Posts

Showing posts from August, 2015

Ulysses

ADA seorang perempuan yang mudah dilupakan dunia tapi seharusnya tak dilupakan kesusastraan. Namanya Margaret Anderson. Ia lahir pada 1886 di Indianapolis, Amerika Serikat, di sebuah keluarga yang berada, dengan seorang ibu yang hampir setiap tahun tergerak untuk pindah ke rumah baru—dengan mebel, taplak, gorden, dan lukisan dinding baru.  Margaret tak seperti ibunya, tapi ia punya keresahannya sendiri.  Pada suatu malam, ketika ia berumur 21 tahun, setelah seharian merasa murung, ia terbangun dari tidur. ”Pikiran persis pertama: aku tahu kenapa aku murung,” demikianlah tulisnya, mengenang. ”Tak ada yang bersemangat yang terjadi—nothing inspired is going on. Kedua: aku menuntut hidup harus bersemangat tiap saat. Ketiga: satu-satunya cara untuk menjamin itu adalah mendapatkan percakapan yang bersemangat tiap saat. Keempat: kebanyakan orang tak bisa jauh dalam percakapan….”  Akhirnya kelima: ”Kalau aku punya sebuah majalah, aku akan dapat mengisi waktu dengan percakapan yang terbagus ya

Nilai persahabatan

Image
Dia tertidur pulas setelah mendapatkan suntikan obat penenang. Dokter mengatakan bahwa dia akan baik baik saja. Saya menungguinya tanpa terpejam mata sejak jam 2 pagi dia masuk Ruang Gawat Darurat rumah sakit. Jam 6 pagi matanya bergerak dan yang pertama kali ditetapnya adalah saya. Dia tersenyum. Dipegangnya lengan saya " kamu nampak lelah. Pulanglah. Istirahat. Aku akan baik baik saja. " katanya. Saya menegaskan akan pulang setelah tahu apa penyakitnya dari dokter. Dia mengangguk tanpa melepas pagangannya dilengan saya. Pandangan matanya nampak kosong.Saya perhatikan dia nampak begitu rapuhnya.  Dia sahabat saya yang telah 8 tahun sebagai mitra saya dalam bisnis. Kali pertama saya mengenalnya dia adalah single parent yang berjuang untuk menghidupi anaknya berusia 7 tahun sebagai Sales paket wisata. Enam bulan setelah perkenalan denganyan dia menawarkan bisnis penangkapan ikan dan cold storage untuk melayani ekspor ke Jepang. Bisnis itu berujung gagal karena mitranya yang

Memberi...

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ke tempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu ke mulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga. Dia tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana. “Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….,” jawab anak itu. “Orang tuamu dimana…?” “Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…,” sahut anak itu. Dia minta anak

Kamu...

Malam masih seperti malam sebelumnya. Aku disini dan kamu disana. Kita akan selalu berjarak dalam diam. Walau gelora hari kita menembus laut dan benua , namun semua terbang terbawa sekawanan burung yang pergi entah kemana. Kini aku tak ingin lagi bertanya lebih jauh tentang kamu. Biarkan aku cukup membayangkan kegigihanmu menutupi kelemahanku. Melindungiku dari kebodohanku. Menjagaku dalam kealfaan. Menggiring ku kearah cahaya dimana aku harus melangkah ditengah kegegelapan. Setelah itu kamu pergi. Mengapa ? Maaf, ini bukan hendak bertanya kepadamu. Sebegitu indahkah makna persahabatan yang terpatri dalam dirimu.Seperti apakah kira kira makna itu. Katakanlah kepadaku. Katakan.... Kamu diam ,menjauh dan berjarak, Setelah itu semua tinggal misteri bagiku, dalam hening. Malam masih seperti malam sebelumnya. Dari balik jendela kamar kulihat bulan bulat putih pada hari ini. Tanpa bingkai mega. Dikitari oleh taburan bintang yang berkelip bagaikan kunang kunang. Semakin kupandang semakin