Saturday, July 02, 2005

MENGHAYATI AL-QUR'AN DAN BUKAN MENGHAPAL

Dimanakah Allah? Demikian tanya teman saya. Saya hanya diam. Kemudian teman ini menjawab sendiri pertanyaannya, Allah ada disini katanya sambil menunjuk kedadanya.. Bagaimana kamu tahu ? tanya saya. Karena Allah sendiri berkata kepada saya. Jawabnya seketika. Tahukah kamu, lanjutnya. Allah berbicara banyak tentang banyak hal kepada kita. Dia bicara. Ingat , Dia bicara. Karena Dia maha pencipta dari segala pencipta maka tentu Dia berbicara segala hal yang baik untuk ciptaannya. Dia ajarkan segala hal agar kita bisa melewati hukumnya, ketetapannya tentang syariat menuju hakikat. Tak ada satupun yang terlupakan untuk Dia sampaikan. Dari urusan yang bisa kita reka dengan akal yang terbatas ini sampai pada hal yang tak terjangkau dengan akal kita. Apa itu.Ya rahasia tentang diri kita. Rahasia tentang Dia sendiri. Itu semua ada dalam Al Quran. Yang disampaikan melalui rasulnya. (Q.S. 62; 2 ).

Al-Qur’an turun dari alam ghaib ke alam nyata, dari posisi yang sangat tinggi ke posisi yang dapat dipahami, meskipun demikian, di dalam al-Qur’an terdapat tema-tema yang dapat dipahami oleh semua orang; baik oleh a’rif, awam, a’lim, maupun oleh orang yang tidak terpelajar. Tapi dalam Al-Qur’an juga terdapat tema-tema yang hanya dapat dipahami oleh Anbiya’ dan Auliya’ saja, sementara kita dapat memahaminya melalui penjelasan mereka. Di samping itu, di dalam al-Qur’an terdapat penjelasan-penjelasan mengenai politik, sosial, pendidikan, bahkan militer dan sebagainya. Semua ini untuk dipahami dan ditarik manfaatnya oleh umat manusia, sesuai kapasitas masing-masing. Al-Qur’an adalah nur, cahaya, sebagaimana ungkap al-Qur’an sendiri, sedangkan kotoran yang ada dalam diri seseorang adalah tirai, hijab, yang menghalanginya memahami al-Qur’an. Oleh karena itu, selama hijab ini belum terurai, maka muslahil ia dapat memahami al-Qur’an, karena selamanya tirai menghalangi masuknya cahaya.

Boleh jadi seseorang merasa bahwa ia telah memahami al-Qur’an, tetapi selama ia belum keluar dari kegelapan hijab yang menutup hatinya, masih menjadi tawanan hawa nafsunya, rasa ujubnya, dia tidak akan mampu menerima pantulan cahaya itu ke dalam hatinya. Karena itu jika seseorang ingin memahami hakikat al-Qur’an, bukan sekedar pemahaman lahiriyah, tapi betul-betul pemahaman hakiki, sehingga setiap kali membaca al-Qur’an semankin meningkat ke tangga kesempurnaan dan semakin dekat ke sumbar cahaya dan sumber tertinggi, maka ia harus mengangkat tirai itu. Dan kalian adalah tirai bagi diri kalian sendiri. Karena kalian harus mengangkatnya supaya dapat memahami nur ini seperti apa adanya dan sebagaimana yang dapat dipahami oleh anak manusia. Dengan demikian, salah satu tujuan pengutusan Rasul ialah pengajaran al-Kitab dan al-hikmah sesufah tazkiyatun-nafs, pensucian diri.

Ayat pertama yang turun pada Nabi saw adalah firman Allah iqra’ bismi rabbika, bacalah dengan nama Tuhanmu. Ayat ini telah menyeru belajar dan membaca sejak dari pertama. Dalam ayat ini juga tercantum “ "Ketahuilah sesungguhnya manusia ketika melihat dirinya berkecukupan melampaui batas, tagha," (Q.S. 96 : 6 ). Ini artinya bahwa sikap melampaui batas, tughyan, merupakan salah satu kejahata utama. Ia harus dihilangkan, dan caranya hanya melalui pencucian diri dan mempelajari al-Kitab dan al-hikmah.

Dalam diri manusia terdapat suatu watak bahwa ketika ia mendapatkan dirinya berkecukupan dalam satu masalah, ia cendrung bersikap melampaui batas atau tughyan dalam masalah itu. Misalnya ketika ia merasa berkecukupan dalam masalah harta, muncul dalam dirinya sikap tughyan dalam masalah harta. Demikian pula ketika ia merasa berkecukupan dalam masalah ilmu atau kedudukan, maka sikap tughyannya terjadi pada masalah keilmuannya dan kedudukannya. Firaun, bersikap tughyan, sebagaimana diungkapkan langsung oleh Allah, karena dia mencapai posisi duniawi tanpa kesucian diri dan tanpa didasarkan pada tujuan Ilahi. Dan memang, setiap orang yang mencapai posisi duniawi tanpa kesucian diri tanpa didasari oleh kesucian diri akan melakukan tughyan ini. Semakin tinggi posisi duniawinya semakin tinggi tughyannya. Karena itu Nabi diutus untuk menyelamatkan manusia dari sikap tughyan ini, membersihkan jiwa mereka, mengeluarkan mereka dari kegelapan. Maka jika semua orang berhasil disucikan seluruh alam ini akan menjadi nur.

Perselisihan dan pertentangan yang terjadi di antara anak manusia dan di antara para penguasa bersumber pada tughyan ini. Seseorang yang mencapai suatu posisi duniawi tertentu muncul dalam dirinya sikap tughyan ; ia tidak puas dengan posisinya sekarang; ingin lebih tinggi lagi. Ini mendorongnya melakukan tindakan kejahatan terhadap orang lain, yang degan sendirinya melahirkan perselisihan dan pertentangan. Tidak berbeda, apakah perselisihan itu pada tingkat tinggi atau tingkat rendah. Apakah antara kalangan pedasaan atau tingkat kekuasaan tinggi. Semuanya adalah karena tughyan. Dan semakin tinggi posisi seseorang dan semakin tinggi pula tughyannya.

Mereka yang mencintai negeri ini, yang mencintai Islam, dan percaya bahwa Islam penyelamat manusia, hendaknya betul-betul memperhatikan ajaran yang sangat penting ini dalam Islam, yang tercermin dalam firman Allah "Sesungguhnya manusia itu ketika melihat dirinya merasa cukup ia akan melampaui diri," tagha. Mereka yang percaya pada kebangkitan yang bersifat Ilahi dan sesungguhnya tujuan dari kebangkitan itu adalah menunjukkan jalan kebenaran kepada umat manusia harus betul-betul memperhatikan masalah ini sebagaimana yang difirman Allah dalam ayat 96 :6 di atas. Karena pensucian diri adalah muddimah bagi penerimaan cahaya hidayah. Selama kalian tidak mensucikan diri kalian, niscaya kalian akan selalu bersikap tughyan. Selama kalian tidak mensucikan diri kalian, maka ilmu akan berbahaya buat diri kalian, bahkan bahayanya melebihi apa pun juga. Selama kalian belum mensucikan diri kalian, maka kedudukan sangat berbahaya bagi kalian, dan semua itu akan membawa kalian pada kecelakan dunia dan akhirat.

Renungkan semua itu.

No comments:

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...