Sunday, November 22, 2020

Politik Baliho dan TNI terlibat.

 



Jauh sebelum MRS datang dari Makkah, baliho tentang dirinya sudah ada. Di tempatkan hampir di semua sudut kota. Bahkan di kawasan perumahan, baliho itu hanya sejengkal dari pos Polisi. Semua diam. Padahal semua tahu. Jangankan pasang baliho besar,  reklame nempel di gedung atau ruko punya sendiri saja, tak lama sudah ada petugas Pemda menanyakan izin reklame. Kalau tidak ada izin, reklame itu harus diturunkan. Mengapa ? karena reklame, billboard, baliho itu salah satu sumber PAD pemda. Tetapi anehnya khusus untuk baliho MRS, Pemda tidak punya nyali bersikap tegas. Kalau diturunkan oleh satpol PP, tak lama akan dipasang lagi oleh FPI. 


Sepertinya FPI/ MRS mempermainkan kekuasaan Pemda. Suatu pembangkangan sipil terjadi di depan aparat dan secara vulgar disaksikan oleh rekyat : betapa pemerintah kalah oleh Ormas. Saya tidak yakin FPI punya kekuatan begitu besar tanpa ada dukungan  politik real. Siapa itu? ya Partai. Setelah mereka desain, MRS dipulangkan ke tanah air. Mereka diam nonton apa yang akan terjadi kemudian. Tentu berharap sesuai dengan desain. Dalam waktu singkat, gerakan MRS akan jadi gelombang besar melanda semua kota. Namun yang tidak pernah mereka perhitungkan sama sekali adalah sikap TNI yang cepat sekali berbalik ke arah Jokowi. Makanya mereka terkejut ketika TNI masuk arena politik. Ya, TNI terlibat dalam menghadapi fenomena MRS / FPI. Sikap TNI tegas demi UU dan konsitusi. Dalam politik,  bila presiden didukung militer maka dialah yang lead politik real.


Perhatikan sikap partai berikut ini. Yang jelas mendukung MRS dan menolak keterlibatan TNI adalah PKS,  Gerindra, Nasdem, PPP, PKB.  PKS berkomentar “Reformasi menempatkan TNI sebagai kekuatan pertahanan untuk menjaga kedaulatan wilayah NKRI. Tugas utamanya perang melawan musuh negara yang mengancam kedaulatan, kelompok sparatis, dan kekuatan asing yang mengancam. Sehingga mohon jangan sampai sikap, kata, dan tindakannya terjebak politik praktis menyangkut dinamika politik di dalam masyarakat,  Nasdem “ Aspek keamanan lingkungan itu domain aparat keamanan, bukan pertahanan. Urusan kriminal, itu urusan polisi. Soal baliho, itu urusan Satpol PP. Jadi mestinya, dalam hal ini, Satpol PP yang melakukan itu. Gerindra “ Rakyat Indonesia mencintai TNI. Kami tidak rela muruwah TNI turun karena urusan baliho. Urusan baliho itu urusan Satpol PP. Kalaupun ada pelanggaran hukum, itu urusan kepolisian, bukan TNI. TNI adalah tentara rakyat. Mari bersama kita jaga NKRI untuk tetap Jaya” 


Nah yang mendukung sikap TNI adalah Golkar, PDIP.  Golkar berkomentar “ Apa yang diutarakan Pangdam Jaya sudah sesuai dengan aturan UU yang berlaku. Mereka tuh melanjutkan apa yang Panglima TNI ucapkan sebelumnya. Jadi ini sudah searah, dan juga ini menegakkan aturan UU. Jadi tidak ada yang dilanggar, justru ini menegakkan.” Sementara PDIP “ mendukung langkah TNI yang mencopot baliho Habib Rizieq Syihab. Dia menilai, TNI harus turun tangan ketika ada ancaman terhadap negara.”


Sementara PD bersikap dengan nada menyidir kepada pemerintah “  Kerterlibatan TNI itu menandakan bahwa negara sudah tidak mampu memainkan perannya sehingga harus menurunkan TNI untuk mencopoti spanduk Habib Rizieq" Apa yang menjadi sikap PD senada dengan Jusuf Kalla “ Kenapa ratusan ribu orang itu, kenapa dia tidak percayai DPR untuk berbicara? Kenapa tidak dipercaya partai-partai khususnya partai Islam? Untuk mewakili masyarakat itu. “ 


Dari politik Baliho ini kita dapat cermati untuk mengetahui peta politik terkini. 


Pertama, bahwa fenomena MRS tidak datang dengan sendirinya. Ini by design. Engga mungkin dilakukan oleh FPI sendiri, tanpa bantuan mesin partai dan logistik kuat ( pengusaha rente). Mudah ditebak siapa di balik itu semua. Bisa  dilihat dari sikap mereka terhadap keterlibatan TNI menurunkan Baliho itu. Proses dan dinamika politik yang terjadi tidak bisa lepas dari operasi intelijen yang rumit. Sehingga ada yang kena trap dan keselek bakiak. Ada yang tersenyum menikmati semua itu.


Kedua, yang menarik adalah sikap JK yang dengan cepat menyimpulkan  bahwa kekuatan formal politik tidak capable dalam sistem demokrasi sehingga terjadinya fenomena MRS. Artinya rakyat tidak percaya lagi dengan kekuatan formal.  Rakyat butuh alternatif yang mereka percaya. Ini sinyal kepada partai beraliran islam bahwa dia punya posisi tawar untuk menentukan kontestan capres/cawapres 2024. Menurut saya kesimpulan JK terlalu prematur. Dia harusnya tahu bahwa jumlah massa MRS tidak mencerminkan seluruh rakyat Indonesia. Kekuatan real partai itu ada di akar rumput, dan itu tidak perlu gebyar bawa massa. Itu akan dibuktikan dalam Pemilu.


Ketiga, keterlibatan TNI dan Polri dalam menyelesaikan fenomena MRS adalah politik negara. Presiden sebagai kepala Negara bersikap pada momen tepat, yaitu membela konstitusi, NKRI, Pancasila dan UUD 45. Namun tidak dilakukan secara formal melalui Kepres tetapi melalui orang yang loyal kepada presiden. Dan mereka seperti POLRI dan TNI dasarnya adalah UU. 

Keempat. Dengan adanya fenomena MRS ini, proses rekonsiliasi diantara elite dapat berlangsung dengan tanpa ada bargain apapun. Semua berpatokan kepada konstitusi dan UU. Tidak ada lagi politik identitas. Yang ada pancasila. Tugas TNI dan Polri selanjutnya  adalah membersihkan segala bentuk gerakan radikalisme politik identitas. Yang jelas mimpi Anies jadi presiden pupus sudah. Indonesia akan baik baik saja. Siapapun nanti tahun 2024 yang jadi presiden, engga penting lagi. Karena dia menang bukan karena politik identitas tetapi Pancasila.


***

Catatan

FPI di tengah gelombang reformasi.


Setelah Soeharto jatuh, yang dikawatirkan oleh TNI adalah dinamika politik yang dipicu oleh mahasiswa pro demokrasi bisa menggiring Umat islam masuk dalam arena. Ini bisa menimbulkan Chaos. Maklum dendam umat islam kepada Soeharto itu beralasan sekali.  Tragedi Tanjung Priok yang menelan korban ulama dan rakyat tidak sedikit. Belum lagi kasus lainnya. Itu tidak mudah hilang dari ingatan. Itu bisa tersulut menjadi api besar bila tidak segera diantisipasi. Tahun 1998 bulan agustus atau 4 bulan setelah Soeharto lengser, FPI didirikan.


Riset yang dilakukan Institut Studi Arus Informasi (ISAI) dalam buku Premanisme Politik (2000) mengungkapkan pembentukan FPI tak dapat dilepaskan dari tiga peristiwa: Kerusuhan Ketapang, Sidang Istimewa MPR, dan pembentukan organ paramiliter Pengamanan (Pam) Swakarsa. Ketiga peristiwa ini merupakan lanjutan gelombang demonstrasi Reformasi 1998 yang bergulir sejak Mei 1998. 


Kerusuhan Ketapang (November 1998)  adalah pertikaian antara Etnis Ambon ( kristen ) dan Betawi (Islam). Bayangkan, kalau kerusuhan terjadi di ibukota. Itu dampaknya luas sekali. Akan menyulut bentrokan horizontal berskala nasional dan meluas menjadi kerusuhan agama. Nah, saat itu TNI menggunakan FPI untuk menjadi pendamai.  Berhasil. Karena itu nama Rizieq Shihab menjadi fenomena. Dia memang punya kharisma di hadapan muslim betawi. Saat itulah dia dianggap aset bagi TNI.


Menjelang Sidang Istimewa 10-13 November 1998 yang melantik B.J Habibie sebagai presiden; lagi lagi TNI gunakan FPI agar massa umat islam lainnya tidak masuk arena yang bisa memanaskan politik.  Tahun 1999 Sidang Umum MPR, FPI juga dimanfaatkan oleh TNI. Dalam rangka pembendung  demonstrasi mahasiswa yang menolak RUU Penanggulangan Keadaan Bahaya, FPI juga dimanfaatkan. Saat itu, FPI masih bernaung dalam Pam Swakarsa, sebuah organ paramiliter yang dibentuk militer untuk membendung aksi demonstrasi mahasiswa.


Bukan rahasia umum bila  FPI dinilai dekat dengan orang-orang di sekitar Soeharto, khususnya Prabowo Subianto. Setelah Prabowo diberhentikan dari TNI terkait penculikan aktivis, FPI mengalihkan dukungannya kepada Jenderal Wiranto. Dukungan FPI terhadap Wiranto terlihat dalam aksi ratusan milisi FPI ketika menyatroni kantor Komnas HAM untuk memprotes pemeriksaan terhadap Jenderal Wiranto dalam kasus Mei 1998.


Yang jadi masalah adalah FPI punya agenda menjadikan Habibie terpilih lagi dalam pemilu 1999. Namun Golkar kalah. PDIP menang. Lebih kecewa lagi ketika itu Golkar dikuasai oleh HMI. Menolak pertanggungan jawab Habibie. Sehingga peluang bertarung dalam sidang umum MPR gagal. Yang terpilih adalah Gus Dur. Kembali TNI manfaatkan FPI di era Gus Dur. Tahun 2004. FPI ada digaris depan mendukung Wiranto sebagai Capres Golkar dan mendiskriditkan SBY dalam konvensi Golkar. SBY keluar dari Golkar dan buat partai Demoktrat. Pemilu 2004 SBY menang. Wiranto kalah. Setelah itu bisa ditebak. FPI oposan terhadap SBY.


Selama era SBY, Wiranto dan keluarga cendana serta Prabowo dekat sekali dengan FPI. SBY hadapi FPI dengan memberikan kesempatan berkembang ormas islam lain yang dianggap militan, seperti Majelis Rasulullah, HTI dan FUI. Sehingga ada penyeimbang. 2014 FPI ada di kubu Prabowo berhadapan dengan Jokowi. Prabowo kalah. Jokowi menang. Wiranto masuk dalam kabinet Jokowi. Tentu FPI kecewa walau terpaksa harus menerima. Tahun 2016, FPI menjadi motor menjatuhkan Ahok dengan target akhir menjatuhkan Jokowi. Setelah Aksi 411 dan kemudian 212, pamor Wiranto semakin menurun. FPI pun ikut kena imbas. Namun hubungan dengan Prabowo  semakin mesra, begitu juga dengan keluarga Soeharto. 


Tahun 2017 MRS terpaksa menjauh dari arena politik. Namun tidak mengurangi dukungannya kepada Prabowo. Pemilu 2019, FPI ada di belakang Prabowo. Berharap Prabowo menang. Ternyata kalah. Dan lebih menyedihkan lagi adalah Prabowo justru bergabung dengan Jokowi dalam kabinet. Selama di makkah, ada yang tidak disadari oleh MRS yaitu, Jokowi berhasil melakukan konsolidasi TNI agar TNI focus menjadi prajurit profesional. FPI engga lagi asset bagi TNI. Mengapa ? Engga lagi jadi good boy TNI. Apalagi FPI sudah masuk dalam putaran politik kanan. Ya hukum alam berlaku. Kau ( TNI) yang memulai, kau ( TNI) yang mengakhiri (FPI).

Thursday, November 19, 2020

Khilafah bukan solusi...

 



Pendahuluan.

Nabi Muhammad punya tiga putra. Dua dari istri pertamanya, khadijah. Satu dari Istri, Mariah Qibtiyah. Tetapi takdir bagi ketiga putra Rasul itu tidak berumur panjang. Dua putra dari istrinya Khadijah yaitu Abul Qasim, meninggal dalam usia dua tahun. Abdullah, meninggal dunia setelah lahir beberapa hari. Sementara dari istrinya Mariah Qibtiyah, putranya bernama Ibrahim meninggal dalam usia 16 bulan. Seandainya ketika Nabi Muhammad wafat punya putra yang ditinggalkannya , sejarah khilafah 4 mungkin tidak akan pernah ada. Artinya, dengan tidak adanya putra nabi penerusnya maka sumber fitnah dikemudan hari terhadap Islam tidak terjadi. Tidak akan ada orang mendewakan keturunanya dan bahkan mengangkatnya sebagai nabi atau imam besar. 


Mengapa ?


Secara budaya Arab atau penganut adat patriakat, garis keturunan itu ada pada pria, bukan wanita. Hasil penelitian Genetika diabad modern sekarang, memang membuktikan bahwa meski anak mewarisi DNA dari ayah dan ibu, namun GEN  ayah lebih dominan. Itu sudah dibuktikan dalam riset Genetika yang dilakukan oleh team  University of North Carolina’s School of Medicine. Bahkan penelitian yang dilakukan Corry Gellatly dari Newcastle University, ternyata Sperma laki-laki menentukan jenis kelamin bayi. Jadi kalau boleh disimpulkan prialah pembawa dan penentu faktor keturunan.  


Lantas mengapa ada orang mengatakan dia keturunan Nabi Muhammad, bahkan meng claim mereka sebagai cucu Nabi? Fakta sejarah yang ada adalah Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein, yang adalah keturunan Sayyidah Fathimah Azzahra yang merupakan putri Nabi yang bersuamikan Ali Bin Abi Thalib. Nah ini disebut dengan keturunan jalur Nasab. Padahal jalur Nasab ini secara genetik bukanlah keturunan Nabi tetapi Ali Bin Abi Thalib.  


Tapi ada juga yang tidak ada kaitanya dengan Fatimah namun mereka dianggap sebagai pewaris Nabi. Siapa mereka itu? ya para ulama besar, yang selain alim juga mengamalkan ilmunya. Ini disebut dengan jalur sebab. Argumen bahwa para ulama itu sebagai pewaris Nabi ada banyak hadith dan Al Quran yang menerangkan itu. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa dianggap Habib dengan cara mengikuti jejak perilaku Nabi khususnya akhlak beliau, seperti jujur, berprasangka baik, tidak melakukan perbuatan maksiat, tidak membukan aib orang lain dan tidak mencampuri urusan orang lain, hospitality atau ramah, mengerjakan amar ma’ruf nahi munkar tetapi dengan cara yang ma’ruf. Kalau tidak, dia bukan siapa siapa. 


Nabi memang sang messenger atas lahirnya Islam, yang kemudian hari melahirkan dinasti besar di bawah panji Islam. Namun tidak ada hubungannya dengan keluarga Nabi. Keagungan Rasul dan Islam tidak ternoda dengan drama politik kekuasaan yang membawa Panji Islam. Bagaimanapun itu bukan islam. Itu tetaplah politik yang bisa saja menghalalkan segala cara.  Dalam sejarah Islam, cucu Nabi bernama Hasan meninggal karena diracun oleh lawan politiknya. Adiknya Hasein meninggal di Padang Karbala oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Bahkan menantu Nabi Ali Bin Abi Thalib , ayah dari Husein dan Hasan meninggal karena dibunuh  Abdurrahman bin Muljam, seorang kaum Khawarij, ketika ia sedang wudu untuk menunaikan salat Subuh.  Yang membunuh keluarga Nabi juga orang islam. Yang menginginkan kekuasaan atas nama Islam. Tapi itulah politik.


Kekhalifahan Umayyah.

Sejak kekhalifahah Ali bin Abi Thalib, situasi politik memanas. Terutama datang dari keluarga sahabat Nabi dari Bani Umayyah yang juga berambisi menjadi khalifah. Dalam catatan Al-Hamid Al-Husaini ( Dalam buku, Al-Husein bin Ali, Pahlawan Besar dan Kehidupan Islam pada Zamannya-1978), kebencian Muawiyah terhadap Ali bin Abi Thalib dilatari tiga hal: Pertama, fanatisme kekabilahan yang secara turun-temurun menanamkan kebencian dan permusuhan terhadap orang-orang Bani Hasyim (Ali bin Abi Thalib keturunan Bani Hasyim). Kedua, karena Muawiyah tahu bahwa dalam peperangan masa lalu antara kaum Musyirikin Quraisy dan kaum Muslimin, banyak keluarga dan kerabatnya yang tewas di ujung pedang Ali bin Abi Thalib. Ketiga, Muawiyah mengenal tabiat Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat Nabi yang keras membela kebenaran dan keadilan serta berani bertindak tegas terhadap kebatilan dan kezaliman. Saat itu Muawiyah berkedudukan sebagai gubernur di Syam atau Suriah.  Pada subuh Ali sedang sholat, datanglah Abdurrahman bin Muljam, seorang kaum Khawarij membunuh Ali Bin Abi Thalib.  Sebelum Ali minggal dia tidak mengamanahkan kekuasaan kepada siapa. Jadi tidak ada suksesi yang dia tentukan. 


Namun kaum Muslimin di Kufah sebagai pusat pemerintahan Islam membaiat Hasan bin Ali atau putra dari Ali bin Abi Abi Thalib.  Hasan awalnya menolak baiat itu. Namu karena didesak rakya kuffah, akhirya dengan berat hati dia menerima juga. Selama dua bulan kekuasaannya dia tidak berbuat apa apa.  Bahkan ancaman dari Muawiyah bin Abu Sufyan tidak ditanggapi serius olehnya. Hasan justru mengirim surat kepada Muawiyah untuk rekonsiliasi. Namun ditolak oleh Muawiyyah. 


Dalam surat balasannya Muawiyyah  yakin jika ia lebih sanggup menjadi khalifah daripada Hasan karena lebih tua dan berpengalaman. Ia bahkan menyuruh Hasan untuk mendukung dirinya sebagai khalifah. Tidak sampai disitu saja. Muawiyah juga menyatakan berontak kepada Hasan. Ia  membawa pasukannya yang besar dari Syam menuju Kufah untuk menggulingkan Hasan. Hal ini dihadapi oleh Hasan dengan menyiapkan pasukannya. Namun prajurit dan penduduk Kufah tidak siap untuk bertempur. Bahkan panglima perang khalifah yaitu Ubaidillah bin Abbas berbalik mendukung pemberontak, Umayyah.


Dalam situasi tidak dapat dukungan militer dan elite politik, terpaksa khalifah mengajukan perdamaian kepada Muawiyah. Khalifah Hasan setuju menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyyah. Itu kejadian dicatat sejarah pada 40 Hijrah. Hasan cucu Nabi lebih memilih melepaskan kekuasaannya demi perdamaian. Hasan keluar dari Kufah dan kembali ke Madinah. Sejak itu berdirilah Dinasti umayyah berpusat di Damaskus.  Setelah Umayyah wafat, kekhalifahan diserahkan kepada Putranya, Yazid bin Muawiyah. Walau Hasan sudah meninggal karena diracun oleh elite khalifah, namun masih ada Husen yang juga cucu Nabi.  Yazid tidak merasa aman sebelum Husen dan seluruh putra Ali dibunuh.


Sementara penduduk Kufah merasa kecewa dengan kepemimpinan Yazid. Mereka mengharapkan perubahan, dan harapan mereka ada Husein. Mereka mengirim utusan ke Madinah agar Husen datang ke kufah  untuk mereka baiat sebagai khalifah. Husen tidak serta merta percaya kepada kehendak penduduk kufah itu. Dia mengutus Muslim bin Aqil pergi ke Kufah untuk memperoleh keterangan yang pasti tentang keadaan yang sebenarnya. Tak lama setelah tiba di Kufah, Muslim bin ‘Aqil menulis surat kepada Husein yang isinya menginformasikan bahwa penduduk Kufah telah bulat untuk membaiat Husein sebagai khalifah.


Atas surat dari Muslim itu Husen memutuskan untuk berangkat ke Kufah.  Para sahabat dan keluarganya menasihati agar ia membatalkan niatnya berangkat. Namun Husen tetap dengan pendiriannya untuk berangkat. Tentu para sahabat dan keluarganya juga ikut mendampinginya. Sementara itu situasi terkini Kufah yang tidak diketahui oleh Husen adalah pencopotan Gubernur Kufah, Nu’man bin Bisyr dan digantikan oleh Ubaidillah bin Ziyad yang terkenal kejam. Muslim bin ‘Aqil ditangkap dan dibunuh pasukan Ubaidillah bin Ziyad. 


Dalam perjalanan sebelum tiba di Kufah, Husein mengutus Qeis bin Mashar As-Saidawiy untuk masuk kufah terlebih dahulu guna mengetahui situasi terkini.  Namun nahas, Qeis bin Mashar As-Saidawiy tertangkap Ubaidillah bin Ziyad dan pasukannya, lalu ia dibunuh.  Sebelum dapat kabar kematian Qeis, Husen sudah dapat kabar kematian Muslim bin ‘Aqil. Situasi kufah tidak lagi aman bagi dia dan rombongan. Pada 2 Huharram 61 Hijriyah sampailah rombongan Husen di Karbala.  Kehadirannya disambut oleh pasukan berkuda utusan Ubaidillah bin Ziyad yang dipimpin oleh Al-Hurr bin Yazid At-Tamimiy.  Pasukan infanteri yang berkekuatan 4000 orang dengan persenjataan lengkap dikomandani  oleh putra pahlawan perang Badar yaitu Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash. Sementara rombongan Husen hanya 72 orang; ; 32 orang prajurit berkuda dan 40 orang pejalan kaki, selebihnya terdiri dari anak-anak dan perempuan.


Pada 10 Muharam 61 Hijriyah atau 10 Oktober 680 Masehi,  terjadilah pertempuran yang tidak seimbang. Tepatnya adalah pembantaian dengan kejam. Putra Ali gugur adalah Ja’far bin Ali, Abdullah bin Ali, Utsman bin Ali, Umar bin Ali, Abbas bin Ali, Muhammad al-Ashgar bin Ali. Semua pria dalam rombongan itu dipenggal kepalanya. Mereka sahid, kecuali Zainal Abidin cucu dari Ali bin Abi Thalib berusia 11 tahun. Ia putra dari Husein. Ibunya bernama Shahrbānū, adalah putri raja Yazdigird, Kisra terakhir kekaisaran Persia. Bibinya merangkul dia erat erat. Seakan berkata kepada prajurit itu. “Kalian bunuh aku dulu kalau ingin bunuh ponakanku.” Akhirnya dia dijadikan tawanan dibawa ke Kufah. Kemudian dipindahkan ke Damaskus, Syria, dipertemukan dengan Khalifah Yazid. Saat bertemu dengan Khafilah. Bibinya memohon agar dia dibiarkan bebas, apalagi dia sedang sakit keras. Akhirnya Khalifah luluh. Membebaskan dia bersama Bibinya.


Pada zamannya, pengaruh dan kharisma Sayyidina Ali Zainal Abidin sangat kuat. Sehingga seorang khalifah pun mengkhawatirkan tahtanya. Ketika menggantikan ayahnya, Abdul Malik, sebagai khalifah, Walid sempat khawatir, jangan-jangan kharisma Ali Zainal Abidin mampu menggoyang tahtanya. Padahal Ali Zainal Abidin - cicit Nabi itu tidak pernah berambisi kepada kekuasaan. Dia selalu menghindari politik. Hidupnya sangat bersahaja layak seorang sufi. Dia sangat menjunjung tinggi sifat humanis. Baginya kecintaan kepada Allah adalah mencintai makhluk ciptaan Allah, termasuk hewan sekalipun.


Ali Zainal Abidin wafat di Madinah pada 18 Muharam 95 H / 713M. Waktu memandikan jenazahnya orang baru tahu pundaknya lebam, Ternyata itu akibat kebiasaanya memanggul gandum kerumah orang miskin tanpa ada orang tahu. Konon menurut sejarah, dia meninggal diracun oleh suruhan khalifah. Jenazahnya di kebumikan dekat makam sang paman, Sayyidina Hasan. Ia meninggalkan 11 orang putra dan 4 orang putri. Setelah peristiwa Karbala, praktis secara politik kekhalifahan Umayyah sangat kuat. Namun satu hal yang dilupakan oleh Umayyah bahwa mereka yang mencintai keluarga Nabi terus bertambah jumlahnya. Secara diam diam mereka membentuk golongan apa yang disebut denga Syiah. Setelah membesar terjadilah pemberontakan internal khilafah; pemberontakan di Makkah dan Madinah. Kemudian terjadi kerusuhan di Basrah. Diikuti kebencian yang membara di Persia, yang dipicu oleh permusuhan antar golongan. Keadaan ini tentu menggerogoti Pemerintahan Umayyah.


Apa penyebabnya ? Kekhalifahan mengandalkan kesetiaan atas dasar kesukuan. Prajurit berasal suku yang setia kepada khalifah. Akibatnya suku lain terutama Persia atau non Arab merasa diperlakukan tidak adil. Pada waktu bersamaan sistem pengelolaan pemerintahan yang korup.  Pada 747 M, setelah membentuk sebuah koalisi besar kelompok-kelompok pemberontak,  Di bawah pimpinan Abu Muslim, seorang bekas budak berkebangsaan Persia, berhasil menguasai Persia selatan dan Irak. Memukul mundur pasukan Umayyah dari Kufah ke Khurasan.  Khalifah Umayyah terakhir Marwan II melarikan diri ke Mesir. Ia kemudian tertangkap dan dibunuh. Berakhirlah Dinasti Umayyah pada 750 M yang terlah berkuasa selama 89 tahun.


Kekhalifahan Abbasiah.

Yang tampil sebagai Khalifah setelah jatuhnya dinasti Umayyah adalah Bani Abas yang juga keturunan dari paman Nabi.  Dia mendirikan Dinasti Abassiah. Naiknya Bani Abas ini berkat dukungan militan dari golongan Syiah. Makanya walau Abbasiah bermahzab Sunni namun mengakomodasi kelompok Syi'ah baik yang beretnis Arab maupun Persia. Setidaknya dengan runtuhnya Dinasti Muawiyyah, dendam golongan syiah terhadap muawiyyah yang membunuh keluarga Nabi tertunaikan sudah. Keturunan Nabi dari garis Ali yang memperistri Fatimah putri Nabi mendapatkan tempat istimewa. Makam Ali bin Abi Thalib di Najd dan Makam Husein bin Ali di Karbala semakin disucikan.


Dinasti Abbasiyah mencapai puncak kejayaannya ketika dipimpin oleh Khalifah Harun Al Rasyid yang merupakan Khalifah ke-5 dari dinasti Abbasiyah. Saat itu Perdana Mentri  (Wazir) dipercayakan kepada keluarga Barmak yang beretnis Persia yang berasal dari kota Khurasan. Saat itu ilmu pengetahuan, sain dan teknologi berkembang pesat. Berbagai ilmu yang berasal dari Yunani, India, dan China dipelajari,  kemudian dikembangkan dan dimoderenisasi. Banyak sekali temuan baru muncul di era ini. Sehingga Bagdad sebagai ibukota dikenal sebagai kota pelajar, karena para mahasiswa datang dari seluruh dunia.


Saat itu Bagdad juga menjadi kota industri, karena berbagai produk unggulan dibuat di tempat ini, di samping sebagai kota bisnis yang mengundang para pedagang dari berbagai negara datang ke tempat ini untuk mengadu nasib. Masa kejayaan bani Abbasiyah dilanjutkan oleh putra Harun bernama Al Makmun yang merupakan Khalifah ke-7 dari dinasti Abbasiyah. Pada masanya didirikan Baitul Hikmah (Rumah Kebajikan) yang mengoleksi buku-buku penting yang didatangkan dari seluruh dunia, kemudian diterjemahkan kedalam Bahasa Arab untuk dipelajari publik. Pada saat itu di Barat ilmu menjadi hak esklusif elite agama maupun politik, sementara rakyat terlarang untuk mempelajarinya.


Setelah era puncak kejayaanya, secara gradual dinasti Abbasiyah terus mengalami kemerosotan. Dimulai dari masa khalifah al-Mustakfi yang menjadi khalifah pada 333H atau  944M. Apa penyebabnya ?Perebutan kekuasaan oleh elite kerajaan. Dan timbulnya permusuhan rakyat yang dikarenakan perbedaan mazhab. Konflik ini terjadi diantara pengikut mazhab Hambali dan mazhab Syafii. Akibatnya timbul perselisihan di dalam furu’ syari’at, ini menyebabkan sesat menyesatkan dan kafir mengkafirkan.  Juga terjadi pemberontakan wilayah taklukan. Sebagai catatan di era Khalifah Umar Bin Khatap banyak wilayah yang sudah menandatangi perdamaian dengan kekusaaan islam di Madinah. Namun oleh Dinasti Abassiah mereka dianeksasi untuk menjadi wilayah koloni.


Keadaan ini semakin melemahkan dinasti.Pada saat itulah serangan datang dari Dailam, salah satu daerah koloni Abassiah. Dailam berada di dekat Laut Kaspia. Daerah ini terkenal sebagai daerah perang. Salah satu kaum yang menyebabkan seringnya terjadi peperangan adalah Bani Buwaih, berasal dari kaum keturunan campuran dari bangsa Turki dan Iran. Mereka terkenal kuat, keras, dan pandai berperang.  Tidak terjadi pertempuran. Khalifah memilih jalan damai. Kekuasaan khalifah dalam hal memimpin wilayah kedaulatan Abbasiyah dilucuti. Dia hanya jadi boneka. Kekuasaan  sebenarnya adalah Ahmad ibn Buhaihi.  Dengan demikian walau secara formal khalifah Abassiah masih berkuasa namun secara defacto Dinasti dari keluarga Abassiah sudah berakhir.


Setelah bani Buaihi berkuasa dalam beberapa waktu. Datang serangan dari Bani Saljuq yang akhirnya menggantikan Bani Buaihi. Khalifah berpindah ke Bani Saljuq. Lalu tibalah ke khalifah terakhir yang berkuasa di Baghdad yaitu zaman al-Musta’shim. Pada saat itu terjadi serangan dari bangsa Mongol. Hal ini karena dinasti Khwarezmia (  Islam Sunni ) yang berasal dari mamluk Turki dan menguasai Iran Raya, tumbang oleh serangan pasukan Mongol.  Padahal Khwarezmia merupakan benteng yang kuat antara Mongol dan Abbasiyah. Runtuhnya dinasti ini menyebabkan tidak ada penghalang lagi antara Mongol dan Abbasiyah.


Pada februari 1258 pasukan Mongol berhasil memasuki perbatasan kota Baghdad. Mengepung seluruh kota dan bersiap memulai penghancuran. Surrender or die. Kemudian Khalifah mengirim delegasi menghadap Hulagu Khan dengan membawakan bermacam-macam permata mahal sebagai tanda menyerah. Akan tetapi tak sebutirpun permata diambil oleh Hulagu, tetapi diberikannya kepada komandan pasukannya. Melihat negerinya akan jatuh, khalifah al-Musta’him meminta izin untuk menghadap kepada Hulagu Khan. Khalifah diminta agar menunggu kedatangannya di Pintu Keliazi, salah satu pintu kota. Setelah itu masuklah tentara mongol kedalam kota. Mereka merampas dan membantai siapapun yang di hadapannya.Menghancurkan berbagai macam peradaban dan pusaka yang telah dibina selama ratusan tahun. Buku-buku yang dikarang oleh para ahli selama ratusan tahun ini diangkut dan kemudian dihanyutkan ke dalam sungai Dajlah, sehingga air sungai berubah warnanya menjadi hitam karena tinta yang telah larut ke dalam air.


Pada tahun 1258 M, setelah kota peradaban yang melambangkan masa keemasan Islam ini hancur lebur, Hulagu Khan beserta pasukannya keluar dari kota tersebut untuk melanjutkan serangannya ke negeri-negeri yang lain. Khalifah dan anak-anaknya serta pengiringnya dibawa sebagai tawanan. Di awal perjalan diperintahkannya membunuh khalifah itu beserta anaknya, sementara 6 orang budak dikebiri. Akhirnya pupuslah keturunan Khalifah Bani Abbasiyah dan hancurlah kerajaan yang telah berkuasa selama 542 tahun itu..


Kekhalifahan Usmani.

Dinasti Abbasiyah langsung hancur dengan jatuhnya Bagdad. Tetapi masih ada dinasti islam lain yaitu Turki Seljuk yang kekuasaannya membentang dari Asia Tengah sampai Anatolia (Turki bagian Asia) termasuk wilayah Timur Tengah bagian Utara, dan dinasti warisan bani Umayyah di Andalusia (Spanyol dan Portugis saat ini). Walaupun sebagian besar wilayahnya disapu oleh tentara Mongol, akan tetapi Turki Seljuq masih mampu bertahan dan mengendalikan kekuasaan atas wilayahnya yang tersisa dari Konya. 


Akibat serangan Mongol, suku Turkistan yang beragama islam yang ada  di Utara Khurasan, menyebar ke Anatolia, ke sebelah Barat Iran dan utara Iraq. Diantara suku Turkistan itu ada suku kecil bernama suku Kayi. Semula mereka tinggal di sebelah Utara negeri Cina selama tiga abad. Karena adanya serangan-serangan Mongol, mereka pindah ke daerah Barat mencari tempat pengungsian di Asia kecil tempat saudara-saudara mereka, yaitu bangsa Turki Saljuq. Pemimpinnya bernama Sulayman Sah. Dia membawa sukunya pindah ke Anatolia. Untuk menghindari serangan Mongol. 


Sebelum sampai di Anatolia, Sulaiman mendengar kabar bahwa ancaman Mongol sudah mereda. Ia mengalihkan perjalanan ke Negeri Syam. Namun malang. ia mendapat kecelakaan. Hanyut di sungai Euphrat, yang tiba-tiba pasang karena banjir besar tahun 1228. Mereka akhirnya terpisah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama pulang ke negeri asalnya, dan kelompok kedua berjumlah sekitar 400 keluarga dipimpin oleh  Ertuğrul , anak Sulaiman melanjutkan perjalanan ke Anatolia. Ertugrul terus bertahan dan melawan tentara Mongol dengan cara gerilya. Sambil terus bergerak dari Merv di Turkistan ke arah Barat sampai ke Anatolia  (Turki Timur). Nahasnya dari arah Barat, dunia Islam diserang oleh Tentara Salib. Bahkan tidak jarang terjadi kerjasama antara tentara Mongol dengan pasukan Salib untuk menaklukan umat Islam. Karena itu tentara Islam menjadi terjepit di tengah-tengah. Kebetulan saat mereka datang, pasukan Sultan Saljuq ( Sulthan Allaudin Kaikubad)  sedang berperang dengan Romawi. Kedatangan mereka menambah kekuatan Sultan Saljuq. Perang dengan Romawi dimenangkan oleh Sultan Saljuq.


Berkat prestasinya, Sulthan Allaudin Kaikubad yang berkuasa di  Konya kemudian mengangkat Ertugrul sebagai Kepala sejumlah kabilah Turki yang berada di wilayah itu.  Selain itu memberikan hadiah sebidang tanah di Karaca Dag dekat pegunungan Angors (Ankara) yang subur yang berada paling Barat dari wilayahnya, untuk ditempati Erthugrul dan sukunya secara permanen. Dengan berada di lokasi ini, Kabilah Kay yang dipimpin Ertugrul diharapkan menjadi benteng  penjaga wilayah perbatasan kekuasaan Turki Seljuq di sebelah Barat, yang berbatasan langsung dengan wilayah Bizantium yang dikendalikan dari Konstantinopel (kini Istanbul).


Dengan dukungan Sulthan Allaudin, Erthugrul dan pasukannya bukan hanya mampu mempertahankan wilayah perbatasan. Ia terus mengadu taktik dan bertempur melawan tentara Salib, sehingga wilayah yang dikuasai Kesulthanan Turki Seljuk dari waktu ke waktu bertambah luas ke arah Barat. Saat Kesulthanan Turki Seljuk berhasil dihancurkan oleh pasukan Mongol, menyebabkan kabilah-kabilah Turki kehilangan induk. Putra Erthugrul yang bernama Usman yang menggantikannya, kemudian mendeklarasikan Kesulthanan Turki Usmani yang dimaksudkan untuk meneruskan dinasti Turki sebelumnya. Keturunan-keturunannya melanjutkan ekpansi ke Bizantium sehingga berhasil menguasai wilayah Eropa. 


Kemudian di era khalifah Muhammad al-Fatih berhasil menaklukan kota Konstantinopel (857H). Nama Konstantinopel diubah jadi istanbul atau islam bul (kemunculan Islam). Di abad ke-15 sampai ke-17, Kekaisaran Turki Usmani berada pada puncak kejayaannya. Peradaban Turki Usmani sangat maju, mengalahkan kerajaan-kerajaan Eropa. Di masa kepemimpinan Sultan Sulaiman I (1520-1566), kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan perdagangan berkembang pesat. Namun setelah sang Sultan wafat, Turki Usmani mengalami kemunduran. Seperti peradaban hebat lainnya, Turki Usmani runtuh juga.


Dikutip dari Peradaban Turki (2019), ada beberapa faktor yang menyebabkan kemunduran Turki Usmani: Pengganti Sultan Sulaiman I tidak ada yang cakap dalam mengendalikan sistem pemerintahan. Pengangkatan bawahan tidak lagi didasarkan pada kemampuan mengatur daerah, namun pada perasaan suka atau tidaknya sang sultan. Korupsi merajalela dan gaya hidup berfoya-foya. Sikap ini menyimpang dari ajaran Islam. Terjadi pemberontakan pasukan bayaran yang membangkang. Selain disebabkan kesalahannya sendiri, ada faktor eksternal yang mendorong kemunduran Turki Usmani: Ancaman dari Dinasti Shafawi yang semakin kuat. Beberapa daerah di Semenanjung Balkan berturut-turut melepaskan diri dari Kekaisaran Usmani Kekalahan dalam perang melawan Rusia di abad ke-18


Kekalahan dan kemunduran ini membuat Turki Usmani dijuluki oleh negara-negara lain sebagai The Sick Man of Europe. Kondisi ini terus berlanjut hingga Sultan Hamid II naik tahta pada 1876. Pemerintahannya yang otoriter memicu munculnya pemberontakan. Gerakan Turki Muda dipimpin oleh Mustafa Kemal Ataturk. Ia juga didukung oleh tentara. Pada Juli 1908, Revolusi Turki Muda meletus. Revolusi itu berhasil menggulingkan Kekaisaran yang telah berkuasa 600 tahun. Turki berganti menjadi republik dengan Mustafa Kemal Ataturk sebagai presiden pertamanya. Setelah itu sampai kini tidak ada lagi kekuasaan islam seperti era Khilafah Umayyah, Abassiah dan ustmani. 


Hikmah sejarah

Setelah Nabi wafat, kekhalifahan melahirkan intrik politik yang selalu bau amis darah. Setiap lahir satu dinasti selalu darah tertumpah. Bukan dengan orang lain, tetapi sesama mereka juga. Dalam pengantarnya di buku Al-Husein bin Ali, Pahlawan Besar dan Kehidupan Islam pada Zamannya (1978), Hamka menerangkan jika dirinya ditanya akan berpihak ke mana dalam pertentangan yang terjadi pada masa lalu itu, maka ia mengungkapkan bahwa dirinya akan berpendirian seperti para ulama terdahulu seperti Imam Abu Hanifah, Hasan Al Bishri, dan Umar bin Abdul Aziz yang berkata, ”Itulah darah-darah yang telah tumpah, yang Allah telah membersihkan tanganku dari percikannya; maka tidaklah aku suka darah itu melumuri lidahku."


Dan selanjutnya dengan alasan agama, ambisi kekuasaan ekpansionis membuat mereka tidak pernah merasa puas. Seperti minum air laut. Perluasan wilayah tidak diikuti keadilan dan distribusi kemakmuran. Yang pasti makmur adalah ibukota , di Istana di mana sang khalifah dan keluarganya hidup bergelimang harta dengan ratusan selir. Pada akhirnya khilafah itu tumbang karena kehidupan dunia yang memabukan, korup dan intimidasi kepada mereka yang berbeda. Jadi khilafah bukan solusi membangun peradaban, tetapi perbaikan akhlak pribadi muslimlah sebagai solusi. Apapun sistem negara, akhlak itulah yang akan menjadi rahmat bagi semua.

Sunday, November 08, 2020

Beragama atau beriman

 


Pada suatu masa ada dua pemikiran yang saling bertolak belakang. Satu kelompok yang berkeyakinan bahwa iman tidak bisa didasarkan kepada akal, hanya pada wahyu. Fungsi akal hanya untuk mendukung wahyu.  Satu kelompok lain berprinsip lain. Bahwa iman tanpa akal itu salah. Mengetahui Tuhan dan kewajiban mengetahui Tuhan harus melalui akal. Kemampuan akal dalam mengetahui kedua hal tersebut sesuai dengan ayat-ayat Al Qur'an yang memerintahkan agar manusia menggunakan akalnya. Kedua kelompok ini tak henti berdebat. 


Mungkin sampai sekarang kedua kelompok ini berada di zona berbeda. Yang menggunakan akal disebut dengan kaum sipilis ( Sekularisme, Liberalisme dan Pluralisme dan Sosialisme). Kaum moderat. Sementara yang hanya berbasarkan wahyu disebut kaum ittiba' , yang keimanannya atas dasar pendapat-pendapat yang datang dari Nabi Muhammad SAW dan para sahabat  atau ulama. Singkatnya apa yang dikatakan rasul, para sahabat, ulama itu sudah benar. Engga boleh didebat dengan akal.


Lantas dimana saya berada ? apakah di zona iman atas dasar akal atau beriman apa kata ulama? Pada awalnya saya tidak menolak keduanya, namun tentu tidak setuju keduanya. Saya tidak mau jadi kaum taqlid hanya karena percaya kata ulama. Saya juga tidak mau jadi atheis karena terlalu mengandalkan akal. Jadi gimana? Dalam diskusi dengan ibu saya. Saya suka cara beliau mencerahkan saya tanpa memaksa saya berada pada zona mana. “ Belajarlah tentang kedua hal itu dengan baik. Setelah itu bersikaplah. Berserah dirilah kepada Tuhan menurut cara kamu suka."


Benar nasehat ibu saya. Bagaimana saya bisa bersikap bila saya tidak pahami kedua zona itu. Saya pelajari teologi yang melandasi akal untuk beriman. Filsafat saya pelajari. Bagaimana mereka memahami hakikat alam dan realitas dengan mengandalkan akal budi. Bahkan filsafat ekonomi, sosial, politik dan budaya saya pelajari. Di rumah saya ada ribuan buku soal itu. Kalau ada kajian soal itu, saya ikuti. Belajar memahami. Begitu juga, saya pelajari semua hal tentang syariah , fiqih. Pendapat para ahli tafsir saya pelajari. Puluhan Tahun saya belajar.


Akhirnya sampailah saya pada satu pemahaman baru. Saya percaya pada wahyu. Saya menghormati Nabi dan Al Quran. Saya setia kepada syariah. Tetapi dari itu semua saya tidak merasakan kehahadian Tuhan. Saya percaya filsafat dan menghormati logika tetapi karena itu saya juga tidak merasakan kehadiran Tuhan. Satu waktu saya ikut program healing di klenteng di Hunan, China. Di situ saya tidak belajar agama Budha. Tidak. Saya hanya ingin melihat bagaimana mereka mengenal Tuhan. Saya juga ikut program mutih di salah satu pondok pesantren. Keduanya menjadikan puasa sebagai dasar ritual. Ternyata keduanya sama. Bahwa beragama itu tergantung persepsi kita. Tidak ada yang pasti benar, tentu tidak juga salah.


Sikap saya itu, di jawab oleh ibu saya “ Sorga itu diciptakan Tuhan dengan banyak pintu. Masuklah dari pintu mana kamu suka. Kalau kamu suka surga dengan pintu beriman karena akal. Ya pilihlah. Kalau kamu suka, pintu yang mengabaikan akal dan lebih condong mendengar apa kata ulama, juga engga salah. Yang penting, kehadiran Tuhan kamu rasakan. Dan kehadiran Tuhan itu bisa dilihat dari sikap humanis kamu. Manifestasi Tuhan adalah cinta dan kasih. Walau kamu beragama, namun tidak humanis, itu artinya kamu tidak beriman. Sebaliknya juga sama. Walau akal kamu hebat menterjemahkan Tuhan, namun miskin cinta, itu juga sama dengan kamu tidak beriman." 


Saya ingat waktu tahun 2014 Pilpres, saya tanya kepada ibu saya.

"  Capres mana yang harus saya pilih? 

" Pilihlah karena akhlaknya,  dan ia yang paling banyak di fitnah dan dia bersabar karena itu." 

 Karena itu saya pilih Jokowi.


***

Kadang saya tersenyum sendiri kalau membaca tulisan dari pegiat syariah soal Riba. Mengapa? Mereka membandingkan sistem keuangan syariah dengan keuangan komersial. Jelas tidak apple to apple. Atau sama saja mereka membandingkan hewan berkaki empat, tanpa sadar bahwa tidak semua hewan berkaki empat itu sama. Singkatnya, walau sama sama empat kakinya belum tentu sama jenis hewannya. Perhatikan kesalahan pengertian tersebut.


Pertama. Definisi uang dalam islam adalah alat tukar dalam bentuk emas dan perak. Itu dalam arti phisik. Walau ekonomi islam membuat teori ( Cocoklogi) uang dinar ( emas ) dan dirham ( perak). itu tidak ada dasarnya dalam Al Quran dan hadith.


Kedua, definisi “uang “ dalam sistem uang fiat, tidak ada. Yang ada adalah currency atau “ mata uang”. Perhatikan. Jauh sekali bedanya uang dan mata uang. Mengapa? dalam mata uang, tidak ada collateral atau phisik berupa emas atau perak dibalik uang itu. Yang ada apa ? hanya komitment dan trust dari bank central. Hebatnya keberadaan mata uang itu tanpa akad. Just trust !.Suka sama suka. Tidak ada paksaan. Contoh anda tidak percaya dengan rupiah ya engga apa apa.


Ketiga, karena definisi uang saja berbeda maka hukum syariah terhadap mata uang jelas engga bisa diterapkan. Mengapa? Dalam sistem mata uang fiat, tidak ada utang jenis Qardh. Karena tidak ada emas dan perak sebagai timbangan atau ukuran. Yang ada hanya komitmen. Dan itu dalam islam disebut utang Dain atau utang yang timbul karena komitmen saja. Artinya kalau utang piutang itu ada bunga dan biaya administrasi (pencatatan) , karena memang mata uang itu mengenal turunnya nilai akibat inflasi. Dan untuk menjaga trust perlu administrasi. Jadi wajar saja dalam akad ada faktor bunga. Itupun akad dibuat suka sama suka tanpa paksaan.


Jadi kalau mau disimpulkan, mata uang fiat itu justru diciptakan agar manusia terhindar dari Riba. Jadi pahami ilmu keuangan non syariah sebelum menuduh sistemnya Riba. Sama saja mengatakan babi itu haram. Setuju memang dalam Al Quran “ daging babi “ itu haram. Tetapi apakah Al Quran mengatur hewan babi berdasarkan gonom? species ? Celeng itu species babi yang bercula. Babi , species tidak bercula. Jenis daging juga berbeda. Yang mana? Kalau ada mengatakan celeng itu haram atau babi, menurut saya itu teori atau dalil. Terus gimana kalau minyak babi? Kan bukan daging babi? Kalau dibilang juga minyak babi itu haram, ya itu juga teori atau dalil saja.


Samahal dengan haram minuman alkohol. Dalam islam ada dua pendapat. Menurut mazhab Hanafi, Maliki dan Syafi’i khamr itu berdasarkan jenis minuman yang mengandung alkohol. Pendapat dari mahzab Hanbali, khamr itu adalah “perbuatan” yang membuat mabuk. Jadi yang diharamkan itu perbuatannya, bukan minumannya. Karena minuman mengandung alokohol bukan berarti 100% alkohol. Ia sudah bercampur dengan cairan lain. Kalau minumnya engga sampai mabok ya halal. Dua mahzab ini diakui oleh umat islam. Masing masing berjalan dengan dalilnya. Biasa saja. 


Begitulah cara saya beragama dan memahami islam. Nabi bersabda, “Wahai Wabishah, mintalah fatwa pada hatimu (3x), karena kebaikan adalah yang membuat tenang jiwa dan hatimu. Dan dosa adalah yang membuat bimbang hatimu dan goncang dadamu. Walaupun engkau meminta fatwa pada orang-orang dan mereka memberimu fatwa” (HR. Ahmad no.17545, Al Albani dalam Shahih At Targhib [1734] mengatakan: “hasan li ghairihi“)


Thursday, October 29, 2020

Prancis toleransi beragama.?

 


Samuel Paty, seorang guru di Perancis tewas dibunuh dengan brutal oleh seorang remaja muslim asal Chechnya, Rusia setelah mengajar kelas kebebasan berpendapat dan menunjukkan karikatur Nabi Muhammad. Insiden tragis itu menuai perhatian publik. Warga Perancis turun ke jalan dan menuntut kebebasan berekspresi. Sementara masyarakat muslim dunia menyesali adanya intoleransi dari pembuat kartun dan menganggap kartun yang menjadikan nabi besar umat Islam sebagai modelnya.  Itu suatu penghinaan atas simbol suci Islam. Iran, Arab, Pakistan, Turki, Malaysia , termasuk Indonesia mengecam Perancis yang membiarkan penghinaan terhadap Nabi Muhammad.


Saya melihat persoalan diatas secara proporsional. Pertama, membunuh kepala sekolah itu adalah tindakan kriminal.  Harus berhadapan dengan hukuman pidana. Itu hak Perancis. Alasan  boleh membunuh karena membela Nabi Muhammad tidak ada dalam hukum Perancis. Kedua, Perancis itu negara sekular, yang memisahkan urusan agama dengan Politik. Di hadapan hukum, semua agama sama. Tidak ada diskriminasi. Ketiga, Perancis adalah negara yang menjamin kebebasan berekpresi. Sebagai catatan, Prancis adalah negara paling banyak memproduksi film. Dan paling banyak karya seni. Bahkan produk aksesoris yang handmade harganya selangit. Itu karena punya karya seni tinggi. Tanpa ada kebebasan berekpresi, tidak mungkin seni bisa jadi asset bernilai tinggi.


Sekularisme berarti ideologi yang memperjuangkan bahwa dunia ini punya otonomi sendiri (oto=sendiri, nomos=hukum). Pihak agama jangan pernah ikut campur tangan masalah politik dan pemerintahan. Sejarah sekularisme di Perancis bermula tahun 1899. Lahirnya sekularisme karena kaum republikan (Waldeck-Rousseau ) yang muak dengan kaum Gereja yang telah membuat negara terpuruk dalam kelaparan dan kemunduran. Melahirkan kaum feodalisme dan tuan tanah. Semua itu diatur oleh gereja untuk membangun loyalitas sebagai penguasa diatas sistem kerajaan. Boleh jadi banyak dari rakyat Perancis  setuju. Namun perkembangan berikutnya, sekularisme ini masuk ke ranah privat, dimana melarang orang memakai aksesoris yang mencirikan suatu identitas agama tertentu. Hal ini jelas memancing opini publik. Pelbagai aksi dilakukan, baik dari dalam maupun luar negeri dalam menentang kebijakan publik yang dianggap merugikan dan tak menghendaki kebebasan berekspresi itu.


Umat islam di dunia tentu berhak untuk mengecam adanya kartun yang menghina Nabi Muhammad. Apalagi , Presiden Perancis, Macron menolak menghukum pembuat kartun Nabi Muhammad itu. Lagi lagi alasannya UU Perancis menghormati kebebasan berekpresi. Di mana mana presiden disumpah untuk hanya patuh kepada UU, bukan tekanan asing. Namun Perancis bisa menerima protes dari negara yang mayoritas Islam. Mereka menghargai perbedaan politik. Itu biasa saja. Saya rasa Perancis , harus meniru China. Walau China adalah negara sekular yang ekstrim. Kebebasan beragama dijamin sebagai hak privat. Namun UU China melarang siapapun yang menghina simbol agama. Jadi, kebebasan berekpressi itu silahkan. Tapi jangan masuk ranah agama. Sederhana saja. Semoga Perancis bisa berdamai dengan kenyataan. 


Lantas apakah karena Nabi Muhammad dihina, lantas cahaya islam meredup? tidak. Islam tidak akan tenggelam karena hinaan terhadap simbolnya. Karena islam menyandarkan segala sesuatu kepada Tuhan, bukan manusia. Selagi umat islam bersandar kepada Tuha, maka Tuhan yang akan menjaga agamanya. Saat Nabi sedang sholat, ada orang meletakan kotoran isi perut onta yang baru saja disembelih ke punggung Rasul. Itu ulah Abu Jahal. Setelah itu, mereka tertawa sepuas puasnya. Selang beberapa saat, kelakukan Abu Jahal dan rekan-rekannya itu dilaporkan oleh Juwairiyah kepada Fatimah Az-Zahra, putri Nabi. Mendengar kabar menyedihkan itu, Fatimah langsung berbegas menemui ayahnya yang tengah bersujud dalam kondisi tubuh yang penuh dengan kotoran dari isi perut onta.


Tak berpikir panjang, Fatimah langsung membersihkan punggung Nabi Muhammad SAW dari kotoran tersebut. Nabi tetap sujud sampai putrinya selesai membersiihkan kotoran di punggungnnyaa. Apakah Rasul marah? tidak. Apakah dia minta sahabatnya membalas kelakuan Abu Jahal itu? tidak. Nabi hanya berdoa “ Aku serahkan kaumku kepada MU. “


Pernah Nabi sedang berjalan bersama Anas bin Malik, ketika tiba-tiba Arab Badui itu menarik selendang Najran di kalungan lehernya. Begitu kerasnya tarikan si Badui, Nabi pun tercekik. Anas, sempat melihat bekas guratan di leher Nabi. “Hai Muhammad, beri aku sebagian harta yang kau miliki!” teriak si Badui, masih dengan posisi selendang mencekik Rasul.” Apakah Nabi marah dengan sikap si Badui yang mirip preman. Tidak, Nabi justru tersenyum, dan bilang ke Anas, “Berikanlah sesuatu.”


Lain cerita, Nabi melakukan perjalanan dakwah ke Kota Thaif. Saat itu Nabi Muhammad SAW berniat untuk melakukan syiar Islam kepada warga di Kota Thaif. Ketika Rasulullah datang ke Kota Thaif, penduduk Thaif menolak Beliau dan mencemoohnya, bahkan mereka melempari batu hingga terluka parah. Beliau tidak marha.Malah beliau berdoa kepada Allah, doa yang baik tentunya, bukan doa agar mereka dikutuk. Saat itulah jibril menampakan diri di hadapan Rasul “ "Wahai Muhammad, Tuhan mengizinkanmu untuk menimpakan dua gunung itu pada penduduk Tha’if.” Bagaimana jawaban Nabi? Beliau justru menolak tawaran Jibril itu.


Nabi tidak pernah merasa terhina karena sikap manusia. Karena sandaran Nabi bukan manusia tetapi Allah. Allah berfirman: Jika kamu memberikan balasan, balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi, jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar”. (QS an-Nahl [16]:  126). Jadi membalas dan bersabar itu soal pilihan. Nabi memilih bersabar. Karena itulah ALlah memuji beliau " Sesungguhnya, kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS al-Qalam [68]: 4). Tapi, memang satu satunya yang sulit diteladani prilaku Nabi oleh umat islam adalah sikap sabar dan humanisnya kepada orang yang membencinya. Sampai kini, itulah yang terjadi. Kita sulit bersikap sabar. Karena sikap sombong beragama, iapun mudah masuk ke ranah politik. Dan menjadikan Nabi sebagai simbol politik yang membolehkan perang dalam amarah, menghujat mereka yang berbeda, menyembelih orang yang menghinanya.


Nabi tidak pernah berperang karena lawannya meragukan kenabiaannya, melecehkan kenabiaannya, menolak kenabiaannya. Nabi tidak terpancing untuk berperang karena itu. Nabi diam saja. Beliau focus aja kepada pembinaan komunitas Madinah tempat baru beliau setelah hijrah dari Makkah. Tetapi orang makkah di bawah Abu Sofian terus memprovokasi. Orang Madinah yang datang ke Makkah di larang oleh orang makkah. Bahkan banyak orang madinah dalam perjalanan ke Makkah dirampok. Nabi berusaha berdamai. Tetapi justru mereka menyerang Nabi. Maka perang itu tidak bisa dielakan. Kalau engga, ya mati konyol, Jadi perang itu berdimensi moral atau perang mempertahankan diri, bukan bertujuan menaklukan musuh yang membencinya atau ingin mendapatkan harta rampasan atau ingin menguasai wilayah.


Setelah melalui beberapa pertempuran, musuh minta berdamai. Nabi terima dengan suka cita. Gencatan sejata selama 10 tahun. Walau dalam akta berdamaian ( Perjanjian Hudaibiyah) itu merugikan Nabi, misal Nabi tidak boleh masuk kota Makkah selama 10 tahun. Tidak boleh mengirim orang berdakwah di makkah. Akta perdamaian itu sangat menyakitkan bagi pengikutnya ketika itu. Apalagi ketika itu mereka dalam kondisi menang. Tapi nabi menerima asalkan orang madinah tidak dilarang ke makkah untuk berniaga. Perdamaian lebih utama daripada perang. Kisah perang Nabi selalu diplesetkan oleh sebagian orang yang sesat agar islam itu membolehkan perang untuk alasan kebencian dan merebut wilayah kafir. Tidak begitu.

Politik Baliho dan TNI terlibat.

  Jauh sebelum MRS datang dari Makkah, baliho tentang dirinya sudah ada. Di tempatkan hampir di semua sudut kota. Bahkan di kawasan perumaha...