Sunday, January 16, 2022

Me Time

 




Di Hong Kong dalam seminggu sekali selalu saya gunakan kesempatan me time. Hanya saya sendiri. Tidak ada orang lain. Biasanya saya nongkrong di cafe kecil yang ada live musik. Minum sekedarnya tanpa mabuk. Di Jakarta juga begitu. Saya punya cafe pavorit yang  tidak mungkin sahabat dan keluarga tahu. Saya tidak melarikan diri dari lingkungan saya. Pergi ke pulau terpencil. Tidak menjauh dari sahabat dan keluarga, pergi ke gunung. Tidak. Saya dekat saja. Namun saya ingin sendiri saja.  


Saya ambil tempat duduk dekat pintu toilet. Karena cafe penuh maklum malam sabtu. Saya pesan wine sebotol. Nanti kalau engga habis, bisa titip untuk saya minum minggu depan. Pemilik cafe sudah kenal saya. Dua hari lalu Esther cerita kepada saya. “ Teman kamu sejujurnya tidak ada yang suka kamu. Wada, kecewa dengan kamu karena deviden dibatalkan tahun ini. Dia anggap kamu hanya beri dia bisnis onani saja. Steven kecewa dengan kamu. Dia anggap kamu terlalu lemah di hadapan otoritas. Pengecut.  Richard bilang, kamu tidak serius menjaga persahabatan. Dia kecewa karena kamu tolak dia masuk bisnis tambang emas di perusahaan Wenny. “


Saya menghela napas dan akhirnya tersenyum. Ingat kata kata Esther. “ Tidak ada eksekutif kamu yang suka kamu secara personal. Dihadapan mereka kamu menakutkan dan kejam. Bahkan bagi Wenny dan Yuni kamu itu seperti mimpi buruk. Setiap malam kalau kamu telp mereka. Itu sangat menakutkan. Kamu tidak tahu memperlakukan mereka secara pantas sebagai sahabat. Padahal mereka inginkan perhatian lebih sebagai personal”


Saya kembali menghela napas. tidak lagi tersenyum. Ingat kata FLorence “ Apa yang kamu punya membuat istri kamu takut dan kawatir. Karena kamu semakin keras bersikap. Kamu bisa diam tanpa peduli keluhan istri. Katanya, bisnis telah membuat kamu bukan seperti pria yang dia kenal sedari awal. Aku, juga merasakan. Kadang kamu seperti orang asing.” 


Begitulah dalam kesendirian saya. Di hadapan orang terdekat saya, saya selalu ada kurangnya.  Selalu ada salahnya. Mereka paling hebat menguraikan secara detail kekurangan saya. Esther keliatannya peduli. Tetapi dia sendiri tidak pernah anggap apa yang aku lakukan itu benar. 


Bagi saya, inilah hidup saya. Kalau harus menari dipanggung untuk menyenangkan orang. Saya menari. Tetapi tetap saja tidak dihargai. Dan saya terus aja menari.  Kalau berdonasi kepada orang itu baik tetapi tetap saja saya jarang dapat terimakasih. Malah orang anggap saya berhitung memberi. Dan saya tetap saja berdonasi. 


Saya berusaha menjaga persahabatan. Tetapi mudah sekali saya diacuhkan dan di ghibah,  hanya masalah kecil. Dan saya tetap merindukan mereka. Saya selalu ada untuk keluarga dan teman, tetapi tidak pernah dihargai pengorbanan saya. Dan saya tetap jaga mereka. Tetap memaklumi mereka.


Lamunan saya buyar oleh pertengkaran di sebelah saya. Seorang pria membully wanita yang duduk sebelah table saya. Pria itu sampai menyiram wajah wanita itu dengan minuman. Wanita itu diam saja. Akhirnya pria itu berlalu. Saya lirik ke samping. Saya serahkan tissue untuk dia usap wajahnya. Dia tersenyum. Tak berapa lama saya dekati wanita itu.


” Kamu engga apa apa?


“ Ya engga apa apa. Itu tadi suami saya.”


“ Oh i see”


“ Dia dosen. Kami menikah lebih 15 tahun. Di hadapannya saya selalu salah. Padahal  dia jadi Phd atas biaya saya. Anak anak sekolah tempat mahal, itu dari saya uangnya. Kami punya apartement mewah, itu uang saya. Dari awal dia tahu saya punya bisnis dan dia setuju. Tetapi selalu saja hal yang sepele dia tersinggung. Anak anak juga terprovokasi membenci saya. Bahkan teman teman saya tidak suka mendekat lagi ke saya. Tapi anehnya kalau mereka ada masalah uang, mereka datang ke saya. Tidak ada terimakasih. Mengapa buruk sekali hidup saya” Katanya


Saya tuangkan minuam ke cangkirnya. “ Mau tahu apa sebabnya? tanya saya.


“ Ya. Please..”


“ Karena mereka lemah. Dan kamu kuat. Mereka sangat tergantung kepada kamu. Kamu tidak bergantung kepada mereka. Apakah kamu harus lemah juga dengan sikap mereka?. Kalau kamu lemah juga, itu artinya kamu tidak sayang mereka. "Kata saya.


" Ya, tidak. Tetapi mengapa?


" Karena standar kamu dalam bisnis sangat rasional. Itu kadang tanpa disadari kamu terapkan dengan teman, keluarga. Mereka jelas tidak nyaman.  Karena standar mereka emosional. Kehidupan personal dan bisnis itu jauh sekali jaraknya. Beda sekali standarnya. Sampai kapanpun mereka tidak akan mengerti. Apapun yang kamu anggap baik, tetap saja tidak baik bagi mereka”


“ So..” Katanya lambat


“ Terima saja sebagai realita. Toh kita tidak bergantung kepada manusia tetapi Tuhan. Setiap orang punya persepsi sendiri terhadap kita. Penilaian orang tidak penting. Kita tetaplah berbuat baik menurut standar kita . Mau terimakasih atau tidak, itu tidak penting. Mau dihargai atau tidak, itu tidak penting.  Yang penting tetaplah berada di haluan, sebagai kapten atas diri kita sendiri. Mereka tidak akan lari dari kamu. Kamu berkah bagi mereka. Orang lemah itu kadang tidak rasional, beda dengan kita orang bisnis. Anggap biasa saja“


“ Caranya gimana menghadapi tekanan dari mereka? tanyanya.


“ Cobalah gunakan waktu  luang untuk dirimu sendiri. Hanya kamu sendiri. Nikmati kesendirian itu. Mungkin sejam atau dua jam, bisa membuat kamu tidak kehilangan pijakan dimana seharusnya tempat kamu. “ 


“ Dan kamu ? katanya tersenyum. Saya jawab dengan mengangguk dan tersenyum.  Dia lempar telapak tangannya di udara, Saya sambut telapak tangan itu. “ Enjoy life “ kata kami serentak.


“ Simply enjoy life and the great pleasures that come with it. “ Kata saya. Sejak itu kami bersahabat. Sahabat tanpa tahu nama dan bisnis masing masng. Di jakarta juga saya punya sahabat anoname. Lucunya kami selalu bertemu ditempat yang sama. Sama sama tidak saling sapa. Setelah dua jam berlalu, saya atau dia yang pergi duluan. Selalu ada lambaian dan senyuman. Kami akan baik baik saja.


Thursday, January 13, 2022

Ketuhanan YME

 





Pancasila itu adalah falsafah. Apa itu falsafah? Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab: فلسفة, yang juga diambil dari bahasa Yunani; Φιλοσοφία philosophia. Dalam bahasa ini, kata ini merupakan kata majemuk, dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = kebijaksanaan, kearifan), sehingga arti harafiahnya adalah seorang “pencinta kebijaksanaan”. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia.


Jadi pemahaman Ketuhan YME itu bukan dari segi Tuhan dalam konteks tauhid sesuai ajaran agama tertentu. Tetapi konsep Tuhan secara normatif yang diterima oleh semua agama. Jadi, kalau anda tidak beragama, maka anda tidak mengakui Pancasila sebagai Falsafah Negara. Mengapa? Mari kita bedah dari segi definisi kata perkata pada Ketuhanan YME.


Esa itu diambil dalam bahasa Sansekerta, yang  bentuk kata bendanya adalah Etad artinya, as this, as it is or THE. Mengapa ESA itu tidak berarti satu ? Kalau Tuhan itu SATU maka artinya Tuhan bisa didefinisikan dengan akal. Karena satu bisa berarti 2 minus 1 atau 2 bagi dua, dan seterusnya. Kalau Tuhan dapat didefinisikan maka Tuhan masuk dalam dunia persepsi. Engga ada beda dengan Mahkluk. Bisa kacau. Mengapa?  


Dalam dunia persepsi, tiap jiwa memiliki persepsi tersendiri. Kebenaran yang dimilikipun juga bersifat relatif terhadap yg lainnya. Tapi persepsi bukanlah hakikat, bukan kebenaran itu sendiri. Contoh konsep satu Tuhan, dua atau tiga , itu hanya persepsi dan bukan hakikat dari Tuhan. Dalam kontek teologi setiap agama memahami itu. Misal, dalam AL Quran surat Al ikhlas, Allah berfirman tentang diriNya, diawali dengan kalimat " katakanlah". Bukan dengan kalimat " Bahwa" atau " adalah"


Kehebatan orde baru adalah memelintirkan arti ESA menjadi SATU dan memasukan itu dalam KBBI ( Kamus besar bahasa Indonesia ). Apa tujuannya tak lain mengabaikan keberadaan agama selain Islam, dimana konsepsi tentang Tuhan lebih dari satu. Dan sampai sekarang masih saja sebagian umat Islam meyakini bahwa ESA itu adalah SATU , sehingga penafsiran Sila Pertama menjadi "Ketuhanan yang SATU”. Kemudian ditafisirkan lagi menjadi "Menyembah Tuhan yang satu. Padahal dalam bahasa Sansekerta yang dimaksud dengan satu adalah EKA. Bukan ESA. 


Lantas apa hakikat Ketuhanan Yang  maha Esa ? Bukan tentang Tuhan dalam bilangan SATU dan simbol tapi dalam bentuk manifestasi. Apa itu ? Kemana saja wajah kita hadapkan yang nampak adalah manifestasi Tuhan. Apapun yang ada di semesta ini adalah manifestasi Tuhan. Manifestasi sifat Tuhan itu akan nampak salah satunya pada orang beragama yang menegakan nilai nilai kemanusiaan yang adil dan beradab ( akhlak ), bisa dipersatukan walau berbeda, bisa bermusyawarah walau berbeda paham dan berorientasi kepada keadilan sosial bagi semua.  Jadi Tuhan Yang Maha Esa adalah hakikat kebenaran, realitas absolut, seru sekalian alam, Tuhan semacam itu tetapi bukan  ini dan bukan itu. 

Tuesday, January 04, 2022

Berkorban sepanjang usia..

 




Banyak orang berencana namun hanya berhenti dimimpi saja dan terus mengeluh karena merasa tidak ada orang peduli dengan rencananya. Sebenarnya ketika anda punya rencana dan mimpi, itu hanya ada antara anda dengan Tuhan saja. Engga ada urusan dengan orang lain. Sukses dan gagal, itu tergantung anda. Mengapa? Rencana itu bagaimanapun masih dalam bentuk konsep imeginer. Orang lain bukan  Tuhan yang tahu isi kepala dan hati anda yang sebenarnya. Manusia percaya dengan apa yang anda katakan. Tetapi percaya saja belum akan membuat dia mendukung sebelum ada sesuatu yang konkrit memotivasinya mendukung.


Saya belajar dari ibu saya soal ini. Ibu saya itu sejak usia muda sudah jadi aktifis sosial. Ada photo jadul saya digendong ibu saya dalam kegiatan sosial di Pagar Alam. Bahkan saat hamil saya dia masih sibuk ditengah tengah kegiatan sosialnya sebagai aktifis Aisyiah. Pecah ketuban dan nongol saat Ibu saya menghadiri acara sumpah pemuda. Akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Untunglah selamat. “ Kamu tertolong dari kotoron luar karena seluruh tubuh kamu dibalut oleh lemak dan beras. Karena amak waktu hamil kamu suka makan beras.” 


Apa yang dapat saya pelajari dari ibu saya dalam hal berbuat? Modal dia hanya niat saja. Setelah itu dia bergerak. Dia ada niat bangun sekolah TK dan SD. Itu karena banyak anak yang tidak sekolah karena tempat sekolah jauh. Dia organisir teman temannya dalam gerakan Aisyiah. Dari pintu ke pintu mereka ketuk rumah orang untuk bantu apa saja. Ada yang kasih kayu, paku, atau uang. Gerakan itu jadi meluas. Akhirnya TK dan SD itu jadi. Saya salah satu murid TK. Kemudian dia berniat membangun pusat kesehatan Ibu  dan Anak. Begitu juga caranya.Dia langsung bergerak. Jadi juga tuh proyek.


15 tahun lalu ibu saya berniat membangun Panti Asuhan. Niat itu dicertikan kepada saya. Adik dan kakak saya tertawa. “ Amak udah tua. Cukuplah 2 periode jadi pimpinan Wilayah Aisyiah  Lampun. Istirahat sajalah. Mana kuat lagi urus yang begituan” kata Adik saya. Tetapi saya tatap mata ibu saya. Saya kenal betul karakter ibu saya. Kalau dia sudah niat, dia pasti kerjakan. Setahun kemudian saya pulang ke lampung. Panti asuhan sudah berdiri. Tempat sewa. Alat dapur untuk masak disumbang oleh tentangga. Makan makan dibantu donatur dan tetangga.


Saat itu juga saya tergerak untuk ambil bagian dalam proyek itu. Saya tanya rencana dan proposal proyek itu. Ibu saya serahkan proposal. Lengkap sekali. Ada design bangunan lengkap dengan detail engineering. “ Tanah sudan ada. Tanah wakaf” Kata ibu saya. Benar benar cara aktifis lapangan. Sedikit bicara namun konkrit.


“ Siapa yang buat ini Mak” Tanya saya kaget meliat proposal yang sangat rapi.


“ Kampus. Amak datang ke mereka. Amak sampaikan niat amak. Mereka gambarlah. Mereka engga minta bayaran. Itu sedekah aja” Kata Ibu. Atas dasar itu mudah bagi saya untuk membuat jadwal pembangunan dan cash flow project. Setahun jadi tuh Panti. Selesai satu, eh malah ibu saya berencana membangun lagi. Para pengurus minta agar panti yang satu ini menggunakan nama ibu saya. Husni Dinar. Ibu saya minta izin kepada saya. “ Pengurus maunya nama panti nama Amak. Apa zeli setuju. “ Saya diam saja. Karena adik adik saya tidak setuju amak terus sibuk, Kawatir kesehatannya. 


Apakah ibu saya berhenti? tidak. Setahun jadi tuh panti kedua. Padahal tidak ada dukungan dari saya. Darimana ibu saya dapatkan dana? “ Disamping dari donatur, ya dari anak amak. “Kata Ibu saya tersenyum. 


“ Ya zel, amak itu tahu kalau dia minta ke lue, lue engga pernah tanya untuk apa. Main kirim saja. Dia pernah beli tanah tampa setahu kita. Eh tahu tahu tanah itu dia wakafkan untuk sosial.” Kata Kakak saya. Saya senyum saja. Kemudian dari OJK dan BI lampung tertarik untuk membantu pembangunan itu. Itupun setelah ibu saya punya lahan wakaf untuk bangun.


“ Zeli engga marah ke amak kalau amak terus aktif di sosial. Boleh ya Nak.” Kata ibu saya waktu saya datang ke lampung beberapa bulan lalu “ Boleh. “ Kata saya memeluk ibu saya. “ Maafkan aku mak, Kadang karena terlalu sayang aku ke amak,  sampai aku lupa perintah Tuhan bahwa misi manusia itu berbuat baik sampai ajal menjemput. “


Tuhan, sehatkan amakku. Karena diusianya diatas 80 tahun, dia tidak pernah berhenti peduli kepada anak anak miskin dan yatim. IBu saya adalah inspirasi saya.


Friday, December 31, 2021

Takdir itu ada pada hukum sunnatullah.

 


Udin ngobrol dengan Sobarun dan Mahdi usai sholat Isya.  Mereka duduk di teras Masjid. “ Din, bini lue itu putih tapi bersih banget. Wajahnya bercahaya. Engga seperti bini kita. Bini lue pasti orang kaya ya Din” Kata Mahdi. 


“ Engga juga kaya. Tetapi memang dia jarang pakai make up. Kalaupun pergi arisan dan pengajian. Dia pakai bedak aja. Itupun bedak racikan dia sendiri. Itu ibunya yang ngajarin. Hari hari dia tidak pakai make up. Mungkin itu sebabnya kulit mukanya bersih”


“ Ah salah din. Menurut istri gua. Itu karena upik sholat lima waktu dan selalu sholat sunah. ya gimana engga bersih. Dia engga pernah lepas dari wudhu.” Kata  Sobarun.


“ Mungkin juga. Saya engga perhatikan.”


“ Lu pakai pelet ya Din. Dapatin dia” Kata Mahdi.


“ Kenapa kamu berpikir seperti itu?


“ Lah lue keling, kerempeng. Cuman hidung doang agak mancung.” Kata Sobarun. Udin senyum saja.


“ Benar ya din, lue  pelet dia.” tanya ulang Mahdi.


“ Ya engga lah. Dijodohin sama orang tua.” Kata Udin. 


“ Din, gua mau tanya. “ Tanya Anan.” Apa benar gula itu bahaya.”


“ Ah bego lu Nan. Yang bahaya itu merokok. Berhentilah merokok. Fakwa ulama rokok itu haram. Karena tidak ada faedah. “ Kata Sobarun.


“ Yang berbahaya itu adalah jiwa yang tidak tenang atau stress. Orang yang mudah stress walau tidak merokok dan tidak makan gula tetap lebih banyak penyakit daripada orang yang merokok dan makan gula. “


“ Maksud kamu apa itu denga jiwa yang tenang.”


“ Berusaha melangkah tidak melewati bayangan diri. Itu tidak akan bisa. Maksain itu akan buat kita stress. Ya tahu diri. Ikhlas. Hidup tidak perlu pintar tetapi cerdas harus.’ Kata Udin.


“ Maksud lue pintar itu apa? ” Tanya Mahdi.


“ Pintar itu, mengukur dengan angka dan waktu.. Artinya orang pintar selalu berpatokan berapa dapat.? Kapan dapat?. Berapa lama kerja agar sukses. Maunya cepat dan kalau ada jalan pintas dia buru walau tidak bijak. Beragama juga begitu. Berapa pahala saya kalau zikir atau sedekah sekian banyak. Di sorga saya dapat apa..? Karena itu selalu stress mikirkan yang belum terjadi. Akhirnya terperangkap jadi teroris. Padahal tidak ada manusia yang bisa menentukan masa depan. Akibatnya,  dia berpendidikan tapi tanpa karakter, dia berilmu pengetahun tapi rasa kemanusiaan kurang, dan peribadatan dia tanpa pengorbanan”


“ Kalau cerdas apa ? Kata Mahdi.


“ Orang cerdas, focus kepada proses. Percaya bahwa proses baik akan menghasilkan baik dan karena itu dia ikhlas. Tahu diri. Kalau harapan bersua dengan kenyataan, dia bersukur. Kalau tidak, dia bersabar untuk terus belajar dari kegagalan. Terus melangkah dengan suka cita. Pastilah bebas stress. Pengetahuan membuat dia kaya lahir batin. Pengalaman membuat dia bijak.” Kata Udin.


“ Tapi bukankah kaya miskin itu takdir dari Tuhan”Kata Sobarun.


“ Yang dimaksud takdir itu adalah prosesnya. Kalau proses benar maka dia sukses. Kalau prosesnya salah, ya gagal. Jadi kalau boleh disimpulkan bahwa takdir itu hukum ketetapan Allah. Hukum sebab akibat.  Sementara kaya miskin itu soal pilihan. Soal tujuannya salah atau benar,  itu juga piihan“ Kata Udin tersenyum sambil menghembuskan asap rokoknya.  Mereka semua terdiam Udin berdiri pamit.


Saturday, December 18, 2021

Hukum alam...


 


“Pah, kok engga ada pakunya rumah ini. “ kata Oma memperhatikan setiap kontruksi rumah adat itu. “ Aneh, gimana bisa berdiri dan kokoh ya” lanjut oma dengan wajah terpesona. 


“ Rumah adat ini terbukti dalam sejarah tahan terhadap gempa dan bencana alam. Hanya  hancur oleh ulah manusia. Perang yang menghancurkannya. Dan kemudian di bangun kembali. “ kata saya mencoba mencerahkan. 


“ Papa belum jawab pertanyaan gua. Gimana bangunnya? Kata oma penasaran.


“ Rumah itu bangun sama seperti orang bangun kapal kuno. Untuk menghubungkan satu kayu dengan kayu lainnya mereka gunakan pasak. Pasak itu dari sisa kayu. Di tanamkan disela sela kayu yang terhubung secara lock. “


“ Lock itu apa ?


“ Lock itu  sudut sambungan kayu dibuat satu sama lain saling berlawanan. Ya sama seperti menyatunya unsur atom. Sehingga seimbangan dan saling mengikat. “


“ Ya kenapa begitu ?


“ Agar sambungan itu kokoh namun flexible. Dengan sistem itu akan membuat bangunan jadi kokoh terhadap goncangan karena gempa.”


“ Kok flexible jadi kokoh?


“ Hukum mekanika kan begitu. Semakin keras sambungan semakin mudah lepas oleh gesekan. Tetapi kalau flexible, ia akan kokoh walau ada goncangan sekalipon” 


“ Oh gitu ya”

“ Kehidupan juga sama. Kita engga boleh terlalu keras menancapkan hubungan kita  dengan orang lain. Ya seperti mama ke pada papa. Kalau mama engga flexible mana mungkin mama ikhlas izinkan papa bisnis di luar negeri dan jauh dari keluarga. Mana mungkin mama izinkan papa punya direksi dan mitra perempuan. Walau tugas suami menafkahi istri, namun papa beri mama kebebasan cari uang dan mandiri. Ya flexible aja.


Begitu juga dalam hal ilmu pengetahuan dan agama. Karena apa yang menjadi prinsip kemarin, bisa saja sekarang kondisinya berbeda. Kalau kita tetap dengan prinsip kemarin, maka  hari ini hubungan kita dengan sains atau agama akan terpisah. Jadi bigot kita. Ya kita harus flexible hidup. Itu yang disebut hidup berakal mati beriman.” 


“ penjelasannya ngerti tapi maksud hidup berakal mati  beriman itu apa sih. “


“ Rezeki memang ditangan Allah, tetapi kita harus rugi dulu baru untung. Kerja dulu baru dapat uang. Keluar biaya dulu baru dapat laba. Nah itu disebut proses hukum alam. Melewati Proses itu kan butuh akal. Engga bisa modal iman doang. Kalau hanya iman menanti rezeki dari Tuhan itu namanya bego. Engga berakal. Begitu juga. Kalau ingin dihormati dan dicintai orang lain, ya hasus mencintai lebih dulu. Berkorban lebih dulu. Kalau selalu meminta, dan berharap cinta akan kokoh ya itu bego namanya. Engga berakal. Paham ya..”


Hidup berproses.

 


Baru selesai makan malam, Udin kedatangan Malih di rumahnya. Sebagai anak rantau Udin berusaha ramah kepada Malih. “ Maaf Din, minta nasehat. “ Kata Malih setelah Kopi dihidangkan upik.


“ Wah, Bang Malih. Salah alamat kalau minta nasehat. Saya ini bukan sarjana. Bukan terpelajar. Hanya orang kampung. Saya hanya tahu sedikit itupun dari keseringan mendengar, membaca dan meliat. Itu aja” kata Udin.


“ Kemarin waktu lihat Lu Din leraikan Sobarun berkelahi dengan  Anan, saya yakin lue orang yang tepat untuk beri nasehat gua. “ kata Malih. Udin senyum aja. “ Gini Din, kenapa hidup gua blangsat terus. Padahal gua sarjana. Apapun usaha dan kerja udah gua coba. Tetapi kerja engga diterima, usaha bangkrut. Gua pernah ikut rukyah, tetapi hasilnya sama saja. Tetap aja blangsat. Apa nasehat untuk gua Din “ lanjut Malih.



“ Berap usia kamu ?


“ 32 tahun. “


“ Kamu sedang berproses. Kegagalan dalam bisnis dan kerja, itu jalan kamu. Biasa saja. Apalagi usia kamu baru 32 tahun. “ kata Udin.


“ Maksud gua, apa kira kira yang pas untuk jalan hidup gua ?


“ Ya engga tahu. Yang paling tahu adalah diri kamu sendiri. Kalau sampai sekarang kamu tidak tahu. Itu bagus. Karena kamu tahu bahwa kamu tidak tahu. Artinya jalan mencari ladang hidup sedang berproses. Sabar aja. Nanti juga ketemu bisnis atau kerjaan yang pas“


“ Sabar gimana Din ?


“ Pandailah bersyukur. Dibanyak keluhan kamu itu, buktinya sampai detik ini kamu masih bernapas dan sehat. Coba kamu sedikit belajar syukur, kamu akan bisa tenang menemukan ladang yang tepat sesuai bakat kamu. Dan kelak bila kamu temukan, kamu akan bersemangat menjalankannya, tanpa rasa takut apapun “


“ Oh Terimakasih Din. Paham gua. Jadi itu pentingnya bersukur. “


“ Ya. “ kata Udin tersenyum. Senang mendengar malih mengerti apa yang dia katakan. 


“ Din, gua mau tanya. Orang China  itu kan kaya kaya. Kenapa mereka tidak berbaur dengan orang kita. Sepertinya mereka menjaga jarak dengan kita. Maunya bergaul dengan sesama mereka saja “ kata Malih.


“ Engga juga begitu. Mereka mau bergaul dengan orang yang sama mindset nya dengan mereka. Siapapun itu. Mereka engga peduli. Bahkan dalam bisnis, walau anak atau adik sendiri engga satu mindset mereka engga mau bisnis. Walau Jawa atas padang seperti saya ini, mereka senang saja bermitra. Karena dianggapnya satu mindset. Kalau nyatanya kebanyakan mereka bergaul dan berbisnis dengan orang china juga, itu kebetulan saja. “ kata Udin. 


“ Tetapi orang china kaya kaya. “


“ Engga semua. Kamu pergi deh ke sengkawang, banyak sekali orang China hidup  di bawah garis kemiskinan.  Engga usah jauh jauh, di kampung Jawa, Kebon sayur jakarta, banyak orang china miskin. Tangerang di teluk naga juga banyak yang miskin. Jadi sama saja dengan kita. Ada yang sangat kaya dan ada yang blangsat. Kaya miskin itu ditentukan oleh sikap mental atau mindset. “ Udin mencerahkan.


“ Oh kaya miskin itu tidak ditentukan oleh suku ya Din. Semua tergantung mindset ya. “


“ Ya. Betul “


“ Bisa kasih nasehat gimana soal mindset itu “


“ Kalau kamu tak mampu menjadi beringin, yang tegak di puncak bukit, jadilah belukar, tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau. Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar, jadilah saja rumput, tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan. Kalau kamu tak mampu menjadi jalan raya, jadilah saja jalan kecil, tetapi jalan setapak yang, menuntun orang ke mata air. Tidaklah semua menjadi kapten, tentu harus ada awak kapalnya …. Bukan besar kecilnya harta atau jabatan kamu yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu, Jadilah saja dirimu …. Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri.”


“ Indah sekali Din. Bijak banget lue “kata malih.


“ Itu bukan kata saya, tetapi itu puisi dari Taufik Ismail atau Douglas Malloch yang berjudul Be the Best of Whatever You Are. Artinya siapapun kamu, jadilah orang yang bermanfaat bagi orang lain. “ Kata Udin.

“ Terimakasih din. Gua senang kenal lue. Jadi semangat untuk berjuang dengan tetap  bersukur dan bersabar.


Tuesday, December 07, 2021

Menerima kenyataan.


 



Saya naik Ojol. Supirnya sarjana. Alih profesi karena situasi dan kondisi. Kena PHK akibat COVID. Setahun setelah itu rumah tangga bubar. Anak ikut istri. Alasannya istrinya selingkuh. Dari wajahnya tidak nampak dia stress. Menjawab pertanyaan pun dengan santai. “Istri tertarik dengan pria lain, akhirnya selingkuh. Itu wajar saja. Dia butuh rasa aman. Kebetulan dia tidak aman bersama saya, yang kena PHK dan miskin. “ Katanya.


Itu sebabnya tidak ada yang pantas disebut korban dalam setiap peristiwa. Karena korban juga tidak ada jaminan bersih dari kesalahan. Yang merasa paling benar, bisa saja justru dia penyebab semua masalah. Kira kira itu yang dipahami supir Ojol. Dia tidak ingin menyebut dirinya korban ketidak setiaan istrinya. Saya yakin ada banyak orang seperti supir Ojol ini. Dia tidak suka mendramatisir hidupnya. Biasa aja.


Saya suka, melihat persoalan hidup ini dengan cara sederhana. Apa itu ? Berdamai dengan kenyataan. Itu artinya saya harus membunuh ego saya dan menghilangkan hasrat memiliki. Karenanya saya bisa senyum dalam menghadapi segala masalah. Koruptor itu memang merugikan negara dan memadamkan harapan rakyat lemah. Investasi tumbuh, APBN ribuan triliun, tetapi masih banyak pengangguran dan kimiskinan. Tetapi tidak ada kelaparan seperti di Afrika atau Venezuela, atau seperti era Orla atau era kolonial. 


Itu karena ruang dan zaman semakin terbuka, dan bebas. Orang kaya atau miskin, itu biasa saja. Karena yang kaya bisa saja jatuh miskin dan miskin bisa kapan saja kaya. Pejabat dan rakyat, itu hanya posisi. Kapanpun pejabat bisa jadi pesakitan masuk penjara. Rakyat bisa kapan saja jadi presiden. Lihat contohnya Pak Jokowi. Jadi soal status sosial bukan lagi bagi segelintir orang, tetapi bisa bagi siapa saja. Peluang untuk terjadinya perubahan bagi siapa saja itu terbuka. Masalahnya siapa yang bisa meliat peluang itu? Lagi lagi ini soal kebebasan memilih.


Lantas mengapa kita merasa kawatir dengan kehidupan ini?  Itu karena kita inginkan hidup seperti kita mau. Maunya kita hidup tanpa ada orang jahat, tanpa ada korupsi, tanpa ada orang kikir,  tak ada kemiskinan, tanpa ada orang maksiat. Itu mau kita, ya seperti mimpi negeri khilafah. Emangnya kita pemilik kehidupan?  Bumi yang kita tempati ini dalam gugusan tata surya hanya se-ukuran debu, dan mereka bergerak karena hukum ketatapan Tuhan. Apalah kita sebagai manusia yang mau mengatur hukum sebab akibat yang sudah ditetapkan Tuhan? 


“ Gunakan saja otak reptil yang ada untuk bertahan, dan gunakan otak mamalia untuk menikmati hidup. Dan gunakan otak intelektual dan spiritual kita untuk berdamai bahwa hidup memang tidak ramah. Kalau kita tidak bisa menerima kenyataan, itu artinya secara intelektual dan spiriual kita sudah mati” Kata teman. Saya tersenyum berusaha untuk paham


Me Time

  Di Hong Kong dalam seminggu sekali selalu saya gunakan kesempatan me time. Hanya saya sendiri. Tidak ada orang lain. Biasanya saya nongkro...