Posts

Hakim?

Image
  Sukri malam hari naik ke atas genteng rumah warga. Anjing pemilik warga itu menggonggong. Sehingga mengundang tahu tukang ronda. Mereka datang ke rumah warga itu. Kedapatan Sukri sedang diatas genteng. “ Maling..!!! teriak mereka. Akhirnya Sukri tidak berkutik ketika dikepung oleh warga. Dia menyerah. Digelandang ke kantor polisi. Di kantor Polisi Sukri dipaksa mengaku mencuri. Sukri mengakui  semua tuduhan itu. Di pengadilan. Hakim memutuskan Sukri bebas. APa pasal ? Pengacara pertanyakan. “ Kalau memang Sukri didakwa mencuri. Mana barang buktinya? Pengacara ingin melepaskan opini dan dugaan terhadap kesaksian   dan pengakuan terdakwa (BAP). Hakim terdiam. Karena walau BAP ada pengakuan Sukri. tetapi tidak ada barang bukti dihadirkan dalam sidang. Hakim tidak kehilangan akal. Karena dalam persidangan hakim berhak bersikap berdasarkan pemeriksaan terdakwa. Gini pemeriksaan hakim, “ Kenapa kamu naik keatas rumah orang? Pertanyaan ini untuk mendukung opini dan sangkaan mencuri.  “ Mau

Keterpurukan ekonomi AS

Image
  Minggu lalu teman saya di New York telp bahwa dia mau datang ke jakarta untuk urusan business dengan relasinya. Saya tahu tiga tahun lalu dia bangkrut. Mungkin ini peluang bagi dia untuk bangkit lagi. Jarang jarang dia telp saya. Tapi saya tahu diri. “ Jhon, kirim passport kamu. Saya akan suruh orang saya untuk siapkan akomodasi untuk kamu” Kata saya. “ Thanks so much, my friend.” Katanya senang. Tadi sore saya ketemu dia di Hotel Grand Hyatt. Tentu setelah dia usai dengan kesibukannya. “ B, luar biasa. Jakarta sangat jauh beda di banding 18 tahun lalu. Tadi siang saya ketemu dengan relasi saya di hotel Fairmont Senayan. Teman saya sempat ajak saya makan siang di Plaza Senayan. Wah saya liat masyarakat Indonesia sudah naik kelas. Beda dengan kami di AS. Mereka percaya diri sekali dengan resto yang menurut kami ukuran AS tidak semua bisa menikamati itu. “ Katanya. “ Dulu..” Katanya dengan nada prihatin. “ Kami pernah merasakan kemakmuran seperti Indonesia ini. Tapi itu sudah masa lalu

Paradox

Image
  Teori ekonomi itu bagus. Hukum permintaan dan penawaran sangat ideal diatas asumsi yang juga ideal. Hukum hubungan antara pendapatan, konsumsi dan tabungan begitu apiknya dalam rumus persamaan keseimbangan. Lantas kemudian krisis ekonomi terjadi. Bukan hanya sekali tetapi berkali kali. Lucunya masih juga kembali lepada teori sebagai solusi.Hasilnya tetap aja krisis. Kalau dianalogikan. Ketika anda yakin semua akan baik baik saja karena teori maka saat itu anda sedang onani. Menikmati euforia karena halusinasi saja. Mungkin lebih separuh manusia di planet bumi penganut agama yang taat. Sebagian lagi tidak taat. Faktanya terjadinya perang dan kerusakan, pencurian, korupsi, palacuran dan lain sebagainya perbuatan amoral dilakukan oleh mereka yang beragama. Caranya semakin canggih dan vulgar. Tokoh agama engga malu pamer harta kekayaannya padahal hidupnya dari donasi. Lucunya, selalu solusinya kepada agama. Kalau anda yakin bahwa agama sebagai solusi, maka sebenarnya anda sedang euforia

Harapan ...

Image
  Tahun 2012. Usai rapat di bank, saya mendesak untuk menghadiri rapat disuatu hotel. Karena Jakarta memang ketika sore selalu macet maka saya memilih naik ojek yang berada dikawasan Benhil. Tukan Ojek itu belum terlalu tua namun nampak tua karena himpitan kehidupan keras dibelantara kota Jakarta. “ Kemana tujuannya , pak “ katanya dengan ramah “ Borobudur hotel” “ Baik, pak.” Katanya sambil menyerahkan helm untuk saya pakai. Ketika berbelok kearah sudirman , dalam kecepatan tidak begitu tinggi motor itu  menyentuh roda depan sebelah kiri kendaraan sedan mewah disampingnya. Seketika motor itu oleng. Saya bisa merasakan tukang ojek itu tak bisa lagi mengendalikan motornya dan terjatuh menabrak trotoar. Untunglah kami tidak ada yang luka. Hanya stang motor itu bengkok. Nampak wajah sedih tukang ojek itu memperhatikan keadaan motornya. Dalam situasi itu, pemilik kendaraan keluar dari mobil. “ Mau cari mati kamu. “ teriak pengendara mobil mewah itu seraya menarik kerah baju tukang ojek itu

Pemakan bangkai

Image
  Si Udin pedagang sempak. Pagi dia keluar rumah. Dagang di lapak kaki lima. berdagang dalam was was. Kawatir aparat pamongpraja datang menggaruk. Setiap hari dia dapat uang. Setiap hari uang habis untuk dimakan. Tidak ada yang ditabung. “ Itu semua kendaraan mewah yang ada di jalanan. Pemiliknya sama saja dengan aku. Apakah mereka merasakan was was seperti aku. Kalaulah, kaya itu dekat ke dosa, mungkin berdosa juga tidak buruk daripada setiap hari kawatir tidak makan” kata Udin dalam hati. Dia tidak mengeluh. Hanya bertanya soal keadilan sikapnya terhadap dirinya sendiri. Udin mulai tertarik membeli barang gelap. Barang selundupan namanya. Harga lebih murah dari harga toko. Omzet meningkat. Laba meningkat. Tabungan juga bertambah. Udin dirikan usaha resmi. Izin usaha diajukan kepada pemerintah. Udin tak lagi disebut pedagang informal. Dia sudah jadi formal. Mempunyai akses kepada sumber daya keuangan negara. Bank memberikan fasilitas kredit murah tapi dia tidak punya collateral. Udin

Keadilan sosial?

Image
  Pada Pancasila tidak ada sila yang menjanjikan kemakmuran. Yang ada hanyalah keadilan sosial. Mari kita pahami bahasa. Kata Adil pada Pancasila ada dua. Satu, kemanusiaan yang adil dan beradab. Kedua, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Perhatikan. Kemanusiaan yang adil dan beradab itu, konteksnya adalah akhak yang melekat pada manusia. Ini menyangkut hak asasi yang dimiliki oleh rakyat, bukan hak pemberian dari negara. Jadi tugas negara yang harus melindungi hak itu. Nah gimana dengan “ keadilan sosial bagi seluruh rakyat”, itu adalah kewajiban yang harus diberikan oleh negara. Philosopi negara memang tidak menjanjikan hasil tapi mengajak rakyat berproses. Mengapa? Keadilan sosial itu bukan adil sama rata dan sama rasa. Tetapi keadilan proporsional. Jabatan OB kan engga mungkin sama gajinya dengan Manager. Driver Ojol kan engga mungkin sama dengan driver pesawat terbang. Jadi keadilan sosial itu keadilan sesuai dengan effort orang perorang. Sampai dini paham ya. Untuk men