Monday, July 04, 2005

KETIKA DERITA TAK BERUJUNG

Ketika krisis moneter melanda negeri ini maka kita disadarkan tentang bahaya penurunan stabilitas moneter nasional.. Seluruh sector ekonomi tumbang . Indonesia tidak logi sebagai ladang investasi yang menarik bagi investor asing. Bahkan banyak investor asing yang sudah menanamkan modalnya di Indonesia justru ikut henkang. Kita prihatin dengan situasi ini. Karena itu berarti angka pengangguran semakin meningkat. Baik karena gelombang PHK maupun tumbuhnya angkatan kerja baru. Kita juga menyadari bahwa akibat gelombang PHK akan berimplikasi kepada kemiskinan. Akan semakin banyaknya rumah tangga yang hancur, suami istri yang bercerai. Yang masih bertahan , tentu harus menghadapi penderitaan dengan semakin banyaknya jumlah anak anak terlantar tidak punya masa depan dan kurang gizi.

Sementara disekitar puluhan juta rakyat yang didera kemiskinan , ada sekelompok masyarakat yang hidup bergelimang harta tak terbilang. Mereka adalah pejabat, anggota dewan , mereka yang dekat dengan penguasa. Di hotel hotel berbintang setiap hari terjadi loby business antara mediator dengan pejabat, anggota dewan. Loby terjalin dengan sangat harmonis karena bermuara dengan satu tujuan mendapatkan keuntungan pribadi. Maka lihatlah hasilnya. Penjualan asset BPPN yang hanya mampu memasukkan 30% dari nilai asset, sementara Negara melalui APBN menanggung hutang dan bunga obligasi rekap sebesar 100%. Penjulanan Saham BUMN yang dibawah nilai. Pelepasan konsesi tambang Migas kepada pihak Asing yang merugikan Negara. Pengucuran kredit bank milik Negara yang penuh masalah criminal. Penggusuran tanah milik rakyat untuk tujuan pembangunan rumah mewah. Penggusuran pedagang kaki lima. Penggarukan para tunawisma tanpa perlindungan kemana mereka akan ditempatkan. Dan banyak lagi impilikasi yang semakin melemahkan Negara dan menyengsarakan rakyat. Komunitas elit politik sudah menjadi team yang solid untuk menindas rakyat yang berbalut musang berbulu domba. Hal ini sudah disinyalir dalam Alqur’an "Dia berkata, 'Sesungguhnya raja-raja, apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.'" (QS. An-Naml: 34).

Para penguasa/pejabat selalu punya dalih untuk membenarkan segala kebijakan dan tindakannya yang menindas rakyat. Juga hal ini sudah disinyalir dalam Alqur’an "Dan bila dikatakan kepada mereka, 'Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,' mereka menjawab, 'Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.' Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar." (QS.Al-Baqarah: 11- 12)

Dalam ayat ini Allah menyebut mereka sebagai orang yang tidak sadar, kenapa? Karena mereka telah tertipu oleh hawa nafsunya sendiri . Kesadarannya terhijab oleh berbagai ambisi dan berbagai kepentingan pribadi. Akibatnya, semua yang dilakukan dianggap sebagai kebenaran,sementara orang lain dianggap bodoh, tidak mengerti.Oleh karenanya, mereka mudah tersinggung jika dikritik. Mudah naik pitam bila ada yang mengingatkan. Peringatan dan kritikan, sebaik apapun, dianggap merongrong kewibawaan. Hal itu bisa berarti menggerogoti kekuasaan. Orang-orang yang memberikan peringatan secaratulus sekalipun harus rela diposisikan sebagai lawan atau oposan.

Allah merekam sangat baik apa saja yang sudah dan bakal terjadi. Ulah manusia, termasuk para penguasanya diabadikan Allah dalam al-Qur'an, agar menjadi pelajaran bagi semua, termasuk siapa saja yang mendapat amanah sebagai pemimpin ummat. Tak salah jika Allah menampilkan sederet pemimpin yang baik beserta seluruh lakonnya, dan pemimpin jahat dengan seluruh manipulasinya. Terhadap pemimpin yang selalu menganggap orang lain bodoh, Allah memberikan peringatan agar kembali sadar bahwa sesungguhnya merekalah yang bodoh. "Apabila dikatakan kepada mereka, 'Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang yang beriman,' mereka menjawab, 'Akankah kami beriman sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?' Ingatlahsesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu." (QS. Al-Baqarah: 13)

Sekali lagi Allah menyebut mereka tidak tahu. Hal ini bukan karena mereka berpengetahuan rendah atau kurang pintar. Mereka pandai, tapi kepandaiannya justru menutupi kesadarannya sendiri. Kesombongannya telah menjadi hijab turunnya hidayah. Mereka ini sebenarnya bukansekadar tidak tahu, tapi mereka tidak tahu bahwa diri mereka tidak tahu. Sebenarnya tidak harus diperhadapkan antara kaum lemah dan para penguasa. Rakyat dan pemerintah itu sebenarnya satu kesatuan yang tidak saling berlawanan. Pemerintahan itu dibentuk oleh rakyat dan menjalankan amanah kerakyatan. Hanya dalam kenyataan lebih sering terjadi penyimpangan. Ada kecenderungan pemerintah atau para penguasa berdiri di atas rakyat sambil menyepak dan menginjak-injaknya.

Tentu tidak semua penguasa berlaku seperti itu. Al-Qur'an sendiri menampilkan beberapa penguasa dan raja yang adil bijaksana. Di antara mereka adalah Daud, Sulaiman, juga Yusuf. Meskipun mereka adalah penguasa tapi sangat santun pada rakyatnya. Mereka bukan saja peduli, tapi hidup di tengah-tengah mereka. Tentu kita rindu pemimpin yang amanah. Yang karenanya kita diwajibkan untuk tunduk dan patuh kepadanya. Sebagaimana firman Allah "Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. Ali Imraan: 59)

Dengan tekad Presiden untuk membrantas Korupsi maka kita berharap ini dapat menunaikan amanah penderitaan rakyat. Amanah keadilan bagi rakyat. Tapi apakah presiden berani membarantas komunitas elit politik dibalik pelaku pelaku korupsi tersebut. Apabila otak dibalik konspirasi korupsi tersebut tidak dibrantas lebih dulu maka Pemberantasan korupsi hanyalah drama yang tak berujung. Derita rakyat pun tak berujung. Lambat atau cepat , bila ini terus berlangsung , maka akan muncul sekelompok mujahid Allah yang berani untuk merubah secara revolusioner . Keberanian untuk melaksanakan perintah Allah "Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang tertindas, baik laki-laki, wanita-wanita, maupun anak-anak, yang semuanya berdo'a, 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri yang zhalim penduduknya ini, dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau.'" (QS. An-Nisaa: 75).

Hal tersebut diatas telah dibuktikan. Di tahun 1945 , Segelintir pemuda bagkit mendorong semangat jihad bagi penduduk negeri ini dalam rangka mengusir penjajah asing. Asing tau lokal sama sama menjajah bila hak rakyat diabaikan. Sejarah akan berulang bila derita rakyat tak berujung. Allah akan mengakhirinya dengan caranya sendiri.

No comments:

Persahabatan …?

  Sejak  minggu lalu, sejak saya membuat keputusan perubahan susunan Komisaris perusahaan, setiap hari email datang dari Yuni dengan nada pr...