Thursday, March 22, 2012

Subsidi BBM ?

Mana ada pemimpin yang dengan senang hati menaikkan BBM.” Demikian SBY berkata dan Televisi meliput pidatonya. Wajahnya nampak bersedih. Suaranya terkesan mehanan sedih teramat sangat ketika kata kata itu terungkapkan. Andaikan itu adalah pentas teater dan sutradara mengharuskan SBY menangis maka tentu air mata akan mengalir begitu saja. Karena moment nya tepat dan kebetulan sekali memang SBY berhati lembut, romantic. Demikian kata teman saya berkata menanggapi curhat SBY dihadapan Publik. Saya bisa merasakan betapa berat hati SBY untuk berdamai dengan realita. Suka tidak suka dia pihak yang langsung dinilai oleh rakyat tentang salah dan benar suatu kebijakan. Ditambah lagi ada sederet pakar ekonomi yang punya pendapat berbeda bahwa BBM tidak seharusnya naik. Bahwa kenaikan harga minyak international justru  menguntungkan pemerintah. Bahwa kenaikan harga minyak international  tidak berhubungan dengan Defisit APBN atau apalah..

SBY nemang berada pada posisi yang salah dan moment yang salah. Dia berada dalam sebuah system yang dia sendiri tak berdaya untuk merubahnya.Betapa kekuatan dan distribusi kekuasaan begitu solidnya di negeri ini , sehingga seorang President terpilih langsung oleh rakyat tak berdaya apapun untuk sekedar meyakinkan rakyat tak jadi korban. Itu sebabnya , SBY tak bisa menyembunyikan kegalauan hatinya ketika berbicara tentang rencana kenaikan harga BBM.  Teman saya berkata bahwa ada hal yang sebagian public tidak paham dibalik kenaikan harga BBM ini. Tahukah kamu, pemerintah dalam system ekonomi saat ini , yang tercermin dalam bentuk APBN , jelas sekali tidak berkuasa atas barang/produksi yang dihasilkan dari sumber daya alam kita. Negara hanya berhak atas bagi hasil sesuai PSC ( product Sharing Contract ) dalam bentuk PNBP ( pendapatan Negara bukan pajak ). Pajak itu masuk dalam pos penerimaan Negara. Paham, kan.

Dan lagi, kata teman saya. Benat bahwa Pertamina  adalah milik Negara. Tapi dia adalah lembaga profit. Perlakuan pemerintah kepada Pertamina sama dengan perusahaan asing lainnya yang juga mendapatkan PSC sama dengan pertamina. Walau Pertamina punya tugas khusus sebagai penyangga logistic  BBM nasional namun posisinya tetaplah sebagai lembaga profit. Pertamina akan mendapatkan harga penjualan kepada public seharga international. Bila harga dalam negeri di bawah international maka Pemerintah ( lewat APBN ) harus menomboknya. Semakin tinggi selisih harga domestic dengan international semakin tinggi beban yang harus ditanggung APBN. Bukankah Pemerintah( BP Migas ) juga mendapatkan bagi hasil dari PSC. Bukankah Pemerintahpun mendapatkan bagi hasil itu sesuai harga interntional ? tanya saya. Benar. ! dan itu sudah masuk dalam pos penerimaan Negara. BIla sudah masuk pos penerimaan Negara pada APBN maka penggunaannya tidak langsung untuk cross subsidi BBM.

Walau Pemerintah mendapatkan bagi hasil dalam porsi ( 85%) lebih besar dari kontrator ( 15%) namun itu harus dikurangi terlebih dahulu biaya dan resiko yang dikeluarkan oleh pihak kontraktor. Mungkin biaya bisa diukur dengan tepat oleh para akuntan , tapi soal resiko ? ini tidak mudah.  Harap maklum ketika kontraktor bekerja berdasaarkan PSC , mereka menyabung resiko gagal yang begitu besar.  Mungkin  berkali kali mereka drill perut bumi barulah mendapatkan hasil. Nah seluruh beban resiko yang dialami kontraktor itu akan dibebankan kepada hasil produksi (lifting ) minyak  Kadang setelah sekian juta barrel lifting minyak dicapai, belum juga tercapai BEP. Selama itu pemerintah hanya menyaksikan minyak dikeruk dari perut bumi tanpa mendapatkan bagi hasil apapun. Kontraktor selalu punya alasan untuk memperpanjang jangka waktu BEP berdasarkan laporan yang diaudit lembaga independence bereputasi international.

Tapi bagaimanapun dengan kenaikan harga BBM , Pertamina diuntungkan. Kontraktor asing juga di untungkan. Dari keuntungan ini, kan pemerintah dapat pajak. Pemerintah juga dapat bagi hasil ( PNBP). Artinya penerimaan Negara juga semakin membesar. Tentu tidak ada masalah bila menambah pos Belanja Rutin pemerintah dalam bentuk Subsidi. Ya kan. Kata saya. Teman saya itu tersenyum. Kamu juga harus tahu bahwa ini semua berhubungan dengan APBN. Kenaikan harga minyak international mempengaruhi makro APBN,yang berhubungan dengan inflation rate, currency rate, economic growth, posisi hutang pemerintah dll. Semua itu saling mempengaruhi. Yang menjadi prioritas pemerintah adalah menjaga economic growth ( termasuk menjaga rating surat hutang). Karena ini berhubungan dengan dunia usaha ( termasuk investasi ) dan penyediaan lapangan kerja. Walau untuk  itu pemerintah harus mengurangi subsidi atau bahkan bisa saja suatu saat menghapus subsidi. 

Teman itu tersenyum namun nampak miris. Inilah harga sejarah bagi generasi kini, dan juga beban moral bagi SBY ketika berhadapan dengan realita. Kita berhasil melewati proses pergantian Rezim namun kita gagal memotong sejarah, memotong masa lalu.Kita terjebak dalam proses berkelanjutan bahwa kita perlu economic growth dan APBN perlu hutang , untuk itu  public harus bertanggung jawab membayarnya melalui kenaikan haga komoditas agar perusahaan ( private/BUMN) terus menghasilkan laba dan mampu mendatangkan pajak bagi penerimaan Negara. SBY bukanlah pribadi tapi SBY adalah lembaga yang menyatu dalams sebuah system dimana pasar adalah raja sesungguhnya Bukan SBY, bukan kita, bukan DPR. …Kalau kita menyalahkan SBY maka kita juga ikut bersalah karena membiarkan system ini terus berlanjut.

Lantas apa solusinya ? tanya saya. Teman ini berkata, hanya satu yaitu REVOLUSI.  Namun revolusi lewat kesadaran bahwa system harus dirubah total,  bukan karena provokasi sesaat yang pada gilirangnya hanya memberikan kesempatan pada segelintir orang untuk berkuasa dan melanjutkan proses penjajahan. Rubahlah system dan kembalilah kepada Agama berkata, budaya memakai. Bila  system tidak segera dirubah maka hanya butuh waktu revolusi sosial akan terjadi dengan sendirinya. Dendam dan amarah akan menyatu , maka yang terjadi  , terjadilah..

Friday, March 16, 2012

Tidak jauh dari kita...

Herawati (42)  menyayat urat nadi sebelah kirinya setelah sebelumnya dia membenamkan anaknya Andika berusia 4 tahun kedalam selokan. Demikian berita minggu lalu yang saya baca di Repubika. Menurut keterangan polisi bahwa motif bunuh diri karena factor kesulitan ekonomi. Ujungnya adalah kematian yang sia sia dan kita semua bersalah. Kita harus mengaku. Kita mungkin ikut membunuhnya, atau kita berdiri di kamar kita dengan dosa sejenis itu, karena kita sampai tak tahu bahwa ada ibu berumur 42 tahun yang begitu berputus asa hingga ia menghabisi nyawanya sendiri dan nyawa Andika , anaknya yang berumur 4 tahun, yang tak berdosa , tak mengerti mengapa dia terlahir ditengah kelam kedua orang tuanya. Kita bersalah karena kita sudah jarang menengok. Kita tak pernah ingat dan merasakan sebagian besar mereka yang berjuang dalam kelam.

Malapetaka itu tak dapat kita cegah, dan kita bersalah. Herawati dan Andika tak hidup di negeri yang jauh. Ia mati tak di tempat yang jauh. Kejadian itu, di Kampung Cigebar RT06/01 Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang. Sebenarnya terjangkau dari tempat saya. Juga terjangkau dari tempat Anda. Bojongsari  bukan di seberang lautan dan di balik benua. Kecamatan itu hanya beberapa puluh kilometer saja dari Cikeas Bogor atau Istana Negara. Tak jauh dari mereka yang  menikahkan anak di Convention Hall Jakarta, memberi kado istri dengan berlian 500 juta, menyogok rekanan dengan 3 miliar, menyumbangkan uang untuk mesjid sebesar 70 juta, naik haji ketiga kalinya seraya mentraktir 10 orang teman ke Mekkah, berjudi di Macau  sampai kalah USD 100.000 , atau hanya menyimpan uang beberapa miliar di bank seraya menunggui bunga sekian persen?. Daftar itu bisa diperpanjang. Dan bersama itu, kesalahan kita kian jelas.

Inilah daftarnya, meskipun tak lengkap: karena orang kaya, para tetangga berlebih  yang tak pernah mengulurkan bantuan ke rumah orang miskin, karena  President hanya memikirkan GNP dan statistic  , karena pejabat di executive, yudikative,legislative  yang menggerogoti APBN yang selalu difisit, karena wartawan-wartawan  yang menerima suap dari  penguasa  atau pejabat dan sebab itu lalai untuk menceritakan putus asa di kekumuhan itu kepada publik, juga karena para wakil rakyat yang setelah beranjangsana ke luar negeri dengan uang ribuan dolar, tak menegur kepala daerah yang tak banyak berbuat. Kita  tambah bersalah bila kita tak tahu itu. Apalagi berpura-pura tidak tahu bahwa kenaikan harga BBM akan membuat simiskin semakin lemah untuk menjangkau kebutuhannya.

Anda  akan berkata, tentu, “Ah, apa hubungan dengan saya!” Anda akan bertanya kenapa anda  disangkutkan ke dalam “salah”. Maaf, beribu-ribu maaf. Saya punya bahasa yang kasar kali ini: jika kita tidak tahu, jika kita tidak merasa bersalah karena kematian di Bojongsari  itu, jika kita merasa tak berurusan dengan  Herawati dan Andika  yang putus asa, itu berarti kita dungu atau tak punya hati. Anda  tahu bahwa sebuah kota, sebuah negeri, bukanlah tempat yang selama-lamanya longgar, dengan kekayaan yang berlimpah-ruah. Tak ada bagian dunia yang bebas dari kelangkaan dan kekurangan; itulah sebabnya ekonomi terjadi: orang berproduksi terus, tukar-menukar tak henti-henti. Dan jika kita berbicara tentang Indonesia, kita akan lebih tahu apa artinya kelangkaan dan kekurangan itu. Bahkan kita akan tahu apa yang ada di baliknya: kekayaan yang begitu timpang, kesempatan yang begitu selisih. Dari sini  anda tahu apa yang menyebabkan seorang ibu putus asa dalam kemiskinan.

Mereka itu yang benar mengalami: kota begini sempit. Tiap jengkal yang kita miliki berarti tiap jengkal yang tak dimiliki orang lain. Saya kira itulah yang traumatis dalam sebuah masyarakat–apalagi masyarakat ini. Ada seorang yang mengatakan bahwa pada saat seseorang memaklumkan, “Inilah tempatku di bawah cahaya matahari,” itulah bermula perebutan tak sah seluruh muka bumi. “Kematian orang lain memanggilku untuk ditanyai,” kata Emannuel Levinas, “seakan-akan, karena sikap acuh tak acuh yang mungkin aku ambil kelak, aku bersekongkol dengan kematian yang dihadapkan kepada orang lain, kematian yang tak dapat diketahuinya.

Kita bersalah, tapi harus saya tambahkan memang kesalahan kita lebih besar ketimbang  para mahasiswa muda belia walau tak mampu memberi namun tak henti berteriak didepan penguasa ,  berkata lantang tentang  keadilan untuk mereka yang miskin. Mereka tahu apa dibalik kemiskinan bahwa KORUPSI harus dihentikan. Mereka lebih tahu ketimbang para ulama yang hidup nyaman dikawasan real estate dan tak mau datang berceramah tanpa dibayar. Mereka lebih baik ketimbang kita yang hanya sibuk berdiskusi dicafe sambil berbisik bisik. Mereka lebih baik dari kita walau mereka tetap kalah dan dikalahkan oleh penguasa yang zholim.  Namun suara mereka , memaksa kita untuk tidak pura pura tidak tahu, mengingatkan kita tentang apa yang disebut oleh Allah dalam Surat Al Maun tentang pendusta agama, juga mengingatkan penguasa yang inkar akan amanat UUD 45 pasal 34.

Herawati dan Andika , telah tiada menambah daftar panjang korban akibat kemiskinan. Hari-hari yang sudah cacat, memang. Herawati dan Andika memang bukan siapa siapa sampai kita mencintainya, mereka  juga bukan siapa siapa sampai kita peduli.  Tapi apa hendak dikata, kenaikan harga BBM akan memicu kenaikan harga sembilan bahan pokok, tentu bertambah  banyak yang akan senasip dengan Herawati dan Andika , mereka miskin harta juga miskin cinta  dari kita , dari pemimpin yang culas dan korup.

Wednesday, March 07, 2012

Merubah attitude

Ketika dalam perjalanan pulang, sahabat saya menelphone untuk bertemu dengan saya. Kebetulan dia usai menghadiri pertemuan Venture Capital. Excellence is not a skill. It is an attitude, katanya mengawali ketika kami berdialogh. Saya dapat pahami karena keberhasilannya sebagai CEO venture capital berkelas dunia berkat kemampuannya membangun hubungan dengan mitranya lewat sikap mental yang positip. Menurutnya semua orang ketika melihat uang , dia bisa berubah menjadi apa saja agar dapat meraih uang. Lembaga Venture Capital dipandang sebagai lembaga charity yang bisa membuat impian mereka menjadi kenyataan. Karena assessment projet berbeda dengan perbankan. Namun yang paling menentukan dalam business venture bukanlah technology yang dibawa, skill dari pemrakarsa yang hebat tapi ditentukan oleh attitude dari pemrakarsa  Bagaimana mengetahui attitude mereka itu ? tanya saya. Jangan biarkan kita menguasai pembicaraan. Jadilah pendengar yang baik pada setiap pertanyaan yang diajukan.. Dari dialogh informal ini, kita akan dapat mengetahui dengan pasti attitude calon venture itu. Sikap patience, sinceriry , eternity , passion , humble  akan tergambar dengan jelas.

Lantas bagaimana cara efektif untuk mempunyai attitude positive. Tanya saya. Menurutnya bila kita tidak menginginkan sesuatu maka rubahlah. Namun bila kita tidak bisa merubahnya maka rubahlah diri kita sendiri. Cara merubah diri kita yang paling efektif adalah mulailah mendoakan orang lain , siapapun dia. Ketika kita berdoa kita sedang berada pada puncak spiritual tertinggi. Suatu keyakinan akan kekuatan diluar diri kita namun tak jauh dari diri kita sendiri. DIA-lah Tuhan Yang Maha Agung. Doa adalah prosesi ketika kita sedang berdialogh dengan pemilik cinta dan pencipta Cinta.Saya tertegun dengan kata katanya. Dimana dia mempunyai kiat dengan cara berdoa untuk orang lain.When you pray for anyone you tend to modify your personal attitude toward him.

Seusai sholat saya berusaha berdoa, kata saya. Doa pertama saya teruntuk Rasul , para sahabatnya serta keluarganya. Terbayang akan segala kemulian Rasul dan keagungannya dalam menyampaikan risalah Allah. Rasa terimakasih terucapkan dan kerinduanpun datang. Kemudian, doa saya panjatkan untuk kedua orang tua, Tak ada yang terbayang kecuali pengorbanan agung kedua manusia terbaik setelah Rasul, yang berkorban tanpa syarat untuk anak manusia yang diamanahkan kepadanya. Rasa terimakasih tak bertepi membuncah dan berharap Allah memberikan rahmat sebaik baiknya untuk kedua orang tua saya. Kemudian ,  untuk istri dan anak anak saya. Terbayang akan tanggung jawab yang begitu besar dibebankan Allah kepada saya, sebagai suami, ayah. Pada moment ini saya takut lalai dari tanggung jawab. Berusaha untuk mengingat kesalahan saya dan berusaha mencari kebijakan terhadap segala sikap istri dan anak anak saya. Demikian doa terlantunkan.

Setelah itu, saya akan mengingat orang orang terdekat saya, Mereka adalah sahabat , sanak family yang dekat maupun jauh.  Tak mungkin disebut satu satu. Namun entah kenapa ketika doa terpanjatkan, sekelebat terbayang tentang sahabat yang mungkin membuat saya kecewa atau membuat saya kagum. Yang membuat saya kecewa, saya berdoa agar dia berubah dan sayapun memohon kekuatan dari Allah agar saya juga bisa bersikap bijak atas kekecewaan yang saya rasakan. Bila kagum yang datang , doa saya agar dia tetap sehat dan dimudahkan rezekinya, juga berharap saya dapat hikmah dari kehadirannya dekat saya. Ada juga sanak family yang lama tak bersua, seketika teringat begitu saja ketika berdoa. Sayapun mendoakan agar dia sehat serta dalam lindungan Allah. Dalam doa itu membuat saya merasakan kerinduan untuk bersua dengannya dalam jalinan kekeluargaan untuk saling menyapa dan memperhatikan. 

Tak lupa saya mendoakan bangsa dan negara saya namun yang terbayang adalah sejauh apa yang telah saya perbuat untuk bangsa dan negara saya, kepada kaum mulismin dan muslimat. Doa ini menggiring saya untuk rendah dihadapan Allah dan malu berkeluh kesah karena kebobrokan aparat negara. Saya hanya inginkan agar saya bisa berbuat untuk  negara dan bangsa, berharap kesempatan berbuat lebih karena itu. Dalam doa juga saya tentu berharap agar Allah memudahkan segala urusan saya. Namun ketika doa tersebutkan, yang terbayang adalah bagaimana sikap saya yang belum bijak melihat persoalan.Belum bisa bersikap jujur dengan keadaan saya. Belum bisa sabar dengan waktu.  Maka ada rasa malu kepada Allah mengharapkan keajaiban kecuali berharap agar Allah menunjukan jalan yang lurus dan tetap memberikan kekuatan saya untuk istiqamah dijalan yang benar. Berharap agar saya kuat ketika lemah,  saya istiqamah kita ragu, saya ikhlas dengan waktu dan situasi. Akhirnya tak ada lagi doa yang lebih baik kecuali berharap agar Allah memberikan kesalamatan dunia maupun akhirat. Apapun yang terjadi , terjadilah selagi itu dalam bimbingan Allah, dalam ridho Allah.

Teman itu tersenyum menatap saya. Benarlah adanya. Demikian katanya. Bahwa ketika kita berdoa kepada Tuhan sebetulnya bukanlah komunikasi satu arah tapi komunikasi dua arah antara kita dengan Tuhan. Tuhan hadir dalam diri kita. Ketika kita memohon kepada Tuhan pada waktu bersamaan Tuhanpun mengingatkan kita tentang kelemahan kita, kelalaian kita, kesombongan kita, ketidak jujuran kita, kemalasan kita, kerakusan kita, kebodohan kita, kekikiran kita, Tanpa disadari proses doa itu adalah ajang intropeksi kita dihadapan Tuhan untuk mengingatkan kita agar  berubah menjadi sempurna. Ya bila doa dilakukan setiap hari , setiap hari kita sedang mengadili diri kita sendiri. Secara kejiwaan kita cenderung untuk berjuang , untuk berubah lebih baik maka tentu doa permohonan itu akan terkabulkan dengan sendirinya sebagai sebuah sunattullah.

Friday, March 02, 2012

Kejujuran

Prinsip kepemimpinan itu adalah kejujuran. Kata teman saya. Menurutnya ada keteladanan agung dari Muhammad SAW, Rasul Allah. Sebelum  beliau diangkat sebagai Rasul pada usia 40 tahun, terlebih dahulu beliau sudah digelari oleh kaumnya sebagai Al-Amin. Artinya orang yang bisa dipercaya dan selalu menjaga amanah. BIla orang jujur maka dia akan amanah. Bila dia amanah maka hanya kebenaran yang keluar darinya. Bila kebenaran yang tampak maka hanya kebaikan yang akan ditebar kepada orang sekitarnya. Otomatis keadilan akan tegak. Itu true leader. Allah mengajarkan kita bagaimana memilih pemimpin. Sebagaimana nasihat dari Iman Besar Ja’far Ash-Shadiq bahwa Janganlah engkau melihat kualitas diri seseorang itu dari panjang rukuk dan sujudnya, tetapi lihatlah dari kejujuran dan kesetiaan dalam menjalankan amanah. Rasul memiliki qualifikasi itu semua sebagai pemimpin umat. Ini teladan kita.

Demikian pentingnya makna kejujuran dan amanah bagi seorang pemimpin. Keberadaannya bersanding erat dengan kedudukan para Nabi, syuhada, orang shaleh. Mereka yang diberi amanah oleh orang banyak sebagai pemimpin entah itu yang berada di executive, legislative, yudicative, pada diri mereka harus melekat erat sifat shadiqin. Bila mereka bersikap seperti itu maka inilah sabda Rasul “ Nanti yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah kalian yang paling jujur dalam berbicara, paling setia dalam menjalankan amanah, paling menepati janji, paling bagus akhlaknya, dan paling khidmat kepada manusia” Ya,seharusnya , siapapun kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin juga seharusnya memiliki sifat shadiqin. Demikian kata teman itu. Saya terhenyak.

Bagaimana dengan anggota dewan yang juga petiggi partai dengan santainya bicara dihadapan hakim tentang kenyataan yang diingkarinya. Apakah hakim menerima kesaksiannya diketahui oleh public adalah dusta ataukah hakim akan menolaknya ? kita tidak tahu. Yang pasti, dihadapan public ada tontonan secara vulgar tentang kebohongan dan itu terjadi dilembaga dimana keadilan akan ditegakkan. Keliatannya teman itu malas membahas apa yang sedang terjadi. Mengapa ? menurutnya anggota dewan adalah orang yang kita pilih dan mereka bagian dari system kepemimpinan negeri ini. Mereka tidak jujur karena ketika kita memilihnya juga kita tidak jujur dengan hati nurani kita.  Kita lebih tertarik dengan pencitraan dan iklan tanpa kita memperhatikan rekam jejak calon pemimpin itu. Disamping itu kita lupa bahwa pemimpin itu tidak hanya berbekal skill dan titel kesarjanaan saja tapi juga akhlak. Akhlak yang paling utama bagi seorang pemimpin adalah kejujuran.

Saya bingung karena dia nampak ingin membela anggota dewan yang terkesan melakukan kebohongan public dihadapan hakim. Mengapa ? Dia mengatakan bahwa inilah letak persoalan bangsa kita. Hanya pandai marah dan kecewa tanpa sadar mereka juga bagian dari kesalahan itu. Harusnya semakin terungkap kebohongan demi kebohongan para pemimpin semakin kita sadar akan perlunya akhlak Islam. Akibat kebohongan para pemimpin memang telah terjadi kezoliman secara sistematis dalam bentuk korupsi yang tak mudah dibasmi. Korupsi adalah efek dari ketidak jujuran para pemimpin. Efek dari tidak adanya rasa tanggung jawab akan amanah. Menurutnya, ini penyakit sosial akibat masyarakat yang sakit. Kalau ingin perubahan maka mulailah bersikap jujur kepada lingkungan keluarga terdekat, kemudian kepada sahabat, handai tolan serta masyarakat. Be true to your work, your word, your friend.

Diakhir dialogh, teman itu berkata ,
 mari renungkan hadith ini ,"Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari kiamat!” Apa yang dimaksud dengan mensia-siakan amanah.  Rasulullah bersabda,"Apabila suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari kiamat!" So, jadi menurutnya, bila kita inginkan amanah itu diberikan kepada orang yang tepat maka pilihlah  dia karena keahliannya. Ahli disini bukan hanya dimaksud dengan skill atau knowledge tapi ahli ibadah, dimana kejujuran dan amanah terbukti menyatu dalam kata dan perbuatan. Salah memilih maka kita juga ikut bertanggung jawab terhadap pilihan kita. Masyarakat yang baik akan melahirkan pemimpin yang baik. Pemimpin yang baik akan memakmurkan masyarakat, membawa yang salah kepada kebenaran, membawa  yang gelap kepada terang benderang.

Ya, semua kembali kepada diri kita sendiri.Bisahkan kita bersikap jujur dan amanah. Bila ini menjadi budaya maka tentu pemimpin yang jujur dan amanah akan datang dengan sendirinya.

Thursday, March 01, 2012

Konsep memberi ?

Anda boleh bicara apa saja soal program pembangunan , termasuk idealism anda tapi tidak ada artinya dihadapan rakyat. Pada akhirnya yang dihormati rakyat adalah siapa yang bisa member mereka uang disaat mereka sangat membutuhkannya. Itulah kata kunci kalau ingin menjadi pemenang dalam putaran pemilu atau pilkada. Sebagai orang lapangan, saya tahu précis berapa harga per kapala pemilik disetiap daerah. Dari situlah anggaran kampanye dibuat dan akhirnya menjadikan rakyat seperti kerbau di tusuk hidupnya ketika berada dibilik suara. Kira kira seperti itu kata teman saya yang juga salah satu Pimpinan Partai. Saya sempat tersentak dengan kata katanya. Karena ini ungkapkan jujur dari politisi lapangan yang tahu précis bagaimana menjadi pemenang. Itulah sebabnya tokoh agama tidak laku dijual, pencipta socialism tidak laku dijual, pendukung pancasila tidak laku dijual. Ini era semua ada harga dan instant.

Namun saya tidak akan membahas soal politik. Saya ingin membahas dari perspektif “ memberi”. Saya tidak tahu apakah ini hanya berlaku di Indonesia. Yang pasti , orang Indonesia, siapapun dia, akan mudah sekali larut dalam emosinya ketika ada orang lain datang memberinya. Serta merta orang yang memberi itu akan dianggapnya sebagai dewa penolong. Dia akan dipuji dan dilupakan semua kesalahannya. Bahkan  pihak pemberi akan didengar apa katanya dan dihormati secara berlebihan. Seperti bila ada sengketa maka  perdamaian diaktualkan dalam bentuk pemberian. Urusan selesai. Para pejabat tidak bisa bersikap tegas bila ada pengusaha yang begitu royal memberi. Tak ada sedikitpun curiga bahwa pengusaha itu akan memanfaatkannya. Ketika dia menerima pemberian maka secara otomatis sebagian jiwanya sudah tergadaikan kepada pihak pemberi.

Tanpa disadari sikap memberi tidak lagi melulu didasarkan oleh keikhlasan tanpa kondisi. Memberi sudah menjadi seni tersendiri untuk menguasai situasi. Bagi pengusaha , memberi dan melayani sepuh hati keinginan pejabat adalah seni untuk membeli jiwa pejabat. Ini disebut suap dan korupsi. Para politisi memberi uang receh kepada rakyat adalah seni untuk mendapatkan suara. Ini disebut money politic.. Para pria memberikan hadiah kepada wanita sebagai seni menguasai wanita, ini disebut pelacuran. Bahkan dalam dakwah sebagian ustandz menjadikan pemberian pengetahuan agama sebagai seni  mendapatkan uang dan terkenal layaknya selebritis. Ini disebut menjual ayat Allah. Ya seni memberi sudah menjadi budaya akhir zaman. Semuanya berujung pada satu philosophy, “ nothing to free lunch. Tidak ada yang gratis. Tentu pasti tidak ada yang disebut dengan ikhlas.

Ini seni capitalism! Memberi pun menjadi bagian dari seni berkompetisi. Ketika orang memberi, tidak membuat dirinya bahagia tapi justru membuat dia cemas. Cemas karena takut pemberiannya tidak menghasilkan apa yang diharapkannya. Pengusaha merasa cemas ketika memberi karena takut pemberiannya kalah besar dibandingkan pengusaha lain yang ingin menguasai pejabat itu. Politisi mereka kawatir ketika memberikan bantuan langsung kepada rakyat karena kawatir pesaingnya dari partai lain memberi lebih dari itu. Akibatnya, maka memberi bukan hanya menjadi sebuah seni tapi juga menjadi sebuah kalkulasi. Ketika ia menjadi sebuah kalkulasi maka strategi dan taktik juga di gelar. Pada moment ini, kepentingan yang diberi tidak lagi dilihat tapi kepentingan pemberi diatas segala galanya.

Jangan kaget bila pada akhirnya sesama pemberi bekerja sama untuk menjadikan sang diberi sebagai pencundang.  Mengapa ? hokum capitalism mengenal apa yang disebut dengan berkorban sekecil kecilnya dengan manfaat sebesar besarnya. Semakin kuat jalinan kerjasama antar sesama pemberi semakin kuat daya cangkramnya kepada pihak yang diberi. Memang dahysat sekali pengaruh buruk akibat memberi tidak ikhlas. Karena pemberian ini tak ubahnya senjata tajam dalam bentuk intimidasi mental kepada mereka yang membutuhkan uang. Bagi pejabat kebutuhan uang karena keinginan yang tak terpuaskan. Bagi rakyat kecil, kebutuhan uang karena tuntutan kebutuhan dasar untuk hidup. Namun keduanya terjebak oleh situasi dan kondisi akan keinginan atau kebutuhan.

Itulah sebabnya Allah menggaris bawahi konsep memberi atas dasar keikhlasan. ”Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat. Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.” (Al-Baqarah [2]: 265). Ikhlas berarti tanpa syarat kecuali mengharapkan keridhoan Allah. Keikhlasan itu hanya dapat dirasakan nikmatnya oleh manusia itu sendiri. Karena ini merupakan hubungan batin antara manusia dengan Tuhannya. Ia kuat teramat kuat tanpa bergantung apapun karena dia dekat kepada Allah dan cinta akan Allah. Orang yang ikhlas memberi, dia akan sehat lahir batin. Adakah nikmat lebih hebat didunia ini selain sehat lahir dan batin ? 

Tidak bisa bersyukur..

  Ketika masuk cafe saya lihat Yuni, Esther, Wenny duduk di table yang sama. Saya temui mereka. Bicara sebentar. Saya keluar cafe untuk mero...