Monday, January 23, 2023

Yusril dan Jokowi.

 




Selama ini Jokowi tidak pernah bicara terus terang mengenai Capres. Orang hanya menduga duga aja. Kadang terkesan Onani seperti orang ngecak kartu SDSB. Apapun sikap Jokowi dianalisa seperti dukun lotere. Tapi kemarin. Jokowi sebagai Presiden Ri bicara terus terang “ "Kalau menyimak apa yang disampaikan Prof Yusril dengan pengalaman sangat panjang, saya mendukung, loh, kalau Prof Yusril dicalonkan sebagai capres dan cawapres. Ini serius," ujar Jokowi dalam pidatonya di Rakernas PBB di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu, 11 Januari 2023.


Siapa itu Yusril Ihza Mahendra? Saya yakin semua mengenal dia. Yusril dilahirkan di Lalang, Manggar, Belitung Timur, 5 Februari 1956. Yusril adalah anak dari pasangan Idris Haji Zainal dan Nursiha Sandon. Ayah dari Yusril berasal dari Johor, Malaysia dan kakek Yusril merupakan seorang bangsawan Kesultanan Johor. Ibu Yusril memiliki garis keturunan dari Minangkabau. Dalam berumah tangga, Yusril menikah dua kali, yaitu dengan Kessy Sukaesih dan dikaruniai empat orang anak.  Setelah berpisah, dia kemudian menikah lagi dengan Rika Tolentino Kato pada tahun 2006 dan dikarunia dua orang anak.


Setelah lulus SMA, Yusril meneruskan pendidikannya mengambil Ilmu Filsafat di  Fakultas Sastra dan mengambil Hukum Tata Negara di Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1982. Yusril juga melanjutkan program S2 di University Of The Punjab, India. Sementara untuk S3-nya diperoleh di University Sains Malaysia dan meraih gelar doctor of philosophy dalam ilmu politik. Usai Presiden Soeharto lengser, 1998, Yusril yang sebelumnya berkarir sebagai dosen hukum itu terjun ke dunia politik praktis. Dia mendirikan Partai Bulan Bintang (PBB), titisan Partai Islam Masyumi pada era Presiden Soekarno.


Kebetulan tahun 1999 saya tahu banyak dibalik layar politik nasional. Saya bukan aktifis nasional tapi saya berada dekat sekali dengan para elite politik. Sampai saya tahu siapa yang bakar gedung BI di Thamrin dan gedung BPKP di Hayam Wuruk Jakarta. Bukan sekedar tahu, tapi mendengar sendiri rencana operasi bakar dua gedung itu. Nah saya juga tahu bagaimana elite politik yang hanya hitungan jari jadi penentu sejarah proses reformasi paska jatuhnya Soeharto.


Suatu sore di bertempat di Menteng, Ada pertemuan tokoh elite. Hanya lima orang. Dari lima orang itu hanya 1 militer. “ Pak Amin jadi ketua MPR, Pak Akbar jadi Ketua DPR “ kata Pak Wiranto. Kemudian pak Wiranto berdiri dibelakang Gus Dur, dengan hormat Wiranto berkata “ Nah Gus Dur jadi Presiden.” Katanya. Nanti sidang Umum MPR akan diatur. Tapi Pak Amin, Gus Dur, Akbar tidak mau ajukan resmi surat ke MPR. Mereka kawatir dengan massa PDIP. Saat itu PDIP sebagai pemenang Pemilu 1999 dengan Suara diatas 30%. Benarlah. Saat mau sidang umum MPR, memang tidak ada satupun capres yang ajukan surat. Padahal sarat administrasi sesuai UU, calon harus ajukan surat resmi ke sekretariat MPR/DPR. Nah saat itulah Yusril ajukan surat resmi sebagai Capres. Padahal usianya masih sangat muda. Suara partainya di MPR hanya 2,8%, punya wakil 12 di DPR. Tapi dia berani ajukan resmi. 


Saat pemilihan presiden dilakukan di Sidang MPR RI, Oktober 1999, Yusril maju sebagai calon dengan perolehan 232 suara, Megawati 305 suara, dan Abdurahman Wahid 185 suara. Harus maju putaran kedua. Peluang Yusril terbuka lebar sebagai Presiden berikutnya menggantikan BJ Habibie. Namun Amin Rais sebagai ketua koalisi Partai islam minta dia mundur. Yusril menyerah. Tapi dia alihkan dukungan kepada Gus Dur. Kalau sesuai UU, seharusnya yang jadi presiden itu Yusril. Gus Dur jadi Presiden dan Megawati jadi Wakil. Yusri jadi menteri Kumham. 


Saat itu terjadi perbedaan pendapat. Yustri menolak rencana Gus Dur untuk menghapus Tap MPR soal ajaran Marxisme dan membubarkan MPR. Benarlah, karena itu Gus Dur diberhentikan oleh MPR. Megawati naik jadi Presiden. Saat itulah Megawati mempercayakan Yusril untuk merampungkan 100 lebih RUU, termasuk membentuk KPK, pemisahan TNI dengan Polri. Hubungan Yusril dengan ibu Mega sangat baik dan dekat. Yusril tidak ada perbedaan pendapat dengan Megawati. Sama chemistry soal politik persatuan.


Yusril dekat dengan Ormas Islam. Maklum partainya berbasis islam. Makanya engga aneh bila dia pernah jadi pengacara HTI menggugat pemerintah karena kasus pembubaran HTI lewat Perppu Nomor 2 Tahun 2017.   Mengapa? Apakah Yusril pendukung HTI atau pendukung paham Khilafah? tidak. Saya tahu betul paham agama Yusril itu adalah Masyumi yang memang anti khilafah. Jauh sekali perbedaan tafsir antara Masyumi dan HTI. Bahkan dari 9 orang team BPUPKI dua berasal dari Masyumi. Kalaulah masyumi itu sepaham dengan khilafah, tidak akan pernah ada Pancasila.Bagi anda yang lahir era 90an mungkin tidak mengenal aliran Masyumi. Tahun 50an, NU dan Muhammadiah berpolitik lewat Masyumi.


Dulu, Suroto Kartosudarmo yang juga anggota organisasi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) tampil menjadi kuasa Hukum Kartosoewirjo, tokoh Negara Islam Indonesia (NII). Tapi saat G30S PKI, Suroto Kartosudarmo juga tampil menjadi pengacara PKI. Jadi bisa dimaklumi bila Yusril yang juga pendiri PBB ( idiologi Masyumi) membela HTI di PTUN. Apa yang dibela Yusril ? Ya HAM. HAM itu universal. Tidak mengenal batas idioloig. Itulah yang dibelanya. Kalah menang, itu tidak penting. Namun dia juga tidak menolak ketika diminta jadi pengacara  pasangan calon Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin menghadapi gugatan hasil pemilu 2019  oleh Prabowo-sandi di MK. Dia juga diminta oleh Jokowi untuk menelaah pembebasan Ustaz Abu Bakar Ba’asyir yang dihukum seumur hidup karena kasus terorisme.


Waktu Pilgub DKI dia bersaing dengan Jokowi dan kalah. Tapi hubungan tetap baik. Itu karena hubungan secara personal antara Yusril dengan Jokowi sudah terjalin lama. Yusril mendukung Jokowi sejak Pilpres 2014 dan 2019 bahkan ikut mendukung saat Jokowi maju pilkada Solo untuk jadi walikota. Soal politik dalam konteks islam, mungkin Yusril adalah mentornya Jokowi. Jadi dukungan Jokowi kepada Yusril itu bukan sekedar lipstick, tetapi memang mendasar. Bagi umat islam jauh lebih rasional Yusril daripada Anies. Kira kira begitu.

Sunday, January 22, 2023

Kisah dana haji.

 


Sebenarnya program dana haji ini pertama kali aja sejak tahun 1996, Keppres No. 35 Tahun 1996 dan 52 Tahun 1996, yang kemudian dikukuhkan dalam UU No. 17 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Haji, bahwa DAU merupakan hasil efisiensi dana BPIH. Akhirnya pengukuhan ini diikuti dengan terbitnya Keppres No, 22 tahun 2001 tentang Badan Pengelola Dana Abadi Umat. Penggunaan DAU itu untuk pendidikan dan dakwah, kesehatan, sosial, ekonomi, pembangunan sarana dan prasarana ibadah, penyelenggaraan ibadah haji. Tapi yang dipakai itu hanya bunganya saja. Sementara pokoknya tidak.


Pada pertengahan 2005, terjadi kasus korupsi DAU. Kasus ini menjadikan Taufiq Kamil, Dirjen Bimas Islam dan Said Agil Husin al Munawar, masuk bui. Masing masing kena penjara 4 tahun dan 5 tahun. Tapi setelah itu dibentuk BPIH. Badan dibawah menteri agama. Saat itu bukan rahasia umum bila banyak pengusaha melobi dana haji ini untuk dapat pembiayaan proyek. Caranya sederhana aja. Anda bisa geser uang itu ke bank yang mau beri anda kredit. Bunga diatur. Skemanya, kapitalisasi bunga setahun dijadikan collateral. Sementara BPIH dapat uang didepan dana manfaat dari pengusaha. 


Makanya jangan kaget bila Anggota DPR Komisi VIII Ali Maschan Moesa menyebut penyelenggaraan haji penuh dengan penyelewengan.  “ Bahkan, kelebihan dana yang ditaruh pada bank tertentu dipindah ke rekening baru. Yang agak sulit lagi yang dana itu, setoran Rp 25 juta, sekarang yang terkumpul hampir Rp 55 triliun, itu laporannya sulit. Kadang kurang transparan kadang disukuk, uangnya ditaruh di beda bank," ungkapnya. Saat itu skema sukuk bukan pada SBN Sukuk, tetapi pada bank syariah atau pihak swasta ( umumnya  tergolong konglomerat kroni SBY).


Nah era Jokowi, sebenarnya Jokowi engga mau urus soal dana haji itu. Karena sudah ada uu dan aturannya. Tapi petinggi MUI lapor ke Jokowi soal dana haji. Teman saya cerita, Jokowi marah besar. Jokowi perintahkan audit. Kaget dia ! Uang ada tapi tersandera dibeberapa proyek dan bank lewat SUKU. Mau marah lagi sulit. Karena sebagian besar dana itu penempatannya melibatkan elite politik. Solusinya saat itu saya usulkan bailout aja. Bubarkan BPIH dan yang terlibat penjarakan. Negara engga ada duitnya. Jokowi sedang focus ke insfrastruktur ekonomi. Kata teman. 


Tapi ada pihak yang datang ke menteri agama dan MUI. Mereka tawarkan program investasi atas sisa dana haji yang ada dan termasuk skema penyelesaian dana haji yang nyangkut. Saya senyum aja baca proposal itu. Ini keterlauan skemanya, Eh entah mengapa proposal itu malah bergulir ke DPR. BPIH dihapus diganti dengan BPKH ( Badan Pengelola Keuangan Haji).  Sejak tahun 2017, keuangan haji bukan lagi menjadi tanggung jawab Kementerian Agama tapi BPKH. Bagaimana dengan dana yang tersandera itu? apakah sudah selesai ? Entahlah. Yang saya tahu sekarang uang haji ditempatkan di SBN SUKUK. Tapi tempo hari BPKH gunakan uang haji untuk bailout Bank Muamalah. Faktanya waiting list semakin lama dan biaya terus naik dan naik. Seperti ponzy mungkin tepatnya.

Friday, January 20, 2023

Berpikirnya Tan Malaka

 





Kalau anda baca buku Madilog ( material, dialektika, Logika). Anda akan digiring oleh Tan Malaka berpikir dalam kotenks Madilog. Apa sih material ? Itu cera berpikir yang berdasarkan fakta dan realitas. Atau sesuatu yang bisa dilihat dan dirasakan dengan Panca Indra. Apa itu Dialektika? bahwa tidak ada kebenaran yang absolut. Logika, adalah pertimbangan akal dan pikiran. Tentu berdasarkan informasi yang kita terima dan kemampuan kita melihat fakta. Saya tidak akan membahas detail filsafat.  Saya akan bahas secara analogi saja. Ya analogi pedagang sempak.


Material. 

Kita percaya apa yang kita lihat dan rasakan itulah yang kita percaya. Kalau tidak dirasakan dan dilihat, itu artinya ilusi. Mari kita bedah,kata Tan Malaka, Dia pakai referensi filsafat seperti Eugene. Jeruk itu warnanya kuning. Benar. Rasanya manis. Benar. Kalau dijatuhkan suaranya empuk. Benar.  Tapi kalau tidak ada mata, apakah ada warna kuning? Tidak.  Kalau lidah tidak ada. Apakah ada rasa manis? tidak. Kalau tuli, apakah terdengar suara empuk ?  Tidak. 


Apa artinya?. Jeruk yang rasanya manis dan warnanya kuning, sebenarnya tidak ada, Mengapa ? Rasa manis itu bukan pada jeruk. Tetapi ada pada lidah. Warna kuning itu bukan pada jeruk. Tapi ada pada mata. Suara empuk itu bukan pada jeruk. Tetapi telinga.  Segala sesuatu yang material itu kembali kepada diri anda sendiri. Materi itu hanya konsepsi dan persepsi, bukan realita. Kalau anda membahas materi dan memburunya, maka anda hidup dalam dunia konsepsi, itu pasti ilusi. Engga percaya? anda tidur, pancaindra tidak berfungsi, maka semua konsepi itu lenyap. Apalagi kalau mati.


Dialektika. 

Tadinya ada pameo banyak anak banyak rezeki. Kemudian oleh ahli sosial dan ekonomi, membuat tesis. Yang benar itu adalah sedikit anak banyak rezeki. Bertahun tahun program KB diterapkan dibanyak negara. Apa yang terjadi kemudian?. Terbukti negara yang penduduknya besar seperti China dan India, adalah negara yang tahan dari krisis dan cepat tumbuh menuju kemakmuran. Akhirnya kebenaran baru digaungkan. Manusia dianggap sumber daya yang diperhitungkan. Bahasa mesranya, bonus demografi. Sama dengan sumber daya Alam. 


Logika.

Semakin banyak produksi semakin besar pendapatan. Semakin besar penduduk semakin besar peluang memenangkan kompetisi. Itu logika standar dan menjadi pilihan berpikir. Tetapi ternyata logika itu salah. Terbukti  tidak cukup dengan kuantitas, tetapi juga perlu kualitas. Kuantitas besar tapi kualitas rendah untuk apa?  Belakangan dikoreksi lagi, tidak penting kuantitas tetapi kualitas. Dari kualitas akan didapat value.  Ternyata value menimbulkan bubble dan ilusi. Akhirnya kalah juga dengan yang focus kepada kuantitas. Mutar engga jelas. Artinya kalau anda berpikir logika, jangan bangga. Tidak menjamin anda pintar, bukan tidak mungkin anda bertambah bego.


Apa yang hebat dari pemikiran Tan Malaka? dia mengajak kita berpikir terpadu dan holistik dari sudut Material, dialektika dan logika. Harus saling terkait satu sama lain. Engga bisa sektoral, Misal.kita menolak negara agamais sebagai tujuan keadilan. Tapi kita  sendiri yang sekular gagal mencapai tujuan keadilan dan kebenaran. Terus ngapain dengan arogan mengatakan berpikir agama terbelakang. Kita setuju bahwa agama menjadi dasar tercapainya keadilan. Nyatanya sejarah mencatat banyak negara agama gagal mencapainya. Terus ngapain menyimpulkan yang tidak ikut agama itu sesat dan Firaun.


Apa artinya? Salah besar kalau ada upaya mematikan atau membonsai daya kritis.  Karena dari kritis itulah kita masuk dalam dimensi Madilog. Satu sama lain akan tercerahkan. Tanpa perlu saling mempertentangkan perbedaan pendapat. Apalagi bersifat personal. Hingga akhirnya sampailah kita pada satu kesimpulan, That in life it is not about what we get but what we give. Not what we learned but what we teach. Not what we thought but what we do for the good of ourselves and others. Jadi rendah hatilah. 


Dah gitu aja.


Sunday, January 15, 2023

Resilience

 



Waktu awal memulai bisnis maklon di China, saya mengalami kegagalan berkali kali. Maklum saya berproduksi tanpa punya pabrik. Saya hanya menyewa mesin dan fasiitas produksi saja. Salah beli bahan baku. Akibatnya engga bisa masuk ke dalam mesin proses. Salah menentukan pabrik pengolahan, akibatnya bahan produksi menumpuk digudang. Mesin tidak mendukung dan saya haru bujuk pabrik orang untuk ganti mesin. Macam macam masalah datang. Belum lagi masalah bahasa. Saya new comer di China. Bahasa mandarin saya kurang sekali.  Dalam setahun saya rugi lebih USD 1 juta.


Tapi saya hadapi kegagalan demi kegagalan itu dengan keyakinan. Dari setiap kegagalan saya belajar dan terus belajar. Akhinya saya jadi sangat paham soal bisnis itu. Sekali lepas kapal berlayar maka samudera luas menanti. Saya bekerja keras setiap hari. Mungkin 18 jam sahari. Hanya 3 tahun saya sudah punya puluhan produk dan menjangkau pasar Eropa, AS, Afrika. Tahun keempat itu saya sudah punya pabrik sendiri


Bisnis tanpa network tidak akan sukses. Saya membangun network itu tidak mudah dan murah. Untuk jadi mitra supply chain Apple saya butuh  1 tahun lobi. Setelah dapat akses, saya juga harus ambil resiko berproduksi dengan spec yang mereka tentukan. Sedikit saja spec salah, mereka cairkan jaminan 1% performance bond. Belum lagi harus sediakan modal kerja untuk stock. Agar delivery bisa on time. Putar orang cari modal kerja.  Tapi sekali settle. Pabrik berikutnya muda. 


Dalam bisnis PE ( private equity) saya awali dengan benar benar nol. Saya harus hired profesional yang lulus akreditas di OJK. Melengkapi sistem menegment agar memenuhi standar kepatuhan. Kemudian mendapatkan mitra sebagai investor. Itu engga mudah. Tanpa investor, itu bisnis PE hanya omong kosong. Setelah dapat investor, memastikan uang itu berkembang. Sikap disiplin, perhitunga yang presisi, jujur lah yang membuat investor terus bertambah dan akhirnya antri. Proses akusisi atau M&A juga tidak mudah. Salah sedikit kena semprit OJK. Kena finalty.


Patarung diatas ring umumnya yang unggul bukanlah yang kuat pukulannya tetapi yang punya daya tahan menerima pukulan yang datang berkali kali. Bahkan ketika terjatuh dia bisa bangkit lagi. Andaikan dia kalah, dia akan mendapatkan rasa hormat dari lawannya. Andaikan dia menang, diapun akan mendapatkan rasa hormat. Banyak orang Pintar, tapi gagal berkembang. Bukan karena dia tidak bisa gunakan kepintarannya, tetapi dia tidak punya karakter resilience ( tangguh) untuk bertahan dari ketidak nyamanan dan kesulitan. Mau mudah saja dan enak saja. Ya pecundang.

Thursday, December 29, 2022

Uang dan Moral.

 


Dalam bahasa inggris, uang itu adalah Currency, yang berasal dari kata Latin “currere, yang berarti “menjalankan ( to run) atau “mengalir ( flow )”. Sementara Money ( uang ) berasal dari kata Latin "monere", yang berarti “memperingatkan". Mari kita pahami dari aspek etimologi. Ada dua pengertian yaitu mata uang atau disebut currency dan uang atau disebut money. Jadi kalau hanya mata uang, maka itu berkaitan dengan arus uang. Sementara kalau uang saja, maka itu bermakna peringatan. Mari saya jelaskan secara sederhana ala pedagang sempak.


Currency bisa juga kata lain dari current atau arus listrik. Ya sama dengan aliran muatan listrik dari kutub positif ke kutub negatif. Nah, kalau dianalogikan, uang ( money) adalah sumbu negatif. Aktifitas ekonomi disebut sumbu positip. Bagaimana agar terjadi arus bolak balik?. Ya sistem moneter dibentuk. Ketika uang masuk ke dalam sistem perbankan, ia sudah disebut currency. Dicatat dalam current account. Tipe currency terdiri dari M0,M1, 2, 3 dan seterusnya. Ia berfungsi menghubungkan satu sumber daya dengan sumber daya lain agar terus terjadi hubungan arus yang tiada henti.


Contoh bagaimana menghubungkan sumberdaya manusia dengan sumber daya material, Sumber daya material dengan sumber daya jasa. Semua sumber daya dengan sumber daya pasar, sumber daya lokal dengan global dan lain sebagainya.   Selagi hubungan antar sumberdaya itu terus terjadi arus, maka itulah currency. Itulah uang dalam perngertian kapitalis. Mata uang  itu hanya sarana pemicu distribusi capital untuk terjadi nya beragam aktifitas, terbentuknya good governance dan well civilization. Jadi bukan jumlah berapa banyak uang yang dikumpulkan atau dicetak, tapi seberapa banyak aktifitas usaha yang bisa dikembangkan. Itulah pentingnya sistem currency yang punya kredibilitas dan trust.


Lantas mengapa uang (money) itu bermakna memperingatkan (monere).? Inflasi itu terjadi karena arus atau current mengalirnya tersendat ke sektor produksi dan jasa. Uang lebih banyak daripada produksi sektor real. Kalau inflasi 5%, itu artinya penghasilan tetap anda sebesar 5% dirampas oleh sistem. Nah berlakulah kutukan ( monere). Apa itu? Sektor produksi mungkin bergairah dengan adanya inflasi akibat afek kenaikan harga. Tapi pada waktu bersamaan daya beli juga turun. Lah untuk apa produksi kalau hanya ngumpulin stok. Ujungnya bokek dan bego. Orang males produksi.


Makanya korupsi, rente, white collar crime itu jahat sekali. Karena dia menggrogoti daya magnit dua kutup, yang sehingga terjadi global Economic Imbalances seperti yang ditulis C. Fred Bergsten Kalau tidak dihentikan maka currency akan berubah hanya jadi money. Itu sumber kutukan. Engga percaya? tuh lihat resesi yang melanda seluruh dunia. Ini sudah diperingatkan oleh Adam Smith, sang Nabi ekonom dalam bukunya, The Theory of Moral Sentiment, menyebutkan tentang perlunya perikemanusiaan, keadilan, kedermawanan, dan semangat bermasyarakat. Artinya ketika kapitalisme kehilangan moral dan kebersamaan, dan lebih mengandalkan kepentingan pribadi, maka kapitalisme sebagai sistem akan hancur


Sunday, December 25, 2022

Indonesia harusnya jadi makmur

 




Indonesia ini tidak mungkin kalah di bandingkan negara lain. Tidak mungkin jatuh terpuruk seperti venezuela. Mengapa? pertama, kita negara dengan sumber daya sangat besar. Sejak merdeka, SDA kita baru 20% yang diolah dengan rasio ekonomi terhadap PDB dibawah 50%. Selebihnya potensi ekonomi kita dibiarkan nganggur. Karena sebagian besar juga otak kita nganggur. SDM kita mayoritas kaum muda. Total belanja domestik kita diatas Rp. 10.000 triliun pertahun. Itu mengalahkan gabungan semua negara ASEAN loh. Tapi mengapa kita masih terseok seok?


Kita membangun selalu melihat ke luar. Tidak bergerak sesuai kemistri kita. Bayangin aja. Kita ikutan arus bisnis IT. Tapi bukan dimanfaatkan untuk terjadinya trasformasi ekonomi malah sibuk kembangkan bisnis di hilir, unicorn. Semenetara yang di hulu seperti insfrastruktur jaringan tergantung kepada asing. Engga sedikit uang dibuang untuk unicorn. Kalaulah dana itu disalurkan kepada kekuatan ekonomi berbasis agro, itu sama saja dengan membuat puluhan industri vegacab atau bahan baku kapsul dari rumput laut yang harganya per kg USD 500. Engga kehitung berapa juta nelayan dan UKM bisa makmur.


Kita punya kekuatan bisnis informal rumah tangga yang sangat besar. Ini jaring pengaman sosial terbesar. Mengapa negara tidak sediakan ekosistem bisnis dengan didukung sistem stokis dan supply chain untuk retail market berskala nasional. Sehingga bisa mudah diakses oleh pedagang rumahan. Tidak perlu ada hegemoni bisnis retail modern yang dikuasai korporat. Tapi dengan lemahnya negara dalam mengawal keadilan tataniaga, tak terbilang bisnis rumahan yang tutup karena kehadiran 3 retail modern di seluruh Indonesia.


Kita punya SDA berupa mineral. Dari nikel, batubara, bouksit dan lain lain. Mengapa negara tidak sediakan pusat logistik dan smelter dalam satu kawasan Ekonomi khusus, sehingga negara bisa kontrol sumber daya dan lingkungan. Kalau ekspor semua berasal dari kawasan khusus, tentu mudah mengontrol pemasukan devisa. Engga perlu ngemis seperti sekarang “ tolong dong masukin devisanya ke dalam negeri. Kasihan tuh rupiah keok.” Kan lucu kok negara kalah sama swasta.


Begitu luasnya lahan Sawit. Anehnya kita engga punya pusat downstream seperti Malaysia. Akibatnya harga komoditas CPO tergantung market malaysia dan sebagian besar perusahaam CPO terdaftar di Singapore. Jutaan hektar lahan kita di leverage mereka di Singapore dan uangnya dipakai untuk kendalikan sumber daya kita. Kan lucu. Kan bego..


Negara indonesia besar. Besar dalam segala hal. Tentu tidak sulit mengelolanya. Misal ya penduduk kita lebih besar dari Singapore, tetapi SDA kita juga lebih besar. Benar, negara kita luas, tetapi  kan besar juga SDM nya. Apa artinya? kita ditakdirkan jadi bangsa besar. Tapi karena cara berpikir kecil, ya kita jadi kecil. Hanya sibuk membahas seputar sempak doang. Otak boleh pintar tapi pintar ngeles. Cerdas ya, tetapi cerdas sebagai predator kepada bangsa sendiri. Di luar ayam sayur. Dah gitu aja. Ayolah berubah say


Sunday, December 18, 2022

Focus kepada diri sendiri.

 


Ada cerita. Duda tanpa anak menikah dengan janda beranak satu. Anaknya gadis belia. Satu saat gadis itu hamil. Gadis itu tidak pernah mengaku siapa pria yang menghamilinya. Tapi orang kampung tahu bahwa setiap hari gadis itu sekolah diantar dengan motor oleh ayah tirinya. Orang kampung paranoia terhadap ayah tirinya. Istrinya juga menuduh suaminya yang menghamili. Suaminya hanya diam saja. Akhirnya orang kampung mengusir ayah tiri itu setelah ibu dari gadis itu membuangnya.


Bertahun tahun kemudian, pria itu meninggal. Sementara gadis itu sudah menikah dan tinggal di kota. Ibunya juga ikut tinggal bersama dia. Kabar kematian mantan ayah tirinya itu membuat wanita itu gundah. Akhirnya dia berkata kepada Ibunya” Bu, sebenarnya, yang menghamili saya adalah pria yang sekarang jadi suami saya. Dulu, saya sengaja diam dan tidak memberi tahu siapa yang menghamili saya karena saya tidak mau membenani pacar saya. Saat itu dia masih kuliah di kota. Kalau tahu yang menghamili saya adalah dia, ayahnya pasti minta dia berhenti kuliah. Kami tidak punya harapan untuk maju. Dan terbukti setelah anak saya lahir. Pacar saya tamat kuliah. Dia dapat pekerjaan. Setelah mandiri dari ayahnya. Dia punya keberanian melamar saya. Kami berkumpul lagi.


“ Ayah tiri kamu tahu soal itu ? Tanya ibunya.


“ Ya bu. Dia tahu. Saya ceritakan semua kepada dia.”


IBunya pingsan dan setelah itu hidup dalam sesal.


Ketika kita menilai orang lain, itu pasti salah. Engga mungkin benar. Bahkan menilai pasangan kitapun, tidak bisa 100 % benar. Mengapa ? orang menilai karena informasi yang dia terima dan otaknya sudah lebih dulu terbentuk persepsi normatif. Bahwa ayah tiri sudah biasa mengggahi anak tirinya. Apalagi sering berduaan naik motor. Kalau persepsi orang sudah lebih dulu terbentuk dan informasi sudah tersebar. Apapuh argumen membela diri, tidak akan bisa diterima.


Saat masih muda, saya sering pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Istri saya memilih tidak bertanya. Dia diam saja. Karena hanya saya yang tahu alasan mengapa saya mabuk. Dan tidak mungkin saya bisa terbuka 100% kepada istri. Ada ruang dimana hanya saya dan Tuhan saja yang bisa berkomunikasi, bukan orang lain. Begitu banyak cerita buruk suami yang bekerja di luar negeri dan lebih banyak di luar rumah.  Tapi istri saya bisa menerima. Dia tidak larut dalam paranoia dan tidak pula terpengaruh dengan standar normatif orang kebanyakan yang tidak percaya kepada suami yang lama tinggal di luar rumah.  Dia focus aja kepada agenda besar kami. Apa ? membangun rumah tangga. Bukan jalan yang mudah dan manja. Bukan ruang hampa. Bukan hitam putih. Dia harus bijak untuk berdamai denga realitas dan berkembang lebih baik karena waktu. 


Andaikan istri saya paranoid, mungkin kami sudah lama bercerai. Tidak mungkin bertahan lebih dari 30 tahun. Tapi karena itu kami selalu bersama tak terpisahkan.  Makanya kita harus punya daya tahan terhadap apapun yang terjadi di luar diri kita. Orang berhak menilai kita, tapi nilai kita bukan ditentukan oleh orang lain tetapi oleh diri kita sendiri. Ignore aja orang lain. Mengapa ? Orang yang berpikir kecil selalu menilai orang lain. Orang awam selalu membahas peristiwa yang terjadi. Tapi orang besar bicara tentang agenda dan focus kepada dirinya sendiri. Jadilah orang besar ! sang pemenang.


Yusril dan Jokowi.

  Selama ini Jokowi tidak pernah bicara terus terang mengenai Capres. Orang hanya menduga duga aja. Kadang terkesan Onani seperti orang ngec...