Posts

Showing posts from December, 2015

Tahukah kamu, kasih..

Image
Friendship will grow day by day  Even when we're far away I know we'll be okay Friends forever we'll stay Though the future's still unknown I will never be alone Though we change, though we've grown In my heart is our home  Time has passed, we've grown up  Sharing hope, sharing love Because faith helped us through I know I can count on you  In your eyes I can see  How we fit perfectly Best of friends, always be you and me  *** Tahukah kamu bahwa bulan hanya nampak indah ketika malam. Cahayanya membiaskan warna perak berkilau pada langit. Terutama ketika dia tampil utuh bulat. Sang pujangga memandang kebulan, syair dan prosa tercipta. Sang pencinta akan mengurai bait bait cinta. Walau orang telah pergi kebulan dan telah pula menginjak bulan ternyata taka da yang luar biasa namun bulan tetaplah lambang cinta, lambang perasaan terdalam untuk mengungkapkan sepatah kata tentang cinta. Tentang makna dari sebuan kerinduan yang

Selamat tinggal...

Image
Senja itu menyimpan makna tentang kegundahan yang tak pernah terjawabkan. Keindahan cahaya tamaram lampu disenja Laut Cordoba. Ingin rasanya berlari mengejar setiap noktah cahaya senja yang terus merangkak keufuk peraduannya. Tapi hati ini begitu tak berdaya diatas kehampaan makna hasrat yang tersembunyi. Bagai lenguhan nafas manusia yang lelah berburu tanpa tujuan. Kemanakah langkah harus diarahkan.? Sementara rasa rindu yang tak bertepi selalu hinggap didalam kalbu. Benarkah aku jatuh cinta padanya ? Apakah ini hanya photomorgana ditengah gurun sepi, yang membuatku berlari menggapainya karena dahaga akan cinta dari seorang pria. Ataukah kehadiranya hanya sebatas intermezo disela sela panantian jodohku. “ Sedang apakah kamu kini ?”.Mungkin itu katanya bila ingat akan aku.  Seperti biasa , dia akan selalu tersenyum bila meririndukanku. Kemudian hayalannya terbang kedunia yang antah berantah. Hayalan akan kesempurnaan dari seorang wanita sahabat sejiwanya.Hari berlalu ,minggu ter

Tesis dan antitesis

Ada sebuah cerita orang Yahudi tentang dua rabbi piawai yang berdebat. Yang diperdebatkan adalah dua buah naskah yang ditulis oleh Musa bin Maimon (yang dalam kepustakaan Barat disebut Maimonides), ahli filsafat yang hidup delapan abad yang lampau. Kedua rabbi itu, masing-masing pakar utama telaah karya-karya Maimonides, mempersoalkan tidak cocoknya sebuah teks dengan teks yang lainnya. Perdebatan berlangsung dengan argumen-argumen yang mengagumkan. Kedua pihak sama-sama kuat. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun disusul tahun yang lain, terus saja perdebatan itu tak berhenti. Ketika kedua rabbi itu akhirnya meninggal, di akhirat pun mereka terus saja saling mengajukan argumen yang cemerlang. Tuhan pun mengikuti diskusi itu, dan akhirnya Ia memanggil Maimonides sendiri untuk menjawab: apa sebab ada ketidakcocokan antara tulisannya di naskah A dengan tulisannya di naskah B. Maimonides pun mendekat, membaca baik naskah A maupun naskah B, dan dia tertawa. ’’Yang di naskah B