Sunday, April 27, 2014

Parodi...

Pemilu tahun 2009 tentu berbeda dengan Pemilu 2014.Perbedaan itu sangat mencolok setidaknya sindrom italia tidak terlalu nampak lagi. Di Italia, pemain utama dalam sederet film porno, La Cicciolina, ikut dalam pemilihan umum pada pertengahan 1987. Ia dipilih; ia duduk di Parlemen mewakili ”Partai Cinta”. Pada 1992, ia terjun lagi, ketika di Italia pengangguran mencapai 11% dan inflasi 6%. Di Indonesia ada Angel Lelga ,dia bukan bintang blue film. Dia hanya bintang film horor yang berbumbu menampakan dada dan paha. Partai islam yang tidak begitu pede dengan islamnya bisa  laku dijual, mengundang Angel lelga sebagai caleg. Panggung musik dangdut digelar dan wanita cantik meliuk liukan bokongnya yang seksi dan orang ramai histeris dengan syahwatnya. Setelah itu orang diingatkan untuk datang ke bilik suara dan memilih partai. Artis cantik dan tenar gagal terpilih. Tak laku lagi dijual kecuali melayani pebisnis dalam paket penerbangan jet pribadi. Dulu diabad 20 , rakyat merupakan sebutan bagi sebuah kekuatan yang dahsyat (bahkan suci) karena dialah tenaga dasar perjuangan pembebasan, kini berganti jadi sehimpun angka dalam jajak pendapat. Tak ada sebuah agenda yang menggerakkan para pemilih agar aktif terlibat untuk sebuah republik yang lebih baik. Tujuan yang sejak Aristoteles disebut ”kebaikan bersama” tampaknya sudah hilang, atau dianggap sia-sia, atau kuno. Saya bingung namun para politisi memang mampu membuat orang banyak bingung dan berharap ada yang gratis setelah Pemilu. Padahal harapan hampa, selalu.

Tiap orang sudah muak dengan wajah para politisi itu. Golkar pecah menjadi Garindra, Hanura, Nasdem, yang masing masing dipimpin yang tadinya semua adalah elite Partai Golkar. Masing-masing menjanjikan banyak hal, tapi tak ada yang terjadi. November 2007, di Universitas Pennsylvania sebuah panel diskusi diselenggarakan dengan judul, Democracy and Disappointment, dan Alain Badiou dan Simon Critchley berbicara. Rasa kecewa bertemu dengan jemu ketika orang tahu bahwa ketidakadilan masih menginjak-injak sementara tak tampak lagi harapan akan terjadinya perubahan yang radikal. Biang ketidak adilan itu adalah Kapitalisme yang melekatkan liberalisme kedalam demokrasi sehingga menjadi demokrasi liberal. Demokrasi menjadi pasar terbuka untuk siapa saja bisa tampil menjadi pemenang asalkan mampu menjual dirinya. Barang dijual tak mungkin telanjang atau transfarance sehingga orang banyak bisa meliat. Pasar punya cara indah menempatkan barang di etalage. Selalu ada bandrol dan kemasan indah. Orang melihat kemasan dan kemudaian merogoh sakunya setelah melihat bandrol. Slavoj Zizek mengingatkan bahwa Marx menyamakan kekuasaan modal dengan vampir; kini salah satu persamaannya yang mencolok adalah bahwa ”vampir selalu bangkit lagi setelah ditikam sampai mati”. Betapa tidak ? bila demokrasi mengutamakan yang mayoritas berkuasa namun kenyataanya yang berkuasa adalah pemodal yang jumlah sangat minoritas. Adilkah ini?

Ada yang memutuskan untuk keluar dari medan pergulatan, dan memilih sikap seperti para nabi yang aktif bersuara tapi menjauhi istana, memperingatkan bahaya keserakahan bagi ”kebaikan bersama”. Ada pula yang jadi semacam rahib: setengah mengasingkan diri dan menolak menjunjung ”akal instrumental” yang selama ini dipakai untuk memanipulasikan orang lain dan dunia. Tapi tak jelas, apa yang berubah karena itu. Mereka yang lebih marah dan lebih ganas akan meledak­kan bom, menebar takut dan maut, seperti Al Qaidah. Tapi kini kita tahu, Al-Qaidah tak menghasilkan se­suatu yang lebih hebat ketimbang banyaknya kematian. Sang Iblis yang dimusuhinya tak musnah. Jaringan teror itu tak sebanding dengan Partai Komunis internasional yang juga gagal—meskipun dulu lengkap punya sebuah organisasi untuk memobilisasi massa, merebut kekuasaan, dan membangun sebuah negeri, bukan hanya menambah jumlah musuh yang mati.  Maka ada yang berkesimpulan, terhadap ketidakadilan yang bertahan itu, kita mengubah politik jadi parodi terhadap politik itu sendiri. Parade bintang sinetron itu, apalagi bintang porno, adalah contoh parodi yang tak disengaja: partai-partai berpura-pura menjalankan ”politik”, tapi sebenarnya mereka sedang menjalankan sebuah bisnis  dengan partai sebagai komoditas dan caleg sebagai penari latar. Yang dijual sebenarnya adalah ilusi namun mendatangkan yield tak terbilang. Tak ubahnya dengan business ponzi. Mereka paham bagaimana mengemas kata kata menjadi magic word. Mereka paham bagaimana membariskan calegnya dihadapan pembeli. Mereka paham berteriak dipanggung dan tersenyum indah di televisi. Semua packaging.

Politik sebagai Parodi. Layaknya sebuah sinetron, Capres dan Caleg berbicara lewat media massa tentang  hidup dan mati sebagai sesuatu yang gampang dan sedap dipandang, acap kali menyentuh hati, tapi selamanya bisa dipecahkan dan segera dilewatkan. Sinetron tak ingin membuat kita seperti Pangeran Siddharta yang tertegun melihat bahwa dunia ternyata sebuah sengsara yang layak direnungkan terus-menerus. Sinetron adalah sebuah statemen bahwa serius itu tak bagus. Ketika politik jadi versi lain dari sinetron, ia menjangkau orang ramai—tapi bukan karena sesuatu imbauan yang menggugah secara universal. Kalaupun ia berseru mengutuk ketidakadilan, itu pun hanya berlangsung untuk satu episode. Sejarah manusia yang dulu terdiri atas kemarahan dan pembebasan diganti dengan sesuatu yang jinak. Kini cerita manusia tetap masih gaduh, tapi itu kegaduhan suara merdu, tangis dan  ketawa galak yang palsu, dan bentrokan yang akan selesai ketika sutradara atas titah produser ( pemilik modal),  berseru, ”Cut!”. 

Sunday, April 20, 2014

Mencintai...

Tersebutlah dalam sebuah cerita. Seorang pria desa jatuh cinta kepada Ratu. Ratu dikenal dengan kencantikannya yang luar biasa dan belum punya suami .Semua pria lajang di kerajaan tentu menginginkan Ratu menjadi istrinya. Suatu waktu dengan keberaniannya, seorang pemuda sampai datang menghadap sang Ratu. Hasrat dan cinta disampaikan kepada Ratu. Dengan tersenyum sang ratu berkata bahwa bagaimana dia bisa yakin pria itu benar benar tulus mencintainya? Ujilah ,kata pria itu.Demi cintanya dia bersedia melewati apapun. Sang Ratu berjanji akan menguji pria itu dan meminta pria itu berlalu dari hadapannya. Suatu waktu, pria itu kedatangan seorang wanita yang berwajah kotor dengan pakaian kumal. Wanita itu memberikan secarik kertas yang merupakan surat dari sang Ratu. “Kalau benar anda mencintai saya maka sudilah kiranya anda menikahi wanita pembawa surat ini”. Setelah  membaca pesan itu,dengan serta merta pria itu meminta wanita itu pergi dari hadapannya. Menurutnya sang Ratu sedang menguji cintanya. Cintanya tidak akan berubah kepada Ratu, apalagi wanita yang ditawarkan sebagai istri adalah wanita berwajah kotor dan kumal. Ternyata wanita yang datang itu adalah sang ratu sendiri yang sedang menyamar menjadi wanita gembel. Setelah mengetahui bahwa yang datang itu adalah Ratu, pria itu terkejut dan malu. Sang Ratu berkata bahwa pria itu tidak pernah mencintainya,kecuali mencintai dirinya sendiri.

Dikisahkan bahwa Allah berjanji akan datang menemui Musa bersama para pengikutnya.  Dengan suka cita ,Nabi Musa menyampaikan berita ini kepada pengikutnya.  Merekapun mempersiapkan kedatangan Allah itu dengan sebaik baiknya. Pesta dengan makanan melimpah disediakan. Semua menanti harap cemas akan kedatangan Allah.  Jam demi jam berlalu namun Allah tidak juga datang. Yang datang justru pengelana tua yang miskin. Pengelana itu memohon diberi maka karena ia lapar. Namun dengan tegas Nabi Musa dan pengikutnya meminta agar pengelana tua itu menanti sampai Allah datang. Pesta dan makan ini tersedia hanya untuk Allah. Semua boleh makan setelah Allah makan. Pengelana tua itu berlalu begitu saja karena tidak bisa menanti terlalu lama. Setelah batas waktu terlewati dan Tuhan tidak juga datang, akhirnya mulailah pengikut Nabi Musa gundah. Mereka mulai meragukan kebenaran berita bahwa Allah akan datang dihadapan mereka. Nabi Musa sangat malu dihadapan pengikutnya. Allah pun berkata bahwa Dia selalu menepati janjinya. Bahwa pengelana tua yang miskin itu adalah Allah. Allah selalu ada bersama mereka yang  miskin dan lapar. Siapapun yang merindukan untuk bertemu dengan wajah Allah maka cintailah kaum miskin. Rasul menasehati keluarganya "Wahai ‘Aisyah, janganlah engkau menolak orang miskin walau dengan sebelah kurma. Wahai ‘Aisyah, cintailah orang miskin dan dekatlah dengan mereka karena Allah akan dekat dengan-Mu pada hari kiamat. 

Ketika pria mencintaimu karena pertimbangan akan kecantikanmu maka sebetulnya dia tidak mencintai dirimu tapi dirinya sendiri. Begitupula bila wanita  mencintaimu  karena ganteng dan karirmu maka wanita itu tidak pernah mencintaimu tapi dia mencintai dirinya sendiri. Dalam kehidupan kebanyakan pernikahan terjadi karena pra kondisi yang ditetapkan kedua belah pihak betemu. Ganteng dan cantik bersua. Tapi kebanyakan setelah menikah keduanya bersiteru hanya karena masalah sepele dan kalaupun rumah tangga tetap utuh namun derita tak berujung. Mengapa ? karena itu tadi bahwa masing masing tidak pernah saling mencintai. Mereka hanya mencintai dirinya sendiri.  Anda tidak akan pernah bisa menemukan kebahagiaan hakiki dengan orang yang tidak pernah mencintaimu, yakinlah. Kemuliaan pasanganmu bukan karena dia pintar, ganteng atau cantik, kaya tapi karena ia tidak melihat itu semua untuk mencintaimu.Dia hanya melihat kamu adalah kamu dan dia merasa nyaman kamu ada untuk dia. Susah senang akan menjadi sesuatu yang membahagiakan tanpa beban. Untuk mencintai tanpa syarat maka itu harus dasarnya hanya karena ibadah kepada Allah. Bertemu karena Allah dan melewatinya karena Allah dan berakahir karena Allah. Dalam keadaan seperti itu maka hari hari memang begitu indah, tentu banyak hal yang positip bisa dihasilkan.

Begitupula ketika kita menyembah Allah , karena kita berharap limpahan rezeki, kemudahan hidup, pahala agar masuk sorga dan terhindar dari neraka. Namun ketika Allah meminta kita menjadi wakilnya menebarkan kebaikan dan menegakan keadilan bagi kaum fakir miskin, yatim piatu kitapun berdalih. Sebetulnya kita tidak sedang mencintai siapapun. Kita lebih mencintai diri kita sendiri. Allah kita tempatkan  hanya sebagai provider untuk memuaskan nafsu kita. Sampai kapanpun kita tidak akan pernah bahagia karena Allah tidak akan pernah mencintai kita karena kita lebih mencintai diri kita sendiri. Belajarlah untuk mencintai, dengan diawali biasakanlah berbagi. Atau setidaknya mulailah setiap hari mendoakan kebaikan bagi saudara muslim kita , baik yang dekat maupun yang jauh. Mulailah biasakan mendoakan kebaikan bagi siapa saja. When you pray for anyone you tend to modify your personal attitude toward him. Dengan itu hati kita melembut dan Allah akan kita dekati bukan lagi karena berbagai kondisi dan harapan tapi memang kerinduan akan cinta yang tak terungkapkan dan tak terdefinisikan.

Monday, April 14, 2014

Ilmu Allah...

Demokrasi itu seperti wadah. Apapun bisa masuk kedalam wadah itu dan siapapun boleh menggunakan wadah itu. Tidak ada exclusivity fungsi. Semua pihak setara (equality) untuk bertarung dalam system demokrasi. Bila kaum sosialis yang menggunakan demokrasi maka jadilah dia demokrasi untuk sosialis. Bila kaum komunis yang menggunakan maka jadilah demokrasi untuk komunisme walau hanya satu partai seperti di China. Bila kaum kapitalis yang menggunakan maka jadilah dia demokrasi untuk kapitalisme seperti di Barat dan Amerika. Bila demokrasi untuk islam maka jadilah dia seperti Republik Islam Iran. Kemana arah demokrasi tergantung siapa yang nyetir.  Siapa yang dipercaya oleh orang banyak maka dialah pemenang dan berhak menggunakan demokrasi untuk apa saja yang dia suka,termasuk menjadi negara Islam atau negara komunis atau kapitalis. Namun demokrasi bukan sesuatu yang baik bagi mereka yang menolak prinsip keseimbangan dalam kekuasaan ( balance power)  atau dalam istilah demokrasi disebut trias politika. Dimana hak pemerintahan, hak membuat UU dan hak mengawasi terpisah. Mengapa sampai ada trias politika? Untuk memastikan yang berkuasa itu adalah UU dan Peraturan bukan lembaga. Siapapun yang melanggar maka akan berhadapan dengan pedang hukum. UU dan Peraturan tergantung dari mereka yang ada didalam legislatif. Bila mayoritas partai islam maka UU dan Peraturan tentu sesuai dengan Syariah Islam. Bila mayoritas sekular ya, hukum sekular. Makanya aneh juga kalau umat islam tidak bisa bersatu untuk menguasai wadah ( demokrasi) itu.

Seorang teman mengirim pesan melalui Inbox kepada saya.Dia sulit menerima bila ada golongan dalam Islam dengan berani mengkampanyekan bahwa demokrasi itu system kufur, dan bahkan orang yang mempercayai system demokrasi dianggap syrik. Siapapun dia,selagi mengucapkan dua kalimat syahadat akan sangat tersinggung dan terluka hatinya bila disebut syrik perbuatannya dan kufur tindakannya. Tidak usah ditanggapi karena rasul bersabda "Barangsiapa yang berkata pada saudaranya ‘hai kafir’ kata-kata itu akan kembali pada salah satu diantara keduanya. Jika tidak (artinya yang dituduh tidak demikian) maka kata itu kembali pada yang mengucapkan (yang menuduh)”.Walau memang tidak ada terminologi demokrasi dalam islam namun pada dasarnya sesuai dengan syariat Islam melalui perangkat syura (permusyawaratan) dan bai’at ( kontrak politik) yang mengikat rakyat untuk berkomitmen tunduk dan taat pada pemimpin yang dipilihnya. Kesesuaian antara Islam dengan demokrasi juga terlihat ketika Islam mengutuk dan mengecam para diktator; sementara di sisi lain mengedepankan pemimpin yang kuat, amanah, kredibel, kapabel serta mampu mengayomi rakyatnya. Islam memerintahkan umatnya untuk mematuhi keputusan mayoritas. Islam juga mengandung ajaran bahwa tangan Allah bersama jama’ah (rakyat banyak). Rasulullah saw bersabda kepada Abu Bakar dan Umar, “Kalau kalian berdua sepakat dalam suatu hal, aku tidak akan menentang pendapat kalian berdua.” Ini menunjukkan bahwa aspirasi dari jumlah orang yang lebih banyak harus didahulukan dari aspirasi segelintir orang, termasuk pendapat Rasulullah sendiri (dalam masalah ijtihadi duniawi).

Tapi bagaimanapun demokrasi itu tidak ada dalam AL Quran. Ini system sekular dan kufur. Demikian kata sebagian orang. Saya hanya tersenyum. Apakah sesuatu yang tidak diatur dalam  AL Quran lantas bukan berasal dari Allah? Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (QS al- Kahfi [18]:109). Ilmu Allah itu teramat luas, yang terbagi dua jalur , yaitu Jalur khusus (khasshah), dan  jalur  umum (‘ammah). Jalur khusus adalah ilmu yang diwahyukan dan diajarkan langsung oleh Allah melalui para Rasul dan Nabi, dan ini tertuang dalam bentuk Kitab Suci, seperti Muhammad SAW, Al Quran dan hadith.  Wahyu-wahyu itu merupakan ayat-ayat qauliyah. Jalur umum adalah ilmu yang tidak bersumber dari kitab Suci. Ilmu ini di berikan oleh Allah secara langsung kepada siapa saja ( termasuk non muslim).Pengetahuan ini disebut dengan ayat-ayat kauniyah. Kemanapun wajah dihadapkan Ayat ayat Allah terbentang untuk dipahami bagi mereka yang berpikir. Setiap orang memiliki kecerdasan yang berbeda-beda tergantung dari effort yang dilakukan untuk menggali ilmu Allah yang satu ini. Katakanlah seperti perkembangan ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu sosial, Ilmu ekonomi, Kebudayaan, Ilmu Tata negara,  yang masing masing dari waktu kewaktu terus berkembang menjadi lebih baik dari teori sebelumnya. Ilmu Allah yang didapatkan dengan jalur umum ini merupakan kebenaran empiris yang perlu di kaji dahulu sebelumnya untuk mendapatkan kebenaran yang tidak bertentangan dengan Al Quran. Bila tidak bertentang dengan AL Quran dan hadith maka itu sebagai penguat iman. Tapi kalau bertentangan maka cukuplah itu sebagai pengetahuan. 

Khasanah islam bersumber dari ilmu khasshah dan ‘ammah. Dengan demikian seharusnya umat islam harus berpikir luas. Islam itu satu dan ilmu Allah termaha luas untuk kita bijak menerima perkembangan zaman. Makanya ketika naik pesawat udara , saya tidak mengagumi manusia yang menciptakan pesawat itu tapi mengagumi Allah. Menggunakan computer yang canggih ini, saya mengucapkan Subhanallah, bukan memuji Bill Gate yang menciptakan windows system. Ketika mendapat uang ,saya tidak memuji uang atau boss  tapi memuji Allah yang memberi rezeki.Ketika mendapatkan istri yang sholeha , saya tidak memuji istri setinggi bintang dilangit tapi memuji Allah yang menjaga istri saya tetap istiqamah. Ketika menerima demokrasi dan masuk dalam bilik suara, saya tidak memuji Plato sebagai pencetus system demokrasi yang dikenal dengan trias politica tapi memuji Allah. Kita diberi kebebasan untuk memilih kepemimpinan dalam system demokrasi. Baik buruk, tergantung pilihan kita , itulah demokrasi,karena ia hanyalah wadah bukan tujuan. Karenanya saya memilih orang dan partai karena Allah. Kalau demokrasi menghasilkan pemimpin yang amanah maka saya tidak akan memuji pemimpin itu tapi Allah.Kalau demokrasi  menghasilkan pemimpin yang brengsek, saya tidak akan menghujatnya kecuali berserah diri kepada Allah dan bersabar tanpa mengurangi ibadah dan amaliah...

Sunday, April 13, 2014

Pancasila dan UUD 45 ?

Dulu tahun 80an setiap mahasiswa baru wajib mengikuti pencerahan tentang P4 ( Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila). Namun saya dengan cara saya bisa menghindar dari pencerahan itu. Ketika di Masjid saya bertemu dengan seseorang yang nampak seusai sholat maghrib dia mengaji sampai datangnya sholat Isya. Yang membuat saya tertarik dengan seseorang itu adalah dia mengaji tanpa membaca Al Quran.Itu artinya dia hafal Al Quran.Ada rasa kagum kepada seseorang itu.Seusai sholat isya saya memberanikan diri untuk menegurnya dan berharap bisa berdialogh dengannya.  Benarlah,  dia sangat ramah ketika saya tegur. Saya berbicara tentang kegundahan saya dimana pemerintah memaksakan agar semua orang berkiblat kepada Pancasila. Padahal islam sudah punya pedoman yang lengkap yaitu AL Quran dan hadith. Apa lagi? Dia nampak tersenyum mendengar keyakinan saya. Menurutnya Pancasila adalah alat komunikasi tentang isi Al Quran dan hadith kepada masyarakat Indonesia. Didalam Pancasila ada kalimat Adab, Hikmah, Musyawarah. Ini semua terminologi Al Quran. Tapi mengapa harus menggunakan pancasila? Harap maklum bahwa hampir semua penduduk Indonesia yang beragama karena faktor keturunan dan budaya. Bagaimanapun Al Quran dan hadith itu datang dari luar Indonesia, dan untuk menyampaikannya kepada orang indonesia tentulah harus menggunakan budaya Indonesia sehingga mudah dipahami. Bila sudah dipahami tentu tidak kesulitan untuk dijalankan.Jadi ini hanya  educative method 

Pancasila adalah hasil tafakkur yang panjang dari para pendiri negara yang seumur hidupnya diwakafkan untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebagai falsafah negara maka Pancasila itu adalah platform yang bukan satu kesatuan tapi satu mempersatukan yang lain. Jadi urutan pancasila harus runut tidak bisa dibalik balik.  Perhatikanlah bahwa Pancasila itu pengakuan prinsip aqidah Islam bahwa segala sesuatu haruslah diawali karena Allah. Sila pertama adalah Ketuhan Yang Maha Esa. Sila yang lain dalam pancasila tidak ada tanpa ada sila pertama. Pembahasan kepada sila yang lain harus didasarkan kepada sila yang pertama. Ini Platform nya. Bagaimana manusia memperlakukan Tauhid atau Ketuhanan Yang Maha Esa itu? Pada sila kedua, kemanusiaan didefinisikan sesuai dengan Al Quran yaitu yang adil dan beradab. Adab adalah kesopanan, keramahan, dan kehalusan budi pekerti, menempatkan sesuatu pada tempatnya, keadilan dan lain-lain. Adab juga dapat berarti mendisiplinkan jiwa dan fikiran. Adil dan beradab adalah akhlak mulia dan ujud nyata ketaqwaan kepada Allah."Sesungguhnya Allah memerintahkan berlaku adil dan berbuat ihsan dan memberi kepada keluarga yang dekat  dan melarang dari yang keji, dan yang dibenci, dan aniaya. Allah mengingatkan kalian, supaya kalian ingat.” (QS 16:90). Ia lebih tinggi nilainya dibandingkan definisi kemanusiaan konsep HAM dari PBB. Bila definisi tentang kemanusiaan seperti ini maka dijamin semua orang bertauhid  akan bersatu, yang selanjutnya masuk kesila ketiga  persatuan Indonesia.

Bila umat bersatu karena dasarnya aqidah maka kembali ditanya bagaimanakah bentuk tatanan masyarakat yang hendak dibangun? Ternyata para pendiri negara kita kembali mengangkat definisi sesuai dengan Al Quran. Bahwa sila keempat yaitu  kerakyatan yang dipimpin oleh “hikmat”kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan. Siapakah hikmat itu ? Dalam al-Qur’an, kata hikmah, baik dalam bentuk nakirah ataupun ma’rifatnya ada sembilan belas kata. Diantaranya adalah surat al-Baqarah; 129,151, 231, 251, 269, surat Ali Imram; 48, 81,164, surat al Nisa; 54, 113, surat al Qamar; 5, surat al Nahl; 152, surat al Isra’; 39, surat al Ahzab; 34, surat al Zahraf; 63, surat al Jumat; 2, surat al Maidah; 110, surat Lukman; 12, dan surat Shaad; 20. Arti hikmah itu berhubungan dengan adil, ilmu, sabar, kenabian, al-Qur’an, dan Injil. Ungkapan untuk mencegah sesuatu yang utama dengan ilimu yang lebih utama. Al-hakiim, yaitu orang yang cermat dalam segala urusan, atau orang yang bijak, yakni orang yang telah ditempa berbagai pengalaman. Al hakam dan al hakiim, yaitu penguasa dan hakim. tulisannya hakiim, tapi maknanya haakim. Al-hikmah, yaitu objek kebenaran (al haq) yang didapat melalui ilmu dan akal. Al hakiim, juga bermakna orang yang mencegah kerusakan.Al hakamatu, yaitu seseorang yang menghadang kuda. maksudnya ia mencegah kuda agar tidak lari kencang dan ia dapat mengendalikan. Al hukmu, yaitu mencegah kezhaliman. Bayangkanlah, tinggi sekali qualifikasi orang yang disebut pemimpin dalam Pancasila. Dengan qualifikasi seperti inilah maka keadilan sosial bagi seluruh rakyat ( sila ke lima) dapat terjelma sebagai reward dari Allah karena dipimpin oleh orang orang yang hikmah...

Jadi Pancasila adalah falsafah bermasyarakat dan bernegara yang bersumber dari AL Quran, yang disingkat dalam lima pasal dalam bahasa sederhana sebagai unifying factor bagi siapa saja utamanya yang beragama islam dan nyatanya diterima oleh semua golongan. Itulah indahnya islam sebagai rahmat bagi alam semesta. Untuk implemetasi Pancasila dibuatlah UUD 45 namun karena dibuat dengan terburu buru maka semua pendiri negara sepakat bahwa UUD 45 akan diperbaiki dikemudian hari apabila keadaan politik telah stabil, agar sesuai dengan Pancasila. Sampai kini UUD 45 tak pernah sesuai dengan Pancasila. Kalau ada orang yang mengatakan bahwa  Pancasila adalah system kufur itu berarti telah menuduh pendiri negara ini kufur. Ada baiknya kita kembali kepada hadith Nabi dirawikan oleh sahih Bukhari bahwa...sesungguhnya Islam itu datang dalam keadaan asing dan nanti akan kembali asing. Para sahabat bertanya : Wahai RasuluLlah siapakah orang-orang asing itu? Nabi menjawab :Mereka adalah orang-orang yang berbuat kebaikan dikala orang-orang berbuat kerusakan, tidak berbantah-bantahan dalam agama Allah dan tidak mengkafirkan salah seorang di antara ahli Tauhid dengan sebab dosa yang telah dia lakukan. Barangsiapa mengatakan kepada saudaranya dengan Wahai Kafir, maka kekafiran itu kembali kepada salah satunya" Saya berharap dan berdoa semoga disuatu saat akan hadir masanya UUD45 diperbaiki sesuai dengan Pancasila agar agama bisa menjadi comprehensive commitment' dan 'driving integrating motive', yang mengatur seluruh hidup seseorang dalam bermasyarakat dan bernegara demi lahirnya komunitas yang penuh dengan cinta dan kasih sayang. 

Sunday, April 06, 2014

Islam berbeda...

Bangsa China adalah bangsa yang dikondisikan secara politik untuk tidak mengenal Tuhan. Program pemisahan antara negara dan agama, telah membuat agama tidak lagi sebagai alat propaganda untuk kebaikan, kebenaran dan keadilan.Semua program adalah milik partai dan hanya partai yang boleh dipercaya. Bacalah Buku Merah Mao maka semua penuh dengan ajakan dan semangat untuk bekerja keras, jujur, sopan santun, mengabdi, ikhlas dan pantang menyerah untuk kebaikan, dll.  Walau secara politik rakyat China dikungkung dengan ketat sesuai dengan agenda partai namun  Partai mampu mendelivery kemakmuran kepada rakyatnya. Walau tidak semua menikmati kemakmuran namun by design negara menuju kepada kemakmuran dan prosesnya nyata nampak dan dirasakan oleh seluruh rakyat dan disaksikan oleh seluruh dunia. Padahal China tidak mengenal Tuhan tapi mengapa mereka bisa berbuat dengan bahasa Tuhan? Seorang  teman pernah berkata kepada saya sambil tersenyum bahwa walau bangsa china tidak menjadikan Agama sebagai dasar negara namun mereka juga adalah makhluk bernama manusia. Mereka juga ada karena Allah yang menciptakan. Dan ingat bahwa manusia itu diciptakan Allah dengan sangat sempurna. Jadi jangan kaget kalau China bisa berbuat seperti itu. Walau secara formal pejabat China tidak mengakui Agama namun ketika mereka merancang aturan, menerapkan program pembangunan dll, mereka bersandar kepada Kebudayaan. Setiap bangsa didunia punya kebudayaan sesuai dengan geographisnya masing masing. Ayat ayat Allah tersebar di alam semesta ini dan dari situlah manusia belajar membangun kebudayaan agar kehidupan menjadi tertip dan damai. 

Di China dikenal dengan Tao. Didalam Tao itu terdapat etika,moral yang bersandar kepada norma. Moral senantiasa mengacu kepada baik buruknya perbuatan. Norma moral dijadikan sebagai tolok ukur untuk menetapkan betul salahnya sikap dan tindakan manusia. Nah, Kalau etika lebih bersifat teori sementara moral lebih bersifata praktis. Contoh , moral menyatakan ukuran , etika menjelaskan ukuran itu . Bila etika bersifat universal sementara moral bersifat lokal ( budaya ). Etika di AS belum tentu sama dengan moral di Indonesia. Dibelakang moral, ada norma yang menjadi dasar berbuat. Norma itu menyangkut aturan , pedoman yang bersifat normative. Dengan norma inilah China membangun peradapan agar masyarakatnya dapat tertib dan sejahtera. Apakah ini sudah benar? Menurut saya itu benar namun tidak sempurnaKarena China tidak berlandaskan agama tapi hanya berlandaskan kepada kebudayaan sebagai makhluk fitrah maka jelas perbuatannya berangkat dari kepentingan nafsu.Para pemimpin berusaha menjaga pertumbuhan ekonomi dan memacu pertumbuhan ekonomi karena takut kekuasaan partai akan hancur. Mengapa pemerintah China melarang korupsi, prostitusi karena takut moral kader partai hancur dihadapan rakyat dan membuat rakyat marah. Singkatnya apapun yang dilakukan pemerintah China tak lain untuk kepentingan partai, bukan karena kepentingan Allah. Liatlah bagaimana propaganda pemerintah ketika dalam setiap upacara dan parade. Selalu menampilkan kemegahan dan sesembahan kepada partai. Mereka cenderung membangun ilusi yang seperti Amerika Serikat lakukan, yang hanya masalah waktu akan meledak jadi masalah sosial dan derita. 

Tapi bagaimana dengan negara yang mayoritas beragama  islam, dan bahkan ada negara yang telah mempunyai syariah islam tapi tetap saja tidak islami. Daftar negara terkorup didunia didominasi oleh Negara yang mayoritas beragama Islam,  bahkan seperti di Aceh yang menerapkan syariah Islam, justru menempati urutan kedua sebagai daerah terkorup diIndonesia. Pelacuran dan kemaksiatan terus berkembang tanpa bisa menghilangkan. Mengapa ? kata teman saya dengan tangkas. Saya katakan bahwa mereka belum berislam. Mereka hanya menggunakan islam sebagai simbol untuk kepentingan golongan dan politik. Makanya hasilnya pasti korup. Inti dari ajaran islam itu adalah Akhlak.  ‘Akhlak’ dan ‘khaliq’ (pencipta) memiliki akar yang sama yakni ‘khalaqa’. Allah berfirman, “Tidaklah Aku menciptakan (khalaqtu) jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat 56). Al-Khaliq merupakan asma Allah (nama Allah) yang mulia. Allah juga memiliki nama al-Salam, yang ternyata juga satu derivasi dengan kata al-Islam. Hal ini menandakan bahwa akhlak dalam Islam itu terkait erat dengan teologi. Seorang Muslim mengamalkan akhlak bukan karena dorongan duniawi, tapi semata berdasarkan perintah Allah Swt yang Maha Pencipta (al-Khaliq).Sejalan dengan itu, dalam pendidikan etika, Islam memiliki konsep adab. Pendidikan Islam yang tepat itu adalah pendidikan ta’dib. ‘Ta’dib’, dan ‘adab’ berasal dari kata ‘adaba’.Adab memiliki arti; kesopanan, keramahan, dan kehalusan budi pekerti, menempatkan sesuatu pada tempatnya, keadilan dan lain-lain. Adab juga dapat berarti mendisiplinkan jiwa dan fikiran. 

Rasulullah SAW  bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Bukhari). Nabi Muhammad Saw datang membawa ajaran agama Islam dengan satu misi yaitu misi menyempurnakan Akhlak melalui menyempurnakan ajaran para Nabi sebelumnya. Bahwa al-Qur’an merupakan pengoreksi terhadap ajaran Kitab-Kitab Suci sebelum Nabi Muhammad Saw. Agama Islam merupakan agama fitrah. Karena itulah, akhlak Nabi Muhammad Saw disebut akhlak al-Qur’an. Maka, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud akhlak itu adalah agama Islam itu sendiri. Dan praktik akhlak tidak boleh keluar dari jalur rambu-rambu Islam. Bahwasannya agama Islam itu agama yang berbudi. Sedang berakhlak itu adalah melaksanakan syariat yang ditetapkan dalam agama Islam. Tidak boleh disebut berakhlak jika bertentangan dengan syariat Islam. Syariat dan akhlak merupakan satu-kesatuan yang tak terpisah. Syariat itu adalah melakukan segala sesuatu hanya karena niat untuk beribadah kepada Allah. Setiap perbuatan nilainya tergantung dari niat. Bila niat karena Allah maka itulah nilai pahala disisi Allah walau hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Jadi bila peradaban bangsa dibangun dengan akhlak islam maka bukannya hanya kemakmuran yang dicapai tapi juga kesejahteraan. Negara sekular berkerja keras untuk kemakmuran dan itu berdiri diatas fondasi yang rapuh, yang kapanpun bisa rubuh oleh situasi dan kondisi. Sejarah telah mencatatnya dengan baik soal itu.

Suatu masyarakat dan bangsa akan disebut sebagai masyarakat dan bangsa yang maju manakala memiliki peradaban yang tinggi atas dasar akhlak yang mulia, meskipun dari segi ilmu pengetahuan dan teknologi masih sangat sederhana. Sedangkan pada masyarakat dan bangsa yang meskipun kehidupannya dijalani dengan teknologi yang modern dan canggih, tapi tidak memiliki peradaban atas dasar  akhlak yang mulia, maka masyarakat dan bangsa itu disebut sebagai masyarakat dan bangsa yang terbelakang dan tidak menggapai kemajuan.Kalaupun ada kemajuan , itu hanyalah ilusi. Jadi bila Akhlak baik maka semua akan menjadi baik termasuk kehidupan sosial , politik, budaya. Gerakan perjuangan mendirikan negara islam(khilafah islam) haruslah menjadi gerakan dakwah untuk meninggikan Akhlak. Bila akhlak umat telah baik maka syariah islam akan tegak dengan sendirinya. Pemimpin amanah berkahlak Al Quran akan datang dengan sendirinya. Namun bila akhlak buruk maka apapun upaya untuk menegakkan syariah hanyalah utopia, dan bila terlaksana ia akan menjadi lembaga korup. 

Persahabatan …?

  Sejak  minggu lalu, sejak saya membuat keputusan perubahan susunan Komisaris perusahaan, setiap hari email datang dari Yuni dengan nada pr...