolehlah  istirahat sejenak melihat ke belakang. Tapi jangan karena itu kau ragu melihat masa depan. Hidup ini nak, bukan soal masa lalu dan masa depan tapi soal hari ini bagaimana kamu selalu bersyukur atas anugerah umur yang Tuhan berikan.” Demikian nasehat ibu saya.


Waktu saya pertama kali datang ke Jakarta. Saya menumpang di rumah sanak. Saya tahu diri. Pagi pagi saya sudah bangun. Seusai sholat subuh saya bersihkan rumah dari dapur sampai ke teras rumah. Saya masak air hangat untuk mengisi termos. Apapun yang disuruh saya lakukan dengan cepat. Tak pernah saya sungkan. “ Kami tidak bisa menampung kamu tinggal di sini. Carilah sanak lain yang bisa menampung kamu” kata sanak saya. Saya tidak marah. Tidak pula kecewa. Siapalah saya. Sudah ditampung saja sekian hari sudah terimakasih. Saya senyum dan berlalu. 


Sejak itu saya putuskan untuk tidak lagi menumpang. Saya harus mandiri. Setidaknya walau numpang tempat tinggal namun saya tidak numpang makan. Pernah jadi salesman. Setiap hari saya di bully oleh manager saya. Sekeras apapun saya bekerja, sehebat apapun prestasi saya, tetap saja dia bully. Saya tidak marah. Saya diam saja. Kalau akhirnya saya berhenti kerja, bukan karena saya marah kepada manager saya, tetapi karena agenda saya sudah tercapai. Saya perlu mandiri. Membuka usaha sendiri dengan dua kaki dan kedua tangan saya.


Pernah ada pengusaha besar. Dia minta tolong saya menyelesaikan pembukuan pajaknya. Saya bantu dengan sungguh sungguh. Tak pernah saya minta uang jasa. Walau setelah itu dia tidak beri saya uang, saya sudah terimakasih. Karena dia anggap saya sebagai anggota keluarga. Walau dia pernah berjanji akan memberi saya modal, yang tak pernah dia realisasikan. Namun rasa hormat saya tidak berkurang. Setiap dia panggil selalu saya luangkan waktu untuk datang. Apapun yang dia mintai tolong saya kerjakan. Saya puas. Saya bisa mandiri dan menghormati orang lain tanpa harus berharap tangan dibawah. Dia tidak pernah memberi tapi saya bisa memberi ketulusan. Soal reward, biarlah itu urusan Tuhan.


Memang terkesan naif. “ Saya pernah saksikan. Saat lift rusak dan kita harus ke lantai dua restoran. Tamu kita direksi BUMN China membawa ibunya yang sudah uzur dengan korsi roda. Direksi BUMN itu menanti anaknya datang untuk gendong ibunya. Tapi dalam keadaan bingung itu. Kamu minta izin untuk gendong ibunya. Tanpa sungkan. Kamu gedong ibunya ke lantai dua. Itu benar benar kamu lakukan dengan tulus dan riang. Saya perhatikan direksi BUMN itu berlinang air mata. “ Kata Wenny. 


“ Bukan itu saja. Walau dia pernah berjanji akan membantu kamu, nyatanya dia  tidak pernah memberi peluang bisnis untuk kamu,  bahkan pernah tolak proposal bisnis kamu. Selama dia menjabat CEO BUMN China, kamu tetap jaga hubungan baik dengan dia. Menang naif” Lanjut Wenny. Saya senyum aja. Apalah saya. Saya dari keluarga miskin. Datang ke China dengan modal terbatas. Kalau ada CEO BUMN mau berteman dengan saya, itu sudah berkah yang harus saya sukuri. Soal dia memberi atau tidak, itu tidak penting bagi saya. Setidaknya selama berteman dengannya saya tidak bergantung kepada kebaikannya. Dan saya tidak perlu berharap saat berbuat baik. Biarlah. Itu antara saya dan Tuhan saja.


Sebenarnya bukan naif. Saya bisa bedakan antara sikap bisnis dan personal. Dalam urusan personal saya utamakan humanis saja. Saya tidak sungkan memberi uang orang yang baru saya kenal. Saya tidak peduli kalau anggap saya kena modus. Saya bergaul tanpa kenal strata sosial. Kalau ada teman yang tidak mampu, saya tidak sungkan bantu uang. Traktirnya makan siang. Saya tidak peduli kalau saya dimanfaatkan. Tapi saat dia bicara bisnis, dan berharap modal dari saya. Nah saat itulah saya bersikap bisnis.  Kalau bisnisnya tidak layak, ya saya tolak. Saya juga tidak peduli karena itu dia marah atau kecewa . Itu biarlah antara saya dan Tuhan saja. Karena toh kalau rencana bisnis saya ditolak oleh relasi saya, saya juga tidak kecewa. Biasa saja. Dan karenanya saya tetap prasangka baik,


Berkali kali saya bangkrut, selalu bisa bangkit lagi. Itu bukan karena saya modal warisan orang tua. Tetapi karena nilai ketulusan berteman dan bermitra. Dari 100 kebaikan kepada 100 teman, ada saja satu yang jadi tongkat dan menuntun saya melangkah ke mata air. Ya, kadang kita harus bertemu dengan banyak orang dan bergaul walau akhirnya hanya segelintir yang peduli dengan kita. Teman palsu pasti banyak tetapi kita harus tetap prasangka baik dan berbuat baik. Begitu Tuhan maunya. 1000 teman terlalu sedikit tapi 1 musuh kebanyakan. 

Kini saya menua. Teman teman saya banyak yang sudah meninggal dan uzur.  Tapi saya baik baik saja. Walau bukan konglomerat tapi saya punya financial freedom. Anak anak sudah mandiri. Nah mari, teruslah berbuat baik tanpa lelah. Cukuplah itu semua antara kita dan Tuhan saja. “Keep your face always toward the sunshine - and shadows will fall behind you.”  Paham ya sayang. 

Thursday, October 05, 2023

Cerdas dari kegagalan.




James Dyson menghadapi selama 15 tahun kegagalan demi kegagalan. Dia membuat prototipe penyedot debu. Dia harus melalui 5.126 kali gagal. Dari sana akhirnya dia berhasil menciptakan penghisap debu tanpa kantung. Kekayaannya mencapai USD 4,5 miliar.


Anda pasti kenal Steven Spielberg. Dia penyandang penyakit disleksia. Sehingga dia mengalami kesulitan belajar dan menghapal, Namun berkat kerja keras dalam keadaan terabaikan, terhina, dia bisa tampil menjadi seniman kelas dunia. Semua film yang dia sutradarai mendapatkan Academy awards, Hingga saat ini, ia telah memenangkan 11 Emmy, 3 Oscar, dan 7 Golden Globes, dan ia adalah salah satu sutradara tersukses saat ini.


Bill Gates. Walau dia lahir dari kelas menengah. Namun dia tidak tertarik mengikuti jejak ayahnya sebagai pengacara top. Di usia awal 17 tahun, Gates telah menunjukkan jiwa wirausahanya dengan membentuk sebuah perusahaan bersama teman masa kecilnya, Paul Allen, bernama Traf-O-Data. Lebih 2 tahun dia membangun perangkat keras yang dapat membaca rekaman data lalu lintas. Namun gagal total. Uang pemberian orang tua habis dan mereka harus pindah ke grasi.


Kegagalan itu membuat Gate keluar dari Harvard dan focus memulia Microsoft. Saat butuh dana start up, tidak ada investor istitusi yang tertarik. Ide nya untuk mengungguli IBM dianggap gila. Tapi karena upaya yang tanpa lelah dan tanpa putus asa di rendahkan dan ditolak oleh investor dan pebisnis, akhirnya dia dipertemukan dengan Ross Perrot, sang kampiun Angle investor. Dari sini Microsoft berkembang dan kini menjadikannya diktator IT berkelas dunia.


Howard Schultz. Tamat kuliah usia 23 tahun. Langsung bekerja di XEROX Corp. Setahun kemudian pindah ke cafe keci, Hammerplast.  Setelah 5 tahun kerja, diusia 29 tahun dia pindah ke Starbucks. Sampai pada posisi direktur pemasaran. Namun karena Starbucks menolak idenya mengembangkan pasar, dia mengundurkan diri. Dia membuka kedai kopi di Seattle. Mereknya Il Giornale, bahasa Italia untuk 'The Newspaper. Itu langsung sukses.  Nah saat itu dia berencana akuisisi Starbucks. Namun darimana modalnya untuk membeli Starbucks?  “ saya ditolak oleh 217 dari 242 investor yang awalnya saya ajak bicara. Anda harus memiliki keyakinan yang besar terhadap apa yang Anda lakukan dan bertahan. “ Kata Schultz setelah sukses mengakuisisi Starbucks,


Saya tahu bahwa orang muda berhak sukses dan berhak lebih baik dari orang tua. Tapi yang harus anda sadari bahwa tidak ada sukses yang too good to be true karena orang tua atau fasilitas. Anda harus mau melewati proses yang tidak mudah dan tidak sebentar. Hidup adalah proses berkompetisi sepanjang usia. Setiap orang harus melewati kesulitan ,kelelahan, yang kadang berujung kegagalan. Tidak perlu takut akan resiko. Karena dengan sadar bahwa hidup ini penuh resiko maka akan membuatmu semakin dekat kepada Tuhan, Tanpa pertolongan Tuhan kamu tidak akan bisa melewati semua hambatan itu. Karenanya berdoalah sebelum berjuang. Menyadari ini akan semakin membuatmu rendah hati dan tahu artinya mecintai

Pengekor

 



Konsep Neoro Linguistic Programming ( penyusunan bahasa syaraf ) menjelaskan bahwa setiap manusia mempunyai susunan syaraf yang sama. Artinya segala sesuatu yang orang lain dapat lakukan , kita juga bisa melakukannya. konsep ini menjawab bahwa memang manusia itu sudah sifatnya follower. Namun follower buta itu bukan sebagai sebuah kecerdasan. Tampilnya politik populis pencitraan dekat kepada rakyat kecil, mudah mendapatkan followr. Namun terbukti politik populis itu hanya penipuan belaka. Para tokoh yang dianggap teladan ternyata hanya jualan tiket seminar dan bisa juga menjual narasi dan retorika agar dapat suara pemilu.


Kita perlu teladan tetapi yang pasti kita bukan orang lain. Rasul hebat. Benar. Tapi kita bukan rasul. Hidup kita hanya ada antara kita dan Tuhan saja. Makanya Tuhan beri kita akal. Apa tujuannya. Agar kita cerdas. Nah untuk cerdas, harus ada tiga hal dalam diri anda, yaitu self-management yang baik; komitmen; kompeten dan fokus; dan keberanian. Mari kita jelaskan satu persatu tiga hal tersebut.


Self-management.

Self management memiliki banyak arti tapi pada dasarnya berhubungan dengan disiplin atau penguasaan diri. Walau anda follower tapi punya self management yang baik, tentu mampu berpikir untuk diri anda sendiri. Anda harus pastikan menjadi diri anda sendiri. Output nya adalah kemandirian total. Mampu memimpin diri sendiri. Sehingga apapun sikap anda didasarkan kepada rasionalitas yang kuat. Faktor perasaan tidak dominan. Tokoh tetaplah tokoh. Tidak perlu anda harus menjadi seperti tokoh. Kalau tokohnya salah, ya anda harus berani mengkritik dengan akal sehat.


Focus.

Anda harus focus terhadap siapa diri anda. Bukan siapa orang lain. Seorang follower yang efektif tidak sekadar memiliki karakter yang kuat tapi juga memiliki ketrampilan-ketrampilan kemandirian. Dengan kata lain anda memiliki kompetensi untuk hidup secara personal atau kelompok. Anda punya semangat terus belajar, belajar sendiri untuk meningkatkan kemampuan. Punya passion untuk kerja ekstra tapi mampu menyelesaikan pekerjaan yang menjadi prioritas. Dia tahu kekuatan dan kelemahannya, dan menggunakan kekuatannya dalam bekerja dan menutupi kelemahannya dengan belajar sepanjang usia.


Berani.

Anda harus bisa dipercaya dan seorang yang berani mengambil resiko. Anda berani berpikir dan mengemukakan pendapat dan gagasan yang menurut anda baik. Anda bisa berpikir kritis terhadap lingkungan sosial politik dan budaya dan memiliki kebebasan untuk mengemukakan pendapatnya itu. Anda berani mengambil tanggung jawab dalam segala hal, berani melayani, berani menantang dan berani terlibat dalam perubahan. Keberaniannya disebabkan oleh integritas yang kuat, perpaduan antara inteligensia dan spiritual.


Nah cerdaslah hidup. Perbaikilah terus menerus Self-management, komitmen, kompeten, atau keberanian? Ingat, sekali anda menjadi follower buta maka dapat dipastikan anda jadi korban kehidupan dan kasihan kepada orang tua yang melahirkan dan membersarkan anda dengan susah payah

Peran otak dalam memberi

Sore hari. Tahun 83 setelah antar bon dan pembayaran kain tekstil kepada Boss di bilangan kota. Jumlah uang dan bon sama. “ Mengapa kamu tid...