Saturday, November 27, 2021

Berbagi

 






Sore jam 5 saya pulang ke rumah. Perut keroncongan. 


“ Maaf. Kamu sudah makan ? Tanya saya ke supir taksi.


“ Tadi siang sudah pak.”


“ Bisa temanin saya makan? Tanya saya.


“ Saya antar aja bapak ke restoran. Biar saya tunggu di tempat parkir”


“ Temanin saya makan aja . Mau ya?


“ Terimakasih pak. Biar saya tunggu “


“ kamu tolong saya. Saya engga bisa makan sendirian. “


“ Kenapa ?


“ Ya engga apa apa. “ kata saya. Dia akhirnya mau temanin saya makan.   


“ Pak.. serunya. Ketika makan di restoran bersama saya. “ Usia saya sudah 50 tahun. Dulu pernah usaha. Tetapi gagal. Terlilit hutang. Habis semua. Sejak itu saya engga ada keberanian lagi bisnis. Sekarang inilah hidup saya. Dua anak saya jadi buruh. Hanya tamatan SLA” katanya dengan datar. Seperti ada sesal di raut wajahnya. “ Saya takut dan kawatir dengan hidup saya dan anak anak” lanjutnya 


“ Sebenarnya. Tidak ada orang yang benar berani. Saya berkali kali bangkrut namun saya terus bangkit lagi. Itu bukan karena saya punya keberanian. Tetapi itu hanya cara survival saja. Apapun pilihan tidak ada yang bagus. Tidak ada yang aman. Namun kita hasus memilin. Jadi sebenarnya dibalik keberanian itu ada rasa takut luar biasa dan itu membuat kita sulit bedakan takut dan berani. Akibatnya kita kebal dengan situasi apapun. Berlalunya waktu, kita baru sadar ternyata semua yang datang akan berlalu. Apapun itu. “ kata saya.


“ Wah dalam sekali pemahaman bapak”


“ Engga usah terlalu dipikirkan yang belum terjadi. Yang penting nikmati hari ini dengan suka cita. Gunakan kesempatan untuk terus berbagi. Karena alasan kita dilahirkan Tuhan adalah untuk berbagi kepada orang lain. “


“ Ya Terimakasih. Pantas bapak engga bisa makan sendirian” katanya tersenyum.


“ Walau hidup tidak ramah tetapi dengan cara makan bersama ini, saya bisa meyakinkan kepada diri saya bahwa saya pantas dilahirkan. Soal besar kecil, kaya atau miskin itu soal ukuran saja. Esensinya berbagi..”


Tuesday, November 02, 2021

Kepemimpinan.

 




Pada satu saat saya makan siang dengan teman di resto jepang. “ Sepertinya saya harus bercerai dengan suami. “ Katanya dengan mimik tenang.

“ Kenapa ? Kata saya terkejut.

“ Dia suami dan pria yang tidak responsif. 

“ Maksud kamu ?

“ Saya sedang bicara tentang masalah saya, pada saat dia sedang baca koran. Dia tidak berhenti baca koran. Terus aja. Paham kan, seperti itu contohnya. Artinya dia hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Tanpa peduli dengan saya.”

“ Oh i see. Apakah itu penting ?

“ Gimana sih kamu. Dia itu pemimpin keluarga. Seharusnya dia itu responsif. Engga bisa cuek begitu. “ Katanya dengan nada kesal.


“ Pemimpin itu ada dua jenis. Pertama, pemimpin yang memimpin. Dia tidak sibuk dengan masalah kecil dan keluhan. Karena dia percaya dengan pendelegasian tugas dan wewenang. Dia hanya focus melaksanakan visinya sebagai pemimpin. Bagaimana sumber daya yang ada bisa dioptimalkan agar kepemimpinannnya efektif melaksanakan ide besarnya. 


Kedua, pemimpin yang responsif. Dia selalu sibuk dengan masalah kecil dan mendengar keluhan. Karena dia menganggap orang dibawahnya seperti anaknya yang selalu dia kawatirkan dan jaga. Dia pasti tidak ada waktu memikirkan agenda besar. Dia mudah lelah dan mungkin mudah dikendalikan. “ Kata saya.


“ Dalam konteks keluarga gimana ?


“ Nah dalam keluarga, ide besar suami itu adalah bagaimana menjaga istri dan anaknya terhindar dari aib besar. 


“ Apa itu aib besar ? 


“ Kemiskinan. Miskin harta dan moral. Dia focus kesana saja. Untuk itu pria akan memilih istri yang mampu menjadi mitranya untuk melaksanakan ide besar itu. Makanya soal cantik dan pintar, engga penting amat. Ukurannya adalah kompetensi wanita sebagai ibu dan mitra bagi dia.


Jadi kalau kamu anggap dia tidak responsif , itu karena kamu  tidak siap punya suami sebagai pemimpin yang memimpin. Kamu inginkan suami yang mau menurut dengan semua keluhan kamu dan mendengarkan rengekan kamu. Yang salah bukan suami, tetapi kamu yang salah memilih. Mungkin juga dia salah memilih kamu“ Kata saya.


“ Jadi..” Katanya mengerutkan kening.


“ Perbaiki sajalah niat. Tentu yang tahu niat itu, hanya kalian  saja. Biasanya kalau menikah karena Tuhan, Tuhan juga yang akan menuntun agar memilih jodoh yang tepat. Bukankah satu sama dengan nol, dua sama dengan satu. Kalian harus saling menguatkan dan tahu menempatkan dirinya dengan tepat. “ Kata saya tersenyum karena melihat dia mulai tercerahkan.


***

Anda semua kenal siapa itu Bill Gate. Sang billioner kelas dunia yang hidupnya kini lebih focus kepada kegiatan amal. Bagaimana dia bisa mundur dari Microsoft tanpa ada kawatir akan masa depan Microsoft? Itu karena ada Paul Allen, tangan kanannya yang sedari awal berdiri Microsoft mendampinginya. Anda juga tahu siapa itu Steve Jobs. Pendiri Apple. Dia bisa bebas berkreasi karena ada orang kepercayaanya bernama Steve Wosniak. Begitu juga dengan Mark Zuckerberg, yang sukses mengembangkan facebook. Itu berkat ada orang hebat disampingnya yaitu Chris Cox.


Di Hong kong saya ada James. Dia adalah tangan kanan saya. Semua operasional holding yang berkaitan dengan sumber daya perusahaan seperti SDM, Uang dan material dia yang urus. Bisnis proses dari sejak keputusan bisnis dibuat sampai menghasilkan uang, itu dia yang lakukan. Saya hanya memberikan visi dan membuat keputusan strategis berkaitan dengan rencana ekspansi dan memberikan solusi disaat sistem organisasi perusahaan tidak mampu melaksanakannya. Selebihnya, hari hari dia yang melaksanakan detail operasional. Di Jakarta juga saya ada Jessica yang jadi tangan kanan saya.


Dalam bisnis anda tidak perlu 100 orang kepercayaan. Cukup 1 aja. Itu udah berkah. Dengan adanya orang kepercayaan yang menjalankan roda perusahaan, anda bisa focus kepada visi dan strategi untuk mengembangkan bisnis. Artinya anda harus ada mitra atau tangan kanan yang berpikir dengan otak kirinya melaksanakan bisnis proses. Sementara anda focus kepada otak kanan memadukan instuisi dan kekuatan spiritual untuk membangun organisasi yang transformatif.


Lantas bagaimana dapatkan tangan kanan yang bisa dipercaya ? Itu tidak bisa didapat dengan cepat. Butuh proses sampai anda yakin dia orang yang tepat. Tentu ada test lewat pengalaman dan kebersamaan. Tetapi intinya adalah anda harus lebih dulu merebut hatinya. Kalau itu sudah diyakinkan, dia akan mengerti anda dan selanjutnya dia bisa loyal. Nah loyalitas itu bukan karena gaji dan tunjangan tetapi karena dia percaya dengan visi anda.


Lantas bagaimana mengelolanya? jangan sedikitpun ragu terhadap dia. Berikan kepercayaan penuh baik secara management maupun secara personal. Jangan pernah intervensi kebijakannya. Jangan! Tetapi terus pantau perkembangannya. Baca laporannya dengan teliti. Kalau kurang skill ya suruh dia kursus atau ikut seminar. Kalau ada kesempatan usahakan memberikan pencerahan secara spiritual sesuai visi anda. Yakinlah. Dengan adanya tangan kanan, walau bisnis banyak, anda tidak kehilangan privasi sebagai pengusaha. Anda tetap kapten atas hidup anda.


Dalam keluarga juga sama. istri itu tangan kanan anda. Beri dia kepercayaan penuh dan siapkan semua sumber daya agar dia nyaman menjalankan amanah sebagai CEO rumah tangga.

Dalam kehidupan negara dan politik juga organisasi perusahaan, Dua jenis pemimpin itu akan nampak. Kalau semua dikerjakan karena pemimpin responsif maka yakinlah tidak akan ada perubahan yang berkelanjutan. Tetapi kalau semua dikerjakan dengan hebat berkat pendelegasian, maka perubahan akan terus terjadi kearah yang lebih baik. Karena kepemimpinan menjadi efektif dan transformatif.

Thursday, October 28, 2021

Berbagi Cinta.

 

bersama anak panti



10  tahun lalu  waktu lebaran saya berkunjung ke rumah ibu saya. “Amak mau mendirikan panti asuhan untuk putri.” Kata ibu saya.

“ Amak engga muda lagi. Istirahat ajalah. “ Kata saya. Itu diaminkan oleh semua adik adik saya. 

“ Amak udah sewa rumah untuk panti. Nanti kalau berkembang barulah cari tanah untuk bangun sendiri.”

“ Darimana amak dapatkan uang” Kata saya. Itu sekedar alasan agar menahan rencannya dan kami tidak akan mendukung secara financial.

“ Dari Tuhan. “ Katanya tegas. Saya tidak bisa lagi berdebat. 


Setahunn setelah itu saya datang lagi ke lampung untuk berlebaran. Ibu saya ajak saya pergi ke suatu tempat “ Apa ini mak?Kata saya ketika sampai di lokasi.

“Amak dapat kepercayaan dari aisyiah untuk gunakan tanah wakaf dibelakang TK. Inilah yang akan dijadikan lahan untuk panti” Kata ibu saya bersemangat. “ Kalau bangun ini selesai, anak panti engga lagi sewa rumah.”

“ Sewa?

“ Ya. Amak sewa rumah untuk mereka.”


Kemudian ibu saya ajak saya ke rumah  yang disewanya untuk panti. Saya terharu. Setahun beroperasi, ibu saya bisa menghidupi anak panti tanpa sepeserpun bantuan dari saya. Yang lebih terharu, ternyata tidak nampak kelelahan dari ibu saya yang sudah menua. Semangatnya tidak berkurang.


“ Berapa anggaran biaya panti ini? Kata saya.


Ibu saya memberikan proposal. Lengkap dengan gambar design panti. Profesional sekali.


“ Aku tanggung semua biayanya. Bangunlah.” Kata saya spontan.


“ Anakku, membangun panti itu bukan sekedar mambangun phisik. Tetapi yang lebih utama adalah membangun gerakan cinta. Bukan berapa banyak orang sumbang. Tetapi seberapa banyak orang mendukung. Semakin banyak orang terlibat, semakin besar nilai moral dan sosialnya. Kalau engga ada uang, ya tenaga, Engga ada uang dan tenaga, ya pikiran. Engga ada pikiran, ya empati. Itulah hakikat dari gerakan sosial untuk membela anak yatim dan miskin.


“ Mengapa ?


“ Kalau gerakan cinta itu berkembang, maka tidak perlu lagi rumah panti. Orang akan senang hati menampung anak yatim di rumahnya untuk mereka rawat dan jaga dengan cinta.”


Saya terhenyak. “ Ya udah mak. Aku paham. Gini aja mak.” Kata saya negosiasi.” Aku sediakan dana stimulus aja. Dengan dana stimulus itu akan menggugah orang untuk ikut nyumbang. Dana itu bisa dipakai untuk bangun fondasi dulu. Nah kalau orang udah lihat ada pembangun, mereka juga percaya dan tergugah untuk sumbang. Gimana?


“ Itu baru anak amak. Jadi jeli mau bantu?”


“ Ya. tetapi dengan syarat. Engga boleh stress mikirkan anggaran. Nanti kalau melemah lagi aliran sumbangan, aku keluarkan lagi dana stimulus. Begitu saja sampai selesai.” Kata saya. Ibu saya rangkul saya. 


Setahun setelah itu bangunan panti sudah selesai. Kini sudah ada dua panti yang selesai dibangun. Saya hanya memberikan stimulus. Kalau yang pertama saya keluarkan anggaran stimulus 80%. Namun yang kedua justru dana stimulus saya keluar hanya 5%. 95% dari donasi masyarakat. Jadi pesan sosial menggalang  cinta untuk kemanusiaan bagi anak yatim tercapai.  Sebagaimana sholat memang tidak dilarang sendirian tapi alangkah lebih baiknya dilakukan secara berjamaah, kata teman saya. Begitupula dalam gerakan spiritual social, bagi yang kaya raya tentu tidak salah bila mereka membangun project social atas nama dirinya atau lembaganya,  tetapi alangkah lebih baiknya bila pembangunan itu dilakukan secara berjamaah. Karena ketika berjamaah, semua yang beriman mendapatkan kesempatan untuk terhindar dari golongan pendusta agama ( QS AL Ma’un ). 


Tak penting berapa yang bisa mereka berikan untuk kegiatan amal , yang penting adalah nilai kebersamaan, nilai berjamaah berbuat karena Allah , ikhlas karena Allah. Itulah yang penting. Dari kebersamaan ini akan lahir masyarakat yang berempati untuk menegakkan keadilan kepada mereka yang lemah. Sama seperti yayasan  Tzu Chi yang berkembang bukan karena donatur segelintir orang tetapi oleh banyaknya orang yang terlibat sebagai donasi. Donasi dalam  bentuk apa saja. Bukan hanya uang, bisa pikiran, tenaga, dan empati. Memang membujuk orang menggalang kebersamaan itu tidak mudah. Berat sekali. Lebih mudah gelontorkan dana, selesai. Tetapi value spritual tidak ada. Yang ada adalah rasa sombong seperti kaum filantropis. Ya value kapitalis..


Thursday, October 21, 2021

Propaganda lewat Film.

 




Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. Mungkin sudah lebih 20 tahun saya tidak nonton Drama TV.  Jadi apa yang menyebabkan saya tertarik. ? Tentu beralasan. Saya pernah berbisnis dibidang film dan rumah produksi (PH). Jadi saya tahu bagaimana tekhnis sinema dan proses produksi, yang melibatkan ahli pembuat skenario, pengatur lampu, peran, musik dan sutradara. Karena itu saya kagum dengan tampilan drama TV di China. 


Teman saya seorang wanita penulis skenario di Wuhan cerita kepada saya. Dia sedang menggarap cerita dengan tema cinta kepada keluarga. Selama 1 tahun dia riset secara langsung. Tinggal bersama mereka dari kelas bawah maupun atas, menyelami fenomena yang sedang terjadi pada keluarga akibat adanya perubahan zaman. Memahami mindset yang berkembang di masyarakat. Setelah itu dia harus belajar tentang kebudayaan dalam keluarga di China, AS dan Eropa. Dari sana lahirlah film drama hebat, yang kaya hikmah dalam setiap dialogh. Engga asal adegan atau sekedar follow trend apa yang suka ditonton orang.


Sahabat saya di Changsa yang pengusaha industri kimia tidak merasa rendah dan kawatir ketika melihat putranya belajar mandiri berbisnis. Diawali membuka restoran kecil dengan karyawan 1 orang.  Padahal dia punya uang banyak untuk memanjakan putra satu satunya itu. Mengapa ? 


“ Istri saya mendidik dia jadi petarung yang tabah dan punya semangat. “ Katanya. 


“ Bagaimana istri kamu mampu memotivasinya?tanya saya.


“ Itu berkat drama TV, yang mengajarkan semangat dan karakter wirausaha.” Katanya.


“ Mengapa ?


“ Dalam ilmu psikologi ada yang disebut dengan konsep Neoro Linguistic Programming ( penyusunan bahasa syaraf ) yang menjelaskan bahwa setiap manusia mempunyai susunan syaraf yang sama. Artinya segala sesuatu yang orang lain dapat lakukan , kita juga bisa melakukannya. Film drama TV menggunakan konsep itu. Mendidik orang meniru yang baik.


Saya sadar bahwa drama TV di China itu tidak lebih bagian dari propanda politik. Itu sebabnya semua perusahaan TV dimiliki oleh Negara.  Partai menggunakan media TV untuk mendidik rakyat bela negara, semangat wirausaha, perang terhadap korupsi, cinta kepada orang tua, setia kawan, peduli dalam semangat berkorban, keutamaan keluarga, dan cinta. 


Walau sifatnya propaganda, namun ditampilkan dengan tekhnis sinema yang luar biasa cerdasnya. Orang tidak merasa sedang masuk perangkap brainwashing. Karena cerita drama memang menggiring emosi  dan psikis penonton untuk belajar memahami makna dibalik adegan. Ya menghibur dan mendidik. Sehingga proses perubahan mental dan transformasi budaya terjadi terus menerus kearah yang positif.


Di Indonesia, media TV memang orientasinya bisnis. Tidak penting apakah itu mendidik atau tidak. Yang penting orang terhibur dan rating naik. Dari sana pendapatan iklan meningkat. Walau karena itu acara TV lebih banyak mengarahkan orang jadi bigot, mengggap dunia itu  too good to be true. Realitas yang menyesatkan dan karenanya penonton terjebak kepada kehidupan hedonis, individualisme, tidak open minded. Makanya jangan kaget,  kemajuan sains yang berhasil membawa manusia ke platnet lain tetapi kita masih doyan membahas omong kosong.



Wednesday, October 20, 2021

Meyakinkan Investor


 


Saya sedang nongkrong di Starbuck Plaza Indonesia. Sedang asyik ada yang tegur saya dari luar. Ternyata teman saya.  Kami ngobrol sebentar. Saya tawarin minum kopi dia engga bisa. Karena ada janji ketemu relasi di Grand Hyatt. Setelah teman saya pergi. Datang dua anak muda, Pria dan wanita mendekati saya. “ Maaf pak. Saya kenal dengan teman bapak tadi. Dia kan boss distributor besar di Indonesia dan punya jaringan retail juga. “ Katanya. Saya senyum saja. 


“ Pak, serunya. “ Boleh saya bertanya soal bisnis. ?

 

“ Kenapa ?


“ Pasti bapak pengusaha. Saya boleh tanya?


“ Tanya aja”


“ Saya sudah dua kali buat proposal bisnis.  Udah banyak investor saya temui. Tetapi selalu gagal.  Bagaimana meyakinkan investor agar mereka mau keluar uang? 


Saya tersenyum. Saya pandang lama dia. “ OK.” kata saya menarik napas. “  Ini cangkir starbuck. Benar ?“ Kata saya menunjukan cangkir ke depan dia. 


“ Benar. “


“ Kamu tahu terbuat daripada apa cangkir starbuck ini ?


“ Engga tahu. “


“ Ini terbuat dari Iimbah singkong dari industri tapioka dan limbah jagung  dari industri ethanol.” 


“ Oh..”


“ Pada awalnya perancang bisnis ini melihat peluang lain. Dia berkata kepada investor, saya akan buat kemasan dari limbah pabrik tapioka dan etanol. Yang ada di kepala investor ketika mendengar kalimat singkat itu adalah pertama, bahan baku yang mudah dan murah. Itu bisa menjamin kelangsungan produksi. Kedua, produk yang punya hubungan kuat dengan stakeholder  yaitu pemerintah dan industri yang menghasilkan limbah. Ini pasti sustainable. Cukup dua itu saja, investor akan bertanya lebih jauh. Proposal bisnispun dia baca.  Proces deal terjadi. Investor pun akan rogoh kantong nya untuk mendukung.”


“ Terus gimana dengan marketing. ?


“ Dia datangi starbuck dengan kalimat singkat. -Kami menyediakan produk kemasan yang akrab lingkungan. Dengan anda menjadikan kemasan dari bahan baku limbah maka anda sudah berperan dalam menjaga bumi. Juga berperan mengurangi limbah plastik. - “ Kata saya.


“ Mengapa akhirnya mereka mau dan bersedia jadikan produk kemasan dari limbah itu?


“ Semua banker dan lembaga keuangan punya misi mendukung produk ramah lingkungan.  Dan starbuck kan berkembang berkat ekosistem keuangan yang melibatkan perbankan dan pasar modal.”


“ Oh begitu..” katanya bengong seakan berpikir. 


“ Di kuliah mata pelajaran apa itu pak ?


“ Engga tahu. Saya engga pernah kuliah. Tapi dalam dunia bisnis, itu disebut dengan enterpreneur vision. Wawasan wirausaha yang bekerja untuk kepentingan stakeholder, yaitu pemerintah, investor, suplier, konsumen, karyawan.  Nah selagi kamu punya bisnis dengan prinsip entrepreneurship vision, siapapun yang kamu temui akan mendukung kamu. Pemerintah akan permudah izin. Orang punya ilmu dan skill akan mendukung. Suplier akan senang menjadi bagian bisnis proses kamu. Investor happy menanamkan uangnya.” kata saya  


Saya menghabiskan minuman. Mereka berdua saling pandang. Mungkin mau tanya lagi.Tetapi saya sudah berdiri untuk pergi. “ terimakasih pak. “ kata mereka.

“ Investor tidak akan pernah percaya hanya  karena membaca proposal yang kamu buat.  Mereka akan percaya  kalau meeting, kamu bisa yakinkan mereka dalam 5 menit. Tetap semangat ya. Kalian masih muda, Masa depan masih panjang. Teruslah belajar dan bersemangat.Udah ya.“ Kata saya.


Wednesday, October 13, 2021

Persahabatan …?

 




Sejak  minggu lalu, sejak saya membuat keputusan perubahan susunan Komisaris perusahaan, setiap hari email datang dari Yuni dengan nada protes dan marah. Saya diamkan saja surat itu. Saya tahu suasana batinya sedang tidak nyaman.  Apapun alasan saya tidak akan dia bisa terima sebelum keinginanya depak Florence tercapai. Saya percaya dia sahabat saya, yang tentu dia sangat paham sifat saya. Sayapun sebaliknya juga harus memahami suasana hatinya.  Perasaan tidak aman, kadang membuat orang berpikir diluar dirinya. Itu biasa saja. 


Saya sudah membuat keputusan menempatkan Florence sebagai Preskom dan itu jelas pertimbangan profesional, bukan emosional. Saya bisa membedakan di mana Florence berdiri dan dimana  Yuni. Tentu tidak elok saya menentukan mana yang baik dan mana yang tidak. Yang jelas masing masing punya alasan bagi saya untuk bersikap. 


Florence mengenal saya disaat saya sebagai pemula dalam bisnis. Berbeda denga Yuni ketika bertemu saya, saya di puncak usia emas saya. Florence tahu saya pria yang lemah. Mudah kalah dan mengalah.  Tidak bisa bersikap tegas. Kadang terkesan tidak berani berkata tidak. Mudah dimanfaatkan.


Dia selalu hadir disaat saya sangat membutuhkan dukungan moral Di saat saya dalam gelap, dia datang membawa lilin. Ketika saya  limbung, dia menyediakan tubuhnya untuk menopang saya agar tidak jatuh. Ketika orang meragukan saya, dia menguatkan saya. Tidak pernah mengadili saya kecuali mengarahkan cahaya kepada saya.  Walau dia pernah menikah dengan pria bukan saya, dan akhirnya perceraian terjadi, dia tidak pernah menyesali sebagaimana dia tidak menyesali memilih tidak menikah dengan saya. Namun 35 tahun persahabatan kami selalu terjaga.


Saya tidak mengatakan bahwa Florence melakukan itu semua karena dia pecundang di hadapan saya. Justru karena sikap tidak mementingkan diri sendiri dan tampa berhitung apa yang telah dia korbankan , sebenarnya dia membangun rasa hormat,  yang menumbuhkan keyakinan dan kerpecayaan saya kepadanya tanpa syarat.  Dari itu semua, tetap Istri saya di rumah tidak bisa bandingkan dengan Florence. Karena satu hal yang tidak pernah dimiliki oleh Florence? apa ? Dia tidak pernah berani menikah dengan saya. Sementara istri saya, adalah wanita pertama yang berani menikah   karena Tuhan, bukan karena cinta manusia yang selalu bersyarat. 


Kamu tahu Yun, Manusia memang lemah. Persahabatan adalah jembatan yang dibuat oleh manusia. Jembatan selalu lapuk. Janji biasa inkar. Karenanya ongkos persahabatan kadang dibayar dengan airmata dan keluhan yang tak sudah. Tetapi menikah karena Tuhan adalah jembatan persahabatan yang dibuat oleh Tuhan. Jembatan yang sangat kokoh, tak lapuk karena hujan, dan tak lekang karena panas. Dan itu jelas tidak mudah dan tidak sederhana. Butuh kekhlasan dan sabar tak bertepi…


***


Kemarin sehabis temanin Oma dan Nazwa makan di Lippo Karawaci, Oma pergi belanja bersama Nazwa. Saya pergi starbuck ketemu dengan Awi, Florence dan Yuni. Ketika saya datang ke table mereka, Awi langsung berdiri pesan kopi untuk saya.  Florence dan Yuni diam saja. Saya menebak ada masalah. Tak berapa lama, Awi datang membawa kopi “ Capucino  tanpa gula” kata Awi. Saya tersenyum.  Saya liat Awi melirik ke Yuni dan memberi isarat. Yuni berdiri dari tempat duduknya.  


Dia berlutut di hadapan saya “ Maafkan saya, B. Maafkan saya. Saya salah telah berprasangka buruk kepada kamu. Hukumlah saya. Saya siap terima.” Kata Yuni dengan suara tangis tertahan.


Saya pandang Awi. “ Saya ceritakan kepada Yuni persahabatan saya dengan kamu. Saya cerita ketika saya terpuruk, keluar dari penjara. Anak dan istri diusir dari rumah mertua. Kamu bantu saya, dan sewakan rumah untuk keluarga saya. Kamu memang keras dalam bisnis tetapi dalam bersahabat, hanya kamu yang menyabung nyawa melindungi saya dari preman yang berniat membantai saya.  Saya tidak pernah ragukan persahabatan kita, walau kadang dalam bisnis saya kadang kesel dengan sikap kamu. Tetapi ternyata itu semua untuk kepentingan saya juga. Saya bersahabat dengan B sejak tahun 1988. ” Kata Awi seraya melirik kepada Florence.


“ Saya ceritakan ke Yuni. Suami menceraikan saya. Bank akan sita perusahaan saya karena hutang yang macet. B datang disaat saya kehilangan pintu untuk keluar. Dia bailout hutang itu. Padahal saat itu dia baru saja bangkit dari bangkrut. Dan karena itu dia bangkrut juga.  Dia tidak pernah cerita kebangkrutannya kepada saya. Yang saya tahu dia terpaksa hijrah ke China. Bertarung sendiri tanpa teman dan saudara di negeri orang. Dia simpan kegalauannya sendiri demi sahabatnya. Saya bersahabat dengan B lebih 30 tahun “ Kata Florence.  


Yuni masih berlutut. Saya hampiri dia “ Saya tempatkan Florence sebagai preskom kamu karena dia lebih tua dari kamu, dan dia bisa jaga kamu. Florence pasti jaga kamu, sebagaimana dia jaga saya selama ini. Awi sudah menua. Usianya sudah 62 tahun. Dia mau pensiun walau dia sendiri tidak pernah minta pensiun kepada saya. Lima tahun lagi, saya berharap putri kamu, putra Awi dan putra saya bisa gantikan persahabatan kita semua. Mereka bisa lanjutkan apa yang telah kita bangun dengan kerja keras. 


Sekarang berdiri kamu. Saya sudah maafkan sebelum kamu minta maaf. Kamu adalah kesayangan kami. Saya dan AWi sangat sayang kamu, Yun. Kamu termuda diantara kami. Kamu telah melewati banyak kesulitan bersama kami. Udah ya. Senyumlah.” kata saya mengusap airmata Yuni. Florence tersenyum.  Sayapun kembali ke Oma dan Nazwa temanin mereka belanja.  


Memahami sahabat itu tidak mudah. Sahabat itu jangan dibuang. Apapun dia. Sabar sajalah. Semua akan baik baik saja.

Sunday, October 03, 2021

Mental Kaya.

 



Kemiskinan itu bukan karena pendidikan, atau keturunan. Tetapi karena mindset. Atau sikap mental. Ciri orang yang bisa bebas dari kemiskinan adalah sebagai berikut:

Punya rasa hormat. Bekerja atau bisnis bukan sekedar mencari uang tetapi berjuang untuk mendapatkan rasa hormat. Artinya apa yang kita lakukan ada muatan moral dan harga diri. Sehingga kita tidak perlu merasa kecil hati kalau sarjana pada awal bekerja  hanya kebagian kerja yang remeh remah. Tidak perlu merasa rendah kalau harus mengawali bisnis berdagang kaki lima, atau jadi salesman panci. Tidak merasa rendah bila harus merendahkan diri untuk melayani konsumen atau boss..Punya kesabaran dan passion melewati setiap hal, walau kecil sekalipun.

Percaya bahwa semua tidak mudah dan murah. Uang atau harta yang kita dapat adalah reward dari proses yang tidak mudah. Kalau ada yang menawarkan too good to be true, anda mudah sekali menerima, maka itu sudah mental miskin. Tapi kalau anda tidak meresponse nya maka anda sudah menepak jalan mental pemenang. Memang tidak mudah tapi kita belajar mendaki untuk sampai diatas bukit walau harus melewati blukar dan onak. Kadang terjatuh. Kadang terluka. Tetapi dengan melewati proses itu, kita tahu artinya kesuksesan dan tahu arti mencintai.

Kemauan untuk belajar. Belajar bisa darimana saja. Tetapi jangan belajar dengan orang saya setara dengan anda. Jangan belajar dari pengeluh. Jangan belajar dari orang yang pemalas. Belajar dari orang yang kaya effort dan berpikir positif. Kemauan untuk menerima hal yang baru, dan haus akan informasi dari beragam sumber. Diskusi dengang orang yang  memungkinkan anda mendapatkan ilmu baru dan pengetahuan baru. Yang membuka jalan anda menuju mata air. Itu lebih berarti daripada uang. Karena pengetahuan membuat anda lebih bijak bersikap, tahu makna berkompetisi. 

Hidup sederhanaKetika anda berpikir untuk jadi orang kaya, maka saat itu juga anda masuk jebakan dunia kapitalis.  Anda tidak akan pernah kaya. Karena sikap itu membuat anda cepat sekali melihat resiko dan menghindar.  Sikat rakus !Anda tidak akan pernah memulai untuk sesuatu yang bernilai. Kalau ada jalan yang mudah dan murah, anda akan cepat sekali mengejarnya, walau itu hanya sekedar ilusi semacam too good to be true. Hidup sederhana adalah bersikap sederhana, bahwa hidup bukan apa yang kita pikirkan tetapi apa yang bisa kita perbuat. Bukan apa yang kita dapat, tetapi apa yang kita beri. Bukan apa yang kita pelajari tetapi apa yang kita ajarkan. Hidup bukan mengejar jumlah tetapi nilai. Kelengkapan diri.


Dengan sikap mental tersebut, Selama jantungmu berdetak lebih cepat, kenapa tidak bertindak lebih cepat? Daripada hanya berpikir, kenapa tidak sekalian dikerjakan? Ingat! semua orang miskin di dunia ini, karena satu kebiasaan yang sama. Seluruh hidup mereka dihabiskan dengan menunggu untuk hal yang mudah dan murah. Selalu ada waktu menyalahkan di luar dirinya. 


Berbagi

  Sore jam 5 saya pulang ke rumah. Perut keroncongan.  “ Maaf. Kamu sudah makan ? Tanya saya ke supir taksi. “ Tadi siang sudah pak.” “ Bisa...