Saturday, July 09, 2005

Dunia

Ketika di Hongkong International Airport, saya bertemu dengan teman lama. Kami bertemu di ruang boarding menuju Beijing. Wajahnya nampak pucat dan lemah. Ketika itu dia didampingi oleh istrinya. Dari dia saya tahu bahwa tujuannya ke Beijing adalah untuk berobat levernya. Sudah hampir 3 bulan dia menderita penyakit lever itu dan berencana ke Beijing untuk transplasi Lever. Dia juga kena penyakit jantung koroner. Sambil menunggu keberangkatan, dia bercerita kepada saya bahwa dia baru merasakan waktu berjalan lambat ketika dia terkena penyakit. Sebelumnya dia selalu merasa waktu berjalan cepat. Dia menceritakan, sedari usia remaja dia sudah terjun dalam dunia bisnis. Kemudian terus berkembang sampai kini ketika usianya mendekati 50 tahun. Kenapa waktu terasa cepat , tanya saya. karena menurutnya , kalau sehat dia sangat sibuk dan sibuk. Rasanya 24 jam sehari tidak cukup baginya. Saya hanya terdiam mendengar alasannya itu. Bagi saya , setidaknya dia tahu betapa tingginya nilai sehat itu.

Dia juga menceritakan betapa ketika sakit, segala yang nikmat menjadi tidak ada artinya. Segala hal dipantang. Sedikit saja dia melanggar pantangan, maka rasa akit tak terperikan menjalar keseluruh tubuhnya. Harta dan segala yang dia punya menjadi tidak ada arti. ” Benarlah, ternyata hidup ini hanya menipu kita. ” simpulnya dengan suara lirih dan tatapan kosong. Saya perhatikan istrinya dengan sabar mengusap keningnya karena selalu berkeringat. Apa yang saya tahu dari teman ini bahwa dia pemilik usaha yang cukup banyak.Dia punya usaha dibidang pemboran minyak di Vietnam, Travel Biro, Hotel, Mall. Perusahaannya tersebar di Singapore, Perth, Vietnam, Kamboja, Ukraina, Beijing, Yunani, Italia, Toronto dan banya lagi. Itu semua didapatnya dengan kerja keras dan tentu menyiksa dirinya. Hampir setiap hari , menurutnya yang saya tahu, dia hanya tidur 3 jam sehari. Kadang dalam tidurpun dia masih bermimpi dengan urusan bisnisnya. Hampir tidak ada waktu baginya barang sekejab untuk merasakan betapa nikmatnya naik mobil mewah, apartement mewah dan segala layanan first class.

Saya teringat dengan Firman Allah ” Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan... Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (Q.S. Al-Hadiid [57]:20). Ya hidup itu hanyalah permainan Allah.Alias bukanlah sesuatu yang harus diseriusi berlebihan. Bayangkanlah, harta kita kejar untuk memuaskan kita namun ketika sakit , tak bisa lagi makan yang enak. Sementara kenikmatan yang diburu dengan al at cost,, ternyata kalau makan hanya sebatas lidah. Kalau bersenggama hanya sebatas orgasme. Selebihnya melelahkan. Semahal apapun makanan maka pasti berujung kepada tempat yang kotor ( toilet). Semewah apapun rumah ,hanya sekedar kenikmatan untuk dipandang. Kalau sudah tidur maka lupalah semuanya. Anak yang dibela dengan segala kecintaan namun setelah menikah ,dia akan lebih memikirkan keluarganya. Istri yang dibela dengan limpahan kemewahan layanan salon, spa , baju buatan swiss, tas dari Itali namun bila kita tidak ada , dia akan lebih memikirkan dirinya sendiri. Lantas apa dunia harus dibela sampai mati ?

Maka, teramat bodohlah manusia yang cinta dunia,. Cinta kepada sesuatu yang tak abadi. Yang serba terbatas. Bagi Allah , orang yang cinta dunia adalah neraka tempatnya. Inilah firman Allah “Adapun orang yang melampaui batas, Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggalnya”. (An-Nazi’at: 37-41). Mengapa sampai begitu keras Allah memberikan peringatan tentang cinta dunia ini? Karena sumber segala kebejatan moral berasal dari kecintaan akan dunia. Karena kecintaan akan dunia membuat orang lupa mati. Lupa fakir miskin, Lupa sahabat. Lupa amanah. Lupa kebenaran. Lupa bersyukur kepada Allah. Baginya dunia adalah tempat dia memuaskan segala nafsu duniawinya. Padahal ketika dia mabuk dengan dunia, pada saat itu terjadi proses penghancuran dirinya secara lambat tapi pasti. Tekanan nafsu yang begitu hebat telah membuat kerja jantungnya terganggu. Kerja keras tanpa waktu, telah membuat beban ginjal dan levernya semakin berat dan akhirnya meradang sakit. Belum lagi, akibat memanjakan diri dengan minuman dan free sex telah membuat dirinya tercemar penyakit. Dia benar benar merusak dirinya dan menganiaya dirinya sendiri. Benar benar tolol.

Tapi bagi orang yang menjadikan dunia sebagai persinggahan untuk menguji keimanannya dihadapan Allah maka dunia adalah jembatan emas menuju sorga. Dia berjihad mencari rezeki Allah namun tidak memperkaya dirinya saja tapi juga menebarkan harta itu kepada orang lain dan membantu perjuangan syiar agama. Dia makan tapi tidak pernah kenyang. Dia beristri tapi tidak memanjakan istrinya. Dia punya anak tapi tidak memanjakan anaknya. Semua yang dia punya hanyalah titipan Allah yang harus disyukuri dengan kerendahan hati tanpa menupuk dada dan mempeturutkan nafsu tololnya.

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...