Posts

Showing posts from May, 2014

Kepemimpinan

Image
Mungkin seusia saya kini ( diatas 50 tahun ) , 90% pria minang adalah pengusaha ( wiraswasta). Jadi hanya 10% yang jadi pegawai. Mengapa? Ketika itu orang tua mengajarkan kepada pria minang bahwa “ Jan jadi pagawai, umua panjang rasaki diagakan” ( jangalah jadi pegawai, karena umur panjang tapi rezeki di taker oleh orang lain). Disamping itu ada lagi budaya minang yang mengatakan : Kaluak Paku kacang Balimbiang, Tampuruang lenggang-lenggangkan, Bao manurun ka Saruaso. Tanamlah siriah jo ureknyo. Anak di pangku kamanakan dibimbiang. Urang kampuang dipatenggangkan. Tenggang nagari jan binaso. Tenggang sarato jo adaiknyo . Kalau diartikan secara bebas adalah setiap pria minang tentu akan punya anak bila dia berkeluarga. Anak dan ponakan haruslah menjadi tanggung jawabnya. Namun letak tanggung jawabnya berbeda. Kalau anak tanggung jawab melekat secara biologis , dan ponakan tanggung  jawab melekat karena budaya. Itu sebabnya orang minang mengistilahkan “anak dipangku” , “ponakan di bimb

Kesetiaan...

Image
Ada satu cerita tentang kesetiaan dan kehormatan. Kata  teman saya waktu makan malam kemarin. Saya tertarik untuk siap mendengar karena budaya china selalu mendidik orang dengan cerita. Tak penting apakah cerita itu benar atau tidak. Dengar kan saya, katanya dengan senyum indah. Tersebutlah namanya Afung. Dia wanita desa kelahiran Shandong. Dalam usia remaja dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga dirumah seorang pengusaha yang berkewargaan negara asing. Sebetulnya tempat tinggal ini tak lebih hanyalah tempat peristirahatan saja. Tuannya hanya datang kerumah seminggu sekali. Biasanya akhir pekan. Dirumah itu hanya ada A Fung dan Tuannya. A Fung bekerja dengan baik . Rumah itu terawat dengan baik dan tuannya merasa senang karena itu. Pada suatu hari A Fung memohon kepada tuannya untuk memberinya pinjaman uang membiayai ayahnya yang sakit keras di kampung. Tuanya dengan bijak memberikan pinjaman sebesar yang diinginkan dan ditambah biaya transfort pulang pergi. A Fung setengah membung

Berbeda namun satu...

Image
Minggu lalu saya ke Lampung menghadiri perkawinan ponakan saya yang perempuan. Saya membawa istri, menantu, cucu dan mertua. Kendaraan disupiri oleh ponakan istri saya. Dalam perjalanan saya merasakan ada sesuatu yang berbeda tentang ponakan istri saya itu. Karena dari sejak berangkat dia menyetel radio yang berisi program tausiah. Padahal tadinya dia tidak begitu peduli soal agama. Saya menanyakan mengapa dia sangat tertarik dengan Tausiah itu? Dengan tersenyum dia berkata bahwa dia ikut pengajian Salafi. Apa yang dimaksud dengan Salafi, Tanya saya. Dengan panjang lebar dia menjelaskan tentang salafi. Saya senang keyakinannya itu membuat dia dekat kepada Allah. Kalau tadinya sholat jarang tapi sekarang sudah sangat rajin sholat, bahkan selalu dilakukan berjamaah di Masjid. Istrinyapun dididiknya untuk dekat kepada Allah dengan menjaga sholat dan berlaku Ihsan.  Salah satu ponakan istri saya juga ada yang ikut Jamaah Tabligh. Yang tadinya arogan dan pemberang tapi kini dia menjadi ora

Jokowi sebagai capres?

Image
Abdur Rahman bin Samuroh -radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda kepadaku, “Wahai Abdur Rahman bin Samuroh, janganlah engkau meminta kekuasaan. Karena jika kau diberi kekuasaan dari hasil meminta, maka engkau akan diserahkan kepada kekuasaan itu (yakni, dibiarkan oleh Allah & tak akan ditolong, pent.). Jika engkau diberi kekuasaan, bukan dari hasil meminta, maka engkau akan ditolong”. [HR. Al-Bukhoriy (6622, 6722, 7146, & 7147), dan Muslim (4257, & 4692)]. Abu Musa Al-Asy’ariy-radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Aku pernah masuk menemui Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersama dua orang sepupuku. Seorang diantara mereka berkata, “Wahai Rasulullah, jadikanlah kami pemimpin dalam perkara yang Allah -Azza wa Jalla- berikan kepadamu. Orang kedua juga berkata demikian. Maka beliau bersabda, “Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan menyerahkan pekerjaan ini kepada orang yang memintanya, dan tidak pula orang yang rakus kepadanya”. [HR. Al-B

Agama Cinta...

Image
Kemarin saya amprokan dengan teman di Mall. Dengan senyum khasnya dia memeluk saya.Kami ngobrol panjang lebar seakan melepas rindu karena telah lebih 20 tahun tidak bersua. Kebetulan kami berdua terlahir sebagai putra minang . Dia memang terlambat menikah namun dia lebih dulu punya anak. Demikian saya awali cerita singkat tentang sahabat ini. Bagaimana bisa begitu ? Sebelum dia menikah , rumahnya di Jakarta didatangi oleh adik perempuannya yang menjanda karena ditinggal mati oleh suami. Adiknya punya anak 2 orang. Mereka masih Balita.  Tentu kedua anak itu juga adalah ponakannya sendiri. Dua tahun setelah itu adik perempuannya menikah lagi namun menitipkan anaknya kepada dia. Kebetulan dirumahnya ada ibunya yang juga tinggal bersamanya setelah ayahnya meninggal di Kampung. Kemudian , pamannya atau adik ibunya  dikampung meninggal. Karena kemiskinan juga akirnya tantenya datang  ke Jakarta menitipkan ketiga anak anak yang belum berangkat remaja. Tantenya berharap dia bisa menyekolahkan