Wednesday, October 13, 2021

Persahabatan …?

 




Sejak  minggu lalu, sejak saya membuat keputusan perubahan susunan Komisaris perusahaan, setiap hari email datang dari Yuni dengan nada protes dan marah. Saya diamkan saja surat itu. Saya tahu suasana batinya sedang tidak nyaman.  Apapun alasan saya tidak akan dia bisa terima sebelum keinginanya depak Florence tercapai. Saya percaya dia sahabat saya, yang tentu dia sangat paham sifat saya. Sayapun sebaliknya juga harus memahami suasana hatinya.  Perasaan tidak aman, kadang membuat orang berpikir diluar dirinya. Itu biasa saja. 


Saya sudah membuat keputusan menempatkan Florence sebagai Preskom dan itu jelas pertimbangan profesional, bukan emosional. Saya bisa membedakan di mana Florence berdiri dan dimana  Yuni. Tentu tidak elok saya menentukan mana yang baik dan mana yang tidak. Yang jelas masing masing punya alasan bagi saya untuk bersikap. 


Florence mengenal saya disaat saya sebagai pemula dalam bisnis. Berbeda denga Yuni ketika bertemu saya, saya di puncak usia emas saya. Florence tahu saya pria yang lemah. Mudah kalah dan mengalah.  Tidak bisa bersikap tegas. Kadang terkesan tidak berani berkata tidak. Mudah dimanfaatkan.


Dia selalu hadir disaat saya sangat membutuhkan dukungan moral Di saat saya dalam gelap, dia datang membawa lilin. Ketika saya  limbung, dia menyediakan tubuhnya untuk menopang saya agar tidak jatuh. Ketika orang meragukan saya, dia menguatkan saya. Tidak pernah mengadili saya kecuali mengarahkan cahaya kepada saya.  Walau dia pernah menikah dengan pria bukan saya, dan akhirnya perceraian terjadi, dia tidak pernah menyesali sebagaimana dia tidak menyesali memilih tidak menikah dengan saya. Namun 35 tahun persahabatan kami selalu terjaga.


Saya tidak mengatakan bahwa Florence melakukan itu semua karena dia pecundang di hadapan saya. Justru karena sikap tidak mementingkan diri sendiri dan tampa berhitung apa yang telah dia korbankan , sebenarnya dia membangun rasa hormat,  yang menumbuhkan keyakinan dan kerpecayaan saya kepadanya tanpa syarat.  Dari itu semua, tetap Istri saya di rumah tidak bisa bandingkan dengan Florence. Karena satu hal yang tidak pernah dimiliki oleh Florence? apa ? Dia tidak pernah berani menikah dengan saya. Sementara istri saya, adalah wanita pertama yang berani menikah   karena Tuhan, bukan karena cinta manusia yang selalu bersyarat. 


Kamu tahu Yun, Manusia memang lemah. Persahabatan adalah jembatan yang dibuat oleh manusia. Jembatan selalu lapuk. Janji biasa inkar. Karenanya ongkos persahabatan kadang dibayar dengan airmata dan keluhan yang tak sudah. Tetapi menikah karena Tuhan adalah jembatan persahabatan yang dibuat oleh Tuhan. Jembatan yang sangat kokoh, tak lapuk karena hujan, dan tak lekang karena panas. Dan itu jelas tidak mudah dan tidak sederhana. Butuh kekhlasan dan sabar tak bertepi…Paham kan sayang..

Sunday, October 03, 2021

Mental Kaya.

 



Kemiskinan itu bukan karena pendidikan, atau keturunan. Tetapi karena mindset. Atau sikap mental. Ciri orang yang bisa bebas dari kemiskinan adalah sebagai berikut:

Punya rasa hormat. Bekerja atau bisnis bukan sekedar mencari uang tetapi berjuang untuk mendapatkan rasa hormat. Artinya apa yang kita lakukan ada muatan moral dan harga diri. Sehingga kita tidak perlu merasa kecil hati kalau sarjana pada awal bekerja  hanya kebagian kerja yang remeh remah. Tidak perlu merasa rendah kalau harus mengawali bisnis berdagang kaki lima, atau jadi salesman panci. Tidak merasa rendah bila harus merendahkan diri untuk melayani konsumen atau boss..Punya kesabaran dan passion melewati setiap hal, walau kecil sekalipun.

Percaya bahwa semua tidak mudah dan murah. Uang atau harta yang kita dapat adalah reward dari proses yang tidak mudah. Kalau ada yang menawarkan too good to be true, anda mudah sekali menerima, maka itu sudah mental miskin. Tapi kalau anda tidak meresponse nya maka anda sudah menepak jalan mental pemenang. Memang tidak mudah tapi kita belajar mendaki untuk sampai diatas bukit walau harus melewati blukar dan onak. Kadang terjatuh. Kadang terluka. Tetapi dengan melewati proses itu, kita tahu artinya kesuksesan dan tahu arti mencintai.

Kemauan untuk belajar. Belajar bisa darimana saja. Tetapi jangan belajar dengan orang saya setara dengan anda. Jangan belajar dari pengeluh. Jangan belajar dari orang yang pemalas. Belajar dari orang yang kaya effort dan berpikir positif. Kemauan untuk menerima hal yang baru, dan haus akan informasi dari beragam sumber. Diskusi dengang orang yang  memungkinkan anda mendapatkan ilmu baru dan pengetahuan baru. Yang membuka jalan anda menuju mata air. Itu lebih berarti daripada uang. Karena pengetahuan membuat anda lebih bijak bersikap, tahu makna berkompetisi. 

Hidup sederhanaKetika anda berpikir untuk jadi orang kaya, maka saat itu juga anda masuk jebakan dunia kapitalis.  Anda tidak akan pernah kaya. Karena sikap itu membuat anda cepat sekali melihat resiko dan menghindar.  Sikat rakus !Anda tidak akan pernah memulai untuk sesuatu yang bernilai. Kalau ada jalan yang mudah dan murah, anda akan cepat sekali mengejarnya, walau itu hanya sekedar ilusi semacam too good to be true. Hidup sederhana adalah bersikap sederhana, bahwa hidup bukan apa yang kita pikirkan tetapi apa yang bisa kita perbuat. Bukan apa yang kita dapat, tetapi apa yang kita beri. Bukan apa yang kita pelajari tetapi apa yang kita ajarkan. Hidup bukan mengejar jumlah tetapi nilai. Kelengkapan diri.


Dengan sikap mental tersebut, Selama jantungmu berdetak lebih cepat, kenapa tidak bertindak lebih cepat? Daripada hanya berpikir, kenapa tidak sekalian dikerjakan? Ingat! semua orang miskin di dunia ini, karena satu kebiasaan yang sama. Seluruh hidup mereka dihabiskan dengan menunggu untuk hal yang mudah dan murah. Selalu ada waktu menyalahkan di luar dirinya. 


Tuesday, September 28, 2021

Dosa kolektif.

 





Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak akan  ada minat VOC mau berinvestasi di Nusantara ini. Kalaulah VOC investasi di Indonesia, tidak ada korupsi di kerajaan dan pegawai VOC, tidak mungkin akhirnya VOC bangkrut dan akhirnya Pemerintah Belanda menjadikan Indonesia sebagai wilayah kolonial. Kalaulah Kolonial Belanda tidak membiarkan korupsi di kalangan elite kerajaan yang menyengsarakan rakyat, tidak mungkin  ada perlawanan rakyat kepada Belanda. 


Dalam hidup ini ada yang disebut karma., Terjadi sebab akibat dari rangkain proses terciptanya salah dan benar. Satu dosa yang anda buat maka orang lain akan merasakan dampaknya. Pak Harto memberikan izin kepada Freeport McMoran untuk kuasai Tambang di Papua, itu karena dia dapat dukungan dari AS menjatuhkan rezim Soekarno. Dampaknya luas sekali kepada orang banyak. Karena itu proses neokolonial berlangsung selama 32 tahun dia berkuasa. Kalaulah Gus Dur tidak dijatuhkan oleh MPR, kartel politik tidak akan terjadi. 


“ Kemiskinan itu karena orang malas. “ Kata orang kaya. “ Kemiskinan itu karena sistem yang salah.” Kata orang apatis dan kalah. Kemiskinan itu karena korupsi “ Kata orang pesimis. Semua ada alasan. Dan lucunya alasan itu menjadi hal yang dianggap normal saja. “ Toh bukan hanya di Indonesia ,  di negara lain juga sama. “ Enggga penting amat dunia, yang penting akhirat.” Selesai sampai disitu. Artinya ketika kita memaklumi dan akhirnya menjadi hal permisif, kita bagian dari kesalahan itu. Dosa satu orang menjadi dosa kolektif. Peradaban akan terus mundur.


Lantas bagaimana seharusnya?. Apa yang terjadi pada diri kita sekarang itu adalah proses panjang dari sikap dan perbuatan kita di masa lalu. Kalau kita mencari rezeki mudah, beribadah damai, itu sudah cukup. Normatif. Soal kaya atau miksin itu relatif. Tetapi kalau kita saja yang mudah cari rezeki, sementara ada orang lain yang untuk makan sehari saja sulit, bayar kontrakan bingung, bayar cicilan hutang tersesak nafas dikejar debt collector, maka hanya masalah waktu kitapun akan merasakan hal yang sama. Tidak ada ketimpangan berjalan bebas, akan ada koreksi untuk mencapai keseimbangan.  Kalau terjadi, terjadilan…itu hukum alam, karma kehidupan. Makanya perlu saling nasehat menasehati  atas dasar nurani, bahwa kebenaran itu harus diperjuangkan agar keadilan menang. Hanya dengan itu kita terhindar dari dosa kolektif dan meninggalkan legacy yang terbaik bagi masa depan.


Friday, September 10, 2021

Mindset positif.

 





Waktu masih kecil setiap usai berkelahi dengan orang, papa saya marah dan kawatir. Karena saya babak belur. Kadang terluka. Padahal dia tahu saya bukan anak yang nakal dan mengundang berkelahi. Yang dia tahu saya tidak ada rasa takut dan tidak tega terhadap orang lain.  


“ Kalau kamu diganggu orang, cepatlah menghindar. Bila perlu berlari dari mereka” Kata Papa saya.  

“ Kalau saya lari nanti dia tersinggung. “ Kata saya.

“ Ya udah. Kalau dia pukul kamu, larilah segera.”

“ Bagaimana mau lari. Dia pegangi dan terus pukul”

“ Balas!. Lawan! Kamu itu laki laki. Jadilah petarung. “

“ Nanti dia sakit kalau aku balas. “

“ Jadi kamu sendiri engga sakit dipukul ?

“ Ya karena aku sakit, aku engga mau dia juga sakit.”


Anda  bisa bayangkan bagaimana suasana batin papa saya mendengar itu. Marah dan kawatir sekaligus menyatu. Akhirnya, masuk SMP, papa saya masukan saya latihan karate. Saya senang latihan karate. Kebetulan simpainya sangat bijak. “ Saya tidak malatih kalian memukul untuk  menghabisi lawan. Tetapi menghentikan niat buruknya terhadap kalian. “ Katanya. Saya terinspirasi latihan bela diri bukan karena ingin jagoan, tetapi ingin agar orang tidak mudah berniat buruk terhadap saya. Benarlah sejak itu jarang sekali orang mengganggu saya. Dan kalau diganggu saya cepat melumpuhkannya tanpa membuat dia dan saya babak belur.


Setelah dewasa, saya merantau ke Jakarta. Papa saya masih mengkawatirkan akan sikap saya yang menurutnya “lemah”. Saya tanya kepada ibu saya “ Apakah aku salah kalau tidak bisa berbohong, mengalah, memaafkan, mudah percaya kepada orang lain?


“ Tidak salah. Jaga terus itu. Apapun yang terjadi, pertahankan itu. Sabar ajalah” Kata ibu saya menasehati saya. “ Tapi itu sifat lemah. Bagaimana laki laki bisa bertahan hidup  kalau dia lemah. “Kata papa saya.


Saya menikah dengan ponakan papa saya. Hubungan keluarga papa saya dengan mertua perempuan adalah sepupu garis ibu. Itupun dengan alasan agar istri saya bisa menjaga saya dari sifat “ lemah ” itu. Awalnya saya sulit untuk bisa nyaman. Karena apapun sikap saya selalu disalahkan istri.  Saya pulang malam habis ajak client ke karaoke. istri tanya. “ darimana ? 

“ Dari karaoke temanin clients minum.”

“ Ada perempuannya “

“ Ada.”

“ Kamu sentuh dia ?

“ Engga. Dia sentuh saya.”Kata saya. Istri marah besar. Papa saya nasehat ini, kamu harus bisa berbohong dihadapan istri. Menjaga perasaannya itu juga kebaikan. Mertua saya juga nasehati yang sama. Tetapi saya bingung. Masalahnya apa?  saya hanya temanin clients minum dan itu cara saya mem bujuk clients. Sejak itu kalau saya pulang malam, istri engga pernah tanya lagi darimana saya. Karena setiap dia tanya, saya jawab apa adanya. Dia marah. Dan saya tidak pernah membalas marah itu. Saya terima saja. Karena tidak tega marah kepada istri.


Dalam bisnis tiga kali saya bangkrut karena disingkirkan mitra saya dengan cara paksa. “ Bagi saya orang selalu ada alasan mengapa sampai singkirkan saya.  Belum tentu dia salah. Bisa saja memang saya yang salah. “ Kata saya. Karena itu istri saya marah  besar. “ Aneh selalu merasa salah dan merasa patut minta maaf. Papa tidak pernah ragu memberi kalau teman minta tolong. Tidak pernah kapok dibohongi orang. Mudah memaafkan semua itu, seperti tidak pernah terjadi apapun. Dan tidak melawan ketika orang menzolimi, bahkan dihujat didepan papa, papa diam saja. Itu bego namanya.” Kata istri.


Tahun 2004 saya hijrah ke China untuk bisnis. Itupun karena 15 tahun bisnis saya tidak pernah berhasil dalam arti sebenarnya. Selalu jatuh bangun. Di China, sifat yang dianggap lemah itu justru memudahkan saya cari uang. Mudah dapat kepercayaan. Mudah dapatkan mitra yang saling menjaga. Awal merintis, saya ajak pabrikan di china pameran dagang di Eropa dan mereka mau saja produksinya dilabelin merek perusahaan saya. Dan setiap ada order, saya bisa lakukan dengan mudah cross settlement lewat LC transferable. Tidak pernah mereka  potong langsung saya atau deal langsung dengan pelanggan saya.  Saya jujur dan mereka lebih jujur.  Dan terus berkembang di tenga  lingkungan seperti itu.


Menjadi baik itu tidak mudah. Karena tanpa dukungan lingkungan yang baik,  sulit anda jadi orang baik. Kita makhluk sosial, yang tidak bisa menghindar dari lingkungan pergaulan kita. Kalau lingkungan kita doyan bisnis rente, korup,  culas, mau enak sendiri,   sombong , doyan berghibah, tidak menghormati komitmen berkeluarga, ya lambat laun kita juga akan terpengaruh. Ya,  Jangan salah gaul dan bersabarlah dengan mindset positip. Karena itulah kekuatan sejati anda.

Wednesday, September 08, 2021

Bahagia..

 



“ Ah mereka kaya belum tentu bahagia.” Kata seseorang yang  meliat mobil mewah berhenti depan lobi mall. Itu saya dengar dan saya tersenyur. Memang bahagia itu tidak ditentukan oleh kemewahan harta. Tetapi oleh hati. Namun tidak banyak orang yang bisa bahagia dengan tampa harta. Itu juga manusiawi.  Tentu tidak banyak juga orang bahagia karena harta. Maklum apapun butuh ongkos dan kompetisi. Jadi bahagia itu relatif dan setiap orang kadarnya berbeda, dan tidak ditentukan oleh harta.


***


Saya jalan kaki dari Pecenongan ke masjid istiqlal untuk sholat ashar. Di trotor saya meliat dua orang sedang makan nasi bungkus. Satu bungkus dimakan berdua. Saya perhatikan. Mereka tersenyum menatap saya. “ Makan pak.”Kata mereka. Saya mengangguk. 


“ Itu ada restoran padang. Gimana kalau kita makan disana saja. Kalian ikut saya.”


“ Engga usah pak. Ini aja sudah kenyang. “ 


“ Kalau saya belikan nasi bungkus lagi mau ?


“ Terimakasih pak. Lumayan untuk teman saya.”


“ Siapa teman kamu ?


“ Noh..” Dia menunjuk pria yang sedang duduk agak jauh dari mereka. 


“ Mengapa engga diajak makan bareng?


“ Dia sebenarnya kaya di kampung. Tapi dia jadi pengemis di dekat masjid cari uang”


Saya dekati pria itu. Saya beri uang dengan mengenggamkan uang ditangannya. Jadi tidak nampak oleh kedua temannya yang agak jauh. Dia mengucapkan terimakasih dengan wajah ceria. 


Saya kembali kepada dua orang yang sedang makan. “ Itu teman kamu dekat ?


“ Engga, Kenal disini aja.” Katanya dengan menghapus keringat dikeningnya. Lahap sekali dia makan. Padahal menunya hanya tempe dan sayur. Saya keluarkan uang di dompet. “ Ini uang untuk kamu. “ Kata saya.


“ Wah banyak sekali. “ dia menghitung lembaran 50.000. 


“ Apa rencana kamu dengan uang itu” tanya saya.


Dia melirik ke temannya. “ Nih bagi dua. “ Katanya. “ Sisanya untuk bayar bon makan di warung. Dapat uang dari pemulung semakin sulit sekarang. “ Katanya ringan. Saya melangkah menjauh dari mereka. 


Dari pengalaman diatas, saya dapatkan hikmah. Dua kelompok yang berada pada lapisan bawah. Satu punya semangat hidup dan harga diri dengan cara tampa mengemis dan ketika mendapat,dia berbagi. Satu lagi hidup dari mengemis dan ketika mendapat malas berbagi. Saya menduga dua orang yang hidup sebagai pemelung tidak sulit bagi mereka untuk bahagia dengan cara sederhana. Karena mereka tidak tergantung kepada manusia tetapi kepada dirinya sendiri. Sementara yang hidup dari mengemis, jelas sulit untuk bahagi karena hidupnya tergantung kepada belas kasihan orang.

Dalam hidup ini, passion atas apapun yang bernilai itu karena skill  dan kapasitas anda sendiri. Kalau karena itu uang datang, itu akan menjadi puncak kebahagiaan, dan anda tidak akan ragu untuk berbagi. Dan tidak akan kawatir apapun akan di PHK, bisnis lesu, atau apalah. Dalam hati yang lapang dan bahagia, selalu ada solusi.

Friday, September 03, 2021

Persepsi dan konsepsi agama

 





Saya menaruh hormat dengan teman. Apa pasal?.  Dia orang baik. Sebagai pengusaha, semua karyawan mencintai dia. Semua nama karyawan dia hapal.  Dia suami yang baik. Tidak selingkuh. Sebagai sahabat dia sangat peduli dengan teman. Suka menolong. Tidak pernah punya masalah dengan siapapun. Tidak pernah terdengar kata katanya yang menyinggung. Lebih banyak senyum kalau berbeda pendapat. Rajin bayar pajak dan jujur. Suka berderma. Walau dia pengusaha, namun sangat egaliter.   Krismon 1999,  dia bangkrut. Semua sahabat menjauh dari dia. Istri minta cerai. Anak pergi ikut mamanya. Dia tidak mengeluh. Setelah dia bangkit lagi, dia terima kembali istri dan anak anaknya. Tapi dia tidak punya agama. Saya katakan tidak ada agama, karena dia tidak pernah melaksanakan ritual agama.  Mungkin bisa juga dia tidak mengerti agama. Entahlah. Tapi apakah saya harus mengajarkannya tentang agama? Kalau tidak mau, apakah rasa hormat saya berkurang? tidak. Dia tetaplah inspirasi saya. 


Saya bersyukur karena terlahir dari ibu seorang ulama dan pengajar. Apakah perlu agama untuk memahami persepsi tentang Tuhan? Tanya saya kepada ibu saya. Dalam diri manusia sebenarnya sudah ada Blue print ilahiah (  Al-A'raf ayat 172). Konsepsi islam adalah rahmatan lilalamin. Jadi antara persepsi dan konsepsi sejalan. Kata ibu saya. Persepsi tentang Tuhan adalah cinta dan kasih sayang. Itu diaktualkan dengan sempurna oleh kedua orang tua kita. Dan kemudian kelak kita juga aktualkan kepada anak anak kita. Tanpa cinta tidak mungkin kehidupan dimaknai. Tidak mungkin peradaban tercipta.  Namun untuk mengingatkan manusia, perlu konsepsi atas persepsi tentang Tuhan itu. Maka lahirlah agama.  


Jadi kalau mau dianalogikan sederhana. Persepsi itu adalah air, sementara konsepsi adalah cangkir.  Apapun model cangkir, toh isinya tetaplah air. Kualitas air tidak ditentukan oleh model cangkir.  Apapun agama, persepsi tentang Tuhan sama. Bahkan orang yang tidak beragamapun persepsinya sama. Apa itu ? Cinta? Nabi Muhammad dilempar batu oleh kaumnya tetapi beliau memilih mendoakan mereka agar Tuhan bukakan hidayah. Isha ( yesus )  digiring dalam keadaan tersalip, dia memilih berdoa agar Tuhan mengampuni umatnya. Itulah bertemunya persepsi dengan konsepsi.


Mengapa akhirnya belakangan agama berbeda, sekte berbeda, namun berbeda pula sikap? Itu karena persepsi tentang Tuhan berbeda dengan agama sebagai konsepsi. Akibatnya agama sebagai konsepsi  bagi pendosa itu menakutkan. Lebih banyak berisi tentang Tuhan penghukum, pemberi kutukan, bengis. Definisi dosa disematkan dalam konsepsi.  Daftar dosa dicoding. Sementara, orang Sholeh masuk sorga. Amalan dan nikmat sorga dicoding. agama jadi bursa saham.


Apa yang terjadi ? Agama melahirkan komunitas feodalisme, patron dan kekuasaan. Karena itu agama juga adalah simbol masjid yang megah. Gereja yang mentereng.  Pagoda yang mewah. Candi yang gigantik. Sementara kebencian kepada yang berbeda dan amarah yang tak sudah kepada yang dianggap kafir dan sesat terus dikumandangkan atas nama agama. Itu bukan lagi agama sebagai konsepsi. Mengapa ? Andaikan seperti itu agama sebagai konsepsi, mengapa Nabi Muhammad  tidak berdoa kepada Tuhan agar umat yang melemparnya dengan batu dihukum Tuhan dengan bencana?. Mengapa nabi isha ( yesus )  tidak berdoa kepada Tuhan agar mereka yang menyalipnya dikenakan bencana ? Mengapa? Persepsi Nabi tentang Tuhan adalah cinta dan kasih sayang. Tidak mungkin dia  provokasi Tuhan agar menghukum manusia hanya karena tidak suka dengan dia.  

Ya saya bersyukur saya belajar memahami persepsi tentang Tuhan dari ibu saya yang bening seperti kristal. Sehingga tahu arti mencintai. Tentu tahu persepsi tentang Tuhan yang sebenarnya. Apapun provokasi dalam pergaulan di luar rumah, tidak pernah mengubah persepsi saya tentang Tuhan. Beragamapun jadi damai. Tanpa ada sikap paranoid terhadap mereka yang berbeda, bahkan  kepada mereka tak beragama sekalipun. Kalau bertemu orang baik, sudah cukup bagi saya. Tidak perlu saya tanya apa agamanya.  Saya utamakan air daripada cangkir.

Wednesday, September 01, 2021

Semua biasa saja..






Saya melakukan business trip ke Kazakhstan pada musim dingin. Tujuan saya adalah Astana ibukota Kazakhstan ( sekarang ibukota berganti nama Nursultan). Di Bandara Almaty International Airport saya dijemput oleh Samal.  Wanita canik berambut panjang. Mata bulat. Dia kontak saya di Astana dalam bisnis oil dan gas. Kali pertama mengenalnya di Hong Kong. Usianya belum 40 tapi penampilannya mature.  Postur tubuhnya lebih tinggi dari saya. Setelah sibuk seharian meeting , malamnya saya undang  Samal untuk makan malam di Ritz Carlton Astana. Karena keesokan paginya saya harus kembali ke Beijing


Ada yang menarik dalam pembicaraan dengan dia waktu dinner. Uni Soviet memang memberikan jaminan sosial yang luas namun kodrat kita sebagai manusia tidak dihormati. Orang memang tidak ada terlalu miskin tapi kaya jelas tidak mungkin kecuali kamerad partai. Setelah Uni Soviet runtuh dan kami bisa memerdekakan diri, kami harus mau berubah. Memang tidak mudah. Yang sulit berubah itu adalah para elite politik yang masih terbiasa dengan gaya komunis. Sementara  bagi rakyat, kebebasan itu lebih dari segala galanya.


Di era demokrasi tidak seharusnya ada keluhan. Nasip setiap orang ditentukan oleh dirinya sendiri. Negara memberikan peluang bagi siapa saja yang cerdas. Kalau yang boleh kaya hanya orang pintar , tentu dosen lebih dulu kaya. Tetapi kan tidak. Kalau kaya itu identik dengan kerja keras, tentu buruh dan petani lebih banyak yang kaya. Nyatanya tidak.  Kalau kaya itu karena paham luas ilmu agama, tentu ulama lebih dulu kaya. Nyatanya tidak. Jadi kaya dan sukses itu bukan karena pintar, kerja keras, atau paham agama, tetapi kerja cerdas. 


Menjadi cerdas, adalah menjadi diri sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Kita bekerja sebagai profesional bukan karena kita tergantung kepada pemberi kerja tetapi karena mereka butuh skill kita. Kalau kita jadi  ASN bukan karena kita numpang makan kepada uang pajak rakyat, tetapi karena dedikasi kita diperlukan negara. Kita jadi pengusaha dan berusaha membujuk konsumen, bukan karena kita tergantung kepada mereka, tetapi karena kita tahu mereka butuh kita untuk dapatkan barang bagus. Kita hormati pemodal karena kita tahu bisnis yang kita tawarkan menguntungkan. Artinya keraslah kepada diri sendiri dan tempa diri kita agar diperlukan orang lain. 


Kalau kita tidak merasa diperlukan dan tetap berharap, maka itu kembali ke era komunis yang semua tergantung kepada negara. Dalam era demokrasi wahana kompetisi tidak bisa dihindari. Semua orang dan semua profesi termasuk politisi harus melewati kompetisi. Dalam prosesnya semua orang harus survival. Apakah karena itu ada yang merasa dirugikan dan kecewa, itu biasa saja. Kecewa dan kawatir adalah sikap pecundang. Selalu ada alasan untuk menyalahkan dan dikeluhkan. Apakah itu akan mengubah keadaan? tentu tidak. Sementara kehidupan terus berjalan. Kalau kita larut dalam keluhan maka kita akan jadi korban kompetisi. tidak ada yang akan peduli. 


Tentu kita tidak berhak mengahakimi siapapun selagi hukum dan konsesus tidak dilanggar.  Pada akhirnya semua orang menjalani takdirnya masing masing. Baik dan buruk , susah dan senang, sakit dan sehat selalu bersanding. Semua orang akan merasakan kedua hal itu, tanpa peduli siapa dia. Biasa saja.Kata Samal dengan tersenyum


“ Terimakasih udah undang saya makan malam yang mewah ini. Entah kapan lagi saya bisa nikmati. Saya akan kerja keras dan tentu cerdas seperti anda. “ Katanya melangkah keluar dari Selfie Restaurant. Malam semakin larut. Diluar tentu cuaca dingin menggit.

Persahabatan …?

  Sejak  minggu lalu, sejak saya membuat keputusan perubahan susunan Komisaris perusahaan, setiap hari email datang dari Yuni dengan nada pr...