Friday, June 18, 2010

Khasanah Islam

Dalam satu diksusi ada yang mengatakan bahwa demokrasi itu menurut islam adalah sesat. Yang lainnya membantah pernyataan itu dengan dalilnya sendiri. Akhirnya perdebatan itu terjadi dengan dalil , analogi masing masing. Tak sudah dan tak memuaskan satu sama lain. Saya hanya mendengar dan menghela nafas. Karena kalau sudah bicara analogi , dalil, tidak berdasarkan standard procedure yang benar maka justru menempatkan dalil yang sumbernya AlQuran dan Hadith itu , tidak ada nilai apapun. Bahkan karena metode seperti inilah umat islam selalu mudah terjebak dalam pertikaian. Merasa paling hebat dan paling benar. Ada yang menyebut dirinya liberal, Adapula yang menyebut dirinya fundamental. Entahlah, Yang pasti Islam bukan soal kata kata tapi esensi nilai.

Islam adalah gerakan internationalisasi untuk membangun komunitas yang didasarkan kepada akhlak cinta dan kasih sayang. Mengapa islam disebut sebagai gerakan internationalisasi karena islam tidak diperuntungkan kepada satu kaum tapi kepada seluruh umat manusia dimuka bumi ini. Karenanya sebagai sebuah gerakan, tentulah Islam punya standard sendiri dalam menterjemahkan esensi kehidupan ini yang terus berkembang dari masa kemasa. Proeses zaman sejak khalifah sahabat Rasul sampai kepada masa dinasti kekalifahan Islam sejak era Muawiyah, Abbasiah dan sampai sekarang telah terbentuk sistem yang mapan untuk mengaktualkan Islam sebagai jalan hidup yang lengkap yang berdasarkan Al Quran dan hadith. Hal ini disebabkan oleh tiga pilar kekuatan dalam komunitas Islam yaitu Ulama, Filsuf dan Sufi.

Ulama adalah para sarjana hebat yang keberdaannya diakui bukan karena titel kesarjanaannya tapi oleh kemapanannya dimasyarakat dan diakui oleh kemonunitasnya dengan penghormatan yang pantas. Dia tumbuh dan berkembang karena ketekunannya mendalami AL Quran dan Hadith. Mereka mengelola dirinya sendiri sebagai sebuah pilihan hidupnya untuk syriar Islam. Para ulama inilah yang tampil mengaktualkan segala masalah keseharian sesuai dengan nilai nilai yang tertuang dalam alquran dan hadith. Ada empat tahap sampai seorang ulama dibenarkan mengambil kesimpulan terhadap masalah keseharian yang kompleks itu. Empat tahap ini sebagai acuan kita orang yang awam bergama. Ini sebagai sumber hukum bagi kita untuk juga sebagai jalan hidup.

Proses pertama adalah Qiyas atau penalaran analogi,metode dengan menemukan sumber sumber klasik seperti aturan yang dibuat oleh para sahabat rasul setelah rasul wafat atau para ulama yang diakui keluasan ilmu agamanya. Ini dilakukan bila sampai pada situasi kontenporer yang belum pernah terjadi dizaman Rasul dan Al Quran tidak menjelaskan secara rinci. Jika timbul ambiguitas tentang cara untuk menerapkan Qiyas, masalah ini diselesaikan kepada tahap kedua yaitu Ijmak atau konsesus masyarakat atau konsensus para ulama yang diakui oleh masyarakat. Jika telah menemukan jawaban tuntas dari AL Quran , hadith, qiyas dan ijmak , maka ulama dipantaskan untuk melakukan itjihad yang berarti “berpikir bebas mandiri berdasarkan nalar” Jadi ada proses yang rumit untuk sampai seorang ulama hebat sampai pada kemampuannya menggunakan nalarnya.

Filsup adalah kelompok yang diakui keberadaanya dalam islam sebagai intelektual. Kalau ulama bicara tentang islam sebagai dokrin namun Filsup adalah cendekiawan yang tugasnya berpikir menafsirkan semua ilmu pengetahuan modern yang meliputi Alam kosmos, mikrokosmos, sosial, budaya dan politik , filsafat kedalam nilai nilai Islam. Mereka menggali , menelaah semua pemikiran manusia disegala bidang dengan satu tujuan mengaktualkan kehadiran Allah sebagai yang Maha Agung dan sekaligus memperkaya khasanah islam. Para cendekiawan Islam ini sama seperti Ulama, Mereka tumbuh dengan sendirinya. Para Ahli fisika seperti Agus Mustapa mampu mengangkat keilmuannya untuk dipahami sesuai Al Quran dan hadith. Nurcolis Majid tampil sebagai budayawan yang mengangkat nilai nilai demokrasi seperti apa kata Al Quran dan hadith. Ilmuwan Islam Iran berhasil memahami pesan mikrokosmos didalam Al Quran dan membuat sel punca setelah mendalami teori DNA Kazuo Murakami.

Kalau ulama berfocus kepada dokrin, hukum ,aqidah , sementara filsup kepada aktualisasi Al Quran dan Hadith dalam kebebasan nalar mentejemahkan segala aspek kehidupan yang terus berubah maka para sufi hadir untuk menjaga kebebasan nalar para cenderkiawan atau intelektualitas islam atau para filsup agar tetap in lane dengan Allah. Sufi tidak menolak keberadaan Matematika, fisika, logika, dan bahkan ilmu ilmu sosial dan budaya dapat mengantarkan kepada kesimpulan yang benar, tetapi setiap kali bertentangan dengan wahyu, semua itu salah. Tapi jika Ilmu pengetahuan hanya benar ketika mencapai kesimpulan yang sejalan dengan wahyu,maka ilmu pengetahuan itu sebagai penguat iman. Semua kebenaran yang kita butuhkan bisa didapat dari AL Quran. Artinya tidak semua kebebasan akal dijadikan standar kehidupan, karena memahami kebenaran AL Quran tidak hanya dengan akal tapi juga hati dan sufi ahlinya itu.

Komunitas Islam seharusnya ipengaruhi oleh tiga lembaga ini yaitu ulama, cendekiawan, sufi. Ketiga lembaga ada tapi tiada itu membuat perbedaan dalam islam menjadi rahmat. Mungkin Hakikat kemerdekaan , Pancasila, UUD 45 merupakan gabungan dari tiga kekuatan dalam islam ketika itu yaitu ulama, cendekiawan dan sufi untuk tujuan membangun komunitas rahmatan lilalamin" "Selamat para pemimpin, rakyatnya adil dan makmur ". Namun kini UUD 45 sudah amandemen. Pecahnya barisan Islam karena tidak jelas lagi mana ulama, cendekiawan , sufi. Sulit saling memaklumi bidangnya masing masing karena semua pada akhirnya butuh kekuasaan dan harta. Dan akhirnya pertikaian yang tak sudah untuk saling curiga...

Wallahualam.

Thursday, June 17, 2010

hitam putih

Meminjam istilah Cristianto Wibisono bahwa negara ini berjalan seperti Auto Pilot. Artinya tanpa diurus tanpa dikendalikan, negara jalan sendiri. Karena sang Pilot berserta crew pesawat sibuk ngerumpi. Hebat kan. Begitu banyak isue mendasar yang negara harus urus. Semua tahu bahwa korupsi itu perusak sistem negara. Merusak moral pejabat. Tapi tidak ada upaya untuk menentukan koordinat yang tepat menghapuskan korupsi. Semua setuju dengan KPK sebagai pengawal koordinat anti korupsi tapi tak ada yang berani membuat KPK superbody. Tak ada yang berani membuat UU pembuktian terbalik bagi koruptor. Semua prihatin dengan maraknya video porno artis yang beredar di Internet. Dari politisi, pejabat negara, tokoh masyarakat , publik membicarakan itu sebagai amoralis tapi tak ada yang berani mem filter Internet gateway seperti yang dilakukan Iran, China dan Australia.

Tidak ada satupun pejabat atau elite politik mau disebut sebagai neoliberal dan anti Pancasila. Tidak ada. Tapi tidak ada satupun pejabat negara yang berani merubah UU Penanaman Modal yang super bebas. Tidak ada satupun pejabat negara yang berani membatasi transfer devisa. Tak ada satupun pejabat negara yang berani melindungi UKM melawan carefour. Kita semua peduli dengan lingkungan hidup. Alam kita untuk kesejahteraan rakyat. Tapi tak ada satupun pejabat negara yang berani membuat UU perusak lingkungan dengan sangsi hukum keras ( seperti teroris yang langsung di’ Dor” ). Tak ada yang berani paksa Group Bakrie untuk membail out kerugian masyarakat jawa timur akibat lumpur lapindo. Seperti Obama yang maksa BP untuk membail out kerugian sebesar USD 20 miliar akibat tanker minyak yang mengotori perairan AS.

Kita sedih karena TNI kita kalah pamor dengan Tentara Malaysia. Tapi tak ada satupun niat pejabat negara dan politisi untuk meningkatkan status TNI diatas Menteri Pertahanan atau sama dengan Polisi yang dibawah President. Kita kecewa karena AS masih mengembargo peralatan militer untuk ABRI, Kita biarkan TNI menghadapi sendiri masalah itu sehingga peralatan TNI banyak yang rongsokan sampai memakan korban prajurit. Dan tak ada satupun pejabat negara yang berani balas embargo itu. Kita semua tahu bahwa kasus Century adalah kejahatan yang dilakukan oleh hidden criminal group tapi tak ada satupun yang berani tunjuk hidung siapa yang paling bertanggung jawab. Akhinrya kasus itu closed file. Kita semua prihatin karena sumber daya alam kita dikuasai asing tapi tak ada satupun yang berani mengakui bahwa 90% APBN kita meningkat akibat melepas SDA yang tak terbarui.

Dari itu semua, kita sampai lelah berpikir rasional tentang sebuah negara , tentang sebuah project sosial yang termaha mulia demi orang banyak. Kemana rasionalitas yang terhubung dengan kemuliaan itu ? Apa yang ada didalam benak para elite politik kita sebenarnya ?. Apakah benar mereka berniat baik ataukah karena mereka tidak tahu ataukah memang mereka tidak punya waktu untuk memikirkan keadilan bagi orang banyak. Pertanyaan ini kita lontarkan karena sesuatu yang jelas tentang baik dan buruk terpapar didepan mata. Ada lebih dua ratus juta suara rakyat yang memberikan mandate penuh kepada elite politik untuk lahirnya kebenaran, kebaikan ,keadilan tapi kenapa masih ragu untuk bertindak. Mengapa ? Siapakah sebetulnya yang membuat pemerintah dan negara terpasung ?

Biang persoalannya karena hukum di create tidak berlandaskan kepada Al Quran dan Hadith. Ini hukum kapitalisme. Hukum kalkulasi laba dan rugi bagi yang berkuasa dan yang mendapatkan manfaat. Ini hukum jahiliah. Apakah hukum yang kita anggap baik itu lebih baik dari Al quran ? Sebagaimana Allah pun bertanya “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” QS.Al Maidah 5; 50. Pertanyaan ini tidak pernah ditanggapi oleh siapapun para intelektual islam , apakah dia pemimpin atau politisi. Mereka takut dan tidak berani mengulang pertanyaan itu kepada seluruh peraturan dan hukum yang berlaku dinegeri ini. Kita hanya bisa merasakan bahwa ketidak adilan terjadi didepan mata yang pilotnya sangat percaya dengan sistem autopilot...

Wednesday, June 16, 2010

Allah

Ketika Muhammad pertama kali mendapat wahyu sebagai bentuk pengangkatannya sebagai Rasul Allah , beliau sebetulnya tidak merasa menyerukan sesuatu yang baru. Beliau hanya berusaha menyampaikan sesuatu perbaikan penyempurnaan dari yang sudah ada sebagai bentuk keyakinannya kepada leluhurnya Nabi Ibrahim yang monoteisme. Seperti halnya Rasul tidak menyebut Tuhan tapi Allah. Kalimat Allah itu dalam bahasa arab terdiri dari Al dan Ilah. Al berarti “ yang itu “sedangkan lah adalah bentuk penghilangan bunyi dalam percakapan dari kata ilah yang berarti ‘tuhan”. Allah dengan demikian berarti “ Tuhan”. Inilah inti dalam Islam yang dibawa oleh Muhammad.

Nabi Muhammad tidak berbicara tentang ‘tuhan yang ini “ versus “tuhan yang itu. Rasul tidak mengatakan “percayalah pada Tuhan yang disebut “lah” karena Dia adalah tuhan yang terbesar dan terkuat atau bahkan bahwa “lah” adalah satu satunya tuhan sejati” dan semua yang lain adalah palsu. Pada waktu itu gagasan itu dianggap lelucon. Karena orang masih begitu percaya dengan gagasan soal tuhan yang bisa dilihat atau disimbolkan sebagai kekuatan adialami. Mungkin mahkluk seperti Zeus memiliki keabadian seperti bayangan mereka dan putranya seperti Herkules yang mampu merobohkan benteng besar dan selusin harimau. Muhammad datang sebagai pembaharu ide yang berasal langsung dari Tuhan.Yang mengajarkan sesuatu yang berbeda dan lebih besar. Beliau mengajarkan ada satu Tuhan yang mencakup semua dan universal sehingga tidak bisa dihubungkan dengan gambaran tertentu, atribut tertentu, gagasan tertentu, batasan tertentu

Hanya ada Allah dan semua yang lain adalah ciptaan Allah. Inilah pesan yang beliau sampaikan kepada siapa saja yang “mau mendengarkan” Hakikat Allah itu adalah pemahaman tauhid yang hanya bisa dipahami dengan mempelajari islam secara utuh. Islam sebagai sebuah project sosial yang membawa manusia kepada pesan pesan “kebenaran” yang bersumber dari Allah. “Kebenaran “ itu berasal dari Allah.Bukan dari manusia. Muhammad tidak pernah berkata tentang kebenaran itu berasal dari dirinya. Kebenaran Allah termaha luas mencakup segala sendi kehidupan materi maupun non materi. Hingga tidak diperlukan lagi berbagai tesis untuk memahami kehidupan dunia ini.Karena semua sudah disampaikan dan diajarkan oleh Allah secara “benar” lewat kitab mulia. Sebagai sebuah sumber pembelajaran maka Al Quran bukan cara yang sulit. Wahyu Allah mudah dicerna selagi hati manusia berkiblat kepada Allah.

Kini, kita melihat begitu banyak kekecewaan oleh sistem negara didunia. Yang komunis dan sosialis meradang karena kelebihan produksi. Yang kapitalis meradang karena kelangkaan likuiditas. Kita sebagai bangsa kebingungan diantara dua kubu sosialis dan kapilitas ,yang akhirnya nasionalis tinggal cerita demi kebebasan pasar. Biang persoalannya adalah kita men-tuhan-kan sesuatu yang bisa kita lihat. Uang telah menjadi the real god. Kita menyembah simbol simbol materialistis yang menawarkan kesenagan dunia, kehormatan , kemanjaan dan akhirnya kekuatan untuk menindas yang lemah. Kita terjebak soal kebebasan , HAM, demokrasi, Sosialis, Kapitalis . komunis yang nilai luhurnya tidak bertentangan dengan islami namun tercemarkan ketika dia menjadi tesis manusia untuk diterapkan dalam kehidupan sosial. Apalagi cara berpikir manusia itu tidak menjadikan Al Quran sebagai dasar berpijak. Tidak menjadikan AL Quran sebagai visi project sosial maupun politik.

Pengeran Charles berkata kepada publik bahwa islam adalah solusi dalam mengatasi krisis lingkungan dewasa ini. Bahkan Pangeran Charles mengatakan islam satu satunya solusi untuk membuat manusia keluar dari krisis dunia. Ini mungkin sebagai suatu pembenaran seperti ungkapan Robert T Kiyosaki yang mengatakan bahwa sistem kapitalis adalah sistem penipu terbaik diplanet bumi ini yang hanya menguntungkan penguasa dan pengusaha. Yang telah menciptakan kerusakan lingkungan secara massive. Juga pembenaran apa yang dibongkar habis oleh Jonathan Gabay tentang bobroknya sistem propaganda demokrasi yang menjadi pedagang jiwa untuk meraih kekuasaan.

Bagaimana dengan sistem negara kita. Adakah pemimpin atau elite politik kita mau merubah langkahnya untuk kembali kepada syariat Islam. Keliatannya sulit, jangankan mau merubahnya, mengakui kejujuran seperti ungkapan Pangeran Charles saja tidak berani ,apalagi kejujuran seperti Robert T Kiyosaki atau Jonathan Gabay...kalau kejujuran bersikap sulit maka kebenaran diperdagangkan dan kehancuran ada didepan mata...Sadarlah.!

Monday, June 07, 2010

Jihad dan Makna

Kebanyakan orang pasti tahu apa yang dimaksud dengan Jihad, umumnya dipahami sebagai panggilan untuk berperang. Secara etimologis “jihad” bukan berarti “perang” melainkan “ berjuang" dan meskipun bisa diterapkan untuk melawan musuh,itu bisa juga digunakan untuk perjuangan melawan godaan maksiat, perjuangan menegakkan keadilan, atau mengembangkan sikap belas kasih. Kata Jihad dalam pengertian “berperang “ muncul dalam Al Quran , namun terkait secara eksplisit dengan membela diri, ayat ayat itu diturunkan ketika kaum quraisy berusaha menghapuskan islam dari muka bumi. Dalam konteks itu, tidak berlebihan untuk berpendapat bahwa pertempuran itu memiliki dimensi moral: jika komunitas kaum beriman adalah mereka yang mampu menciptakan keadilan maka mereka yang terus membiarkan ketidak adilan terjadi berarti membantu setan dan wajib di perangi !

Namun kesan Jihad menjadi lain ketika di era Kalifah Umar Bin Khatap. Umar menyerukan sebuah “jihad” untuk menaklukan Kerajaan Sassania (Persia). Ketika itu Kerajaan Sassania adalah kerajaan super power didunia. Umar menyerukan kepada kaum muslimim untuk menggulingkan kerajaan Sassania, sebuah usulan dengan keberanian tinggi: semut bersumpah akan menjatuhkan gajah. Tekad itu datang karena sikap bangsa persia yang tak henti meracuni kaum muda muslim dengan budaya yang sesat. Lewat agent terbaiknya, bangsa persia terus melancarkan propaganda melemahkan semangat kaum muda terhadap aqidah islam. Menebarkan kemaksiatan didaerah taklukan islam. Umar tidak bisa melarang agent agent itu tapi dia langsung pada sumber masalah , yaitu menaklukan Persia. Kalau sekarang sama seperti Iran mau menaklukan Amerika.

Mengapa generasi pertama islam begitu berani bersikap menghadapi kezoliman dan resiko pasti.? Karena Kerinduan mereka akan makna adalah kebutuhan mendasar yang tak berbeda seperti kebutuhan makan dan minum. Kehidupan sehari hari memberi manusia sedikit kesempatan untuk jenis makanan ini, yang merupakan salah satu alasan mengapa orang bisa terhanyut oleh narasi yang menjadikan mereka pemain kunci dalam drama apokaliptik, Pejuang muslim pada masa khalifah Umar memiliki pengertian yang demikian tentang kehidupan mereka. Pembangunan sosial yang diterapkan Umar menjaga idealisme mereka terus hidup, karena Umar menanamkan apa yang ia amalkan dan mengamalkan apa yang ia katakan. Dibawah kepemimpinannya, Madinah mencerminkan nilai nilai persaudaraan, keadilan, harmoni, kesopanan, partisipasi demokrasi dalam pengambilan keputusan, kesetaraan dan kasih sayang. Paling tidak komunitas islam ketika itu mencontohkan kehidupan yang tak pernah ada dimasa kerajaan sebelum islam datang.

Sejak keberhasilan Pasukan Islam menguasai Persia, istilah jihad terus dikumandangkan dalam setiap operasi penaklukan. Penaklukan menimbulkan gelombang naik tetapi tetap terpisah dari ajakan untuk berpindah agama. Tidak ada’ dipaksa masuk Islam dengan pedang”. Kaum muslimin bersikeras menegakkan kekuasaan politik disetiap wilayah taklukan , tetapi tidak memaksa orang menjadi muslim. Sebaliknya kemanapun pasukan muslim mengalir, transmisi budaya ikut bergulir, Berita tentang proyek sosial muslim menyebar dengan cepat karena perluasan itu meliputi cukup banyak wilayah sejarah dunia yang dipersatukan bersama sama oleh rute perdagangan kuno yang terbentuk dilaut dan didarat. Perluasan kekuasaan Islam ternyata lebih banyak tidak melalui pertempuran tapi transmisi budaya kasih sayang yang merupakan ide ide yang memang tak baru tapi diterapkan dengan keteladanan tinggi oleh komunitasnya.

Kaum muslimin perdana itu merasa berjuang untuk sesuatu yang hebat secara apokaliptik. Mereka merasa bahwa berjuang dengan tujuan yang pasti yaitu membuat hidup mereka bermakna dan juga akan memberikan arti bagi kematian mereka. Mereka menyadari bahwa mereka akan menghadapi rintangan yang luar biasa dan bertahan menghadapi kesulitan besar, jika mereka berpikir bahwa usaha itu akan memberi makna bagi kehidupan mereka. Umar berhasil mendefinisikan cara hidup Islam untuk membangun komunitas khusus dengan tujuan mengubah dunia. Banyak agama berkata kepada pengikutnya' Dunia ini korup, tetapi engkau dapat menghindarinya. Islam berkata kepada pengikutinya " Dunia ini korup, tetapi engkau dapat mengubahnya"

Tapi , era kini, kita larut dalam perdebatan makna Jihad. Kita takut menyebutkan istilah Jihad karena kawatir di cap “teroris”, anti pluralis, anti demokrasi. Padahal jihad adalah berjuang untuk sebuah “makna” kehidupan sebagai muslim. Bila melihat muslim di Negeri kita sekarang dan menengok kebelakang maka kita sampai pada sebuah memori tentang kesempurnaan komunitas rahmatan lilalamin, namun telah mengabur dari keseharian kita...dan mungkin juga telah hilang.

Wednesday, June 02, 2010

Bahasa

Al Quran menyampaikan kata kata lewat bahasa yang bukan bahasa Arab asli. Ini bahasa Allah. Hebatnya Allah hadir dalam bentuk bahasa disekitar kita sampai kini. Tak ada satupun bangsa di dunia yang menggunakan bahasa Al quran dalam berkomunikasi, kecuali Allah. Mengapa ? Tiada bacaan bahasa seperti Al-Quran yang bukan hanya susunan redaksi dan pemilihan kosakatanya, tetapi juga kandungannya yang tersurat, tersirat bahkan sampai kepada kesan yang ditimbulkannya. Tiada bahasa seperti Al-Quran yang diatur tatacara membacanya, mana yang dipendekkan, dipanjangkan, dipertebal atau diperhalus ucapannya, di mana tempat yang terlarang, atau boleh, atau harus memulai dan berhenti, bahkan diatur lagu dan iramanya, sampai kepada etika membacanya. Adakah buku bacaan atau kitab suci yang menyerupai Al-Qur’an dari aspek-aspek tersebut? Semua manusia berhak untuk memahami bahasa itu dan memang diharuskan tanpa ada hak ekslusifitas. Al Quran adalah sandi berkomunikasi yang merupakan perpaduan antara akal, jiwa dan syariat.

Bahasa purba adalah bahasa yang hanya dipahami bila dikatakan melalui mulut (oral).. Bangsa Asia yang peradabannya lebih dulu maju terbukti mempunyai bahasa tidak hanya dalam bentuk kata kata juga diiringi oleh tekanan nada suara. Tekanan nada suara itu berhubunngan dengan jiwa. Jadi bahasa merupakan gabungan ungkapan jiwa dan oral. Makanya budaya asia tak selalu “diam” berarti tidak setuju dan begitu pula sebaliknya. Tak bisa berkata “tidak “ tapi gerakan tubuh dan roman wajah sudah cukup menyampaikan pesan“tidak” . Kehalusan budaya yang tinggi itulah membuat bangsa Asia dikesankan oleh orang barat yang berbudaya purba sebagai sikap “ plin plan” atau tidak bisa tegas. Sebetulnya ini karena perbedaan budaya yang sangat jauh rentang sejarahnya. Tidak akan pernah mudah dipahami oleh budaya barat.

Makanya sistem voting didepan publik tidak dikenal dalam budaya Asia. Ini bahasa purba menyampaikan pendapat. Kekuatan pemahaman bahasa seseorang teraktualkan dari kemampuannya mendengar suara oral maupun suara jiwa orang lain. Musyawarah adalah ungkapan bahasa oral dan mufakat adalah kekuatan jiwa untuk mengerti orang lain dan saling menghargai perbedaan untuk mengedepankan akal sehat dan nurani. orang jawa bilang "tepo selero", orang padang bilang "tenggang patenggangkan", orang china tidak bisa mengatakan " "tidak bisa ditawar", tapi mereka menyebutnya "tidak ada jalan ( wo fu sing) " Bahasa ini menempatkan nilai nilai rasa hormat dan rasa malu diatas segala galanya. HIngga mudah sekali mengetahui orang lain yang tak bermoral dan disebut tak "berbudaya", atau orang padang bilang " indak mampek"

Bahasa Asia adalah bahasa panutan. Orang yang dituakan dan dihormati akan didengar dengan telinga dan jiwa, kemudian diikuti dengan kepatuhan. Karena proses menjadi terhormat tidak didapat dengan cara cara tidak terhotmat. Proses itu didapat dari kematangan bahasa oral dan jiwa kepada pengikutnya. Dia tumbuh berakar dari proses yang panjang. Dapat dimaklumi, menggabungkan kekuatan akal dan jiwa dalam satu bahasa yang cepat dimengerti orang lain tidak bisa didapat dari pendidikan formal. Ia membutuhkan teladan sebagai bagian dari sandi berkomunikasi kepada orang lain. Hingga dia menjadi sermpurna dimana bahasa oral, gerakan tubuh dan teladan menyatu sebagai seni berkata kata kepada orang lain. Dalam Islam inilah yang disebut dengan sidiq, amanah, tawadhu dan segala sifat mulia lainnya.

Apa yang membuat kita kehilangan indentitas sebagai bangsa, tak lain ketika kita kehilangan bahasa itu sendiri. Bahasa kita kini sudah terisolasi dan terpartial , dan tak ada integrasi antara bahasa oral, jiwa dan teladan. Bahasa oral telah terkontaminasi oleh bahasa iklan. Kecap KS No. 1. Bahasa jiwa telah terkontaminasi dengan pakaian dan aksesoris bermerek. Keteladanan telah tergantikan dengan propaganda publik image. Semuanya adalah packaging yang menipu dan rasa malu terhalau,apalagi tepo selero. .Dari keadaan inilah kita hidup dipaksakan untuk terus berinteraksi dengan bukan bahasa kita sesungguhnya. Kitapun hidup diantara dua ruang, Asia dan Barat,. Asia, telah lapuk, ke Barat pun tak diterima. Tak lebih seperti cerita Roman “ Salah Asuhan”. Ya, kita memang salah asuhan akibat sistem pendidikan sekular , yang selalu percaya bahwa segala yang berasal dari Barat itu baik.

China dapat tumbuh berkembang dengan pesat mengalahkan Eropa dan Amerika yang membangun beratus tahun peradapan “modern”. Itu pula sebabnya Vietnam, Kamboja dapat cepat bangkit dari kehancuran perang. Itu sebabnya Iran mampu mandiri ditengah embargo international. Karena mereka membangun tanpa kehilangan indentitas ke Asiaanya. Padahal Indonesia , yang mayoritas Islam dengan Al Quran dan Hadith sebagai panutan serta budaya leluhur yang tinggi tersilaukan oleh budaya yang dibawa oleh barat. KIta membangun melihat keluar dan melupakan mutiara indah yang ada didalam diri kita sendiri.

Persahabatan …?

  Sejak  minggu lalu, sejak saya membuat keputusan perubahan susunan Komisaris perusahaan, setiap hari email datang dari Yuni dengan nada pr...