Posts

Showing posts from December, 2021

Takdir itu ada pada hukum sunnatullah.

Image
  Udin ngobrol dengan Sobarun dan Mahdi usai sholat Isya.  Mereka duduk di teras Masjid. “ Din, bini lue itu putih tapi bersih banget. Wajahnya bercahaya. Engga seperti bini kita. Bini lue pasti orang kaya ya Din” Kata Mahdi.  “ Engga juga kaya. Tetapi memang dia jarang pakai make up. Kalaupun pergi arisan dan pengajian. Dia pakai bedak aja. Itupun bedak racikan dia sendiri. Itu ibunya yang ngajarin. Hari hari dia tidak pakai make up. Mungkin itu sebabnya kulit mukanya bersih” “ Ah salah din. Menurut istri gua. Itu karena upik sholat lima waktu dan selalu sholat sunah. ya gimana engga bersih. Dia engga pernah lepas dari wudhu.” Kata  Sobarun. “ Mungkin juga. Saya engga perhatikan.” “ Lu pakai pelet ya Din. Dapatin dia” Kata Mahdi. “ Kenapa kamu berpikir seperti itu? “ Lah lue keling, kerempeng. Cuman hidung doang agak mancung.” Kata Sobarun. Udin senyum saja. “ Benar ya din, lue  pelet dia.” tanya ulang Mahdi. “ Ya engga lah. Dijodohin sama orang tua.” Kata Udin.  “ Din, gua mau tanya.

Hukum alam...

Image
  “Pah, kok engga ada pakunya rumah ini. “ kata Oma memperhatikan setiap kontruksi rumah adat itu. “ Aneh, gimana bisa berdiri dan kokoh ya” lanjut oma dengan wajah terpesona.  “ Rumah adat ini terbukti dalam sejarah tahan terhadap gempa dan bencana alam. Hanya  hancur oleh ulah manusia. Perang yang menghancurkannya. Dan kemudian di bangun kembali. “ kata saya mencoba mencerahkan.  “ Papa belum jawab pertanyaan gua. Gimana bangunnya? Kata oma penasaran. “ Rumah itu bangun sama seperti orang bangun kapal kuno. Untuk menghubungkan satu kayu dengan kayu lainnya mereka gunakan pasak. Pasak itu dari sisa kayu. Di tanamkan disela sela kayu yang terhubung secara lock. “ “ Lock itu apa ? “ Lock itu  sudut sambungan kayu dibuat satu sama lain saling berlawanan. Ya sama seperti menyatunya unsur atom. Sehingga seimbangan dan saling mengikat. “ “ Ya kenapa begitu ? “ Agar sambungan itu kokoh namun flexible. Dengan sistem itu akan membuat bangunan jadi kokoh terhadap goncangan karena gempa.” “ Kok

Hidup berproses.

Image
  Baru selesai makan malam, Udin kedatangan Malih di rumahnya. Sebagai anak rantau Udin berusaha ramah kepada Malih. “ Maaf Din, minta nasehat. “ Kata Malih setelah Kopi dihidangkan upik. “ Wah, Bang Malih. Salah alamat kalau minta nasehat. Saya ini bukan sarjana. Bukan terpelajar. Hanya orang kampung. Saya hanya tahu sedikit itupun dari keseringan mendengar, membaca dan meliat. Itu aja” kata Udin. “ Kemarin waktu lihat Lu Din leraikan Sobarun berkelahi dengan  Anan, saya yakin lue orang yang tepat untuk beri nasehat gua. “ kata Malih. Udin senyum aja. “ Gini Din, kenapa hidup gua blangsat terus. Padahal gua sarjana. Apapun usaha dan kerja udah gua coba. Tetapi kerja engga diterima, usaha bangkrut. Gua pernah ikut rukyah, tetapi hasilnya sama saja. Tetap aja blangsat. Apa nasehat untuk gua Din “ lanjut Malih. “ Berap usia kamu ? “ 32 tahun. “ “ Kamu sedang berproses. Kegagalan dalam bisnis dan kerja, itu jalan kamu. Biasa saja. Apalagi usia kamu baru 32 tahun. “ kata Udin. “ Maksud gua

Menerima kenyataan.

Image
  Saya naik Ojol. Supirnya sarjana. Alih profesi karena situasi dan kondisi. Kena PHK akibat COVID. Setahun setelah itu rumah tangga bubar. Anak ikut istri. Alasannya istrinya selingkuh. Dari wajahnya tidak nampak dia stress. Menjawab pertanyaan pun dengan santai. “Istri tertarik dengan pria lain, akhirnya selingkuh. Itu wajar saja. Dia butuh rasa aman. Kebetulan dia tidak aman bersama saya, yang kena PHK dan miskin. “ Katanya. Itu sebabnya tidak ada yang pantas disebut korban dalam setiap peristiwa. Karena korban juga tidak ada jaminan bersih dari kesalahan. Yang merasa paling benar, bisa saja justru dia penyebab semua masalah. Kira kira itu yang dipahami supir Ojol. Dia tidak ingin menyebut dirinya korban ketidak setiaan istrinya. Saya yakin ada banyak orang seperti supir Ojol ini. Dia tidak suka mendramatisir hidupnya. Biasa aja. Saya suka, melihat persoalan hidup ini dengan cara sederhana. Apa itu ? Berdamai dengan kenyataan. Itu artinya saya harus membunuh ego saya dan menghilangk

Tahu diri.

Image
  Waktu merantau ke jakarta. Saya hanya tamatan SMA.  Pertama saya datangi adalah keluarga Ibu saya. Selama tinggal di rumahnya saya tahu diri. Pagi setelah sholat subuh saya pel lantai rumah dari dapur sampai ke depan.  Cuci piring kotor. Tetapi belum seminggu. Saya dibawa kerumah sepupu papa saya. Di rumah paman. Saya juga berusaha menempatkan diri sebaik mungkin. Bersihkan rumah. Suapin anaknya makan. Apapun disuruh saya kerjakan.  Namun belum sebulan, saya diantar ke rumah sepupu papa saya yang lain. Baru datang. Ditanya, kapan pulang.   Saya tidak menyalahkan keluarga besar ibu dan papa saya. Kalau sedara saya  tidak mau dibebani itu karena bagi mereka saya tidak ada masa depan. Hanya tamatan SMA. Tidak lulus PTN. Orang tua tidak mampu. Saya tidak iri dengan mereka yang juga tinggal di rumah sedara saya, yang dapat perlakuan baik. Itu karena mereka kuliah di Jakarta. Orang tua mereka mampu biayai.  Saya tinggalkan rumah sedara saya. Saya jalan kaki dari Senen ke tanah abang dengan

Politisasi agama

Image
  Dulu waktu masih usia 20an saya termasuk yang terprovokasi kebencian kepada Syekh Siti Jenar. Hampir semua ajarannya dianggap sesat oleh Guru ngaji saya. Tetapi usia 30an saya berusaha mendapatkan informasi objectif terhadap Jenar. Buku yang ada tidak didasarkan referensi yang kuat. Bahkan sebagian sejarawan  berpendapat bahwa sosok Syeh Siti Jenar hanyalah legenda yang tidak bisa dipertanggung jawabkan. Soal ajarannya “manunggaling kawulo gusti” itu sebenarnya copy paste atas pemikiran dari Al-Hallaj yang mengatakan “ana al-haq”. Ya semacam satire rakyat yang tidak suka kepada Ulama yang melakukan politisi agama untuk dapatkan akses kepada raja. Tentang sosok pribadi Syeh Siti Jenar dari referensi yang ada. ia hidup pada abad ke-16 Masehi (1348-1439 H/1426-1517 M). Ia adalah putra Syekh Datuk Saleh, adik sepupu Syekh Datuk Kahfi, seorang penyebar agama Islam terkenal di Jawa Barat. Syekh Siti Jenar memiliki hubungan darah dengan dengan Sunan ampel.  Saat beranjak dewasa, Syekh Siti