Saturday, November 27, 2021

Berbagi

 






Sore jam 5 saya pulang ke rumah. Perut keroncongan. 


“ Maaf. Kamu sudah makan ? Tanya saya ke supir taksi.


“ Tadi siang sudah pak.”


“ Bisa temanin saya makan? Tanya saya.


“ Saya antar aja bapak ke restoran. Biar saya tunggu di tempat parkir”


“ Temanin saya makan aja . Mau ya?


“ Terimakasih pak. Biar saya tunggu “


“ kamu tolong saya. Saya engga bisa makan sendirian. “


“ Kenapa ?


“ Ya engga apa apa. “ kata saya. Dia akhirnya mau temanin saya makan.   


“ Pak.. serunya. Ketika makan di restoran bersama saya. “ Usia saya sudah 50 tahun. Dulu pernah usaha. Tetapi gagal. Terlilit hutang. Habis semua. Sejak itu saya engga ada keberanian lagi bisnis. Sekarang inilah hidup saya. Dua anak saya jadi buruh. Hanya tamatan SLA” katanya dengan datar. Seperti ada sesal di raut wajahnya. “ Saya takut dan kawatir dengan hidup saya dan anak anak” lanjutnya 


“ Sebenarnya. Tidak ada orang yang benar berani. Saya berkali kali bangkrut namun saya terus bangkit lagi. Itu bukan karena saya punya keberanian. Tetapi itu hanya cara survival saja. Apapun pilihan tidak ada yang bagus. Tidak ada yang aman. Namun kita hasus memilin. Jadi sebenarnya dibalik keberanian itu ada rasa takut luar biasa dan itu membuat kita sulit bedakan takut dan berani. Akibatnya kita kebal dengan situasi apapun. Berlalunya waktu, kita baru sadar ternyata semua yang datang akan berlalu. Apapun itu. “ kata saya.


“ Wah dalam sekali pemahaman bapak”


“ Engga usah terlalu dipikirkan yang belum terjadi. Yang penting nikmati hari ini dengan suka cita. Gunakan kesempatan untuk terus berbagi. Karena alasan kita dilahirkan Tuhan adalah untuk berbagi kepada orang lain. “


“ Ya Terimakasih. Pantas bapak engga bisa makan sendirian” katanya tersenyum.


“ Walau hidup tidak ramah tetapi dengan cara makan bersama ini, saya bisa meyakinkan kepada diri saya bahwa saya pantas dilahirkan. Soal besar kecil, kaya atau miskin itu soal ukuran saja. Esensinya berbagi..”


Tuesday, November 02, 2021

Kepemimpinan.

 




Pada satu saat saya makan siang dengan teman di resto jepang. “ Sepertinya saya harus bercerai dengan suami. “ Katanya dengan mimik tenang.

“ Kenapa ? Kata saya terkejut.

“ Dia suami dan pria yang tidak responsif. 

“ Maksud kamu ?

“ Saya sedang bicara tentang masalah saya, pada saat dia sedang baca koran. Dia tidak berhenti baca koran. Terus aja. Paham kan, seperti itu contohnya. Artinya dia hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Tanpa peduli dengan saya.”

“ Oh i see. Apakah itu penting ?

“ Gimana sih kamu. Dia itu pemimpin keluarga. Seharusnya dia itu responsif. Engga bisa cuek begitu. “ Katanya dengan nada kesal.


“ Pemimpin itu ada dua jenis. Pertama, pemimpin yang memimpin. Dia tidak sibuk dengan masalah kecil dan keluhan. Karena dia percaya dengan pendelegasian tugas dan wewenang. Dia hanya focus melaksanakan visinya sebagai pemimpin. Bagaimana sumber daya yang ada bisa dioptimalkan agar kepemimpinannnya efektif melaksanakan ide besarnya. 


Kedua, pemimpin yang responsif. Dia selalu sibuk dengan masalah kecil dan mendengar keluhan. Karena dia menganggap orang dibawahnya seperti anaknya yang selalu dia kawatirkan dan jaga. Dia pasti tidak ada waktu memikirkan agenda besar. Dia mudah lelah dan mungkin mudah dikendalikan. “ Kata saya.


“ Dalam konteks keluarga gimana ?


“ Nah dalam keluarga, ide besar suami itu adalah bagaimana menjaga istri dan anaknya terhindar dari aib besar. 


“ Apa itu aib besar ? 


“ Kemiskinan. Miskin harta dan moral. Dia focus kesana saja. Untuk itu pria akan memilih istri yang mampu menjadi mitranya untuk melaksanakan ide besar itu. Makanya soal cantik dan pintar, engga penting amat. Ukurannya adalah kompetensi wanita sebagai ibu dan mitra bagi dia.


Jadi kalau kamu anggap dia tidak responsif , itu karena kamu  tidak siap punya suami sebagai pemimpin yang memimpin. Kamu inginkan suami yang mau menurut dengan semua keluhan kamu dan mendengarkan rengekan kamu. Yang salah bukan suami, tetapi kamu yang salah memilih. Mungkin juga dia salah memilih kamu“ Kata saya.


“ Jadi..” Katanya mengerutkan kening.


“ Perbaiki sajalah niat. Tentu yang tahu niat itu, hanya kalian  saja. Biasanya kalau menikah karena Tuhan, Tuhan juga yang akan menuntun agar memilih jodoh yang tepat. Bukankah satu sama dengan nol, dua sama dengan satu. Kalian harus saling menguatkan dan tahu menempatkan dirinya dengan tepat. “ Kata saya tersenyum karena melihat dia mulai tercerahkan.


***

Anda semua kenal siapa itu Bill Gate. Sang billioner kelas dunia yang hidupnya kini lebih focus kepada kegiatan amal. Bagaimana dia bisa mundur dari Microsoft tanpa ada kawatir akan masa depan Microsoft? Itu karena ada Paul Allen, tangan kanannya yang sedari awal berdiri Microsoft mendampinginya. Anda juga tahu siapa itu Steve Jobs. Pendiri Apple. Dia bisa bebas berkreasi karena ada orang kepercayaanya bernama Steve Wosniak. Begitu juga dengan Mark Zuckerberg, yang sukses mengembangkan facebook. Itu berkat ada orang hebat disampingnya yaitu Chris Cox.


Di Hong kong saya ada James. Dia adalah tangan kanan saya. Semua operasional holding yang berkaitan dengan sumber daya perusahaan seperti SDM, Uang dan material dia yang urus. Bisnis proses dari sejak keputusan bisnis dibuat sampai menghasilkan uang, itu dia yang lakukan. Saya hanya memberikan visi dan membuat keputusan strategis berkaitan dengan rencana ekspansi dan memberikan solusi disaat sistem organisasi perusahaan tidak mampu melaksanakannya. Selebihnya, hari hari dia yang melaksanakan detail operasional. Di Jakarta juga saya ada Jessica yang jadi tangan kanan saya.


Dalam bisnis anda tidak perlu 100 orang kepercayaan. Cukup 1 aja. Itu udah berkah. Dengan adanya orang kepercayaan yang menjalankan roda perusahaan, anda bisa focus kepada visi dan strategi untuk mengembangkan bisnis. Artinya anda harus ada mitra atau tangan kanan yang berpikir dengan otak kirinya melaksanakan bisnis proses. Sementara anda focus kepada otak kanan memadukan instuisi dan kekuatan spiritual untuk membangun organisasi yang transformatif.


Lantas bagaimana dapatkan tangan kanan yang bisa dipercaya ? Itu tidak bisa didapat dengan cepat. Butuh proses sampai anda yakin dia orang yang tepat. Tentu ada test lewat pengalaman dan kebersamaan. Tetapi intinya adalah anda harus lebih dulu merebut hatinya. Kalau itu sudah diyakinkan, dia akan mengerti anda dan selanjutnya dia bisa loyal. Nah loyalitas itu bukan karena gaji dan tunjangan tetapi karena dia percaya dengan visi anda.


Lantas bagaimana mengelolanya? jangan sedikitpun ragu terhadap dia. Berikan kepercayaan penuh baik secara management maupun secara personal. Jangan pernah intervensi kebijakannya. Jangan! Tetapi terus pantau perkembangannya. Baca laporannya dengan teliti. Kalau kurang skill ya suruh dia kursus atau ikut seminar. Kalau ada kesempatan usahakan memberikan pencerahan secara spiritual sesuai visi anda. Yakinlah. Dengan adanya tangan kanan, walau bisnis banyak, anda tidak kehilangan privasi sebagai pengusaha. Anda tetap kapten atas hidup anda.


Dalam keluarga juga sama. istri itu tangan kanan anda. Beri dia kepercayaan penuh dan siapkan semua sumber daya agar dia nyaman menjalankan amanah sebagai CEO rumah tangga.

Dalam kehidupan negara dan politik juga organisasi perusahaan, Dua jenis pemimpin itu akan nampak. Kalau semua dikerjakan karena pemimpin responsif maka yakinlah tidak akan ada perubahan yang berkelanjutan. Tetapi kalau semua dikerjakan dengan hebat berkat pendelegasian, maka perubahan akan terus terjadi kearah yang lebih baik. Karena kepemimpinan menjadi efektif dan transformatif.

Berbagi

  Sore jam 5 saya pulang ke rumah. Perut keroncongan.  “ Maaf. Kamu sudah makan ? Tanya saya ke supir taksi. “ Tadi siang sudah pak.” “ Bisa...