Posts

Showing posts from June, 2020

Resiko dan pilihan

Image
Saya menikah usia 22 tahun. Waktu itu semua teman menasehati agar saya punya rencana yang matang sebelum menikah. Setidaknya harus selesai dulu kuliah. Harus punya kerjaan pasti. Kalau bisa punya rumah dulu. Karena resikonya sangat besar kalau tanpa persiapan. Apalagi hidup di kota besar. Sementara saya, kuliah belum selesai. Jangankan punya rumah, kerjaan aja engga pasti. Tetapi sekali  niat terucapkan, sekali layar terkembang, bahtera rumah tangga tetap melaju menuju samudera lepas. Istri saya juga tidak pernah mengkawatirkan resiko apapun walau dia tahu saya pria miskin. Padahal kalau dia mau memilih, banyak pria yang mau. Tetapi karena yang mau itu mungkin terlalu panjang rencananya, sementara saya langsung action. Dia lebih memilih yang serius saja walau resiko ada.  Apakah setelah menikah, hal buruk yang dibayangkan oleh sebagian orang terjadi pada kami ? Tidak. Memang kami tidak punya penghasilan pasti tetapi kami tidak kelaparan. Memang saya tidak sarjana, tetapi say

Esensi beragama

Image
Delapan tahun lalu saya mampir di toko buku yang ada di Bandara Hong Kong. Saya terkejut karena ada terjemahan buku dalam bahasa inggeris yang di tulis oleh Wang Tai Yu, judulnya " Chinese Gleams of Sufi Light". Wang adalah ulama dan juga intelektual islam di China abad 17. Saya langsung beli. Mengapa? Karena menurut cerita teman di China yang sudah baca, buku ini bisa membuka tabir bagaimana sebetulnya orang china memandang Islam. Sebelum abad 17, para ulama besar China menulis buku berisi tentang bagaimana memahami ajaran Islam, bukan bagaimana Islam bisa melahirkan semangat kemandirian ditengah masyarakat. Bagaimana mentranformasi dari masyarakat yang nrimo, apatis , pesimis, korup menjadi masyarakat yang progressive, passion, berikhsan. Komunitas Islam di CHina tumbuh seperti itu dan Wang menangkap bahaya untuk eksitensi Islam. Karena itulah dia terpanggil menulis. Buku tersebut mengubah prakonsepsi - prakonsepsi tentang peran Islam di China. Seorang perwira Mili

Menerima dan berdamai.

Image
Salah satu konglomerat, dalam usia senja sakit sakitan. Namun setiap hari anak anaknya pasti menyempatkan datang ke rumahnya untuk mencium tangannya atau menelphonnya sekedar meyakinkannya bahwa mereka peduli. Padahal mereka sangat sibuk. Pada waktu saya datang ke rumahnya untuk bersilahturahmi. Konglomerat itu berkata, “  mereka bukan peduli, tetapi mereka takut miskin. Karena setiap anak yang pegang saham perusahaan saya, mereka saya suruh teken surat pernyataan jual balik saham seharga USD1.  Artinya kalau mereka macem macem, saya tinggal kirim lawyer untuk tendang mereka. Dan saya hanya bayar USD 1 saham yang mereka punya. Selagi saya masih hidup, semua harta milik saya, dan tidak ada pembagian warisan apapun dan mereka akan selalu datang dengan cinta.”  Dilain kesempatan, ada teman yang awalnya merasa bangga. Karena anaknya bisa mengelola perusahaan dan dia bisa menikmati usia pensiun. Namun berlalunya waktu, uang belanjanya dijatah oleh anaknya. Mau minta apapun kepada a

SEX and attitude

Image
Masalah seks masih dianggap tabu untuk diperbincangkan dan seringkali dianggap remeh karena tidak dipelajari dan dicermati dengan seksama. Padahal, seks sangat penting dan tidak ada seorang manusia pun yang lepas dari seks. Disadari maupun tidak disadari, diakui ataupun tidak diakui, mereka yang memiliki gangguan kejiwaan dan masalah seksual memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap kehidupan masyarakat, bangsa, dan juga negara.  Apa ada pemimpin yang mau mengakui dirinya mengalami masalah gangguan kejiwaan dan masalah seksual? Apa ada masyarakat umum yang juga mau menyadarinya? Semua dapat dibuktikan dari perilakunya sehari-hari. Kaum kiri percaya bahwa hanya dengan sosialis komunisme negara akan makmur atas dasar masyarakat tanpa kelas. Tetapi apa yang terjadi ? Di Uni Soviet, terjadi kelaparan di masa kekuasaan Stalin, dan akhirnya bangkrut di era Mikhail Sergeyevich Gorbachev. Di China, Mao sangat yakin revolusi kebudayaan merupakan lompatan China jauh kedepan. Tetapi 1

Erick dan Adian Napitupulu

Image
Secara pribadi saya sangat menghargai  sikap Bang Adian Napitupulu. Dia sangat konsisten dengan ajaran Marhaen. Baginya apapun kebijakan negara harus bisa diterjemahkan dengan mudah dan tujuannya jelas berdasarkan Pancasila. Sikap berbeda bang Adian dengan pemerintah soal dana talangan BUMN khususnya Garuda, lebih didasarkan kepada pertimbangan idiologi yang dia perjuangkan. Bahwa negara harus ada hadir secara significant dalam BUMN. Bila perlu saham pemerintah harus dominan. Bila perlu Pemerintah harus keluarkan tambahan modal kepada BUMN agar perannya lebih besar bagi pembangunan, untuk rakyat tentunya.   Yang jadi masalah adalah sejak Soeharto jatuh dan rezim reformasi berkuasa, UU dan PP yang ada di negeri ini telah berubah sesuai dengan Amandemen UUD45. BUMN tidak lagi dengan prinsip agent of development tetapi business oriented. Tampa disadari kita sudah memasuki era state of capitalism. Privatisasi terjadi secara terus menerus sejak era Gus Dur sampai era SBY. Memang er

Sorga dan Neraka

Image
Menurut kaum sufi kisah perjalanan mi’raj Nabi Muhammad ke Sidaratul Muntaha dilakukan dalam semalam. Nabi menggunakan kendaraan Bouraq, yang melesat seperti cahaya. Ketika sampai di gerbang Sidaratul Muntaha, malaikat Jibril yang mendampingi Nabi tidak bisa masuk ke dalam. Mengapa? “ Sayapku akan terbakar bila masuk ke dalam Sidratul Muntaha. Karena di dalam itu ada Cinta, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang “ Kata Jibril. Maka hanya Nabi yang bisa masuk kedalam untuk menerima perintah sholat. Kaum sufi berprasangka bahwa Tuhan itu adalah Cinta. Makanya kalau ingin mendekati Tuhan, tentu haruslah dengan konsep Cinta. Itulah Kaum sufi. Al Gazhali adalah manusia religius yang autentik. Dia percaya pada wahyu, dia menghormati Nabi dan Kitab, dia setia kepada syariah, tetapi tidak merasakan kehadiran Allah secara jelas. Gazhali tiba tiba mengalami krisis ruhani, dan pergi kepengasingan. Dari sinilah terjadi transformasi kejiwaan, dari mendekati Allah karena dorongan rasa takut berub

Keturunan Nabi.

Image
Nabi Muhammad punya tiga putra. Dua dari istri pertamanya, khadijah. Satu dari Istri, Mariah Qibtiyah. Tetapi takdir bagi ketiga putra Rasul itu tidak berumur panjang. Dua putra dari istrinya Khadijah yaitu Abul Qasim, meninggal dalam usia dua tahun. Abdullah, meninggal dunia setelah lahir beberapa hari. Sementara dari istrinya Mariah Qibtiyah, putranya bernama Ibrahim meninggal dalam usia 16 bulan. Seandainya ketika Nabi Muhammad wafat punya putra yang ditinggalkannya , sejarah khilafah 4 mungkin tidak akan pernah ada. Artinya, dengan tidak adanya putra nabi penerusnya maka sumber fitnah dikemudan hari terhadap Islam tidak terjadi. Tidak akan ada orang mendewakan keturunanya dan bahkan mengangkatnya sebagai nabi atau imam besar.  Mengapa ? Secara budaya Arab atau penganut adat patriakat, garis keturunan itu ada pada pria, bukan wanita. Hasil penelitian Genetika diabad modern sekarang, memang membuktikan bahwa meski anak mewarisi DNA dari ayah dan ibu, namun GEN  ayah lebih

Kekuasaan

Image
Khilafah Turki Ustmani awalnya tidak punya tradisi bahwa kekuasaan diwariskan kepada anak sulung. Sehingga sering terjadi pertikaian di antara para saudara untuk mengklaim takhta. Ketika Mehmed II sedang mengepung Konstantinopel, pamannya sendiri bertarung melawannya dari dalam tembok. Mehmed pun menangani masalah ini dengan dingin. Ketika dia naik takhta, dia mengeksekusi sebagian besar kerabat lelakinya. Sejak saat itu, setiap sultan baru yang naik takhta diwajibkan untuk membunuh semua kerabat lelakinya. Bahkan Suleiman yang Agung (Suleiman I) menyaksikan dari belakang layar saat putranya sendiri dicekik sampai mati dengan tali busur. Diketahui bahwa anaknya menjadi terlalu populer di kalangan tentara sehingga sang sultan merasa tidak aman. Kebijakan "fratrisida" itu tidak pernah populer di kalangan masyarakat umum atau para ulama, dan kebijakan itu diam-diam ditinggalkan ketika Ahmed I meninggal pada tahun 1617. Namun caranya tetap saja sadis, calon pewaris takhta

Tapera dan semangat gotong royong.

Image
Dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI), para pendiri bangsa ini punya satu pemikiran yang sama bahwa kita tidak memilih model kerajaan, tidak juga memilih model republik parlementer. Tetapi model pemerintahan presidentil. Sistem presidentil pun tidak berdasarkan golongan atau idiologi tetapi berdasarkan kesejahteraan atau istilahnya welfare state. Mengapa? karena sistem negara kesejahteraan bertumpu kepada lima hal , yaitu Demokrasi (Democracy), Penegakan Hukum (Rule of Law) , Perlindungan Hak Asasi Manusia (The Human Right Protection), Keadilan Sosial (Social Justice) dan Anti Diskriminasi (Anti Discrimination).   Hebatnya walau teori welfare state itu berdasal dari Barat namun dapat diterjemahkan secara apik dalam falsafah negara bernama pancasila. Dalam perkembangan setelah merdeka, Soekarno belum bisa menterjemahkan welfare state itu dalam bentuk implementasi nyata. Karena anta