Friday, March 28, 2008

Pilihan..

Sekarang ini , sebagian orang , dengan kegerahan dan kemarahan , suatu kombinasi yang wajar di negara yang tidak berdaya menyelesaikan masalah keseharian rakyat, berkata ‘ revolusi sudah dekat.. Ada pertanda, mereka yakin.

Saya dapat memakluminya karena memang begitu adanya. Tapi bukan berdasarkan kegerahan dan kemarahan. Sederhananya, karena begitu berat dan parah yang dihadapi oleh rakyat akibat system yang tidak memberikan kepastian. Negeri ini sakit dan semua bicara tentang menghilangkan rasa sakit tanpa bicara tentang penyebab rasa sakit. Makanya obat pembunuh rasa sakit dalam dosis yang kuat diterapkan walau itu menguras kas APBN. Sementara sakit dan penyakit yang diakibatkan oleh virus didalam tubuh akan terus tumbuh menjadi koloni sampai akhirnya menguasai seluruh tubuh dan mati. Inilah proses yang terus berlangsung..

Dalam situasi ini, rezim harus memperlihatkan niatnya yang sungguh sungguh untuk memecahkan masalah. Tapi hal itu sama sekali tidak terlihat. Lebih lebih lagi pada periode mendekati Pemilu, tak kala semua anggota kabinet yang orang partai sibuk menghabiskan waktu dan peluangnya untuk raising fund sebagai modal bertarung di pemilu mendatang. Bila sudah begini maka rakyat yang lapar , terkena bencana, tidak akan mendapatkan perhatian. Di forum politik yang diperdebatkan hanyalah masalah RUU Pemilu yang digugat ke Mahkamah Konstitusi , Calon Gubernur BI , wakil Menlu, Pilkada, Pemekarang wilayah , dll.

Ditengah situasi dimana perasaan dasar akan keadilan sosial kurang diperhatikan, semuanya bisa sangat mudah meledak, elite politik negeri ini tidak punya reputasi lagi dengani janjinya. Padahal setelah reformasi kekuatan dan reputasi rakyat terangkat sebagai bangsa yang berani melakukan perubahan tapi justru kekuatan dan reputasi elite politik dari tahun ketahun semakin anjlok sampai pada titik kolong rumah. Itulah mimpi buruk yang hanya menunggu waktu saja untuk menjadi nyata.

Lantas siapakah kelak yang akan tampil setelah rezim demokrasi culas ini tumbang karena revolusi sosial ? Gerombolan Tiran yang menjadi ciri rezim ini, mengajak kita berpikir bahwa amandaemen UUD 45 akan langsung dibuang ke keranjang sampah sejarah. Suatu struktur yang dibuat oleh para pendiri negara ini akan mendapat tempat kembali. Para politisi diharamkan bicara terus kecuali menggerakan mesin partainya untuk menggalang massa berpartisipasi menjalankan kebijakan pemerintah. Tidak boleh ada lagi jual beli pasal UU di DPR , tidak boleh ada lagi voting,. Semua partai boleh bicara di DPR dengan visi yang sama dan berbedat untuk mempertajam visi kebangsaan , bukan untuk saling menjatuhkan.

President haruslah menjadi suatu lembaga yang tak tertandingi selama masa kekuasaannya dan harus siap mempertanggung jawabkan kekuasaannya menjelang akhir masa jabatannya. Tapi saya kawatir akan muncul kembali single power seperti Soehato yang dicreate oleh elite untuk berlindung dari kesalahan dan kebobrokan. Kita miskin calon pemimpin yang sesuai dengan amanah UUD 45 dan Pancasila. Dimana amanah besar harulah dipegang oleh orang yang punya nurani besar dan jiwa besa menghadapi tantangan ditengah peradaban dunia yang carut marut.

Lantas apa jadinya bila revolusi tidak terjadi ? Jawabannya adalah kemungkinan besar adalah munculnya kelompok muda yang memiliki bakat kepemimpinan dan keahlian untuk bergabung dalam komunitas tersendiri melawan system yang ada. Mereka membangun system sendiri didalam system ,lepas dari system negara. Hal ini diyakini oleh mereka agar terhindar dari kebodohan dan mati karena itu. Mereka tidak hanya diam. Slogan mereka adalah ” jangan hanya mengutuk kegegelapan, mari nyalakan lilin". Mereka juga tahu bahwa pekerjaan menyalakan lilin akan makan waktu lama untuk memberikan dampak nyata . Mereka ingin menciptakan gerakan politik yang sesungguhnya dan mereka siap menanggung resikonya. Mereka siap membangun jaringan dan menciptakan basis yang luas untuk cita cita mereka. Karena informasi yang tanpa batas , mendidik mereka untuk mencontoh yang baik dinegeri orang lain dan belajar dari kesalahan orang lain.

Maka mereka mendidik dirinya sendiri dalam keterampilan negosiasi, mencoba menjangkau rakyat lewat berbagai program kemandirian yang berbasis agama dan professi serta kegiatan bisnis. Mereka akan tampil sebagai kelompok yang tidak mermpermasalahkan perbedaan agama dan ras. Keseharian mereka jauh dari simbol simbol kekuasaan modern dalam bentuk jas, rumah mewah, mobil mewah. Mereka sama dengan komunitasnya dan akrab lahir batin. Siapakah mereka ini ? Mereka adalah anak anak muda cemerlang yang lahir dari rakyat jelata dari kelas bawah. Mereka akrab dengan komunitasnya. Paham betul mengelola kebutuhan rakyat lewat pengalaman tempaan spiritualnya tanpa terpengaruh oleh buku buku teks dari Barat.

Tentu saja, setiap orang tahu bahwa perjalanan masih sangat jauh sebelum mereka akhirnya sukses. Mungkin mereka gagal. Namun mereka telah membangkitkan harapan.. Seperti apa yang dikatakan oleh Lu Xun, penulis China ” harapan adalah seperti jalan didaerah pedalaman, pada awalnya tidak ada jalan setapak, semacam itu, namun banyak orang berjalan diatasnya, jalan itu tercipta...
Salam untuk teman-teman seperjuangan
In God we trust.

Wednesday, March 26, 2008

Kekuasaan

Bencana banjir terjadi di Pantura. Tak sedikit lahan tempat petani menggantungkan hidup sehari hari hari tergenang air. Jalanan yang rusak akibat banjir, tanah longsor telah membuat antrian angkutan terust terjadi sehari sehari. Akibatnya arus logistic kebutuhan rakyat semakin mahal ongkosnya dan juga hasil produksinya merekapun semakin sulit untuk diangkut kepasar. Dua hal sebagai sumber akses mereka untuk menggerakan ekonominya telah luluh lantak akibat bencana ini, Apabila pemerintah pusat tidak bertidak cepat mengatasi sebab dan akibat banjir ini maka dapat dipastikan wilayah yang sudah minus ini akan semakin terpuruk ekonominya. Deretan orang miskin akan semakin bertambah dan bertambah. Suatu situasi yang mengerikan disamping bencara Lapindo, yang sampai kini belum tuntas diselesaikan.

Negeri ini mempunyai deretan masalah social yang sangat panjang dan semuanya disebabkan oleh ketidak berdayaan institusi negara menggunakan kekuasaannya untuk tujuan berdirinya negara. Padahal dengan kekuasaan yang melekat pada negara maka tidak ada alasan apapun bagi pemerintah sebagai lembaga mewakili negara untuk berkelit dari segala persoalan yang berhubungan dengan kedilan social. Dalam telaah kekuasaan, memang ada tiga jenis kekuasaan yang diterapkan oleh institusi negara untuk mengelola kekuasaannya demi tercapainya fungsi dan tujuan berdirinya negara. Diantaranya adalah Hard Power ( Kekuasaan keras ), Soft power ( Kekuasaan lembut ) , Smart Power ( Kekuasan cerdas).

Hard Power atau kekuasaan yang dikelola dengan mengandalkan pada kekuatan militer dan intelligent untuk menjalankan semua kebijakan negara dalam rangka mencapai tujuan politiknya. Hal ini biasanya disebut rezim otoriter. China, Rusia dan belahan negara social komunis lainnya adalah contoh. Semua resource di sector produksi dan distribusi dikuasai oleh negara untuk menjamin kebutuhan rakyat akan pangan, sandang, papan.

Soft Power atau kekuasaan dikelola dengan memberikan dukungan social langsung maupun tidak langsung untuk menjaga loyalitas masyarakat terhadap kekuasaan negara. Dalam model kekuasaan ini sebagian besar resource negara tetap dikuasai oleh negara dan sebagian diserahkan kepada rakyat. Untuk menjaga keseimbangan pendistribusian kepada rakyat yang lemah maka berbagai kebijakan negara tercermin dalam bentuk subsidi pangan, produksi dan lain lain. Soft power tidak mengenal liberalisasi pasar dan politik. Demokrasi dipimpin dan dikendalikan oleh negara. Hak politik diatur. Hal ini pernah dilakukan oleh Soeharto ketika rezim Orde Baru.

Smart Power atau kekuasaan yang dikelola dengan membangun system keterlibatan active masyarakat untuk memacu produksi dan memanfaatkan resource yang tersedia. Kompetisi diciptakan untuk menghasilkan efisiensi. Semua kegiataan ekonomi dan social, budaya diarahkan secara systematis untuk memberdayakan masyarakat mandiri dan selanjutnya sebagai motor untuk mendukung pembelanjaan negara melalui pajak. Model kekuasaan ini menjamin transfarance system , keadilan/fair play, law enforcement Dalam system ini negara menjaga keseimbangan supply and demand melalui kebijakan fical dan meneter secara terpadu. Hal ini dicontohkan oleh Jepang, Korea, Taiwan, Singapore, Eropa.

Dinegeri ini , keadaan kekuasaan tidak jelas, hard power diharamkan. Soft power tidak diterapkan karena terjebak dengan globalisasi dan kapitalisme. Smart power , jauh panggang dari api karena tidak adanya pra kondisi yang menjamin law enforcement, fair play, transfarance /clean government Sampai sekarang system dibangun hanya menciptakan pertarungan politik diatas ketidak jelasan model kekuasaan. Akibatnya sehari hari komplik elite politk hanya bersuara tentang bargain position antar institusi negara. Tidak ada komplik yang bersumber karena konsep menyelesaikan kasus banjir, lapindo, harga kebutuhan pokok yang melambung, pemban gunan insfrastucture yang lambat.

Bila situasi ini terus berlangsung maka keberadaan rakyat sebagai legitimate negara akan lepas dari orbit kekuasaan. Lambat atau cepat ,akan muncul kekuatan diluar kekuasaan negara. Kalau kekuatan ini bersifat positip maka dia akan menjadi koreksi dari ketidak jelasan system kekuasaan. Seperti komunitas yahudi di Eropa yang terjepit dan akhirnya melahirkan komunitas eklusive disektor keuangan.Tapi kalau kekuatan ini bersifat negative maka dia akan menjadi amuk masa dalam bentuk revolusi sosial. Semua hanya masalah waktu , yang pasti terjadi apalagi dengan semakin bertambahnya komunitas miskin ditengah ketidak berdayaan negara menghadapi globalisi sektor pedagangan. Semua tergantung para elite politik. Apakah mereka dapat menyadari situasi yang sedang berkembang untuk kembali dengan amanahnya membela rakyat ataukah tetap saja aji mumpung memanfaatkan kekuasaan untuk memperkaya diri...

Monday, March 10, 2008

Peluang dan ancaman

Menurut analis pasar , harga minyak mentah akan mencapai USD 130 per barel. Tentu ini akan berpengaruh terhadap semakin tingginya permintaan akan produk alternative pengganti minyak, seperti jagung, CPO, Cassava, tebu.. Food for oil akan membuat produk pangan semakin mahal. Lebih daripada itu, semakin banyaknya lahan untuk produksi pangan dialihkan kepada jenis tanaman food for oil. Ini sudah dibuktikan dimana 15% lahan kedelai dan gandum di AS dialihkan ke Jagung. Didalam negeri kita sudah merasakan dampak yang sangat memilukan betapa rakyat menjerit dengan kenaikan harga kebutuhan pokok, seperti minyak goring, kedelai, gandum. Juga pengusaha peternak pun sudah mulai stress karena harga pakan ternak yang berasal dari jagung dan cassava pun ikut melambung. Kebijakan subsidi langsung yang dilakukan pemerintah untuk membantu rakyat kecil mendapatkan produk pangan, tidak menyelesaikan masalah mendasar.

Globalisasi sekarang ,yang dimotori oleh kerakusan system kapitalis telah sampai pada puncak kerakusannya. Kalau dulu , mesin industri digerakan oleh bahan bakar yang berasal dari fosil , yang tidak ada pengaruhnya terhadap kebutuhan dasar hidup orang banyak , tapi kini mesin industri tidak mampu lagi berproduksi dengan bahan bakar dari fosil karena sumbernya terbatas , harga yang semakin mahal dan juga berpengaruh terhadap lingkungan hidup. Pilihan terhadap tanaman pangan sebagai energy alternative adalah keharusan secara hokum ekonomi. Masalahnya adalah apakah lahan bumi mampu menyediakan bahan energy untuk memenuhi kerakusan mesin industri yang terus tumbuh dari tahun ketahun ? Kalaupun mampu bagaimana dengan kebutuhan pangan dunia yang juga terus tumbuh dari tahun ke tahun. Akankah tercipta keseimbangan antara kebutuhan pangan dan energy ?

Masalah energy alternative ini bukan masalah sederhana , khususnya bagi Indonesia yang masih sangat renta dengan ketahanan pangan. Bila hukum ekonomi pasar terbuka yang dijadikan acuan maka kumpulan rakyat miskin akan semakin menderita dengan kenaikan harga pangan karena harus berkompetisi dengan kenaikan harga food for oil. Tapi menghindari tuntutan pasar global pun , tidak mungkin karena negara butuh devisa untuk memenuhi kebutuhan barang modal yang belum bisa diproduksi dalam negeri. Maka kenaikan harga minyak mentah dunia dan semakin besarnya tuntutan kebutuhan energy alternative non fosil ini, haruslah dijadikan momentum untuk menerapkan strategy jitu bagi kemakmuran bangsa.

Lambat namun pasti , Indonesia akan didatangi oleh pemilik modal transnasional untuk melahap semua lahan agraris kita. Apalagi UU Penanaman Modal dan Perpres sudah mengizinkan asing masuk kesektor ini secara bebas.. Terbukti sekarang emiten yang bergerak dibidang perkebunan kalapa sawit , harga sahamnya terus naik dibursa efek Jakarta. Ini adalah peluang tapi juga ancaman terhadap ketahanan pangan dan kesejahteraan rakyat.. Karena para investor tersebut datang bukan untuk memenuhi kebutuhan pangan tapi untuk kebutuhan energy alternative mesin industrinya. Sama saja dengan penjajah belanda dulu yang datang dengan modal dan kekuatan membangun perkebunan.

Cara yang mungkin adalah meningkatkan semua pajak eksport produk pertanian yang berhubungan dengan food for oil.Kenaikan pajak itu ,jangan diukur berdasarkan kepatutan international. Jangan. Tapi diukur berdasarkan kebutuhan untuk mendukung program ketahanan pangan nasional dan kemandirian.. Bila mungkin, pemerintah membentuk satu BUMN yang bertugas untuk mengelola dana pajak ini dengan focus kepada program ketahanan pangan nasional dan memberdayakan masyarakat petani untuk tampil mandiri memanfaatkan peluang ini atau bersinergy degan investor asing. Kita harus meniru China dalam memanfaatkan kelebihan potensi SDM murah untuk kepentingan mesin industri asing namun mereka cerdas dengan tidak mengizinkan dana investasi yang sudah masuk dikirim lagi keluar. Mau tidak mau, modal tersebut harus terus berkembang untuk kepentingan nasional dan pada akhirnya negara mendulang pajak tanpa batas untuk digunakan bagi program peningkatan SDM dan kemandirian industri china terhadap asing dan sekaligus memukul asing didalam negeri sendiri.

Bagaimanapun masa depan bukanlah hal yang menakutkan dengan segala ancaman kenaikan harga. Ini adalah peluang ditengah keterpurukan bangsa indonesia yang diasingkan oleh modal Alam selalu menciptakan keseimbangan. Hukum alam bekerja dengan systematis. Tidak mungkin negara kaya akan terus kaya dengan kelebihan system yang mereka bangun. Lambat atau cepat , mereka harus berbagi dengan apa yang selama ini mereka dapat dari keterbatasan negara miskin. Namun, semua tergantung sikap kita memanfaatkan peluang sebagai akibat proses hukum alam tentang keseimbangan tersebut. Yang pasti kebutuhan energy alternative food for oil adalah peluang yang kesekian kalinya bagi Indonesia untuk mencapai kemakmuran. Semoga peluang ini tidak mubazir seperti peluang kejayaan minyak., yang hanya meninggalkan kerusakan lingkungan dan beban hutang yang menggunung

Tidak bisa bersyukur..

  Ketika masuk cafe saya lihat Yuni, Esther, Wenny duduk di table yang sama. Saya temui mereka. Bicara sebentar. Saya keluar cafe untuk mero...