Sunday, October 23, 2011

Berkorban...

Semua tahu akibat politik Apartheid oleh penguasa kulit putih di Afrika Selatan , Mandela harus mendekam di penjara pulau Robben selama 27 tahun dan baru merasa udara kebebasan ditahun 1990. Namun ketika dia dibebaskan dan kekuasaan ada ditangannya, yang pertama kali dilakukannya adalah “memaafkan lawan politiknya. Kalau saya melakukan hal yang sama sebagaimana mereka pernah lakukan kepada saya, maka itu tidak ada bedanya antara saya dengan mereka. Demikian ungkapan Mandela yang terkenal dalam buku “Playing the Enemy: Nelson Mandela and the Game That Changed a Nation’, karya pengarang John Carlin. Apa jadinya bila Nelson Mandela tidak memaafkan lawan politiknya ketika dia berada dipuncak kekuasaanya sebagai president Afrika Selatan? Saya yakin kehidupan politik Afrika Selatan tidak akan seperti sekarang ini.

Semua tahu bahwa Abu Sofian adalah tokoh kafir yang berada digaris depan memusuhi Rasul. Ketika perang Uhud, paman Rasul gugur ditangan budak Abu Sofian. Konon ceritanya jantung dan hati Paman Rasul, Amzah sampai dimakan oleh Hindun , istri Abu sofian. Demikian kebencian Hindun kepada Paman Rasul itu. Ketika kekuatan Islam semakin bertambah , maka saatnya Rasul memerintahkan untuk menguasai Makkah dari tangan Abu Sofian. Ini perang dakwah. Melindungi umat islam di Makkah dan sekaligus membuka pintu bagi umat islam didaerah lain melaksanakan ibadah haji. Sebelum serangan dilakukan, Abu Sofian memilih untuk menyerah namun meminta jaminan keselamatan dan kehormatannya. Rasul langsung menjawab “ Baiklah. Kalian dengarkan dan sampaikan kepada Abu Sufyan, ‘Siapa yang masuk Masjidil Haram, aman! Dan siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, aman’,” kata Rasulullah. Demikian agungnya pribadi Rasul yang langsung memberikan maaf dan pada waktu bersamaan memberikan rasa hormat kepada musuhhya.

Sikap Rasul yang memberikan maaf begitu mudahnya , tentu semudah itu beliau melupakan masa lalu yang kelam bersama kekejaman Abu Sofian terhadap dirinya, sehingga beliau terpaksa tersingkir dari kota kelahirannya. Adalah puncak keagungan dari kebijakan Rasul, yang sehingga tak lain memberikan dampak rasa hormat kepada siapapun. Maka peradaban yang diselimuti oleh rasa benci yang memperturutkan hawa nafsu segera sirna, dan yang nampak tak lain adalah kedamaian untuk saling memaklumi diatas rasa hormat untuk ikhlas memaafkan. Demikian pula yang dilakukan oleh Nelson Mandela. Tak ada rasa benci , karena dia menguasai dirinya , menguasai nafsunya , I am the captain of my soul. Demikian sepenggal puisinya yang terkenal. Maka masa depan akan ditapak dengan sepenggal hope bahwa money cannot create success but freedom and peace can build your future a better. Itu hanya memungkinkan bila tidak ada rasa benci dan selalu siap untuk memaafkan.

Sifat pemaaf itu bukan hanya berdampak pada kehidupan social tapi juga berdampak kepada kehidupan spiritual kita. Kalau kita pemaaf maka secara social kita kuat dan tentu secara spiritual kita lebih kuat. Karena ketika orang menzolimi kita dan menganiaya kita sebetulnya ada ribuan malaikat hadir bersama kita. Para malaikat sedang menyaksikan sebuah keutamaan anak Adam melawan hawa nafsunya untuk menjadi mulia dihadapan makhluk apapun yang diciptakan Allah. Namun apabila kita membalas makian dengan makian, kebencian dengan kebencian, pada saat itulah para malaikat berhamburan pergi. Yang datang dan mengelilingi kita adalah Iblis. Ketika itulah kita menjadi hina sehinanya dari semua makhluk ciptaan Allah.

Betapa tidak ? "...dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. An Nuur, 24:22). Demikian Allah berfirman dalam Al Qur'an. Bila masih ada rasa dendam dan marah atau merasa lebih benar dari orang lain sehingga pantas membenci maka itu artinya melawan firman Allah. ... dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. At Taghaabun, 64:14).Betapa indahnya ajaran Allah kepada kita, bahwa memaafkan orang lain itu bersanding dengan kemaha ampunan dari Allah. Kita menjadi bayang bayang Allah. Subhanallah.

Bernahkah begitu bahwa memaafkan itu adalah repliksi sifat Allah ? Inilah firman Allah "Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (Qur'an 42:43). Mulia adalah sifat agung , sifat para ahli sorga, juga sebagai penebar kasih sayang dibumi untuk rahmat bagi alam semesta. Maka, "...menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain." (QS. Ali ‘Imraan, 3:134) jadikanlah itu sebagai bagian dari pribadi muslim. Ketika kita memaafkan orang lain itu sebetulnya kita sedang menolong diri kita sendiri untuk melapangkan jalan meraih ampunan dari Allah, dan tentu semakin mendekat diri kepada Allah. Blla kita sudah dekat kepada Allah maka cinta Allah akan teraih untuk memudahkan urusan dunia maupun akhirat. Mulailah melatih untuk berkorban membunuh ego , untuk menjadi orang pemaaf, pengasih dan penyayang.

Wednesday, October 19, 2011

Sikap

Didepan gate imigrasi China, saya baru menyadari bahwa passport saya rusak. Sebelumnya saya tidak tahu.Mungkin perlakuan kasar petugas Imigrasi Eropa TImur yang membuat cover dalam passport saya terlepas dari jahitannya. Menurut aturan International memang mengharuskan saya untuk mengganti passport tersebut dengan yang baru. Pihak Imigrasi China menyarankan saya untuk menghubungi pihak kedutaan atau consulate terdekat. Namun mereka tetap mengizinkan saya untuk keluar dari Beijing menuju Guangzhou. Sesampai di Guangzhou saya menghubungi pihak consulate untuk mendapatkan passport baru. Proses pengurusan berlangsung dengan cepat. Karena terkesan akan kesigapan petugas consulate itu, saya memberi uang sebagai tanda simpati saya. Namun ditolaknya dengan ramah “ Tidak usah Pak, Saya malu sama pak SBY”

Dikesempatan lain, saya berurusan dengan petugas PEMDA Tangerang untuk mendapatkan IMB. Pejabat yang bertugas melayani pengurusan IMB itu menerima saya dengan ramah. Setelah melampirkan design rumah dan lokasi tanah yang akan saya bangun, petugas itu memeriksa dengan teliti. Dia minta saya mengisi formulir dan mendatanganinya. Kemudian memberikan tanda terima atas berkas yang saya serahkan. Berjanji dalam seminggu surat IMB akan ditanda tangani oleh Walikota. Selama proses penerbitan Surat IMB, saya dipersilahkan untuk meneruskan pembangunan, asalkan mematuhi ketentuan batas bahu jalan dll. Seminggu kemudian , saya datang, Surat IMB sudah selesai. Ketika saya memberikan uang sebagai tanda simpati, petugas itu menjawab “ Terimakasih Pak, Tidak usah. Saya malu sama Pak Wali” .

Entah kenapa dua peristiwa ini berhubungan dengan rasa malu. Kedua petugas yang saya temui bukanlah pejabat tinggi. Dalam rantai kekuasaan, dia berada termat jauh dari puncak kekuasaan. Mungkin juga seumur hidupnya tidak pernah bertemu langsung dengan President atau berbincang bincang dengan Menteri atau Walikota. Tapi bagaimana kedua petugas ini bisa bersikap tegas demi rasa malu? Menurut saya ini tak datang dengan sendirinya. Ini disebabkan oleh dua hal, pertama , karena proses komunikasi dari pimpinan puncak sampai kebawah terjadi secara efektif. Setiap kebijakan yang datang dari pimpinan puncak diterjemahkan dengan baik oleh seluruh pimpinan dibawahnya secara berjenjang hingga sampai kelevel terendah. Kedua, karena memang pada dasarnya petugas itu orang baik yang terdidik dengan baik secara agama. Jadi komando yang disampaikan lewat komunikasi kepemimpinan ditempatnya bekerja disikapi dengan baik pula.

Petugas di consulate itu pimpinannya adalah Dubes. Walau Dubes dipilih atas dasar persetujuan DPR namun secara administrasi seluruh staff kedutaan dibawah garis kepemimpinan Menlu. Menlu , dibawah President. Mungkin karena Menlu bukanlah orang politik yang tak mewakili partai manapun maka lebih mudah menterjemahkan arahan SBY. Berbeda dengan menteri dari Partai lain yang kadang harus meminta pendapat Pimpinan Partai untuk menterjemahkan arahan SBY. Dan inilah penyebab banyak kebijakan presiden tidak efektif dilaksanakan oleh menteri. Berkaca dengan kasus Petugas PEMDA yang saya temui, dimana Walikota terpilih berasal dari PKS. Yang ternyata punya prinsip yang sama dengan petugas kedutaan yang menekankan hakikat malu bila menerima “suap”.Menurut teman saya seorang dosen, ini disebabkan platform perjuangan PKS dan PD hampir sama soal kepemimpinan yang bersih.

Tetapi bukankah semua Partai punya kepentingan soal lahirnya elite politik ( pemimpin ) yang bersih untuk melahirkan system pemerintahan yang bersih pula?. Mengapa korupsi masih terus terjadi?.Korupsi sampai kapanpun tidak akan pernah habis. Samahalnya kita menginginkan hapusnya pelacuran dimuka bumi dan memohon kepada Allah agar Setan dimusnahkan. Itu tidak mungkin. Yang mungkin adalah menjadikan siapapun yang terpilih sebagai elite politik berada dalam pengawasan by system. So, bila korupsi terkesan semakin menjamur itu bukanlah berarti era sekarang korupsi lebih banyak dibandingkan era Soeharto. Yang pasti di Era Soeharto , korupsi tak menjadi berita bebas. Hingga sulit dihitung berapa banyak korupsi itu. Di era sekarang korupsi menjadi berita laku dijual oleh PERS makanya sekecil apapun riak elite politik yang bernuansa korup akan menjadi berita hebat.

Memang membaca berita soal korupsi dan ulah pejabat kadang membuat kita kesal. Seakan tak ada lagi pejabat yang bersih. Semua salah dan tak becus. Melihat fakta keseharian, masih ada pejabat yang bersih dan jujur. Artinya masih ada peluang untuk perubahan yang lebih baik. Tentu alangkah baiknya bila kita sebagai rakyat juga pada waktu bersamaan mulai berubah menjadi komunitas yang ber akhlakul kharimah, selalu digaris depan menegakan kebenaran , kebaikan, keadilan, minimum menerapkan itu sebagai kewajiban kepada diri kita sendiri. Mengapa ? Pemimpin yang baik akan melahirkan peradaban yang baik namun pemimpin yang baik tidak datang dari langit begitu saja, tapi ia datang lewat proses yang terbentuk ditengah masyarakat. Bila masyarakat sakit maka tak mungkin akan lahir pemimpin yang sehat lahir batin.

Melihat pemimpin brengsek, kita mulai bermimpi dan berharap pemimpin seperti Rasul yang berhati agung, atau Abu Bakar yang lunak dan bijaksana, atau Umar Bin Khatap yang keras namun berhati mulia atau Ali Bin Abithalib yang berhati selembut salju. Namun pernahkah kita bercerimin terhadap diri kita sendiri? Apakah sudah pantas mendapatkan pemimpin dengan qualifikasi mulia itu?. Bila ingin perubahan maka mulailah dari diri kita untuk berubah. Setidaknya mulai dari yang kecil, misalnya, tidak menyuap Polisi dijalan bila terbukti bersalah dan masih banyak lagi hal lain yang kecil bisa kita lakukan untuk lahirnya kebaikan , kebenaran, dan keadilan. Bila ini sudah terbiasa maka pemimpin berhati mulia akan muncul dan perubahan besar akan datang dengan sendirinya sebagai proses sunatullah.

Saturday, October 15, 2011

Bersyukur...

Ketika kunjungan ke Dongwan, memang terasa sekali geliat kota ini tidak sama dengan lima tahun lalu. Menurut teman sejak global crisis tahun 2008 , lambat namun pasti satu demi satu pabrik yang berorientasi eksport bertumbangan. Tentu meninggalkan masalah yang tidak kecil, seperti pemutusan hubungan kerja dan juga berimbas kepada rekanan pabrik yang selama ini hidup bergantung dengan kegiatan produksi pabrik. Kehidupa kota juga berpengaruh besar. Banyak toko yang tutup karena lesunya konsumen. Banyak apartament yang ditinggalkan oleh penghuninya. Tempat hiburan yang kehilangan geliat konsumen asing dan semakin meredub seiring semakin ketatnya pemerihtah membatasi jam kerja tempat hiburan. Dongwan adalah symbol pertumbuhan kota yang bertumpu pada industry borientasi eksport dan jasa, yang akhirnya harus menerima nasip sebagai bagian dari crisis dunia.

Sahabat saya yang juga pengusaha di China , saya tanyakan solusi apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah china dengan situasi ini. Teman itu menjawab dengan tegas bahwa tidak ada solusi. Ini masalah structural. Dimana kota dirancang untuk meraih peluang dari keberadaan pasar eksport dengan menempatkan keunggulan china dalam hal upah yang murah serta kurs yang lemah terhadap Negara tujuan eksport. Ini mengakibatkan harga barang china menjadi murah dan merajai pasar dunia. Namun berlalunya waktu, Negara tujuan eksport terkena dampak yang massive akibat banyaknya industry mereka yang tumbang akibat kalah bersaing dengan produksi dari China. Ketika China meraih pertumbuhan tinggi, Negara lain mulai melambat pertumbuhannya dan kini akibat global crisis , semua menjadi melambat. Hukum pasar akan berlaku dengan efektif terhadap situasi China kini, free entry free fall. Demikian kesimpulan teman itu.

Akankah china Fall ? Ketika bertemu dengan pejabat China , hal ini sempat saya tanyakan. Namun pejabat itu tersenyum. Dia mengatakan bahwa sector industry yang berorientasi eksport sejak tahun 2000 sudah semakin kecil sumbangannya terhadap GDP. Kalau tahun 2000 sumbangan eksport terhadap GDP sebesar 40% namun kini tinggal 23 %. Ini karena kebijakan jangka panjang pemerintah yang menempatkan sector pertanian dan pasar domestic sebagai ujung tombak dan sekaligus fondasi kokoh bagi pertumbuhan china yang berkelanjutan. Jadi kalaupun kini banyak industry yang tutup karena lemahnya permintaan export , itu sudah diantisipasi oleh pemeritah jauh sebelumnya. Proses penyesesuaian struktur ekonomi china yang berlandaskan kepada kekuatan komunitas dalam negeri akan terjadi dengan sendirinya secara efektif , terutama dengan adanya krisis global ini. Banyak industry asing yang hengkan dan akhirnya dibeli oleh pengusaha local untuk memenuhi pasar dalam negeri.

Namun hal yang menarik dari dialogh dengan teman maupun dengan pejabat china itu , bahwa dalam kondisi ekonomi booming maupun lesu, masyarakat china tidak berubah banyak secara materi. Sudah menjadi budaya mereka untuk bekerja keras mendapatkan hasil namun tidak memanjakan diri dengan segala kelebihan yang mereka dapatkan. Ketika keadaan memburuk bahkan terburukpun, rakyat tetap kuat diatas budaya hidup hemat dan sederhana. Mereka tetap percaya dengan pemerintah untuk bersama sama mengatasi masalah. Sudah menjadi keyakinan mereka bahwa kehidupan ini adalah berkah tak terbilang yang harus disyukuri. Dibalik banyak kesulitan dan derita akibat keinginan tak terpenuhi , ada rasa syukur. Mereka tak bekeluh kesah dengan keadaan dan terus bekerja serta menyesuaikan keinginan dengan keadaan. Ya mereka berdamai dengan diri mereka sendiri diatas banyak keinginan yang tak terpenuhi akibat crisis ekonomi, tanpa menyalahkan siapapun, temasuk tak menyalahkan pemerintah.

Saya tidak tahu bagaimana budaya rasa syukur itu terbangun di masyarakat China, namun yang saya tahu bahwa budaya rasa syukur itu merupakan ajaran akhlak dalam Islam. Allah dengan kehebatan dan keperkasaan yang termaha, berkata “"... sekiranya kalian menghitung-hitung nikmat Allah, nescaya kalian tidak akan dapat menghitungnya ..." (Ibrahim: 34). Demikian besar nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada kita. Dunia ini, beserta apa yang ada di dalamnya telah diciptakan Allah untuk kita, tetapi kebanyakan kita tidak pernah menyedarinya. Bagaimana mungkin kita meneikmati kehidupan tetapi tidak pernah mengetahuinya. "... Dia telah memberikan nikmat-nikmatnya secara sempurna kepada kalian, baik yang zahir mahupun yang batin ..." (Luqman: 20).

Kita cemas memikirkan tabungan yang menyusut, bisnis yang oleng, tagihan menggunung yang semakin sulit terlunasi. Kita berkeluh kesah dan lupa bahwa masalah itu umbernya adala kita lupa besyukur kepada Allah karena dibutakan oleh keinginan yang belum terpenuhi atau keinginan yang terganggu karena sesuatu sebab, yang sebetulnya adalah cara Allah untuk melatih kita agar semakin sadar akan nikmat Allah tanpa harus hidup diperbudak oleh kehendak nafsu yang tak terpuaskan.

Thursday, October 06, 2011

Pilihan

Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. Don’t be trapped by dogma — which is living with the results of other people’s thinking.Don’t let the noise of others’ opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary,” Demikian yang dikatakan oleh steve Jobs pendiri Apple pada tahun 2005. Namun kata kata itu sulit dimengerti ketika Apple menuntut Samsung dibanyak Negara atas smartphone Samsung Galaxy S yang merupakan desain iPhone3. Apple meng claim bahwa Samsung melanggar tujuh paten yang berhubungan dengan layar sentuh perangkat Galaxy seperti 'memahami gerakan pengguna, termasuk memilih, bergulir, mencubit dan zooming. Samsung juga menyalin tiga paten pada desain, termasuk wajah hitam datar dari iPhone dan iPad,

Samsung menghadapi gugatan Apple di banyak Negara. Setelah beberapa bulan bertarung di pengadilan, tanggal 4 Oktober pengadilan AS tidak bisa memutuskan siapa yang menang , siapa yang kalah. Stuck. Sehari setelah keputusan pengadilan itu, atau tanggal 5 oktober , Steve Jobs wafat. Samsung dan Apple akan terus bersiteru dipengadilan sampai ada yang kalah. Inilah bagian dari budaya kapitalis yang menjadikan Paten, merek dagang, Hak intelektual sebagai property. Walau dari awalnya kerjasama antara Samsung dan Apple begitu solid dimana Samsung sebagai pabrikan yang merakit semua komponen Apple untuk menjadikan produk apple menguasai pasar dunia namun bila sudah menyangkut kepentingan maka kerjasama terlupakan. Saya tidak akan membahas materi dibalik gugatan Apple dan dibalik pembelaan Samsung. Saya hanya ingin mengangkat persoalan soal Paten, merek dagang dan Hak intelektual.

Teman saya seorang periset pernah mengatakan kepada saya andaikan dulu ada paten, hak intelektual, maka dunia harus menjadikan Thomas Alpha Edison sebagai Tuhan kedua didunia. Karena apa jadinya dunia tanpa lampu. Juga sama halnya , apa jadinya industry tanpa adanya tekhnologi gerak dari uap yang ditemukan oleh James Watt. Yang lebih luas lagi, apa jadinya bila Albert Einstein mempatenkan penemuan teori relativitas energynya yang sampai kini tak ada tekhnologi dasar yang tidak tergantung dari penemuan itu.Tapi para sainsitis generasi pendobrak kemajuan ilmu pengetahuan itu tidak menuntut paten. Begitupula masyarakat yang diwakili oleh Negara ketika itu tidak menjadikan itu sebagai hak pribadi. Itu menjadi hak orang remai untuk lahirnya kemakmuran. Semua orang boleh menggunakan tekhnologi penemuan terbaru itu untuk kepentingannya. Terlepas soal motive, sains tetaplah sains yang pada akhirnya tergantung manusia mau memanfaatkannya seperti apa.

Generasi awal pendobrak kemaujuan ilmu pengetahuan telah memberikan teladan terbaik kepada generasi berikutnya tentang keikhlasan berbagi dan mendapatkan nilai dari penemuan itu bukan dari segi materi tapi lebih daripada itu adalah nilai kemanusiaan. Bahwa umur mereka dipergunakan sebaik mungkin bagi orang banyak dan itu akan abadi dihati orang, dilintas generasi. Hasil penemuan mereka tidak digunakan untuk lahirnya persaingan berebut hegemoni tapi untuk tersebarnya kerjasama saling memberikan nilai. Dengan itulah , sains terus berkembang dan membuat orang hidup lebih baik. Cobalah perhatikan, Microsoft yang selalu kebakaran jenggot karena orang meng copy penemuannya , jusru pada akhirnya membuat pasar terluas Microsoft di China menyempit karena memaksa orang lain untuk menemukan OS sendiri. Andaikan Microsoft tidak sewot ketika di copy mungkin dia akan mendapatkan dukungan dari yang lain untuk bersama sama berkembang tanpa harus berlelah saling bersaing. Begitupula dengan Apple, akan lebih baik bila dia duduk bersama dengan Samsung sebagai mitra dan melihat persoalan jauh kedepan bagi ilmu pengetahuan.

Menurut lawyer yang saya kenal pernah mengatakan bahwa keberadaan undang undang Paten , merek dagang , hak intelektual, memang sulit memastikan mana yang berhak dan mana yang tidak. Karena bisa saja berada di grey area. Maklum saja bahwa pada akhirnya sulit menentukan kemurnian sebuah penemuan. Karena tidak ada satupun produk diciptakan murni buah karya seseorang atau perusahaan. Teman itu mengibaratkan sebuah buku. Bagaimana bisa memastikan itu buku ditulis murni buar karya penulis. ? Bisa saja penulis mengatakan bahwa buku hasil riset ilmiahnya namun pada waktu bersamaan semua orang tahu deretan hurup pada kalimat dalam buku itu terdapat dalam buku dictionary. Nah apa yang menjadi hak ? judul buku? Isi buku atau keseluruhan buku. Bila salah satu gugur maka gugurlah semuanya. Disamping itu sebagian besar hakim ketika memutuskan perkara sengketa soal paten ini, lebih melihat sisi nurani terhadap nasip karyawaan perusahaan yang akan menjadi korban bila dikalahkan oleh gugatan paten.

Apple bukanlah tandingan Samsung. Kapitalisasi saham Apple sebesar lebih USD 340 billion itu sama dengan GNP indonesia dan mungkin lebih besar dibandingkan GNP Malaysia, Vietnam dan Bruney.. Apalagi dengan negara Afrika. Disamping itu ada ratusan ribu karyawan Samsung berserta rekenannya diseluruh dunia yang hidup bergantung dari produk Samsung. Apakah Steven Jobs tidak berbicara dengan nuraninya soal ini. Kalaupun Apple memenangkan perkara , juga tidak menjamin pasar Apple akan semakin luas. Karena Samsung tentu tidak akan tinggal diam. Sama seperti china bersiteru dengan Microsoft dan Google. Yang justru membuat pasar Google dan Microsoft semakin menyempit. Ya,bagaimanapun inilah buah dari mental kapitalisme, mental ingin berkuasa dan tak ingin disaingi. Maka produk hukum Paten , Merek dan hak intelektual yang lahir dari WTO semakin memberikan wajah tentang dunia kita kini. Ketamakan.!

Tapi terlepas perspektif saya soal tersebut diatas , saya teringat akan pepatah melayu “ harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Masalahnya mau dikenang seperti apa nama itu setelah mati. Itu soal pilihan.Sebagaimana para sainsitis yang memilih untuk mati meninggalkan penemuanhya kepada orang banyak secara free of charge. dan Steven Jobs yang harus mati meninggalkan kasus gugatan ganti rugi atas claim penemuannya terhadap Samsung yang belum tuntas. Silahkan pilih sendiri. Yang pasti ketika mati, tidak ada yang anda bawa kecuali amal disisi Allah dan nama abadi dihati orang banyak karena amal jariah...

Saturday, October 01, 2011

Istri dirumah

Satu saat teman cerita. Sedang asyik dikamar kerja , terdengar teriakan istri menyuruh dia makan. Kerjaanpun terhenti dan hilang mood untuk meneruskan. Ketika usai makan, sedang asyik duduk santai didepan TV , kembali istri ngomel minta agar dia kurangi merokok. Rokokpun suda tak nikmat lagi dibawah omelan itu. Baru mau istirihat siang, istri kembali memperingatkan jangan tidur siang sebelum sholat lohor. Tidurpun tertunda dan rasa kantuk terhalau untuk segera sholat. Ketika sore ada niat ketemu dengan teman namun istri minta ditemani belanja ke Carrefour. Setiap mau memilih barang, selalu diiringi dengan sikap istri yang berkata “ engga perlu itu!“. Lihat yang lain “ udah , entar dibeli lupa makannya”. Jadi semua tak boleh. Hanya dia yang boleh. Jadi benar benar hanya sebagai pendamping tanpa hak otoritas membeli. Ok lah.

Ketika hidup dilanda badai dan goncangan datang. Lanjut cerita teman itu. Kesulitan ekonomi mulai membuat layar bahtera rumah tangga miring dilamun ombak. Ada rasa ragu untuk melangkah. Takut untuk menatap haluan. Dalam situasi itu seharusnya dorongan semangat datang dari istri semakin kuat agar tak gentar untuk terus menghadapi badai. Namun bukannya dorongan semangat yang datang justru dihantam kata kata yang menyingkapkan semua kesalahan yang pernah dia buat. Itu terus diulang ulang. Dia tak bisa berbuat banyak kecuali mendengar dalam kesabaran. Ya dia lemah. Ya dia tidak konsentrasi menghadapi masalah. Ya dia banyak lalainya. Ya dia boros. Ya semua kesalahannya tergambarkan dengan untaian kata dibawah letupan emosi yang tak sudah. Pening. Dia harus berubah.!

lanjut cerita teman itu, ketika badai berlalu, angin mulai berhebus dengan pasti mendorong bahtera melaju dengan gagah. Ada rasa bangga untuk sedikit berharap mendapatkan pujian. Namun jangankan pujian malah sifat curiga yang berlebihan datang. Sedikit parlente disikapi dengan curiga. Sedikit agak konsumtif dibilang lupa pernah susah. Sedikit mau bergaya dibilang engga ingat umur. Semua salah. Salah. Lantas dimana benarnya ? mungkin sebagian orang yang bernasif sama dengan dia akan mengatakan gagal mendapatkan istri yang soleha. Benarkah saya gagal bila mendapatkan istri tidak seperti qualifikasi soleha yang digambarkan seperti Khadijah atau Fatimah Zahra?. Yang selalu berlembut wajah berbicara dengan suami. Yang selalu tampil rapi ketika berangkat tidur. Benarkah? Tanyanya dengan tekanan kata membuat saya tersentak dan juga bertanya hal yang sama.

Dengan tersenyum teman itu melihat saya seakan menunggu reaksi saya atas pertanyaannya. Saya hanya diam. Bagi dia , lanjutnya, kehadiran istri dalam hidup tak ubahnya kehadiran Allah dalam disetiap detak jantungnya. Betapa tidak.? dia yang boros, yang malas, pragmatis, pesimis, mudah kalah, kadang tidak sabar , disikapi istrinya dengan sifat yang membuat dia tidak nyaman. Letupan emosi istri lewat bahasa oral dan tubuh telah menelanjangi nafsu egonya. Tak ada sedikitpun ego nafsunya bisa berlindung dari segala alasan untuk meyakinkan bahwa dia benar. Tida ada. Walau diluar sana begitu banyak orang memujinya namun dirumah , tak ada pujian kecuali koreksi tiada henti. Tentu dengan cara istrinya yang special membuat dia harus berkaca dengan kesalahannya. Setiap hari setiap detik dalam kebersamaanya bersama istri dirumah , proses membunuh egonya berlangsung efektif.

Benarlah, berlalunya waktu, tanpa dia sadari sifat boros , malas, pragmatis, pesimis ,mudah kalah, tak sabar dan segala sifat negatif saya sebagai pria yang juga sebagai kepala rumah tangga telah bermetamorfosa menjadi orang yang hidup dalam kesabaran, hemat namun tidak pelit, istiqamah, rendah hati, optimis dan tak mudah menyerah. Anehnya istripun bermetamorfosa menjadi seperti apa yang dia impikan. Kata teman itu dengan senyum bahagia. Seakan dia memberikan hikmah kepada saya tentang perjalanan kehidupan rumah tangganya. Bahwa jodoh adalah hak Allah yang juga Allah lebih tahu mengapa kita harus bertemu dan akhirnya menikah. Dihadapan Istri, tak ada lagi topeng, lahir batin kita telanjang. Yang paling tahu siapa kita ya pasangan kita. Merekalah yang akan menjadi mentor kita untuk saling mengingatkan dan menjaga walau kadang karena iut membuat kita tidak nyaman.

Ya, Allah hadir dalam kehidupan kita lewat orang terdekat kita, yang kita cintai. Allah memberikan hadiah terindah kepada kita yaitu berupa cinta yang merupakan produk sorga. Yang karenanya membuat kita tentram untuk melewati goncang hidup. Lewat hadiah inilah Allah mendidik kita untuk menjalankan agama. Bukankah Rasul pernah bersabda bahwa menikah itu sama saja melaksanakan setengah kewajiban agama, yang tak lain saya maknai setengah jalan untuk berlatih menjadi sempurna di hadapan Allah.

Jadi, bila suasana hati istri kadang menimbulkan letupan emosi yang membuat anda tertekan, kesal, tak nyaman, janganlah buru buru berburuk sangka yang segera menjadikan Khadijah atau Fatimah sebagai pembanding. Jangan cepat melihat definisi wanita sholeha seperti apa kata Al Quran dan Hadith, yang sehingga anda beralasan untuk mencari wanita lain sebagai istri. Jangan! Ketahuilah bahwa wanita sejati tidak tersedia di etalage. Ia harus anda ciptakan sendiri lewat proses kesempurnaan akhlak anda. Anda bukanlah Rasul dan tentu anda juga bukan sekelas Ali Bin Abithalip. Anda hanyalah pria akhir zaman yang hidup mudah berkeluh kesah dan selalu ingin gampangan. Lihatlah wajah istri anda, disitulah Allah hadir dan berdialog dengan anda , untuk mengkoreksi anda dalam proses menjadi sempurna.

Wahyu dan Zaman

  Wahyu yang selama ini dikenal dan dipahami oleh umat Islam berbeda dengan fakta dan klaim sejarah. Karena wahyu yang absolute hanya saat w...