Thursday, October 27, 2005

Bersikap

Ketika derita dan pesoalan datang silih berganti , kadang membuat orang larut dalam berbagai pikiran dan bertanya “ Mengapa harus saya ?. Hingga membuat dia tersungkur dalam ruang yang sempit. Padahal dunia tercipta dengan sangat lapang. Alam pikiran tidak harus sempit. Justru ketika masalah datang kita harus memperluas ruang kita untuk berpikir. Caranya sangat sederhana. Yaitu keluasan bersikap. Artinya tergantung diri kita sendiri apakah masalah itu akan memakan diri kita ataukah masalah itu akan justru membuat kita semakin berkembang. Bila kita mesikapi masalah itu secara negative maka hasilnya akan tentu negative juga. Bila kita mensikapi masalah itu secara positive maka hasilnya akan tentu positip. Itulah makna sikap yang tangguh. Itulah nilai kesabaran sebagai makluk ciptaan Allah.

Diceritakan, Ubaidah ibn al-Jarrah, jenderal yang memimpin tentara Islam dalam pertempuran melawan Romawi, pernah berkirim surat kepada Khalifah Umar ibn al-Khattab tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Dalam surat balasannya Khalifah Umar menyuruh Ubaidah agar bersabar dan tahan uji, karena Allah akan memberikan banyak kemudahan di balik kesulitan itu.

Sabar dan tahan uji, serta penuh harap (optimisme) terhadap pertolongan Allah seperti dipesankan Khalifah Umar di atas haruslah menjadi keyakinan kaum beriman. Dalam Alquran ditemukan banyak ayat yang menjanjikan kemudahan di balik kesulitan. Allah berfirman, "Allah akan memberikan kelapangan setelah kesempitan." (Al-Thalaq: 7). Dalam ayat lain, kemudahan itu dikatakan datang bersama dengan kesulitan itu sendiri. Dengan kata lain, dicelah-celah setiap kesulitan selalu ada kemudahan. Perhatikan firman Allah ini: "Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan."(Al-Insyirah: 5-6).

Kemudahan itu, tentu saja tidak datang secara cuma-cuma. Dibutuhkan sekurang-kurangnya tiga syarat untuk mendapatkannya. Pertama, usaha dan kerja keras dari setiap orang yang diterpa kesulitan. Kedua, sabar dan tahan uji dalam mengatasi dan menanggulangi kesulitan itu. Ketiga, penuh harap dan optimistik bahwa kesulitan itu akan segera berlalu.

Dalam hadis yang bersumber dari Abu Hurairah dikatakan bahwa pertolongan Allah pasti datang sebesar bantuan yang diperlukan (nazala al-ma'unah 'ala qadr al ma'unah) dan kesabaran pun datang sebesar musibah yang menimpa (nazal al-shabr la qadr al-mushibah). Sejalan dengan makna hadis ini, Imam Syafi'i pernah memberikan nasihat. Katanya, "Siapa yang meyakini kebesaran Allah, ia tidak pernah ditimpa kehinaan. Dan siapa yang menyandarkan harapan kepada-Nya, pastilah harapan itu menjadi kenyataan (wa man raja-hu yakunu haitsu raja).

Optimisme seperti dikemukakan di atas sungguh penting agar manusia tidak gelap mata melihat masa depan. Manusia pada umumnya mengambil dua sikap dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. Pertama, sikap patah semangat dan putus asa. Sikap ini tentu bukan sikap dan watak dari seorang yang beriman. "Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang sesat." (Alhijr: 56).

Kedua, sikap penuh harap (optimisme) disertai instrospeksi dan mawas diri. Orang yang mengambil sikap ini tidak pernah menimpakan kesalahan kepada pihak lain, apalagi kepada Tuhan. Ia tidak pernah berprasangka buruk (su'u al-dzan) kepada Allah meski doa yang setiap saat dipanjatkan belum juga terkabul. Ia justru mengevaluasi diri kalau-kalau perjuangan dan doa yang dilakukan belum optimal.

Dalam soal doa ini barangkali perlu disimak nasihat seorang pujangga. Katanya, "Kalau di tengah kegelapan malam Anda meminta siang hari datang, berarti permohonan Anda sia-sia. Tapi bila kepekatan malam telah mencapai puncaknya, pastilah fajar segera menyingsing, dan dalam kecerahan fajar itu, banyak hal bisa Anda lakukan."

Jadi selain berdoa kita harus jihad dan kerja keras dan terus bekerja keras tanpa kenal lelah. Ketika itu, kemudahan pasti akan datang, dan badai pun pasti berlalu. Semoga!!!

Sunday, October 23, 2005

KEMISKINAN..

Allah berkata kepada manusia, inilah kataNya. “ Allah telah menganugerahkan kepadamu segala apa yang kamu minta (butuhkan dan inginkan). Jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia sangat aniaya lagi sangat kufur." (QS Ibrahim [14]: 13). Kalau kita perhatikan firman Allah ini ,jelaslah bahwa makhluk manusia itu sudah diberi segala galanya untuk bisa survive. Lantas mengapa ada yang miskin dan adapula yang kaya ? Mengapa ada yang beruntung dan tidak beruntung. Lantas dimanakah keadilan Allah? . Pertanyaan ini sering dikemukakan oleh teman bila sedang berdiskusi soal keagamaan. Bagi saya, firman Allah itu sudah cukup jelas. Bahwa Allah bersifat Adil. Dia memberi sama kepada semua manusia. Hanya situasi dan kondisi yang diciptakan manusialah yang membuat perbedaan terjadi.Membuat kelas terbentuk.

Memang setiap manusia itu punya takaran berbeda. Istilah miskin dan kaya hanya didasarkan kepada materi, tentu tidak benar. Karena kadar orang dengan latar belakang pendidikan dan budaya , ikut mempengaruhi persepsi tentang kekayaan dan kemiskinan itu sendiri. Banyak orang hidup bergelimang harta namun miskin waktu untuk privasi. Banyak orang miskin harta namun kaya waktu untuk privasi. Cobalah renungkan, Berapa jam sehari anda bisa bahagia tanpa beban apapun ? saya yakin kalau anda hidup sebagai orang kota dengan kesibukan bisnis, kerja yang berkompetisi , rasanya sangat jarang sekali anda merasa bahagia. Walau anda tinggal dirumah mewah dan kendaraan bermerek. Tapi pikiran anda tidak pada kemewahan itu. Pikiran anda pada tempat lain yang kadang meresahkan anda. Membuat anda tertekan diatas kemewahan harta itu. Artinya belum tentu anda kaya secara materi lebih bahagia dibandingkan orang miskin yang tak memiliki kemewahan itu.

Saya rasa yang dipersoalkan adalah kemiskinan sehingga orang tidak punya kesempatan untuk mencari nafkah. Sementara yang lain menikmati kemudahan menumpuk harta. Harus ada sistem yang menjamin orang tidak kelaparan . Inilah yang harus diperbaiki. Soal jumlah harta itu sifatnya relatif. Islam sudah pnnya standard yang jelas bagaimana terciptanya masyarakat bebas dari kelaparan. Yaitu melalui zakat. Disamping itu bagi penguasa, harus memikirkan bagaimana mengemban amanah hingga mampu menciptakan sistem yang memungkinkan orang mampu mencari nafkah dengan mudah. Harus ada upaya sistematis membuat pendapatan minimal dapat memenuhi kebutuhan pokok rakyat. Pada mereka itulah Allah menitipkan keadilanNya untuk tercipta kehidupan penuh kasih sayang. Bila penguasa tak peduli soal ini, maka itu sama saja mereka berperang degan Allah.

Bagi orang kebanyakan, budaya lemah kemauan untuk bersyariat harus dikikis habis dalam dirinya. Ini penyakit budaya membuat orang terjajah dan lemah bersaing. Juga lemah beribadah kepada Allah. Tak bisa hidup hanya dengan terus berdoa tanpa iktiar mengikuti sunatullah. Kalau percaya dengan Allah, jangan hanya berdoa tapi juga turuti sunattulah , yaitu bekerja giat agar nikmat yang Allah titipkan berupa akal, panca indra dapat berfungsi dengan baik dalam meniti hidup yang fana ini. Ingatlah Allah berfirman "Apabila telah selesai shalat (Jumat), bertebaranlah di bumi dan carilah fadl (kelebihan) dari Allah." (QS Al-Jumu'ah [62]: 10). Benarlah, antara sholat (berdoa ) dengan kerja keras seiring sejalan. Allah menjamin makan semua makhluk tapi Allah tidak pernah mengirim makanan kesangkar burung, ya kan.

Rezeki itu ditebarkan Allah dimuka bumi untuk siapa saja yang mampu berbuat dan berilmu. Lihatlah China, rakyatnya dapat keluar dari kubangan kemiskinan setelah terpuruk selama revolusi kebudayaan dengan korban kelaparan lebih dari 25 jota orang mati. Tapi, ketika mereka merubah gaya kepemimpinannya, merubah budayanya maka rakyat bangkit bagaikan lebah pekerja mencari nafkah. Yang kaya bertambah namun yang kelaparan tak ada lagi, walau kemiskinan masih terdapat dibanyak tempat. Lagi lagi, soal miskin atau kaya dalam ukuran materi bukanlah ukuran kemakmuran yang hakiki. Tapi bagaimana hidup damai dilingkungan yang saling cinta kasih , mencari nafkah yang mudah dan penguasa yang cinta kepada rakyat. Itulah yang menjamin nikmat Allah akan menimbulkan rasa syukur.

Saturday, October 22, 2005

Kemegahan harta

Ada seorang teman yang mengundang saya datang “menaiki “rumah baru. Rumah itu berada dikawasan elite. Rumahnya nampak berbeda dibandingkan yang lain. Menurut saya paling megah diantara yang megah. Maklum saja, dia hanya membeli tanah di kawasan mewah ini. Artinya dia bangun rumah mewah dikawasan yang berkelas. Yang datang cukup ramai. Hampir semua sahabat dan kerabat dekat disalaminya dengan semringah. Pada acara itu diadakan juga pengajian. Tema pengajian tentang tanggung jawab kepala rumah tangga, yang salah satunya menyediakan rumah untuk anggota keluarga. Salah satu contohnya adalah sahabat saya ini. Saya ikut larut dalam keceriaan dengan hidangan makanan yang mengundang selera. Disela sela acara “menaiki “ rumah itu, saya membayangkan bagaimana teman ini menahan godaan dari anak istrinya ? tentu dengan keadaan ini maka semuanya harus berkelas.Biaya hidup akan bertambah mahal.

Teman ini mengatakan bahwa nikmat Allah itu harus diperlihatkan kepada orang lain sebagai bentuk rasa syukur. Yang penting kita mendapatkannya secara halal. Saya maklum apa yang dikatakannya. Benar adanya. ! Yang jadi masalah adalah mengapa harus bermewah dengan kemegahan harta itu? Kan lebih baik , tidak mewah namun tidak juga kumuh. Ya, cukuplah memenuhi standard yang sehat untuk tinggal seluruh anggota keluarga. Namun teman itu tetap dengan pendiriannya bahwa yang ada sekarang baginya adalah sederhana. Ok, lah, itu haknya. Semoga dia dapat memimpin keluarganya dari kemewahan rumah itu. Yanng saya tahu Allah telah berfirman “ Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur ... kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan yang kamu megahmegahkan di dunia itu." (QS AtTakaatsur [102]: 1-8). Bahwa kemegahan itu membuat kita lupa akan mati.

Yang pasti kemegahan dikawasan serba ber Satpam itu akan semakin sulit orang miskin untuk datang. Semakin sulit kita menyaksikan tetangga yang lapar karena kemiskinan. Lingkungan ekslusif tentu akan membuat pergaulanpun ekslusif. Anak dan istri akan larut dalam lingkungan ini. Jangan kaget bila empati mereka sangat kurang. Karena mereka jarang melihat orang yang kekurangan. Jarang mendengar orang berkeluh kesah tentang biaya sekolah yang belum diabayar, tentang kontrakan yang belum dibayar, tentang anak sakit yang tak mampu dibawa kedokter. Bukankah harta itu digunakan untuk mendekatkan yang jauh dan merapatkan yang dekat. Padahal semua harta itu adalah titipan Allah, yang kelak akan dimintai pertanggungan jawab oleh Allah. Kemana harta itu digunakan. Untuk apa harta dicari? Untuk apa kemegahan itu dibuat ?

Rasulullah bersabda: "Seorang hamba berkata, hartaku, hartaku, hartaku. Padahal, hartanya yang sesungguhnya hanya tiga macam: 1. Apa yang dimakan lalu habis. 2. Apa yang dipakai lalu lusuh (rusak), dan 3. Apa yang disedekahkannya lalu tersimpan (untuk akhirat). Selain yang ketiga macam itu, lenyap atau ditinggalkannya (warisan) bagi orang lain." (HR Muslim). Demikian Rasul mengingatkan kita tentang harta itu sendiri. Renungkanlah dengan baik baik. Apakah rumah mewah itu membuat kita bahagia lahir batin ? apakah harta melimpah itu bisa menahan kantuk kita ? apakah makan dengan penuh lima sehat membuat kita panjang umur ? Tidak ! Kecuali kemegahan itu memakan ongkos mahal dan memaksa kita ketagihan layaknya narkoba. Gaya hidup seperti ini akan merusak pikiran , jiwa dan pisik kita dan kebahagiaan hakiki semakin menjauh dan jauh.

Yang pasti ketika kemegahan dipamerkan maka pada waktu bersamaan rasa sombong akan bangkit. Melihat diri dan menepuk diri dengan penuh kebanggaan. “inilah aku”. Pada waktu itu pula iblis mencengkram hati untuk menjadi buta terhadap sekitar yang lapar dan dahaga. Untuk membuat kaki malas melangkah menjenguk kerabat miskin yang sakit. Semua harus punya standard sesuai kelas yang terbangun sendiri itu. Sehingga bila ajal datang, tak ada satupun kemegahan itu akan dibawa kecuali amal sholeh, amal jariah, dan anak yang sholeh. Pada saat itu tak ada alasan untuk surut kebelakang. Semua sudah terlambat. Sesal tak ada gunanya.

Thursday, October 20, 2005

Pesantren dicurigai WAPRES

Pernyataan Wakil Presiden di Media Massa yang akan mengawasi secara ketat Pesantren yang disinyalir terlibat dalam grakan islam militan. Hal ini berkaitan dengan aksi bomb bunur diri yang dilakukan di Bali baru baru ini. Pernyataan ini sangat tendesius dan sangat melukai perasaan umat islam. Walau dalam pernyataannya menyebutkan hanya satu atau dua dari 17.000 pesantren yang akan diawasi namun sangat sulit dihindari interpensi pihak militer untuk melakukan pengawasan secara menyeluruh bagi seluruh pesantren. Terlepas dari alasan utamanya untuk mengejar pelaku teror dari islam aliran keras , kita dapat menagkap sikap wapres ini sangat beralasan sebagai bagian dari dokrin kolonial belanda , dan ordebaru rezim Soeharto untuk membatasi ruang gerak umat islam dalam percaturan politik nasional. Yusuf Kalla belajar banyak dari teori kekuasaan kolonial dan otoriter ini.

Allan A. Samson dari University of California, Berkeley, dalam salah satu tulisannya mengenai Angkatan Bersenjata dan Ummat Islam Indonesia, membuat suatu kesimpulan: "Haluan policy militer terhadap Islam itu terutama berdasarkan konsep policy yang disempurnakan oleh ahli Islamologi Belanda, Snouck Hurgronje, pada tahun-tahun pertama abad 20, yang kemudian dilanjutkan oleh Soekarno dan Soeharto. Hurgronje membedakan antara agama dan politik di dalam Islam. Dia menasehatkan kepada pemerintah colonial Belanda untuk membiarkan aktifitas Islam di lapangan agama, dan mengasingkan usaha-usaha Islam untuk mengembangkan dasar kekuatan politiknya."

Keampuhan doktrin Islam dalam amar ma'ruf nahi munkar yang dalam hal ini membela rakyat tertindas serta melawan penindasan penjajah Belanda, telah disadari oleh pemerintah kolonial Belanda. Karena itu adalah wajar apabila dalam rangka mempertahankan kekuasaannya penguasa kolonial Belanda mencurigai setiap kekuatan Islam yang terorganisir. Hampir seluruh pemberontakan terhadap penguasa Belanda di Nusantara ini terus menerus digerakkan oleh semangat Islam yang tidak pernah tinggal diam melihat penindasan dan kemunkaran lainnya.

Antara lain kita mengenal peristiwa Batavia dikepung an digempur oleh Sultan Agung (1613-1645), Perang Makassar (1633-1669), Perang Trunojoyo dan Karaeng Dalesong (1675-1680), Perang Palembang (1818-1821), Perang Paderi (1821-1832), Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Banjar (1854-1864), Perang Aceh (1875-1903), serta banyak lagi perlawanan dan pemberontakkan kecil yang tidak disebutkan sejarah. Dalam bermacam peperangan ini telah tertawan dan gugur sebagai pahlawan bangsa serta syuhada karena jihad fi sabilillah, tokoh-tokoh seperti Sultan Hasanuddin, Trunojoyo, Karaeng Galesong, Untung Suropati, Pangeran Antasari, Pangeran Hidayatullah, Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Nan Renceh, Panglima Polem, Pangeran Diponegoro, Teuku Cik Di Tiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dien, dan ribuan pengikut-pengikutnya yang tidak bisa disebut satu per satu.

Setelah berbagai perlawanan rakyat dipadamkan, maka pada giliran berikutnya pemerintah kolonial Belanda berusaha memojokkan peranan Islam di bidang politik untuk mencegah perlawanan rakyat..

Pada Perang Aceh (1875-1903), kas Hindia Belanda nyaris bangkrut. Penyelesaian Perang Aceh yang berlarut-larut adalah penyebabnya. Perang itu pun merupakan beban yang cukup berat bagi pemerintah kolonial Belanda. Oleh karena itu, pemerintah kolonial Belanda meminta penasehat militernya, Snouck Hurgronje, untuk memberikan masukan agar Perang Aceh dapat segera diselesaikan. Sebagaimana ditulis Siti Soemandari Soeroto (dalam Kartini Sebuah Biografi), "Menurut keyakinan Snouck, golongan yang paling prinsipil menentang penjajahan Belanda ialah golongan Islam, teristimewa golongan santri. Maka dalam konsepsinya menyelesaikan Perang Aceh ia juga menyarankan supaya pemimpin-pemimpin golongan Islam dikejar-kejar terus, jangan diberi ampun. Sebaliknya, golongan adat atau feodal, kaum teuku supaya diberi hati dan dirangkul. Konsepsi itu tidak hanya untuk Aceh, melainkan untuk seluruh Hindia Belanda, juga untuk Jawa."

Pemerintah kolonial Belanda yang memang menjajah Indonesia untuk tujuan menguras habis kekayaan Indonesia, demi kepentingan kemakmuran bangsanya, teramat sadar bahwa pola penindasan dan penghisapan terhadap pribumi Indonesia mendapatkan perlawanan sengit dari kalangan Islam, karena itu pemerintah kolonial Belanda menempatkan Islam sebagai musuhnya nomor satu. Tidak ada kekuatan yang paling ditakuti pemerintah kolonial Belanda di Indonesia ini kecuali kebangkitan Islam yang didukung oleh rakyat. Karena ahli-ahli orientalis Belanda sudah lama tahu bahwa kebangkitan Islam berarti bangkitnya kesadaran rakyat untuk membebaskan diri dari penindasan, ini berarti perlawanan terhadap penjajahan. Pemerintah kolonial Belanda dari pengalamannya sadar bahwa tidak bisa memisahkan antara militansi perlawanan rakyat pribumi dengan Islam. Pokoknya, Islam dan rakyat Indonesia seperti ruh dengan badan. Islam dan rakyat Indonesia merupakan suatu hal yang tidak bisa dipisahkan.

Kebangkitan Pribumi: Apabila pergerakan Boedi Oetomo yang didirikan pada tahun 1908, hanya berpengaruh di kalangan kaum intelektual Jawa, dan hanya mempunyai cabang-cabang di pulau Jawa saja, maka Sarekat Islam adalah berbeda karena mempunyai anggota dari bermacam suku bangsa di Indonesia, dan sekaligus mempunyai pengaruh dan cabang-cabang di seluruh Nusantara. Sarekat Islam yang dipimpin HOS Cokroaminoto adalah merupakan kelanjutan daripada Sarekat Dagang Islam yang didirikan Haji Damanhudi pada tahun 1905. Kemenangan orang Asia atas orang kulit putih ini telah membangkitkan semangat nasionalisme di seluruh Asia.

Sarekat Dagang Islam didirikan dengan maksud menghimpun kekuatan ekonomi pribumi untuk melawan dominasi ekonomi Cina yang dipakai pemerintah kolonial Belanda sebagai alat ekonomi menengah (middenstand) untuk memeras pribumi. Dan mengingat perjuangan ekonomi ini tidak bisa dimenangkan tanpa "membunuh biangnya" yaitu sistem kolonial Belanda, maka Sarekat Islam dibentuk untuk memperjuangkan cita-cita perjuangan politik kaum pribumi. Karena itulah melanjutkan perjuangan Sarekat Dagang Islam, pada tahun 1911 Sarekat Islam dibentuk.Bahwa Islam benar-benar merupakan mayoritas sejati di Indonesia, terbukti pada kongres Central Sarekat Islam di Bandung yang berlangsung dari tanggal 17-24 Juni 1916. Kongres dihadiri oleh 16.000 orang, yang terbagi dalam 80 utusan dari seluruh Nusantara. Baru pertama kali dalam sejarah Pergerakan Nasional Rakyat Indonesia, bangsa Indonesia dari seluruh penjuru tanah air berkumpul di suatu tempat.

Ini hanya dimungkinkan oleh Sarekat Islam yang mempunyai pendukung di seluruh penjuru tanah air, yang terdiri dari berbagai kota seperti: Tegal, Tuban, Doko, Guluk-guluk, Petaruk, Banyuwangi, Rembang, Malang, Majalenka, Tasikmalaya, Purworejo, Klampak, Brebes, Pekalongan, Situbondo, Bangkalan, Wlingi, Temanggung, Cilacap, Lasem, Gombong, Labuan, Wonosobo, Ciamis, Purwokerto, Surabaya, Kebumen, Kalisat, Blitar. Jember, Yogyakarta, Banjarnegara, Manonjaya, Mr. Cornelis, Sokaraja, Randublatung, Tulungagung, Krasakan, Solo, Losarang, Delanggu, Surakarta, Buitenzorg, Cianjur, Tebingtinggi, Berai, Semendo, Kutaraja, Telukbetung, Baros, Sibolga, Padangsidempuan, Singkel, Sinabang, Padang, Alabiu, Balikpapan, Tenggarong, Amuntai, Samarinda, Kotawaringin, Tabalong, Kandangan, Harujan, Nagara, Sampit, Donggala, Jembrana dan Pelambang (76 cabang) dan beberapa lagi yang datang kemudian sehingga berjumlah 80 cabang.

Drs. Masyhur Amin dalam "Saham HOS Tjokroaminoto dalam Kebangunan Islam dan Nasionalisme di Indonesia" antara lain menuliskan: "Pada KOngres Central Sarekat Islam di Bandung tahun 1916 itu Pahlawan Nasional HOS Tjokroaminoto berpidato dengan bahasa Melayu (Indonesia) yang tekanannya pada kesadaran dan kebebasan negeri ini secara politis dan penjajahan asing, antara lain ia berkata: 'Kita cinta bangsa sendiri dan dengan kekuatan ajaran agama kita, agama Islam, kita berusaha untuk mempersatukan seluruh bangsa kita atau sebagian besar dari bangsa kita." Dari melihat sepak terjang para pemimpin Islam pada permulaan abad ke-20 itu nampak jelas sikap perjuangan mereka. Tidak ada golongan sentris dalam perjuangan mereka, dengan keyakinan Islam mereka berjuang untuk kebebasan seluruh bangsa. Tidak bisa dibantah lagi bahwa justru karena dukungan Islam di awal kemerdekaan maka Pancasila dapat diterima oleh seluruh bangsa Indonesia.

Issue yang mempertentangkan Islam dengan semangat demokrasi dan sebagainya, tidak lain dan tidak bukan adalah issue orang-orang yang berpenyakit Islamophobia karena termakan racun politik divide et impera kolonialis Belanda. Adalah wajar apabila Belanda, orang asing dan penjajah mencurigai islam, tetapi adalah penyakit yang berbahaya apabila ada Indonesia pribumi mencurigai Islam. Padahal kekuatan Islam merupakan kekuatan moral yang hebat dari rakyat pribumi dan telah terbukti sejak berabad-abad yang lalu.Sangat beralasan untuk mengatakan bahwa Islam dan ummat Islam adalah the real people's power. Inilah yang dikawatirkan oleh Yusuf Kalla dan juga kroni Amerika yang kawatir kekuatan demokrasi dapat luluh lantak dinegeri ini. Padahal islam yang sebagai ruh kekuatan akhlak manusia tidak mengajarkan pada kekerasan apalagi terror. Islam adalah rahmat bagi alam semesta.

Sunday, October 16, 2005

Akal dan nafsu

Seorang teman dengan enteng menyimpulkan bahwa orang berbeda paham dengannya adalah kafir. Dengan nada marah dia menegaskan bahwa ketidak adilan terjadi karena orang kafir yang berkuasa dan dia membenarkan tindakan jihad terhadap orang kafir itu. " Halal darah mereka "katanya dengan nada geram. Saya hanya tersenyum. Menurut saya orang menjadi kafir karena memperturutkan hawa nafsu. Apakah kemauan nafsu itu ? rasa sombong merasa paling benar dan paling terhormat. Ya seperti kaum Qurais ketika awal di seru oleh rasul tentang Islam. Mungkin soal Ketuhanan bukanlah hal yang baru bagi penduduk Makkah dan tidak begitu dipersoalkan ketika Muhammad datang membawa risalah Islam. Tapi yang langsung ditentang ketika Muhammad berbicara tentang kesamaan hak manusia. Rasul menentang segala bentuk penindasan manusia terhadap manusia. Utamanya perbudakan. Karena bagi penduduk Arab dan juga bagi budaya dunia ketika itu, perbudakan adalah sesuatu yang lumrah. Manusia lemah biasa diperbudak dan bisa diperdagangankan dengan harga. Rasul menyerukan juga sayangi hamba sahaya kalian, hormati istri kalian, hiduplah damai dalam kasih sayang, hentikan perang antar suku, jangan curang dalam berdagang. Yang di tentang itu berkaitan dengan nafsu dan kaum Qurais memang hidup di masa jahiliah yang memperturutkan hawa nafsunya.

Perumpamaan orang yang menuruti hawa nafsunya seperti anjing, dihalau atau tidak tetap mengulurkan lidahnya lari terengah-engah (Al A'raf 7/176) "Sekiranya Kami berkehendak menjadikan semua kaum kafir Quraisy beriman, niscaya mereka Kami jadikan mau mengikuti Al Quran. Akan tetapi, kaum kafir Quraisy lebih menyukai kesenangan dunia dan mengikuti hawa nafsunya, laksana seekor anjing. Jika anjing itu kamu kejar, ia lari terengah-engah, dan jika kamu membiarkannya, ia juga terengah-engah. Begitulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan Al Quran. Kemudian dalam QS. Al Maidah 5/48 “ Wahai Muhammad, Kami telah menurunkan Al Quran kepadamu, yang berisikan kebenaran dan mengakui sebagian kebenaran Taurat dan Injil, serta mengoreksi penyimpangan yang dilakukan para pendeta mereka terhadap Taurat dan Injil. Wahai Muhammad, karena itu hukumlah kaum Yahudi dan Nasrani sesuai syari’at Allah yang diturunkan kepadamu. Janganlah kalian mengikuti hawa nafsu manusia setelah Al Quran datang kepadamu. Wahai para Nabi, setiap orang dari kalian telah Kami beri syari’at dan petunjuk penerapannya. Sekiranya Allah berkehendak menghilangkan hawa nafsu manusia, niscaya semua manusia dijadikan mengikuti Islam. Wahai manusia, akan tetapi Allah ingin menguji ketaatan kalian kepada syari’at yang telah diberikan kepada kalian.Karena itu hendaklah kalian segera melakukan amal shalih. Hanya kepada Allah lah kalian semua kembali. Pada hari kiamat Allah akan menampakkan kepada kalian kebenaran Islam yang kalian perselisihkan di dunia."

Ketahuilah bahwa andaikan manusia tidak dikuasai oleh nafsunya maka manusia akan mudah sekali menerima kebenaran dari Allah. Karena di kuasai nafsu maka manusia mudah sekali ingkar dan sesat. Siapapun dia maka dia telah kafir karena memperturutkan nafsunya. Kalau kita merendahkan orang lain yang berbeda dengan amarah dan kebencian maka yakinlah bahwa yang berbicara itu bukanlah kita tapi nafsu kita. Sebelum kita cap orang lain kafir maka kita telah lebih dulu kafir. Jadi kalau melihat orang berbeda dan cenderung memperturukan hawa nafsunya maka ajaklah ia dengan kebaikan, kalau bisa buktikan dengan keteladanan bagaimana pribadi islam itu sebenarnya dalam keseharian anda. Tapi kalau anda mengangkat tinggi tinggi Al Quran dengan tangan kanan tapi di tangan kiri anda mengangkat hawa nafsu kesombongan dan amarah maka sebetulnya ada telah kafir , bahkan lebih buruk dari kafir alias sesat. Maka sebaiknya rendah hatilah. Perbedaan akan selalu ada. Orang jahat yang menjadi budak nafsu akan selalu ada.  Tapi semua itu adalah scenario Allah agar kita keimanan kita teruji. Karena kalau Allah berkehendak maka bisa saja nafsu di musnahkan dan semua orang akan menjadi baik. Tapi kan kehidupan tidak seperti itu.

Lantas bagaimana mengelola nafsu ? Sebaiknya kita ketahui dulu apa itu nafsu. Nafsu itu terletak di dalam QOLBU. Diterangkan dalam hadist diriwayatkan oleh Muslim, Nabi bersabda: "Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk, Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah “Qolbu”". Qolbu dalam bahasa arab artinya jantung. Menurut Imam Al-ghozali, perenungan itu dilakukan mulai dari qolbu yang berpusat di dada, bukan dilakukan melalui pemikiran (al-fikri) dalam otak kepala. Dalam jantung, ada syaraf-syaraf yang bersambung ke otak. Otak sendiri ada dua bagian, yaitu otak kanan yang disebut EQ, tempat syaraf emosional, seperti marah, sedih, senang, takut, dll. Disinilah yang menghubungkan dengan nafsu yang berpusat di jantung. Yang kedua yaitu otak kiri yang menghubungkan syaraf memory, kecerdasan, berfikir, daya ingat, rasional, yang disebut IQ pusat intelegensi, di sinilah pusat akal yang berhubungan dengan syaraf di jantung. Jantung bukan sekedar pemompa energy yang berupa darah menuju ke otak, sebab jantung adalah pusat segala energy yang ada, detakan jantung itu tidaklah bekerja otomatis, tapi di kendalikan oleh Sang Maha Pengendali. Saat manusia menforsir daya otak kiri-nya, maka jantung bereaksi, begitu juga jika perasaan cinta, benci, senang, sedih, di otak kanan bangkit, maka akan bereaksi pada jantung.

Namun didalam Qalbu di samping ada nafsu juga ada kamar khusus untuk yang bernama Akal. Imam ghozali berpendapat dengan dasar ayat alqur’an di atas, bahwa ilmu itu bukan di otak, tapi di dalam qolbu, penglihatan itu bukan pada mata, tapi di dalam qolbu, pendengaran itu bukan pada telinga, tapi di dalam qolbu, pembicaraan itu bukan pada mulut, tapi di jantung qolbu haqiqotun. Otak, mata, telinga, mulut, itu hanyalah peralatan yang berupa raga yang dikendalikan oleh akal  dan nafsu yang terletak dalam QOLBU.  Mengendalikan nafsu haruslah dengan akal, dan akal di kendalikan karena pengetahuan. Sumber pengetahuan itu adalah Agama. BIla ber-agama tanpa mengenal Allah maka antara Akal dan nafsu akan saling tarik menarik yang menimbulkan paradox kehidupan; Menangis ditempat sepi , menumpang tawa di tempat ramai , miskin ditengah harta berlimpah dan tidak bahagia ketika seharusnya bahagia. Kaya ilmu agama tapi miskin ke shalehan social. Akan selalu begitu..Waspadalah kepada sifat kafir yang lebih memperturutkan hawa nafsu dan berjihad lah terhadap diri anda sendiri agar bisa mengalahkan nafsu.

Thursday, October 13, 2005

KH. Abdullah Gymnastiar , AA GYM

HMI menggugat AA GYM secara perdata maupun pidana sehubungan dengan kehadirannya dalam kampanye kenaikan harga BBM yang disponsori oleh Kementrian informasi dan Komunikasi. Dalam kehadirannya di iklan itu AA GYM mengusung ayat al qu’an sebagai dasar meyakinkan mayarakat agar bersabar menghadapi cobaan atas kenaikan harga minyak. Allah tidak akan membebani hambanya apabila hambanya tidak mampu menerimanya. Artinya Allah akan membebani hambanya sebatas kemampuan hambanya untuk menerima. Sebagai seorang Da’I apa yang disampaikan oleh AA GYM tidak ada yang salah. Kewajibannya adalah mencerahkan dan menguatkan hati umat dalam menghadapi setiap cobaan yang datang. Agar umat dapat bersabar dan…tentu pemerintah bebas berbuat apa saja untuk menzolimi rakyat. Karena sudah ada Da’I seorang kiyai yang siap menghibur rakyat dengan ayat ayat Al-Quran.

Teman saya yang beragama kristen sempat mengeluarkan kegalauannya dengan sikap AA Gym ini " Apakah dia tidak punya hati nurani untuk menilai kebenaran atas sikap pemerintah yang menaikkan harga BBM. Apakah terlalu sulit bagi dia untuk tidak bicara dalam corong pemerintah ? Padahal rakyat kebanyakan , terutama rakyat miskin dipedesaan sangat mencintainya" Saya hanya dapat terdiam. Teringat bagaimana Snouck Hurgronje dizaman kolonial belanda yang begitu akrab dengan masyarakat islam dan tanpil plamboyan untuk mempengaruhi umat islam agar loyal pada sikap pemerintah Belanda. Tanpa berprasangka buruk terhadap AA Gym namun cara cara melibatkan ulama untuk mempengaruhi rakyat sudah digunakan oleh penguasa negeri ini sejak zaman Soeharto. Tetapi banyak pula ulama yang tidak butuh popularitas namun konsisten bersuara di setiap masjid milik rakyat dipedesaan tanpa banyak berharap imbalan apapun. Mereka ini adalah mujahid ditanah gersang dalam lilitan kezoliman pemerintah.

Dari beberapa ceramah akbarnya yang ditayangkan oleh media televise nasional dan beberapa buku tentang manajemen QALBU yang ditulisnya , saya dapat menangkap kesan tentang seorang AA GYM. Dia tidaklah ahli agama sebagaimana para kiyai Sepuh atau tidak sebanding dengan KH. Ali Yafie. Dari segi ilmu agama dia masih terlalu cetek untuk disebut sebagai seorang Kiyai. Tapi mengapa dia begitu diterima oleh masyarakat islam. Itu tidak lebih dari kemampuanya menguasai panggung. Kemampuannya menyampaikan pesan agama yang rumit kedalam bahasa yang sederhana , yang mudah dimengerti oleh orang awan. Kemampuan analogi agama dalam konteks kesehariaan menghidupkan panggung menjadi satu pentas yang menghibur. Siapapun yang mendengar akan terkesan. Akhirnya AA GYM masuk dalam lingkungan selebritis. Apapun sepak terjangnya diikuti oleh Media Massa. Dia popular.

Popularitas seorang Da’I adalah cobaan terbesar dibanding cobaan yang lain. Seorang Da’I akan tetap dapat istiqomah dan dekat dengan penderitaan rakyat walau dia harus hidup dipenjara ditembok berlapis. Seorang Kiyai dapat tetap teguh melawan kezoliman walau hidup dalam lilitan kemiskinan. Seorang Da’I tetap berjihad walau hidup bergelimang harta. Tapi menghadapi popularitas , tidak banyak Da’I yang selamat dari tekadnya untuk orang banyak. Contoh , rusaknya popularitas KH. Zainudin MZ , yang sempat digelari “Da’I sejuta umat “. Begitupula dengan KH . Noor Iskandar. Ini adalah sebagian contoh Da’I yang dilupakan oleh umat karena terjebak dalam arus popularitas.

Popularitas itu seabagai tunggangan Iblis untuk merusak aqidah syiar dan jihad seseorang. Iblis masuk merusak aqidah seseorang dapat melalui apa saja. Salah satunya adalah Iblis akan menggunakan tangan pemerintah untuk membujuk Da’I ini utuk ikut dalam program pemerintah .Popularitas Da’I dimanfaatkan untuk mempengaruhi public agar berkiblat pada kebijakan politik pemerintah. Dengan teknik pendekatan yang piawai sebagaimana keahlian Iblis menggoda manusia maka akhirnya da’I itu tergelincir masuk perangkap politik praktis. Da’I itu baru menyadari kesalahannya setelah dia mulai dilupakan oleh public.

Kita tidak dapat menyalahkan apabila ada da’I yang tergelincir dengan popularitasnya karena memang sebagian besar para da’I kita lahir secara dadakan karena creativitas media massa. Disamping itu lingkungan pendidikan mereka yang lebih dominant pada ilmu agama yang dogmatis telah membuat mereka sangat “kuper” terhadap ilmu social lainya , seperti imu eknomi , dan lainnya. Hnggga mereka mudah sekali terjebak dalam bujuk rayu iblis berwajah manusia.

Seharusnya para da’I muda dapat belajar dari sosok ulama tua yang sukses sebagai pejuang umat disegala lini. KH Ali Yafie dapat bersikap tegas sebagai politisi dan juga ulama ketika Pemeritah Soeharto memaksakan azas tunggal Pancasila sebagai azas partai politik. Dia walk Out dan akhirnya mundur sebagai anggota dewan. Beliau juga mundur sebagai Ketua MUI ketika Presiden Abdul Rahman Wahid , menyatakan bahwa bumbu masak MIWON adalah halal dan bertentangan dengan fatwa MUI. Begitupula dengan kegigihan seorang HR. Rasuna Said , HAMKA, Natsir dan lain lain yang bersedia masuk penjara dizaman soekarno hanya karena menentang NASAKOM. Para ulama itu sudah sangat popular dimata public tapi mereka tetap berpihak pada kebenaran dan keadilan bagi masyarakat banyak.. Mungkin mereka tidak ahli dalam bidang ilmu duniawi tapi cahaya hati mereka menuntun pada kebenaran bersikap. Karena nurani mereka selalu bersih dan ikhlas tanpa harus dijejali dengan konsep menejen qalbu.

Kepada AA GYM , kita berharap agar masalah ini dapat menjadi pelajaran untuk sepak terjangnya kedepan sebagai ulama yang menjadi tumpuan umat. Apabila Ulama tetap menyuaran kebenaran yang membebaskan diri dari setiap kepentingan politik maka tidak terlalu sulit bagi seorang Da'i untuk menilai apakah kebijakan pemerintah berpihak atau tidak dengan rakyat dan ulama akan tetap menjadi bagian dari rakyat untuk bersama sama menentang kezoliman dinegeri ini.

Benteng Keadilan ?

Benteng terakhir masyarakat mencari keadilan ada pada Mahkamah Agung. Satu lembaga yang mungkin satu satunya disebut dengan kata “Agung “. Gedungnya yang terkesan aristocrat dijalan medan merdeka yang mempunyai pintu disegala penjuru mata angin melambangkan bahwa lembaga ini dapat diakses dari segala penjuru oleh masyarakat dari golongan manapun untuk mendapatkan keadilan. Ketika Gus Dur mengeluarkan perintah pembubaran DPR , maka lembaga ini pula yang tampil menjatuhkan kekuatan titah seorang presiden. Akirnya dijadikan dasar oleh DPR untuk menjatuhkan Gus Dur.

Kini keagungan lembaga ini dipertanyakan oleh masyarakat dengan terbongkarnya kasus suap dikalangan pejabat Mahkamah Agung yang terlibat dalam kasus Kasasi Perkara yang melibatkan Probosoetejo. Terlepas benar atau tidak maka kita hanya dapat tertegun bahwa benarlah sinyalemen selama ini bahwa system peradilan dinegeri kita sudah masuk dalam lingkaran mafia. Konspirasi jual beli keadilan sudah bukan rahasia umum lagi. Yang terlibat dalam konpirasi adalah semua pihak yang mempunyai kekuasaan. Dari politisi di DPR , anggota partai , birokrat, pengacara dan bahkan sebagian LSM ikut terlibat sebagai mediator keadilan. Lantas , benarlah bila The Straits Times, sekali waktu pernah menjuluki Indonesia sebagai the envelope country, karena segala hal bisa dibeli, entah itu lisensi, tender, wartawan, hakim, jaksa, polisi, petugas pajak atau yang lain. Pendek kata segala urusan semua bisa lancar bila ada "amplop".

Kini, masyarakat tentu sangat menantikan upaya-upaya manjur untuk mengatasi salah satu problem besar negara ini. Pertanyaannya, bagaimana upaya itu harus dilakukan? Secara khusus, jalan apa yang bisa diberikan Islam sebagai agama yang paling banyak dianut oleh penduduk negeri ini dan mungkin juga paling banyak dianut oleh para koruptor, agar benar-benar kerahmatan yang dijanjikan bisa benar-benar terwujud? ]

Berdasarkan kajian terhadap berbagai sumber, didapatkan sejumlah cara sebagaimana ditunjukkan oleh syariat Islam. Pertama, sistem penggajian yang layak. Aparat pemerintah harus bekerja dengan sebaik-baiknya. Dan itu sulit berjalan dengan baik bila gaji mereka tidak mencukupi. Para birokrat tetaplah manusia biasa. Rasul dalam hadis riwayat Abu Dawud berkata, "Barang siapa yang diserahi pekerjaan dalam keadaan tidak mempunyai rumah, akan disediakan rumah, jika belum beristri hendaknya menikah, jika tidak mempunyai pembantu hendaknya ia mengambil pelayan, jika tidak mempunyai hewan tunggangan (kendaraan) hendaknya diberi. Dan barang siapa mengambil selainnya, itulah kecurangan (ghalin)". Oleh karena itu, harus ada upaya pengkajian menyeluruh terhadap sistem penggajian dan tunjangan di negeri ini.

Kedua, larangan menerima suap dan hadiah. Hadiah dan suap yang diberikan seseorang kepada aparat pemerintah pasti mengandung maksud tertentu, karena buat apa memberi sesuatu bila tanpa maksud di belakangnya, yakni bagaimana agar aparat itu bertindak menguntungkan pemberi hadiah.

Saat Abdullah bin Rawahah tengah menjalankan tugas dari Nabi untuk membagi dua hasil bumi Khaybar separo untuk kaum muslimin dan sisanya untuk orang Yahudi datang orang Yahudi kepadanya memberikan suap berupa perhiasan agar ia mau memberikan lebih dari separo untuk orang Yahudi. Tawaran ini ditolak keras oleh Abdullah bin Rawahah, "Suap yang kalian tawarkan adalah haram, dan kaum muslimin tidak memakannya". Mendengar ini, orang Yahudi berkata, "Karena itulah (ketegasan Abdullah) langit dan bumi tegak" (Imam Malik dalam al-Muwatta'). Tentang suap Rasulullah berkata, "Laknat Allah terhadap penyuap dan penerima suap" (HR. Abu Dawud). Tentang hadiah kepada aparat pemerintah, Rasul berkata, "Hadiah yang diberikan kepada para penguasa adalah suht (haram) dan suap yang diterima hakim adalah kufur" (HR Imam Ahmad).

Nabi sebagaimana tersebut dari hadis riwayat Bukhari mengecam keras Ibnul Atabiyah lantaran menerima hadiah dari para wajib zakat dari kalangan Bani Sulaym. Suap dan hadiah akan berpengaruh buruk pada mental aparat pemerintah. Aparat bekerja tidak sebagaimana mestinya sampai dia menerima suap atau hadiah.

Ketiga, perhitungan kekayaan. Orang yang melakukan korupsi, tentu jumlah kekayaannya akan bertambah dengan cepat. Meski tidak selalu orang yang cepat kaya pasti karena telah melakukan korupsi. Bisa saja ia mendapatkan semua kekayaannya itu dari warisan, keberhasilan bisnis atau cara lain yang halal. Tapi perhitungan kekayaan dan pembuktian terbalik sebagaimana telah dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab menjadi cara yang bagus untuk mencegah korupsi.

Semasa menjadi khalifah, Umar menghitung kekayaan para pejabat di awal dan di akhir jabatannya. Bila terdapat kenaikan yang tidak wajar, yang bersangkutan, bukan jaksa atau orang lain, diminta membuktikan bahwa kekayaan yang dimilikinya itu didapat dengan cara yang halal. Bila gagal, Umar memerintahkan pejabat itu menyerahkan kelebihan harta dari jumlah yang wajar kepada Baitul Mal, atau membagi dua kekayaan itu separo untuk yang bersangkutan dan sisanya untuk negara. Cara inilah yang sekarang dikenal dengan istilah pembuktian terbalik yang sebenarnya sangat efektif mencegah aparat berbuat curang. Tapi anehnya cara bagus ini justru ditentang oleh para anggota DPR untuk dimasukkan dalam perundang-undangan. Pembuktian material di depan pengadilan oleh jaksa yang selama ini lazim dilakukan terbukti selalu gagal mengungkap tindak korupsi, karena mana ada koruptor meninggalkan jejak, misal bukti transfer, kuitansi, cek atau lainnya?

Keempat, teladan pemimpin. Pemberantasan korupsi hanya akan berhasil bila para pemimpin, terlebih pemimpin tertinggi, dalam sebuah negara bersih dari korupsi. Dengan takwa, seorang pemimpin melaksanakan tugasnya dengan penuh amanah. Dengan takwa pula, ia takut melakukan penyimpangan, karena meski ia bisa melakukan kolusi dengan pejabat lain untuk menutup kejahatannya, Allah SWT pasti melihat semuanya dan di akhirat pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Di sinilah diperlukan keteladanan dari para pemimpin itu. Khalifah Umar menyita sendiri seekor unta gemuk milik puteranya, Abdullah bin Umar, karena kedapatan digembalakan bersama di padang rumput milik Baitul Mal. Hal ini dinilai Umar sebagai bentuk penyalahgunaan fasilitas negara. Demi menjaga agar tidak mencium bau secara tidak hak, khalifah Umar bin Abdul Azis sampai menutup hidungnya saat membagi minyak kesturi kepada rakyat. Dengan teladan pemimpin, tindak penyimpangan akan mudah terdeteksi sedari dini.

Kelima, hukuman setimpal. Pada galibnya, orang akan takut menerima risiko yang akan mencelakakan dirinya, termasuk bila ditetapkan hukuman setimpal kepada para koruptor. Berfungsi sebagai pencegah (zawajir), hukuman setimpal atas koruptor diharapkan membuat orang jera dan kapok melakukan korupsi. Dalam Islam, koruptor dikenai hukuman ta'zir berupa tasyhir atau pewartaan (dulu dengan diarak keliling kota, sekarang mungkin bisa ditayangkan di televisi seperti yang pernah dilakukan), penyitaan harta dan hukuman kurungan, bahkan sampai hukuman mati.

Keenam, pengawasan masyarakat. Masyarakat dapat berperan menyuburkan atau menghilangkan korupsi. Demi menumbuhkan keberanian rakyat mengoreksi aparat, khalifah Umar di awal pemerintahannya menyatakan, "Apabila kalian melihatku menyimpang dari jalan Islam, maka luruskan aku walaupun dengan pedang".

Tampak dengan jelas bahwa Islam melalui syariatnya telah memberikan jalan yang sangat gamblang dalam pemberantasan korupsi dan mewujudkan pemerintahan yang bersih. Di sinilah pentingnya seruan penegakan syariat Islam.

Persahabatan …?

  Sejak  minggu lalu, sejak saya membuat keputusan perubahan susunan Komisaris perusahaan, setiap hari email datang dari Yuni dengan nada pr...