Posts

Showing posts from November, 2018

Kemandirian rakyat.

Image
Saya bertemu dengan relasi di China. Kami makan malam. Pada kesempatan itu saya tanya gimana pendapatnya dengan akan diadakannya pemilihan presiden oleh Parlemen China. Dengan tersenyum dia angkat bahu. “ Apa peduli saya.  Kami tidak ada urusan dengan masalah politik. Bagi kami gimana caranya kami bisa menyelesaikan masalah keseharian kami. Itu aja. Mengapa ? karena faktanya pemerintah tidak pernah hadir kedalam rumah walau pemerintah menyediakan rumah untuk kita bayar. Walau pemerintah menyediakan logistik system yang efisien dengan sarana umum yang hebat namun pemerintah tidak pernah hadir dalam perusahaan kecuali kita tidak bayar pajak. Yang datang polisi. Nah dari itu semua, jelaslah bahwa pemerintah dan kami sesuatu yang berjarak. Sesuatu yang terlalu jauh untuk dipikirkan oleh rakyat.   Sebetulnya , kata teman saya dari Australia yang ikut hadir dalam makan malam itu , bahwa apabila rakyat tak lagi sibuk bicara politik dan mereka menerima siapapun yang memimpin maka itu

Prabowo?

Image
Mengapa kubu BOSAN selalu kampanye dengan cara tidak terpelajar. Tanya nitizen yang orang awam politik. Sampai Megawati pun bertanya tanya, seakan tidak percaya mengapa Prabowo bisa berubah. Tidak seperti dulu waktu jadi pasangan Megawati dalam Pemilu 2009.  Mungkin karena faktor orang yang ada disekitar Prabowo yang mempengaruhi, terutama team PKS atau bisa juga faktor usia atau mungkin karena sakit yang berhubungan dengan kebugaran otak sehingga membuat PS nampak labil secara mental. Entahlah. Tetapi pokok persoalan sebenarnya menurut saya adalah karena Prabowo dan Hashim sangat mengenal Jokowi sejak mendukung Jokowi untuk Pilgub DKI dan tahu pasti bahwa Jokowi orang baik dan sampai sekarang Jokowi tetap orang baik. Jadi tidak mudah bagi Prabowo untuk menyerang Jokowi. Karena tidak mudah itulah makanya Kampanye BOSAN terkesan tidak terarah. Bahkan ketika masuk ke materi issue Politik untuk menyerang Jokowi, langsung terbantahkan dengan sendirinya. Bukan Jokowi yang bantah tapi

Persepsi

Image
Orang banyak bertanya mengapa saya bisa langsung berhenti merokok. Biasanya kan butuh proses secara bertahap untuk sampai bisa berhenti total.   Apalagi saya merokok udah tahunan. Sama halnya orang bertanya dengan berkerut kening, mengapa saya bisa engga makan nasi? padahal   dari kecil saya makan nasi dan keluarga saya semua makan nasi. Tetapi saya bisa segera berhenti makan nasi tanpa perlu ada precess bertahap. Saya hanya tersenyum mendapat pertanyaan yang terkesan aneh bagi mereka. Tetapi sebetulnya bagi saya itu biasa saja. Mengapa ? karena saya memimpin raga dan jiwa saya sendiri. Raga dan jiwa saya ada dibawah komando saya. Kalau saya bilang stop   merokok dan makan nasi maka jiwa saya bisa menerima tanpa maksa raga saya agar terus merokok.   Kok bisa ?   Sebetulnya ini soal persepsi saja. Untuk lebih jelasnya baik saya sampaikan analogi sederhana. Apakah itu mangga ? yang anda pahami bahwa mangga itu rasanya manis atau asam. Kulitnya kuning atau hijau. Kalau dibanting ak

Peduli kepada keadilan.

Image
Tadi pagi saya ke singapore untuk lunch meeting dengan banker. Saya didampingi oleh direktur saya dari KL. Setelah makan siang, saya langsung ke Changi Airport karena ada janji meeting jam 7 malam dengan relasi di Jakarta. Dalam perjalanan direksi saya berkata “ saya rindu Jakarta. Semua serba murah. Tidak seperti di KL. “ Saya hanya tersenyum.  Kita bisa nongkrong di cafe hotel bintang Lima dan menikamati semua fasilitas berbintang namun billnya hanya 30% dari Bill di Singapore untuk fasilitas yang sama. Atau hanya 20% bill di Hong Kong. Jakarta sorga kapitalis. Tetapi ada yang lebih sorga terlupakan. Itu adalah semarang. Semua serba murah bahkan mungkin termurah diseluruh dunia. Upah pekerja hanya USD 100 per bulan. Orang bisa hidup sebulan untuk biaya sehari di LA atau di Hong Kong. Lanjutnya, Saya hanya tersenyum.  Mr. B, bisa jelaskan fenomena apa ini semua ? katanya. Mereka yang bisa menikmati fasilitas bintang lima itu di Indonesia hanyalah 54.000 orang saja.   Kata saya.

Uang dan Reputasi...

Image
Banyak pengamat dan akademisi meragukan ekonomi Jokowi ketika kurs melemah. Segudang teori  mendukung argumentasi disampaikan seakan kurs melemah adalah kartu mati untuk Jokowi. Pemerintah menyikapinya dengan tenang dan focus kepada recovery ekonomi yang terus bergerak kearah positip. Bulan september neraca perdagangan kita surplus dan terjadi surplus primer pada APBN. Mengapa begitu mudahnya Indonesia membalik keadaan dari defisit menjadi surplus. Kemudian masuk november, kurs rupiah menguat dan semakin perkasa menghadapi USD. Oh itu karena faktor eksternal. Benar. Tetapi tanpa dukungan kondisi makro ekonomi yang dikelola dengan disiplin tinggi tidak mungkin faktor eksternal dapat mempengaruhi posisi rupiah begitu lebar di pasar. Siapa yang mempengaruhi kurs dipasar itu ? Bukankah keadaan ekonomi dunia lagi krisis?  Kalau orang main judi , apakah semua orang kalah? atau semua menang? tidak kan. Ada yang kalah tentu ada yang menang. Kehidupan juga begitu. Ada yang kaya tent

Meraih Bahagia.

Image
Ada yang mengatakan bahwa kalau karirnya sukses, hidupnya akan bahagia. Kalau dia menikah dan dapat istri cantik , atau suami gagah dan kaya, hidupnya akan bahagia. Kalau , kalau, kalau,…akan bahagia. Saya sering mendengar orang bicara seperti itu. Terutama anak muda. Saya hanya bisa tersenyum. Mengapa ? terlalu mahal bagi mereka untuk bahagia. Dan terlalu berat syarat untuk bahagia. Menyedihkan sekali sikap hidupnya. Mengapa ? bahagia itu tidak ada kaitannya dengan diluar diri kita. Harta, jabatan, keluarga, tidak ada kaitanya dengan bahagia. Bahagian itu adalah persepsi kita. Tentang sebuah ide bagaimana kita bersikap terhadap hidup ini. Kalau dasarnya adalah materi maka apapun alasan dan prasyarat, tidak akan membuat kita bahagia. Siapa yang bahagia, apakah seorang raja atau seorang yang tinggal di jalanan dan hidup seperti pengemis? Pasti sebagian orang akan menjawab “Raja”. Biaklah, ada sebuah anekdot pertemuan antara Alexander (Kaisar) dan Diogenes (filsuf yang hidup di

Menjaga empati ?

Image
"Kita belain para wartawan. Gaji kalian juga kecil, kan? Kelihatan dari muka kalian. Muka kalian kelihatan enggak belanja di mal. Betul, ya? Jujur, jujur," kata Prabowo disambut tawa awak media yang mengelilinginya. Kemudian di Boyolali Prabowo mengatakan “ Kalian kalau masuk, mungkin kalian diusir. Tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang-tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini. Betul?" kata Prabowo kepada para pendukungnya. Saya sempat berpikir mengapa sampai Prabowo kehilangan kata kata yang bijak untuk menunjukan sikap empati nya terhadap orang miskin?  Mengapa sikap  empatinya itu justru menghilangkan kesan niat baik  bahwa dia empati kepada orang miskin. Jawaban ini ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Adam Galinsky, professor of management and organizations at the Kellogg School of Management. Adam Galinsky menulis dalam jurnal kepemimpinan, bahwa kekuasaan dapat menghambat empati. Dalam penelitian nya itu , peserta diperlihatka